• Post category:SAYE
  • Reading time:33 mins read

Meskipun itu adalah daya tarik obyektif…


Penerjemah: Jeffery Liu


“Aku bilang, kau …” Gu Fei tampaknya terganggu oleh ‘ah’ yang keluar dari mulutnya dan tidak tahu bagaimana harus mengatakannya, “Apa kau ingin mendapatkan sedikit uang recehan?”

“En?” Jiang Cheng menatapnya, uang recehan? Untuk beberapa alasan, itu terdengar agak aneh.

“Hanya … perlu mengambil foto dan semacamnya …” Gu Fei menjelaskan.

Jiang Cheng tahu bahwa Gu Fei tidak mungkin memperkenalkannya pada sesuatu yang aneh. Tetapi pada saat ini, otaknya kekurangan suplai darah yang cukup setelah permainan bola yang begitu intens sebelumnya, dan dia terjebak dalam pikiran “ini adalah jebakan dengan niat jahat” yang terus berputar dalam otaknya, dan tidak bisa membebaskan dirinya untuk beberapa waktu. Akhirnya, dia berkata, “Aku ini orang baik.”

“Bagaimana bisa kecerdasan xueba hanya sebatas ini?” Gu Fei sejujurnya tidak bisa menahan diri lagi, “Kau pasti pernah bersekolah di Sekolah Luar Biasa (Special-Ed school) sebelumnya, ‘kan?”

“Oh!” Jiang Cheng akhirnya sadar kembali, “Mengambil foto? Foto seperti apa?”

“Telanjang,” Gu Fei memberi isyarat kesal. Dia menyalakan rokoknya dan terus berjalan, “Kita akan bicara lagi saat kau sudah bangun.”

“Aku sudah bangun sekarang …” Jiang Cheng melirik rokok yang tergantung di mulut Gu Fei dan membeku. Dia tahu bahwa Gu Fei sering merokok di kamar mandi di jeda setiap jam pelajaran, tetapi dia tidak berharap dia akan begitu saja menyalakan satu di tengah lapangan olahraga ini di siang hari bolong.

“Mau satu?” Gu Fei bertanya.

“Tidak.” Jiang Cheng dengan tegas menolak. Meskipun dia dan Pan Zhi juga terkadang bersembunyi di kamar mandi untuk merokok, secara umum, mereka bukanlah orang baik.

“Foto apa?” Wang Xu, yang berjalan di depan, tiba-tiba menoleh. “Apa seseorang mengambil foto kita… ah, tentu saja, seseorang pasti melakukannya. Kita sangat tampan hari ini! Ayo kita cek forum sekolah nanti malam. Pasti ada berbagai macam pose… ay, tapi mungkin kalian berdua…”

“Aku akan meminta seseorang untuk datang mengambil fotomu di pertandingan berikutnya,” kata Gu Fei.

“Apa kau serius?” Wang Xu tertawa, “Sudah cukup, jangan menggodaku …”

“Gu Fei-” seseorang memanggil dari belakang mereka.

“Ooohh.” Wang Xu mendongak, “Yang Mulia, perwakilan kelas.”

Jiang Cheng menoleh dan melihat Yi Jing berlari dengan tas kecil di tangannya.

“Kau memanggilku?” Gu Fei juga berbalik.

“Ini …” Yi Jing menyerahkan tas itu kepada Jiang Cheng. “Aku baru saja mendapatkannya dari rumah sakit, ini ada alkohol, dan sebagainya. Kamu jatuh selama pertandingan tadi, ‘kan? Kamu harus memeriksanya nanti.”

“Oh,” Jiang Cheng sedikit terkejut. Dia memang merasakan sedikit sensasi terbakar di sikunya, tapi hari ini, mereka semua mengenakan kaos di balik seragam mereka. Dan ketika dia jatuh, lengan bajunya memisahkan sikunya dari tanah jadi seharusnya tidak ada masalah yang serius. Dia mengambil tas itu, “Terima kasih.”

“Tidak masalah.” Yi Jing tersenyum.

“Kenapa kau memanggil nama Gu Fei kalau kau ingin memberikan tasnya kepada Jiang Cheng?” Wang Xu memiliki senyum yang penuh arti di wajahnya.

“Aku tidak bisa mengingat nama Jiang Cheng tadi.” Yi Jing menyisir rambutnya, sedikit malu sebelum berbalik untuk pergi.

Wang Xu berdecak. “Hanya bisa mengingat nama Gu Fei, huh?”

“Dia hanya tidak mengingat nama Jiang Cheng,” kata Gu Fei.

Lao Xu dan Lao Lu cukup murah hati; pertandingan hari ini mungkin melebihi ekspektasi mereka sedemikian rupa sehingga mereka benar-benar memanggil beberapa taksi untuk membawa rombongan mereka untuk melakukan pesta barbekyu.

“Xu Zong.” Gu Fei menghentikan Lao Xu di pintu masuk, “Terlalu mahal di sini. Ayo kita pergi ke restoran biasa saja. Lebih penting lagi, ini hanya pertemuan biasa dan tidak harus menjadi sesuatu yang besar.”

“Pertemuan biasa apa?” Lao Lu berbicara dari samping, “Ini adalah perayaan! Gu Fei, masuklah. Jangan khawatir tentang ini, Xu Zong-mu dan aku bisa membayar semua makanan kalian.”

“Anak yang baik!” Lao Xu meraih lengan Gu Fei dengan ekspresi tersentuh di wajahnya. “Anak yang baik! Kau begitu perhatian pada gurumu! Aku tahu ternyata kamu…”

“… Masih bisa diselamatkan.” Gu Fei membantu menyelesaikan kalimatnya, lalu berbalik dan masuk ke dalam restoran.

Jiang Cheng mengikuti dari belakang, menahan tawanya.

Restoran itu memiliki ruang pribadi dengan ukuran cukup besar yang mungkin tidak terlalu sering digunakan, sangat sempurna untuk kelompok mereka.

“Pergilah ambil makanan.” Lao Xu menyandarkan dirinya di atas meja seolah-olah dia sedang berada di dalam kelas. “Kalian bisa makan sepuasnya, dan kalian juga boleh minum alkohol sedikit, tapi aku harus menyetujui seberapa banyak kalian boleh minum.”

Mendengar itu, semua orang langsung keluar untuk mengambil makanan.

Jiang Cheng melepas mantelnya, dan baru saja akan memeriksa sikunya ketika ponselnya berbunyi.

Dia mengeluarkannya sekilas dan melihat bahwa itu adalah pemberitahuan untuk pembayaran otomatis tagihan telepon bulan ini sebesar seratus yuan.

Biasanya, dia tidak akan berpikir bahwa seratus yuan itu banyak, tetapi sekarang ketika dia melihat pemberitahuan itu, dia merasakan sedikit rasa sakit di hatinya. Haruskah dia menggantinya ke paket yang lebih murah? Tetapi kalau begitu tidak akan ada cukup data, dan juga, tempat Li Baoguo tidak memiliki Wi-Fi… apa mungkin sebaiknya membeli kabel Ethernet saja? Tapi itu berarti akan ada lebih banyak pengeluaran.

Dia mengerutkan kening. Meskipun dia masih punya uang di kartunya; tapi, dia masih terus-menerus merasa begitu gelisah dengan keadaannya yang tidak memiliki penghasilan sama sekali. Li Baoguo hanya memberinya sebuah kamar dan tidak ada yang lain. Sekarang, dia bahkan harus keluar dan membeli makanan satu minggu sekali untuk disimpan di lemari es agar dia bisa membuat sesuatu untuk dimakan setiap hari.

Dia menghela napas dan keluar dari ruang pribadi itu untuk mengambil makanan.

Gu Fei ada di depannya, memegang piring di tangannya saat dia melihat daging di deretan freezer di depannya, tampak linglung.

Jiang Cheng berjalan untuk berdiri di sampingnya. Dia juga mengambil piring dan sepasang penjepit, dan hanya dalam beberapa saat, perut babi, daging sapi berlemak, dan daging domba berlemak semuanya sudah menumpuk di atas piringnya. Kemudian dia menumpuk piringnya di atas Gu Fei dan mengambil yang lain dan melanjutkan: perut babi, daging sapi berlemak…

“Bagaimana kau biasa mempertahankan bentuk tubuhmu?” Gu Fei menatapnya.

“Aku biasa berlari saat cuaca hangat,” kata Jiang Cheng. “Dan, tidak seperti aku makan makanan seperti ini sepanjang waktu.”

“Oh,” jawab Gu Fei.

“Mengenai yang kau katakan tadi… tentang foto.” Jiang Cheng melihat sekeliling, tidak ada teman sekelas di dekatnya. “Tentang apa itu tadi?”

“Ini Xin-jie.” Gu Fei tampak merasa ragu-ragu cukup lama dengan masih memegang penjepit di tangannya lalu mengambil beberapa udang dan menumpuknya di atas piring. “Dia memiliki toko yang menjual pakaian pria dan dia mencari seseorang untuk difoto dengan mengenakan produknya.”

“Ah,” Jiang Cheng memikirkannya. “Bukankah toko-toko semacam ini biasanya memiliki model regulernya sendiri?”

“Hanya ada satu pegawai tetap dan yang lainnya adalah pegawai sementara. Model yang biasa sedang sibuk,” kata Gu Fei. “Ada barang baru yang datang beberapa hari terakhir ini, tapi tidak ada modelnya. Dia memintaku untuk membantunya mencari orang yang cocok.”

“Begitu,” Jiang Cheng agak ragu-ragu. “Aku benar-benar tidak berpengalaman, apa itu tidak masalah?”

“Itu tidak masalah, kau memiliki wajah dan penampilan seperti ini, dan kau juga cukup fotogenik,” kata Gu Fei. “Liu Fan membantu dengan foto-foto sebelumnya. Jika dia bisa melakukannya, itu pasti tidak akan menjadi masalah bagimu.”

“Jenis pakaian macam apa?” Jiang Cheng bertanya.

“Aku akan menunjukkannya sebentar lagi.” Gu Fei mengangkat dagunya ke arah konter makanan, “Bantu aku mengambil sedikit sayuran. Aku tidak tahan jika hanya makan daging.”

“En.” Jiang Cheng mengambil keranjang kecil dan mengisinya dengan sayuran.

Ketika mereka kembali ke ruang pribadi, semua orang sudah kembali dari mengambil makanan, dan ruangan itu menjadi terasa panas karena uap.

Begitu mereka masuk, Lao Xu mengambil segelas anggur dan berdiri. “Ayo, penyelamat kita, duduklah. Ada yang ingin aku katakan.”

Setelah Jiang Cheng dan Gu Fei duduk, Lao Xu mengangkat gelasnya. “Semua orang sudah bekerja keras hari ini. Aku memiliki kalian sejak tahun kedua, tentu saja ada beberapa yang dari tahun pertama… Kelas 8 kita ah, kita bahkan tidak mendapat peringkat dalam kompetisi rutin dalam senam pagi1 tapi hari ini, kita bisa mengangkat kepala kita dengan bangga! Itu tidak mudah! Aku percaya bahwa dengan kemampuan kalian saat ini, memasuki final tidak akan menjadi masalah! Berjuanglah! Ayo, ayo minum!”

Semua orang mengambil gelas mereka dan bersorak dengan dentang yang tidak selaras.

Mereka baru saja menyesap minuman mereka ketika Lao Xu memulai lagi: “Kita juga harus berterima kasih kepada teman sekelas Gu Fei dan Jiang Cheng atas usaha mereka hari ini …”

“Lao Xu, Lao Xu,” Lao Lu berseru dua kali, “Sudah cukup. Biarkan mereka makan dulu, mereka semua pasti lapar. Kau akan membuat dirimu sendiri menangis karena emosi ini.”

“Ayo minum!” Wang Xu menengadahkan kepalanya ke belakang dan mengosongkan gelasnya.

Jiang Cheng melirik ke gelas yang semuanya berisi bir, dan hanya Lao Xu dan Lao Lu yang meminum anggur

Dia kemudian minum dengan beberapa tegukan.

“Besok adalah kompetisi untuk kelompok putri,” kata Wang Xu. “Aku ingin tahu bagaimana hasilnya.”

“Tidak mungkin. Bukankah gadis-gadis kita selalu hadir di lapangan hanya untuk kalah dalam pertandingan dan menyelesaikan tugas mereka? Bola akan terbang begitu mereka mulai, dan tidak satupun dari mereka suka bermain basket,” kata Guo Xu.

Ada serangkaian desahan kolektif untuk tim putri sebelum semua orang kembali membahas pertandingan yang akan datang.

“Lihat,” Gu Fei memeriksa ponselnya dan kemudian memberikannya kepada Jiang Cheng. “Pakaiannya sebagian besar dalam gaya ini, cukup cerdik…”

Jiang Cheng mengambil ponsel Gu Fei dan mengusapkan jarinya pada layar dan melihat bahwa model dari beberapa foto itu adalah Liu Fan – hasil potretannya cukup keren. Saat dia menggeser ke beberapa foto berikutnya, dia melihat model fotonya adalah orang lain, mungkin model Ding Zhuxin yang biasanya. Dia merasa bisa melihat perbedaannya jika membandingkannya dari sisi ke sisi.

Steampunk?”2 Jiang Cheng bertanya.

“Ada juga model yang lain, dengan semua jenis nostalgia retro lainnya,” kata Gu Fei. “Bagaimana menurutmu? Sistem pembayarannya bisa per satu potong pakaian atau per hari yang didasarkan pada tarif model profesional. Dan karena dia terburu-buru, itu bisa lebih dari biasanya.”

Jiang Cheng hampir tidak tampak ragu-ragu, bagaimanapun, itu adalah uang. Dia menganggukkan kepalanya, “Oke.”

“Kalau begitu aku akan memberitahunya. Kita tidak memiliki pertandingan untuk dua hari ke depan, jadi kita bisa pergi melakukan pemotretan pada sore dan malam hari,” kata Gu Fei.

“En.” Jiang Cheng melihat foto-foto itu sekali lagi, “Apa ada orang yang benar-benar membeli pakaian ini? Mereka pasti akan sangat menarik perhatian jika mereka keluar dengan memakai pakaian seperti ini. Jika mereka sedikit berpuas diri tentang hal itu, mereka bahkan mungkin akan dipukuli…”

Gu Fei tertawa, “Kau bahkan mengkhawatirkan hal-hal semacam ini?”

“Itu benar, aku memang sebaik itu,” kata Jiang Cheng.

Manajemen di Si Zhong cukup lunak. Dengan pertandingan yang dimulai pada sore hari, mereka yang ingin pergi dan menonton bahkan tidak perlu menghadiri kelas dan terus memadati lapangan olahraga, dan mereka yang ikut dalam pembelajaran, tidak ada yang memperhatikan.

Namun, Jiang Cheng masih menelepon Lao Xu. Dia mengatakan bahwa jatuh dari hari sebelumnya menyebabkan rasa sakit di tubuhnya dan dia harus memeriksakannya di rumah sakit. Lao Xu memberinya izin dan bahkan dengan santai meratapi bahwa siswa yang baik sama baiknya dengan apa yang diharapkan dari mereka.

Faktanya, Jiang Cheng tidak pernah meminta izin di masa lalu ketika dia tidak pergi ke sekolah. Tetapi dengan Lao Xu yang merupakan guru wali kelas yang seperti tipe ibu-induk yang suka melebarkan sayapnya dan mengayunkannya sepanjang hari, dia merasa bahwa Lao Xu akan merasa sedikit sedih jika dia tidak mengatakan sesuatu.

“Tempatnya agak jauh, tapi kita hanya perlu naik bus.” Gu Fei membawa Jiang Cheng ke sebuah halte bus. “Studionya berfungsi ganda sebagai gudang dan kamar tidur yang memiliki set fotografi kecil.”

“Oh,” Jiang Cheng mengangguk.

Dia sedikit gugup. Dia bahkan tidak merasa gugup jika seseorang memintanya untuk mengikuti ujian untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi menjadi model untuk foto … hal yang tidak pernah dia pikirkan ini agak jauh dari zona nyamannya.

Ketika mereka menaiki bus, dia memperhatikan bahwa yang dibawa Gu Fei bukanlah tas sekolahnya melainkan tas yang terlihat agak berat. “Apa yang kau bawa?”

“Kamera, lensa.” Gu Fei berjalan untuk duduk di baris terakhir.

“Kau… yang mengambil fotonya?” Jiang Cheng membeku.

“En.” Gu Fei menarik lengan bajunya sedikit dan menyeretnya ke kursi samping sebelum seorang paman duduk di sebelah mereka.

Kau yang mengambil fotonya?” Jiang Cheng bertanya sekali lagi.

“Ya, ya.” Gu Fei menatapnya, “Aku yang mengambil fotonya. Apa itu aneh? Ini tidak seperti aku belum pernah memotretmu sebelumnya.”

“Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya berpikir kalau dia memiliki fotografernya sendiri,” kata Jiang Cheng.

Faktanya, tidak aneh mengetahui bahwa Gu Fei akan memotret. Dia sudah melihat hasil foto Gu Fei sebelumnya, dan Gu Fei juga sering membagikannya di Moment; foto-foto itu memang diambil dengan sangat profesional.

“Ding Zhuxin memiliki fotografernya sendiri, tetapi dia secara pribadi memintaku kali ini kalau aku tidak sibuk,” kata Gu Fei. “Aku selalu membantu orang lain mengambil foto.”

“… ah.” Jiang Cheng memandang Gu Fei.

Begitu bus mulai bergerak, Jiang Cheng tidak mengatakan apa-apa lagi.

Bus yang melaju itu berguncang dan bergerak dengan sangat lambat. Di samping telinganya terdengar suara orang berbicara dan tertawa, dan sementara orang-orang di dalam bus tetap diam, pemandangan di luar jendela bus terus berubah.

Ini adalah saat di mana seseorang akan dibuat panik oleh rasa kantuk yang tidak biasa dan kebutuhan untuk tidur, terutama di sore hari, ketika matamu mulai memberontak untuk tetap melihat hangatnya sinar matahari.

Gu Fei juga diam. Jiang Cheng melirik ke arahnya dan menemukan bahwa dia sedang memegangi lengannya dengan mata tertutup.

Mengantuk.

Pada awalnya, dia bisa menahannya untuk sementara waktu tetapi melihat bahwa Gu Fei sebenarnya sudah tertidur, dia merasa matanya sendiri tidak lagi mampu untuk tetap terbuka. Dia menarik tudung mantelnya ke atas kepalanya dan juga menutup matanya, membiarkan kepalanya menunduk.

Tetapi, mengatakan bahwa dia mengantuk bukan berarti dia bisa tertidur begitu saja. Dia merasa begitu linglung sepanjang waktu, dikelilingi oleh suara dan bayangan samar yang terus melewati telinganya.

Jiang Cheng tidak tahu berapa lama dia berada dalam kondisi setengah sadar itu, sampai dia merasakan sedikit beban di bahunya. Dia mengangkat tudung mantelnya dan menemukan bahwa kepala Gu Fei tanpa sadar bersandar di bahunya.

Bulu mata Gu Fei cukup panjang, tapi tidak setebal Gu Miao.

Meskipun dia tidak memiliki motif apapun terhadap Gu Fei, terutama dengan Ding Zhuxin yang terlihat cocok menjadi pacar Gu Fei …… pada saat ini, dia merasakan gatal yang tak bisa dijelaskan di dalam hatinya.

Rasa gatal yang menjalar dari bahunya ini, terasa seperti bulu-bulu halus yang mengembang di bawah sinar matahari, dan perlahan-lahan membelai seluruh tubuhnya.

Dia menutup matanya lagi.

Jenis perasaan kesepian ini, dia selalu bisa merasakannya sejak hari dia menyadari bahwa daya tarik pria lebih besar baginya daripada wanita, dan sejak ketika hari-hari di mana dia hanya bisa menjaga rahasia ini untuk dirinya sendiri dimulai.

Rasa kesepian ini muncul dari waktu ke waktu.

Pan Zhi mengetahui rahasianya tetapi tidak bisa meredakan tekanan yang menyertainya.

Ketika dia bersama dengan keluarga, orang tua dan adik, serta teman sekelas dan temannya, meskipun rasa kesepian ini tetap ada, dia tidak merasakannya secara mendalam.

Hanya setelah dia tiba di sini barulah perasaan kesepian itu menjadi semakin tumpang tindih dan saling menempel sedikit demi sedikit.

Dia tidak membutuhkan sekutu, tidak membutuhkan orang-orang dari jenis yang sama yang dengan santai berkumpul bersama untuk menjaga masing-masing tetap hangat.

Meskipun itu adalah daya tarik obyektif, Gu Fei, dan posisi bawah sadar Gu Fei sekarang.

Memberinya ilusi kehangatan dari ‘dua orang’.

Dia tidak yakin jenis perasaan macam apa ini.

“Tolong berhenti.” Gu Fei mengangkat kepalanya setelah lokasi pemberhentian diumumkan. “Di pemberhentian berikutnya.”

Dia membeku selama beberapa detik saat dia melihat bahu Jiang Cheng, lalu berkata: “Maaf. Aku sangat mengantuk.”

“Tidak masalah.” Jiang Cheng mengulurkan bahunya, “Kau terlalu lelah karena bertingkah keren kemarin.”

Gu Fei tertawa dan berdiri, “Ayo pergi.”

Jiang Cheng mengikutinya. Dia hanya tertidur sebentar, namun lututnya terasa sangat lemas saat berjalan… mungkin, dia terlalu berlebihan kemarin, terutama karena dia tidak banyak berolahraga sejak musim dingin dimulai.

Saat angin bertiup ketika mereka turun dari bus, perasaan tidak memiliki kekuatan di seluruh tubuhnya perlahan-lahan memudar.

Studio Ding Zhuxin yang berfungsi ganda sebagai gudang dan kamar tidur, dan memiliki satu set tempat fotografi kecil, berada di jalan yang sangat artistik; jenis yang memiliki segala macam coretan di jalan, dan semua jenis gambar dan lukisan di lubang got, bilik telepon dan kotak sirkuit yang serasi. Ada toko-toko kecil dengan renovasi di kedua sisi jalan yang akan membuat siapa pun yang ingin bertindak sok dan tidak bisa bertindak cukup sok takut untuk masuk jika mereka kehilangan kepercayaan diri mereka.

Jalan ini tidak panjang ataupun megah, tetapi Jiang Cheng masih agak terkejut bahwa tempat seperti ini masih bisa ada di kota kecil yang kumuh dan jelek ini.

Gu Fei membawanya ke sebuah gedung yang mirip dengan gedung perkantoran kecil. Kelihatannya agak tua di luar, tapi melihat plat papan nama di dinding, nama-nama perusahaan di sini mencapai ke arah yang membuat seseorang tidak bisa memahaminya.

Jiang Cheng melirik ke nama-nama itu sementara mereka menunggu lift, tetapi tidak bisa benar-benar memahaminya; yang tertulis dalam huruf romawi, dia tidak tahu dari negara mana mereka berasal, dan yang tertulis dalam huruf Cina juga tampak tidak mengikuti urutan yang biasa pada pandangan pertama.

“Tempat apa ini, sangat penuh sampai bahkan rasanya mustahil untuk bisa bisa dipisahkan kembali oleh kabel baja.” Dia tidak saar kapan kiranya dia dan Gu Fei berada di dalam lift.

“Area ini disebut Konvergensi ’90-an.” Gu Fei bersandar di salah satu sudut dan tertawa. “Tempat itu dimaksudkan untuk menjadi tempat di mana anak-anak muda bisa berkumpul, yang benar-benar trendi dan modis, tapi jenisnya agak menjauh dari itu. Tidak ada seorang pun kecuali bajingan sok yang mau datang ke sini sekarang, tapi, harga sewanya cukup murah.”

Ding Zhuxin sedang menunggu di studio, dan saat keduanya masuk, dia tersenyum. “Aku tahu kau akan memanggilnya.”

“Sungguuhh …” Gu Fei melempar tas yang dibawanya ke lantai. “Kita semua sudah saling kenal jadi tidak perlu perkenalan.”

“Minumlah ini dulu.” Ding Zhuxin membawakan sepoci teh buah dan menuangkan secangkir untuk Jiang Cheng. “Aku membuatnya sendiri, dan menambahkan beberapa bahan lainnya secara acak. Ini sebenarnya cukup bagus.”

“Terima kasih.” Jiang Cheng menerima cangkir itu dan melihat sekeliling studio.

Studio itu berantakan, dengan kain dan poster di mana-mana bersama dengan beberapa bungkusan besar yang belum dibuka yang kemungkinan besar berisi pakaian. Tetapi melalui kekacauan ini, dia masih bisa melihat bahwa fondasinya masih sebagian besar bergaya industri yang terdiri dari dinding beton, penerangan beton, bata merah terbuka, dan pipa air yang saling terkait.

“Ayo kita mulai.” Gu Fei berbaring di sofa, “Biarkan dia melihat pakaiannya dulu.”

“Ayo.” Ding Zhuxin membawa Jiang Cheng ke rak gantungan dan menunjuk ke arah pakaian yang tergantung di atasnya, “Gaya kali ini adalah ‘kembali ke dasar’, semuanya rajutan …”

“Rajutan?” Gu Fei memotongnya. “Kau membuatku menemukan ‘anak nakal’ untuk gaya ini?”

“Bahannya rajutan.” Ding Zhuxin bersandar di rak, “Desainnya mengikuti gaya ‘anak nakal’, meski agak sulit untuk modelnya …”

Ding Zhuxin memandang Jiang Cheng dari atas ke bawah, “Tapi dia pasti bisa mengaturnya.”

“Terserah apa katamu.” Gu Fei duduk, membuka tasnya, dan mulai menyiapkan kamera.

“Ayo kita berjuang melakukan 30 set hari ini,” kata Ding Zhuxin. “Bagaimana menurutmu?”

“… oke.” Jiang Cheng melihat beberapa pakaian di rak yang tergantung di sana dalam barisan seperti itu. Terlepas dari apa yang disebut pakaian rajutan, dia sama sekali tidak bisa melihat gaya dan desain apa pun yang disebutkan Ding Zhuxin; di depan matanya hanya ada banyak pakaian panjang.

Selain itu, dia tidak pernah mengenakan jenis pakaian apa pun yang selama ini dia pikir biasanya dikenakan oleh seniman tua atau paruh baya, berambut panjang.

“Pergilah dan ganti baju.” Gu Fei berjalan mendekat dan berkata, “Semua pakaian ini sudah dicocokkan. Kau hanya perlu langsung berganti pakaian saja.”

“Kau …” Jiang Cheng memutar kepalanya, tapi sebelum dia bisa berbicara, Gu Fei mengangkat kamera dan mulai memotret. Klik, klik. “… bajingan.”

“Langsung ganti saja.” Gu Fei menunjuk ke sebuah ruangan di samping, “Kita akan melakukan pemotretan di sana sebentar lagi. Dia akan memberi tahumu kesan atau pose seperti apa yang dia inginkan. Aku berjanji akan membuatmu terlihat… sangat tampan.”

“Oh.” Jiang Cheng menanggapi dan kemudian melihat pakaian di rak. “Aku boleh memilih salah satu dari semua ini?”

“Yang mana saja,” kata Gu Fei.

“En,” jawab Jiang Cheng sekali lagi. Dia melepas mantelnya dan melemparkannya ke kursi di samping tetapi agak malu ketika dia berniat untuk melepas pakaiannya selanjutnya. Bukan masalah sebenarnya kalau hanya Gu Fei yang berdiri di samping dengan kameranya, tetapi Ding Zhuxin juga berdiri di sana dan sedang menyesap teh sambil menatapnya.

Bukan masalah jika dia hanya berganti jaket, tetapi ketika dia melihat semua set pakaian ini, pada dasarnya dia harus melepaskan semua pakaiannya sampai ke pakaian dalamnya.

Gu Fei menoleh untuk melirik Ding Zhuxin dan memberi isyarat dengan tangannya.

Ding Zhuxin tersenyum dan berbelok ke ruangan kecil di samping. “Masuklah setelah kau selesai ganti. Secara keseluruhan kau cukup bagus, jadi riasan sederhana saja sudah cukup. Da Fei bisa menyesuaikannya nanti.”

“Aku harus memakai riasan juga?” Jiang Cheng bertanya sambil melepas pakaiannya.

“En.” Gu Fei mengangkat kamera ke arahnya dan melihat tubuh Jiang Cheng yang proporsional melalui lensa kameranya. Tubuhnya memang terlihat selalu terlatih – sangat kencang. “Kalau kita tidak memberimu sedikit riasan, wajahmu akan menjadi gelap.”

“Bisakah kau tidak perlu mengarahkan benda itu padaku?” Jiang Cheng mencengkeram ikat pinggangnya dan melihat ke arah kamera Gu Fei.

“Mulai dari sekarang sampai malam ini,” Gu Fei masih mengangkat kameranya, “Benda ini akan diarahkan kepadamu sepanjang waktu.”

Jiang Cheng melepas celananya sedikit enggan dan berkata sambil mengganti pakaiannya: “Kuberitahu kau, aku melakukan ini hanya karena uang, kalau tidak aku pasti sudah memukulmu.”

Gu Fei tertawa.

Kaki Jiang Cheng agak lurus, dan sekencang tubuh bagian atasnya. Dia melihat melalui lensa pada Jiang Cheng, yang sudah berganti pakaian bagian atas. “Kau sebenarnya sangat cocok untuk gaya ini.”

“Tidak mungkin,” kata Jiang Cheng dan menunduk dengan curiga. “Aku sudah hidup selama hampir 18 tahun, dan belum pernah mengenakan pakaian seperti ini sebelumnya.”

Gu Fei tidak berbicara saat dia mundur beberapa langkah.

Mata Ding Zhuxin untuk orang-orang yang dilihatnya selalu cukup akurat. Begitu Jiang Cheng berganti pakaian ini, aura di seluruh tubuhnya tampaknya telah berubah.

Dia selalu merasa bahwa apa pun jenis kelaminnya, siapa pun yang mengenakan jaket rajutan panjang itu akan lebih pantas mengambil mangkuk dan mengemis di jalanan.

Tetapi ketika Jiang Cheng mengenakan jaket itu, dan memalingkan wajahnya untuk menatapnya, napas Gu Fei berhenti pada saat itu.

Udara tentang dirinya ini, itu benar-benar bukan sesuatu yang biasanya dia lihat pada orang-orang di sekitarnya.


Catatan:

Mode steampunk adalah subgenre dari gerakan steampunk dalam fiksi ilmiah. Ini adalah campuran dari pandangan romantis era Victoria tentang sains dalam sastra dan elemen dari Revolusi Industri di Eropa selama 1800-an. Busana tersebut dirancang dengan mempertimbangkan era pasca-apokaliptik. Busana steampunk terdiri dari pakaian, tata rambut, perhiasan, modifikasi tubuh, dan tata rias. Gaya steampunk yang lebih modern bisa mencakup kaos dengan berbagai desain atau jeans sederhana yang dilengkapi dengan ikat pinggang dan sarung senjata.

 Gaya steampunk yang lebih modern bisa mencakup kaos dengan berbagai desain atau jeans sederhana yang dilengkapi dengan ikat pinggang dan sarung senjata


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Senam – (rutinitas senam pagi) – suatu bentuk senam yang terdiri dari berbagai gerakan yang melatih kelompok otot besar (gerakan motorik kasar), seperti berlari, berdiri, menggenggam, mendorong, dll. Latihan ini sering dilakukan secara ritmis dan dengan peralatan yang minim, seperti senam berat badan. Senam ini dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan, kebugaran, dan kelenturan, melalui gerakan seperti menarik, mendorong, menekuk, melompat, atau mengayun, menggunakan berat badan seseorang sebagai perlawanan. Senam bisa memberikan manfaat pengkondisian otot dan aerobik, selain meningkatkan keterampilan psikomotorik seperti keseimbangan, kelincahan, dan koordinasi.
  2. Steampunk — subgenre retrofuturistik dari fiksi ilmiah atau fantasi sains yang menggabungkan teknologi dan desain estetika yang terinspirasi oleh mesin bertenaga uap industri abad ke-19. Meskipun asal-usul sastranya terkadang dikaitkan dengan genre cyberpunk, karya steampunk sering kali berlatar sejarah alternatif dari era Victoria Inggris abad ke-19 atau “Wild West” Amerika, di masa depan di mana tenaga uap telah mempertahankan penggunaan arus utama, atau di dunia fantasi yang juga menggunakan tenaga uap. Namun, steampunk dan neo-Victorian berbeda karena gerakan neo-Victoria tidak mengekstrapolasi teknologi sementara teknologi adalah aspek kunci dari steampunk.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments