• Post category:SAYE
  • Reading time:32 mins read

–Kau tidak punya tempat untuk bicara omong kosong.

Penerjemah: Jeffery Liu


Malam itu, tidur Jiang Cheng agak nyenyak. Sebelum dia tertidur, dia berpikir bahwa dia mungkin akan diganggu oleh satu atau dua mimpi, tetapi hanya ada kegelapan yang menyelimutinya, dan dia terus tidur sampai keesokan harinya, hanya terbangun dari udara dingin yang begitu membekukan.

Langit di luar cerah — dia menduga, sekarang mungkin sudah pukul tujuh atau delapan pagi. Api di ruangan itu sudah padam, dan embusan angin dengan bebas mengalir masuk dari celah-celah jendela. Jiang Cheng segera mengeluarkan serangkaian bersin saat dia membuka matanya.

Dia mengulurkan tangannya ke samping dan meraba-raba, tetapi tidak ada siapapun di sana.

Dia menoleh dan menemukan bahwa Gu Fei tidak lagi ada di sampingnya.

Tetapi sebelum dia bisa terkejut oleh fakta bahwa Gu Fei benar-benar bangun pagi-pagi sekali di akhir pekan, dia membeku setelah mengingat apa yang terjadi tadi malam.

Jiang Cheng duduk dan menyentuh rambutnya sendiri, dengan kasar meraihnya.

Pengaruh alkoholnya telah hilang.

Kegilaannya juga telah memudar.

Tapi anehnya, kecanggungan yang dirasakannya belum mereda.

Sekarang, satu-satunya perasaan yang mengelilinginya adalah rasa panik yang samar.

Jiang Cheng, apa yang sudah kamu lakukan?!

Intinya adalah, apa yang sudah dilakukan memang sudah dilakukan, tapi sekarang, orang yang sudah diperlakukan seperti itu olehmu kabur tanpa meninggalkan sedikitpun bayangannya di pagi hari… apa-apaan ini?! Orang macam apa dia ini?!

Jiang Cheng melompat dari sofa dan mengitari ruangan dua kali, memeriksa untuk melihat apakah pakaian, tas sekolah, dan barang-barang milik Gu Fei yang lain semuanya hilang. Bajingan pengecut itu melarikan diri tanpa meninggalkan jejak?

Apa dia memang harus berbuat sejauh itu?!

Bahkan jika hanya berhubungan badan biasa! Seharusnya tidak perlu panik seperti ini ‘kan!

Bukankah itu hanya akan membuat segalanya menjadi canggung…

Satu-satunya perasaan yang Jiang Cheng rasakan saat itu adalah rasa malu yang benar-benar tak tertahankan!


“Sialan!” Dia mengutuk diam-diam pada dirinya sendiri dan meraih ponselnya, menelepon nomor Gu Fei setelah bersin beberapa kali lagi.

Setelah hampir dua dering, dia tiba-tiba mendengar suara ponsel berdering dari sisi lain pintu.

Ada seseorang disini?

Siapa itu?!

Bu Shi Hao Niao?

Li Yan?

Atau mungkin Ding Zhuxin?

Sial, apa TKP sudah dibersihkan dengan benar?

Ketika dia akhirnya menyadari bahwa nada dering di luar pintu sebenarnya adalah milik Gu Fei, dia segera mendapatkan keringat dingin karena syok.


Pintu didorong terbuka, dan Gu Fei masuk dengan membawa dua kotak panas berisi makanan cepat saji: “Apa kamu meneleponku?”

“Ah,” Jiang Cheng menatapnya.

“Cepat makanlah, ini pho.” Gu Fei meletakkan kotak-kotak itu di atas meja kecil, “Li Yan baru saja meneleponku untuk pergi ke toko, jadi aku pergi untuk membuka tokonya dulu.”

“Dia ada di toko sekarang?” Jiang Cheng bertanya.

“Belum. Dia akan kesana sebentar lagi,” kata Gu Fei.

“Jadi, kamu baru saja membiarkan pintu toko terbuka begitu saja? Dengan tidak ada orang di sana?” Jiang Cheng bertanya lagi.

“En,” jawab Gu Fei. “Tidak akan ada orang yang masuk untuk mencuri pada jam seperti ini, pencuri sudah tidur sekarang setelah menyibukkan diri sepanjang malam.”

“… Oh.” Jiang Cheng duduk.

Gu Fei mengambil bungkus kecil panjang dari sakunya dan melemparkannya ke depannya.

“Wasabi?” Itu adalah tanggapan pertama Jiang Cheng.

“Kamu bahkan menambahkan wasabi saat kamu makan pho1?” Gu Fei menunduk dan mulai makan mie miliknya.

Jiang Cheng mendekat dan melihat bahwa paket itu sebenarnya adalah obat kumur yang dikemas secara satuan: “Tokomu juga memiliki barang semacam ini, huh?”

“Apa? Tokoku sangat populer,” kata Gu Fei.

Jiang Cheng tertawa lama, kemudian pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya, berkumur, dan duduk kembali untuk makan mie.

Suasana sunyi menyelimuti mereka saat mereka makan, tetapi itu tidak masalah karena Jiang Cheng sendiri tidak benar-benar ingin berbicara saat ini – spekulasi yang menghantui pikirannya sebelumnya tentang Gu Fei sebenarnya membuatnya sedikit malu.

Lagipula… dia sebenarnya tidak merasa terlalu canggung saat bangun. Mungkin karena dia terlalu sibuk bersin, terkejut, dan marah bahkan untuk peduli.

Sekarang ketika dia makan pho hangat dalam diam, kegelisahan dan kepanikan di tubuhnya dengan berani kembali muncul.


“Apa kamu mau pulang ke rumah?” Gu Fei menyeka mulutnya setelah menyelesaikan makanannya, “Sepertinya Li Yan membutuhkanku untuk sesuatu hari ini. Kalau dia tidak menemukanku di toko sebentar lagi, dia mungkin akan datang ke sini. Aku harus pulang sekarang.”

“Kalau begitu cepat pergilah,” Jiang Cheng buru-buru berkata saat dia mendengar itu. Dia tidak ingin dilihat oleh orang lain terlepas dari siapa itu atau apakah mereka memiliki kemampuan untuk menceritakan apa yang terjadi di sini atau tidak. “Aku juga sebentar lagi akan pergi.”

“En.” Gu Fei memasukkan makanan ringan yang ada di atas meja ke dalam kantong dan melemparkannya ke dalam kotak karton di sampingnya, lalu memasukkan sampah ke kantong lain.

Jiang Cheng mengikutinya keluar pintu, memperpanjang kesunyian di antara mereka berdua di sepanjang jalan.

Setelah menikmati sesuatu yang hangat, dia menemukan bahwa hari itu tidak terlalu dingin. Tetapi untuk beberapa alasan, meskipun embusan angin saat itu sama sekali tidak kuat, dia tidak tahu mengapa dia merasa begitu kedinginan.

Ketika mereka mencapai persimpangan yang berada jauh dari pabrik baja, Gu Fei berhenti. Jiang Cheng harus ke kiri, tapi Gu Fei sendiri akan menuju ke kanan.

“Umm,” Gu Fei meliriknya. “Kamu mau pulang?”

“En,” Jiang Cheng mengangguk, mengambil dua langkah ke jalan kecil di sebelah kiri, lalu berbalik dan perlahan mundur. “Um… aku akan pergi sekarang.”

“En,” Gu Fei terdengar menanggapi tetapi tidak bergerak.


Setelah beberapa langkah, Jiang Cheng berdehem, tidak tahu apa lagi yang bisa dia katakan. Jadi dia melambai pada Gu Fei, berbalik, dan mulai kembali berjalan.

Ketika dia sampai di lantai bawah bangunan tempat tinggal Li Baoguo, dia melihat Li Baoguo berjalan masuk dengan langkah cepat dari seberang jalan.

Begitu dia melihat orang ini, dia langsung memikirkan panggilan telepon dari Shen Yiqing sehari sebelumnya. Ada simpul di hatinya yang naik hampir langsung ke atas tenggorokannya, jadi dia menghentikan langkahnya, ingin menunggu Li Baoguo pulang terlebih dulu dan tertidur sebelum kemudian masuk.

Tapi saat Li Baoguo mendekat, dia melihat dua orang wanita mengikuti di belakangnya, mengenakan pakaian serasi yang tampaknya seperti seragam sales.

“Paman.” Seorang wanita muda menghampiri Li Baoguo dan berkata, “Paman, itu memang kesalahan kami karena melakukan panggilan yang salah, tetapi Anda tidak bisa begitu saja menyangkalnya!”

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan! Aku tidak pernah menerima panggilan apapaun!” Li Baoguo berkata dengan suara keras sambil melambai kepada mereka, “Jangan ikuti aku lagi!”

Wanita yang lain tampak agak cemas: “Lihatlah berapa umur Anda sekarang! Bagaimana Anda bisa begitu tidak berbudaya?!? “

“Siapa yang tidak berbudaya? Siapa yang tidak berbudaya?” Li Baoguo mendongak dan menatap lurus ke arahnya, “Setiap hari, kalian berdua terus mengatakan bahwa aku mengambil barang-barangmu! Seberapa berbudayanya kalian, bahkan berniat untuk menjebak seseorang?!”

“Paman, bagaimana kami bisa menjebak Anda?!” Wanita muda itu menangis dengan nada terisak-isak, “Kami tidak sengaja menelepon Anda, tapi kenapa Anda mengatakan jika Anda memang membelinya? Dan bahkan membiarkan kami mengirimkannya! Sopir kami masih ingat kalau Anda-lah yang mengambil barangnya, ah!”

“Aku tidak tahu sopir mana pun!” Li Baoguo memasuki koridor, yang kemudian diikuti dengan suara dentangan dari pintu yang tertutup.

“Bagaimana bisa ada orang seperti ini?!!” Wanita muda itu berdiri di pintu masuk koridor dan menangis dengan keras.


Jiang Cheng berdiri di sana dan memperhatikan selama sekitar satu menit, lalu perlahan berjalan ke arah kedua wanita itu, merasa seolah-olah ada karung pasir yang diseret di bawah kakinya.

“Permisi,” dia memandang wanita yang lebih tua, “Da-jie2, ini… apa yang terjadi?”

“Apa kamu kenal orang itu?” Da-jie ini segera bertanya, sambil menunjuk ke pintu apartemen Li Baoguo, “Apa kamu bisa membantu kami?”

Jiang Cheng tidak mengatakan bahwa dia mengenal Li Baoguo, tetapi Da-jie masih menceritakan situasinya.

Mereka adalah dua wanita penjual dari toko grosir tembakau dan alkohol, dan seorang pelanggan lama memesan beberapa batang rokok dan minuman keras kepada toko mereka. Wanita pegawai baru itu secara tidak sengaja menelepon nomor yang salah dan menghubungi Li Baoguo, yang meminta barang untuk dikirim ke perempatan, tetapi kemudian dia pergi tanpa membayar.

“Biasanya, tidak ada masalah kalau ada pelanggan lama kami yang membayar setelah mereka menerima barangnya,” kata Da-jie. “Tapi, dalam kasus ini, kami baru menyadari kesalahan ini ketika pelanggan kami menelepon di malam hari untuk menanyakan kapan barangnya akan dikirimkan.”

“Ini salahku,” kata wanita muda itu sambil menangis. “Tapi seharusnya dia tidak bisa mengambil sesuatu yang bukan miliknya seperti itu dan kemudian tidak mengakuinya. Harganya lebih dari 2000 yuan. Jika dia tidak mengembalikannya, aku harus mengganti kerugiannya …”


Jiang Cheng hanya bisa merasakan hawa dingin menyelimuti seluruh tubuhnya. Setelah dia menoleh untuk bersin beberapa kali, dia merasa otaknya membengkak –sama sekali merasa tidak nyaman.

“Tinggalkan nomor kalian padaku,” katanya. “Aku akan menyelesaikan masalah ini dengannya dan menghubungi kalian.”

“Apa kamu mengenalnya?” Da-jie itu dengan cepat bertanya, “Kamu ini siapanya? Apa kamu anaknya?”

“… ya.” Jiang Cheng mengangguk dengan enggan.

“Kalau begitu, kamu harus membantu nona muda ini, kalian berdua sama-sama masih muda. Dia bahkan belum bekerja selama dua bulan, dan gaji bulanannya bahkan tidak cukup untuk menghidupinya,” kata Da-jie. “Keluarganya juga mengalami kesulitan. Hidup tidak mudah baginya, ah.”

“Aku akan menghubungi kalian setelah aku menyelesaikan situasinya,” kata Jiang Cheng.

Wanita muda itu terus menangis sementara Da-jie terus memohon padanya berulang kali. Jiang Cheng tidak tahu apa lagi yang bisa dia katakan, jadi dia hanya bisa mengulangi kalimat yang sama.

Setelah keduanya akhirnya pergi, dia membuka pintu dan memasuki tempat tinggal Li Baoguo dengan kelelahan.


“Kenapa kau bicara lama sekali dengan mereka?” Li Baoguo sedang berdiri di ruang tamu, segera meneriakinya dengan tidak senang saat dia melihatnya masuk. “Kau tidak perlu memperhatikan mereka!”

“Apa kau mengambil barang-barang itu?” Jiang Cheng melempar tas sekolahnya ke sofa.

Li Baoguo masih berteriak: “Tidak penting apa aku mengambilnya atau tidak, masalah ini …”

“AKU TANYA APA KAU MENGAMBILNYA ATAU TIDAK!” Jiang Cheng memotongnya dan meraung marah.

“Aku mengambilnya! Memangnya kenapa!?! Merekalah yang menelepon dan ingin mengirimkannya kepadaku!” Li Baoguo memelototinya dan balas berteriak, “Memangnya kenapa dengan itu?! Apa ini ada hubungannya denganku?! Itu kesalahan mereka sendiri! Mereka harus menanggung konsekuensinya!”

“Kembalikan barang-barang itu,” Jiang Cheng merengut padanya.

“Apa kau sudah gila? Kenapa kau harus mengembalikan sesuatu yang datang kepadamu secara gratis? Ini bukan berarti aku sendiri yang berniat menipu mereka!” ekspresi Li Baoguo tampak seolah-olah sedang menatap orang bodoh, “Biar kuberitahu, mereka sudah memeriksa CCTV! Bahkan pergi jauh-jauh ke kantor polisi! Dan coba tebak, polisi tidak peduli! Biarkan mereka memecahkan masalah ini sendiri!”

Segalanya akan baik-baik saja jika Li Baoguo tidak mengucapkan kata-kata itu, tapi begitu dia benar-benar mengucapkannya, Jiang Cheng merasa dirinya hendak meledak. “Kau cukup bangga pada dirimu sendiri, huh? Bahkan polisi tidak mampu menyinggung preman sepertimu! Kau pasti sangat bahagia, bukan?”

“Perhatikan kata-kata yang kau ucapkan pada Laozi!” Kemarahan Li Baoguo juga meningkat saat dia menunjuk ke arahnya. “Perhatikan dengan siapa kau bicara! Kau sedang bicara dengan ayahmu!”


Jiang Cheng menekan amarah di dalam hatinya dan menatapnya selama beberapa detik sebelum dia menoleh dan berjalan ke kamar Li Baoguo.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Li Baoguo segera mengikuti dan meraih lengannya, menariknya keluar.

Jiang Cheng berbalik dan dengan kasar melepaskan lengannya: “Sudah kubilang! Jangan sentuh aku!”

“Jadi, memangnya kenapa kalau aku menyentuhmu!” Li Baoguo meraung, “Aku mengejakulasi keberadaanmu. Jangankan menyentuhmu, bahkan kalau aku menghajarmu, kau tidak punya tempat untuk bicara omong kosong!”

Tangan Jiang Cheng gemetar. Dia mengabaikannya dan membungkuk untuk melihat ke bawah tempat tidurnya; ada beberapa tumpukan sampah tetapi tidak ada rokok atau minuman keras yang terlihat. Dia kemudian pergi untuk membuka lemari.

“Kalau Laozi tidak memberimu pelajaran hari ini, maka kau tidak akan pernah tahu siapa yang bertanggung jawab atas keluarga ini!” Li Baoguo bergegas dan mendorong punggungnya dengan keras.

Jiang Cheng tidak menyangka dengan gerakan itu. Sebuah dorongan tiba-tiba menghantam wajahnya tepat ke pintu lemari — dia merasakan semburan rasa sakit di hidungnya.

Segera setelah itu, Li Baoguo meninju wajahnya: “Kau benar-benar berpikir kalau kau adalah tuan muda dari keluarga kaya!”


Sepanjang hidupnya, Jiang Cheng sudah pernah dimarahi oleh orang tuanya, dipaksa berdiri sebagai hukuman, dan bahkan dipaksa untuk berlutut – dia sudah pernah melalui semuanya. Tapi ini adalah pertama kalinya dia dipukul oleh ‘sosok yang disebut orang tua’.

Tinju Li Baoguo sangat berat, begitu berat sehingga dia sulit percaya bahwa Li Baoguo pernah dipukuli sampai meringkuk di tanah sedemikian rupa hari itu hanya berdasarkan tinju ini.

Segala sesuatu di hadapannya menjadi kabur – gerakan ketiga Li Baoguo segera diikuti dengan tendangan kasar di perutnya.

Tendangan ini membuat Jiang Cheng langsung berlutut. Dia praktis tidak bisa mengeluarkan suara dari rasa sakit yang tak tertahankan ini.

Persetan dengan nenek moyangmu.

Saat Li Baoguo menendang pundaknya, Jiang Cheng mengatupkan giginya dan mengambil sebuah bangku dari samping, mengayunkannya dengan keras ke kaki bagian bawahnya.

Li Baoguo mungkin tidak mengharapkan dia untuk membalas dan bahkan berteriak kesakitan.

Jiang Cheng menahan perutnya dan berdiri. Dia meraih bangku itu, mengayunkannya ke lengannya, dan menghantamkannya berulang kali di tubuhnya.

“Brengsek, bajingan bangsat.” Jiang Cheng memelototi Li Baoguo dengan gigi terkatup.


Mungkin Li Baoguo, yang hanya seorang pengecut saat berada di luar dan menjadi tiran saat di rumah, sudah kehilangan banyak wajah karena ditinju dua kali berturut-turut, oleh karena itu, dia bergegas maju dan melancarkan serangkaian serangan lainnya.

Setelah Jiang Cheng memukulnya dua kali, dia tidak berniat untuk melanjutkan; bahkan jika orang ini bukan ayahnya, dia masih orang dewasa yang setengah jalan menuju kuburnya, yang juga selalu terbatuk sepanjang hari … ketika Li Baoguo menerkamnya lagi, dia hanya mendorongnya menjauh.

Tapi Li Baoguo gusar. Jika dia tidak memberinya pelajaran sampai dia merengek minta ampun, dia mungkin tidak akan berhenti. Dia sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang selalu terbatuk sepanjang hari.

Jiang Cheng harus mendorongnya lagi dan lagi, dari kamarnya ke ruang tamu, sampai akhirnya dia menabrak pintu ruang tamu.

“Kau pasti sangat ingin membunuhku, huh!” Li Baoguo berteriak, “Ayo! Ayo! Kemarilah! Bunuh aku!”

Jiang Cheng tidak ingin menanggapinya lagi dan hanya menatapnya dalam diam.


Lao Li! Apa yang sedang terjadi?” Suara tetangga sebelah terdengar dari sisi lain.

“Anakku ingin membunuhku!” Li Baoguo berteriak dan mengulurkan tangan untuk membuka pintu. Dia bergegas menuju beberapa tetangga yang berdiri di luar dan berteriak, “Semua orang lihat, lihatlah! Putraku ingin membunuhku!”

“Kenapa kau…” keterkejutan Jiang Cheng telah membanjiri amarahnya, sehingga suaranya mulai bergetar sedikit, “Sangat tidak tahu malu?”

“Aku tidak tahu malu?” Li Baoguo menoleh untuk melihatnya, “Aku tidak tahu malu? Aku membesarkanmu, memberimu makanan, air, dan pendidikan! Aku hanya mengambil sedikit keuntungan dari sesuatu yang dikirimkan kepadaku secara gratis, dan kau menyebutku tidak tahu malu?”

Jiang Cheng merasa sangat kesal sehingga napasnya hampir tercekat di tenggorokannya. Dia ingin langsung berdiri membelakangi orang ini.

“Tidak mudah bagi ayahmu …” kata paman yang berdiri di luar.

“Tutup mulutmu!” Jiang Cheng berteriak.

Para tetangga ini, yang ekspresinya dipenuhi dengan antisipasi menonton pertunjukan yang bagus, sekilas terlihat bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar memiliki sedikit empati. Jika mereka benar-benar datang untuk menenangkan mereka, maka yang mereka inginkan hanyalah melihat tontonan Li Baoguo.

“Hei!” seorang bibi berteriak keras, “Ada apa dengan anak ini?!”

“Apa?!” Li Baoguo tiba-tiba berteriak padanya, “Memangnya kenapa dengan anakku! Apa ini ada hubungannya denganmu? Memangnya kau siapa berani-beraninya bicara seperti itu?!”

“Dasar gila!” Bibi itu memelototinya, menghentakkan kakinya, dan mengumpat saat dia menaiki tangga, “Kalian sekumpulan keluarga psikopat! Bahkan perusahaan farmasi akan bangkrut kalau harus menyediakan obat untuk keluargamu!”


Li Baoguo menutup pintu.

Dia berbalik menghadap Jiang Cheng, dan setelah menatapnya lama, dia akhirnya membuka mulutnya: “Aku akan segera mati …”

“Jangan bicara padaku.” Jiang Cheng menekan suaranya, “Aku sudah mati.”

Li Baoguo kembali membuka pintu dan berjalan keluar.

“Barang-barangnya?” Jiang Cheng bertanya dari belakangnya.

“Sudah kujual,” kata Li Baoguo.

“Uangnya?” Jiang Cheng bertanya lagi.

“Sudah kuhabiskan semuanya,” jawab Li Baoguo.

“Mulai sekarang,” kata Jiang Cheng. “Kau tidak akan memiliki aku sebagai putramu lagi! Kau tidak akan pernah, dan tidak akan pernah memilikinya sekali pun!”

Li Baoguo berdiri diam di luar pintu.

“Aku akan pindah,” kata Jiang Cheng. “Kau tidak perlu membesarkanku, memberiku makanan, air, atau pendidikan lagi.”

Li Baoguo menoleh ke belakang, tertawa dingin, dan langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Gu Fei duduk di belakang kasir dan memainkan ponselnya sementara Li Yan bersandar di depan meja dan mengawasi Li Baoguo yang berjalan mondar-mandir di sekitar rak.

“Barang yang didiskon ini, apa sudah kedaluwarsa?” dia bertanya, menunjuk ke beberapa wadah yogurt di dalam freezer.

“Hampir,” kata Gu Fei. “Masih ada dua atau tiga hari tersisa sebelum kedaluwarsa.”

Li Baoguo mengambil sebuah wadah dan meletakkannya di meja kasir: “Tolong hitung.”

“Li-shu3, kamu masih makan yogurt?” Li Yan bertanya.

“En, aku tidak pernah memakannya sebelumnya,” kata Li Baoguo. “Aku ingin mencobanya.”

“Tambahkan ke hutangmu?” Gu Fei bertanya.

“Aku punya uang tunai.” Li Baoguo mengeluarkan uang miliknya.

“Kamu cukup beruntung akhir-akhir ini?” Gu Fei tersenyum dan memberinya uang kembalian setelah menerima uang itu.

“Tidak buruk, tidak buruk,” kata Li Baoguo dan berjalan keluar membawa yogurt.

Li Yan duduk di samping Gu Fei dan memperhatikan saat Li Baoguo pergi: “Dia benar-benar ayah biologis Jiang Cheng?”

“En,” Gu Fei memainkan ponselnya.

“Sial, lingkungan benar-benar berdampak besar pada penampilanmu.” Li Yan berkata, sambil meregangkan tubuhnya. “Lihat saja Li Baoguo, dan keluarganya… dia benar-benar memiliki seorang putra seperti Jiang Cheng.”

“Berapa lama lagi kamu akan ada di sini?” Gu Fei tidak melanjutkan percakapan itu dan terus mengusapkan jarinya ke layar ponselnya. “Aku menyia-nyiakan akhir pekanku disini bersamamu, sangat menyebalkan.”

“Aku akan pulang kalau ibuku sudah menyerah untuk membuatku pergi kencan buta,” jawab Li Yan.

“Ugh.” Gu Fei melemparkan ponselnya ke atas meja, “Kenapa kau tidak membeli tokoku saja?”

Li Yan bersandar ke kursinya dan tertawa sebentar: “Kau ini teman macam apa!”

“Apa kau akan ke sini lagi besok?” Gu Fei bertanya, “Jika ya, aku akan memberi tahu ibuku kalau dia tidak perlu datang. Kau bisa menjaga toko dan mengawasi Er Miao di sepanjang jalan.”

“En. Tidak masalah,” kata Li Yan.

“Juga, bantu aku mengambil barang?” Gu Fei meliriknya, “Di tempat aku mengambil pangsit beku terakhir kali, kau pernah ke sana.”

“Oke, oke, oke, oke, oke, serahkan padaku.” Li Yan menghela napas.


Li Yan belum tua — dia bahkan belum berusia 23 tahun. Namun karena dia tidak pernah punya pacar sebelumnya, dia membuat ibunya yang ingin menggendong cucu sejak dia berusia 15 tahun sangat cemas. Putranya ini menganggur sepanjang hari dan hampir tidak bisa menangani pekerjaan biasa – pada titik ini, ibunya sangat ingin dia menikah.

Terkadang, Gu Fei merasa kasihan untuk Li Yan.

Kali ini, Li Yan mungkin dipaksa sampai batasnya, jadi dia hanya mematikan ponselnya dan tinggal di sini tanpa mau pulang ke rumah selama dua hari terakhir.

Gu Fei sudah tidak punya hati lagi di game Craz3 Match-nya. Jiang Cheng sudah mengatakan kalau dia akan membantunya melewati tiga level, tetapi dia hanya bisa melewati satu. Sejak itu, dia tidak bisa melewati dua level yang tersisa dalam dua hari terakhir.

Dia menghela napas dan tidak berniat memainkannya lagi, lalu membuka Momennya dan perlahan melihat-lihat.

Tidak ada yang menarik. Para gadis memposting foto narsis dengan begitu banyak filter sehingga hidung mereka hampir menghilang, serta barang-barang yang mereka beli, beli, beli, dan para anak laki-laki yang hanya bermain-main dan berpura-pura menjadi keren.

Jiang Cheng adalah udara segar di tengah semua itu.

Cheng-ge: Aku sangat kaya.

Gu Fei melihat kata-kata itu dan tertawa lama sebelum dia menekan tombol like.

Jiang Cheng tidak menghubunginya selama dua hari terakhir. Meskipun mereka tidak banyak berhubungan di akhir pekan sebelumnya, bagaimanapun juga, sesuatu yang membuat mereka tidak bisa saling melakukan kontak mata secara langsung terjadi dua hari yang lalu. Tapi sebenarnya dia baik-baik saja… dia hanya sedikit khawatir dengan kondisi pikiran Jiang Cheng.

Tapi ketika dia melihat Momen ini, sepertinya tidak ada masalah.


Hanya ketika dia bertemu lagi dengan Jiang Cheng pada hari Senin, dia melihat kulitnya tampak pucat, namun, suasana hatinya bisa disebut normal.

“Ini.” Jiang Cheng memberinya dua lembar kertas terlipat.

“Refleksi diri?” Gu Fei bertanya.

“En.” Jiang Cheng mengangguk, “Seharusnya tidak ada kata-kata yang tidak bisa kamu baca.”

Gu Fei tertawa: “Bukan berarti seorang xuezha itu buta huruf.”

Hari itu adalah hari dimana mereka semua harus naik ke atas panggung untuk membaca refleksi diri yang sudah mereka buat; Lao Xu mengumpulkan mereka di sisi podium sebelum seluruh sekolah berkumpul. Para siswa dari Kelas 5 tidak datang, hanya ada sedikit dari mereka yang berdiri di atas panggung seperti sekelompok orang bodoh sebelum prosesi pengibaran bendera.

Ketika bendera akhirnya dikibarkan dan Kepala Sekolah serta guru yang bertugas hari itu telah selesai berbicara, giliran mereka untuk naik ke atas panggung. Mereka merasakan semacam perasaan “akhirnya giliran kami untuk keluar”.

“Gu Fei, kau yang pertama,” kata Kepala Sekolah.

Terdengar gelombang tepuk tangan meriah dari penonton di bawah.

“Untuk apa kalian tepuk tangan?” guru yang bertugas berteriak, “Untuk apa kalian tepuk tangan? Apa pembacaan refleksi diri layak untuk mendapatkan tepuk tangan? Kalian semua diamlah!”


Gu Fei membuka kertas yang diberikan Jiang Cheng padanya dan berdiri di depan mikrofon.

“Refleksi diri,” Gu Fei berbicara sesuai dengan tulisan cakar ayam milik Jiang Cheng. “Para guru dan teman sekelas, saya Jiang Cheng, dari Tahun Kedua Kelas 8 …”

Semua siswa yang berdiri di bawah mereka tiba-tiba meledakkan tawa setelah beberapa saat hening, disertai dengan jeritan yang tak terhitung jumlahnya. Kepala Sekolah dan guru yang bertugas di samping mereka berdua menoleh ke arahnya dengan sangat terkejut.

“Brengsek.” Gu Fei tiba-tiba menoleh ke belakang untuk melihat deretan orang di belakangnya.

Jiang Cheng sudah menundukkan kepalanya dan mencari dengan panik di sakunya, dan hanya setelah beberapa saat, dia akhirnya berhasil menemukan dua lembar kertas terlipat lainnya dan buru-buru menyerahkannya kepada Gu Fei hanya dalam dua langkah.

Gu Fei memberikan yang ada di tangannya pada Jiang Cheng dan bergumam: “Kamu benar-benar hebat. Kamu bahkan bisa salah memberikan sesuatu seperti ini?”

“Kamu sendiri juga sangat mengagumkan,” Jiang Cheng juga merendahkan suaranya. “Kamu bahkan tidak tahu namamu sendiri?”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Pho, (牛肉 粉); mie kuah – sup Vietnam yang terdiri dari kaldu, bihun (bánh phở), bumbu dapur, dan daging (biasanya daging sapi) (phở bò), terkadang ayam (phở gà). Pho adalah makanan populer di Vietnam yang disajikan di rumah, warung pinggir jalan, dan restoran di seluruh negeri. Pho dianggap sebagai hidangan nasional Vietnam.
  2. Da-Jie 大姐 = kakak perempuan.
  3. Li Shu (叔) – shū berarti ‘paman’ jadi Paman Li, aku akan membiarkannya tetap dalam pinyin Cina.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments