English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Rusma
Editor: _yunda


Buku 3, Chapter 21 Part 6

Ada seorang pria kekar berdiri di sisi pegulat, di tengah musim dingin, di bulan kedua belas, dia telanjang sampai ke pinggang. Dengan sosok yang bahkan mengerdilkan Chang Liujun, serta wajah yang kekar dan berotot, dia memandang para pembunuh yang berdiri di seberangnya dari atas ke bawah dengan jijik.

“Hebat!”

Saat seseorang terlempar ke tanah, Cai Yan tertawa, memimpin kerumunan dalam tepuk tangan. Pejabat lainnya mengangguk setuju bersama Mu Kuangda.

Utusan Mongolia memberi Cai Yan anggukan, dan Cai Yan memberikan secangkir anggur kepada prajurit yang menang. Prajurit itu datang dan berterima kasih kepada Cai Yan.

“Setelah menunggu begitu lama,” kata utusan itu, “akhirnya kami berhasil bertemu dengan Yang Mulia dan Yang Mulia Pangeran. Ini akan menjadi hal yang cukup untuk dibanggakan di depan orang-orang kami ketika kami kembali.”

“Tentu saja aku sangat senang kamu datang jauh-jauh untuk merayakan  ulang tahun putraku,” jawab Li Yanqiu. “Karena pemindahan ibu kota belum terselesaikan sekarang, kami tidak memiliki waktu untuk menerima delegasimu.”

Duan Ling dan Mu Qing turun dari serambi berliku menuju ke taman. Ada banyak pohon berbunga yang ditanam di taman, dan Mu Qing akan berjalan lebih jauh ketika Duan Ling menarik lengan bajunya untuk memberi tahu dia bahwa ini sudah cukup jauh. Zirah Hitam yang berjaga di luar akan mengusir mereka saat mereka mendekat, tetapi Xie You berjalan ke arah mereka dari ujung lain serambi, dan dia memberi isyarat pada para penjaga.

Itu sebabnya mereka bisa berdiri di belakang semak-semak berbunga untuk mendengarkan apa yang terjadi di dalam. Melalui semak-semak, dia bahkan bisa melihat Wu Du berjarak sepuluh langkah darinya.

Cai Yan berkata, “Aku memang membaca surat terakhir yang dia kirimkan, tetapi karena urusan pemerintahan telah menyita seluruh waktu, aku tidak sempat menulis balasan. Sekarang setelah ada perintah kekaisaran juga, aku akan menyusahkanmu untuk membawanya kembali bersama dengan surat itu.”

Utusan itu segera menjawab, “Luar biasa. Putra Mahkota kami telah memberi tahu kami bahwa kami harus membawa berkahnya kepada Yang Mulia Pangeran pada hari ulang tahun Anda dan untuk meminta surat balasan.”

“Berkat apa?” Cai Yan tersenyum. “Aku heran Batu masih memikirkanku.”

“Yang Mulia Pangeran mengatakan bahwa meskipun Anda terpisah sepuluh ribu mil,” kata utusan itu dengan sungguh-sungguh, “dia menatap wilayah selatan dari jauh dan merayakan ulang tahun Yang Mulia Pangeran hari ini untuk memperingati ikatan yang terbentuk antara Anda di Aula Kemasyhuran.”

Cai Yan dengan lembut tersenyum, menghela napas, dan menggelengkan kepalanya.

“Yang Mulia memiliki hidangan yang disiapkan secara khusus. Itu disebut ‘Anjing Cai’1, dan dia memberi tahu kami bahwa kami harus memastikan untuk menyerahkannya kepada Yang Mulia Pangeran hari ini.”

Senyum Cai Yan membeku dalam sekejap.

“Aku telah diberitahu bahwa orang-orangmu tidak makan daging anjing, apakah itu tidak benar?” Seorang pejabat bertanya.

Kata-kata itu agak membingungkan, dan sebagian besar dari mereka yang hadir tidak dapat memahami apa yang dikatakan utusan itu, tetapi setelah mengamati ekspresi wajah Cai Yan, utusan itu mulai tersenyum. “Memang benar, kami tidak makan daging anjing. Anjing adalah teman setia kami, dan untuk mengenang pekerjaan yang dilakukan anjing untuk kami, kami telah menguleni sari sayuran berdaun menjadi adonan, membentuknya menjadi roti berbentuk anjing yang kemudian dikukus. Mereka kemudian dibagikan kepada rakyat jelata sebagai tanda keberuntungan.”

Duan Ling mencerna kata-kata ini dalam diam.

Batu pasti telah mengajari utusannya untuk mengucapkan kata-kata ini; dia bertanya-tanya seperti apa raut wajah Cai Yan sekarang. Kebenaran akan terungkap seperti yang mereka katakan, dan tidak peduli seberapa banyak Cai Yan mencoba menyembunyikan sesuatu, beberapa orang pasti akan mengetahuinya pada akhirnya. Duan Ling menganggap ini lucu, tapi dia juga bisa merasakan bahwa murka Batu baru saja dilemparkannya ke wajah Cai Yan dari jarak sepuluh ribu mil — itulah satu-satunya alasan dia mengajari utusan itu untuk mengucapkan rangkaian kata-kata jahat ini untuk memprovokasi Cai Yan. Adapun apakah itu ancaman atau hanya ejekan, dia tidak tahu.

“Tolong, bawa ke depan.” Utusan itu mengangkat tangannya.

Maka para pelayan membawa dua piring berisi roti kukus berbentuk anjing, berwarna hijau berbintik-bintik, meletakkannya di depan Cai Yan.

Ekspresi Cai Yan benar-benar berubah menjadi hijau pada satu saat dan putih pada saat berikutnya. Dia memaksakan senyum, “Betapa bijaksananya dia.”

Semua orang menganggap ini cukup lucu, tetapi di antara mereka yang hadir yang mengetahuinya, hanya Lang Junxia yang mengetahui nama panggilan Cai Yan, sementara Wu Du dapat membuat beberapa tebakan.  Lang Junxia menoleh untuk memberi Wu Du pandangan penuh makna, tetapi Wu Du mengabaikannya, dan sebaliknya dia melirik semak-semak berbunga di seberangnya dan tiba-tiba melihat Duan Ling mengintip dari balik semak-semak, mencoba mendapatkan pandangan yang lebih baik.

“Adat Mongolia memang menarik,” kata Cai Yan kepada Li Yanqiu. “Borjigin selalu sangat ramah ketika kami berada di Shangjing.”

Li Yanqiu mengangguk; utusan itu menambahkan, “Yang Mulia Pangeran2 dengan tulus ingin meminta surat tulisan tangan Yang Mulia Pangeran untuk menenangkan kerinduannya kepadamu.”

Begitu dia mengatakan ini, semua orang mulai tertawa, mereka berpikir bahwa orang barbarian ini mencoba berbicara Han, tetapi bahkan kosakatanya salah.

Cai Yan menghela napas. “Kalau begitu, ambilkan tinta dan kertas ke sini.”

Lang Junxia melangkah maju, “Cuacanya sangat dingin dan tangan Yang Mulia Pangeran akan kedinginan karenanya. Tidak perlu melakukan ini sendiri. Saya bisa menulis atas nama Anda.”

Utusan itu sepertinya sedang memikirkan hal ini, dan saat dia akan berbicara, Lang Junxia memotong, “Sudah bertahun-tahun dan aku juga merindukan Yang Mulia Pangeran. Dia seharusnya berusia delapan belas tahun sekarang — apakah dia sudah menikah?”

“Yang Mulia Pangeran keluar ke medan perang berjuang untuk Khan. Sebagai cucu Khan yang sangat berharga, dia belum bertunangan.”

Lang Junxia memberi Li Yanqiu dan Cai Yan penghormatan sebelum dia duduk di sisi paviliun, dan mengambil kuas serta tinta, dia mulai menulis. Cai Yan dengan mudah memberikan beberapa salam konvensional, dan Lang Junxia menuliskannya; itu tidak lebih dari hal-hal yang terjadi selama tahun-tahun mereka di Aula Kemasyhuran, dan surat itu dimulai dengan mengenang sebelum subjek beralih ke hubungan antara kerajaan mereka.

Dari balik semak-semak, mulut Duan Ling tersenyum tipis saat dia mendengarkan. Dia tidak bisa melihat ekspresi wajah utusan itu tapi dia sudah tahu bahwa Batu telah menyadari bahwa Cai Yan menyamar sebagai dirinya. Dia tidak tahu bagaimana Batu bisa menebaknya.

Segera, utusan itu mengangkat topik tertentu tentang waktu mereka di Aula Kemasyhuran, menyampaikan kata-kata Batu. Dia berbicara tentang kepala Akademi Aula Kemasyhuran, serta Helian Bo, menguji dia dengan tersirat. Yang mengejutkan, Cai Yan berhasil menjawab semua pertanyaan ini dengan sempurna.

“Putra mahkota kami juga ingin tahu apakah Yang Mulia Pangeran telah bertemu dengan Zongzhen.”

“Aku hampir diseret ke Shangjing dan menjadi mitra belajar untuknya.” Cai Yan tersenyum saat dia menjawab, lalu dia menghela napas. “Takdir memang membuat kita begitu bodoh. Jika aku benar-benar pergi, mungkin ayah masih ada di sini, dan kita semua akan hidup bersama.”

Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, keheningan menyelimuti taman.

“Yang Mulia?” Mu Jinzhi berkata dengan sangat pelan.

“Rong’er,” kata Li Yanqiu, “jangan pikirkan itu terus-menerus. Sudah berapa kali aku mengatakan itu padamu?”

“Ya,” hanya itu yang bisa Cai Yan katakan.

Mendengarkan semua ini dengan tenang dari balik semak-semak, perasaan Duan Ling tiba-tiba agak rumit. Saat dia mendongak, matanya bertemu Wu Du melalui dedaunan, menemukan Wu Du sedang mengawasinya, tatapannya penuh kelembutan.

“Yang Mulia Pangeran juga ingin bertanya apakah Yang Mulia Pangeran lebih menyukainya, atau Anda lebih menyukai Yelü Zongzhen.”

Dan sekarang semua orang merasa lebih canggung, mereka semua merasa bahwa itu adalah cara yang lucu untuk menanyakan pertanyaan ini. Maka Cai Yan berkata kepada Li Yanqiu, “Semua orang Mongolia seperti ini, panah lurus3.”

 “Sepertinya Yelü Zongzhen dan Borjigin sering bersaing untuk mendapatkan kasih sayangmu,” Li Yanqiu bercanda, “sepertinya kamu rukun dengan orang lain juga.”

Cai Yan segera menyangkal ini dengan rendah hati, dan berkata kepada utusan, “Tentu saja, aku lebih dekat dengan putra mahkotamu.”

Ekspresi Mu Kuangda menjadi gelap dan dia batuk, tetapi Cai Yan berpura-pura tidak mendengar, dan terus berkata kepada utusan itu, “Kami benar-benar tidak tahu di mana pedang kerajaanmu, tetapi jika kami berhasil menemukannya, itu pasti akan menjadi suatu kehormatan bagi kami untuk mengembalikannya. Wuluohou Mu, tulis juga di surat itu.”

Lang Junxia selesai menulis surat dan memberikannya kepada Cai Yan. Cai Yan mengambil segel dari pelayannya, dan menempelkan capnya di sudut kiri bawah.

Utusan itu berkata dengan riang, “Meskipun itu bukan tulisan tangan Yang Mulia, sekembalinya saya, saya setidaknya dapat mengatakan bahwa misi saya telah selesai.”

“Apakah ada hal lain yang ingin Borjigin katakan padaku?”

Utusan itu terdiam sejenak, dan dia melihat ke sini dan ke sana seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu. Pada saat itu, Duan Ling terus merasa bahwa utusan itu masih memiliki rencana lain.

Tetapi yang mengejutkan mereka, Li Yanqiu berkata, “Cuaca sekarang dingin dan hari-harinya semakin singkat. Kamu harus kembali ke istana saat masih siang. Datanglah di malam hari, dan mari kita bicara.”

Cai Yan buru-buru menyetujui, dan Li Yanqiu bangkit tanpa berkata apa-apa lagi; semua orang membungkuk untuk melihatnya keluar. Setelah Cai Yan melihat Li Yanqiu dan Mu Jinzhi pergi, dia tidak duduk lagi, tetapi tetap berdiri, melirik utusan itu. Seorang pelayan melangkah ke arahnya; itu adalah pendatang baru Feng, yang berkata kepada utusan itu, “Apakah Anda memiliki hal lain untuk dikatakan? Jika tidak, Yang Mulia Pangeran juga akan pergi.”

Kepergian Li Yanqiu tampaknya membuat rencana utusan itu berantakan. Cai Yan berkata, “Jika ada hal lain, silakan bicara dengan Kanselir Mu. Menyampaikan pesanmu kepada para pejabat ini di sini sama saja dengan menyampaikannya kepadaku.”

Utusan itu melihat ke arah para pembunuh yang berdiri di kejauhan. “Putra mahkota kami ingin bertanding gulat dengan Yang Mulia Pangeran sekali lagi.”

“Apa?” Wajah Cai Yan dengan jelas menunjukkan betapa dia merasa tidak sabar, dan tiba-tiba dia curiga bahwa dia mungkin tertipu oleh beberapa trik. Tatapannya menyapu para pelayan utusan Mongolia, mempertanyakan apakah Batu datang bersama kelompok yang menyamar — itu bukan hal yang mustahil.

Paranoid, Cai Yan masih menatap pelayan utusan Mongolia itu dari atas ke bawah. “Ini tidak seperti dia datang ke sini, jadi bagaimana kita bisa bergulat?” Dia mengatakannya, sementara pada saat yang sama dia sepenuhnya mempersiapkan diri untuk Batu menunjukkan dirinya.

Untungnya utusan itu membalas dengan senyuman, “Oh? Apakah itu berarti Yang Mulia Pangeran setuju untuk bertanding?”

Oh, Cai Yan, kau bodoh, pikir Duan Ling. Bahkan ketika Borjigin tidak muncul, dia masih bisa mengerjaimu seperti ini, yang membuatku bertanya-tanya apakah beruntung atau tidak beruntung bahwa kau akhirnya duduk di posisi itu.

Pikiran Cai Yan benar-benar kacau, merasa bahwa apa pun yang dia katakan dapat digunakan untuk melawannya. Untungnya, Mu Kuangda memotong pembicaraannya sekarang sambil tersenyum, “Jika demikian, lalu mengapa tidak membiarkan kita masing-masing memilih salah satu dari kita sendiri untuk mewakili Yang Mulia Pangeran dan putra mahkotamu, dan bertanding? Setelah kita benar-benar menikmatinya, kita semua bisa pulang, dan tidak harus berdiri di sini dalam cuaca dingin sepanjang hari. Aku sudah tua, tidak seperti kalian anak muda yang tumbuh di utara.”

Utusan itu berkata, “Itulah tepatnya yang ingin kami lakukan. Prajurit terbaik kami, Amga, akan mewakili putra mahkota kami. Tapi aku ingin tahu prajurit mana yang akan bertarung untuk Kekaisaran Chen?”

Tidak ada yang mengatakan apa-apa.  Kau pasti bercanda — bertingkah seperti badut dan bergulat dengan orang bodoh yang tidak sopan? Itu benar-benar penghinaan.

Duan Ling tahu utusan itu pasti akan mengatakan sesuatu seperti “di wilayah yang luas seperti Chen, apakah tidak ada orang yang berani bergulat dengan salah satu prajurit kami” atau semacamnya. Hal-hal yang keluar dari kepala Batu, Duan Ling tahu itu seperti punggung tangannya sendiri.

“Prajurit yang mana?” Berada di sini sama sekali membuat Cai Yan bingung dan mudah tersinggung; dia berharap pertarungan akan segera berakhir sehingga dia bisa pergi. Semakin lama ini berlangsung, semakin besar kemungkinan mereka akan melihat kekurangan dalam tindakannya.

“Chang Liujun,” kata Mu Kuangda.

Chang Liujun akan menjawab, namun Wu Du telah mengambil langkah maju. “Kalau begitu izinkan aku untuk bertanding dengan prajuritmu atas nama Yang Mulia Pangeran.”

Jantung Duan Ling naik tajam ke tenggorokan pada saat ini. Mu Qing bahkan tidak tahu harus berkata apa, ekspresinya dengan jelas mengungkapkan “mengapa dia begitu ingin pamer” saat dia melihat Duan Ling. Tapi Duan Ling tahu bahwa “Yang Mulia Pangeran” di mulut Wu Du merujuk padanya, dan bukan Cai Yan. Di mata Wu Du, karakter utama yang sebenarnya dari kunjungan perayaan ulang tahun resmi ini telah berdiri di balik semak-semak — Duan Ling yang belum menunjukkan dirinya.

“Wu Du belum sepenuhnya pulih dari luka-lukanya.” Zheng Yan berkata dengan lesu, “Aku lebih baik menggantikannya.”

“Tidak perlu merepotkan kalian berdua.” Lang Junxia memberi Cai Yan anggukan.

“Bagaimana dengan ini…” Kepala Cai Yan berputar melalui serangkaian kemungkinan dan berkata, “Cedera Wu Du belum sepenuhnya sembuh, jadi mengapa tidak…”

Tapi Wu Du mengabaikan semua orang di taman, dan menarik Lieguangjian dari sarungnya di pinggangnya. Siulan metalik terang berdering melalui area tersebut. Tiba-tiba, semua menjadi sunyi.

Mu Kuangda berkata dengan waspada, “Wu Du!”

Atas provokasi Wu Du, ekspresi prajurit dari sisi lain segera menjadi gelap.


KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Rusma

Meowzai

Footnotes

  1. Cai (nama belakang Cai Yan) dan Cai (sayuran) adalah homonim; “Anjing Cai” dan begitulah Batu memanggil Cai Yan ketika mereka masih kecil. 
  2. Batu.
  3. Jujur sekaligus blak-blakan.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments