• Post category:SAYE
  • Reading time:33 mins read

… cinta murah hati berjalan diam.


Penerjemah: Jeffery Liu


Gu Fei biasanya sangat benci ketika diganggu dan tidak suka ikut campur dalam masalah yang merepotkan. Tapi dengan dirinya yang tumbuh di daerah ini, masalah terjadi hampir setiap hari. Setiap jenis naskah dramatis yang biasanya dimainkan dalam drama TV bisa dilihat di sini — dan masalah-masalah itu biasanya hanya relatif lebih buruk.

Ketika dia bosan, dia akan menonton semua kejadian yang terjadi di sini seolah-olah sedang menonton drama di TV, dan untuk waktu yang sangat lama, inspirasinya menulis lagu untuk Ding Zhuxin datang dari orang-orang ini yang seolah tidak lagi memiliki harapan, putus asa, yang berjuang dari tingkat bawah kehidupan mereka ini – dan yang sama sekali tidak terlihat oleh orang lain.

Kau melihatnya jatuh dalam keputusasaan, namun dia tampak hidup penuh semangat dan menertawakanmu yang terlalu cengeng.

Hal-hal seperti Li Baoguo yang dipukuli oleh orang-orang sampai dia berguling-guling di tanah sudah biasa terlihat. Tokoh utama yang melakukan pemukulan itu terkadang orang yang sama, terkadang berubah, tetapi tidak ada satu pun yang membuat penasaran.

Pada kesempatan normal, dia akan berada di sini, duduk di kursi belakang sepedanya, mengawasi sebentar.

Tapi hari ini, dia tidak bisa hanya duduk dan menonton.

Setelah Jiang Cheng dengan jelas mengenali orang itu sebagai Li Baoguo, ekspresi wajahnya berubah begitu tiba-tiba sehingga Gu Fei tidak tahu harus berbuat apa — tidak jelas apakah dia merasa tercengang ataukah bingung.

Jika dia lebih akrab dengan Jiang Cheng — tingkat keakraban yang sama seperti hubungannya dengan Wang Jiuri — dia pasti akan menarik kembali Jiang Cheng dan menahannya untuk tidak mendekati tempat kejadian.

Jenis situasi semacam ini biasanya tidak akan menyebabkan kematian, bagaimanapun juga tidak ada pihak yang baik, dan tidak ada yang dipukuli secara tidak adil. Mematahkan beberapa tulang dan menumpahkan beberapa tetes darah adalah suatu pelajaran yang baik, terkadang hal itu juga bisa menyelesaikan beberapa masalah yang belum bisa diselesaikan.

Jiang Cheng tidak mengatakan apa-apa saat dia berbalik dalam diam dan berjalan ke arah mereka — Gu Fei merasakan perasaan yang tidak menyenangkan muncul. Sebenarnya itu bukanlah sesuatu seperti simpati, dunia ini memiliki terlalu banyak orang yang membutuhkan simpati, oleh karena itu, tidak penting lagi siapa yang bersimpati kepada siapa.

Jenis perasaan itu mungkin ialah ketidakberdayaan.

Gu Fei tidak pernah tahu bahwa Li Baoguo memiliki seorang putra bungsu, dia juga tidak tahu apakah kejadiannya seperti yang diklaim Li Baoguo — bahwa anak itu dikirim karena mereka tidak mampu membesarkannya. Seseorang seperti Li Baoguo, tidak mengherankan juga jika dia mengaku telah menjual Jiang Cheng.

Dia tidak bisa mengerti mengenai apa yang dipikirkan Jiang Cheng tentang ini dengan cara apapun; temperamen penuh kebanggaannya secara drastis berdiri terpisah dari mereka yang dibesarkan di tempat ini. Orang seperti ini, dihadapkan pada pemandangan seperti ini, dan … ayah seperti ini, hanya Tuhan yang tahu seperti apa rasanya.

Bagaimanapun, Jiang Cheng berjalan mendekati mereka dalam keheningan total dan mungkin karena hubungan yang dia miliki dengan Li Baoguo begitu asing baginya, dia tidak terlihat sedang berada dalam suasana perasaan cemas yang membingungkan, maupun kemarahan.

Gu Fei meregangkan punggungnya dengan malas, dan dari jarak belasan meter itu, dia bergerak dengan cukup lambat ke arah mereka, menarik kacamatanya saat mengambil langkah demi langkah mendekat.

Jiang Cheng tidak mencoba untuk campur tangan dalam perkelahian itu, dia bahkan tidak berbicara sepatah kata pun. Setelah melemparkan tasnya ke dinding, dia terus berjalan, dan dengan satu siku, dia membenturkannya tepat ke punggung orang yang sedang sibuk menendang kepala Li Baoguo.

Jiang Cheng pasti cukup akrab dengan cara menggunakan sikunya, pukulannya juga sangat kuat — Gu Fei sudah pernah menerima serangan itu sekali.

Dengan pukulan ini, orang itu berteriak dan berbalik. Gu Fei mengenalinya sebagai seseorang dari pabrik baja, dia dijuluki Da Diao1, namun tidak ada yang bisa membuktikan secara tekstual apakah nama ini didasarkan pada kondisi tubuhnya yang sebenarnya. Orang-orang ini datang untuk bermain kartu secara teratur, dan biasanya hanya membiarkan diri mereka menjadi penipu licik sambil menahan orang lain.

Sebelum Da Diao bisa menjawab, Jiang Cheng mengarahkan serangan keduanya ke wajah orang itu yang baru saja berbalik dan menghantamnya dengan dahinya sendiri — tepat di tengah batang hidung.

Gu Fei tiba-tiba merasakan hidungnya sendiri mulai berdenting tipis.

Segera setelah itu, Jiang Cheng meraih kerah Da Diao dan dengan kasar mendorongnya ke samping; dia tersandung dan jatuh ke pelukan dua orang yang berdiri di belakangnya.

Beberapa orang yang menundukkan kepala dan fokus untuk memukuli Li Baoguo segera menyadari bahwa seseorang telah menyelinap menyerang mereka, mengumpat, dengan cepat sadar melalui kekacauan sesaat ini dan mengalihkan perhatian mereka kepada Jiang Cheng.

“Brengsek! Apa yang kau inginkan sialan?” Seseorang mengumpat, dengan satu tangan terangkat, dia mengayunkan tinju ke kanan ke arah Jiang Cheng.

Yang mengejutkan Gu Fei, Jiang Cheng bahkan tidak repot-repot menghindar. Dia menyerang langsung ke arah tinju itu dan membiarkannya menyentuh sudut matanya sebelum mendaratkan tinjunya sendiri dengan keras ke mata kiri orang yang menyerangnya.

Dan begitu saja, orang-orang yang masih tenggelam dalam kebingungan ini benar-benar marah. Mereka secara kolektif menyerah pada Li Baoguo, yang telah menyusut menjadi bola di tanah, dan terbang menuju Jiang Cheng dengan tinju terangkat.

Gu Fei mengerutkan alisnya, melihat sekeliling untuk menemukan bahwa tanah tempat mereka berkelahi cukup bersih — jika Jiang Cheng tidak bisa bertahan terlalu lama dan dia harus membantu, bahkan tidak ada batu bata yang terlihat.

“Jangan memukul!” Li Baoguo memegangi kepalanya sambil meringkuk di tanah dan berteriak, “Berhenti memukul!”

Orang-orang yang terjun ke arah Jiang Cheng tidak repot-repot menanggapinya. Meskipun tidak ada yang membawa senjata, mereka memiliki tubuh yang besar — kepalan tangan yang dilemparkan oleh mereka adalah sesuatu yang harus ditahan.

Satu, dua, tiga, empat, Gu Fei perlahan menghitung, ada empat orang yang mengelilingi Jiang Cheng. Ada juga satu orang yang tidak bisa masuk dan malah melompat-lompat di luar lingkaran.

Tapi sebelum orang ini bisa melompat untuk ketiga kalinya, seseorang sudah terbang keluar dari lingkaran dan mendarat di tanah.

Dia dilemparkan oleh Jiang Cheng.

Jiang Cheng segera berlari keluar dan mengarahkan satu kakinya ke arah perut pria yang tersungkur di tanah itu.

“Brengsek!” Darah yang mengalir dari wajah Da Diao mengotori seluruh wajahnya. Sambil berteriak dan melompat, dia melemparkan tendangan ke punggung Jiang Cheng; posturnya tidak pantas, namun penuh dengan kekuatan.

Jiang Cheng tersandung ke depan beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya dan mengangkat tangannya untuk menyeka sudut mulutnya.

Dia berbalik untuk melihat Da Diao berlari membangun momentum untuk tendangan kedua. Jiang Cheng berdiri diam, dan ketika Da Diao melompat, dia tiba-tiba mencondongkan tubuh ke depan, tubuhnya menyerbu ke depan dengan lengan mengarah tepat ke… da diao milik Da Diao.

Da Diao bahkan tidak bisa bersuara dan dengan begitu saja, dia jatuh ke tanah, terengah-engah dengan mulut terbuka lebar — wajahnya penuh dengan rasa sakit yang membakar.

Gu Fei mengangkat kacamatanya, jika dia melihat dengan benar, Jiang Cheng mungkin tidak memukul tepat di ‘tempat’ dengan serangan ini, jika tidak, Da Diao mungkin akan pingsan karena kesakitan.

Apakah serangannya memang tidak sengaja meleset, atau bahkan dalam situasi seperti ini, Jiang Cheng masih bisa mengendalikan temperamennya dan berusaha tiidak melewati batas?

Namun karena postur Da Diao yang benar-benar tragis, teman-temannya – Dua, Tiga, Empat, Lima Diao2 — terjebak dalam keraguan sesaat.

Beginilah orang-orang ini. Ketika memukuli seseorang seperti Li Baoguo, mereka semua bertindak seolah-olah mereka adalah pejuang pemberani, tetapi begitu mereka menemukan seseorang yang lebih hardcore, mereka langsung menjadi pengecut. Takut melawannya satu lawan satu, namun bahkan jika ada satu gudang orang seperti mereka dikirim, mereka masih harus menunggu seseorang untuk memimpin.

Tetapi di saat penuh keraguan yang mereka alami, Jiang Cheng sudah bergegas ke arah mereka lagi, menyerang dengan ganas ke arah orang yang berdiri di depan. Mungkin karena xueba mahir dalam belajar, dia benar-benar melompat untuk serangan ini — sebuah gerakan yang dipelajari dari Da Diao — meskipun postur tubuhnya jauh lebih indah.

Tidak hanya itu, yang dia gunakan untuk menyerang adalah bahunya, dengan itu, ketika dia melompat, bahunya mengarah ke dagu orang itu seperti seekor burung gagak yang terbang.

Orang itu dipukul sampai dia mundur sekaligus, dan matanya bertemu dengan langit dalam lompatan sebelum jatuh ke tanah — meskipun tidak diketahui apakah serangan itu menyebabkan dia menggigit lidahnya atau menggigit bibirnya tetapi dia menutup mulutnya, dan begitu dia melepaskan tangannya, tangannya segera bersimbah darah.

Setelah dua dari mereka dijatuhkan, tiga yang tersisa mungkin merasa agak terancam tetapi melihat jumlah di pihak mereka masih lebih banyak dan mereka masih berada di atas angin, mereka menyerang Jiang Cheng secara bersamaan.

Jiang Cheng memperkirakan bahwa dia akan terluka dalam pengepungan ini, dan karena dia tidak melarikan diri saat ini, dia dikepung di tengah mereka.

Gu Fei bisa dengan jelas melihat bahwa perut dan pinggang Jiang Cheng menerima beberapa pukulan keras; dia menghela napas dan berjalan mendekat.

Saat dia berjalan di trotoar, dia melihat seseorang dilempar oleh Jiang Cheng. Wajahnya ditekan ke tanah, diikuti oleh beberapa ayunan serangan yang begitu keras — dua di antaranya mendarat dengan keras di leher — orang itu berjuang di antara batuk dan lolongan suaranya.

Dua orang lainnya yang tidak berhasil menarik Jiang Cheng pergi kini mengangkat kaki mereka dan menendang punggungnya sebagai hasilnya. Setelah mengalami beberapa tendangan itu, Jiang Cheng mengayunkan lengannya ke belakang dan meraih salah satu kakinya lalu dengan sentakan kasar dan memutar tubuhnya, dia menekannya.

Orang itu tidak memiliki tubuh fleksibel, dan jelas tidak mampu menahan serangan yang begitu kuat itu — terbukti dari suara keras teriakan yang keluar dari tenggorokannya. Ketika dia mencoba untuk menendang namun tidak memiliki sedikit pun kekuatan, dia hanya bisa mengayunkan anggota tubuhnya ke arah Jiang Cheng tetapi bahkan tubuhnya pun tidak memiliki kekuatan.

Pada saat itu, orang lain yang masih berdiri mengangkat kakinya; Gu Fei melihatnya membidik bagian belakang kepala Jiang Cheng.

“Hei,” teriak Gu Fei dan dengan gesit mengeluarkan kamus dari tas sekolahnya.

Ketika orang itu mendongak, Gu Fei dengan kejam melemparkan kamus itu menuju wajahnya.

Kamus Inggris-Cina itu — siapa pun yang tidak membawanya ke kelas bahasa Inggris, Lao Lu akan sangat kesal pada mereka. Meski harganya tidak mahal, namun itu adalah kamus edisi hardcover. Gu Fei belum pernah membukanya sebelumnya, oleh karena itu, kamus itu masih memiliki kualitas seperti baru saja dibeli — jadi, saat kamus itu terbang tanpa terbuka, kamus itu menghancurkan wajah dengan efek yang sama seperti batu bata.

Setelah orang itu dipukul dengan kamus ini, secara tidak sengaja, tubuhnya menjadi tidak bergerak sekaligus, mereka semua menatap Gu Fei.

Gu Fei tidak berbicara saat dia berjalan untuk mengambil kamusnya, membersihkan kotoran yang menempel dengan celananya dan mengembalikannya ke tas sekolahnya.

Pada saat itu, Jiang Cheng juga melepaskan tangannya dari kaki orang itu dan berdiri.

“Kau bre…” Orang yang terkena pukulan dari kamus menatap Jiang Cheng, tidak yakin harus berkata apa tapi sebelum dia bisa menyelesaikannya, Jiang Cheng memotongnya.

“Apa ada yang lain?” Jiang Cheng bertanya.

Orang yang berdiri dan yang tersungkur di tanah sama-sama tercengang, dan tidak ada yang berbicara.

“Kalau tidak ada yang lain, aku akan pergi.” Jiang Cheng berbalik untuk mengambil tas sekolahnya dan berjalan ke seberang jalan.

“Kau mengenalnya?” seseorang bertanya pada Gu Fei.

Gu Fei meliriknya: “Enyahlah.”

Sakit.

Seluruh tubuhnya sakit, dan dia tidak tahu dengan jelas bagian mana tepatnya.

Jiang Cheng menggertakkan giginya dan setiap langkah yang dia ambil terasa begitu menyakitkan.

Tapi entah kenapa itu terasa menyegarkan, seperti dia baru saja melakukan putaran lari maraton – sakit, sakit dan lemah, namun setiap tarikan napas dalam yang menembus paru-parunya, aliran napas itu begitu mendinginkannya sampai ke ususnya.

Sebenarnya alasan mengapa Li Baoguo menderita pemukulan itu, dia pada awalnya ingin menanyakannya, tetapi setelah melalui semua ini, dia tidak lagi ingin tahu. Dia hanya tahu bahwa beginilah orang ini hidup, merangkak di tanah untuk bertahan hidup – terlepas dari apakah itu dirinya atau Li Baoguo, tidak ada yang akan berubah.

Kemarahan dan keputusasaan yang ekstrim.

Agitasi, kebencian — semuanya berasal dari hal itu.

Dia bukan orang yang begitu hebat. Dia tidak ingin menyelamatkan siapa pun atau mengubah siapa pun. Dia hanya mengira orang ini adalah ayah kandungnya. Dia tidak bisa menghapus ini apapun yang terjadi, jadi dia harus berusaha untuk bisa beradaptasi.

Tapi, dia bisa mencoba beradaptasi dengan kevulgaran Li Baoguo, kecerobohannya,  chauvinisme prianya3, kecanduan judinya, kecanduan alkoholnya, namun, dia menemukan bahwa Li Baoguo tidak hanya menampilkan itu. Ada terlalu banyak hal lain yang membuatnya tidak bisa beradaptasi dan juga tidak bisa diterimanya, yang sedikit demi sedikit muncul tepat di depan matanya.

Mencuri, dipukuli sampai dia berguling-guling di tanah.

Ada apa lagi yang ada di sana, dan berapa banyak lagi?

Seseorang bersiul dari belakangnya.

Bahkan tanpa menoleh, dia tahu bahwa itu adalah Gu Fei, oleh karena itu, dia tidak berbalik — berbalik berarti lehernya akan sakit.

“Periksalah ke rumah sakit,” kata Gu Fei dari belakang.

“Tidak perlu,” jawab Jiang Cheng dengan depresi.

“Mau bertaruh?” Gu Fei tidak mengejarnya tetapi mengikuti dari belakang.

“Apa,” kata Jiang Cheng.

“Tulang rusukmu patah,” kata Gu Fei, “Periksalah. Jika benar patah, kau harus membantuku menulis tugasku selama satu minggu dan membiarkan aku menyalin tugasmu selama ujian, tetapi jika tidak patah, aku akan mentraktirmu makan.”

Jiang Cheng berhenti.

Gu Fei berjalan dan berdiri di sampingnya, “Apa benar patah?”

“Aku tidak tahu, aku tidak pernah mengalami patah tulang sebelumnya – tidak pernah mengalaminya.” Jiang Cheng melirik ke arahnya, “Kau pasti sangat berpengalaman, apa kau sering mematahkannya?”

Gu Fei tertawa: “Seharusnya aku membiarkan orang itu mematahkan lehermu sekarang.”

“Terima kasih untuk itu,” kata Jiang Cheng.

Tulang rusukku pasti patah… Jiang Cheng merasa bahwa biasanya saat dia berkelahi, setiap serangan akan mengenai perutnya, tapi seharusnya tidak akan sakit separah ini setelah waktu yang lama.

“Rumah sakit mana yang terdekat?” Jiang Cheng bertanya.

“Ada rumah sakit tambang batu bara,” kata Gu Fei. “Sekitar lima menit dengan taksi.”

“Mm,” Jiang Cheng mengambil beberapa langkah ke depan lalu menggertakkan giginya lagi dan berbalik, “Terima kasih.”

“Kau sangat sopan sampai aku ingin membungkuk dan berkata, ‘sama-sama’,” kata Gu Fei.

Jiang Cheng tidak berbicara lagi. Setelah meninggalkan jalan dan menunggu hanya dua menit, dengan sedikit keberuntungan, sebuah taksi melaju dan dia memanggilnya.

“Aku berniat berganti shift, kau harus menunggu taksi yang berikutnya, “kata pengemudi itu.

“Aku harus pergi ke rumah sakit, kalau harus nenunggu lagi aku akan mati di jalan.” Jiang Cheng menatapnya, “Aku mungkin menderita radang usus akut.”

Pengemudi itu menatapnya: “Masuklah, aku akan membawamu ke rumah sakit.”

“Terima kasih,” Jiang Cheng masuk ke dalam mobil.

Saat dia duduk di kursi belakang, dia hampir berteriak kesakitan – perubahan posisi itu membuat tulang rusuk di sisi kanannya terasa begitu sakit seolah-olah dia ditinju lagi.

“Berkelahi dengan orang lain,” pengemudi taksi itu tampak mengemudi sambil menatapnya dari kaca spion. “Enteritis akut tidak melukai wajah.”

“Apa wajahku terluka?” Jiang Cheng bertanya – ada luka di mulutnya, dia tahu karena itu berbau darah.

Pengemudi itu tertawa: “Nah, tapi tidak terlihat terlalu serius, pasti tidak merusak penampilanmu.”

“Oh,” kata Jiang Cheng.

“Anak muda, jangan terlalu impulsif,” kata pengemudi itu. “Kau mungkin tidak peduli jika sesuatu terjadi padamu, tapi keluargamu pasti akan khawatir. Katakan padaku, bukankah begitu.”

“… mm,” Jiang Cheng menarik sudut bibirnya, menyeringai.

Sudut mulutnya mungkin terluka juga, hanya tarikan sekecil itu bisa memperpanjang rasa sakitnya sampai ke akar telinganya.

Keluargamu pasti akan khawatir.

Katakan padaku, bukankah begitu.

Sungguh?

Siapa itu keluarga huh?

Keluarganya sebelumnya tidak akan pernah tahu situasinya saat ini sama sekali, dan ketika dia berkelahi sebelumnya, dia juga tidak akan memberi tahu mereka, namun sekarang … ayahnya ada di sampingnya, memegangi kepalanya sepanjang waktu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Dan ketika dia pergi, Li Baoguo bahkan tidak meliriknya.

Siapa kiranya yang akan khawatir huh?

Betapa lucunya.

Ketika dia tiba di rumah sakit, dia langsung pergi ke ruang gawat darurat, tetapi tidak ada satu orang pun di sana.

Setelah memberi tahu dokter bahwa tulang rusuknya mungkin patah, dokter meletakkan tangannya di sekitar dada dan menekannya: “Apa ada yang sakit?”

Jiang Cheng mencoba merasakannya dengan serius, “… tidak.”

“Tidak sakit?” dokter berkata, “Biar aku periksa.”

Jiang Cheng membuka ritsleting jaketnya dan ketika dia menundukkan kepalanya untuk mengangkat sweternya, dia tiba-tiba melihat noda darah di atasnya. Dia membeku, “Apa?”

Dokter mengangkat bajunya: “Kamu terluka di sini, kan? Dari penampilannya, tidak terlihat seperti patah tulang… izinkan aku mendengarkan untuk mendeteksi apakah ada krepitasi4.”

“… Oh.” Jiang Cheng bingung tentang fenomena misterius bagaimana pakaiannya tidak sobek namun dia terluka dan mengeluarkan sedikit darah.

Dokter memeriksanya dengan teliti dan akhirnya menekankan tangannya pada luka itu: “Apa tulangnya terasa sakit?”

“Ototnya,” jawab Jiang Cheng.

“Tidak ada patah tulang,” kata dokter. “Kalau kau masih khawatir, kita bisa melakukan rontgen.”

Jiang Cheng menghela napas lega: “Tidak perlu.”

Luka di atas daerah tulang rusuknya tidak serius, dan dokter hanya mengobatinya dengan kain kasa.

Jiang Cheng duduk di kursi rumah sakit dan menatap kosong untuk waktu yang lama. Akhirnya rasa sakit yang melanda tubuhnya perlahan-lahan mereda secara substansial, dan rasa sakit yang meningkat di ototnya yang sebelumnya tak tertahankan mulai sedikit berkurang.

Dia menekankan jarinya pada pakaiannya untuk merasakan tulang rusuknya satu per satu tetapi tidak bisa merasakan apa pun — di mana pun.

Sial!

Gu Fei, si gila itu. Dia terdengar begitu yakin, seolah-olah dia memiliki banyak pengalaman. Jiang Cheng tidak berniat mengunjungi rumah sakit tetapi sekarang dia takut untuk melakukannya.

Namun, reaksi pertamanya setelah mengetahui bahwa tulang rusuknya tidak patah sangat mengejutkan – itu hebat – karena tentu saja hal itu tidak akan mempengaruhi kompetisi basket mereka.

Dia benar-benar memiliki rasa hormat kolektif yang kuat, mungkin, cinta murah hati Lao Xu berjalan diam.5

Suara ponsel berdering di tasnya, dan saat dia mengeluarkannya dan melihat nomor di layar, dia membeku.

Ibunya menelepon. Meskipun dia sudah menghapus nomor telepon empat anggota keluarga itu, dia tidak bisa menghapus nomor ibunya dari pikirannya sendiri dalam waktu yang singkat.

“Halo,” dia menjawab panggilan itu.

“Xiao Cheng ah?” Suara ibunya mengalir ke dalam telinganya, “Aku sudah lama tidak menghubungimu, banyak hal terjadi di rumah, bagaimana kabarmu?”

Jiang Cheng terdiam lama dan tidak berbicara. Dia tidak tahu harus berkata apa atau apa yang bisa dia katakan. Pikirannya kacau seperti adegan perkelahian barusan, dengan hanya suara mendengung yang tersisa.

“Apa kau sudah menerima semua barang yang aku kirimkan?” Ibunya bertanya lagi.

“Ya,” Jiang Cheng menutup matanya dan menghirup udara.

“Kau dan… ayahmu, bagaimana kabarmu?” Tanya ibu.

“Cukup baik.” Jiang Cheng menggigit bibirnya, meskipun rasa sakit di sudut bibirnya yang robek menyebabkan dia mengerutkan kening, “Bagaimanapun juga, dia adalah ayahku.”

Ibunya tertawa: “Itu bagus, awalnya aku agak khawatir karena aku pikir dia orang yang agak kasar. Aku takut kau… “

“Aku baik-baik saja,” kata Jiang Cheng.

Ibunya terdiam di sisi lain, sepertinya mencoba mencari topik lain untuk dibicarakan.

“Aku melakukannya dengan cukup baik,” Jiang Cheng menundukkan kepalanya dan melihat sepatunya, tidak menyadari kapan sepatu itu diinjak sehingga ada lumpur di atasnya. “Jangan khawatir.”

“Xiao Cheng…” Ibunya memanggilnya dan kemudian menghela napas lagi.

“Aku baik-baik saja sekarang dan sudah beradaptasi dengan cukup baik. Aku masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan,” kata Jiang Cheng. “Aku harus pergi.”

Tanpa menunggu Ibunya berbicara, dia mengakhiri panggilan itu.

Dia tanpa sadar menatap layar hitam ponselnya untuk beberapa saat sebelum dia berdiri dan meninggalkan rumah sakit.

“Aku tidak berniat untuk datang,” Yi Jing berdiri di depan mesin kasir, dengan ransel di pelukannya. “Aku hanya kebetulan lewat… Xu Zong bilang kalian sedang bersiap-siap untuk bertanding di turnamen bola basket. Aku pikir kau mungkin tidak punya waktu untuk meninjau ujian tengah semester, ‘kan?”

“Aku tidak sedang mempertimbangkan apa aku punya waktu atau tidak,” Gu Fei menuangkan secangkir air panas dan menjatuhkan sepotong lemon ke dalamnya. “Kau lebih cemas dari Lao Xu.”

“Bukan itu,” Yi Jing tersenyum malu-malu. “Aku hanya punya banyak waktu luang.”

Gu Fei juga tersenyum: “Tentu, bagaimana kalau kau membiarkan aku menyalin PR hari ini, aku akan …”

“Tidak boleh menyalin,” Yi Jing segera berbicara. “Kalau ada yang tidak kau pahami, aku bisa mengajarimu.”

Gu Fei kemudian berpikir, baiklah aku bisa menyalin milik Jiang Cheng, tapi dia masih mengeluarkan buku teksnya dari tasnya: “Baiklah, kalau begitu ajari aku bahasa Inggris, aku hanya berencana mengerjakan PR bahasa Inggris hari ini.”

“Baik,” desah Yi Jing. “Bahasa Inggris adalah satu-satunya PR yang kau khawatirkan tidak dikerjakan dengan benar?”

“Mm,” Gu Fei berdiri dan mendirikan meja kecil di samping. “PR Lao Lu bukan sesuatu yang tidak ditakuti oleh siapa pun.”

Yi Jing mendekat ke arah bangku dan duduk. Dia membuka buku teks dan mulai mengerjakan pertanyaan bersamanya.

Minat Gu Fei melayang — apa pun yang ada hubungannya dengan belajar, pikirannya selalu melayang jauh. Bahkan jika Lao Lu yang duduk di depannya sekarang, pikirannya masih bertanya-tanya tentang alam semesta saat ini.

Yi Jing adalah uluran tangan nomor satu Lao Xu, dan seperti Lao Xu, dia memiliki hati yang penuh semangat antusias untuk kelas ini. Terlepas dari kenyataan bahwa semester lalu, ketika dia baru saja mengambil posisi itu, Wang Xu sudah membuatnya marah hingga menangis — dua kali — selama masa belajar mandiri, dia masih belum melupakan hasrat awalnya.

“Ini …” kata Yi Jing sambil menulis di kertas konsep. “Lihat di sini……”

Tirai toko diangkat oleh seseorang, dan Gu Fei berbalik hanya untuk melihat sosok Jiang Cheng yang berdiri membeku di pintu masuk dengan tangan masih memegang tirai.

“Jiang Cheng?” Yi Jing berbalik untuk melihat dan menatapnya agak terkejut.

“Ah,” jawab Jiang Cheng, terlihat agak canggung, dan menunjuk ke luar. “Bagaimana kalau aku …”

“Tidak, tidak, kau membutuhkan Gu Fei untuk sesuatu?” Yi Jing segera menjawab dan juga berdiri dengan agak canggung, “Aku datang ke sini untuk mengajarinya PR … kalau kau memiliki masalah untuk dibicarakan, aku akan pergi dulu … sebenarnya kenapa kau tidak mengajarinya saja?”

“Ah?” Jiang Cheng membeku lagi.

“Lu Laoshi bilang nilai bahasa Inggrismu sangat bagus,” Yi Jing tersenyum sambil mengumpulkan semua barang miliknya. Aku akan pergi kalau begitu.

“Hei, kau …” Jiang Cheng tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, Yi Jing sudah berjalan melewatinya sedikit malu.

“Apa kau sudah pergi ke rumah sakit?’ Gu Fei bertanya.

“Mm,” Jiang Cheng masuk, dia ragu-ragu sambil berdiri di samping rak persediaan. “Traktir aku makan.”

“Tidak patah?” Gu Fei terkejut.

“Apa, kau kecewa karena tidak patah?” Jiang Cheng berkata. “Lalu kenapa kau tidak datang dan mematahkannya untukku.”

“Apa yang ingin kau makan?” Gu Fei bertanya.

“Aku tidak tahu, apapun tidak masalah,” Jiang Cheng mengerutkan alisnya. “Aku mati kelaparan, dan merasa sangat kesal.”

“Oke,” Gu Fei berdiri dan memikirkannya. “Aku akan mengajakmu makan makanan favoritku.”


Cheng-ge TWT


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. Da Diao 大 屌 — alat kelamin pria
  2. Diao mengacu pada ‘Da Diao’ (alat kelamin pria); jadi mereka benar-benar… orang brengsek. (mohon koreksi jika aku salah)
  3. Pandangan yang merasa pria jauh lebih unggul dari wanita.
  4. Krepitasi (骨 擦音) — adalah suara dan sensasi berderak yang dialami di bawah kulit dan persendian atau sensasi berderak karena adanya udara di jaringan subkutan. Krepitasi tulang: Ini bisa didengar ketika dua fragmen fraktur digerakkan satu sama lain.
  5. … cinta basah kuyup namun tidak bersuara sama sekali.” (… 润物细无声) – Aku yakin ini berasal dari puisi Du Fu “Delighting in Rain on a Spring Night (Du Fu atau Tu Fu dianggap mamikili kaitan dengan Li Po sebagai salah satu penyair terbesar Tiongkok dari Dinasti Tang) dan puisi itu sendiri memiliki banyak terjemahan dan tafsir, jadi, tergantung pada terjemahan / tafsir mana yang dibaca, ada sedikit perbedaan.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments