English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Rusma
Editor: _yunda


Buku 3, Chapter 21 Part 3

Zheng Yan kembali ke istal halaman belakang di istana dengan menunggang kuda. Pada saat dia turun, di luar sudah gelap dan suram, telah mendekati jam senja, dan gerimis mulai turun. Cai Yan sedang makan malam, dengan Lang Junxia duduk di dekatnya.

“Jadi?” Cai Yan bertanya.

“Aku telah berbicara dengan Wu Du.” Zheng Yan juga duduk di belakang meja lain di ruangan itu. Dia mengambil cangkir berisi teh dingin dan menyesapnya. “Dari apa yang bisa aku duga, dia mungkin tidak ingin bergabung dengan Istana Timur. Aku sudah membawa Benxiao kembali padanya.”

Cai Yan tidak mengatakan apa-apa, hanya diam-diam mengunyah makanannya.

“Ada seorang pemuda yang tinggal di rumah Wu Du.” Zheng Yan menambahkan, “Namanya Wang Shan — pasti utusan khusus Kanselir Mu yang dikirim ke Tongguan. Jika Yang Mulia Pangeran bermaksud untuk mendukung Wu Du dan memberinya kesempatan ini, kau harus mencurahkan energi untuk pemuda ini.”

Cai Yan bergumam mengiyakan. Di luar, seorang penjaga mengumumkan, “Yang Mulia Pangeran, dia ada di sini.”

“Persilakan dia masuk,” kata Cai Yan.

Mendengar Cai Yan menggunakan kata “Persilakan”, Lang Junxia mengalihkan perhatiannya ke pintu dengan sedikit cemberut.

Ada seorang pria berdiri di sana; sangat kurus, berumur sekitar tiga puluhan, dengan mata jahat dan kulit kasar. Mengenakan jubah bersih yang terbuat dari kain petani1, wajahnya ditutupi dengan memar gelap, dia masuk ke kamar dengan langkah sunyi, begitu cepat sehingga dia membawa angin sepoi-sepoi di belakangnya.

“Salam, Yang Mulia Pangeran,” kata pria itu, dan dengan mengibaskan lengan bajunya dia berlutut untuk bersujud kowtow pada Cai Yan.

“Kau tidak memberitahuku bahwa dia juga telah diampuni,” kata Lang Junxia dengan suara dingin.

Sebaliknya, Zheng Yan sudah tahu, jadi ketika dia melihat Feng dia hanya tersenyum tanpa sepatah kata pun.

“Dan sekarang kau tahu, Wuluohou Mu,” kata Zheng Yan kepada Lang Junxia. “Yang Mulia Pangeran adalah orang yang sangat perhatian. Dia sangat khawatir kau akan marah dan itu buruk untuk kesehatanmu, kau tahu.”

Lang Junxia mengabaikan ejekan Zheng Yan, dan mengalihkan pandangannya ke Cai Yan. Cai Yan merasa sangat canggung, dia terbatuk.  “Feng, bangkit. Tempat duduk itu untukmu.”

Cai Yan menunjuk kursi di sebelah kanannya, ditempatkan di ujung. Feng kemudian memberi hormat kepada Lang Junxia dan Zheng Yan, “Saya pejabat yang bersalah, Feng. Salam, Tuan-tuanku.”

“Semua bersalah sampai tingkat tertentu,” kata Cai Yan, “Kalau tidak, tidak perlu ada orang bijak yang berbudi luhur. Karena kau telah bergabung dengan Istana Timur, bekerja keraslah. Jadikan setiap hari itu jadi berarti.”

Feng memberinya sedikit senyum. Cai Yan memberinya secangkir anggur, dan Feng meneguknya sedikit. Di luar aula, angin barat mulai bertiup. Paduan suara gemericik dari daun-daun yang jatuh berhamburan, memenuhi halaman yang menjadikannya tampak seperti darah.


Angin musim gugur membuat dedaunan berdesir, dan Sungai Perak2 berkilauan di atas. Deretan lentera yang mempesona telah dinyalakan di seluruh kediaman kanselir, menyinari meja perjamuan di paviliun. Para pemain telah disewa untuk menampilkan pertunjukan boneka, dengan petikan qin mengiringi baris-baris lirik; bayangan anggun dan gesit bermain di belakang layar putih tipis, menceritakan kisah manusia serigala di Jiangzhou selama Dinasti Yu3. Kepiting jantan dengan berat masing-masing setengah kati dan beberapa kepiting betina disajikan di meja, menunggu di keranjang kukusan.

Mu Qing menonton pertunjukan boneka dengan minat besar, sementara Duan Ling memisahkan daging kepiting dari cangkangnya untuk Mu Qing dan mereka kadang-kadang bertukar satu atau dua kata. Wu Du di sisi lain mengambil telur kepiting dan daging dengan sumpitnya, menyisihkannya untuk Duan Ling, sehingga dia tidak akan pergi tanpa makan karena dia sibuk melayani Mu Qing.

“Apa itu untukku?” Duan Ling berkata sambil tersenyum.

Wu Du memberi isyarat, silakan makan, dan Duan Ling langsung memakannya.

“Maafkan keterlambatanku!” Mu Kuangda berkata sambil tersenyum.  “Dengan masalah relokasi ibu kota yang baru saja diselesaikan, masih banyak hal yang perlu diperhatikan dan itu memakan waktu yang cukup lama.”

Semua orang bangkit dari tempat duduk mereka sekaligus. Chang Liujun dan Chang Pin, seniman bela diri dan sastrawan, tangan kiri dan kanannya,4 berjalan ke ruangan di belakangnya.  Ini jelas menunjukkan rasa hormat untuk Wu Du.

 “Tidak apa-apa,” kata Wu Du, “kami hanya menonton pertunjukan.  Penantian itu sama sekali tidak membosankan.”

Semua orang menyapa Mu Kuangda satu per satu sebelum Mu Kuangda berkata kepada Chang Pin, “Fei Hongde telah menghilang lagi. Andai saja aku tahu, aku akan membuat Wang Shan membelit kakinya dan membawanya kembali ke sini bahkan jika dia harus menyeretnya.”

Semua orang di ruangan itu mulai tertawa. Mu Kuangda menyuruh mereka, “Makanlah. Jangan khawatir tentang aku. Perjamuan ini selalu menjadi alasan untuk memberi semua orang hidangan hangat yang enak atas nama menyambut kalian berdua kembali.”

Duan Ling tersenyum, “Saya pikir Anda akan terlalu sibuk, Kanselir Mu, jadi tentu saja saya tidak berani datang mengoceh kepada Anda segera setelah saya kembali.”

Mu Kuangda mengangguk, dan memujinya, “Kalian berdua melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Ini sangat mengurangi beban pikiranku, dan seharusnya tidak akan ada masalah di Tongguan setidaknya selama sepuluh tahun ke depan. Aku membahasnya di depan Yang Mulia hari ini, dan Yang Mulia sangat menghargai keahlianmu, Wu Du.”

Wu Du hanya ber-hmm dingin sebelum dia mengatakan, “Ini semua berkat Anda, Kanselir Agung.”

Orang-orang yang hadir di aula tampaknya telah merasakan perubahan pada Wu Du juga, dan mereka melirik ke arahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Chang Pin adalah satu-satunya yang tersenyum dan berkata, “Aku sering berpikir untuk bepergian di sisi Master Fei ketika aku masih muda, tetapi sejak perpisahan kami sepuluh tahun yang lalu aku belum pernah mendengar kabar darinya. Ini benar-benar takdir bagi kita semua bahwa teman muda kita Wang Shan berhasil bertemu dengannya.”

Duan Ling berkata, “Master Fei dalam keadaan sehat.”

Semua komunikasi sebelumnya yang dilakukan Duan Ling dengan Mu Kuangda adalah dengan surat resmi, dan sekarang, menceritakan kisah terperinci tentang apa yang mereka alami dari saat mereka mencapai Tongguan hingga pertempuran terakhir, kedengarannya benar-benar mendebarkan. Tetapi pujian untuk sebagian besar strategi telah ditempatkan tepat pada Wu Du untuk menghentikan Mu Kuangda dan Chang Pin agar tidak curiga. Mu Kuangda begitu senang sehingga dia terus mengangguk dari waktu ke waktu, sementara Chang Pin mengambil kepiting dan mulai makan, tatapannya bukan pada Duan Ling tetapi pada pertunjukan boneka.

Setelah Duan Ling selesai menjelaskan garis besar secara kasar dari apa yang terjadi dalam perjalanan mereka, Wu Du dengan santai menambahkan beberapa detail lagi tentang pertahanan di Tongguan, serta kekuatan pihak lawan dan seterusnya.

Pada akhirnya Mu Kuangda berkata, “Wu Du, sepertinya kau memang memiliki bakat dalam strategi, formasi, memimpin serangan, dan perang gerilya.”

“Mungkin mempelajarinya dari Jenderal Zhao, kan?” Chang Liujun, yang telah berdiri di satu sisi, berkata, “Aku kira kita harus menyebutnya karya seni terakhir seseorang sekarang.”

Mu Qing mengerti maksud kata-kata di antara kalimat Chan Liujun dan tertawa terbahak-bahak. “Pfft!”

Duan Ling melirik Wu Du, tapi Wu Du tidak lagi mementingkan provokasi Chang Liujun. Dia hanya menjawab dengan anggukan rendah hati, dan berkata, “Ini lebih baik daripada mengikuti seorang master selama bertahun-tahun tanpa belajar apa pun. Aku mengakuinya.”

Duan Ling, kali ini, yang hampir memuntahkan makanannya sambil tertawa. Wu Du menyerahkan tempurung kepiting lain yang penuh dengan daging dan telur kepada Duan Ling, dan berkata kepada Mu Kuangda, “Aku berpikir karena ujian akan segera dilaksanakan, jika kita tidak segera kembali, itu akan menghalangi pembelajaran Shan’er, jadi kami memutuskan untuk kembali sesegera mungkin.”

“Kau seorang pria yang bertanggungjawab sekarang,” kata Mu Kuangda kepada Wu Du. “Sepertinya putra mahkota benar-benar mengenali nilaimu. Ketika kau sampai di rumah, kau harus benar-benar mempertimbangkannya.”

Mendengarnya Wu Du berhenti berbicara.

“Ngomong-ngomong,” kata Chang Pin, terdengar agak terhibur, “Kediaman akan menulis undangan untuk persiapan ujian khusus yang berlangsung pada awal musim semi tahun depan. Kediaman kami dibebaskan dari keharusan mengikuti ujian kualifikasi provinsi, dan tentu saja dengan kemampuan menulis esai teman muda kami Wang Shan, dia tidak perlu menunggu tiga tahun lagi — tidak ada salahnya dia mengikuti ujian ibu kota secara langsung. Tetapi kami membutuhkan Master Wu untuk memberi kami rincian tentang seluk beluk kelahirannya sehingga kami dapat menulis kartu nama untuk membuatnya secara resmi dinamai di bawah seorang guru.”

Kewaspadaan menyentak hati Duan Ling, karena dia tidak menyangka Chang Pin akan membahas hal seperti ini. Duan Ling dapat merasakan bahwa Chang Pin memang memiliki pikiran untuk mencari tahu tentang dia, tetapi apakah dia mencurigai sesuatu yang aneh dalam identitasnya — yah, dia tidak bisa memastikannya.

Tapi Wu Du sudah memikirkan cara untuk melawan ini. Dia berkata kepada Duan Ling, “Siapa nama ayahmu lagi? Aku dulu hanya memanggilnya  DageDage hari demi hari, dan sekarang aku tidak dapat benar-benar mengingat siapa nama aslinya.”

“Wang Sheng,” jawab Duan Ling.

“Wang Sheng.” Wu Du menghela napas, dan berhenti sejenak untuk memilah-milah pikirannya. “Wang Shan kehilangan ibunya di usia muda, dan ayahnya adalah seorang ahli obat yang kadang-kadang memeriksa pasien sebagai tabib. Kami bertemu di Xunbei, dan dia sering membantuku melacak bahan-bahan langka. Wang Shan bepergian ke seluruh benua sehingga dia tahu lebih banyak daripada kebanyakan anak lain seusianya;  ayahnya sering menyebutkan tentang mempercayakan dia kepadaku lebih dari sekali sehingga dia tidak harus menghabiskan hidupnya di jalan. Tapi saat itu aku tinggal di bawah atap orang lain, aku hampir tidak bisa mengurus diri sendiri, jadi aku tidak punya energi untuk mengkhawatirkan mereka berdua.”

Duan Ling mengingat ayahnya.  Meskipun Wu Du telah mengarang keadaan kelahirannya, sedikit di sana-sini cocok dengan ingatannya, dan dia tidak bisa tidak mengingat masa lalu; tiba-tiba dia dipenuhi emosi.

“Seorang pria yang mempraktikkan pengobatan, lalu melakukan pekerjaan mulia dan mengumpulkan karma baik untuk menaungi keturunannya.” Chang Pin berkata, “Ayahmu pasti pria yang baik.”

Duan Ling memberinya anggukan, dan Wu Du mulai tersenyum. Dia menepuk bahu Duan Ling, dan mengambil tangannya, menggenggamnya, jari-jari kuatnya membelai tangannya. Kelembutan mengalir di hati Duan Ling, karena dia tahu Wu Du tidak berpura-pura; dia benar-benar mencoba untuk memberinya semangat.

“Anak-anak selalu menawan.” Wu Du menoleh ke perjamuan dan berkata, “Orang-orang dari semua keahlian — prajurit, pandai besi, pemain Cuju, shaman, penjahit, penyanyi opera — akan memilih memberikan keterampilan terbaik mereka kepadanya sebagai rasa terima kasih kepada ayahnya. Adapun berapa banyak yang dia pelajari, aku tidak tahu persis. Ada kehebatan dalam nasibnya menurut peramal, dan aku telah diberitahu ayahnya bahwa dia tidak cocok untuk menikah5, dan dia berkata bahwa Wang Shan harus tinggal bersamaku.6 Adapun masa depannya, dia menyerahkannya kepadaku.”

 “Kalau begitu mari kita dengarkan perkataanmu,” kata Mu Kuangda, dan dia menoleh ke Chang Pin. “Tempatkan dia sebagai dari garis keturunan tabib, keluarga Wang, kampung halaman leluhur di Xunbei. Tabib adalah pekerjaan yang layak. Kita bisa meninggalkan sisanya.”

Chang Pin berkata sambil tersenyum, “Pekerjaanmu yang baru tidak dapat menghidupkan kembali orang mati, tapi alih-alih mengobati yang sakit, kau dapat mengobati negara — itu bukan hal yang buruk.”

Sekarang kata-kata itu benar-benar mengangkat Duan Ling terlalu banyak, dan dia buru-buru mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Chang Pin dan Mu Kuangda. Mu Kuangda dengan santai menuangkan secangkir anggur di mejanya dan membawanya ke Wu Du. “Minumlah anggur rempah7 ini. Ini akan membantu mengatasi rasa dingin yang datang dengan makan kepiting.8 Kau terluka, aku tahu itu, jadi tetaplah di kediaman dan pulihkan diri untuk beberapa saat. Setelah kau mengetahui apa yang kau inginkan, aku akan memberimu lebih banyak pekerjaan.”

Wu Du tahu bahwa putra mahkota juga telah meningkatkan keinginannya untuk merekrutnya di depan Mu Kuangda, dan jika itu menguntungkan sisi Mu, Mu Kuangda tentu saja ingin dia bergabung dengan Istana Timur. Dengan cara ini, tidak peduli apa yang terjadi, selama dia mau memberi tahu Mu, itu akan sama dengan Mu yang memiliki mata-mata di istana, dan mereka akan terus-menerus mencengkeram apa yang direncanakan putra mahkota. Dan di atas semua itu, mata-mata ini adalah Wu Du — ahli racun.

Tapi apa yang ada dalam pikiran Duan Ling adalah hal lain. Putra mahkota telah mencoba merekrut Wu Du sekali, dan jika dia percaya akan kesetiaan Wu Du, maka meninggalkannya di kediaman kanselir sebagai antek Mu Kuangda akan jauh lebih menguntungkan — jadi mengapa dia berubah pikiran sekarang?

“Aku tidak bisa minum lagi.” Wu Du melambaikan cangkir anggurnya. “Anggur ini sangat kuat.”

Wu Du menyerahkan setengah cangkir anggur yang tersisa kepada Duan Ling, dan Duan Ling meminumnya. Mu Kuangda dan Chang Pin perlu mengadakan pertemuan nanti malam, jadi Duan Ling dan Wu Du mempersingkat perjamuan dan kembali ke rumah mereka untuk tidur.

Saat mereka berjalan melalui koridor yang mengarah keluar dari kediaman Kanselir, Wu Du tiba-tiba berkata, “Lihat.”

Sebuah sungai perak melintasi cakrawala, terlihat di atas lorong di antara dua atap. Mereka berhenti, keduanya mengingat malam Ketujuh dari Ketujuh.

“Entah bagaimana aku lupa merayakan hari ulang tahunmu bersamamu,” kata Wu Du kepada Duan Ling. “Aku bertarung hari itu dan melupakan semuanya.”

“Ulang tahunku di bulan kedua belas,” bisik Duan Ling, “jadi mari kita rayakan.”


Duan Ling dan Wu Du kembali ke kamar mereka. Mereka berdua minum cukup banyak anggur, dan Wu Du jatuh dengan keras ke tempat tidur, menatap Duan Ling dengan mata mabuk.

Duan Ling tidak bisa mengganggunya untuk mandi dan berganti pakaian, dan hanya berbaring di sebelah Wu Du.

“Apakah kau ingin bergabung dengan Istana Timur?” Duan Ling bertanya.

Ada keheningan singkat sebelum Wu Du menjawab, “Mungkin aku akan dapat menemukan beberapa bukti tentang Wuluohou Mu dan putra mahkota.”

“Aku lebih suka kau tetap di sisiku, dan aku juga tidak ingin kita berpisah.”

“Kalau begitu aku tidak akan pergi.”  Mengangkat tangan, Wu Du memberi Duan Ling tepukan ringan di bahu. Dia berbalik ke sisinya. Mereka berbaring saling berhadapan di tempat tidur, menatap mata satu sama lain.

“Masih ada waktu. Kanselir Mu akan bertanya lagi setelah ujian ibu kota.”

Alis Wu Du berkerut ringan.  “Bagaimana kau tahu itu?”

“Dia masih perlu memastikan kau tetap setia padanya, jadi dia akan menahanku di kediaman dan menggunakanku untuk mengendalikanmu.”

Semua menjadi jelas bagi Wu Du. Sekarang setelah dia memikirkannya, itu sangat mungkin. Mu Kuangda dapat mengatakan bahwa ikatan di antara mereka telah menguat, dan yang harus dia lakukan hanyalah membimbing Duan Ling, membantunya, dan menerimanya sebagai murid. Dan sebagai gantinya Wu Du akan menjadi punggawa di Istana Timur, menjadi agen tak terlihat yang disimpan Mu Kuangda di dekat putra mahkota.

“Tapi aku belum bisa mengetahui semuanya.” Duan Ling masih sedikit mabuk. Dia meletakkan tangannya di wajah Wu Du. “Mengapa putra mahkota terburu-buru merekrutmu?  Sikapnya tidak sama seperti sebelumnya.”

Tapi Wu Du tidak lagi mendengarkan.  Ada rona merah di pipinya karena minum, dan matanya penuh dengan Duan Ling. Tampaknya ada air di mata Duan Ling, seterang kolam yang memantulkan langit berbintang.

“Duan Ling.”

“Hm?” Duan Ling tiba-tiba merasa bahwa jika dia memiliki seseorang seperti Wu Du di sisinya selamanya, itu pasti menjadi hidup yang cukup menyenangkan. Seperti yang dikatakan Wu Du di depan Mu Kuangda, dia tidak bisa menikah — dan sebenarnya, Duan Ling juga tidak ingin menikah, jika tidak, rahasianya yang sebanyak ini tidak akan membawa apa-apa selain bahaya.

“Di masa depan kau akan menjadi kaisar. Jangan menganggap serius apa yang aku katakan di depan Kanselir Mu hari ini. Suatu hari, kau akan menikah dengan Putri Mahkota yang cantik, dan dia akan menjadi permaisurimu. Kau akan memiliki putra, cucu….”

“Aku tidak akan menikah.”

“Kau harus mengingatku.” Wu Du berkata dengan tidak jelas karena mabuk, “ingat bahwa, malam ini, kau dan aku berbaring di tempat tidur di kediaman kanselir…”

Duan Ling mengulangi, “Aku tidak mau.”

Dia sudah sangat mengantuk. Dalam kantuknya, sebuah gagasan samar muncul — dia memikirkan bagaimana putra mahkota mungkin percaya bahwa Mu Kuangda akan meracuninya, dan menyadari bahwa dia tidak aman, melayaninya dengan benar, dia harus hidup dengan hatinya terus-menerus gelisah seperti itu; dia memikirkan bagaimana, seperti yang dikatakan ayahnya, banyak orang akan tersandung satu sama lain hanya untuk memberinya segalanya, tetapi dia masih sangat percaya bahwa jika seseorang ingin memberikan segalanya, tentu saja dia juga harus memberikan segalanya kepada seseorang sebagai balasannya…

Dalam pelukan Wu Du, dia tertidur.

Perlahan, Wu Du menutup matanya, dan dengan aroma samar anggur osmanthus di antara bibirnya, dia menundukkan kepalanya dan menekan ciuman ringan ke pangkal hidung Duan Ling.


KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Rusma

Meowzai

Footnotes

  1. Peasant-cloth.
  2. Sungai Perak adalah nama Cina untuk apa yang dikenal di Barat sebagai “Bima Sakti”, galaksi Tata Surya. Dalam tradisi Cina, Sungai Perak memandikan langit dan bumi dalam cahaya konstan dan menghubungkan kedua alam, memungkinkan makhluk duniawi dan surgawi untuk bertemu.
  3. Untuk informasi lebih lanjut tentang manusia serigala, bacalah Yingnu. Penerjemah Inggris mengatakan bahwa ini adalah tragedi yang melibatkan tipu daya, racun, dan pengkhianatan. (Dengan kata lain, tidak pantas).
  4. Orang kepercayaannya.
  5. Secara umum diyakini bahwa seseorang yang dimaksudkan untuk kebesaran/keagungan cenderung menjadi kutukan pada mereka yang berhubungan dengan orang itu, baik dengan darah maupun dengan pernikahan. 
  6. Ini 100% terdengar seperti tinggal bersamanya seumur hidup seperti menikah. 
  7. Mulled wine atau spiced wine, anggur yang dimasak dengan rempah-rempah kadang kismis.
  8. “Dingin” hanyalah konsep obat tradisional China, dan makan kepiting membawa rasa “dingin” itulah sebabnya biasanya disajikan dengan teh jahe. 
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments