• Post category:SAYE
  • Reading time:34 mins read

Aku ingin ada di sini! Aku ingin ada di sana! Aku menginginkannya di sini! Aku menginginkannya di sana!

Penerjemah: Jeffery Liu


Gu Fei melaju ke depan, menjaga jarak darinya dengan kecepatan tidak tergesa-gesa. Jiang Cheng terkadang merasa bahwa kemampuan observasi Gu Fei yang tajam dan EQ-nya yang tinggi itu, yang mencegahnya dari terlalu ingin tahu tentang masalah orang lain benar-benar membuatnya kesal.

Dia menarik maskernya ke atas agar ujungnya bisa menampung air matanya yang meluncur ke bawah.

Jarak dari tempat mereka menuju toko Gu Fei cukup lumayan, membutuhkan sekitar sepuluh menit dengan sepeda, itu sudah cukup. Dia hanya mengikuti di belakang Gu Fei seperti ini, membiarkan air matanya mengalir sebanyak yang dia inginkan.

Dia sejujurnya tidak tahu mengapa dia tiba-tiba menangis.

Dia tidak merasa seperti dia memiliki dorongan untuk menangis sama sekali, dan tidak ada sesuatu yang membuatnya ingin menangis. Bahkan jika dia tidak lagi memiliki rumah, tidak lagi memiliki orang tua… pola pikir seperti ini bukanlah sesuatu yang hanya ada untuk satu atau dua hari. Sejak dia diberitahu bahwa dia diadopsi, dia sudah menyadari bahwa dia tidak akan pernah memiliki rumah lagi.

Setelah datang ke sini, perasaan ini menjadi lebih jelas dari hari ke hari… jadi mengapa dia tiba-tiba mulai menangis setelah mengatakan kalau dia adalah seorang yatim piatu?

Benar saja, orang menjadi peka ketika mereka sakit.


Pada saat mereka tiba di perempatan, dia sudah berhenti menangis, dan air matanya hampir mengering, hanya menyisakan matanya yang sedikit bengkak.

Setelah mereka memarkirkan sepeda di pintu toko milik Gu Fei, Gu Fei melirik ke arahnya dan diam-diam berseru seolah-olah dia telah melihat sesuatu yang menakutkan: “Aiyo!”

“Ada apa?” Jiang Cheng bertanya sambil menyandarkan sepedanya ke dinding.

“Aku …” Gu Fei ragu-ragu. “Aku tidak mengharapkanmu akan menangis sampai seperti ini.”

Jiang Cheng tiba-tiba ingin tertawa. Bahkan Gu Fei, yang sangat mahir meredakan rasa malu orang lain, tidak bisa terus berpura-pura tidak memperhatikan apa-apa lagi. Dia mengusap matanya dan bertanya: “Apa memang semerah itu?”

“Warnanya sangat merah,” kata Gu Fei. “Kenapa kamu tidak menungguku di sini saja. Aku akan membantumu mengambil apapun yang kamu butuhkan. Li Yan ada di dalam, kamu tahu.”

“Tidak masalah.” Jiang Cheng meraba-raba tas sekolahnya, mengeluarkan tempat kacamata, kemudian mengeluarkan dan memakai kacamata hitam. “Aku sudah mempersiapkannya.”

“Kamu terlihat …” Gu Fei menatapnya.

“Cukup tampan, bukan?” Jiang Cheng melihat ke arah jendela rumah sakit komunitas terdekat, “Setiap kali aku melewati etalase, aku selalu terkejut dengan ketampananku.”

“Ya.” Gu Fei mengangguk, “Kamu benar-benar … sangat tampan.”


Ketika mereka berdua masuk ke toko bersama, Li Yan saat itu berada di tengah dua rak dengan skateboard Gu Miao di bawah kakinya, mengalami kesulitan untuk memajukannya. Gu Miao bersandar di meja kasir dengan tangan terlipat saat dia menyaksikan dengan wajah acuh tak acuh.

Ketika dia melihat mereka datang, dia bergegas ke sisi Jiang Cheng dan menatap kacamata hitam yang dikenakannya dengan penuh minat.

“Kamu sudah sangat bosan sampai tingkat ini …” kata Gu Fei.

“Aku hanya sedang berolahraga,” Li Yan mengamati Jiang Cheng sekali lagi. “Oh, kupikir seseorang datang untuk memungut biaya perlindungan1.”

“Berikan uangnya padaku,” kata Jiang Cheng.

“Uangnya ada di laci,” Li Yan menunjuk ke meja kasir.

“Kapan kamu pulang?” Gu Fei bertanya pada Li Yan.

“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku.” Li Yan masih terus berjuang untuk bergerak maju di atas skateboard itu. “Aku sudah membuat rencana untuk makan dengan Liu Fan sebentar lagi. Kalian berdua mau ikut?”

“Aku tidak ikut,” kata Jiang Cheng.

“Tidak bisa.” Gu Fei menarik Li Yan dari atas skateboard, “Kami ada ujian tengah semester besok.”

“Apa hubungannya ujian tengah semester denganmu?” Li Yan bertanya, “Dia seorang xueba, jadi wajar jika dia ingin belajar, tapi kamu adalah raja dari kertas ujian yang kosong …”

“Aku belum pernah menyerahkan kertas ujian kosong sebelumnya,” Gu Fei mengoreksi.

Oh, benar, kamu akan selalu mengisinya dengan sesuatu.” Li Yan mengangguk penuh pengertian.

“Ya.” Gu Fei juga mengangguk.

“Baiklah, kalau kalian tidak mau ikut, kalian tidak perlu ikut.” Li Yan mengambil jaketnya, “Aku pergi dulu.”


Jiang Cheng berkeliaran di sekitar rak dua kali dan mengambil beberapa kebutuhan sehari-hari dan makanan. Gu Miao mengikuti di sampingnya dengan rasa ingin tahu sepanjang waktu, menatap kacamata hitamnya dengan saksama.

Akhirnya, Jiang Cheng tidak punya pilihan selain melepas kacamata hitamnya. Sudah cukup lama, jadi matanya seharusnya tidak semerah sebelumnya. Dia kemudian meletakkan kacamata hitam itu di wajah Gu Miao.

Gu Miao mendorong kacamatanya ke atas – tanpa ekspresi.

“Sangat keren.” Jiang Cheng mengacungkan jempolnya, “Kamu pasti akan jauh lebih keren dari kakakmu saat kamu besar nanti, dan sangat tampan juga.”

Gu Miao tidak berbicara, hanya berbalik, meraih skateboard-nya, dan berjalan keluar.

Ay!” Gu Fei berteriak, “Lepas kacamatanya dulu! Kacamatanya akan rusak kalau jatuh ke tanah!”

Gu Miao mengabaikannya dan dengan percaya diri keluar dengan masih memakai kacamata hitam.

“Tidak apa-apa,” kata Jiang Cheng. “Kalau rusak, biarkan saja. Aku sudah lama memakainya. “

“Ya ampun, kamu bahkan hanya mau membeli sepeda seharga 200 RMB beberapa saat yang lalu.” Gu Fei bersandar di meja kasir dan menatapnya sekilas, “Kalau kacamata hitam itu benar-benar rusak, kamu tidak akan mampu membeli kacamata lagi.”

“Kalau memang rusak, bukankah seharusnya kamu menjadi orang yang harus ganti rugi?” Jiang Cheng tertawa.

“Oh itu benar.” Gu Fei memikirkannya, “Ya.”

Jiang Cheng meletakkan barang-barang yang dia pilih di konter, “Tolong hitung”.

“Ini …” Gu Fei sedikit ragu-ragu.

“Tidak,” kata Jiang Cheng.

Gu Fei tertawa. Dia berjalan ke belakang meja kasir dan mulai memindai barcode satu per satu, lalu memasukkan semuanya ke dalam kantong. “Totalnya 123,2 RMB. Tapi aku akan memberimu diskon, totalnya jadi 120 RMB.”

“Oke,” Jiang Cheng menyerahkan uangnya kepada Gu Fei.


Dengan tidak ada yang mengawasi toko, Gu Fei menyuruh Gu Miao pulang sendiri dan menutup tokonya.

“Apa aku sudah mengganggu bisnismu?” Jiang Cheng merasa agak malu.

“Tidak akan ada banyak pelanggan saat jam-jam makan seperti sekarang, dan satu-satunya orang yang datang pada jam-jam ini biasanya hanya mereka yang menyadari kalau mereka kehabisan garam atau minyak saat memasak.” Gu Fei berkata dengan acuh tak acuh saat dia menaiki sepedanya dan keluar.

Jiang Cheng juga menaiki sepedanya dan mengikutinya.

“Aku akan mengembalikan kacamata hitam milikmu besok,” kata Gu Fei.

“Jangan khawatir. Aku bisa tahu kalau Gu Miao sangat menyukainya,” Jiang Cheng. “Biarkan saja dia memilikinya, tetapi jangan lupa untuk memberitahunya untuk tidak memakainya sepanjang waktu. Kalau sering dipakai, akan buruk untuk mata anak-anak.”

Gu Fei tertawa.


Jiang Cheng tidak terlalu familiar dengan area ini. Setelah pemilik rumah memberi tahu alamatnya hari itu, dia menghabiskan hampir setengah hari sebelum akhirnya menemukan tempat itu. Sekarang setelah dia kembali, ketika dia melihat ke deretan bangunan bobrok yang semuanya tampak sama … dia benar-benar tidak bisa menemukan di mana bangunan yang disewanya.

“Tidak, aku,” dia benar-benar muram. “Aku ingat harus masuk di suatu persimpangan, dan ada beberapa bangunan yang semuanya terlihat hampir sama …”

“Persimpangan yang mana?” Gu Fei bertanya.

“Aku…” Jiang Cheng membeku beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan ponselnya, “Aku akan bertanya pada pemiliknya lagi.”

Pemilik rumah sangat terhibur dan memberitahu alamatnya sekali lagi: “Anak muda, jangan pulang saat tengah malam ah. Aku akan menguncinya saat itu, jadi kalau kamu tersesat, kamu harus bermalam di luar.”

Gu Fei cukup akrab dengan alamat ini. Dia menginjak pedal dan bergerak maju: “Lewat sini.”

“Kenapa aku tidak ingat kalau sejauh ini?” Jiang Cheng bertanya, sedikit bingung.

“Kamu bahkan tidak bisa mengingat nama orang,” balas Gu Fei.

“Bukannya aku tidak bisa mengingatnya,” Jiang Cheng mendesah. “Aku terlalu malas untuk mengingatnya. Pikiranku bukanlah tempat pembuangan sampah, tentunya aku harus mengingat hal-hal yang berguna. “

“Ya, tidak ada gunanya mengingat jalan,” Gu Fei mengangguk.

“Diamlah,” balas Jiang Cheng.


Ketika Gu Fei mengantarnya untuk menemukan gedung tempat dia menyewa tempat tinggal, Jiang Cheng dengan hati-hati melihat sekelilingnya: “Baiklah, aku sudah mengingatnya.”

“Ayo kita makan setelah kamu selesai menyimpan barang-barangmu ba,” kata Gu Fei.

“En.” Jiang Cheng membawa barang-barangnya ke atas. Tempat tinggal pemilik apartemen ini berada di lantai dua, dan meskipun sudah sangat rusak, bagian dalam apartemen itu masih baik-baik saja. Perabotannya cukup lengkap, dan bahkan jika mereka dianggap tua, mereka cukup bersih. Juga, tidak ada tikus atau kecoak yang berkeliaran bebas seperti di tempat Li Baoguo, paling tidak.

“Tidak buruk.” Gu Fei berdiri di ruang tamu dan melihat sekeliling.

“En.” Jiang Cheng meletakkan barang-barangnya di atas meja, “Aku akan mengambil kabel jaringan dalam dua hari, dan itu saja … oh, ngomong-ngomong, apa kamu tahu di mana aku bisa membeli beberapa perlengkapan tidur[2]?”

[2] Teks aslinya mengatakan 床上 用品 yang berarti perlengkapan tidur, yang… biasanya bukan sindiran, bisa juga memiliki kesan ketegangan seksual yang aneh di antara keduanya, sangat mudah bagi pikiran mereka untuk membelok ke arah yang kotor ……

“Perlengkapan tidur?” Gu Fei membeku.

Jiang Cheng tidak tahu mengapa, tetapi ketika dia mengatakan suku kata itu, pikirannya pergi entah ke mana. Menilai dari reaksi Gu Fei, dia mungkin merasakan hal yang sama.

Keduanya bertukar pandang, dan Gu Fei adalah yang pertama tertawa: “Oh, perlengkapan tidur ah. Aku tahu.”

Jiang Cheng tidak mengatakan apapun. Dia tiba-tiba merasa tidak mungkin baginya untuk bisa menahan diri untuk tidak tertawa, jadi dia mencondongkan tubuhnya ke luar jendela dan tertawa sampai pipinya sakit.

“Brengsek,” Gu Fei mengusap wajahnya.

“Ayo kita beli beberapa setelah kita makan? Aku tidak punya cukup waktu untuk membelinya secara online,” kata Jiang Cheng.

“Baiklah, kita harus membelinya terlebih dahulu sebelum kita makan.” Gu Fei mengeluarkan ponselnya dan memeriksa jam, “Ada pasar kain yang menyediakan perlengkapan tidur dan produk lain. Ada barang jadi yang dijual juga – selimut, bantal, dan semuanya ada di sana. Tapi tempatnya tutup sekitar pukul tujuh atau delapan.”

“Oke,” Jiang Cheng menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu …” Gu Fei menunjuk ke pintu, “Ayo pergi?”

Jiang Cheng tidak mengatakan apa-apa dan hanya berdiri dalam keadaan linglung sejenak lagi sebelum dia berdiri di depan Gu Fei – melingkarkan lengannya di pundaknya, dia memeluknya erat.


Gu Fei membeku pada awalnya, tapi kemudian dengan lembut menepuk punggungnya: “Ada apa?”

“Tidak ada.” Jiang Cheng masih memeluknya erat-erat, “Apa kamu pernah mengalami saat-saat di mana kamu merasa sangat tidak stabil, seperti kamu tidak bisa meletakkan kakimu di tanah, tapi juga tidak bisa jatuh? Seperti kamu tidak bisa menggenggam apapun, dan tidak ada apapun di bawah kakimu.”

Gu Fei terdiam untuk waktu yang lama: “Pernah.”

“Aku juga berpikir kalau kamu sudah pernah mengalaminya,” kata Jiang Cheng. “Aku melangkah ke dalam kehampaan, seolah-olah aku akan terbang… di atasku ada kebingungan, dan di bawahku, aku mendengarmu berkata ‘dunia ini begitu hampa’…”

Bagian akhir kalimat itu dinyanyikan oleh Jiang Cheng dengan suara yang sangat pelan.

Gu Fei tercengang. Tidak hanya dia terkejut oleh kenyataan bahwa Jiang Cheng telah menghafal melodi dan lirik lagunya setelah mendengarnya hanya sekali, tetapi dia juga terkejut dengan suaranya ketika dia bernyanyi. Suaranya rendah dan parau, membawa kualitas menggoda tertentu – sangat merdu.

Dia bisa berempati dengan perasaan Jiang Cheng yang benar-benar hampa. Meskipun pengalaman mereka sama sekali tidak sama, dia bisa memahami keadaan panik yang dirasakannya karena tidak dapat menginjak tanah yang kokoh.

Keduanya berdiri diam di dalam ruangan itu. Untuk waktu yang lama, dia hanya bisa mendengar tangisan Jiang Cheng yang tertekan, rendah, dan hampir tak terdengar bergema di telinganya.

“Cheng-ge,” Gu Fei dengan lembut berbisik sambil dengan lembut menepuk pinggangnya. “Sejujurnya, aku tidak pandai menghibur orang lain. Satu-satunya orang yang pernah aku hibur adalah Er Miao… Aku hanya ingin bilang, kalau kamu ingin menangis, akan lebih memuaskan untuk menangis dengan suara keras.”

Di samping telinganya, Jiang Cheng terdiam sesaat. Tapi setelah terbatuk dua kali, dia tiba-tiba mulai terisak.

Itu adalah jenis tangisan yang diluapkan dengan keengganan, dengan amarah, ketidakberdayaan, dan kesedihan.

Dilihat dari suaranya, dia seolah menangis dari lubuk hatinya yang terdalam; dari mulanya hanya raungan sampai jeritan, sampai dia meraih erat bahu Gu Fei dan meraung seolah-olah dia sedang melampiaskan semua yang dirasakannya.

“Kamu bajingan,” serak Jiang Cheng, suaranya dibalut dengan nada terisak.

“Ya,” jawab Gu Fei, masih dengan lembut menepuknya. Kemudian, dia menoleh dan memberikan ciuman ke ujung telinga Jiang Cheng.

Tindakan ini di luar dugaannya. Dia tidak dapat menjelaskan dengan jelas mengapa dia melakukan itu, tetapi Jiang Cheng tidak memberinya waktu untuk merenungkannya – dia menoleh dan mencium bibirnya.

Lidah yang membawa rasa air mata yang sedikit asin dengan kasar masuk ke mulutnya seolah-olah sedang mencari perkelahian.

Gu Fei sedikit tidak siap. Tubuhnya dipaksa mundur beberapa langkah oleh tindakan mereka berdua yang begitu liar ini. Jiang Cheng kemudian memanfaatkan momentum ini dan dengan paksa mendorongnya mundur lebih jauh..

Gu Fei menabrak dinding di belakangnya, dan Jiang Cheng menciumnya lagi.

Ciuman ini sama tak terkendalinya seperti ciuman pada hari Jiang Cheng mabuk, tetapi dibandingkan dengan hari itu, dia jauh lebih sadar sekarang. Lagipula, dia tidak meminum alkohol palsu, jadi dimanapun ujung lidahnya menyapu, itu tampak seperti pernyataan perang.

Aku ingin ada di sini! Aku ingin ada di sana! Aku menginginkannya disini! Aku menginginkannya di sana!

Aku membelainya di sini! Di sini, di sini, dan di sana … semuanya milikku!

Gu Fei awalnya tidak berniat melakukan apa-apa, tetapi sekarang di bawah penjarahan yang hampir gila ini, dia tiba-tiba teringat refleksi diri milik Kapten Wang Jiuri.

Pada hari-hari musim semi yang hangat ini di mana bunga bermekaran dan Musim Semi kembali ke Bumi…

Dia mencengkeram lengan Jiang Cheng dan melemparkannya ke sofa di sebelah mereka.

Jiang Cheng terlempar ke atas sofa olehnya. Ketika Gu Fei menekannya, dia dengan sangat alami mengangkat kemeja Jiang Cheng dengan mudah dan dengan kasar membelai tubuhnya beberapa kali.

Nafas Jiang Cheng berhenti. Dia meraih milik Gu Fei melalui celananya.

“Brengsek,” serak Gu Fei dengan suara tertahan. “Kalau kamu memegangnya lebih keras lagi, itu akan menjadi tidak berguna.”

Jiang Cheng menyeringai dan dengan tegas memasukkan tangannya ke dalam.


Begitu ruangan kembali sunyi, Gu Fei bisa mendengar tawa dan teriakan anak-anak berlarian setelah makan.

“Kenapa kamu tidak menebaknya,” Jiang Cheng sedang berbaring di sofa dengan satu kaki di lantai. “Berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum kamu akhirnya mendorongku ke lantai?”

“Aku juga tidak sepenuhnya duduk di sofa ah.” Gu Fei memiliki setengah tubuhnya di atas tubuh Jiang Cheng dan satu kaki menekan meja kopi. “Dalam postur ini, aku akan jatuh kalau kakiku lepas.”

Jiang Cheng melirik kakinya dan tertawa terbahak-bahak.

Gu Fei tidak tertawa bersamanya. Tapi ketika dia menopang dirinya dengan lengannya, dia mengangkat tangan untuk mengusap lembut sudut mata Jiang Cheng.

“Aku baik-baik saja sekarang.” Jiang Cheng menjentikkan tangannya.

“Kalau kamu ingin membeli … perlengkapan tidur, kita harus cepat.” Gu Fei menendang gumpalan tisu di lantai, dan merapikan celananya saat dia berbicara, “Kalau menunggu nanti, hanya ada beberapa toko di dekat jalan yang masih buka. Tidak akan ada banyak barang yang bisa dipilih saat itu.”

“En.” Jiang Cheng juga bangun dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Ketika dia keluar, dia sedikit khawatir, “Cepat dan pergi cuci mukamu …”

“Apa,” tanya Gu Fei saat dia berjalan ke kamar mandi, “Takut ingusmu ada di wajahku?”

“Aku takut kamu akan de…” Jiang Cheng berkata sebelum kesadaran menghantamnya seperti batu bata, “Brengsek! Mana mungkin!”

“… tidak ada ingusmu di wajahku.” Gu Fei pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Jiang Cheng berdiri di ruang tamu dan mengendus hidungnya, memperhatikan bahwa hidungnya jernih dan tidak tersumbat saat ini, jadi tidak ada ingus di wajah Gu Fei.

Dibandingkan dengan fakta bahwa dia telah melakukan hal yang tidak tahu malu ketika dia dalam keadaan sadar, dia tiba-tiba lebih peduli tentang masalah ingusnya … yang membuatnya tidak bisa mengatakan apapun lagi.

Setelah memastikan bahwa tidak ada masalah di hidungnya, kepanikan akibat rasa malu melakukan sesuatu yang begitu memalukan perlahan membanjiri dirinya, menjulang di atasnya saat pikiran itu meresap ke sekelilingnya.

Ketika Gu Fei keluar dari kamar mandi dengan air menetes di wajahnya, dia bahkan tidak bisa melihat ke arah mata Gu Fei. Tatapannya begitu mengelak sehingga orang akan salah memahami bahwa dia telah melakukan sesuatu seperti membius2 Gu Fei.

“Ayo pergi.” Gu Fei mengusap wajahnya, tampaknya terinfeksi oleh rasa malunya. Dia mengeluarkan dua tisu untuk menyeka wajahnya dan berjalan menuju pintu.

“En.” Jiang Cheng melihat ke arah gumpalan tisu di lantai, ingin membersihkannya, tapi dia ragu-ragu dan merasa malu … jadi dia mengabaikannya dan mengikutinya keluar.


Di daerah ini, selain lokasi rumah Li Baoguo yang bisa dikatakan sudah sangat rusak, medan baru yang dilaluinya bersama Gu Fei saat ini juga tidak terlalu berbeda – semuanya sangat buruk. Namun, pencahayaannya jauh lebih baik di sini.

Seperti pencahayaan yang berada di kota tua yang memberi seseorang kesan bahwa tempat itu memiliki begitu banyak cerita untuk diceritakan.

Dan memang ada begitu banyak cerita – keluarga Li Baoguo sendiri sudah punya banyak cerita untuk diceritakan. Lalu ada Gu Fei… dia menoleh untuk melihat Gu Fei.

“Tepat di depan,” kata Gu Fei. “Ada pasar di sebelah kanan yang menjual sayuran dengan harga cukup murah. Kalau kamu ingin memasak sendiri, kamu bisa membeli bahan-bahannya di sana.”

“En.” Jiang Cheng menanggapi.

“Di belakang pasar kain di depan, ada pasar pakaian yang menjual pakaian murah dan jelek.” Gu Fei meliriknya, “Kalau kamu ingin menghemat uangmu, kamu bisa pergi ke sana.”

“… En.” Jiang Cheng tertawa.

“Lalu ada tempat untuk makan … Aku akan membawamu ke sana setelah kita selesai membeli selimutmu dan apa pun itu.” Kata Gu Fei.

“Baiklah,” Jiang Cheng mengangguk.


Sudah ada banyak toko di pasar kain itu yang tutup, tapi untungnya, salah satu toko yang menghadap ke jalan masih buka. Jiang Cheng tidak tahu bagaimana memilih benda-benda semacam ini, jadi dia hanya melihat warnanya.

“Set yang ini ba.” Dia meraba-raba seperangkat tempat tidur dengan pola garis-garis lebar.

“Yang jenis ini akan cepat rusak,” kata Gu Fei.

“Oh,” Jiang Cheng menarik tangannya dan merasakan satu set lainnya. “Kalau begitu yang ini…”

“Tidak ada perbedaan antara keduanya, apa kamu tidak bisa merasakan perbedaannya?” Gu Fei bertanya.

“Brengsek,” Jiang Cheng memasukkan tangannya kembali ke sakunya, “Bagaimana kalau kamu membantuku memilih dua set bei.”

Gu Fei tertawa dan pergi mencari-cari. Dia memilih satu set: “Ini …”

“Itu terlalu jelek,” kata Jiang Cheng dengan cepat. “Murah, tapi jelek.”

“Kalau begitu, kamu pilih saja yang jenisnya cepat rusak yang tadi itu ba,” Gu Fei mulai tertawa. “Mahal, tapi cantik.”

Pada akhirnya, Jiang Cheng membeli dua set, satu dari masing-masing dua bahan. Dia terlalu malas untuk terus berbelanja, jadi dia memutuskan untuk membeli bantal dan selimut di toko ini.

“Kamu hanya membeli satu bantal?” pemilik bertanya.

“Ah, aku tidur sendiri.” Jiang Cheng berkata.

“Kamu bisa menggunakannya bergantian ah, atau mengeluarkannya untuk digunakan orang lain saat kamu perlu berbagi.” Pemiliknya bersikeras, “Kami akan segera tutup, aku akan membiarkanmu membelinya dengan harga murah. Selain itu, bahkan kalau kamu sendirian sekarang, kamu tidak akan sendirian di masa depan ah.”

“Aku … seorang siswa SMA.” Jiang Cheng masih ingin menghemat sedikit uang miliknya, “Pada saat aku tidur dengan orang lain, bantalnya akan membusuk.”

“Kualitas bantal ini bagus!” Pemiliknya berkata sambil mengangkat bantal di depannya dan menepuknya, “Sangat lentur! Selain itu, ada cukup banyak orang yang sudah tinggal bersama di SMA ah! Aku sudah sering melihatnya. Aku juga sering mendapat pelanggan seorang pasangan yang datang satu demi satu untuk membeli perlengkapan tempat tidur.”

“Aku hanya… ingin satu.” Jiang Cheng benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Biasanya, dia pasti akan meminta bantuan Gu Fei. Tetapi untuk sekarang, dia malu bahkan untuk menatap Gu Fei.

“Ibunya mengunjungi rumahnya setiap hari, jadi dia biasanya tidur di hotel. Tempatnya benar-benar tidak membutuhkan dua bantal.” Gu Fei berkomentar dari belakang mereka.

“Apa-apaan itu?” Jiang Cheng segera melihat ke belakang.

“Oh — jadi, seperti itu.” Pemilik toko itu memiliki ekspresi ‘seperti yang kuduga’ di wajahnya, ‘”Kalau begitu kamu memang hanya butuh satu.”


Mereka membawa dua kantong barang kembali ke pinggir jalan; butuh banyak waktu dan upaya untuk mengikat semuanya ke bagian belakang sepeda – mereka bahkan harus meminta dibawakan dua tali kepada pemilik toko.

“Kita akan pergi makan dengan seperti ini?” Jiang Cheng menatap tumpukan barang di sepedanya, “Apa kita akan membawanya ke toko?”

“Aku akan mentraktirmu sesuatu yang sederhana.” Gu Fei menginjak pedal sepedanya, “Dengan begitu kita tidak perlu menurunkannya.”

“… Baiklah.” Jiang Cheng juga menaiki sepedanya, “Apa yang akan kita makan?”

“Kue beras goreng3,” kata Gu Fei. “Sangat lezat.”

“Kamu akan mentraktir anak yatim piatu ini kue beras goreng?” Jiang Cheng tertawa.

“Rasanya sangat lezat seperti roti isi Wang Er,” jawab Gu Fei dengan sangat serius. “Serius.”


Setelah mereka selesai berbelanja, mereka pergi mencari toko kue beras goreng. Kecanggungan di hati Jiang Cheng akhirnya menghilang ketika mereka berada di jalan, dan begitu dia duduk dengan Gu Fei di toko, depresi yang menekannya selama dua hari terakhir juga memudar bersama dengan kecanggungan yang dirasakannya.

“Kebetulan kita juga bisa melihat sepeda kita dari sini,” komentar Gu Fei setelah mereka duduk.

“En.” Jiang Cheng melihat sekeliling toko. Toko itu sangat kecil, hanya bisa memuat empat atau lima meja kecil secara total – dan itu juga meja pendek – jadi mereka hampir seperti berjongkok di tanah untuk makan.

Saat ini, ada total dua meja yang terisi, termasuk meja mereka. Tampak ada beberapa gadis muda yang duduk di meja lain; mereka asyik makan dan mengobrol.

Sebaliknya, dia dan Gu Fei duduk berhadapan dalam diam, tampak sangat pendiam.

“Aku lupa bertanya padamu,” Jiang Cheng menatap Gu Fei. “Apa Kepala Babi Hutan membuat masalah hari ini?”

“Tidak.” Gu Fei menuangkan secangkir teh dan meletakkannya di depannya, “Dia hanya menggertak.”

Jiang Cheng menyesap tehnya: “Kamu pikir siapa yang sedang kamu tipu, huh?”

“Aku benar-benar tidak bohong,” Gu Fei mulai tertawa. “Siapa yang berani menipu xueba ah. Kamu sangat pintar sampai kamu bahkan membacakan refleksi diri tanpa teks.”

Jiang Cheng tidak mengatakan apa-apa sebagai tanggapan, dan hanya menatapnya.

Gu Fei menyesap tehnya, tapi Jiang Cheng masih menatapnya. Jadi Gu Fei mengulurkan cangkir tehnya sampai berada di depannya, dengan ringan mendentingkannya ke cangkirnya, dan kemudian menyesap tehnya lagi … tapi Jiang Cheng terus menatapnya.

Ay,” desah Gu Fei. “Tidak ada yang serius. Ayo kita bicarakan tentang masalah ini setelah ujian.”

“Dia datang untuk mengatur perkelahian, ‘kan?” Jiang Cheng bertanya.

“Dia datang untuk mengatur pertandingan basket.” Gu Fei tertawa.

“Apa ada perbedaan antara bermain basket dan berkelahi untuk orang seperti dia?” Jiang Cheng menyesap tehnya, mengambil waktu sejenak untuk merenung, tapi kemudian merasa jika ada sesuatu yang salah, “Tunggu, jenis wajah macam apa yang dia miliki sampai berani-beraninya mengatur pertandingan itu, huh? Permainan mereka sangat curang… wajahnya pasti bisa dilipat menjadi pesawat kertas dan dibuang ke luar jendela.”

“Lupakan saja, tidak ada yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Fokus saja pada ujiannya dulu.” Kata Gu Fei.

“Kamu tidak khawatir masalah itu akan mempengaruhi ujianku, ‘kan?” Jiang Cheng bertanya.

“Sedikit,” Gu Fei mengakui.

“Jangan khawatir,” kata Jiang Cheng. “Di sekolah kecil yang jelek seperti Si Zhong, aku masih bisa mendapatkan peringkat pertama meski aku sedang demam dan amnesia… apa kamu ingin mencontek? Bukankah Zhou Jing bilang kalau kalian tidak mengganti tempat duduk selama ujian?”

“Nah, aku tidak akan merasa stres bahkan kalau aku mendapatkan nilai nol.” Gu Fei mulai tertawa lagi. Dia kemudian memberikan jeda yang lama sebelum berkata: “Cheng-ge, kamu benar-benar …”

“Hmm?” Jiang Cheng mencium aroma kue beras yang harum dan menoleh ke arah dapur.

“… orang paling luar biasa yang pernah aku temui sepanjang hidupku,” Gu Fei menyelesaikan.

Jiang Cheng membeku. Dia kemudian menoleh ke belakang, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

“Sungguh,” desak Gu Fei.

“Kamu adalah preman paling kejam yang pernah aku temui sepanjang hidupku,” kata Jiang Cheng sebagai tanggapan. “Kamu adalah preman yang hangat dan lembut, dan… kamu sangat tampan.”

“Apa kamu membutuhkan aku untuk balas memujimu?” Gu Fei bertanya.

“Tidak perlu,” jawab Jiang Cheng. “Aku tahu aku tampan.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Biaya perlindungan: geng lokal memeras pembayaran rutin dari pemilik usaha kecil dengan imbalan ‘perlindungan’, biasanya dari diri mereka sendiri, tetapi terkadang dari geng saingan.
  2. Roofied: Ketika seseorang membubuhi minumanmu dengan obat tanpa sepengetahuanmu. Kalau ada saran terjemahan indo yang lebih cocok bisa kasih tahu aku wwww
  3. Kue beras goreng dengan sirup gula merah dan bubuk kacang tanah.

    "Kamu akan mentraktir anak yatim piatu ini kue beras goreng?" Jiang Cheng tertawa

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments