• Post category:SAYE
  • Reading time:33 mins read

Aku juga sangat beruntung bisa mengenalmu.


Penerjemah: Jeffery Liu


Set pakaian ‘manusia primitif liar’ itu mungkin bukan koleksi utama; setelah hanya beberapa pemotretan, Gu Fei meminta Jiang Cheng ganti baju.

Di ruang dalam, dia menemukan semua kancing kayu yang telah ditembakkan Jiang Cheng dan meletakkannya kembali di atas meja.

Saat dia memikirkannya, dia tidak bisa untuk tidak menggosok lengannya lagi – tembakan itu benar-benar keras dan mungkin akan meninggalkan memar di kulitnya. Dia mendesah. Sudah berapa lama sejak seseorang memukulnya hingga meninggalkan bekas luka di tubuhnya… namun hanya dalam setengah semester saja, Jiang Cheng tidak hanya secara tak terduga menggigitnya tetapi juga mengejarnya untuk membunuhnya dengan ketapel.

Namun … dia meregangkan tubuhnya – dia sebenarnya dalam suasana hati yang relatif baik sekarang.

Li Yan dan Ding Zhuxin adalah dua orang terdekatnya yang mengetahui detail situasi di keluarganya. Dia tidak pernah ingin membicarakan masa lalu ini dengan siapa pun karena itu membuatnya merasa tidak nyaman – gelisah lebih tepatnya. Dan, dia tidak terbiasa menerima simpati maupun dihibur oleh orang lain.

Tapi sekarang setelah dia memberi tahu Jiang Cheng, dia tiba-tiba merasa sangat santai.

Dia tidak tahu apakah itu karena dia telah mengetahui rahasia Jiang Cheng dan perlu melakukan hal yang sama padanya, atau dia hanya butuh seseorang untuk diajak bicara.

Jiang Cheng tidak menunjukkan simpati yang jelas dan usahanya untuk menghibur berakhir dengan kekacauan yang mengerikan, tetapi itu membuatnya merasa sangat nyaman.

Dia tidak berniat untuk menggoda Jiang Cheng.

Dia memang merasa sangat sedih pada awalnya, tetapi itu juga apa yang disebut dengan ‘kenyamanan’ yang dibawa Jiang Cheng yang benar-benar membuatnya tidak bisa menahan tawanya.

“Benda apa ini?” Jiang Cheng masuk setelah berganti pakaian.

“Aku merasa kau akan selalu menanyakan kalimat ini untuk setiap pakaian,” kata Gu Fei tertawa.

“Apa Ding Zhuxin memiliki mereknya sendiri? Dan apa merek itu disebut, ‘Apa-apaan ini?'” Jiang Cheng membuka lengannya untuk menunjukkan pakaiannya, “Mood macam apa yang akan kita coba di sini?”

Pakaian ini masih terbuat dari bahan kain goni; celana longgar yang ‘dirancang’ dengan potongan vertikal panjang dan pendek yang tak terhitung jumlahnya, memperlihatkan kakinya melalui celah kecil dan besar dari setiap langkah yang diambilnya.

Atasannya adalah kemeja biasa, tetapi lengan panjangnya telah dipotong, dan lengan yang ‘dipotong’ itu malah dibungkus di lengan seperti sarung tangan.

“Kelihatannya cukup bagus.” Gu Fei mengangkat kameranya dan melihat melalui lensa, “Pakaian ini memberikan aura keras kepala.”

“Baiklah kalau begitu.” Jiang Cheng berbalik dan berjalan menuju lokasi pemotretan, “Kenapa kau tidak memberitahuku aura keras kepala macam apa itu?”

Kali kedua Jiang Cheng berbalik, Gu Fei memperhatikan bahwa ada juga beberapa celah panjang di bagian belakang kemeja itu, dan ketika dia bergerak, dia bisa dengan sangat jelas melihat otot paraspinalnya yang kokoh1 … Gu Fei berdehem.

Tepat setelah dia mengungkapkan masa lalu yang tragis miliknya hanya untuk kemudian bereaksi terhadap punggung seseorang hanya karena orang itu menoleh, musim semi benar-benar telah tiba – periode panas masa muda telah tiba.

Gu Fei berbalik, berpura-pura bermain dengan kameranya sambil benar-benar menarik celananya. Dia mengenakan celana olahraga tebal hari itu; seharusnya tidak mungkin untuk seseorang melihat apa pun. Dia tidak ingin terus-menerus pergi ke kamar mandi untuk ‘bermeditasi’.2.

Dia mengangkat kameranya; memikirkannya sedemikian rupa, semua rasa estetika yang dirasakannya tiba-tiba menghilang.

“Angkat tanganmu,” kata Gu Fei setelah memotret beberapa kali pose Jiang Cheng yang berdiri dengan tangan di samping. “Angkat keduanya… bukan postur menyerah, lebih seperti kau sedang menghalangi matahari…”

“Aku tidak pernah menghalangi matahari.” Jiang Cheng mengangkat lengan kanannya dan memegangnya di depan dahinya, “Kau bisa saja mengatakan postur menyeka keringat.”

“En, turunkan lengan lainnya sedikit dan buat lengan yang satu lebih tinggi dari yang lain dan hanya mengekspos matamu,” kata Gu Fei. “Bagus, jangan bergerak. Aku akan mencari sudut yang bagus.”

Jiang Cheng berdiri diam: “Apa kau ingin mencari sudut yang cocok untuk tampilan keras kepala yang kau maksud?”

“Beri aku tatapan mata seperti saat kau memukulku dengan ketapel barusan.” Gu Fei menyesuaikan jaraknya; Jiang Cheng selalu memiliki aura penghinaan, dan ketika diberi ketenaran seperti ini, itu sangat mengesankan, keras kepala… tidak, tapi cukup erotis. Dia berdehem lagi, lalu membungkukkan pinggangnya sedikit dan menekan

tombol shutter.

“Sudah selesai?” Jiang Cheng menatapnya.

“Sedikit lebih rendah. Aku akan mengambil foto seluruh tubuhmu dengan hanya mulutmu yang terlihat,” kata Gu Fei.

“En.” Jiang Cheng terus mengangkat tangannya.

Gu Fei mengambil beberapa langkah dan menekan tombol shutter lagi: “Dan berbaliklah, dengan wajah yang menghadap ke samping, jangan bergerak.”

Jiang Cheng menurut.

Setelah tembakan beruntun itu, Jiang Cheng keluar untuk berganti pakaian lagi, Gu Fei menarik celana olahraganya sekali lagi, tenderloin, tenderloin, tenderloin…

Jumlah pakaian hari itu hampir sama dengan hari sebelumnya, tetapi karena dia sudah cukup mahir, dan bahkan jika mereka menghabiskan waktu untuk bertengkar dan bertukar rahasia, mereka masih bisa menyelesaikannya lebih awal.

Gu Fei mengemudikan roti kecil dan membawanya untuk makan semangkuk mie di sebuah toko kecil terdekat yang memiliki rasa cukup enak.

Dalam perjalanan pulang mereka setelah makan, Gu Fei tidak lupa mengatakan lagi: “Ingatlah untuk menulis refleksi diriku ah.”

“Apa,” Jiang Cheng melihat ke belakang kepalanya. “Kapan aku setuju untuk menuliskannya untukmu?”

“Tidak perlu terlalu panjang, aku tidak ingin menghabiskan banyak waktu untuk membaca semuanya di atas panggung,” kata Gu Fei. “Kau mungkin tidak pernah memiliki pengalaman membaca refleksi diri di depan seluruh sekolah ‘kan?”

“… tidak.” Jiang Cheng menghela napas, “Dan aku juga tidak punya pengalaman membersihkan kamar mandi selama seminggu.”

“Tidak apa-apa, kau hanya perlu membersihkannya dengan santai di sana-sini. Kebersihan dari kamar mandi sekolah biasanya benar-benar dijaga,” kata Gu Fei. “Apa kau tahu cara menyapu lantai?”

“Apa menurutmu aku ini tuan muda yang tertekan dari keluarga kaya yang telah diusir atau apa?” Jiang Cheng sedikit tercengang, “Keluargaku… keluarga orang tua angkatku hanya sedikit lebih baik daripada keluarga lain yang berpenghasilan rata-rata, ada empat anggota keluarga kami termasuk aku. Kau benar-benar berpikir kami punya asisten rumah tangga?”

“Apa kau masih berhubungan dengan mereka?” Gu Fei bertanya.

“Tidak,” alis Jiang Cheng berkerut. “Setelah terakhir kali barang-barangku dikirim kepadaku, kami belum pernah berhubungan sejak itu. Memangnya, apa lagi yang bisa dibicarakan, bicara tentang betapa sulitnya hidup bagiku di tempat sialan ini?”

“Apa itu sulit?” Gu Fei tertawa.

“Sejujurnya… itu tidak terlalu buruk. Pada awalnya, aku merasa seperti aku tidak bisa tinggal sedetik pun di tempat ini, dan kalau aku tinggal lebih lama lagi, aku bisa saja bertengkar dengan Li Baoguo, tapi apa gunanya? Aku sebenarnya sudah terbiasa sekarang. Lagipula tidak ada yang peduli padaku. Ini hampir seperti hidup sendiri.” Jiang Cheng melihat ke luar jendela, “Aku juga sangat beruntung bisa mengenalmu.”

Gu Fei memiringkan kepalanya.

“Uh… mengenal kalian semua, kau, Gu Miao, Jiuri…” Jiang Cheng dengan cepat menambahkan, “Lao Xu juga sangat baik, dan Lao Lu…”

Gu Fei mulai tertawa lalu berkata setelah beberapa saat: “Aku tidak pernah berpikir kalau suatu hari nanti aku akan bertemu dengan seseorang sepertimu. Kau sangat berbeda dari teman dan teman sekelasku.”

“Benarkah?” Jiang Cheng memikirkannya, “Apa karena aku lebih tampan daripada kau?”

“Aku lahir dan besar di sini.” Gu Fei mengangkat tangannya dan menggambar lingkaran di udara, “Aku tidak pernah meninggalkan tempat ini sebelum aku masuk sekolah menengah, apalagi bepergian, dan dengan semua kerabatku yang semuanya ada di sini, benar-benar tidak ada kesempatan untuk pergi mengunjungi mereka.”

“Kau tidak pernah meninggalkan kota ini sebelum kau masuk sekolah menengah?” Jiang Cheng sedikit terkejut, dan terus terang, dia tidak akan merasa aneh sama sekali jika Wang Xu, Zhou Jing, atau yang lainnya juga tidak pernah pergi, tetapi temperamen Gu Fei tidak seperti seseorang yang terkurung di kota busuk ini sejak dia masih kecil.

“En, aku membolos beberapa kali di sekolah menengah untuk berkeliling,” kata Gu Fei. “Tapi tidak terlalu jauh karena aku sendiri tidak punya cukup uang, dan aku juga tidak bisa pergi terlalu lama. Biasanya aku pergi untuk mengambil foto… oh, aku juga pernah pergi ke Starbucks, tapi aku tidak tahu bagaimana cara memesan disana ketika aku sudah di dalam.”

Jiang Cheng mulai tertawa, dan setelah tertawa lama, dia menepuk kakinya sendiri: “Ayyy, aku sebenarnya belum pernah ke Starbucks sebelumnya. Apa kamu tahu cara memesan di sana sekarang?”

“Ya.” Gu Fei tertawa dan menoleh untuk melihatnya, “Kalau kita punya kesempatan untuk pergi suatu hari nanti, aku akan menunjukkannya padamu.”

“Baiklah,” Jiang Cheng mengangguk dengan sungguh-sungguh.

Keduanya tertawa sekali lagi dan kemudian setelah beberapa saat, Jiang Cheng akhirnya pulih: “Apa kau sudah berpikir untuk meninggalkan tempat ini?”

“Sudah,” kata Gu Fei. “Bagaimana bisa aku tidak.”

“Oh,” jawab Jiang Cheng – perasaan kehilangan samar di nada Gu Fei membuatnya merasa sangat sedih – tertekan.

“Ayo kita lihat apa akan ada peluang di masa depan,” kata Gu Fei. “Mungkin, saat Gu Miao sedikit lebih dewasa. Dia sangat keras kepala saat ini dan tidak bisa menerima perubahan. Sering kali, pikirannya benar-benar sebuah misteri bagiku. Kau bisa memberinya pakaian baru, topi baru, dan dia akan senang tetapi jika kau mengganti selimutnya dengan yang baru, dia akan marah dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Kau tidak bisa menyentuh skateboard-nya sama sekali, dia benar-benar sedekat itu dengan skateboard miliknya sampai memeluknya ketika tidur. Jika rodanya rusak, kau hanya bisa mengganti rodanya, dan kalau kau membelikannya yang baru, dia akan segera menghancurkan dan membantingnya ke tanah sampai benar-benar rusak… Aku bahkan tidak tahu apa yang dia bisa atau tidak bisa terima. Lihat saja, dia sudah mengenal Li Yan dan teman-temannya begitu lama dan dia masih tidak benar-benar mengakui ataupun akrab dengan mereka, tapi denganmu, dia sangat menyukaimu setelah hanya bertemu sekali … “

“Jadi, saat itu ketika aku memberitahumu kalau adikmu sedang bersamaku, kau tidak percaya sama sekali?” Jiang Cheng bertanya.

“En, dia tidak akan mau tinggal dengan orang asing,” kata Gu Fei sambil tersenyum. “Faktanya, dia memiliki rute tetap untuk bermain skateboard dan agak keras kepala tentang itu. Bahkan kalau dia pergi ke stasiun kereta, dia tidak akan tersesat. Dia juga tahu jalan pulang dari sana … kau terdengar seperti pembohong pada saat itu.”

“Aku pikir kau seperti psikopat,” Jiang Cheng juga tersenyum tetapi memikirkannya lagi, dia bisa melihat ketidakberdayaan dalam diri Gu Fei. “Dengan dia yang seperti ini, apa dia bisa dirawat?”

“Akan sulit untuk melihat perubahan yang signifikan,” kata Gu Fei. “Kami hanya bisa melakukannya secara perlahan. Mungkin butuh beberapa tahun sampai ada sedikit kemajuan. Kau bisa melihat betapa hebatnya dia dalam bermain skateboard, tetapi dia tidak paham tentang sistem penambahan dan pengurangan dua digit angka dan terkadang bahkan akan salah menghitung dengan angka di bawah sepuluh.”

Ay.” Jiang Cheng mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya, “Aku sangat menyukainya, dan menurutku dia sama sekali tidak aneh, tidak sedikitpun. Dia sangat tampan.”

“Lebih tampan dariku?” Gu Fei bertanya.

“Malulah sedikit, oke, membandingkan dirimu dengan adik perempuanmu sendiri.” Jiang Cheng merasa begitu geli, “Bagaimana bisa ada seseorang sepertimu.”

“Kenapa aku tidak bisa membandingkannya seperti itu? Aku selalu berpikir kalau aku sendiri cukup tampan,” Gu Fei mengucapkannya dengan sangat serius.

“Tentu, tentu, kau super duper tampan.” Jiang Cheng menjulurkan ibu jarinya dan melambaikannya di samping wajah Gu Fei. “Kau yang paling tampan.”

“Terima kasih,” kata Gu Fei.

“Tidak…” Jiang Cheng menahan dua kata terakhir yang hampir terucap dari mulutnya3.


Ketika dia kembali ke tempat Li Baoguo, masih belum ada satu jiwa pun yang terlihat, tetapi Jiang Cheng berpikir bahwa seperti ini saja cukup baik. Dia tidak ingin tinggal sendirian dengan Li Baoguo, dan meskipun suasana di antara mereka tidak sedikit pun terasa canggung, tetap saja – itu mengerikan.

Dia memikirkan wanita yang menemuinya tadi pagi, ibu kandungnya. Dia bahkan tidak sempat bertanya siapa namanya, dan dia juga tidak memberinya kesempatan untuk bertanya.

Dia bertanya-tanya apakah dia akan pergi ke sekolahnya lagi untuk menghalanginya, dan hanya memikirkan itu saja sudah membuatnya takut. Dia bahkan berpikir untuk memanjat tembok untuk menghindari masuk melalui gerbang utama.

Dia masuk ke kamarnya sendiri, menutup pintu, duduk, dan kemudian mulai mengerjakan tugas untuk hari itu.

Tugas di Si Zhong tidak terlalu banyak, jadi tidak butuh waktu lama baginya untuk menyelesaikannya. Bahkan Jiang Cheng terkadang merasa bahwa cara para guru memberikan tugas kepada mereka tidak terlalu masuk akal dan ada banyak poin kunci yang dibahas di kelas tidak pernah benar-benar muncul.

Setelah dia menyelesaikan tugasnya, dia mengirim pesan ke Pan Zhi, memintanya untuk mengirim gambar dari semua materi yang digunakan semester ini – dia berencana untuk membeli semuanya.

– Aku akan mengirimkannya kepadamu secara langsung. Kakek, apa kau akan mendapatkan nilai tertinggi di Si Zhong kali ini?

– Seharusnya tidak menjadi masalah.

– Seperti yang diharapkan dari Kakekku. Aku sangat suka kepercayaan diri ini!

Jiang Cheng sejujurnya tidak begitu peduli dengan nilai atau rangkingnya; dia lebih peduli tentang apakah dia benar-benar bisa menjawabnya dan seberapa banyak dia benar-benar mengerti, dan hanya dengan begitu, dia akan mempertimbangkan nilainya – secara alami, semakin tinggi nilainya, itu akan menjadi semakin baik. Lagipula, gelarnya sebagai xueba sudah beredar dan beberapa orang bahkan menggunakannya untuk menggodanya – nilai tinggi bisa membuat mereka semua benar-benar diam tak berkutik.

Dia menyingkirkan tugasnya dan bersiap untuk memulai mengulangi pelajaran hari itu.

Dia membuka bukunya dan sambil melihat catatannya, dia dengan tenang berkata: “Sekarang, Xueba Jiang Cheng kami sedang bersiap mengulangi pelajarannya, dimulai dengan bahasa Inggris. Cara belajarnya selalu direncanakan dengan sangat baik … dimulai dengan subjek yang paling dia kuasai, dengan begitu akan membuatnya lebih mudah untuk membangun pola pikir positif ‘aku mengerti’ …… baiklah, sekarang kita akan diam dan melihat jenis konten macam apa yang ada di gelombang otaknya…”

Malam itu, Jiang Cheng belajar sampai dini hari sebelum dia pergi tidur, tetapi ketika dia bangun keesokan harinya, dia masih merasa begitu bersemangat. Mungkin, karena sudah lama sekali sejak dia belajar seperti itu, rasanya dia telah kembali ke ritme kehidupan lamanya.

Ketika dia sampai di persimpangan, dia melirik ke arah rumah Gu Fei tetapi tidak melihat Gu Fei; berdasarkan waktu Gu Fei biasanya tiba di sekolah, dia mungkin bahkan belum bangun saat ini.

Ibu kandungnya tidak lagi menunggunya di dekat gerbang sekolah untuk menghalanginya, yang membuat Jiang Cheng cukup lega, tetapi dia masih perlu meluangkan waktu untuk bertanya kepada Li Baoguo tentang hal itu. Dia harus menyelesaikan masalah ini – hidup dalam ketakutan dan gelisah setiap hari adalah cara yang sempurna untuk mendapat kebotakan.

Ketampanannya ini, dia tidak boleh mengorbankannya.


Gu Fei ketinggalan kelas pertama, dan hanya setelah sepuluh menit masuk ke kelas dua, yaitu kelas matematika, dia masuk dari pintu belakang. Jiang Cheng mendengarkan ceramah guru sambil menulis refleksi dirinya pada saat itu.

Ketika Gu Fei duduk di sebelahnya, dia meliriknya dan tiba-tiba merasakan rasa … keintiman yang tak bisa dijelaskan di antara mereka berdua.

Mungkin itu adalah fakta bahwa interaksi di antara mereka jauh lebih banyak daripada yang mereka berdua lakukan dengan orang lain, atau mungkin fakta bahwa mereka tahu lebih banyak tentang rahasia satu sama lain daripada yang diketahui oleh orang lain, atau mungkin karena sehari sebelumnya mereka berdua merasa “bertemu denganmu merupakan sebuah kebetulan, tapi itu benar-benar membawa keberuntungan”.

“Pertandingan sore ini mungkin agak sulit,” bisik Gu Fei. “Aku baru saja melihat Kelas 7 meminta bantuan dari luar.”

“Mereka benar-benar menemukan bantuan?” Jiang Cheng tercengang, “Bukankah itu terlalu tidak tahu malu?”

“Kurasa hanya ada dua dari mereka. Aku pernah bermain melawan mereka sebelumnya, dan mereka menggunakan metode curang jadi berhati-hatilah di pertandingan sore ini.” Gu Fei berkata dan kemudian menambahkan, “Ayo kita kumpulkan Jiuri dan yang lainnya untuk latihan lagi siang nanti.”

“En, apa wasitnya tidak peduli dengan fakta ini?” Jiang Cheng bertanya.

“Tidak juga. Yang penting pertandingannya seru,” kata Gu Fei.

“Kalau begitu, kita …” ucapan Jiang Cheng disela oleh suara guru yang sedang mengajar di podium sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya.

“Jiang Cheng, kamu sepertinya mengobrol dengan sangat bersemangat di sana. Kenapa kamu tidak maju dan menyelesaikan soal ini,” guru itu memandangnya dengan ekspresi tidak senang.

Guru matematika sering memanggil muridnya untuk memecahkan soal, jadi semua orang cenderung lebih terkendali di kelas ini, lagipula, tidak ada yang mau dengan bodohnya berdiri di sana selama beberapa menit dengan sepotong kapur di tangan hanya untuk kemudian dimarahi.

Jiang Cheng berdiri, dan dengan sangat lambat, melihat pertanyaan di papan tulis saat dia berjalan menuju podium.

Gu Fei melirik mejanya; buku teks miliknya bahkan tidak terbuka dan hanya ada satu halaman dari kertas refleksi diri yang belum selesai ditulis di atasnya.

Apa sudah waktunya untuk mengungkapkan kemampuan xueba miliknya?4

Jiang Cheng pergi ke depan, mengambil sepotong kapur, membelahnya menjadi dua, dan kemudian melanjutkan membaca pertanyaan di papan tulis.

“Ada apa, kamu mau ambil kelas bahasa dulu? Tidak mengerti pertanyaannya?” kata guru itu dengan tangan terlipat.

“Kelas bahasa ada di jam pelajaran terakhir,” kata Jiang Cheng.

Suara tawa yang sangat pelan terdengar datang dari para siswa di kelas itu.

Saat guru matematika itu hendak marah, Jiang Cheng mulai menjawab pertanyaan di papan tulis.

Dari perspektif seorang xuezha seperti Gu Fei, dia bahkan tidak tahu pertanyaan apa yang diberikan atau apa yang harus dia lakukan. Dia hanya melihat Jiang Cheng menyelesaikan soal itu, secara bersamaan menuliskan catatan kasar di papan tulis samping, dan setelah beberapa saat, dia menyelesaikannya. Dia bahkan sudah menghapus catatan yang sebelumnya dia buat di samping dengan rapi sebelum berbalik dan menjauh dari podium.

Tulisan tangan Jiang Cheng sangat tidak sedap dipandang, bahkan lebih tidak sedap dipandang dibandingkan dengan tulisannya yang menggunakan pulpen. Orang bisa langsung tahu bahwa itu bukanlah tulisan seorang anak laki-laki sejati, tetapi dari ekspresi guru di depan, dia tahu bahwa Jiang Cheng sudah menjawab dengan sempurna.

“Kamu harus melatih tulisan tanganmu,” kata guru itu.

“… Ini, ini adalah hasil dari berlatih,” kata Jiang Cheng.

Seluruh kelas tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, dan guru itu tertegun untuk waktu yang lama sebelum dia mengetuk podium: “Tenang! Apa kalian semua sangat bersemangat untuk menjawab beberapa pertanyaan lagi?”

“Aku pikir karena kau sedang menulis refleksi diri, kau tidak akan bisa menjawabnya.” Gu Fei menunduk dan mengeluarkan ponselnya untuk memainkan game Craz3 Match Terbelakang miliknya.

“Bahkan kalau aku memainkan permainan terbelakang itu sepanjang waktu, aku masih bisa menjawabnya,” kata Jiang Cheng.

Gu Fei tertawa sejenak: “Rasa tidak tahu malu milikmu itu tidak kurang dari milikku.”

Awalnya, mereka ingin berlatih setelah kelas siang berakhir sebagai pemanasan untuk pertandingan sore itu, tetapi Direktur Akademik memblokir jalan mereka di pintu.

Setiap orang harus membersihkan kamar mandi terlebih dahulu.

Masing-masing dari mereka diberi tugas sesuai dengan tingkat keparahan tindakan mereka; mereka yang dianggap melakukan tindakan yang tidak terlalu serius harus membersihkan kamar mandi staf tetapi untuk pelaku yang melakukan tindakan serius seperti Jiang Cheng dan Si Brengsek, mereka harus membersihkan kamar mandi siswa yang bahkan sulit bagi siapapun untuk bernapas di sana.

Jiang Cheng biasanya menahan napas ketika dia harus ke kamar mandi – cepat-cepat buang air kecil, dan cepat-cepat pergi – hari itu, dia akhirnya merasakan bagaimana sebenarnya suasana kamar mandi itu.

Masing-masing dari mereka semua pergi ke kamar mandi dengan cara yang begitu santai. Selain itu, dia biasanya membanggakan dirinya karena bisa buang air kecil secara stabil dan akurat. Ia tidak tahu kenapa setiap pergi ke kamar mandi sekolah, selalu ada orang yang berhasil buang air kecil di luar urinal.

Jiang Cheng mengeluarkan pel dari tempat peralatan kebersihan, dan Si Brengsek segera menyambar pel yang satunya; orang-orang yang ada di pihak Si Brengsek kemudian masuk dengan hanya bisa mengambil kain lap.

Jiang Cheng merasa tidak tahan lagi untuk melihat ekspresi tragis di wajahnya – jenis di mana seseorang akan segera mati sebagai pahlawan – saat dia memegang kain itu.

Mengepel lantai relatif mudah karena tidak perlu menyentuh apapun secara langsung. Jiang Cheng dan Si Brengsek mulai membenamkan diri dalam pekerjaan mereka mengepel di kedua sisi kamar mandi. Biasanya, saat ini, mereka seharusnya sudah saling mengumpat berdasarkan karakter Si Brengsek, tapi bahkan untuk bisa bernapas saat ini merupakan sebuah tindakan kejam…

Di kamar mandi, ada beberapa siswa lain yang awalnya kaget melihat mereka berdua mengepel lantai dan menyeka dinding tapi tak lama kemudian mereka mulai tertawa.

“Apa yang kalian tertawakan?!” Direktur Akademik berdiri di depan pintu, “Kalau kalian semua berpikir itu lucu, pergilah dan ambil tempatnya! Atau coba saja mulai perkelahian di sini! Aku akan memberimu pel.”

Jiang Cheng juga pernah mengepel lantai di rumah; dia hanya menyeretnya perlahan beberapa kali sambil memainkan ponselnya. Sekarang adalah pertama kalinya dalam hidupnya dia begitu cepat mengepel lantai.

Saat dia menyeret pel ke arah bilik paling dalam dari kamar mandi itu, pintu bilik itu terbuka.

Saat dia hendak menarik pelnya, orang yang berada di dalam menginjaknya.

Jiang Cheng menegakkan tubuh dan melirik orang ini.

Ya, dia benar-benar tidak kenal orang ini.

“Ah, ternyata Dewa Pencetak Tiga Poin, sungguh kebetulan.” Orang itu memandangnya sambil menyeringai, “Sepertinya kau sedang melatih kekuatan tanganmu dengan menyeret pel di kamar mandi ini sebagai latihan, huh? Aku tidak pernah bisa membayangkan ini.”

Jiang Cheng menarik pelnya, tetapi pria itu masih meletakkan beban tubuhnya di atasnya sehingga dia tidak bisa dengan mudah menariknya. Dia melihat ke kaki pria itu: “Singkirkan kakimu.”

“Kau pikir kau cukup tangguh, huh?” Pria itu berkata dengan senyum menjijikkan masih terpancar dari wajahnya.

Jiang Cheng tidak ingin berdebat di lingkungan seperti ini, jadi dia tetap memegang kain pel di tangannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan hanya menatapnya.

“Di Si Zhong, kalau kau ingin keterampilan basketmu berbicara untukmu,” pria itu menunjuk ke arahnya, “Ini jauh dari giliranmu.”

Jiang Cheng selalu merasa bahwa dia sendiri sedikit gila5 kadang-kadang; meskipun dia menikmatinya dan tidak ingin berubah sama sekali, hari itu, ketika melihat pria di hadapannya yang baru saja keluar dari bilik terakhir di kamar mandi ini, pemahaman baru menghujaninya – ternyata ada seseorang yang lebih gila dari dirinya sendiri.

“Aku biasanya menggunakan kata-kata untuk berbicara tentang diriku sendiri, bukan dengan keterampilan basketku,” kata Jiang Cheng, menerima kenyataan bahwa pria itu menunjuk ke arahnya.

“Kau pikir kau sangat lucu huh?” Pria itu jelas sangat marah, dan sekali lagi menggunakan jarinya untuk menusuk bahu Jiang Cheng, “Dasar bodoh.”

Tusukan ini kebetulan mendarat langsung di tombol ‘on’ di dalam diri Jiang Cheng.

Dia mengangkat tangannya dan dengan kuat menarik gagang pel, tiba-tiba menarik pel dari bawah kaki pria itu.

Pria itu dengan sigap berputar ke belakang dan terhuyung mundur beberapa langkah dan berusaha menyeimbangkan dirinya ke dinding untuk menghindari jatuh ke toilet jongkok di bawahnya. Ketika dia kembali ke akal sehatnya, dia segera menerkam Jiang Cheng dengan ekspresi penuh kemarahan. “Brengsek, aku akan…”

“Hentikan omong kosongmu, persetan dengan omong kosongmu itu.” Jiang Cheng menjulurkan gagang pel di genggamannya dan mendorong ujungnya ke tenggorokan pria itu, memaksanya untuk diam.

Musim semi adalah waktu yang sangat lembab ah, kenapa ada saja dari mereka yang berperilaku seolah ada ledakan di kepala mereka…

Jiang Cheng menghela napas pada dirinya sendiri, dengan kasar meraih kerah pria itu dalam satu gerakan cepat, dan menjaga suaranya tetap rendah agar tidak didengar oleh Direktur Akademik yang berdiri di luar. “Kau pasti dari Kelas 7? Kau ingin membiarkan keterampilan basketmu berbicara untukmu, bukan? Aku akan menunggumu berbicara denganku sore ini.”

Begitu dia melepaskan cengkeramannya, pria itu masih ingin mendatanginya; Jiang Cheng segera berteriak ke arah pintu: “Direktur! Saya sudah selesai mengepel, apa saya sudah boleh pergi?!”

“Aku akan memeriksanya dulu!” Direktur Akademik kemudian masuk.

Pria itu hanya bisa memelototinya lalu merapikan pakaiannya dan berbalik untuk pergi.

Ketika Jiang Cheng keluar dari kamar mandi, Wang Xu dan Gu Fei sudah menunggunya.

Begitu dia keluar, Wang Xu menyapanya: “Apa kau baru saja bertemu dengan Hu Jian?”

“Hu Jian?” Jiang Cheng hampir ingin mengingatkan Wang Xu bahwa yang benar adalah Fujian6, tetapi setelah beberapa saat merasa sedikit bingung, dia menyadari bahwa Hu Jian adalah nama siswa yang tadi. “En, kenapa?”

“Dia tampak sangat kesal saat keluar,” kata Wang Xu. “Akan ada pertunjukan yang bagus sore ini.”

“Jangan khawatir,” kata Jiang Cheng. “Tidak peduli seberapa bagus acaranya, itu tidak masalah asal kita bisa menang.”

“Kata yang bagus!” Wang Xu mengacungkan jempol ke arahnya, “Ayo pergi. Kita bisa berlatih diam-diam di sekolah kejuruan sebelah. Aku sudah bilang kepada teman-temanku di sana untuk meminjamkan lapangan untuk kita.”

Segera, sekelompok siswa ini berjalan keluar dari gerbang sekolah, terus berjalan dan saling mengobrol.

Jiang Cheng dan Gu Fei berjalan berdampingan di belakang semua orang, mendengarkan dalam keheningan yang sinkron saat Wang Xu berbicara dengan penuh semangat tentang strategi permainan mereka.

Apanya yang begitu sinkron dengan keheningan? Jiang Cheng merasa pikirannya sendiri sedikit aneh.

“Taktik pertahanan satu lawan satu mungkin tidak akan bisa dilakukan untuk pertandingan sore ini,” kata Wang Xu. “Mereka punya bantuan dari luar, setidaknya satu orang, mungkin dua…”

“Tidak apa-apa kalau kita tidak bisa melakukannya, tetapi kalian harus terus memperhatikan kami,” kata Gu Fei. “Keterampilan Kelas 7 tidak sebagus Kelas 5, dan bahkan jika mereka memiliki bantuan dari luar, itu tidak berarti mereka akan bekerja sama dengan baik. Lagipula, kita sudah lama berlatih bersama…”

“Tepat sekali! Kerjasama tim kita sekarang cukup bagus,” Wang Xu melambaikan tangannya. “Lalu, bagaimana kita akan bermain sore ini?”

“Lakukan segala upaya untuk menjaga Cheng-ge dan aku agar kami bisa mencetak poin,” kata Gu Fei.

Setelah Gu Fei mengatakan itu, semua orang terdiam dan tatapan mata mereka semua tertuju pada Gu Fei.

Bahkan Jiang Cheng tercengang.

“Aku dan …” Gu Fei berdehem dan menunjuk ke arah Jiang Cheng. “Dia.”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. Disebut juga otot aksi punggung.
  2. Otot paraspinal, atau yang biasa disebut tenderloinTenderloin adalah potongan daging sapi dari bagian tengah badan. Letaknya di bagian tulang belakang, bahu dan tulang panggul. Daging tenderloin paling lunak karena otot-ototnya jarang dipakai untuk beraktivitas. Gu Fei tidak mungkin sedang menatap ‘tenderloin’ Cheng-ge yang sangat tidak pantas… Tapi mari kita maafkan Gu Fei karena memikirkan hal ini, dia sedang tidak ada di jalur pikiran yang benar.
  3. Mungkin JC mau bilang ‘Tidak masalah’.
  4. nya ini bukan untuk GF tapi JC lol.
  5. 中 二 病 [zhōng èr bìng] atau sindrom kelas delapan atau Chūnibyō (中 二 病).
  6. Ini lelucon Fujian/Hujian. Fujian adalah sebuah provinsi di bagian selatan Cina, stereotipnya adalah orang-orang di sana cenderung memiliki aksen yang membuat sulit untuk membedakan antara konsonan ‘f’ dan ‘h’ yang mereka ucapkan, sedikit ironis karena ada ‘f’ di nama provinsi itu. Jadi saat orang mengatakan mereka dari Fujian, itu terdengar seperti “Aku dari Hujian”.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments