• Post category:SAYE
  • Reading time:33 mins read

“Meskipun dia telah tanpa henti mengatakan pada dirinya sendiri bahwa menangis adalah sesuatu yang sia-sia…”


Penerjemah: Jeffery Liu


Ada aturan yang mengatakan bahwa – ketika kau menemui lampu merah sekali, kau akan selalu menemui lampu merah selanjutnya terlepas dari apakah kau mempercepat atau memperlambat kendaraanmu, kau akan selalu menemuinya.

Secara kasar, konsep yang sama berlaku untuk sekarang, begitu kau sudah mempermalukan dirimu sendiri di depan seseorang, kau akan selalu mempermalukan dirimu sendiri saat bertemu orang itu terlepas dari seberapa hati-hatinya dirimu atau seberapa tidak mungkinnya hal itu di dalam pikiranmu — “wajah”-mu tidak pernah menjadi milikmu.

Sama seperti sekarang, lima menit yang lalu Gu Fei masih menuding ibunya seperti dia akan memukulnya, dan lima menit kemudian, dia muncul di trotoar ini — dengan bantuan Dewa – seperti dia bergegas keluar hanya untuk melihat Jiang Cheng mempermalukan dirinya sendiri lagi.

Waktu ketika Jiang Cheng melayang di udara relatif singkat, tetapi dia sangat menyadari pemikiran mendalam yang bisa dibayangkan oleh otak manusia hanya dalam sepersekian detik.

Misalnya, dia tahu bahwa Gu Fei sedang tidak dalam suasana hati yang baik dan dua puluh pon pikiran yang memenuhi otaknya bisa dilihat dalam ekspresinya, siap meledak kapan saja.

Misalnya, dia tahu bahwa meluncur di sudut ini pasti akan membuatnya bertabrakan dengan Gu Fei.

Misalnya, dia tahu bahwa karena kekuatan tabrakan yang akan terjadi tidak mungkin berubah, dampaknya akan sangat besar — Gu Fei akan jatuh.

Misalnya, dia juga tahu bahwa dia harus segera meletakkan tangannya ke samping, atau kalau tidak, ketika keduanya saling bertabrakan, telapak tangannya pasti akan terluka karena hal itu – dan dengan banyak kesulitan – jelas akan berdarah.

Singkatnya, ketika dia merentangkan tangannya lebar-lebar seolah-olah dia bergegas menuju matahari dan meluncur menuju Gu Fei, ekspresi wajah Gu Fei tidak dapat diprediksi.

Jiang Cheng langsung menabrak Gu Fei.

Suara bam yang cukup keras bergema.

Setelah pertama kali dia tahu bahwa berat tubuh manusia dapat membuat suara yang begitu keras karena bertabrakan dengan kayu, dia sekali lagi mengetahui untuk pertama kalinya bahwa manusia yang bertabrakan dengan manusia lain juga bisa menciptakan suara yang begitu stereoskopis.1

Dahinya menabrak tulang selangka Gu Fei terlebih dahulu; Mulutnya membentur sesuatu entah apa, bagaimanapun, dia merasakan giginya sepertinya menggigit sebuah ritsleting atau sesuatu, dan kemudian dia tidak bisa membedakan apa yang terjadi setelahnya — singkatnya, berbagai bagian tubuhnya, baik dalam gerakan cepat atau lambat, semuanya menghantam Gu Fei.

Tubuh Gu Fei bahkan tidak terhuyung mundur ketika tubuhnya tertabrak tubuh Jiang Cheng; pandangannya segera bertemu dengan langit – dia jatuh langsung ke tanah.

Dan Jiang Cheng mengikutinya untuk kemudian jatuh.

Ketika mereka bertabrakan, dia tidak bisa merasakan apakah itu sakit atau tidak, dan ketika sekarang dia sudah jatuh ke tanah, rasanya tidak sakit. Meskipun tubuh Gu Fei tidak gemuk, pada akhirnya, dia masih menjadi bantal di bawahnya.

Ketika Jiang Cheng jatuh ke tanah, dia bahkan memiliki ilusi bahwa lingkungan di sekelilingnya melonjak dengan badai salju.

Setelah beberapa detik, dia menyadari bahwa itu hanyalah ilusi; tidak ada salju di bawah Gu Fei – hanya ada trotoar yang berubin.

Jatuh dengan begitu keras seperti itu membuat keduanya agak bingung.

Jiang Cheng kembali ke akal sehatnya ketika dia mendengar Gu Fei berbisik, “apa-apaan ini” dan dia menggunakan tangannya yang tidak terluka untuk mencoba dan dengan cepat mendorong dirinya ke atas: “Maa …”

Sayangnya, tangannya tidak menemukan tempat yang tepat dan malah menekan ke tulang rusuk Gu Fei.

“Brengsek!” Gu Fei berteriak kesakitan, “Dasar idiot!”

Sejujurnya, Jiang Cheng sedang dalam suasana hati yang sangat buruk — kegembiraan singkat yang dibawa ketika dia berkendara dengan skateboard Gu Miao hanya menyembuhkan gejalanya saja tetapi bukan akar penyebabnya. Lebih jauh lagi, merasa lebih baik hanya dengan bermain skateboard dengan anak sekolah dasar di tengah malam seperti ini bahkan lebih menyedihkan, tidak peduli bagaimana kau mengatakannya.

Kata-kata yang Gu Fei katakan barusan sudah cukup untuk membuatnya sedikit marah … tapi dia adalah orang yang bertabrakan dengan Gu Fei, dan itu juga bukan tabrakan yang ringan. Dia bahkan bisa melihat bahwa ritsleting di jaket Gu Fei telah hilang.

“Brengsek!” Gu Fei mengangkat lengannya dan mendorong tubuh Jiang Cheng ke samping.

“Persetan dengan pamanmu. Aku tidak melakukannya dengan sengaja!” Detik berikutnya, Jiang Cheng merasakan sensasi sakit di giginya; ada sesuatu di mulutnya. Dia menoleh ke samping dan meludah; itu adalah setengah dari kepala sebuah ritsleting.

Ding.

Suaranya terdengar cukup tajam dan jernih.

Begitu dia mendengar suara itu, dia tiba-tiba merasakan semburan rasa sakit dan nyeri di mulutnya. Dia tidak berani memikirkan bagaimana dia bisa benar-benar berhasil menggigit kepala ritsleting jaket Gu Fei; dia tidak berani menjilat gigi depannya untuk memeriksa apakah giginya masih utuh.

“Pasti tidak mudah menjadi bajingan yang sok! Berhentilah berpura-pura sepanjang waktu!” tubuh Gu Fei pasti terjatuh keras sekali, terbukti dengan ekspresi kesal dan marah di wajahnya saat dia mengangkat tangannya, “Xueba!”

“Pergilah, bajingan,” Jiang Cheng didorong olehnya sampai pantatnya menghantam tanah dengan keras; dia segera membalas, “Coba pukul aku lagi dan lihat apa yang terjadi!”

Gu Fei bahkan tidak repot-repot menatapnya saat dia menendang perutnya.

Jiang Cheng merasa bahwa segala sesuatu di dunianya telah menghilang seketika, dan hanya bajingan Gu Fei yang tersisa di hadapannya. Dia melompat dari tanah dan membalas tendangan keras ke arah Gu Fei.

Gu Fei dengan cepat bergerak ke samping untuk menghindarinya, dan hasilnya Jiang Cheng hanya menghantam udara kosong, namun, dia tidak ragu untuk terus menghajarnya lagi dan tendangannya dengan cepat mendarat di punggung Gu Fei.

“Brengsek!” Tangan Gu Fei berputar ke belakang untuk meraih betisnya.

Saat Jiang Cheng jatuh kembali ke tanah, kaki lainnya tidak lupa untuk berayun ke arah wajah Gu Fei untuk sebuah serangan yang mantap dan kuat.

Gu Fei menggunakan lengannya untuk menahan serangan itu, lalu menerkam dan mengangkangi tubuhnya, kemudian meninju wajahnya.

Bajingan! Dia sangat kuat!

Sialan!

Serangkaian bintang-bintang mirip dengan lampu kereta kecil melintas di depan mata kiri Jiang Cheng, tetapi dia mengabaikan semuanya dan mengangkat tangannya, mengayunkannya dengan kejam ke arah dagu Gu Fei — wajah Gu Fei terbang ke atas.

Dia menggunakan kesempatan itu untuk menyerang tulang rusuk Gu Fei … tapi tidak berhasil karena Gu Fei dengan cepat meraih pergelangan tangannya.

Langkah selanjutnya yang diambil Gu Fei adalah sesuatu yang tidak dia duga; jari telunjuknya menekan luka di telapak tangan Jiang Cheng dengan kuat.

“Ah——” Jiang Cheng meraung, gerakan menekan yang begitu kuat itu mirip dengan menyalakan saklar listrik; dia tiba-tiba menekuk kakinya dan menepuk lututnya di punggung Gu Fei.

Gu Fei mencondongkan tubuhnya ke depan dan meletakkan tangannya di sisi kepalanya.

Mencoba curang, mencoba bermain curang hah, baiklah!

Dia memiringkan kepalanya dan menggigit pergelangan tangan Gu Fei.

“Ahhh!” Gu Fei juga berteriak kesakitan, dan karena Jiang Cheng menggigitnya tanpa tanda-tanda untuk melepaskannya, Gu Fei hanya bisa dengan cepat mencubit pipinya.

Anjing ini tangan sialannya keras sekali, Jiang Cheng merasakan pipinya yang terjepit benar-benar ditusuk dan gelombang rasa sakit dan nyeri yang hebat segera mengikutinya.

Tetapi pada saat ini, dia yakin bahwa gigi depannya masih ada, tidak hanya masih ada, dia juga merasakan giginya cukup kuat dan siap memberikan serangan kapan saja – setidaknya begitu.

Bersamaan dengan pertarungan mereka yang berkembang menjadi jenis pertarungan yang begitu idiot, dan keduanya yang masih berkelahi di tanah dan tidak terpisahkan, sebuah suara terdengar dari samping: “Gu Fei?”

Dengan keduanya yang masih berada di tengah-tengah pertarungan yang begitu bersemangat itu, mereka sama sekali tidak bisa tenang meskipun mereka berdua sudah mendengar suara itu; sebaliknya, mereka terus melanjutkan perkelahian mereka dengan sangat serius, dengan motivasi ‘kau memukulku, aku akan balas memukulmu‘.

“Gu Fei!” Orang itu berteriak marah dan kemudian berhenti dan berteriak sekeras mungkin sekali lagi, “Jiang Cheng? Apa… bangunlah! Kalian berdua, bangunlah sekarang!”

Faktanya, Jiang Cheng sudah mengetahui bahwa itu adalah suara Lao Xu sejak dia pertama kali mendengarnya, tetapi dia bahkan tidak punya waktu untuk bertanya mengapa Lao Xu tiba-tiba muncul di sini, pada saat ini.

“Kalian berdua hentikan!” Lao Xu menghampiri keduanya dan menendang mereka berdua, “Apa yang kalian berdua lakukan, apa ini?! Sudah cukup!”

Keduanya akhirnya berhenti pada saat yang bersamaan.

Tapi mereka hanya berhenti; seolah-olah tombol jeda telah ditekan, posisi mereka masih tetap tidak berubah.

Gu Fei memegang kerah Jiang Cheng dengan satu tangan sementara tangan lainnya sedang digenggam olehnya; keduanya setengah berlutut, setengah bersandar dengan kuncian tak terpisahkan, tidak berani menyerah dengan mudah. Setelah serangan berupa tekanan kuat di telapak tangan dan gigitan di pergelangan tangan sebelumnya itu, akankah lawan akan menggunakan trik kekanak-kanakan lainnya –– keduanya tidak bisa menentukan hal ini dengan pasti.

“Ayo bangun!” Lao Xu menarik lengan mereka selama beberapa waktu sampai mereka akhirnya berpisah.

“Apa yang sebenarnya terjadi!” Lao Xu menatap Gu Fei, “Bagaimana kau bisa berkelahi dengan teman sebangkumu?!”

“Apa kau hanya melihat aku yang memukulnya?” Gu Fei menyeka sudut mulutnya, “Apa kau buta?”

Lao Xu sama sekali tidak peduli dengan kata-kata marah Gu Fei saat dia menoleh untuk melihat Jiang Cheng, “Dan ada apa denganmu? Kau anak baik, kenapa kau berkelahi dengan orang lain?”

“Kubilang,” Jiang Cheng menggenggam tangannya sendiri, tidak ada rasa sakit yang akut – hanya mati rasa. “Jangan menilai seseorang dari nilai mereka, tidak pernah ada guruku yang mengatakan bahwa aku adalah anak yang baik.”

“Hei!” Lao Xu menghela napas, menunjuk ke seberang jalan dan berkata pada Gu Fei, “Itu adikmu! Lihat, kau sudah menakuti gadis kecil itu sampai dia lari ke sana!”

Jiang Cheng, saat ini, teringat bahwa Gu Miao masih ada di dekatnya; dia tiba-tiba merasa sedikit tidak nyaman, namun, ketika dia berbalik, dia membeku. Gu Miao tengah duduk sendirian di atas sebuah batu di seberang jalan, memegang pipinya di kedua tangannya sambil dengan tenang melihat ke atas.

Atau lebih tepatnya, itu bukan ‘dengan tenang’, tetapi itu adalah suatu ketidakpedulian – benar-benar tidak peduli dengan apa yang terjadi di depannya.

“Dia tidak takut dengan perkelahian,” kata Gu Fei.

Jiang Cheng tidak lagi mengatakan apa-apa, Gu Miao memang agak aneh … Gu Fei sebelumnya memblokir garis pandang Gu Miao dari tangannya yang terluka dengan sangat hati-hati, Gu Miao pasti takut darah.

Tapi sekarang dia dan Gu Fei baru saja berkelahi sampai sebidang tanah ini praktis dibersihkan, tapi gadis itu tampak begitu acuh tak acuh. Jiang Cheng teringat saat Gu Fei menghantamkan pria sebelumnya ke pohon – dan gadis itu tetap melanjutkan memakan makanannya bahkan tanpa mengangkat kepalanya sedikit pun.

Ada apa dengan gadis kecil ini?

“Kalian berdua, bersihkan diri kalian,” kata Lao Xu, merasa sudah tidak bisa mendapat jawaban apapun dari mereka berdua saat dia menunjuk ke tas sekolah mereka di tanah. “Aku kebetulan ingin mampir untuk kunjungan rumah. Kita akan membahas perkelahian di antara kalian berdua dulu.”

Kunjungan rumah?

Jiang Cheng agak terkejut, seorang wali kelas masih melakukan kunjungan rumah setelah pukul sembilan sambil menahan embusan angin utara yang sedingin ini… dia sejujurnya tidak tahu harus berkata apa lagi.

“Berkunjung ke rumah siapa?” Gu Fei merapikan pakaiannya, tetapi ketika dia menundukkan kepalanya untuk menarik ritsletingnya, dia menemukan bahwa kepala ritsletingnya hilang. Dia berbalik untuk melihat Jiang Cheng.

Jiang Cheng balas menatapnya.

Apa yang kau lihat sialan, aku memakannya!

“Aku sudah berjalan sampai di sini, menurutmu rumah siapa yang akan aku kunjungi,” Lao Xu menghela napas, “Rumahmu, tentu saja.”

Gu Fei terdiam beberapa saat lalu berbalik untuk berjalan kembali: “Kalau begitu, ayo pergi.”

“Tunggu sebentar,” Lao Xu mungkin tidak berharap dia akan bersikap begitu terus terang, “Aku juga ingin tahu mengapa kalian berdua sampai berkelahi.”

“Hanya bosan,” Gu Fei kembali menatapnya, “Kau mau pergi atau tidak?”

Lao Xu tidak yakin apakah dia harus melakukan kunjungan rumah terlebih dahulu atau menyelesaikan permasalahan di antara mereka, sehingga ketika dia berniat mengambil langkah maju, dia berhenti hanya untuk mundur selangkah, memikirkannya dan bergerak maju kembali.

“Aku akan pulang,” ucap Jiang Cheng pada akhirnya, “Terima kasih, Xu Zong.”

Tanpa menunggu Lao Xu berbicara, Jiang Cheng berbalik dan pergi.

Gu Fei bersiul dari belakangnya. Jiang Cheng tidak berbalik, mengira bahwa dia memanggil Gu Miao, dan benar saja, Jiang Cheng segera mendengar suara roda skateboard Gu Miao berguling di tanah.

Dia mendesah pelan, malam ini … cukup bagus ah.

Kegiatan perjudian di tempat Li Baoguo masih berlangsung; Orang-orang itu tampak tenggelam di depan meja mereka untuk waktu yang lama, seolah-olah seluruh hidup mereka hanya bergantung di depan papan persegi berkaki itu, memaksa keingintahuan dan gosip yang mencekam sebelumnya tidak bisa menandingi selusin kartu-kartu yang terus dibuka dan dibalik di depan mereka.

Setelah kejadian pengamatan singkat dan komentar yang terjadi di sekitarnya yang dilakukan oleh orang-orang itu pada sore tadi, Jiang Cheng menghilang dari pandangan mereka. Sekarang setelah dia kembali, tidak ada banyak pandangan yang mengarah padanya dari siapa pun dan hanya Li Baoguo yang berkata: “Kau sudah pulang? Kami sudah makan dari kotak makan, kau mau makan apa?”

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku,” kata Jiang Cheng dan segera masuk ke dalam kamarnya.

Dia melepas jaketnya untuk memeriksanya dan melihat bahwa jaket itu benar-benar kotor dan tertutup tanah, bersama dengan dua bagian yang rusak.

Sial, dia mengerutkan kening, aku baru saja membelinya hari ini!

Memperkirakan bahwa wajahnya juga tidak dalam kondisi terbaik, dia mengelilingi ruangan kamarnya dua kali dan menyadari bahwa bahkan tidak ada cermin di mana pun; dengan itu, dia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menyalakannya.

Setelah menerima beberapa kehangatan, ponselnya berhasil menyala kembali.

Dia mengarahkan kamera ponsel ke wajahnya sendiri dan menatap pantulan dirinya di sana.

Ada titik bengkak di dahinya meskipun tidak serius dan luka kecil di bibir bawahnya — mungkin dari saat dia menabrak dan tidak sengaja menggigit ritsleting Gu Fei.

Di tempat lain baik-baik saja, hanya ada goresan kecil.

Dia menghela napas, tidak yakin bagaimana perasaannya sekarang.

Nyatanya, pertarungan mereka sebelumnya sedikit… sembrono. Masuk akal untuk mengatakan bahwa dia juga biasanya tidak berkelahi seperti itu — bermain-main di lumpur dengan babi; rasanya bahkan lebih seperti dia sendiri, sedang melampiaskan amarahnya.

Dia tidak yakin sejauh mana dia ingin bertarung dengan Gu Fei; dia hanya ingin bertarung, mencabik-cabik sesuatu, dan berjuang untuk terbebas dari belenggu yang membungkus erat tubuhnya — jenis belenggu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa disentuh atau bahkan entah apa yang mengikatnya.

Adapun Gu Fei, dia tidak tahu apakah dia hanya terpengaruh olehnya … tapi untuk seseorang yang bisa dengan begitu saja mengayunkan tinjunya dan juga tiba-tiba berguling di tanah sepenuhnya tanpa gaya, dan menggigit telapak tangannya — sial! Mengapa para anteknya tidak ada di sana untuk menyaksikannya!

Hei, bosmu adalah cacing yang berguling-guling di tanah!

Jiang Cheng melihat tangannya sendiri hanya untuk melihat bahwa darah telah merembes melalui kain kasa yang membalut lukanya.

Dia mengobrak-abrik tas sekolahnya – sebelumnya pada hari itu, dia sudah mengambil beberapa bantalan alkohol, bola kapas dan yang lainnya dari rumah sakit tetangga — untungnya, semua itu tidak hancur.

Dia membuka kain kasa yang membalut luka di tangannya dan menggunakan tangan kirinya untuk membilas tangan kanannya hingga bersih dan mendisinfeksinya — meskipun gerakannya agak lambat dan sedikit merasa kesulitan. Namun, karena dia tidak terampil untuk menggunakan tangan kirinya, dia menusuk lukanya beberapa kali, dan rasa sakit luar biasa yang menyerangnya hampir memicu air mata mengalir di wajahnya.

Dia benar-benar ingin menangis. Meskipun ia telah tanpa henti mengatakan pada dirinya sendiri bahwa menangis adalah sesuatu yang sia-sia, itu sudah cukup lama sejak ia tiba di sini setelah liburan; dari waktu ke waktu, dia merasa sangat tertekan sehingga dia ingin menangis.

Dia selalu merasa bahwa ada suatu hari ketika dia benar-benar ingin menemukan tempat yang benar-benar kosong tanpa kehadiran manusia bagi dirinya sendiri untuk membiarkan air matanya mengalir – dengan liar, dan ganas.

Ketika dia bangun di pagi hari, pesta judi di rumah itu akhirnya berakhir meskipun dia melihat bahwa masih ada dua pria yang tidur di sofa di ruang tamu dan Li Baoguo yang sedang mendengkur di atas tempat tidur; benar-benar menghancurkan bumi.

Tanpa berhenti sedetik pun setelah dia selesai mandi, dia mengambil tas sekolahnya dan pergi.

Sebelum tiba di sekolah, pusat pengiriman meneleponnya sekali lagi: “Ini sudah tiga hari, besok akan menjadi hari terakhir. Kalau kau tidak datang untuk mengambil barangnya, akan ada biaya, lho!”

“Apa kau bisa mengirimkannya saja?” Jiang Cheng menghela napas.

“Kami bisa; untuk 200 yuan kita bisa mengantarnya sampai di lantai bawah,” orang di seberang telepon berkata, “Ada biaya tambahan kalau kau perlu membawanya ke atas.”

Jiang Cheng tidak berbicara; tanpa diduga, dia merasa menyayangkan uang itu.

“Menurutku kau lebih baik datang dan mengambilnya sendiri,” orang lain di seberang telepon terdengar cukup perhatian, “Kami memiliki banyak kendaraan roda tiga di sini dan bisa disewa dengan biaya 100 yuan terpisah.”

“Oke, aku mengerti,” kata Jiang Cheng.

Besok hari Sabtu, itu bagus.

Memikirkannya lagi, dia merasa sedikit khawatir; kamar tidurnya saat ini memiliki tempat tidur dan lemari pakaian yang menempati hampir seluruh ruangan, dan meja belajarnya dipenuhi dengan barang-barang yang saling berdesakan. Dia tidak yakin di mana lagi dia harus meletakkan semua barang miliknya.

… Mungkin ibunya tidak mengemas semuanya — mungkin tidak sebanyak itu.

Dia masih mengenakan masker saat dia berjalan ke ruang kelas, dan luka bengkak di dahinya yang sudah sedikit menghilang ditutupi oleh rambutnya yang membuatnya tidak bisa dilihat; pakaian yang dia kenakan hari ini juga bukan milik Gu Fei, jadi dia berjalan langsung ke kursinya dan duduk tanpa ada yang memperhatikan sesuatu yang tidak biasa tentang dia.

Siapa yang tahu apa yang dikatakan Lao Xu kepada Gu Fei selama kunjungan rumah kemarin, tetapi Gu Fei secara ajaib memasuki ruang kelas tepat sebelum bel pagi berbunyi.

Jiang Cheng menatapnya dan segera tertegun.

Gu Fei sama sekali tidak menerima luka di wajahnya; hanya ada goresan kecil di sisi dagunya … yang juga membuatnya terkejut adalah bahwa bajingan ini sebenarnya memakai kacamata!

Sialan! Untuk apa kau berpura-pura menjadi xueba, huh!!

Jiang Cheng memelototinya.

Yang lebih aneh lagi adalah setiap orang yang melihat Gu Fei tampak tidak terkejut sedikit pun, ini berarti mungkinkah dia… sering memakai kacamata?

Ini mengingatkannya pada Pan Zhi, yang memiliki mata minus tapi gigih tidak mau memakai kacamata.

“Apa pantas bagiku untuk memakai kacamata dengan nilai seperti itu!” Pan Zhi berkata, “Aku lebih suka tidak melihat dengan jelas!”

Lihat saja betapa ambisiusnya Pan Zhi, dia bahkan memiliki beberapa pulpen…

Gu Fei berjalan dan melempar tasnya di depan Jiang Cheng sebelum dia duduk.

Jiang Cheng membuka tas itu untuk memeriksana, di dalamnya ada sweter dan tugas sekolah miliknya.

Brengsek! Tugasnya!

Dia sebenarnya lupa untuk mengambil kembali tugasnya setelah pertarungan kemarin!

… Melawan orang itu dan membiarkan dia menyalin tugas miliknya, ini benar-benar sangat kacau.

“Bengkaknya belum sembuh juga ya?” Kata Gu Fei dari samping.

Jiang Cheng menoleh untuk melihatnya, mencoba untuk membedakan apakah dia sedang meminta maaf atau bersukacita dengan nada yang dia gunakan saat itu, tetapi dia tidak berhasil. Gu Fei mengatakan kalimat itu seperti mengatakan bahwa hari ini hari Jumat – tanpa sedikit pun emosi.

Jadi dia memutuskan untuk tidak menjawab.

“Da Fei,” Zhou Jing bersandar di meja mereka, “Da Fei!”

Gu Fei mengangkat kacamatanya untuk menatapnya.

“Da Fei?” Zhou Jing menoleh ke samping, “Hei Da Fei …”

Gu Fei menampar bagian belakang kepalanya.

“Kenapa kau tidak datang kemarin? Apa kau pergi keluar untuk berjalan-jalan?” Zhou Jing bertanya, menyentuh bagian belakang kepalanya.

“Tidak,” kata Gu Fei.

“Aku pikir kau akan mengulangi apa yang kau lakukan semester lalu, membolos kelas untuk jalan-jalan,” kata Zhou Jing.

Gu Fei menghela napas dan menatapnya: “Kau mau membolos kelas satu hari hanya untuk jalan-jalan?”

“… Itu benar, satu hari tidak akan cukup,” kata Zhou Jing, “Hei kau…”

“Enyahlah,” Gu Fei menggunakan kesimpulan sederhana ini pada akhirnya.

Kelas hari ini tidak berbeda dari dua hari sebelumnya; guru hanya asyik mengajar sendiri dan siswa, asyik dengan permainan mereka sendiri – sebuah perpaduan yang menguntungkan dan damai.

Gu Fei juga sama seperti biasanya; pertama, dia memainkan permainan yang sama dan kemudian setelah dia kehabisan nyawa, dia memakai earphone dan mulai menonton beberapa video.

Jiang Cheng tidak menahan diri saat matanya menyapu ke arahnya beberapa kali.

Gu Fei adalah tipe orang yang, kalau kau tidak melihat ke arah matanya, akan membuat orang lain merasa bahwa dia sebenarnya cukup lembut, dan cara dia berpakaian cukup nyaman dan senada; dengan kacamata itu, dia tampak bukan seperti dirinya: xueba yang sebenarnya.

Sebenarnya, Jiang Cheng agak terkejut dengan sifatnya yang tidak bisa dipahami ini.

Setelah meliriknya beberapa kali, dia mengembalikan perhatiannya kembali kepada gurunya karena tidak peduli seberapa buruk ceramah gurunya, dia harus mendengarkan, dan terlepas dari apakah dia sedang berbaring di mejanya setengah tertidur dan setengah bangun, dia harus mendengarkan poin kuncinya.

Jiang Cheng tidak pernah mengakui bahwa dia adalah tipe orang yang bisa mengerjakan ujian dengan baik tanpa belajar karena dia cukup tahu dengan jelas tentang berapa banyak waktu yang dia habiskan untuk belajar. Namun di lingkungan kelas saat ini yang dibalut dengan suasana belajar seperti ini, hal itu justru membuatnya sedikit gugup.

Dia tidak terlalu menghargai nilainya di sekolah sebelumnya, tetapi dia sama sekali tidak ingin nilai-nilainya turun setelah pindah ke Si Zhong.

Di kelas terakhir hari itu yang merupakan kelas bahasa Inggris, hasrat Lao Lu terpancar ke mana-mana — mungkin, karena besok adalah akhir pekan, dan semua siswa agak linglung sehingga dia ingin membangunkan mereka.

Sebaliknya, Jiang Cheng sangat serius memperhatikan — bahkan dengan posisinya yang setengah berbaring di meja.

“Mari kita membahas tugas hari ini!” Kata Lao Lu sebelum kelas berakhir sambil menampar meja, “Semua tugas kalian bahkan bisa dipamerkan dalam sebuah pameran! Tugasnya begitu sederhana tapi ada ratusan jenis jawaban!”2!”

“Kelas kita bahkan tidak memiliki seratus orang,” jawab Wang Xu.

Seluruh kelas tertawa.

“Kau! Wang Xuri!” Lao Lu mengarahkan penunjuknya padanya, “Yang tidak berguna adalah dirimu3! Kalau pun semua organ di tubuhmu berhenti berkembang, mulutmu pasti akan tetap ada!”4

Wang Xu mendorong meja, dengan suasana hati yang agak buruk.

“Tidak senang huh, datanglah ke kantorku setelah kelas!” Lao Lu meraung dan kemudian tanpa menunggu reaksi apapun dari Wang Xu, penunjuknya mengarah ke arah Jiang Cheng — menunjuk ke arah ini dan kemudian menunjuk ke arah itu. “Gu Fei!”

“Di sini,” Gu Fei mendongak.

“Katakan padaku, apa kau punya masalah! Tugasmu hasil dari mencontek, bukan? Pasti mencontek!” Lao Lu berkata berturut-turut, “Apa kau menyalin pekerjaan orang lain?! Kau bisa mengatakannya, kau pasti menyalin tugas orang lain! Benar ‘kan?!”

Gu Fei menunggu lama tanpa menemukan celah untuk menjawabnya.

“Kau menyalin tugas milik orang lain! Kalau kau memang menyalinnya, pintarlah sedikit, oke? Apa kau mengerti?!” Lao Lu menampar meja, “Kau menyalin semua jawabannya dengan benar, bahkan tidak ada satu pun yang salah! Tidak satu pun! Katakan padaku! Tugas siapa yang kau salin!”

Kali ini, dia benar-benar memberi Gu Fei waktu untuk menjawab.

Gu Fei terdiam sejenak dan kemudian mengangkat jarinya dan menunjuk Zhou Jing: “Dia.”

“Zhou Jing!” Lao Lu langsung berteriak dengan marah, sambil menunjuk ke arah Zhou Jing, “Kau luar biasa ah! Bagaimana kalau memberikan komentar tentang dirimu yang senang membantu orang lain dalam evaluasimu untuk semester ini?!”

Zhou Jing terkejut ketika dia berbalik untuk melihat Gu Fei, yang masih menunjuk ke arahnya – dia membuka mulutnya tetapi tidak ada satu pun kata-kata yang keluar.

Lao Lu mengambil semua tugas itu sambil mengutuk dan dia terus mengutuk sampai kelas berakhir; dia mengayunkan penunjuk ke bawah lengannya dan berjalan keluar kelas.

“Sial,” Zhou Jing berbalik, “Tugas siapa yang kau salin, huh?”

Gu Fei meliriknya tanpa mengatakan apapun.

Zhou Jing bertekad sesaat lalu berdiri: “Lupakan, siapa peduli.”

Setelah Zhou Jing pergi, Jiang Cheng memandang Gu Fei, tidak tahu apa yang harus dia katakan.

Er Miao akan menunggu di gerbang sekolah sebentar lagi,” kata Gu Fei sambil merapikan tas sekolahnya, “Kau harus pergi bersamanya.”

“En?” Jiang Cheng membeku, “Aku baru saja berkelahi dengan kakaknya, aku tidak ingin pergi dengannya.”

“Coba saja,” kata Gu Fei.

“Oke, sialan,” Jiang Cheng sedikit marah. “Kalau begitu, aku akan mencobanya.”

Gu Fei tidak berbicara; setelah beberapa saat, dia menarik napas dalam-dalam: “Bantu aku, terima kasih.”

“Oh, kau pasti sangat menderita ya.” Jiang Cheng tiba-tiba merasa lega.

“Ya,” kata Gu Fei.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. Seperti ilusi. JC tidak menyangka suara yang ditimbulkan dari tabrakan mereka berdua bisa begitu keras.
  2. 你们的作业可以去开个展览叫这么简单的作业都写不出来的一百种姿势!! Berarti: “Semua jawaban kalian salah! Tugas yang mudah tapi ada banyak sekali (seratus jenis) jawaban yang salah
  3. 废物 点心- pecundang; Lao Lu sangat buas huhu
  4. 要人!类器官都退化了你肯定是就剩嘴 – Artinya: “Kau hanya bisa bicara tapi tidak bisa berbuat apa-apa” Ini setara dengan, “Hanya bicara dan tidak ada tindakan” / “Hanya bicara tetapi tidak ada gonggongan” (ketika seseorang yang terus-menerus berbicara tentang melakukan sesuatu tetapi tidak pernah mengambil tindakan atau menindaklanjutinya.)
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments