• Post category:SAYE
  • Reading time:33 mins read

“–selalu merasa seperti lapisan dalam diriku terkelupas.”


Penerjemah: Jeffery Liu


Oh! Ya! Terima kasih terima kasih.”

Kontestan, Jiang Cheng, telah memutuskan untuk menaikkan tingkat kesulitan sekali lagi! Dia memutuskan untuk menaikkan tingkat kesulitannya sekali lagi! Wow—”

Pelatih X, apa menurutmu dia melakukan kesalahan kali ini atau kemampuannya tidak sesuai standar?”

Aku pikir masih ada ruang untuk peningkatan dalam keahliannya…”

Ruangan itu masih sangat sunyi, tetapi kepala Gu Fei sudah dipenuhi dengan suara Jiang Cheng, dengan semua jenis kejenakaan, dan segala macam nada bicara – dia benar-benar tenggelam dalam peran itu.

Dia, yang selama ini pandai menangani situasi yang paling buntu sekalipun, merasa bahwa apa yang ia hadapi saat itu adalah akhir untuknya — seolah-olah jalan lebar1 menuju “putaran pemukulan” telah terbuka tepat di depan matanya.

Tidak ada yang tahu bahwa Jiang Cheng memiliki ketapel; satu-satunya momen dia pernah menunjukkan ketapelnya adalah hanya pada saat dia berada di tepi danau saat itu. Danau. Yang. Kosong. Dari. Orang-Orang.

Dia bahkan tidak punya kesempatan untuk mencari alasan agar tidak mengakui apa pun.

Jiang Cheng tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya berdiri di hadapannya dan menatapnya bahkan tanpa satu ekspresi pun di wajahnya.

Sampai kejutan yang diterimanya itu tiba-tiba memudar, dia tetap tidak menunjukkan ekspresi apapun.

Dia bahkan tidak bisa menebak bagaimana keadaan emosi Jiang Cheng sekarang.

“Itu…” Tapi dia masih harus membuka mulutnya, “Hari itu…”

Jiang Cheng tidak berbicara – hampir seolah-olah dia sedang menunggu Gu Fei menjelaskannya sendiri.

“Aku hanya lewat,” gumam Gu Fei.

“Tidak ada satu pun jalan setapak di dekat danau itu,” kata Jiang Cheng. “Aku sudah berjalan satu putaran mengelilinginya.”

“Aku benar-benar punya urusan di sana.” Gu Fei akhirnya menemukan cara untuk mengungkapkan semuanya, “Aku melihatmu bermain dengan ketapelmu dan karena kita tidak terlalu dekat saat itu, aku tidak berpikir untuk menyapamu dan pergi begitu saja.”

Jiang Cheng menatapnya dan melemparkan ketapel di tangannya dari satu tangan ke tangan yang lain. Ketika ketapel itu jatuh kembali ke tangan kirinya setelah terlempar dua kali, Gu Fei melihat tangan kanannya meraih sesuatu di atas meja samping.

Ini buruk!

Dia tahu bahwa di atas meja itu, ada beberapa aksesoris yang tergeletak dan juga… beberapa kancing.

Jiang Cheng dengan tepat meraih kancing-kancing itu.

Gu Fei berbalik, ingin berlari ke belakang latar pemotretan di samping mereka.

Itu bukan kancing kecil biasa. Semua desain yang dibuat Ding Zhuxin menggunakan semua jenis bahan yang “dapat didaur ulang”, dan beberapa kancing berbentuk manik kayu itu praktis merupakan pelengkap yang sempurna untuk dipasangkan dengan ketapel.

“Itu yang kau maksud dengan ‘penonton’?” Jiang Cheng bertanya.

Gu Fei mendengar suara berdesing, diikuti dengan ledakan rasa sakit di pahanya – dia benar-benar dipukul dengan kancing kayu itu.

Dia berbalik dan melihat bahwa Jiang Cheng sekali lagi menarik ketapel di tangannya, berdiri di tempat yang sama dengan mata menyipit padanya.

“Kau …” Dia bahkan tidak menyelesaikan kata-katanya sebelum Jiang Cheng melepaskan tangannya. Dia berteriak, “Ah!”

Kancing itu mengenai perutnya.

Sejujurnya, Jiang Cheng sebenarnya tidak memberikan banyak kekuatan padanya. Jika dia mengerahkan kekuatannya sebanyak saat dia membuat lubang di lapisan es di tepi danau hari itu, dia mungkin bahkan tidak akan memiliki kemampuan untuk berteriak sekarang.

“Bukankah kau mengatakan kalau ketapel ini rusak dan tidak bisa menembak dengan akurat?!” Gu Fei melompati sofa disana, menyembunyikan bagian bawah tubuhnya di belakang sandaran.

“Tergantung siapa yang menggunakannya.” Jiang Cheng mengambil kancing lain dan menyipitkan mata padanya, “Aku bisa memukul dengan akurat bahkan hanya dengan dua jari dan karet gelang.”

“Jangan …” Gu Fei belum selesai berbicara saat Jiang Cheng melepaskan tangannya lagi. Kancing itu mengenai lengannya dengan sangat akuran – sekarang itu benar-benar sangat menyakitkan. Dia dengan kuat mengusap lengannya beberapa kali, “Brengsek!”

“‘Penonton’ yang kau sebutkan,” Jiang Cheng menarik ketapel di tangannya dan menatapnya dari antara sudut berbentuk V di ketapel itu, “Maksudmu ‘penonton’ seperti itu, ‘kan?”

“Itu hanya sebuah contoh!” Gu Fei dipukul tiga kali berturut-turut; dia benar-benar sudah tidak tahan lagi, jadi dia meninggikan suaranya, “Tidak bisakah kau mendengar alasanku dulu?!”

“Alasan apa?!” Jiang Cheng berteriak, tangannya gemetar sangat keras, “Alasan macam apa?! Kau melihat semua itu terjadi dengan mata dingin tanpa peduli, kau pasti benar-benar santai ah2! Alasan apa?! Dunia ini tidak pernah punya alasan! Apa ada alasan bagiku untuk diadopsi?! Apa ada alasan bagiku dikirim ke tempat ini tepat setelah aku baru tahu kalau aku bukan anak kandung?! Alasan brengsek macam apa yang kau maksud?!”

“Cheng-ge.” Gu Fei melangkah keluar lagi dari balik sofa, “Aku benar-benar tidak melakukannya dengan seng—”

Dia belum selesai berbicara – ketika kancing keempat Jiang Cheng mengenai dadanya.

“Ah!” Dia melompat dan jatuh kembali ke sofa saat dia mundur. Dia mungkin juga tidak memiliki niat untuk bangun lagi. Dia berteriak pada Jiang Cheng, “Ayo, ayo, Master Marksman Jiang Cheng! Ayo! Pukul aku sampai kau puas! Kalau kancing-kancing di sini tidak cukup, masih ada lagi di luar! Tidak hanya yang terbuat dari kayu, bahkan ada batu bahkan logam dan tembaga! Bagaimana kalau kau langsung menggunakan yang logam saja?!”

“Kau melihat semuanya.” Jiang Cheng memelototinya selama beberapa saat, lalu menjatuhkan tangannya dan melemparkan ketapel dan kancing yang sebelumnya berada di genggamannya ke lantai, “Benar ‘kan? Kau melihat semuanya.”

“Aku melihatnya,” jawab Gu Fei.

“Berapa banyak yang kau lihat?” Jiang Cheng bertanya.

“Dari saat kau membuat lubang di es, sampai tentang Pelatih X, sampai kau mulai menangis,” gumam Gu Fei. “Aku melihat semuanya. Aku pergi begitu kau mulai menangis.”

“Oh.” Jiang Cheng bergumam, bersandar ke dinding.

Dia melihat semuanya — tindakan skizofrenia yang dilakukannya dengan sangat baik, bahkan dengan bonus tambahan dari seorang pria dewasa yang menangis dengan menyedihkan.

Jiang Cheng tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini.

Dari keterkejutan, rasa malu, perasaan bahwa ia telah mempermalukan oleh dirinya sendiri, dipermalukan karena rahasianya terlihat, hingga akhirnya marah.

Dan sekarang, semua perasaan itu telah lenyap – hanya menyisakan rasa sakit yang tak tertahankan.

Punggungnya menempel di dinding saat dia perlahan-lahan berjongkok ke lantai dan memegangi kepalanya yang tenggelam di balik tangannya sendiri.

Ini adalah posisi khas miliknya.

Sejak kecil, tidak hanya ketika dia menangis, dia suka menggunakan posisi ini, begitu juga ketika dia kesakitan, tertekan, ataupun ketika dia sedang merasa tidak bahagia — posisi di mana dia dengan keras membuat dirinya menjadi bola dan menyusut sedalam mungkin, untuk tidak membiarkan orang lain melihatnya …

… Itu membuatnya merasa aman.

Sama halnya dengan menancapkan kepalamu di pasir – sedikit berbeda tetapi sama-sama memuaskan hasilnya.

Bukan berarti dia benar-benar mengira orang lain tidak akan melihatnya dalam posisi ini, dia hanya tidak ingin melihat siapa pun atau apa pun pada saat-saat seperti ini.

Tidak bisa melihat apapun, dan mendengar apapun… itu semua sudah cukup.

“Cheng-ge,” Gu Fei memanggilnya, setelah mulai berjalan ke sisinya pada titik dan waktu yang tidak diketahui.

“Cheng-ge pantatku.” Suara Jiang Cheng teredam, masih mengubur dirinya di antara lutut dan lengannya, “Memangnya kau lebih muda dariku?”

“Aku lebih muda darimu sebulan,” jawab Gu Fei.

“Dasar bajingan.” Jiang Cheng sangat terkejut sehingga dia bahkan tidak bisa mengubur kepalanya lagi, jadi dia melihatnya setelahnya. “Kau bahkan tahu ulang tahunku?”

“Aku melihat kartu identitasmu ketika kau pingsan karena demam hari itu,” jawab Gu Fei. “Aku membawa seseorang kembali ke rumahku tanpa sajak atau alasan apa pun, bukankah seharusnya aku berhak tahu siapa orang itu?”

“Tidak perlu repot-repot mengurusku lain kali.” Jiang Cheng sekali lagi membenamkan dirinya di dalam lututnya.

“Apa kau mau?” Gu Fei bertanya.

Jiang Cheng melihat keluar dari celah di antara kedua lengannya; Gu Fei memegang sekotak rokok di tangannya. Dia menutup matanya, lalu setelah beberapa detik, dia mengulurkan tangan dan mengeluarkan sebatang rokok dari kotak itu.

“Kau harus merahasiakan ini.” Gu Fei juga mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya sebelum menyerahkan korek api kepadanya. “Sebenarnya kita tidak boleh merokok di studio ini karena sebagian besar bahan yang ada disini mudah terbakar.”

Jiang Cheng tidak mengatakan apa-apa saat dia menyalakan rokok miliknya dan berbalik untuk melihat CCTV di sudut dinding.

“Tidak apa-apa. Dia biasanya tidak melihatnya,” kata Gu Fei.

“Apa kau tertawa?” Jiang Cheng bertanya; suaranya sedikit serak seolah-olah dia telah diperlakukan dengan buruk. Dia berdehem dengan tidak nyaman, “… saat kau mengintipku?”

“Di kepalaku,” kata Gu Fei. “Aku merasa awalnya memang cukup lucu, dan bahkan jika aku mengatakan tidak, kau toh tidak akan percaya.”

“En,” Jiang Cheng mendesah pelan. “Aku sering bermain sendiri seperti itu, bahkan saat aku memainkan peluit saat itu. ‘Selanjutnya, mari kita sambut penampilan musik dari pemain peluit timah tanpa nama, Jiang Cheng’.”

Gu Fei tertawa – begitu keras sampai abu rokok di tangannya jatuh. Dia mengulurkan tangan untuk mengambil botol minuman kosong dan mengetukkan abu rokok miliknya di dalamnya.

“Kau tidak pernah seperti itu?” Jiang Cheng bertanya.

“Tidak.” Gu Fei menggelengkan kepalanya, “Tapi pasti ada banyak orang yang menghilangkan kebosanan mereka dengan cara seperti itu juga. Seseorang membuat postingan di forum Si Zhong di masa lalu, mengatakan kalau mereka tidak bisa tidur di malam hari tanpa melakukan penampilan luar biasa dulu, dan banyak orang menanggapi postingan itu dan mengatakan kalau mereka juga mengalami hal yang sama.”

“Sungguh…” Jiang Cheng tertawa.

“Tapi bagus juga sekarang kau tahu kalau aku melihatmu.” Gu Fei mengacungkan ibu jarinya, “Aku akhirnya punya kesempatan untuk mengatakan, Kontestan Jiang Cheng, kau adalah orang paling menakjubkan yang pernah aku lihat dengan ketapel.”

“… Terima kasih.” Jiang Cheng mengambil ketapel yang dilemparkannya ke samping sebelumnya dan melihatnya. “Ini mungkin hanya properti yang tidak dimaksudkan untuk digunakan.”

“Tapi bukankah kau bisa menembak dengan cukup akurat menggunakan itu,” kata Gu Fei.

“Tidak. Ketapel itu hanya cukup untuk memukul, itu saja,” kata Jiang Cheng. “Ketika kancing sebelumnya menembak kakimu, aku sebenarnya mengincar pantatmu.”

“Oh.” Gu Fei menoleh untuk melihatnya, “Kenapa?”

“Ada lebih banyak daging di pantat,” kata Jiang Cheng. “Lebih kecil kemungkinannya untuk terluka.”

“Aku perhatikan kau selalu… sangat sadar diri. Kau tidak menahan amarahmu tetapi juga tidak akan melakukan sesuatu yang besar.” Gu Fei mengetuk abu rokok di wadah botol itu lagi.

“Kami xueba selalu sadar akan apa yang kami lakukan.” Jiang Cheng memegang rokok di mulutnya, “Kami tidak pernah melemparkan seseorang ke pohon.”

“Brengsek.” Gu Fei tertawa lagi.

Jiang Cheng menatap puntung rokok di tangannya sejenak: “Apa yang kau lakukan di tepi danau hari itu? Dingin sekali, dan bahkan tidak ada jalan untuk melewati tempat itu.”

“Hari itu huh …” Gu Fei berhenti, lalu melanjutkan setelah beberapa saat. “Hari itu adalah peringatan kematian ayahku. Aku pergi ke sana untuk membakar sejumlah uang kertas.”

“Ah.” Jiang Cheng membeku karena terkejut.

“Di situlah dia tenggelam,” kata Gu Fei, mengetukkan jarinya dengan ringan ke wadah.

“Ah.” Jiang Cheng masih begitu terkejut, merasa ragu-ragu beberapa saat sebelum dia berbicara, “Aku pikir airnya tidak terlalu dalam.”

“Memang tidak terlalu dalam. Dia mabuk hari itu. Jika tidak,” jari Gu Fei terhenti di wadah botol itu, “Mungkin aku yang akan tenggelam.”

Jiang Cheng tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap Gu Fei.

Ketika Li Baoguo mengatakan bahwa Gu Fei membunuh ayahnya, dia tidak percaya sama sekali – tidak sedikit pun.

Ketika Gu Fei mengatakan bahwa ayahnya tenggelam, dia hanya berpikir “ah, jadi itu benar-benar kecelakaan”. Tetapi mendengar kata-kata Gu Fei sekarang, yang mengucapkan kata-kata itu, dia begitu tercengang sehingga dia hampir tidak bisa mempercayai telinganya sendiri.

“Ayahku benar-benar bajingan,” kata Gu Fei dengan sangat tenang. “Aku selalu berharap lebih baik dia mati. Bahkan jika Li Baoguo adalah ayahku, aku tidak akan berpikir demikian.”

Jiang Cheng tetap diam, meskipun pikirannya benar-benar kacau.

“Meskipun dia bukan penjudi seperti Li Baoguo, dia jauh lebih baik dengan tinjunya daripada Li Baoguo.” Gu Fei tertawa, “Ibuku berpikir dia tampan dan menikah dengannya pada saat itu, dan kemudian dia mulai dipukuli. Dia akan memukuli kami saat dia mabuk, dan masih tetapi memukuli kami bahkan jika tidak mabuk. Aku selalu berpikir bahwa satu-satunya cara ayahku mengekspresikan dirinya mungkin melalui tinjunya.”

“Aku mendengar Li Baoguo bilang…” Jiang Cheng mengingat kata-kata Li Baoguo. “Dia juga memukuli Gu Miao.”

“En.” Gu Fei menggigit bibirnya. Dia tampak sangat tenang sebelumnya, tapi ekspresinya segera berubah saat nama Gu Miao disebutkan. “Gu Miao selalu sedikit berbeda dari anak-anak lain sejak dia lahir. Mungkin, itu karena dia terus-menerus minum… tentu saja, dia tidak akan pernah berpikir seperti itu. Dia hanya berpikir bahwa mereka melahirkan anak yang benar-benar menyebalkan, anak tidak normal yang bahkan tidak bisa berbicara dengan lancar atau belajar dengan benar.”

“Jadi hanya karena itu dia memukulinya?” Kemarahan Jiang Cheng meningkat saat dia mendengarkan cerita Gu Fei.

“Ya.” Gu Fei memalingkan wajahnya ke samping, “Dia meraihnya dan melemparkannya ke dinding. Setelah kejadian itu, Gu Miao tidak lagi berbicara.”

“Bajingan!” Jiang Cheng berteriak, memiliki keinginan untuk menggali kuburan ayah Gu Fei dan mencambuk mayatnya pada saat itu.

Gu Fei berhenti berbicara, dan keduanya menatap botol minuman yang digunakannya untuk membuang abu rokok dalam diam.

Setelah beberapa saat, Gu Fei akhirnya berkata dengan tenang pada dirinya sendiri: “Caraku melemparkan tubuh seseorang ke pohon, mungkin, aku mendapatkan bakat itu darinya …”

“Jangan bicara omong kosong,” Jiang Cheng segera memotongnya.

“Nada bicaramu itu.” Gu Fei tertawa, “Kenapa itu terdengar seperti Lao Xu?”

“Lalu, nada bicara macam apa yang harus aku gunakan, seperti Lao Lu? Aku sudah tidak punya kekuatan untuk berteriak lagi.” Jiang Cheng bersandar ke dinding dan menghela napas. “Tempat ini benar-benar kacau.”

“Sejujurnya, orang tua angkatmu mengasuhmu dengan cukup baik.” Gu Fei berkata, “Meskipun kau masih seperti salah satu dari bang snaps3, kau masih benar-benar…. bersih.”

“Mungkin,” kata Jiang Cheng lembut. Dia memikirkannya dan mencoba bertanya, “Kenapa Li Baoguo bilang kalau kau … lupakan saja.”

“Kalau aku membunuh ayahku?” Gu Fei selesai.

“Ah.” Jiang Cheng tiba-tiba merasa tidak pantas baginya untuk menanyakan hal itu saat ini. “Jangan khawatir tentang itu. Aku tidak percaya. Aku hanya… lupakan saja, anggap saja aku tidak mengatakan apapun. Jangan pedulikan aku.”

“Sebenarnya itu bisa dibilang tidak langsung.” Gu Fei mengacungkan jari kelingkingnya ke arahnya, “Bukan seperti itu, semua itu hanya rumor. Kami punya banyak rumor di sekitar sini. Aku akan memberitahumu tentang semua itu ketika aku punya waktu.”

“En.” Jiang Cheng mengangguk.

“Saat ayahku menyeret kami ke tepi danau, seseorang melihat kami,” kata Gu Fei. “Dan pada saat seseorang datang, ayahku sudah berada di dalam air, sudah tidak bergerak, dan aku berdiri di tepi danau. Itu pasti benar-benar terlihat seperti tempat kejadian pembunuhan dan pelakunya bahkan tidak menangis, betapa biadabnya.”

“Itu… kau mungkin hanya takut.” Jiang Cheng mengerutkan kening, tidak berani membayangkan pemandangan macam apa yang terjadi saat itu – berapa umur Gu Fei saat semua itu terjadi?

“Aku tidak tahu, mungkin saja begitu.” Gu Fei menyulut satu rokok lagi, “Kau mungkin akan takut kalau aku mengatakannya.”

“Katakan, buat aku takut,” kata Jiang Cheng.

“Aku tidak bisa menyelamatkannya. Aku tidak bisa berenang, airnya juga sangat dingin.” Suara Gu Fei terdengar semakin pelan, “Tapi aku juga ingin dia mati. Aku berdiri di sana dan menyaksikan dia berhenti bergerak sedikit demi sedikit. Aku melihat saat dia tenggelam, hanya … menatapnya dengan pandangan kosong.”

Jiang Cheng tiba-tiba merasa agak sesak. Dia mencoba menarik napas dalam-dalam beberapa kali tetapi tidak berhasil, seolah-olah dia diikat oleh sesuatu.

“Cukup mengerikan, bukan?” Suara Gu Fei sangat rendah dengan getaran yang hampir tak terlihat, “Aku sangat ketakutan. Kalau aku menyelamatkannya, aku takut dia masih ingin membunuhku, takut dia akan membunuh Er Miao, membunuh ibuku … kalau aku tidak menyelamatkannya, maka aku hanya harus berdiri di sana dan melihatnya mati, tenggelam sedikit demi sedikit… Setiap tahun, pada hari dia meninggal, aku selalu merasa seperti lapisan dalam diriku terkelupas, tidak akan mungkin bagiku bisa melewati rintangan ini selama sisa hidupku…”

Tangan Gu Fei yang memegang rokok bergetar hebat, dan bahkan asap yang mengepul dari rokok itu tampak bergetar.

“Gu Fei.” Jiang Cheng tidak pernah berharap Gu Fei memiliki kisah hidup seperti itu dan terkejut sampai kehabisan akal. Tetapi ketika dia melihat Gu Fei saat ini, dia benar-benar berbeda dari sifatnya yang biasanya tenang dan tidak peduli terhadap apapun, tangannya gemetar – dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan pada saat seperti ini. “Gu Fei…”

Gu Fei berbalik untuk melihatnya.

Dia tidak menangis.

Untunglah. Jiang Cheng menarik napas lega; Meskipun dia merasa Gu Fei mungkin tidak seperti dia, menjadi sangat mudah emosional seperti gadis lemah hanya karena sedikit rasa sakit di hidungnya, dia masih sedikit khawatir.

Dengan tatapan mata Gu Fei sekarang yang tertuju padanya, Jiang Cheng tiba-tiba merasa benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Dia mengangkat tangannya dan ragu-ragu untuk waktu yang lama, lalu akhirnya meletakkan tangannya di bahu Gu Fei dan memeluknya: “Cheng-ge, peluk.”

Gu Fei tidak memberontak. Dia hanya menundukkan kepalanya dan meletakkan dahinya di atas lutut Jiang Cheng… tentu saja, mayoritas orang tidak akan menyukainya – merasa seolah-olah dia telah ditusuk dengan pisau hanya dengan satu sentuhan.

“Sejujurnya… tidak apa-apa. Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa.” Jiang Cheng tidak pernah menghibur siapa pun sebelumnya; dia juga sama sekali tidak ingin menghibur orang-orang yang tidak dia kenal sampai batas tertentu. Bahkan Pan Zhi, yang memiliki hubungan paling dekat dengannya, tidak butuh dihibur dan memiliki hati yang begitu besar sehingga dia dapat mengatasi masalah apa pun hanya dengan makan, buang air besar, dan tidur nyenyak. Yang bisa dia lakukan hanyalah terus menepuk lembut punggung Gu Fei dan membelainya beberapa kali. “Jangan khawatir. Semuanya sudah berakhir sekarang … normal bagimu untuk merasa takut tapi semua itu sudah menjadi masa lalu.”

Gu Fei menundukkan kepalanya, tidak bergerak.

“Memangnya kenapa,” Jiang Cheng memeluknya lebih dekat dan dengan lembut mengusap lengan Gu Fei sekali lagi. “Kau juga dianggap seseorang yang pernah mengalami peristiwa besar, ‘kan? Sebelumnya, ibuku… ibu angkatku, dia selalu mengatakan bahwa dalam kehidupan seseorang, setiap pengalaman itu berharga, entah baik atau buruk…”

Gu Fei masih menundukkan kepalanya.

Sementara Jiang Cheng memikirkan kata-kata itu di dalam benaknya, dia masih merasa begitu cemas karena pengetahuannya tentang menghibur orang lain sama sekali tidak sesuai dengan gelarnya sebagai xueba.

Tepat ketika dia tidak memiliki kata-kata untuk diucapkan lagi, dan hanya bisa tanpa henti membelai punggung dan lengan Gu Fei, siap untuk mengatakan semacam kata-kata kekanak-kanakan yang menghibur seperti “kau akan baik-baik saja, kau akan baik saja, aku akan menjagamu, aku akan membelai rambutmu, jadi jangan takut”, Gu Fei akhirnya bergerak dan memalingkan wajahnya.

“Kau …” Jiang Cheng cepat-cepat melihatnya tetapi tertegun hanya dengan satu pandangan, bibir Gu Fei melengkung di sudut mulutnya – tertawa. Dia dengan cepat menarik kembali lengannya dan berteriak dengan sekuat tenaga, “Apa kau benar-benar manusia brengsek?! Kau benar-benar tertawa?!”

“Ah,” Gu Fei tertawa lebih keras. “Ini adalah pertama kalinya aku dihibur seperti itu, sejujurnya aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Aku sangat sedih pada awalnya.”

“Brengsek!” Jiang Cheng meraung dan melompat dari lantai, “Percaya atau tidak, aku bisa memukulimu sampai kau sedih lagi sekarang!”

“Jangan, jangan, jangan …” Gu Fei juga berdiri dan dengan cepat menendang ketapel yang tergeletak di lantai ke samping.

“Tidak, aku sangat mengkhawatirkanmu barusan. Aku sangat cemas, aku bahkan hampir membelai rambutmu!” Jiang Cheng tidak bisa berkata-kata lagi. “Kau pasti sangat bersenang-senang mempermainkanku seperti itu. Apa aku harus memberimu tepuk tangan …”

“Terima kasih,” kata Gu Fei.

“Sama-sama,” Jiang Cheng membalas dengan refleks terkondisinya dan ketika dia kembali ke akal sehatnya, dia tidak lagi ingin repot, “… kau brengsek.”

“Benarkah.” Gu Fei mengangkat tangannya dan dengan ringan mengetukkan jarinya di bahunya.

Jiang Cheng tidak mengatakan apa-apa dan entah kenapa melirik ke bahunya sendiri.

“Terima kasih.” Gu Fei mendekat dan memeluknya, “Sungguh.”

Berbeda dengan pelukan perayaan di lapangan hari itu, pelukan Gu Fei kali ini sangat erat dan refleks terkondisinya gagal muncul.

“Juga,” kata Gu Fei dengan lembut, masih memeluknya: “‘Penonton’ yang aku bicarakan, tolong gunakan otak xueba-mu untuk memikirkannya, jangan berprasangka dulu atau jangan lagi gunakan pola pikir seperti itu untuk memahaminya.”

“Pemahamanku, tentu saja, tidak akan tercampur dengan prasangka,” kata Jiang Cheng. Dia bisa mencium bau samar tembakau pada tubuh Gu Fei dan tiba-tiba merasa pelukan seperti itu cukup nyaman. Dia tidak tahu apakah kenyamanan semacam ini adalah salah satu jenis dari rasa tidak tahu malu, sesuatu yang menyenangkan, atau sesuatu yang lain. Singkatnya, dia tidak memiliki keinginan untuk mendorong tubuh Gu Fei menjauh. “Ketika kau melihatku di tepi danau hari itu, kau berpikir tentang dirimu sebagai penonton, melihat seseorang yang menangis, tertawa, dan benar-benar mengalami gangguan saraf.”

Gu Fei tertawa terbahak-bahak: “Baiklah, aku memang ‘menonton‘ sebentar, tapi aku tidak memikirkan hal lain atau mengolok-olokmu.”

“Itu dia,” kata Jiang Cheng. “Sedikit ketulusan dan dunia ini akan menjadi jauh lebih cerah.”

Gu Fei menepuk punggungnya lalu melepaskannya: “Aku bahkan mengira aku akan mati di tanganmu hari ini.”

“Tidak seperti itu juga…” Jiang Cheng mendesah, “Meskipun, aku sedikit khawatir sekarang. Sepertinya aku tahu terlalu banyak… “

“Jangan khawatir.” Gu Fei mengambil kameranya untuk melihat-lihat, “Aku punya fotomu yang hanya memakai pakaian dalam.”

“Apa?” Jiang Cheng menatapnya.

“Aku Punya. Fotomu. Yang Hanya. Memakai Pakaian Dalam.” Gu Fei melambaikan kameranya, “Wajahmu juga terlihat, dalam resolusi tinggi dan tanpa pikselasi.”

“Dasar bajingan tak tahu malu.” Jiang Cheng menunjuk ke arahnya, “Seharusnya aku tidak menghiburmu. Kau mesum sekali, apa teman sekelasmu tahu semua ini?”

“Teman sebangkuku tahu,” Gu Fei tertawa.

Jiang Cheng menjaga wajahnya agar tetap lurus, tetapi segera gagal dan tertawa terbahak-bahak.

Dia tidak terlalu peduli apakah Gu Fei memiliki foto dirinya hanya dengan pakaian dalam – lagipula, itu hanya pakaian dalam, dan bukan berarti dia tidak memakainya. Sebagai perbandingan, dia lebih peduli tentang…

“Dan fotomu yang berlari seperti ayam,” kata Gu Fei.

“Hapus sekarang!” Jiang Cheng meraung.

Tepat sekali! Dia jauh lebih peduli tentang foto dirinya yang berlari seperti ayam daripada fotonya yang hanya mengenakan pakaian dalam. Jika ada yang melihat fotonya yang itu, jelas itu akan sangat memalukan.

“Aku bisa melakukannya,” jawab Gu Fei terus terang. “Bantu aku menulis refleksi diriku untuk pertemuan hari Senin.”

Jiang Cheng memelototinya lalu berkata sedikit tanpa daya: “Kau bahkan tidak bisa menulis refleksi diri? Dengan perilakumu, kau pasti sudah banyak menulisnya sejak kau masih kecil, ‘kan?”

“Aku benar-benar tidak bisa. Aku biasanya meminta Li Yan membantuku menuliskannya, juga Zhou Jing, dan hampir semua orang.”

Ay.” Jiang Cheng menuangkan segelas air untuk dirinya sendiri dan menyesapnya beberapa kali, “Sejujurnya, aku sangat mengagumimu. Bisa tetap seperti ini, dan bahkan sama sekali tidak peduli dan tidak mau repot dengan refleksi dirimu, apa yang akan kau lakukan tentang ujian masuk universitas?”

“Kau berpikir terlalu jauh ke depan … masih ada lebih dari satu tahun lagi,” kata Gu Fei. “Aku belum memikirkan tentang ujian masuk universitas. Aku hanya ingin mendapatkan ijazahku.”

“Kalau memang begitu akan lebih baik kalau kau belajar di sekolah menengah teknik.” Jiang Cheng meliriknya, “Setidaknya kau bisa memiliki keterampilan dalam bidang khusus.”

“Aku sudah memikirkannya.” Gu Fei melambaikan kamera di tangannya lagi, memikirkannya, dan tersenyum. “Saat aku masih di SMP, sejujurnya aku berpikir untuk mendaftar ke universitas, tapi kemudian, aku merasa kalau itu tidak ada artinya.”

Jiang Cheng tidak mengatakan apapun. Dia merasa bahwa Gu Fei tidak benar-benar berpikir bahwa itu tidak ada artinya, namun, mengingat situasi keluarganya, mungkin tidak mungkin baginya untuk pergi ke sekolah dan sepertinya tidak ada sekolah terkemuka di daerah tersebut yang bisa dimasukinya…

“Kau mungkin akan masuk ke universitas yang luar biasa,” kata Gu Fei. “Tapi apa bersekolah selama dua tahun di sekolah jelek seperti Si Zhong akan berdampak negatif padamu?”

“Tidak akan.” Jiang Cheng menenggak segelas air lagi. “Semuanya ada di dalam buku teks. Mereka semua sama tidak peduli siapa yang menjelaskan dan mengajarkannya.”

Gu Fei memberinya acungan jempol.

“Mungkin, aku melakukannya untuk melawan ibuku … ibu angkatku.” Jiang Cheng mengerutkan keningnya, meskipun dia tidak akan pernah tahu, “Kalau aku bukanlah seseorang yang akan membusuk dimanapun aku ditempatkan. Aku akan pergi jauh dari sini.”

“Ya.” Gu Fei meregangkan tubuhnya, “Tempat menyebalkan ini, tidak ada yang mau tinggal di sini.”


Catatan Penerjemah:

Jeff: Aku suka banget bab ini TwT. “Cheng-ge, peluk.” TwT

" TwT


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. Idiom 康庄大道 secara harfiah berarti “jalan lebar”, tetapi sebenarnya mengacu pada “prospek cerah”. Dalam kasus Gu Fei sekarang, prospeknya sebenarnya tidak terlalu cerah.
  2. 云游 天 外 (Kau melihat semua itu terjadi dengan mata dingin tanpa peduli, kau pasti benar-benar santai): idiom yang berarti kau berada di sana, kau melihat semuanya, tetapi tidak benar-benar peduli/fokus/hatimu tidak benar-benar peduli pada situasi/orang di depanmu.
  3. Bang snaps (摔 炮) – alternatifnya, devil bangers, fun snaps, dll – jenis kembang api kecil baru. Mungkin karena temperamen JC yang meledak-ledak.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments