Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: _yunda


Mungkin itu adalah efek samping dari obat atau mungkin karena Wang Chao sendiri merasa sangat hampa, tetapi setelah keluar dari kamar mandi, dia sangat kedinginan dan tubuhnya menggigil. Dia merasa seperti sedang demam.

Dia menggosokkan handuknya ke rambutnya saat dia mencari Xie Zhuxing. Setelah berputar-putar dan tidak menemukannya, dia memanggil, “Xiao Xie.”

Tak lama kemudian, Xie Zhuxing membuka pintu balkon dan masuk. Karena AC masih menyala, dia menutup pintu setelahnya.

Tapi Wang Chao masih mencium bau asap yang samar. “Kamu merokok?” dia bertanya pada Xie Zhuxing. Wang Chao belum pernah melihatnya merokok sebelumnya.

Xie Zhuxing tidak menjawab dan juga tidak menatapnya. “Pergilah kalau kamu sudah selesai mandi.”

Wang Chao tidak ingin pergi. “Ini sudah sangat larut, dan aku juga tidak membawa mobilku. Aku akan tidur di sini.”

Dia menjatuhkan diri di tempat tidur saat dia selesai berbicara.

Xie Zhuxing, “…Keringkan rambutmu sebelum tidur.”

Dia tidak bisa memukulnya dan dia tidak bisa berteriak padanya. Tidak ada cara baginya untuk melepaskan amarahnya terhadap bajingan tak tahu malu ini.

Wang Chao dengan sembarangan mengeringkan rambutnya. Rambutnya belum benar-benar kering sebelum dia kembali berbaring.

“Dasar gelandangan pemalas,” kata Xie Zhuxing.

Wang Chao beralasan, “Pengering rambutmu terlalu berat. Kamu harus membeli yang lebih ringan.”

Xie Zhuxing mengabaikannya saat dia naik ke tempat tidur dari sisi lain. Dia berbaring sangat dekat di tepi pinggiran tempat tidur, meninggalkan setidaknya setengah meter ruang di antara mereka.

Namun, sepertinya Wang Chao tidak mengerti arti di balik tindakan itu saat dia bergerak mendekat. Dia mengendus bau asap di tubuh Xie Zhuxing dan bertanya, “Jadi kamu merokok? Kenapa aku belum pernah melihatmu merokok sebelumnya?”

Xie Zhuxing sekarang berada di tepi tempat tidur tanpa ada ruang untuk bergeser. Dia berkata dengan kesal, “Aku tidak merokok. Berhenti bicara dan tidur.”

Dia mengulurkan tangannya untuk mematikan lampu.

Sesaat kemudian, dia merasa Wang Chao bergerak mendekatinya lagi; dia sangat dekat sampai mampu menyentuhnya. Dia bisa merasakan hangat tubuh Wang Chao yang berada dekat dengannya.

Di ujung kesabarannya, dia bergerak kembali untuk menyalakan lampu. Sesuai dugaannya, kepala Wang Chao tidur di atas bantal miliknya. Sisi tempat tidur yang lain dan bantal yang lainnya kosong.

“Apa yang kamu lakukan?” katanya marah. “Kenapa kamu tidur dekat sekali denganku, sisi tempat tidur lainnya bukannya masih kosong?”

Wang Chao menatapnya seolah-olah dia telah dianiaya. “Xiao Xie, aku kedinginan.”

Xie Zhuxing, “…” Teruslah bertingkah menyedihkan. Siapa yang akan jatuh pada tipuan itu?

“Sepertinya aku demam,” kata Wang Chao sambil menyentuh dahinya sendiri. “Aku tidak tahu kalau kusentuh sendiri. Bantu aku menyentuhnya.”

Xie Zhuxing dengan skeptis mengulurkan tangan untuk merasakan kepalanya dengan lembut, tetapi sepertinya tidak ada perubahan suhu yang jelas. Tetapi ketika dia sepenuhnya meletakkan tangannya di dahi Wang Chao, dia benar-benar merasakan sensasi terbakar.

Tangan Xie Zhuxing menyentuh memar di dahi Wang Chao. Itu masih sedikit sakit. Wang Chao bertanya dengan alis berkerut, “Apa rasanya panas?”

Xie Zhuxing mengernyitkan dahinya. Dia cemas, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. “Sedikit.”

Dia turun dari tempat tidur dan mengobrak-abrik lacinya. Dia ingat bahwa dia seharusnya masih memiliki beberapa tablet Ibuprofen1 Obat untuk meredakan nyeri dan peradangan, serta dapat jadi obat pendukung penurun panas. yang tersisa. Namun, setelah mencari selama beberapa saat, dia tidak dapat menemukannya. Dia curiga bahwa dia mungkin meninggalkannya di salah satu tasnya, jadi dia mengobrak-abrik lemari.

Wang Chao berbaring di sana saat dia melihat Xie Zhuxing terus mencari. Dia tahu dia sedang mencari obat untuk diberikan kepadanya. Dia merasa sangat bahagia. “Kalau kamu tidak bisa menemukannya, tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja setelah tidur semalaman.”

Setelah mencari di semua tempat, Xie Zhuxing masih tidak bisa menemukannya. Dia berkata dengan sebal, “Bagaimana kamu bisa terkena demam saat cuaca di luar sepanas ini?”

Wang Chao juga tidak berpikir tubuhnya selemah itu. “Mungkin karena efek samping obat. Aku minum afrodisiak.”

Xie Zhuxing, “…” Terbakarlah sampai mati. Itu tidak akan sia-sia.

Dia tidak dapat menemukan obatnya, jadi dia menutup lemari dengan keras.

Wang Chao melihat tanda-tanda amarah pada Xie Zhuxing, jadi dia segera berguling untuk bangun dari tempat tidur dan menjelaskan, “Aku tidak berniat mengonsumsinya. Seseorang mencekokiku.”

Mendengar ini Xie Zhuxing tertegun. “…Siapa yang mencekokimu?”

Wang Chao telah menahannya sepanjang malam. Sekarang dia akhirnya bisa memiliki kesempatan untuk meludahkan semuanya. “Kamu tidak tahu apa-apa. Sejak terakhir kali kakakku memukuliku, pantatku sakit selama beberapa hari setelahnya. Aku tidak punya kesempatan untuk keluar sejak itu. Karena aku memiliki rencana untuk makan malam denganmu hari ini, aku ingin bergegas dan sampai di sini. Tapi siapa yang tahu kalau aku akan mengalami hal seperti ini. Aku tidak sengaja meminum air yang sudah diberi obat. Aku merasa tidak enak badan dan berakhir melakukannya dengan orang itu dalam keadaan kabur. Kemudian, aku ingat jika aku sudah punya rencana denganmu untuk makan udang karang mala dan aku bergegas ke sini bahkan tanpa mandi.”

Dia tidak menyebutkan fakta bahwa pihak lain adalah seorang pria. Dia ingin segera menghapus kejadian hari ini dari ingatannya. Fakta bahwa dia hampir diperkosa oleh seorang pria dan malah berakhir menidurinya, itu terdengar seperti lelucon besar.

Xie Zhuxing tidak sampai pada kesimpulan bahwa pihak lain juga laki-laki. Saat dia mendengarkan kutukan Wang Chao tentang bagaimana dia ingin segera datang dan makan udang karang mala bersamanya, Xie Zhuxing berpikir bahwa itu lucu dan meredakan kemarahannya. Setengah dari kemarahannya menghilang saat dia mendengarkan kata-kata kasarnya. Dia bertanya, “Selain demam, apa ada tempat lain yang kamu rasa tidak nyaman?”

Mendengar nada suaranya sedikit melunak, Wang Chao segera duduk dan mulai menunjukkan muka memelas. Dia mengangkat poninya dan berkata, “Aku juga melukai dahiku. Ini akan memakan waktu setidaknya dua atau tiga hari agar pembengkakannya berkurang. Lihat merah sekali kan. Ini benar-benar menyakitkan.”

Xie Zhuxing mulai mencari lagi. Setelah yakin jika tidak ada obat demam di rumah, dia berkata, “Aku akan pergi ke luar untuk membeli obat untukmu.”

Wang Chao duduk di tempat tidur dan menutupi dirinya dengan selimut tipis. “Tidak perlu obat. Matikan saja AC-nya, aku kedinginan.”

Xie Zhuxing berjalan mendekat dan mengusap dahinya. Sepertinya itu bukan demam tinggi. Melihat bagaimana mata Wang Chao sangat hidup, sepertinya tidak ada yang salah dengannya. Xie Zhuxing mematikan AC dan berkata, “Kalau begitu tidurlah. Pastikan menutupi dirimu dengan selimut dengan benar. Jangan menendangnya.”

Keduanya berbaring sekali lagi saat Xie Zhuxing mematikan lampu.

Wang Chao berbaring terbungkus selimut untuk sementara waktu, tetapi dia masih merasa kedinginan, jadi dia bergeser dan mendekatkan dirinya pada Xie Zhuxing.

Xie Zhuxing tidak bergerak. Dia juga tidak marah seperti sebelumnya.

Wang Chao merasa bahwa Xie Zhuxing benar-benar hangat, jadi dia beringsut lebih dekat dan memeluknya, bahkan menempelkan wajahnya di bahunya.

Tenggorokan Xie Zhuxing tercekat. “Apa yang kamu lakukan?” Tanyanya.

Wang Chao merengek, “Aku benar-benar kedinginan.”

Napasnya mengenai leher dan bahu Xie Zhuxing.

Rasa gatal yang mati rasa mengalir dari area itu ke bagian atas kepala Xie Zhuxing. Rasa gatal yang tak terkatakan ini perlahan menyebar ke puncak jantungnya.

….Sudah berakhir, dia mengakui kekalahannya.

Jantung Wang Chao juga mulai berdegup begitu cepat layaknya genderang.

Dia tidak pernah berpikir bahwa dia dan Xiao Xie bisa memiliki hubungan intim selain berpelukan. Dia sudah merasa bahwa satu ciuman mereka adalah batas “hubungan” mereka.

Malam ini, dia melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas. Apa hal kecil itu hanya keinginan sebatas ciuman? Ternyata dia juga ingin berhubungan seks dengan Xiao Xie.

Dia tidak suka laki-laki. Sering ada banyak gay yang menarik di klub malam, jika dia benar-benar ingin melakukannya dengan mereka, dia akan melakukannya sejak lama. Dia tidak memiliki moral, tetapi dia benar-benar bukan gay. Jika manajer bodoh Bai Tu tidak memberinya obat itu, dia tidak akan pernah menyentuh pria seumur hidupnya.

Ini hanya karena sekarang dia sudah mengalaminya, dan ini tidak ada bedanya dengan melakukannya dengan seorang gadis.

Jika dia bisa melakukannya dengan pria, lalu mengapa dia tidak bisa melakukannya dengan Xiao Xie?

Pinggang Xiao Xie sangat ramping.

Kulit Xiao Xie sangat lembut.

Tulang selangka Xiao Xie juga sangat seksi.

Melakukannya dengan Xiao Xie pasti akan terasa sangat menyenangkan.

Semakin dia memikirkannya, semakin dia ingin melakukannya dengan Xiao Xie. Tapi dia tidak berani mengatakannya.

Bagi Wang Chao, seks itu seperti makan semangkuk mie. Tapi bagi Xiao Xie, seks tidak sebebas dan sesantai itu, dia pasti tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia juga mudah malu, dia bahkan mungkin akan marah jika Wang Chao bertanya.

Berhubungan seks dengannya pasti akan sulit dilakukan.


 

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

yunda_7

memenia guard_

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments