• Post category:Nights
  • Reading time:12 mins read

“Tentu saja tidak. Kalau dia ingin meledakkan sesuatu, dia akan meledakkan planet.”

Penerjemah: HooliganFei


Wajah Chu Si berubah menjadi hitam dan kembali menjadi normal dengan cepat. Tiba-tiba dia terkekeh dan mengetik di atas komunikator:

Kalau kau memang sebosan itu, aku menyarankanmu untuk bermain dengan dirimu sendiri sebentar, atau bahkan dengan pengendali yang ada di lenganmu terlebih dahulu.

Itu sangat provokatif.

Semua orang tahu bahwa semua narapidana di Penjara Luar Angkasa adalah manusia misil otomatis. Tak ada dari mereka yang gampang dikontrol.

Walaupun nyaris mustahil untuk mencari celah yang bisa dibor dalam penjara dengan sistem keamanan tingkat tinggi, yang bahkan jauh lebih terpencil lagi melampaui sistem planet. Tak ada jaminan bahwa misil-misil tersebut tidak punya kesempatan untuk kabur dari penjara.

Jadi, setiap napi akan memiliki sebuah pengendali yang terpasang di lengan saat mereka dipenjarakan.

Ini ratusan kali lebih sulit untuk melepaskan pengendali daripada mendaki dinding Penjara Luar Angkasa.

Namun saat Chu Si baru saja mengetik pesan jahat ini dan akan segera mengirimkannya, seluruh layar mendadak berkedip sebelum mati sepenuhnya.

Baterainya habis!

Sebelum Chu Si bisa menjawab, benda tak berguna ini memilih mati di waktu yang paling penting.

Chu Si: “…”

Tadinya dia masih bisa terkekeh, tapi sekarang tidak bisa lagi.

Pel tidak mengerti kenapa Chu Si tiba-tiba berhenti. Dia menatap kosong ke arah Chu Si, yang dengan kesal menarik kerah kemejanya sebelum melaju cepat.

Chu Si tinggi dengan kaki yang panjang, dan selain keringat yang mengalir dari dahinya, dia hampir tidak memiliki tanda-tanda hipoksia. Hanya dalam dua atau tiga langkah, dia sudah jauh melampaui Pel Besar dan Kecil yang kelelahan.

“Hei?! Kau…” Pel terengah-engah dan mendorong dirinya sendiri untuk mengejar Chu Si. “Kenapa tiba-tiba kau buru-buru?”

Chu Si mengacuhkannya dan mulai berjalan semakin cepat.

Kalau saja kemudian dia tidak menambahkan “kakimu digergaji?” Pel hampir curiga bahwa Chu Si sedang berusaha untuk menyingkirkan mereka.

Lima puluh meter terakhir sebenarnya tidak terlalu jauh, dan kecepatan tim tiga orang ini hampir dua kali lipat hanya dengan Chu Si yang memimpin. Ketika mereka berdiri di pintu halaman depan villa, mereka bahkan masih memiliki 22 menit tersisa.

Tapi Pel sudah setengah mati.

Nyaris tak hidup, Pel merosot di pagar dengan lidah yang terjulur keluar dan menatap ke arah pintu yang terkunci dengan matanya yang juling. “Ya Tuhan, aku baru saja ingat. Tidak ada gunanya kemari… pintu ini… mustahil bagi kita untuk membuka pintu ini… ini adalah kunci pemindai iris. Dulu sekali, aku… sudahlah, tidak masalah. Lagipula, kita hanya harus memindai iris mata pejabat itu.”

Pel melirik Chu Si dengan kacau. “Kau terlihat sangat muda, apa kau pejaga keamanan di sini? Tapi kau tidak terlalu mirip penjaga… sekretaris? Ah… tidak penting. Lagipula, kita mungkin masih harus berjalan lagi ke kriokapsul untuk menyeret komandanmu―”

Sebelum Pel bahkan selesai, Chu Si sudah berdiri di depan pemindai dengan wajah kosong dan menekan tombol.

Satu-satunya hal yang menguntungkan dari semua kesialan ini adalah daya di villa ini masih bisa bertahan selama beberapa saat, seperti yang diduga. Mesin pemindai membuat suara ‘bip’, memindai iris mata Chu Si.

Kunci pintu depan terbuka dari dalam dan pintu tersebut perlahan terbuka.

“Apa-apaan?” Gumam Pel.

“Aku tidak masalah kalau kau memutuskan untuk berdiri di sini dengan bodoh sampai kau mati,” ujar Chu Si, “tapi, maaf ya, tolong berhenti menghadang pintu dan membuang daya.” Dia lalu melangkah ke depan di sepanjang jalan lurus di halaman.

Mulutnya masih menganga, secara refleks Mop memberikan jalan untuk Chu Si dan menyeret Pel Kecil bersamanya, buru-buru mengikuti Chu Si di belakang.

Pintu depan tertutup secara otomatis di belakang mereka, membuat suara kunci elektronik, dan pergerakan berhenti.

Tapi halaman tersebut tidak begitu hening: ada suara dengungan rendah yang konstan, yang sebenarnya tidak begitu menjengkelkan, tapi juga tidak pernah berhenti.

Suara tersebut berasal dari tiang logam silinder di sudut.

Tiang tersebut tingginya sekitar tinggi manusia rata-rata, dengan sabuk lingkaran lubang di atasnya dan memancarkan cahaya safir. Jarum logam halus yang tak terhitung jumlahnya bercabang dari lubang, mencuat seperti landak.

Mungkin kelihatan agak konyol, tapi itu dianggap penemuan terbesar selama ribuan tahun terakhir dalam sejarah planet.

Walaupun itu hanya tiang logam sederhana di atas tanah, tapi itu sebenarnya terhubung dengan persenjataan bawah tanah yang besar dan rumit. Tiang ini akan menghasilkan cincin pelindung saat longsor terjadi, dengan aman membungkus semua materi dalam cakupannya.

Karena perangkat ini, planet tidak hancur total akibat ledakan yang tiba-tiba. Namun, planet runtuh menjadi fragmen berbagai macam ukuran lalu tersebar di luar angkasa, seperti hutan pinus dan villa ini yang telah menjadi pengembara di lautan bintang yang luas.

Sulit mengetahui kapan ini akan berakhir.

“Apa itu Tiang Naga?” Pel melihat ke arah tiang logam dengan perasaan kagum dan takjub. “Aku belum pernah melihatnya aktif…”

Mungkin karena cahaya safir terlalu menggoda, sambil berjalan, dia tak menahan diri untuk mengulurkan tangan dan tanpa sadar berjalan ke arahnya.

Chu Si mendecakkan lidah. “Mari buat perjanjian: tolong diam selama semenit dan berhenti membuat masalah, oke?”

Sebenarnya Pel sudah bisa merasakan kekuatan yang merobek bahkan sebelum mendekati Tiang Naga, langsung mengejutkannya lalu dengan segera mengambil dua langkah mundur, dengan canggung kembali kepada Chu Si.

Kunci pintu villa membutuhkan autentifikasi identitas juga, yang mana bukan masalah bagi Chu Si. Lagipula, ini rumahnya sendiri.

Dengan akrab dia memimpin dua pel itu masuk ke ruang penyimpanan bawah tanah.

Untuk menghemat daya, mereka dengan sengaja lewat tangga.

Alat untuk mengunci ruang penyimpanan begitu mencengangkan: begitu mereka masuk, bau campuran alat-alat elektronik motherboard dan logam langsung bisa tercium oleh mereka. Bagaimanapun juga mereka sudah dikunci lebih dari lima puluh tahun. Chu Si menghidupkan lampu darurat yang paling kecil, cahayanya hampir tidak cukup bagi dua orang untuk melihat garis-garis peralatan di dalam ruangan―

Sembilan kriokapsul dengan rapi menempati hampir seluruh ruangan. Adapun tiga dinding lainnya, dua di antara mereka memiliki kabinet di depan, terisi dengan segala macam benda, dan dinding lainnya memiliki sebuah konsol pengoperasian yang terhubung dengan beberapa layar dari berbagai macam ukuran, mungkin untuk pengawasan.

“Berapa lama daya di rumah ini bisa bertahan?” Pel bertanya. “Silakan, aktifkan kapsul-kapsul seksi ini sekarang. Aku tercekik!”

Mungkin dia akhirnya sudah melihat harapan, nadanya riang.

Tapi Chu Si akhirnya berjalan mengitari kriokapsul yang ada di lantai dan langsung menuju salah satu kabinet, menggeledah sesuatu di barisan atas.

“Apa? Kau perlu hal lain untuk mengaktifkannya?” Pel dengan bingung mengikuti Chu Si dan melirik ke jam tangannya sendiri.

Chu Si menemukan sebuah logam persegi di kabinet ke empat. “Tidak perlu tergesa-gesa,” dia menjawab tanpa melihat. “Aku akan mengisi daya komunikatorku dulu.”

“Komunikator?” Pel mengerjap beberapa kali. “Kenapa kau mengisi daya komunikator? Kau memerlukan komunikator untuk mengaktifkan kriokapsul?”

“Tidak, untuk membalas pesan,” jawab Chu Si.

Mop: “……………..”

Dia jatuh berlutut di depan Chu Si. “Tidak bisakah kita menyelamatkan diri dulu sebelum mengobrol?”

Chu Si menempatkan bongkahan logam di bagian belakang komunikatornya dan menekan sebuah tombol pada bongkah logam.

Ding.

Komunikator tersebut membuat jarinya mati rasa sesat, dan seluruh layar hidup kembali.

Chu Si akhirnya melirik pada Pel, yang tengah berlutut dan menangis. Dia mengambil sebuah kabel dari lantai, dan mencoloknya ke stop kontak di dinding.

“Sistem Cerdas menyala. Menyalakan ulang operasi uji kriokapsul. Kesalahan dalam mematikan sistem pengawasan hutan sebelumnya terdeteksi. Memposisikan… Pemosisian selesai. Melanjutkan pengawasan.”

Pel memandang kosong ke serangkaian alat-alat elektronik yang menyala kembali. Sembilan kriokapsul akhirnya mulai berdengung dan berjalan lagi.

‘Kriokapsul di sini terutama ditujukan untuk proses pengujian, dan cara mereka bekerja berbeda dengan yang ada di hutan.” Chu Si bersandar pada konsol, menopang dirinya sendiri di sudut dengan satu tangan, dan mengetuk monitor dengan tangan yang lain.

Pesan Sa’e Yang tujuh menit lalu yang merengek tentang rasa bosannya, masih berada di saluran penerimaan.

Kali ini, Chu Si tidak menulis apa pun yang provokatif. Untuk menghemat waktu, dia bahkan tidak mengetik satu pun karakter, kecuali satu tanda titik dan langsung mengirimkannya.

Setidaknya itu adalah jawaban.

Kriokapsul telah diaktifkan, dengan oksigen yang menyebar sedikit demi sedikit dari saluran udara sasis. Pel Besar dan Kecil saling memeluk satu sama lain, bersandar pada kapsul seakan-akan telah lumpuh.

Begitu pengoperasian normal, mesin-mesin akan berhenti berdengung dan ruang penyimpanan perlahan akan menjadi tenang.

“Hoh―” Pel menghela napas dan menyipitkan mata, berkata pada Chu Si. “Setidaknya sekarang kita akhirnya bisa tenang.”

Dia merasa cukup nyaman untuk tidur memeluk kapsul, dan setelah beberapa saat, dia bertanya seolah-olah sedang teringat akan sesuatu, “Pesan macam apa kau terima sampai harus segera dibalas? Kita akan segera berubah menjadi debu di luar angkasa―siapa yang masih ingin mengirimkanmu pesan?”

Tidak bisa dipercaya!

Chu Si memandangi. “Seorang teroris.”

“Seberapa mengerikannya?” Tanya Pel. “Mengerikan sampai dia akan meledakkanmu kalau kau tidak membalas?”

Chu Si dengan mudahnya melempar komunikator di atas konsol ke sebelah. “Tentu saja. Kalau dia ingin meledakkan sesuatu, dia akan meledakkan planet.”

“???”

Pel mengorek telinganya. “Tidak, tunggu, aku pikir aku mendengar sesuatu mengerikan… kau bercanda, kan?”

Chu Si sudah berbalik untuk melihat layar-layar dengan ukuran yang berbeda di belakang, masih tetap diam.

“…” untuk sejenak, Pel memandangnya dalam kengerian, tapi dia merasa bahwa tak ada orang yang akan membicarakan sesuatu semengerikan ini dengan nada begitu.

Masih merenungkannya, dia menghirup beberapa oksigen lagi dalam kelegaan. “Kau pasti bercanda.”

Layar konsol elektronik menyala, masing-masing bagian ditujukan untuk area villa dan pinggiran hutan pinus, serta masing-masing beroperasi pada frekuensinya sendiri.

Tetapi pada titik ini, tidak ada gunanya pengawasan karena mereka mungkin satu-satunya manusia di fragmen ini.

Dua zona pengawasan, mencakup sejauh tepi fragmen, menampilkan tebing curam, dan di luar itu hanya ada ruang luar angkasa yang tak berujung.

Lautan bintang berada di atas kepala, tetapi juga di bawah kaki.

Meskipun pemandangan ini cukup aneh, Chu Si hanya menatapnya dengan tenang selama dua detik sebelum meraih tombol power.

Monitor keamanan besar ini adalah pemborosan daya yang sangat besar.

Tepat ketika Chu Si mencapai tombol power, Sistem Cerdas tiba-tiba mulai berbicara: “Peringatan, Penyusup di Zona Pengawasan 2! Peringatan, penyusup di Zona Pengawasan 2!”

Zona Pengawasan 2 tidak lain adalah tebing curam yang terhubung ke lautan bintang, atau tepi daratan yang luas ini.

Terkejut dengan suara ini, Pel berguling untuk berdiri dan mendekat.

Melihat layar dengan cemberut, Chu Si melihat sebuah siluet terjun dari tebing curam dan mendarat dengan tepat dan gesit di atas batu hitam.

Dia tinggi dan cakap, lengannya meregangkan otot-otot yang terdefinisi dengan indah saat dia mendarat. Masker oksigen di wajahnya menutupi semua wajahnya, jadi hanya rahang bawahnya yang terlihat saat dia menoleh.

Begitu Pel melihat ikatan hitam-emas mengencang erat di lengan pria tersebut, dia memekik tanpa suara, “Oh sial, dia dari Penjara Luar Angkasa!”

Pria tersebut, berdiri di atas batu hitam, menolehkan kepalanya untuk memindai sekitar. Lalu menghadap layar, dia tiba-tiba berhenti.

Dia mengendik dan mulai berjalan ke arah layar.

Saat dia sampai pada titik terdekat, dia mengangkat tangan untuk melepaskan maskernya, mengungkapkan wajah yang luar biasa tampan. Matanya begitu terang, terpenuhi oleh arogansi saat dia menilik, yang segera dilarutkan oleh seutas senyuman di sudut mulutnya.

Tersenyum dari ketinggian, dia menyeka kamera dengan jempolnya. “Sayang, aku tidak menerima balasanmu, jadi aku di sini untuk menemuimu.”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

HooliganFei

I need caffeine.

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments