• Post category:SAYE
  • Reading time:34 mins read

…wajah mereka membara dengan kepahitan.


Penerjemah: Jeffery Liu


Jiang Cheng tidak tahu persis apa “makanan favorit” Gu Fei yang akan menjadi tujuan mereka, dan dia juga tidak bertanya. Dia bahkan sedang tidak mood untuk makan saat ini. Apa pun yang dia makan mungkin akan terasa sama.

Dia hanya datang untuk mencari Gu Fei karena dia tidak ingin sendirian.

Dia tidak ingin kembali, tidak ingin melihat Li Baoguo, tidak ingin tahu seperti apa tampangnya setelah dipukuli, tidak ingin mendengar alasan Li Baoguo atas seluruh pemukulan itu, tidak ingin ini, tidak ingin itu … ada banyak kata-kata “tidak ingin” di dalam dirinya. Cukup untuk mengisi kembali pikirannya yang sebelumnya kosong, dan tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghentikannya.

Ditambah, di kota ini, selain dari tempat Li Baoguo dan sekolah, satu-satunya tempat lain yang bisa dia datangi adalah toko Gu Fei. Sangat menyedihkan ketika dia memikirkannya, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan.

Gu Fei sedikit merapikan toko dan menutup pintunya, “Tunggu aku sebentar, aku akan mengeluarkan kendaraannya.”

“Oh.” Jiang Cheng ingin bertanya apakah kendaraan yang akan mereka gunakan itu sepeda atau sepeda motor karena cuaca sangat dingin saat itu sehingga dia benar-benar tidak tertarik untuk mengendarainya jika itu adalah sepeda motor. Dia lebih suka berjalan, namun, Gu Fei sudah berjalan langsung menuju gang kecil di sebelah toko.

Terserahlah, memangnya cuaca saat ini bisa sedingin apalagi? Kompetisi Bola Basket Musim Semi akan segera berlangsung, hanya memikirkannya saja, sekarang sudah musim semi.

Luar biasa.

Suara motor bergema dari gang kecil di sebelah; tapi suaranya terdengar agak lemah dibandingkan dengan sepeda motor 250cc1 milik Gu Fei.

Tepat ketika Jiang Cheng menjadi lebih bingung, sebuah mobil kecil berwarna tepung jagung2 yang menyerupai roti atau bahkan roti mini keluar dari gang.

Jiang Cheng memperhatikan, sedikit tertegun, saat ‘roti’ itu berhenti di depannya. Dia kemudian membuka pintu kendaraan kecil itu.

“Masuklah,” panggil Gu Fei saat dia menatapnya dari dalam roti mini.

“Apa sebenarnya… benda ini?” Jiang Cheng menatap mobil itu. Jika dia melihatnya dengan benar, mobil ini seharusnya merupakan versi kecil dari skuter tua.

“Mobil ah,” jawab Gu Fei. “Bisa menghalangi angin dan hujan, dan bahkan menggunakan bahan bakar, jauh lebih baik daripada yang menggunakan baterai.”

“… Oh.” Jiang Cheng berjalan mendekat dan berdiri di samping pintu mobil, lalu menatap lama sekali. “Bagaimana caranya aku bisa masuk?”

Gu Fei melirik ke belakang dan keluar dari mobil, “Kau bisa … merangkak masuk dulu.”

Jiang Cheng sedikit ragu-ragu. Gu Fei kemudian menambahkan, “Bahkan jika aku mengendarai mobil kodok, kau masih harus merangkak masuk kalau ingin masuk ke belakang, ‘kan?”

“Jika itu mobil kodok, aku akan duduk di tempat duduk sebelah pengemudi, oke?!” Jiang Cheng membalas.

“Cepatlah,” Gu Fei mengeluarkan ponselnya dan memeriksa waktu, “Toko keluarganya tutup jam sembilan.”

Jiang Cheng harus masuk ke ruang selebar satu kaki antara pintu dan kursi pengemudi itu. Lukanya berdenyut-denyut, dan rasa sakit yang semakin parah membuatnya hampir menangis.

Dia sudah melihat beberapa pria tua yang menggunakan benda ini untuk mengajak istri mereka jalan-jalan; bagaimana wanita tua itu bisa masuk?

Setelah dia duduk, Gu Fei mengulurkan tangan dan menarik bagian belakang kursi pengemudi, “Apa kau tidak bisa menurunkan ini dulu seperti ini?”

Jiang Cheng menatap ruang yang jauh lebih luas yang muncul hanya dalam waktu singkat dan tiba-tiba memiliki dorongan untuk keluar dari mobil dan memukul Gu Fei. Dia menunjuk ke arahnya, “Tutup mulutmu.”

Gu Fei menutup pintu, menyalakan mobil, dan melaju ke jalanan.

Mobil itu sangat kecil. Bahkan ketika Jiang Cheng duduk di kursi belakang, tidak ada bedanya dengan duduk di kursi belakang sepeda Gu Fei.

Namun, benda ini memang bisa menghalangi angin dan hujan.

Melihat keluar dari jendela mobil kecil ini, ada ilusi yang tak bisa dijelaskan berkeliaran di jalanan, terus melaju, dan akhirnya mobil roti berwarna tepung jagung ini melewati sebuah kios murah yang menjual semangkuk mie atau sesuatu.

“Mobil ini milik keluargamu?” Jiang Cheng bertanya sambil mengetuk penutup plastik mobil itu.

“Mm,” Gu Fei membuat suara penegasan. “Ibuku membeli mobil ini. Terkadang cukup nyaman saat kau memiliki beberapa barang untuk dibawa.”

“… Oh.” Jiang Cheng melirik ke tempat duduknya, “Berapa banyak yang bisa kau bawa hanya dengan sedikit ruang ini?”

“Toko kami tidak memiliki banyak barang untuk diambil,” jawab Gu Fei. “Biasanya ada beberapa orang yang akan mengirimkannya dan terkadang kami mengambilnya sendiri.”

Jiang Cheng tidak berbicara lagi saat dia melihat Gu Fei melewati jembatan tempat mereka bertemu sebelumnya. Dia menduga jika ada satu tempat dengan makanan enak di sekitar daerah itu, tempatnya pasti ada di sisi jembatan ini.

Kemana mereka akan pergi? Dia melihat ada begitu banyak toko yang sebelumnya Ia lewati untuk makan pangsit hari itu; hotpot, sate, masakan barat, makanan cina dan sejenisnya. Namun, dia tidak ingin Gu Fei mentraktirnya dengan sesuatu yang terlalu mahal. Kau harus membalas budi dengan benar, dan itu terlalu merepotkan.

Roti kecil itu melaju melewati berbagai toko yang berjejer di kedua sisi jalan namun tidak juga berhenti, tetapi malah terus melaju hingga berbelok ke kanan menuju jalan kecil di sebelahnya.

“Masih belum sampai?” Jiang Cheng tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya setelah merasa seolah-olah mereka sudah pergi meninggalkan area tempat mereka bisa makan.

“Hampir sampai, di depan.” Saat Gu Fei menjawab, dia berbelok ke jalan lain.

Jiang Cheng mengintip ke luar. Daerah ini sama dengan daerah tempat tinggal Li Baoguo — bagian kota tua yang begitu bobrok dengan udara yang membuat orang lain sangat tertekan.

Mobil itu melambat dan berhenti di depan beberapa restoran kecil. Jiang Cheng menatap pemandangan toko-toko itu sebentar. Ada toko roti, toko mie, dan toko lainnya yang…

“Ayo keluar.” Gu Fei membuka pintu mobil dan melompat keluar.

“Tunggu,” Jiang Cheng sedikit bingung saat dia kembali tersadar dimana mereka sekarang, “Kenapa aku merasa ini adalah toko sarapan?”

“Mereka juga menjual sarapan.” Gu Fei menutup pintu mobil dan menekan remote.

“Ya Tuhan, mobil sekecil ini bahkan punya remote control?” Jiang Cheng tercengang.

“Mobil ini bahkan menggunakan oli; bahkan jika mobil yang dioperasikan dengan baterai memiliki kendali jarak jauh, kenapa yang ini tidak?” Gu Fei berjalan ke salah satu toko, “Yang ini.”

Jiang Cheng melihat ke arah toko itu; Meski sudah ada lampu yang menyala di bagian depan toko, melihat pintu depan, lampu, dan lingkungan sekitar, toko itu tetap tampak seperti toko yang teduh.

Begitu dia melihat empat karakter yang ditulis dengan kuas kaligrafi tergantung di samping pintu yang benar-benar jelek itu, yang bahkan bisa bersaing dengan tulisannya, dia membeku.

“Toko, Roti Pipih3, Wang, Er4?” Dia menunjuk ke papan nama, “Kau membawaku untuk makan pai daging di tengah malam?”

“Roti disini benar-benar enak,” Gu Fei membuka tirai, “Cium baunya.”

Jiang Cheng sedang tidak mood untuk mencium apapun. Makan malam pertama yang akan dia lakukan dengan pria itu adalah roti isi — untuk itu, dia masih belum pulih dari keterkejutannya. Namun, semua meja di dalam toko itu benar-benar penuh dan bisnis di sini lumayan bagus.

Namun, ketika dia mengikuti Gu Fei ke dalam toko dan melihat seorang pelayan membawa sepanci sup ke pelanggan, faktor kejutan itu menjadi berlipat ganda — matanya hampir keluar dari rongganya.

“Da Fei, kau datang?!” Wang Xu melempar sup itu ke atas meja. Ketika dia berbalik dan melihat Jiang Cheng, dia juga kembali berkata. “Brengsek, Jiang Cheng? Seseorang yang merepotkan5 sepertimu juga datang?”

“Ah,” Jiang Cheng bersuara, menyaksikan semangkuk sup yang diberikan Wang Xu kepada pelanggan tumpah di atas meja.

“Hei! Apa-apaan ini, setengah isi pancinya tumpah!” pelanggan yang marah itu mengutuk.

“Aku akan mengambilkanmu yang baru sebentar lagi,” Wang Xu mengambil kain lap dan dengan cepat menyeka meja dan menganggap pekerjaannya sudah selesai. Dia berjalan ke arah Gu Fei dan Jiang Cheng, “Bagaimana dengan ruang kotak di lantai atas? Disana kebetulan kosong.”

“Ruang kotak?” Jiang Cheng merasa bahwa dia tidak akan pernah bisa lepas dari rasa linglung ini – sebuah restoran roti isi seperti ini memiliki ruangan kotak.

Ruangan kotak sebenarnya adalah ruangan kotak. Keempat sisinya dipisahkan oleh papan kayu; bahkan ada AC kecil di sana.

“Jiang Cheng, ada apa dengan wajahmu?” Wang Xu menyalakan AC di dalam ruangan kotak itu dan menatap wajah Jiang Cheng. “Apa kau berkelahi dengan seseorang? Apakah itu Hou Zi…”

“Tidak,” Jiang Cheng memotongnya. Bahkan jika itu hanya angin sepoi-sepoi yang lewat atau gemerisik rumput, Wang Xu masih akan mengira itu adalah Hou Zi. Dia hampir merasa seperti dia berutang pada Wang Xu jika dia tidak berkelahi lagi dengan Hou Zi.

“Daging sapi, babi, kambing, keledai, masing-masing dari kami pesan beberapa,” Gu Fei menoleh ke arah Wang Xu. “Dan sup daging kambing. Apa kau sudah makan? Kalau belum, kau bisa ambil sepotong.”

“Tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya untuk kalian,” kata Wang Xu. “Aku menemukan dua botol anggur enak yang disembunyikan ayahku, ayo kita minum nanti.”

Setelah dia pergi, Jiang Cheng menatap Gu Fei, “Tempat ini dibuka oleh keluarga Wang Xu?”

“Mm,” Gu Fei mengangguk. “Wang Er adalah ayahnya. Tempat ini cukup terkenal di kota; bahkan ada beberapa orang yang berkendara jauh-jauh dari daerah maju hanya untuk datang ke sini untuk makan.”

“Ah,” Jiang Cheng mengeluarkan suara mengerti, merasa tidak ada lagi yang bisa dia katakan.

“Aku akan mengambil sup.” Gu Fei bangkit dan keluar, “Kita akan makan sup dulu.”

Setelah dua menit, dia kembali dengan tiga panci sup daging kambing berukuran sedang di atas nampan besar. Jiang Cheng bisa melihat bahwa dia mungkin — akhirnya — mulai kembali ke dunia nyata. Saat mencium bau sup daging kambing itu, dia merasa bisa melahap semua isi di dalam panci itu.

Tidak lama kemudian, Wang Xu masuk dengan membawa keranjang sederhana berisi sekitar tujuh atau delapan roti isi. “Baru keluar dari oven. Makanlah selagi panas, kau bisa makan lagi nanti.”

Jiang Cheng mengambil satu dan menggigitnya, dengan segera merasa sangat tersentuh dari betapa nikmatnya rasa roti itu dan hampir membuatnya meneteskan air mata. Dia praktis menelan tanpa mengunyahnya.

“Daging keledai,” Wang Xu menatapnya, “Bagaimana rasanya?”

“Sangat,” Jiang Cheng menggigit lagi, “Lezat.”

Wang Xu tersenyum bangga, “Tentu saja lezat! Kau harus makan daging keledai, siapa pun yang datang harus makan setidaknya dua. Da Fei bisa makan sepuluh!”

Jiang Cheng memperkirakan bahwa dia bisa makan lebih dari sepuluh.

Roti isi dari tempat Wang Xu tidak terlalu besar, hanya sekitar setengah ukuran telapak tangan. Kulitnya tipis dan jumlah isiannya banyak, tebal dan lembut, setiap gigitan dipenuhi dengan aroma daging — tidak berminyak sama sekali…

Wang Xu menyelinap dan mengambil salah satu botol anggur yang disembunyikan ayahnya. Kau tidak akan tahu mereknya apa karena memang tidak ada label di botolnya, dan botolnya terlihat sangat kotor.

“Ingin beberapa?” Wang Xu membawa cangkir di depan Jiang Cheng.

Jiang Cheng menggelengkan kepalanya. Dia tidak memiliki kebiasaan minum anggur putih, dan tidak ada orang di ‘rumah’ yang juga minum. Dia hanya akan minum bir ketika dia pergi dengan Pan Zhi.

“Sayang sekali,” Wang Xu menuangkan dua cangkir untuk dirinya sendiri dan Gu Fei, “Xueba ini tidak terlalu suka ikut minum ternyata.”

Jiang Cheng terlalu malas untuk membalas. Selain itu, dia sedang makan roti isi keluarganya, dan itu sangat lezat.

Makanannya sangat memuaskan dengan berbagai jenis roti isi yang diisi dengan kaldu kambing yang penuh dan kental. Dia makan sampai hatinya terasa kenyang dan tubuhnya hangat; berbagai luka di tubuhnya — yang bahkan dia tidak bisa membedakan mana yang lebih menyakitkan dari yang lain — tiba-tiba semuanya terasa jauh lebih baik. Rasa sakit yang tajam menjadi hanya denyutan di dagingnya.

Dari mereka bertiga, Wang Xu adalah orang yang terus berbicara tanpa jeda sementara Jiang Cheng nyaris tidak bersuara. Wang Xu berbicara tentang hal-hal mengenai kelas mereka, dan tentang Jiang Cheng yang masih tidak bisa membedakan orang-orang, tidak ada tempat baginya untuk menyela bahkan jika dia ingin berbicara. Gu Fei juga tidak banyak bicara, memilih untuk hanya duduk dan makan sambil sesekali membuat beberapa suara “mm, mm” tetapi Wang Xu tampaknya tidak terlalu keberatan.

“Kudengar Kelas 2 mendapatkan bantuan dari luar kali ini,” Wang Xu mulai berbicara tentang pertandingan bola basket, “Haruskah kita mendapatkan bantuan juga? Jika tidak, bagaimana kita akan menang?”

“Apa kau ingin aku dan Jiang Cheng bermain dengan tiga orang dari luar?” Gu Fei menjawab. “Kalau begitu apa ada gunanya kalau kita menang?”

Wang Xu mengerutkan kening dan berpikir sejenak, “Tidak akan ada gunanya. Kalau seperti itu aku bahkan tidak akan punya kesempatan untuk bermain.”

“Pada levelmu, kau bahkan tidak akan bisa masuk ke lapangan jika kita mendapat bantuan dari luar,” kata Gu Fei.

“Brengsek!” Wang Xu merasa sedikit marah.

“Aku akan menelepon beberapa teman untuk latihan bersama kita besok.” Gu Fei melanjutkan, “Tidak mungkin melakukan perbaikan pada saat ini. Ayo kita berlatih lebih banyak untuk meningkatkan kerja sama kita dan membiasakan diri dengan satu sama lain.”

“Baik!” Wang Xu melirik Jiang Cheng, “Jangan mengoper bola ke lawan lagi.”

“Aku memberikan operan itu secara eksklusif kepada teman sebangkuku, tidak secara eksklusif ke pihak lawan.” Jiang Cheng meminum seteguk penuh sup, “Teman sebangkuku dan aku berada di tim yang sama.”

“… jangan membalas,” Wang Xu mendengus.

“Bicaralah kalau kau tidak setuju,” jawab Jiang Cheng.

Setelah makan roti isi di toko Wang Xu selama satu jam, Jiang Cheng keluar dari restoran dengan perasaan seperti luka di perutnya akan robek lagi karena dia merasa sangat kenyang.

“Datanglah lebih sering saat kau ada waktu luang!” Ibu Wang Xu mengantar mereka keluar, “Bibi akan memberimu diskon! Semua teman sekelas Wang Xu akan mendapat diskon!”

“Terima kasih, Bibi,” kata Jiang Cheng, sedikit bersendawa di awal.

Dia benar-benar makan terlalu banyak.

Dia bahkan setengah telentang di kursi belakang ketika dia kembali duduk di dalam mobil.

“Aku mabuk,” Gu Fei menyalakan mobil.

“Apa yang kau katakan?” Jiang Cheng bertanya.

Meskipun makanan itu membuatnya sangat bahagia, begitu dia turun dari roti kecil dan melihat jalan menuju ke tempat Li Baoguo, perasaan kelelahan muncul dari dalam dirinya.

Dia menundukkan kepalanya dan berjalan berlawanan dengan embusan angin, selangkah demi selangkah, sampai dia tanpa daya mencapai pintu masuk koridor.

Lampu tampak padam saat dia membuka pintu. Dia meraba-raba dinding untuk waktu yang lama sebelum akhirnya dia menemukan tombol lampu dan menyalakannya dengan keras.

Dia tidak tahu mengapa dia masih belum terbiasa dengan fakta bahwa sakelar lampu di tempat Li Baoguo sedikit lebih tinggi daripada yang ada di rumah lamanya.

Li Baoguo tidak ada di rumah, dan apakah dia ada di rumah sakit atau sedang berjudi, dia juga tidak tahu. Dia mengeluarkan ponselnya dan ragu-ragu untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya, dia masih tidak menelepon.

Dia buru-buru mandi dan kembali ke kamarnya.

Setelah dia menyelesaikan PRnya, dia melirik ke arah jam – hampir jam sebelas.

Dia tidak tahu rumah tangga mana di atas tempat tinggalnya yang memukul anak mereka, tetapi mendengar tangisan dan jeritan anak itu sudah cukup untuk menakuti seseorang. Rasanya seolah-olah anak itu akan dipukuli sampai mati setiap saat.

Dia berbaring telentang, mengeluarkan dan memakai earphone-nya, dan menutup matanya.

Jiang Cheng akhirnya menyadari betapa bertekadnya Lao Xu untuk memenangkan pertandingan bola basket ini. Dia mengumumkan di pagi hari bahwa mereka yang berpartisipasi dalam pertandingan bola basket bisa membolos kelas bahasa Mandarin dan pergi ke gimnasium untuk berlatih.

Secara tidak sengaja itu membuat Gu Fei memanggil kelompok Bu Shi Hao Niao, dan menyuruh mereka datang di pagi hari.

“Ini tidak seperti kalian mendengarkan di kelas,” kata Lao Xu.

Jiang Cheng ingin memberitahunya, kau tahu aku mendengarkan kalau aku ada di kelas, ‘kan? Bagaimanapun, aku adalah xueba.

Tidak ada orang lain di dalam gimnasium di pagi hari. Jiang Cheng memandangi kelompok orang yang tampak antusias dan diliputi dengan emosi yang campur aduk. Sejujurnya, dia tidak memiliki keyakinan bahwa orang-orang ini bisa memenangkan pertandingan – apakah mereka menang atau kalah, hal itu bergantung sepenuhnya pada seberapa buruk permainan kelas lain.

“Tim pelatihan eksklusif kita akan tiba sebentar lagi,” Wang Xu berjongkok di pinggir lapangan. “Tim awal yang kita sepakati kemarin bisa bermain dulu. Rasakan sensasi bermainnya.”

“Jika ada yang bertanya tentang ini, katakan saja bahwa Gu Fei membawa beberapa orang untuk berlatih bersama kita,” kata Wang Xu dan kemudian berpikir sejenak sebelum menambahkan kalimat lain. “Ingat apa yang harus kalian katakan dan juga katakan dengan nada yang sangat marah. Biarlah orang berpikir bahwa kita harus mengemis sepanjang hari agar mereka datang. Orang itu tidak memiliki rasa hormat kolektif!”

Semua orang mengangguk, wajah mereka membara dengan kepahitan.

Gu Fei menghela napas.

Bu Shi Hao Niao tiba di waktu yang cukup baik. Mereka masuk tepat setelah bel berbunyi, menghindari periode di mana sekolah dipenuhi begitu banyak orang.

Hanya saja, fakta bahwa sekelompok orang yang secara praktis memiliki kata-kata “pergi cari seorang profesional” di atas kepala mereka bisa dengan mudah masuk melalui gerbang depan Si Zhong dengan begitu saja, membuat Jiang Cheng merasa ragu-ragu dalam sistem manajemen sekolah. Kenapa dia harus memanjat gerbang besi untuk masuk ketika dia terlambat di pagi hari?

“Ayo mulai,” kata Gu Fei. “Jangan buang waktu.”

Jiang Cheng menatap empat orang yang membentuk Bu Shi Hao Niao. Ada juga Li Yan … tunggu, Li Yan juga bermain?

“Semuanya, ini Liu Fan, Luo Yu, Zhao Yihui, Chen Jie, dan Li Yan.” Gu Fei menunjuk ke masing-masing dari mereka dan memperkenalkan mereka tanpa jeda, “Kalau kau tidak bisa mengingat mereka semua, tidak apa-apa. Mereka adalah lawanmu.”

Semua orang berlari ke lapangan segera setelah mereka melepas jaket mereka. Dua pemain pengganti mengambil peluit dan bertindak sebagai wasit6 sementara seorang lainnya mendorong papan skor.

Ketika Jiang Cheng melihat formasi timnya dan kemudian tim lawan, dia tiba-tiba merasakan kegembiraan yang telah lama hilang.

“Aku akan melakukan jump ball,” Gu Fei berbicara dengan suara rendah. “Nanti, jangan lupakan Liu Fan.”

“Liu Fan?” Jiang Cheng bertanya.

“Yang memakai rantai logam besar,” jawab Gu Fei.

“Mm,” Jiang Cheng melirik. Ini adalah pertama kalinya dia melihat “Shi” dalam “Shi Niao”7 saat mereka bermain.

“Apa rantai itu dari besi?” Guo Xu bertanya.

“Bagaimana aku bisa tahu? Kalau bukan besi, berarti itu perak dan kalau bukan perak maka berarti itu besi stainless.” Gu Fei menatapnya, “Bagaimana kalau kau bertanya sendiri?”

Jiang Cheng memalingkan muka sambil tersenyum.

“Tidak, aku tidak mau. Aku pikir itu besi stainless,” kata Guo Xu.

Gu Fei menghela napas, “Kalau begitu jangan lupakan Rantai Besi Stainless Besar.”

Liu Fan-lah yang melakukan jump ball dengan Gu Fei. Liu Fan sedikit lebih tinggi dari Gu Fei, tapi sedikit perbedaan tinggi ini tidak bisa memutuskan apapun — hal itu masih tergantung pada refleks dan kemampuan melompat mereka.

Jiang Cheng menatap bola itu.

Saat bola dilempar, pada waktu saat bola berada di titik tertinggi tanpa ada tanda-tanda jatuh yang jelas, Gu Fei dan Liu Fan melompat pada saat bersamaan. Namun, yang pertama menyentuh bola adalah Gu Fei.

Jiang Cheng merasa itu cukup membingungkan. Gu Fei entah bagaimana berhasil menyentuh bola pertama kali ketika secara bersamaan melompat bersama lawan.

Namun, meskipun Gu Fei menyentuh bola lebih dulu, dan bola telah terbang ke arah Lu Xiaobin, Li Yan-lah yang memegang bola lebih dulu. Dia meluncur dari samping saat tangan Lu Xiaobin hendak menyentuh bola, mengambil bola itu dengan sapuan lengannya.

Jiang Cheng sedikit terkejut. Jika ingatannya benar, terakhir kali dia melihat mereka bermain, Gu Fei menganggap Li Yan sebagai “tua, lemah, cacat” di antara yang tua, lemah, dan cacat.

Seorang yang “tua, lemah, dan cacat” itu bisa mencuri bola begitu saja dengan mudahnya!

Lu Xiaobin terkejut, tetapi kemudian segera mengejarnya – menggeram dengan tangan terulur seperti cakar. Jika bukan karena aturan yang ditentukan secara ketat, dia tampak seolah-olah bisa menangkap Li Yan dan mengusirnya.

Jiang Cheng tidak terburu-buru untuk mengejar. Li Yan tidak terlalu cepat saat menggiring bola, dan dari kelihatannya, sepertinya dia tidak berencana membawanya langsung ke lapangan. Ketika dia menoleh sedikit ke kanan, Jiang Cheng melihat Liu Fan, Rantai Besi Stainless Besar, yang tampak menjangkau dan berlari ke arah kanan.

Dia buru-buru mempercepat larinya dan bergegas ke depan. Ketika Li Yan mengoper bola ke Liu Fan, dia semakin melaju ke depan dan berusaha merebut bola itu.

Sayangnya, dia tidak berhasil menguasai bola. Sebaliknya, dia memantulkannya ke arah Lu Xiaobin yang melambaikan tangannya.

Kali ini, refleks Lu Xiaobin tidak seburuk sebelumnya dan dia dengan kuat menggenggam bola itu.

“Berikan padaku!” Jiang Cheng memanggil.

Lu Xiaobin melemparkan bolanya ke arah wajah Jiang Cheng tepat saat Li Yan datang untuk merebut bola itu lagi.

Ketika Jiang Cheng menangkap bola itu, dia ingin bersyukur kepada Tuhan karena tidak membiarkan bola yang meluncur seperti tembakan itu memakan wajahnya.

Li Yan ingin memblokirnya tetapi malah diblokir lebih dulu oleh Guo Xu.

Taktik bodoh, semua orang bergegas ke depan untuk memblokir saat mereka melihat siapa yang memegang bola, hal itu cukup berguna kali ini. Li Yan relatif kurus, dan ketika dia dijaga oleh Guo Xu dan Luo Xiaobin, kau hampir tidak bisa melihat pria itu lagi.

Saat Jiang Cheng membawa bola ke tempat ring mereka, dia melihat Gu Fei, yang berhasil melepaskan diri dari para pemain yang menjaganya dan berlari ke arah ring pada saat yang sama. Gu Fei juga menatapnya.

Dia tidak tampak ragu-ragu. Beruntung dia mengoper bola sebelumnya – bola itu memantul dari samping kaki Liu Fan dan ditangkap dengan kuat oleh Gu Fei.

Tapi lawan dengan level seperti Bu Shi Hao Niao bahkan tidak berada di liga yang sama dengan pemain pengganti dari kelas kemarin. Sama seperti Gu Fei yang menguasai bola, orang lain yang dia tidak kenal yang dipanggil Luo Yu atau Zhao Yihui telah berbalik dan memotong jalur Gu Fei.

Gu Fei membawa bola kembali dan Jiang Cheng buru-buru melewati celah antara orang-orang. Siapa yang tahu apakah itu karena dia terlalu percaya pada rekan satu timnya atau apakah dia tidak punya pilihan lain, tetapi tanpa melihat ke belakang, Gu Fei melempar bola ke belakangnya.

Jiang Cheng menangkap bola itu.

Bu Shi Hao Niao pasti sudah terbiasa bekerja sama untuk waktu yang lama, hal itu bisa diketahui hanya dengan melihat bagaimana serangan dan pertahanan mereka dimainkan dengan sangat baik. Tidak mungkin dia bisa menembak ke bawah ring. Setelah Jiang Cheng mendapatkan bola, dia langsung dipaksa melewati garis tiga angka.

Pelanggaran cepat itu gagal; Bu Shi Hao Niao sudah kembali ke wilayah ring. Melihat situasinya, tidak mungkin untuk menerobos hanya dengan dia dan Gu Fei.

Saat dia mencoba mengulur waktu untuk menemukan celah, Gu Fei tiba-tiba mengangkat tangannya. Jiang Cheng melihatnya mengangkat tiga jari.

Sial.

Baiklah, tiga poin!

Dia bergegas ke depan dengan bola di tangan, dan Liu Fan segera mengikutinya. Berhenti di garis tiga poin, dia melakukan lompatan. Liu Fan melompat mengejarnya seperti bayangan untuk menangkapnya.

Jiang Cheng segera menarik kembali bola tersebut, lalu menyingkir dari sisi kiri tubuh Liu Fan.

Saat dia memutar pinggangnya, luka di perutnya terbuka sedikit. Jiang Cheng hanya bisa berteriak.

Itu terlalu mengesankan.

“Brengsek!” Liu Fan segera menoleh saat dia mendarat di tanah, dan saat dia melihat bola masuk, dia melihat ke arah Jiang Cheng, “Itu luar biasa.”

“Tembakan bagus!” Gu Fei mengangkat tangannya di atas kepalanya dan mulai bertepuk tangan. Setelah bertemu dengan tatapan Jiang Cheng, dia mengangkat ibu jarinya.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Sepeda motor 250cc — mewakili perpindahan mesin yang diukur dalam ‘sentimeter kubik’. Untuk membantu memahami hal ini lebih jauh, satu ‘cc’ adalah seperseribu liter. Sama seperti saat mengukur cairan. Sebab, motor yang memiliki mesin satu liter akan memiliki kapasitas 1000cc.

    Tepat ketika Jiang Cheng menjadi lebih bingung, sebuah mobil kecil berwarna tepung jagung* yang menyerupai roti atau bahkan roti mini keluar dari gang

  2. Mobil yang menyerupai roti/roti mini.

    *Mobil yang menyerupai roti/roti mini

    Jiang Cheng memperhatikan, sedikit tertegun, saat 'roti' itu berhenti di depannya

  3. Roti pipih isi (馅饼) – Meskipun sering disebut sebagai pai daging Cina, xianbing sebenarnya lebih mirip dengan pangsit gaya jiaozi panggang yang terlalu besar. Keduanya dibuat dengan adonan tepung dan air yang sama, kecuali yang untuk xianbing dilapisi sebelum digulung, dan tidak seperti pangsit jiaozi yang dikukus, xianbing digoreng. Menjadi salah satu ciri khas masakan halal muslim Cina Utara, xianbing yang renyah secara tradisional diisi dengan daging sapi cincang rasa kecap, jahe, dan bawang, sementara di daerah lain juga dapat diisi dengan daging babi, domba, atau bahkan dengan isian sayuran dalam versi vegetariannya. Xianbing dianggap sebagai makanan yang benar-benar menenangkan dan meskipun mudah ditemukan di restoran, sering disajikan dengan sup panas dan asam yang hangat, xianbing di Cina Utara paling populer sebagai makanan jalanan yang biasanya dinikmati hangat dengan saus yang terdiri dari kecap, minyak wijen, bawang putih, dan cuka beras.

     Xianbing dianggap sebagai makanan yang benar-benar menenangkan dan meskipun mudah ditemukan di restoran, sering disajikan dengan sup panas dan asam yang hangat, xianbing di Cina Utara paling populer sebagai makanan jalanan yang biasanya dinikmati...

  4. Wang Er (王二) — Wang adalah nama belakang dan Er adalah nama orang … Wang Er “…”
  5. Merepotkan [事儿逼] bahasa gaul yang seharusnya merujuk pada orang yang mencari masalah tetapi bisa menjadi agak bimbang dan terlihat tetapi tidak mudah puas dengan apa pun …
  6. Wasit — Permainan bola basket tidak hanya diatur oleh seorang wasit, ada sekelompok petugas untuk mengatur permainan dan menjaga semuanya tetap pada jalurnya.
  7. “Shi” dalam “Shi Niao — setiap satu dari empat orang membentuk karakter dalam Bu Shi Has Niao dan Liu Fan adalah “Shi”.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments