• Post category:SAYE
  • Reading time:34 mins read

Penerjemah: Jeffery Liu


“Brengsek, siapa yang kau potret!” Jiang Cheng mengumpat, dan karena teman kecil kita, Gu Miao tidak ada disana saat ini, tidak penting apakah kata-katanya sopan atau tidak.

Gu Fei tidak berbicara dan terus memotret Jiang Cheng.

Jiang Cheng merasa seolah-olah semua ekspresi tidak menyenangkan di wajahnya membeku dengan paksa bersama waktu.

“Aku bertanya padamu!” Dia berjalan di depan Gu Fei dan mengulurkan tangan untuk mencoba mengambil kamera di tangannya.

Gu Fei dengan cepat menggeser kamera ke belakang: “Dua ratus enam puluh tujuh tahun.”

“Apa?” Jiang Cheng membeku dengan kebingungan, “Dua ratus enam puluh … berapa?”

“Dua ratus enam puluh tujuh,” ulang Gu Fei sekali lagi.

“Siapa yang berumur dua ratus enam puluh tujuh tahun?” Jiang Cheng bertanya.

“Kakek Xiao Ming,” jawab Gu Fei.

Jiang Cheng balas menatapnya selama tiga puluh detik penuh, tidak yakin apakah dia benar-benar tidak bisa mengatakan sepatah kata pun atau dia tengah berusaha mati-matian untuk menahan tawa yang menumpuk di dalam hatinya.

Pada akhirnya, dia menunjuk ke arah kamera Gu Fei: “Berikan padaku atau kau hapus sendiri.”

“Kenapa kau tidak melihatnya dulu?” Gu Fei menyerahkan kamera padanya.

Jiang Cheng tiba-tiba menjadi gugup ketika dia mengambil alih kamera itu, kamera Gu Fei sangat berat dan dia merasa jika dia tidak cukup berhati-hati, kamera itu akan jatuh ke tanah. Tapi, dia kemudian menjadi sangat bingung setelah dia melihat sekelompok tombol yang ada di kamera itu.

Apalagi mencoba menghapus, bahkan untuk melihat-lihat fotonya, dia tidak tahu harus menekan tombol yang mana.

“Ini.” Gu Fei mengulurkan tangan dan menekan salah satu tombol di kamera, yang membuat foto-foto muncul di layar.

Ada total empat foto saat Jiang Cheng diam-diam menekan tombolnya beberapa kali.

Dia tidak pernah mengembangkan minat dalam fotografi, tidak peduli apakah itu dirinya sendiri yang mengambil foto pemandangan atau orang lain yang mengambil foto dirinya – dia lebih suka menggunakan matanya untuk melihat.

Meskipun dia biasanya merasa bahwa dia cukup tampan, dia masih akan secara tidak sengaja sedikit takut jika ada sebuah kamera di depannya … namun, orang yang ditampilkan di kamera Gu Fei tidak terduga – cukup bagus.

Fotonya cukup akurat, en.

Ekspresi ganas yang dia khawatirkan ikut terpotret sama sekali tidak ada – hanya ada sedikit kekesalan yang terlihat.

Dan foto pertama – dia sangat menyukainya.

Latar belakang yang kacau namun sunyi yang mendapat efek kabur dari pengaturan fokus yang profesional membuat tampilan dirinya di dalam foto memiliki kesan kepekaan melankolis yang samar, menyebabkan otaknya tiba-tiba memikirkan sebuah kalimat — rumahku ada di tempat lain — tanpa alasan.

Dan dirinya, yang berjalan menuju kamera di bawah sinar matahari terbenam… tidak banyak yang bisa dikatakan, kesampingkan juga mengenai ketampanannya.

Setelah dia melihat-lihat fotonya sendiri dua kali, Jiang Cheng tidak yakin apa yang harus dia lakukan selanjutnya.

“Tombol di sudut kanan bawah untuk menghapus,” kata Gu Fei.

“Aku tahu,” jawab Jiang Cheng agak canggung.

Orang yang mengatakan untuk menghapus foto-foto itu sebelumnya adalah dirinya sendiri, tetapi orang yang ingin menarik kembali kata-katanya setelah melihat foto itu juga adalah dirinya sendiri. Lagipula, dia tidak pernah difoto dengan hasil yang memancarkan perasaan yang begitu intens seperti ini.

Selama Tahun Baru Imlek terakhir kali, keluarganya benar-benar pergi ke studio fotografi untuk mengambil foto keluarga. Awalnya, dia berpikir bahwa hasilnya mungkin akan cukup baik, namun pada akhirnya, ketika foto itu dicetak, Jiang Cheng hampir merobeknya. Karena masalah ini, dia bahkan bertengkar lagi dengan orang tuanya dan tidak pulang ke rumah selama dua hari…

Pikirannya sepertinya melayang terlalu jauh. Jiang Cheng mundur dari pikirannya dan memandang Gu Fei.

“Kau cukup fotogenik,” kata Gu Fei. “Kalau kau tidak keberatan, aku ingin menyimpannya – sebelumnya aku juga sudah mengambil banyak foto teman sekelas kita dan menyimpan semuanya.”

Tangga1 yang diberikan Gu Fei datang tepat waktu, Jiang Cheng ragu-ragu sejenak: “Ingin kau gunakan untuk apa foto sebanyak itu?”

“Rasanya menyenangkan,” jawab Gu Fei.

“… Oh,” Jiang Cheng mengangguk. Memiliki kemampuan untuk dengan sempurna membunuh setiap percakapan memang sesuatu yang cukup mengagumkan yang dimiliki Gu Fei. Pencinta fotografi.

“Bagaimana kalau aku mengirimimu permintaan pertemanan di WeChat,” Gu Fei mengeluarkan ponselnya. “Aku akan mengedit foto-foto itu dan mengirimimu salinannya?”

Jiang Cheng sangat ingin menolak – Aku tidak tertarik dengan hal itu.

Tapi saat dia membuka mulutnya, dia akhirnya menganggukkan kepalanya: “Oh.”

Dengan kamera masih di tangannya, Jiang Cheng tidak yakin apa yang harus dia lakukan setelah dia mengatakan “oh”. Gu Fei juga tidak bersuara, rupanya, dia cukup terbiasa dengan keheningan canggung yang terkendali ini.

“Apa aku boleh melihat-lihat beberapa foto lain?” Jiang Cheng bertanya. Dia masih tidak bisa menghubungkan antara Gu Fei dan kamera profesional yang keren ini.

“Tentu,” jawab Gu Fei.

Mayoritas foto yang diambil Gu Fei adalah foto jembatan dan matahari terbenam. Dari sinar cahaya yang tertangkap foto itu, orang bisa melihat bahwa Gu Fei menghabiskan sebagian besar sore hari di sini, dan juga ada banyak foto lainnya — beberapa adalah pemandangan, beberapa juga adalah potret orang-orang yang berjalan melintasi jembatan.

Jiang Cheng tidak tertarik pada fotografi, tetapi apakah sebuah foto bagus atau tidak, dia masih bisa membedakannya.

Foto-foto yang diambil Gu Fei sangat profesional, komposisi struktural dan palet warna dari foto-fotonya sangat menarik suasana hangat dari sekitarnya. Jika bukan karena fakta bahwa Jiang Cheng berdiri di tempat yang persis sama dan merasakan embusan angin utara di tubuhnya, maka hanya dengan melihat foto itu akan membuat seseorang merasa senyaman duduk bersandar pada kehangatan tungku.

Saat Jiang Cheng terus menekan tombol yang sama pada kamera untuk melihat foto-foto itu beberapa kali, dia merasa bahwa foto-foto itu mungkin bukan foto yang diambil hari ini.

Kebanyakan dari mereka adalah pemandangan jalanan.

Pepohonan dan rumah-rumah tua, tumpukan salju dan anjing liar, daun-daun berguguran dan kaki dari pejalan kaki yang lewat … benda-benda yang luar biasa biasa namun terabaikan.

Tepat ketika dia hendak mengklasifikasikan ini sebagai gaya memotret Gu Fei, foto Gu Miao yang membungkuk dengan tangannya meraih ke atas skateboard dan melompat ke langit yang cerah dan sosoknya diterangi cahaya matahari, menyebabkan dia tidak sengaja mengeluarkan “ah” dengan perasaan takjub .

“En?” Gu Fei sedang bersandar di pagar jembatan sambil merokok; dia menoleh setelah mendengar Jiang Cheng.

“Aku bisa merasakan kesan di balik foto ini, Gu Miao sangat keren,” Jiang Cheng membalik layar kamera untuk menghadap Gu Fei. “Ninja kecil terbang.”

Gu Fei tersenyum: “Dia terbang beberapa puluh kali sebelum akhirnya aku bisa memotretnya.”

Jiang Cheng menatapnya lebih lama. Kepribadian Gu Fei cukup sulit untuk ditebak, dia biasanya menunjukkan suasana ‘tidak ada urusannya denganku, ibu tiriku adalah alien, dan aku seorang pembunuh percakapan’, tetapi pada saat-saat ketika dia bersama Gu Miao atau ketika dia membicarakan Gu Miao, sikapnya juga akan melunak.

Sangat keibuan.

Jiang Cheng teringat topi wol rajutan milik Gu Miao.

Seutas benang di tangan kakak laki-lakinya yang tercinta…2

Dan adegan ini bahkan dipasangkan dengan soundtrack.

Wake up and make love with me, wake up and make love3

Kecuali soundtrack itu yang tampaknya agak tidak cocok.

“Ponselmu berbunyi,” kata Gu Fei.

“Oh.” Jiang Cheng mengembalikan kamera kepada Gu Fei, mengeluarkan ponselnya dengan cara yang sedikit canggung.

Wake up and make love with me…

“Cheng Cheng ah?” ledakan suara Li Bao Guo terdengar dari ujung yang lain.

“Kau … memanggilku apa?” Perasaan merinding di tubuh Jiang Cheng naik dan turun seperti ombak yang bergulung.

Gu Fei kemungkinan besar mendengarnya dan meskipun dia dengan cepat memalingkan wajah darinya, Jiang Cheng masih bisa melihat senyum di sisi wajahnya.

Sial.

“Apa kau sudah hampir sampai di rumah?” Li Bao Guo bertanya. “Cepat dan kembalilah, kakak laki-laki dan perempuanmu pulang, mereka menunggumu untuk bisa makan malam bersama!”

“Oh,” Jiang Cheng tiba-tiba merasakan gelombang suram – bukan hanya karena rencananya untuk pergi makan pangsit gagal, tapi juga karena dia ditarik kembali ke dunia nyata dan harus menghadapi orang-orang yang tidak pernah dia temui tapi tiba-tiba sekarang mereka menjadi sebuah keluarga. Dia tiba-tiba tidak bisa menggerakkan kakinya, “Aku mengerti.”

“Apa kau mau pulang?” Gu Fei bertanya setelah dia menyimpan kameranya.

“En,” jawab Jiang Cheng.

“Ayo pulang bersama. Aku juga mau pulang,” kata Gu Fei.

“Naik motor?” Jiang Cheng bertanya.

“… Aku berjalan ke sini.” Gu Fei menatapnya.

“Oh,” Jiang Cheng berbalik dan mulai berjalan pulang.


Setelah matahari terbenam, suhu mulai turun dengan drastis, dan keduanya berjalan sambil melawan embusan angin utara yang cukup kencang.

Ketika tubuh mereka mulai menghangat dari saat-saat mereka berjalan kaki, Jiang Cheng berbalik dan melihat ke arah Gu Fei: “Apa kau kenal Li Bao Guo?”

“Orang-orang dari jalan-jalan sekitar kurang lebih saling mengenal satu sama lain,” jawab Gu Fei. “Kakek, nenek, paman, bibi, kakak laki-laki, dan kakak perempuan… kita semua adalah kenalan lama di lingkungan ini.”

“Oh, lalu… orang macam apa dia?” Jiang Cheng terus bertanya.

Gu Fei menarik topinya dan menoleh: “Dia itu siapamu?”

Jiang Cheng tidak yakin bagaimana menjawab pertanyaan ini. Dia menarik masker yang ada di bawah dagunya dan menutupi sebagian besar wajahnya – baru kemudian dia sedikit rileks.

“Ayah… ayah kandungku,” jawabnya.

“En?” Gu Fei mengangkat alisnya karena terkejut. “Ayah kandungmu? Li Bao Guo memiliki dua putra? Tapi sekarang setelah kau menyebutkannya … kau dan Li Hui memang terlihat mirip. “

“Aku tidak tahu,” jawab Jiang Cheng dengan kesal. “Itulah yang diberitahukan kepadaku… Aku hanya menanyakan orang macam apa dia, bisakah kau menjawabku dengan lugas?”

“Penjudi senior.” Kali ini, Gu Fei menjawab dengan terus terang. “Pemabuk profesional.”

Langkah kaki Jiang Cheng sedikit terhenti.

“Masih ingin mendengar lebih banyak?” Gu Fei bertanya.

“Apa lagi?” Jiang Cheng menghela napas ringan.

“Pelaku KDRT – sampai istrinya sendiri melarikan diri.” Gu Fei berpikir lagi, “Itu yang paling terkenal.”

“Itu sudah cukup,” Jiang Cheng mengerutkan alisnya dan setelah beberapa saat penuh keraguan, dia melihat ke arah Gu Fei, “Apa semua itu benar?”

“Menurutmu apa semua itu salah?” Gu Fei tersenyum.

“Rumor jalanan ini sepertinya…” Jiang Cheng tidak menyelesaikan kalimatnya, rumor jalanan ini juga menyebutkan kalau kau membunuh ayahmu sendiri. Tapi dia tidak bisa mengatakan ini dengan keras, tidak peduli apa kebenaran tersembunyi yang ada di baliknya – kematian ayah Gu Fei adalah kenyataan.

“Itu bukan gosip belaka,” lanjut Gu Fei. “Kau pulang ke rumah setiap hari, apa kau tidak pernah melihatnya bermain kartu.”

“En.” Jiang Cheng tiba-tiba kehilangan semua keinginan untuk melanjutkan percakapan ini.

Setelah mereka mencapai persimpangan jalan dalam keheningan total, Gu Fei berbalik untuk berjalan menuju ke arah rumahnya. Jiang Cheng sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mengucapkan selamat tinggal, begitu pun dengan Gu Fei.

Dia memakai maskernya dan berjalan menuju rumah Li Bao Guo.

Dari jarak bermil-mil, suara pertengkaran bisa terdengar. Pertengkaran itu cukup sengit dan juga dikombinasikan dengan suara seorang pria dan wanita.

Saat dia mendekati sumber suara tersebut, dia akhirnya bisa melihat bahwa suara itu berasal dari gedung di samping apartemen Li Bao Guo. Di bawah gedung itu, berdiri seorang pria dan seorang wanita, di belakang jendela lantai dua juga berdiri seorang pria dan seorang wanita.

Jiang Cheng tidak bisa mendengar penyebab dari pertengkaran tersebut, tetapi anggota dari kedua tim terlihat bersungguh-sungguh ketika melemparkan umpatan kepada satu sama lain – kata-kata mereka diartikulasikan dengan sangat jelas.

Segala macam sistem reproduksi dan pemandangan yang tak terlukiskan dimuntahkan, kosakata tertentu terkadang didaur ulang dan digunakan kembali. Jiang Cheng bahkan merasa malu untuk mereka ketika kata-kata itu melewati telinganya.

Ketika dia tiba di bawah gedung, pria di lantai dua tiba-tiba muncul di depan jendela dengan sebuah pot, Jiang Cheng melihat ke atas dan dengan cepat melompat ke samping.

Segera setelah itu, sepanci sayuran disiramkan ke bawah.

Meskipun tubuh Jiang Cheng tidak sepenuhnya basah kuyup, tubuhnya masih disiram air. Seketika, dia dilapisi oleh udara menjijikkan yang begitu kuat, cukup kuat sampai masker di wajahnya hampir meledak.

“Apa kau gila?! Dasar idiot!” Dia berteriak. “Jika kau punya nyali, pergilah ke luar dan bertarunglah dengan tinjumu! Jangan hanya bertarung dengan mulutmu! Dasar pengecut!”

Jiang Cheng tidak melihat orang-orang di sekitarnya lagi ketika dia selesai meledakkan kemarahannya, dia hanya berbalik dan memasuki koridor di dalam.

Dia tidak yakin apakah orang-orang itu terkejut atau tidak bisa memahami apa yang baru saja dia katakan, tetapi meskipun demikian, kedua belah pihak menurunkan volume mereka dan diam-diam menyelesaikan pertengkaran mereka dengan beberapa kata umpatan lagi – segera setelah itu, suara pertengkaran mereka tiba-tiba tidak lagi terdengar…

Jiang Cheng mencoba membersihkan tubuhnya yang basah, bahkan dia menemukan ada beberapa daun selada seukuran paku di tubuhnya. Brengsek!

Saat dia mengambil kunci, pintu rumah Li Bao Guo terbuka. Li Bao Guo menjulurkan kepalanya, memperlihatkan wajahnya yang tampak bahagia: “Apa yang tadi itu kau?”

“Apa?” Jiang Cheng menjawab dengan suasana hati yang serak dan muram.

“Itu tadi umpatan yang bagus,” kata Li Bao Guo sambil tersenyum. “Kau benar-benar anakku.”

Jiang Cheng tidak mencoba untuk melanjutkan percakapan itu, sebaliknya, dia berjalan melewatinya dan memasuki ruangan.

Ruangan itu masih sama rusaknya seperti sebelumnya, tetapi hari itu ada suasana keterasingan tambahan.

Sebuah meja penuh makanan, bersama dengan dua pria, dua wanita dan tiga anak-anak duduk di sana. Berkerumun di sekitar meja, memenuhi ruang tamu kecil itu sampai tidak ada ruang lain lagi yang tersisa

“Ayo, Cheng Cheng,” Li Bao Guo menutup pintu dan dengan penuh kasih sayang mengangkat tangan untuk melingkari bahunya. “Izinkan aku memperkenalkan mereka.”

Jiang Cheng sangat membenci bahunya disentuh oleh orang yang tidak dikenal – dia menahan diri untuk tidak melepaskan lengannya.

“Ini kakakmu Li Hui, yang tertua,” Li Bao Guo menunjuk ke arah seorang pria berusia dua puluh enam atau dua puluh tujuh tahun, dan kemudian ke arah wanita yang lebih muda di samping pria itu. “Ini kakak iparmu, dua anak itu adalah keponakanmu… kemarilah, panggil dia paman!”

Kedua bocah laki-laki yang tengah menonton TV di samping secara bersamaan menoleh ke arah Jiang Cheng, tetapi seolah-olah mereka tidak mendengar apa-apa, mereka kembali memalingkan muka.

“Hei! Bajingan kecil! Aku menyuruh kalian untuk menyapa paman kalian!” Li Bao Guo berteriak.

Kedua anak itu bahkan tidak repot-repot menoleh kali ini.

“Kalian …” Li Bao Guo menunjuk ke arah mereka seolah ingin melanjutkan tapi kemudian tidak yakin harus berkata apa lagi.

“Jangan khawatir, kami belum akrab satu sama lain,” Jiang Cheng menepuk lengannya. Dia hanya ingin segera dibebaskan dari suara keras Li Bao Guo dan muncratan ludah serta lengan di sekitar bahunya yang menyebabkan seluruh tubuhnya menjadi kaku.

“Aku akan memberi kalian pelajaran nanti!” Li Bao Guo lalu menunjuk ke arah seorang wanita lain, “Ini adalah kakak perempuanmu, Li Qing, ini adalah kakak iparmu …. Lalu keponakanmu, panggil dia paman!”

“Paman.” Seorang gadis kecil berusia empat atau lima tahun yang berdiri di samping memanggilnya dengan suara rendah seolah-olah dia ketakutan.

“Halo,” Jiang Cheng memaksakan dirinya untuk tersenyum.

Li Bao Guo akhirnya membebaskannya. Jiang Cheng meninggalkan beberapa patah kata untuk memberitahu mereka bahwa dia akan mengganti pakaiannya dan dengan cepat menghilang ke dalam kamarnya. Begitu pintu tertutup, dia bersandar di pintu dan menutup matanya.

Sejak saat dia berjalan melewati pintu, dengan pengecualian Li Bao Guo, tidak ada orang lain di dalam ruangan itu yang tersenyum padanya dengan penuh ketulusan.

Ketika Li Bao Guo memperkenalkan mereka satu per satu, semua orang hanya menganggukkan kepala mereka dan tidak mengatakan sepatah kata pun.

Tetapi bentuk sikapnya yang tidak tersentuh ini bukan karena kepribadiannya yang tidak ramah atau penuh penghinaan; sebaliknya, itu adalah reaksi alami yang terbentuk dari perasaan kosong dan mati rasa di dalam dirinya.

Dan yang lebih menyiksanya adalah atmosfer ruangan itu yang begitu menekan.

Hanya dalam waktu dua menit, Jiang Chang sudah mengalami kesulitan bernapas.

Dia melepas mantelnya, dan dengan menopang tubuhnya dengan satu tangan di dinding, dia menghirup napas dalam-dalam, perlahan-lahan mengembuskannya lalu menarik napas lagi, lalu perlahan-lahan mengembuskan napas lagi dan akhirnya mendesah ringan.

Dia bahkan tidak bisa mengingat sudah berapa kali dia menghela napas dalam beberapa hari ini, mungkin cukup untuk meniup balon penyambutan.

Setelah tinggal di kamarnya selama beberapa menit, Li Bao Guo mulai memanggilnya dengan keras dari sisi lain ruangan. Jiang Cheng mengusap wajahnya dan tidak punya pilihan selain membuka pintu dan berjalan keluar.

Semua orang di ruangan itu sudah duduk di sekitar meja makan, dua bajingan kecil yang sebelumnya hanya fokus menonton TV juga duduk di sana – dan mereka tidak hanya duduk – mereka bahkan sudah mulai makan, menggunakan tangan mereka untuk memegang tulang rusuk di mangkuk mereka dan mulai menggerogoti tulang-tulang itu.

“Ayo makan,” kata Li Qing, mengulurkan tangan dan hendak mengambil mangkuk di depannya.

“Terima kasih, aku bisa melakukannya sendiri,” Jiang Cheng dengan cepat mengambil mangkuk itu. “Silakan makanlah dulu.”

“Biarkan dia yang melakukannya,” Li Bao Guo berdiri di samping dan berkata. “Hal-hal seperti ini seharusnya dilakukan oleh wanita.”

Jiang Cheng membeku, Li Qing mengambil mangkuk dari tangannya dan pindah ke sisi panci di samping dan mengisi mangkuknya dengan nasi.

“Ayo, kita harus minum hari ini.” Li Bao Guo mengangkat dua botol alkohol dari lantai, kemungkinan besar dibawa oleh Li Qing atau Li Hui. Tapi sebelum Jiang Cheng melihat alkohol macam apa itu, dia sudah membuka pintu lemari di sampingnya dan memasukkan botol itu ke dalamnya. Kemudian dari lemari, dia mengeluarkan botol lain, “Aku membuatnya sendiri, anggur buah duri.”

“Minum saja dua botol yang dibawa Li Qing,” Li Hui tampak agak tidak puas. “Kau selalu mengeluarkan anggur busukmu ini untuk dipamerkan, rasanya seperti air cucian.”

“Oh,” Li Bao Guo meletakkan botol anggur di atas meja, “Kau pikir anggur kakekmu itu menjijikkan? Kalau kau tidak suka, bawalah anggurmu sendiri, kenapa datang dengan tangan kosong dan tetap pilih-pilih?”

“Ayah, apa yang kau katakan,” kakak ipar memulai, nadanya penuh ketidakpuasan. “Putramu datang berkunjung dan kau masih berkata apa dia membawa barang atau tidak.”

“Tutup mulutmu!” Li Bao Guo melototkan matanya, “Sejak kapan rumah tangga ini memberi kesempatan pada seorang wanita untuk berbicara!”

“Memangnya kenapa dengan seorang wanita?!” Kakak ipar mengangkat suaranya, “Tanpa aku sebagai seorang wanita, darimana kau akan mendapatkan cucu? Apa kau akan mengandalkan putrimu untuk melahirkan cucu untukmu? Dia bahkan tidak bisa melahirkan seorang pun cucu!”

Jiang Cheng merasa dirinya sangat terkejut, terkejut bahwa keluarga ini bisa memulai perkelahian dari percakapan sederhana seperti itu, terkejut bahwa mereka bisa bertengkar pada waktu makan malam yang seharusnya berisi keharmonisan keluarga, dan yang lebih mengejutkannya adalah dia melihat Li Qing dan suaminya duduk bersama dan masih tidak mengatakan apapun.

“Aku punya cucu karena aku punya seorang putra!” Suara Li Bao Guo cukup keras untuk menggetarkan lampu di langit-langit, “Sekarang aku punya satu putra lagi. Jika aku ingin cucu, itu hanya masalah menit! Li Hui, kau ini laki-laki atau bukan, istrimu berperilaku sangat tidak sopan dan kau bahkan tidak bisa menasihatinya!”

“Memangnya apa yang perlu diributkan!” Li Hui membanting sumpitnya ke atas meja dan berdiri. Tidak jelas kepada siapa kalimat ini ditujukan – Li Bao Guo ataukah istrinya.

“Kenapa bertanya kepadaku? Apa kau tidak tahu apa yang sedang kita ributkan!” Suara kakak ipar naik ke volume yang melengking.

Ketika suara ini keluar dari tenggorokannya, dua bajingan kecil yang memegang makanan secara bersamaan mengangkat kepala mereka ke langit-langit dan berteriak. Terdengar seperti seseorang telah memicu alarm, menyebabkan otak semua orang berdenging penuh rasa sakit.

Jiang Cheng berdiri, kembali ke kamarnya sendiri dan menutup pintu di belakangnya.

Perdebatan di sisi lain ruangan masih berlangsung, laki-laki berteriak, perempuan berteriak, dan anak-anak melepaskan pita suara mereka untuk menangis – sayangnya, pintu rusak ini tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan suara-suara ini yang bisa membuat siapa pun jatuh ke dalam jurang keputusasaan.

Di belakang panel kayu tipis itu berdiri keluarga aslinya, jenis keluarga yang menyebalkan untuk ditonton bahkan di drama televisi. Mereka adalah tipe orang yang selalu dia pandang rendah, tidak, bahkan bukan hanya dia ‘pandang rendah’, mereka lebih seperti tipe orang yang tidak akan pernah dia perhatikan.

Jika dia dibesarkan di lingkungan ini selama bertahun-tahun, apa dia akan seperti mereka?

Sifatnya yang meledak-ledak, fase pemberontakannya yang lebih lama dari anak pada umumnya – apakah semua ini diwarisinya secara genetik?

Apakah ini tertulis dalam gennya?

Fase pemberontakan? Mungkin tidak pernah ada fase pemberontakan.

Tapi, sifatnya lah yang menakutkan.

Seseorang mengetuk pintu di belakang punggungnya, orang-orang di luar masih bertengkar, dia bahkan mendengar suara seseorang menendang kursi. Jika bukan karena dia bersandar di pintu, dia tidak akan bisa mendengar ketukan pelan ini.

“Jiang Cheng?” Suara Li Qing terdengar, sama lembutnya seperti sebelumnya.

Jiang Cheng ragu-ragu selama beberapa detik, lalu berbalik dan membuka pintu kamarnya sedikit, melihat kembali kepada sosok Li Qing yang berdiri di luar pintu dengan gelisah.

“Apa kau baik-baik saja?” Li Qing bertanya.

“Aku baik-baik saja,” jawab Jiang Cheng.

Apa kau baik baik saja. Kalimat ini akan lebih tepat ditujukkan kepada Li Qing.

“Itu …” Li Qing berbalik untuk menatap suasana busuk di ruang tamu, “Bagaimana kalau aku membawa beberapa makanan untuk kau makan di dalam?”

“Tidak, terima kasih,” jawab Jiang Cheng. “Aku sungguh…. tidak akan bisa makan.”

Li Qing tidak terus berbicara; dia kemudian menutup pintu lagi dan menguncinya.

Setelah dengan bingung berdiri di tengah ruangan untuk beberapa saat, dia berjalan menuju jendela, mencoba membukanya.

Jendela itu tidak bergerak.

Jiang Cheng sudah mencoba membuka jendela ini sejak hari dia tiba, namun tidak sekali pun dia berhasil. Jendela ini benar-benar tertutup rapat dan menolak untuk bergerak bahkan selebar garis rambut.

Jiang Cheng mati-matian mencoba untuk memutar pegangannya dengan mencobanya beberapa kali lagi, pada akhirnya, dia mulai mendorong.

Dia tidak berhasil bahkan ketika dia mulai berkeringat.

Menatap panel jendela, mendengarkan kekacauan yang terjadi di luar, dia hanya bisa merasakan seolah-olah sesuatu di dalam dirinya akan meledak.

Dia berbalik untuk meraih kursi di belakangnya dan dengan keras melemparkannya ke jendela.

Kaca jendela itu pecah dengan volume yang sangat menusuk.

Suara ini membuat Jiang Cheng merasa sangat nyaman, semua pori-pori di tubuhnya langsung terbuka. Dia sekali lagi mengangkat kursi dan menghancurkannya lagi.

Kaca itu pecah menjadi berkeping-keping, menjadi pecahan-pecahan yang berserakan di lantai.

Dia menghancurkannya, lagi dan lagi – suara pertengkaran di ruang tamu berubah menjadi suara gedoran di pintu, tetapi dia enggan untuk mendengarkan.

Saat kaca jendela itu benar-benar pecah, dia membidik bingkai jendela dan menendangnya.

Jendela itu akhirnya terbuka

Suara putaran kunci ditransmisikan dari sisi lain pintu. Dengan satu tangan di ambang jendela untuk menopang, Jiang Cheng melompat keluar.

Persetan dengan hubungan darah.


Gambar untuk beberapa adegan terakhir:

Gambar untuk beberapa adegan terakhir:

Catatan Penerjemah:


23 Agustus 2020


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Tangga 给个台阶下 – atau “langkah”, umumnya berarti ketika salah satu menempatkan diri pada posisi yang canggung, orang lain mungkin “memberi mereka tangga/langkah” bagi mereka untuk berjalan turun dari situasi itu.
  2. “Seutas benang di tangan kakak laki-lakinya yang tercinta …” – berasal dari bawah dan diterjemahkan sebagai berikut:

    慈母 手中线 , 游子 身上 衣。Jarum dan benang di tangan ibu yang menyayangi, Membuat pakaian untuk dipakai putranya keluar pergi berkeliling dunia.

    临行 密密 缝, 意 恐 迟迟 归。Dia memasang lebih banyak jahitan saat dia pergi, Dan khawatir bahwa kampung halamannya akan pindah.

    谁 言 寸 草 心, 报 得 三 春晖。Siapa bilang sehelai rumput kecil setinggi satu inci, Apa kita bisa membalas hangatnya sinar matahari musim semi?

    · “Untuk Putranya Yang Akan Pergi Untuk Sementara oleh Meng Jiao”, diartikan oleh Gong Jing Hao

    Sebenarnya ada beberapa versi untuk ini, aku hanya memilih satu.

  3. Bangun dan bercintalah denganku, bangun dan bercintalah …… – pada raw memang dalam bahasa Inggris.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments