English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Keiyuki17
Editor : _yunda


Buku 1, Chapter 3 Part 1

Secara bertahap, salju mulai mencair. Duan Ling memiliki sebuah rumah baru; hal ini membuatnya jauh lebih bersemangat dari apa pun yang pernah dia alami sebelumnya. Awalnya Lang Junxia bertanya-tanya untuk sementara waktu apakah dia harus memperkerjakan beberapa pelayan untuk rumah itu, tetapi Duan Ling sama sekali tidak peduli akan hal itu. Hari itu, dia berlarian ke seluruh penjuru rumah seakan dirinya memiliki energi yang tidak ada habisnya, menggantung lentera di depan pintu dengan tulisan “Duan” yang tertulis di atasnya, menyapu salju di halaman utama hingga ke ujung, setiap tempat di rumah itu menjadi target keingintahuannya. Dia seperti seekor anak anjing yang baru saja dibawa pulang ke rumah, jejak langkah kakinya mencapai setiap inci rumah barunya ini, menjelajahinya seakan ini adalah surga yang belum terpetakan.

Lang Junxia belum pulih dari cideranya, jadi setelah menempatkan salep di mata kiri Duan Ling dia membiarkannya bebas berkeliaran di sekitar rumah.

“Bolehkah aku menanam sesuatu di sini?” Duan Ling bertanya, berjongkok di depan sepetak taman kecil di halaman utama.

“Tentu saja. Ini rumahmu. Hari ini sudah larut. Aku akan membelikanmu beberapa bibit di pasar lain hari.”

Dengan berjongkok, dia dengan sungguh-sungguh membalikkan tanah, Lang Junxia memperhatikannya, bersandar dengan tongkat kayu di dekat pintu depan. Hanya setelah matahari mulai tenggelam dia kemudian berkata, “Masuklah. Terlalu dingin di Shangjing sehingga sangat sulit untuk memelihara bunga tetap hidup di sini.”

Duan Ling dengan enggan masuk ke dalam dan menemukan Lang Junxia sedang duduk di depan kompor, menyalakan api.

“Aku akan mengujimu. Apa yang kau pelajari di Aula Kemasyhuran?”

“Langit hitam bumi kuning alam semesta yang luas semuanya kacau–” Duan Ling mulai melafalkan Seribu Karakter Klasik, libur singkatnya akan segera berakhir. Besok, dia akan segera kembali ke sekolah.

Lang Junxia mengambil mangkuk dan meletakkan kulit babi di dalamnya. Dia meletakkannya di atas api dan mengukusnya, menambahkan air kemudian beberapa gula merah.

Duan Ling telah selesai membacakan seluruh Seribu Karakter Kuno. Lang Junxia cukup terkejut. “Kau telah menghafal semuanya.”

Ada beberapa karakter yang salah di tengah, tetapi Lang Junxia tidak terlalu menyadarinya. Dia berkata dengan sungguh-sungguh, “Sangat bagus, kau benar-benar seorang pelajar sekarang. Aku sedang cidera jadi tidak dapat mengajakmu keluar hari ini, dan terlalu dingin di luar jadi tidak banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan di luar, jadi hari ini aku berhutang padamu. Bulan depan ketika musim semi datang aku akan mengajakmu keluar jalan-jalan.”

“Tidak apa-apa. Kau istirahatlah dan pulihkan dirimu. Apa yang kau kukus? Aku melihat gula, apa itu enak?”

“Kau akan mengetahuinya besok.” Lang Junxia membalasnya.

Duan Ling telah menyadarinya bahwa apapun hal yang dia tanyakan, dirinya tidak akan mendapatkan sebuah jawaban dari Lang Junxia, namun perlahan dia mulai terbiasa.

Malamnya, Lang Junxia menempatkan seikat bunga plum di mangkuk dan meninggalkannya di luar.

Hari berikutnya, ketika Lang Junxia mengantarnya ke Aula Kemasyhuran, dia tidak segera pergi, dan justru dirinya melihat Duan Ling, menunggunya pergi. Duan Ling sudah mulai menerima peraturan ini. Meskipun dia tidak ingin dipisahkan dari Lang Junxia, dia tampak lebih bersemangat dan dia-lah yang mengatakan, “Pulanglah.”

Sesaat kemudian, Lang Junxia bersandar pada kruknya dengan satu tangan dan mengulurkan tangan lainnya, dan Duan Ling melingkarkan lengannya di pinggang Lang Junxia, menekan wajahnya ke dada Lang Junxia.

“Jangan sembarangan memberi tahu siapa pun tentang kita dan rumah kita saat kau di sekolah.” Lang Junxia memperhatikan penjaga gerbang yang mengawasi mereka dengan rasa ingin tahu, dan dengan satu tangan di sekitar Duan Ling, dia mencondongkan tubuh ke dekat untuk mengatakan kepadanya dengan tenang di dekat telinganya, “Jangan katakan apapun. Kau tidak dapat menilai buku dari sampulnya. Pastikan untuk mengingatnya.”

“Ini untukmu,” Lang Junxia memberikan kotak makanan kepada Duan Ling. “Makanlah secepatnya. Saat aku kecil, ibuku sering membuatkan ini untukku.”

Duan Ling mengangguk, dan meninggalkan Lang Junxia.

Sejak dia berada di pengasuhan Lang Junxia, dua frasa yang paling sering didengar Duan Ling adalah ‘jangan bertanya ‘apa pun‘ dan ‘jangan katakan apa pun‘. Lang Junxia sangat berhati-hati; hal itu menyebabkan Duan Ling juga merasakan sedikit rasa bahaya, yang dirinya tidak tahu harus diapakan. Dia bahkan tidak tahu harus mulai bertanya dari mana.

Untungnya, anak-anak memiliki inajinasi yang hidup dan Duan Ling telah mengarang serangkaian cerita yang tidak ada habisnya di kepalanya; mereka menerjanginya layaknya air pasang, berbelit-belit dan tak terhitung banyaknya. Teori baru menggantikan teori lama sebelum mereka memiliki kesempatan untuk membuat diri mereka koheren, dan Lang Junxia telah menjalani berbagai macam pekerjaan yang berbeda dari monster ke gelandangan ke pedagang kaya dan akhirnya menetap menjadi pendekar pedang.

Dia masih memikirkan tentang tamu yang tak diundang di malam sebelum kemarin — seorang penjaga bayangan mengejar Lang Junxia, mereka berada dalam bahaya sangat besar, namun mereka selamat sekarang. Kalau tidak, Lang Junxia akan membawanya dan pindah rumah agar mereka tidak ditemukan.

Mereka mengejarnya untuk mengetahui keberadaan seseorang — ‘Siapa dia? Mungkinkah itu ayahku?

Duan Ling merasa bahwa darahnya menyala di seluruh pembuluh darahnya ketika memikirkan hal ini. Mungkin ayahnya adalah orang yang amat sangat penting, dan dia meminta Lang Junxia untuk menjemputnya dan menjaganya, dan begitu mereka bertemu kelak semua kabut hitam ini akan menjadi terang.

Duan Ling berlari bersama dengan kotak makan yang Lang Junxia berikan kepadanya dan hampir menabrak seseroang di luar halaman samping — ternyata Batu, yang sedang mencoba melihat apa yang ada di luar.

“Apa yang terjadi?” Tanya Batu dengan terkejut. “Siapa yang memukul matamu?”

Duan Ling menjawab, “Ini… Ini bukan apa-apa.”

Duan Ling ingin kembali ke kamarnya, tetapi Batu datang untuk berbicara dengannya. Dia ingin membantu Duan Ling membawa barang-barangnya, tetapi Duan Ling enggan melepaskannya, dia berpikir bahwa Batu akan meraih barang-barangnya untuk dilihat, dia berkata dengan panik, “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Apakah dia melecehkanmu?” Tanya Batu.

“Ini bukan apa-apa sungguh…”

“Borjigin!” Sebuah suara tegas terdengar dari belakang mereka — itu Cai Yan. Cai Yan menatap Batu dengan ekspresi dingin yang mengancam, dan mendekati mereka dengan langkah lambat. Batu tidak memiliki pilihan selain melepaskan Duan Ling dengan cibiran hmph.

“Datanglah ke kamarku sebentar,” kata Cai Yan kepada Duan Ling, “Aku ingin bertanya tentang sesuatu.”

Duan Ling mengangguk. Batu melihat ke Cai Yan dan kemudian ke Duan Ling. Cai Yan tidak mengatakan apapun, dia berpikir jika Batu tahu apa yang baik untuknya dirinya, dia tidak akan terus menganggu Duan Ling. Begitu Cai Yan pergi, Duan Ling menjelaskan kepada Batu, “Ini salahku, aku membenturkannya di meja karena aku tidak berhati-hati.”

“Seseorang memukulmu tepat di sudut matamu. Aku tahu.”

Duan Ling untuk beberapa saat tidak bisa berkata-kata, tetapi Batu sudah melanjutkan, “Lupakan saja, semua Han berada dalam kelompok kecilnya sendiri. Aku anjing Yuan, aku harus menghindari urusanmu. Baiklah, aku akan pergi.”

“Batu!”

Batu bahkan tidak repot-repot untuk berbalik melihat ke arahnya sebelum pergi. Duan Ling kembali ke kamarnya dan menemukan bahwa tempat tidur yang dia tinggalkan di perpustakaan telah dipindahkan kembali ke kamarnya, dan tempat tidurnya sudah rapi.

Duan Ling membuka kotak itu. Di dalamnya ada manisan yang diberikan Lang Junxia padanya — berkilau, bening, diwarnai dengan gula merah, dengan bunga plum yang mekar diikat di dalamnya, dipotong kecil-kecil dan berbaris rapi di samping satu sama lain. Semakin banyak Duan Ling memandangnya, semakin dia tidak sanggup memakannya. Setelah berpikir beberapa lama, dia meninggalkan sebagian dan membungkus sisanya untuk diberikan masing-masing kepada Batu dan Cai Yan.

Ini hari pertama kembali ke sekolah jadi tidak ada kelas pagi. Begitu berisik dan ramai di halaman, semua anak saling bertukar makanan. Cai Yan berdiri di halaman belakang Aula Kemasyhuran bersama beberapa anak muda lainnya, mendengarkan ceramah guru.

“Angkat tanganmu tinggi-tinggi.” Kata guru itu dengan wajah tegas. “Bungkukkan hanya di pinggang.”

Cai Yan dan keempat pemuda lainnya meletakkan tangan mereka yang terkatup di atas kepala. Guru itu memeriksanya satu demi satu dan berkata, dengan sedikit kesal, “Tidak! Kalian tidak boleh berlutut! Ketika membungkuk kalian tidak boleh menggunakan lutut kalian — jadi istilah ‘membungkuk dan mengosok’1 mengacu pada hal itu.”

Para pemuda itu meniru gurunya, membungkuk berkali-kali. Sang guru mengingatkan mereka lagi, “Seorang pria berhati-hati dengan kata-kata dan tegas dengan tindakan. Ketika Pangeran Utara2 ada di sini, kalian harus lebih sedikit berbicara dan berbuat lebih banyak.”

“Ya, Guru.”

Melihat para anak muda itu melakukan salam dengan benar, Duan Ling baru menyadari bahwa Cai Yan sangat anggun dan tampan saat melakukannya, itulah mengapa Duan Ling melakukannya juga — mengangkat tangannya dan membungkuk ke dinding untuk meniru. Sang guru membiarkan mereka untuk beristirahat sebentar, dan ketika Cai Yan menyadari Duan Ling di luar, dia datang untuk menemuinya. Duan Ling memberikan puding yang dipegangnya, “Untuk kau makan.”

Cai Yan menerimanya tanpa bertanya apakah itu, dan dia langsung ke pokok masalahnya, “Ketika kakak laki-lakiku mencari di kota dua hari yang lalu dia mendatangi rumahmu. Apakah kau baik-baik saja?”

Duan Ling menggelengkan kepalanya sekaligus menunjuk ke matanya, menjelaskan tanpa menunggu Cai Yan untuk bertanya, “Aku tidak sengaja membenturkannya.”

Cai Yan memperhatikan Duan Ling dengan sedikit cemberut. “Bukankah keluargamu menjalankan sebuah usaha?”

Duan Ling memiliki tulisan “tidak mengerti” di seluruh wajahnya, tetapi dia hanya mengangguk. Berdasarkan apa yang didengar Cai Yan dari kakaknya malam itu. Rumah Keluarga Duan tampak sangat lusuh dan bahkan tidak memiliki seorang pelayan pun. Sang tuan muda sendirilah yang datang membukakan pintu dengan bertelanjang kaki, dan dia bahkan telah dipukuli sebelumnya. Ketika mendengar hal ini Cai Yan merasa prihatin padanya.

“Dengan siapa kau tinggal?” Tanya Cai Yan, “Ayahmu?”

“Aku….” Duan Ling tidak tahu bagaimana harus menggambarkan Lang Junxia, dan tiba-tiba sebuah frasa terlontar dari pikirannya, dia bahkan tidak ingat dari mana dia mendengarnya, “Suami yang mengasuh anak.”

Cai Yan membisu. Dia menjatuhkan dahinya ke tangannya karena tidak percaya. “Darimana kau mendengar itu? Kau tidak bisa seenaknya mengatakan hal semacam itu. Dia pasti seorang pelayan yang dipekerjakan oleh keluargamu untuk menemanimu.”

Duan Ling mengangguk. Cai Yan menanyakan pertanyaan lain, “Di mana ayahmu?”

“Sedang melakukan pekerjaan di Selatan.” Duan Ling menjawab seperti yang di ajarkan Lang Junxia kepadanya.

Cai Yan mempertimbangkan Duan Ling untuk waktu yang lama, dan dia menyadari bahwa tidak peduli dengan siapa Duan Ling berbicara, dia berperilaku sangat baik; dia tidak marah, dan dia memberikan jawaban untuk setiap pertanyaan yang dirinya berikan. Dia tidak dapat menahan diri untuk berkata dengan sedikit canggung, “Yah, setidaknya kau menurut. Lupakan. Aku sebenarnya memintamu untuk datang ke sini untuk mengingatkanmu untuk lebih banyak bergaul dengan Han lainnya. Jika kau butuh sesuatu, lihat Han di sekitarmu. Apakah kau pernah bersekolah sebelumnya?”3

Duan Ling belum mengetahui bahwa Han di Shangjing berkumpul bersama dan memiliki perkumpulannya sendiri. Non-Han juga memiliki perkumpulan kecil mereka sendiri. Adapun apapun yang diminta Cai Yan padanya, dia hanya mengangguk.

“Apakah kau tahu Ding Zhi dari Viburnum?” Cai Yan mengganti topik pembicaraan dan bertanya.

Duan Ling tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Dilihat dari ekspresinya, Cai Yan dapat langsung menebak mungkin Duan Ling mengenalnya.

“Ding Zhi marah pada kakakku,” Kata Cai Yan. “Lain kali kalau kau bertemu dengannya tolong katakan kepadanya untuk lebih santai kepada kakakku. Tapi kau tidak perlu pergi jauh-jauh menemuinya untuk membicarakan tentang hal ini atau apa pun.”

Duan Ling mengangguk. Kembali ke halaman dalam, Kepala Sekolah batuk dan Cai Yan bergegas kembali karena takut dipukuli. Sebelum pergi, dia menambahkan, “Jika ada sesuatu yang tidak kau mengerti, temui aku.”

Duan Ling mengintip mereka dari kejauhan dan belajar salam sebentar. Kemudian, dia merasakan dingin di dekat perutnya dan mengingat bahwa dia masih memiliki sepotong puding dingin yang hampir meleleh karena kehangatannya, dan kabur untuk mencari Batu.

Dia menemukan Batu dikelilingi oleh kerumunan anak-anak yang mengejek, tengah bergulat dengan seorang pemuda jangkung. Wajah Batu merah karena tegang; dia telanjang sampai pinggang, bagian atas tubuhnya sudah menunjukkan tanda-tanda otot seorang pria muda. Cara dia menabrak, menjatuhkan, dan membalik lawannya benar-benar kejam. Tiba-tiba menyadari kedatangan Duan Ling, dia kehilangan fokusnya selama sepersekian detik kemudian dijungkirbalikkan karena terkejut.

Kerumunan tertawa terbahak-bahak. Batu sangat marah sampai pipinya dan telinganya memerah. Duan Ling bergegas ke depan untuk membantunya berdiri, tetapi Batu bangkit sendiri dan menjauh.

Anak-anak memperhatikan Duan Ling dengan rasa ingin tahu. Batu berbalik, dan masuk ke dalam.

“Borjigin.” Duan Ling mengejarnya. “Aku membawakanmu sesuatu.”

“Jangan panggil aku dengan nama belakangku!” Batu berbalik dengan marah dan mendorong Duan Ling. Puding bunga plum di tangan Duan Ling jatuh ke tanah, dan pintunya ditutup dengan keras, membuatnya terkejut.

Semua orang tertawa lagi; Duan Ling terlihat sangat malu, tidak menyadari bagaimana dia berhasil membuat Batu marah. Pemuda yang sebelumnya bergulat dengan Batu sekarang sedang berjalan ke arahnya, seolah-olah dia akan mengatakan sesuatu, tetapi Duan Ling merasa takut berada di lingkungan yang tidak dikenalnya, dan karena takut seseorang akan membuatnya mendapat masalah lagi, dia dengan cepat meninggalkan area itu.

Pemuda jangkung itu membuka mulutnya, namun tidak ada apapun yang keluar. Dia memperhatikan Duan Ling yang menghilang di balik koridor.

Han berkumpul dengan para Han lainnya, non-Han berkumpul dengan para non-Han lainnya — itu adalah aturan tidak tertulis dalam Aula Kemasyhuran. Namun di mata para anak-anak setengah dewasa ini tidak ada banyak rasa permusuhan antar negara, mereka tidak melihat hal ini dengan kaca mata xenophobia4 dengan ‘mereka yang bukan berasal dari sukuku tidak seharusnya berada di hatiku’5 dan juga sebaliknya. Hanya saja Han membenci para Yuan, Lian, dan Xiqiang karena mereka tidak mandi, memiliki bau badan, dan karena perilaku barbar mereka yang merupakan sebuah aib bagi para kaum terpelajar.

Sedangkan non-Han memandang rendah Han karena mereka terlalu sombong dan sok.

Duan Ling telah benar-benar salah paham terhadap mereka. Pemuda tadi pun juga, dia hanya ingin mengatakan beberapa hal untuk menghiburnya, dan mengajarinya cara bergulat.

Tentu saja, bahkan jika Duan Ling memahami niat baiknya, dia pasti akan menolaknya dengan sopan. Selama jam makan siang dia terkejut saat mengetahui bahwa Aula Kemasyhuran telah dibersihkan dengan sangat baik hari ini, salju dari hari berikutnya telah di sapu bersih, dan bahkan daun-daun yang berguguran di taman telah dikumpulkan. Kepala sekolah dan semua guru telah mengenakan pakaian formal terbaik mereka, dan semua orang berdiri berbaris dengan rapi, menunggu seseorang di luar gerbang.

Ada acara spesial apa hari ini? Setelah makan siang, Duan Ling mengintip dari halaman depan dengan rasa ingin tahu, tampak bingung.

“Kembali! Kalian semua, kembali!” Guru berkata, “Kelas dimulai setelah makan siang, jagalah perilaku terbaik kalian hari ini!”

Dari jauh, bel pertama hari itu berbunyi, dan anak-anak buru-buru segera kembali ke kamar mereka untuk bersiap-siap sebelum menuju ke kelas masing-masing. Sore hari biasanya diisi dengan pendidikan dasar, melafalkan Seribu Karakter Klasik dilanjutkan dengan menyalin karakter dari buku menyalin6. Duan Ling mengambil kuasnya, mencelupkannya ke dalam lempengan tinta, dia hampir menyelesaikan beberapa karakter sebelum seseorang berbicara di luar sekolah.

“Mereka membaca di pagi hari dan menulis di siang hari,” Jawab seorang guru.

“Kebajikan, kebenaran, sopan santun, kebijaksanaan, kepercayaan. ” Sebuah suara yang terdengar kaya dan menyenangkan berkata, “Seseorang harus tahu bagaimana menulis lima kata ini.”

“Ya,” jawab sang guru, “Kami telah mengajarkan semua itu. Mari lewat sini, Tuanku.”

“Mari kita lihat Sekolah dasar terlebih dahulu,” kata suara itu, mengabaikan sang guru lalu masuk ke pintu belakang tanpa bertanya lebih lanjut.

Seorang pria paruh baya yang tinggi dan kuat, berusia sekitar empat puluhan melangkah ke dalam sekolah dasar. Para guru tidak mengantisipasi akan hal ini, dan cepat-cepat memberi tahu anak-anak sekolah, “Pangeran Utara telah datang untuk menemui kalian, ayo, bangun dan sambut beliau dengan benar.”

Anak-anak meletakkan kuas mereka dan berdiri, dan dengan segala macam salam mereka menyapa Pangeran Utara: beberapa membungkuk dengan tangan ke samping, beberapa ke depan, beberapa meletakkan tangan kanan di depan dada kiri dan setengah bangkit, dan bahkan ada beberapa yang berlutut — dengan satu lutut, kedua lutut, cara mereka memberi hormat berbeda-beda tergantung pada etiket masing-masing suku, benar-benar dalam segala cara di bawah matahari. Melihat ini, pria paruh baya itu tertawa terbahak-bahak, mengangguk pada mereka.

“Kalian semua akan menjadi pilar kerajaan di masa depan. Yah. Tidak buruk.”

Pengunjung mereka adalah kepala suku paling utara dari administrasi utara Liao, Yelü Dashi. Kaisar Liao telah mengubah gelar kepala suku menjadi “pangeran”; dia mengontrol kelima jalur militer Khitan, dan kecuali kaisar, tidak ada yang berdiri di atasnya. Kunjungan hari ini, tidak lebih dari sebuah keisengan belaka, pertama dia pergi ke Akademi Biyong dan pada sore hari dia datang ke Aula Kemasyhuran untuk menyemangati para siswa di Shangjing.

Lang Junxia tidak pernah benar-benar mengajarkan Duan Ling tentang salam apapun, jadi dia menggunakan apa yang dipelajarinya pagi ini, mengangkat kedua tangannya ke atas kepala dan membungkuk dengan sungguh-sungguh.

“Bagus, bagus.” Yelü Dashi berjalan melewati sisi Duan Ling dan memberinya sebuah senyuman.

Anak-anak selesai memberikan salam mereka dan Yelü Dashi dengan santai menanyakan beberapa hal kepada mereka sebelum berbalik dan pergi bersama para guru. Duan Ling mengintip ke arah “pangeran” itu – dia memiliki jenggot yang lebat, dan dia terlihat besar dan kuat tetapi dia tampaknya sangat baik. Segera para anak-anak ini mulai berbicara antar mereka sendiri dan ruangan itu mulai mendidih dengan suara berisik, menyebabkan sedikit keribuatan, tetapi segera ruangan itu menjadi sunyi lagi. Ternyata sang guru telah kembali.

“Letakkan kuas kalian, berbarislah dan pergilah ke depan halaman utama.” Perintah guru itu.
“Yang pendek berada di depan. Ayo berbaris dan ikuti aku.”

Yelü Dashi hanya berkeliling sekali, kemudian memanggil nama anak-anak satu persatu, bersiap untuk memberikan hadiah. Para siswa dari ketiga tingkatan kelas keluar dan berbaris di koridor, menunggu sang guru untuk memanggil nama mereka. Duan Ling melihat sekeliling namun dia tidak menemukan Batu.

Pemuda yang bergulat dengan Batu sebelumnya, berada di baris terakhir pada barisan sebelahnya. Dia melihat Duan Ling mencari sekeliling dan menyadari apa yang sedang dia pikirkan, jadi dia berkata kepada Duan Ling, “Dia tidak datang.”

“Kenapa dia tidak datang?” Tanya Duan Ling.

Pemuda itu menggelengkan kepalanya dan menunjuk ke arah sayap selatan, kemudian dia membentangkan tangannya untuk membuat tanda ‘tidak ada yang bisa aku lakukan‘. Duan Ling bertanya, “Apakah dia sakit?”

“Tidak…. tidak, dia, dia berkata, tidak, dia tidak mau datang.” Ternyata pemuda itu sebenarnya gagap. Anak-anak mendengarnya berbicara dan kedua kelas mulai tertawa terbahak-bahak. Ketika sang guru berbalik melihat ke arah mereka dengan ketidaksenangan barisan itu kembali diam.

Ketika sang guru telah kembali menjauh, Duan Ling meninggalkan barisan dan segera berlari ke arah koridor untuk mencari Batu.

Batu sedang duduk di halaman, pudding plum yang diberikan Duan Ling padanya sebelumnya ada di meja sebelahnya. Batu memunggungi Duan Ling, dan dari jauh Duan Ling melihatnya membuka kertas minyak yang membungkus puding itu, melipat pembungkusnya dan menyimpannya di bawah kerahnya, dan dengan hati-hati meniup debu yang ada di atas puding itu. Kemudian membuka mulutnya, dia sudah hampir memakannya.

Duan Ling berteriak, “Batu!”

Tertangkap basah, Batu hampir tersedak oleh pudding itu. Duan Ling buru-buru menepuk pundaknya, dan hanya satu yang berhasil dia telan, Batu yang kelelahan segera pergi mencari air.

“Pangeran ada di sini.” Kata Duan Ling, “Beliau membagi-bagikan barang-barang. Ini gratis — tidakkah kau ikut?”

“Aku bukan anjing. Aku tidak mengambil hadiah dari para Khitan. Kau saja yang pergi.”

Batu masuk ke kamar, dan Duan Ling menempel di luar jendela. “Kenapa?”

Batu berkata kepada Duan Ling, “Pokoknya, aku tidak mau menerimanya dan kau juga tidak boleh menerimanya. Masuklah ke kamarku, biarkan aku berbicara denganmu.”

Duan Ling memilah-milah kebingungan di kepalanya sejenak, dia menginginkan “hadiah dari pangeran” meskipun dia tidak mengerti apa makna di balik hadiah tersebut, namun juga secara naluriah dia merasa bahwa Batu benar. Itu sama halnya seperti, dia tidak pernah mengambil benda-benda yang dilemparkan oleh para pelayan wanita ke arahnya ketika di Runan tidak peduli seberapa besar dirinya menginginkannya untuk memakannya. Tidak ada alasan untuk itu — hanya naluri yang sudah terukir di hatinya semenjak dirinya lahir.

“Kalau begitu aku juga tidak menginginkannya.” Kata Duan Ling.

Sembari berbaring di kasur, Batu bergeser ke dinding kemudian menepuk bantal, menyarankan Duan Ling untuk datang agar mereka bisa tidur siang bersama, tapi Duan Ling hanya berbalik, melihat sekeliling dan berlari.

“Hei! Kau mau ke mana?” Batu bangkit dan mengejarnya.

Duan Ling menjawab, “Aku akan pergi melihatnya.”

Dia tidak menginginkan hadiahnya, tapi setidaknya dia dapat melihatnya bukan?

Itu adalah seikat bulu ekor musang, dan satu tael perak.

Batu dan Duan Ling bersembunyi di halaman belakang, dan mereka melihat beberapa pekerja membawa keranjang berisi kuas. Mereka tidak sebagus yang di belikan Lang Junxia padanya. Batu meletakkan tangannya di pundak Duan Ling, “Ayo pergi.”

Perhatian Duan Ling tiba-tiba tertuju pada seorang pekerja yang kurus dan tinggi, tepat saat itu dia kebetulan berbalik, menampakkan raut wajahnya. Duan Ling merasa bahwa dia pernah melihat pria ini di suatu tempat sebelumnya.

Dalam sekejap seakan sebuah petir menyambar di otaknya, Duan Ling ingat. Dia adalah pria dengan kelabang yang dia lihat di apotek malam sebelumnya. Tapi tato di lehernya telah menghilang! Apakah dia orang yang sama?

“Ayo pergi.” Kata Batu, “Kau mau itu?”

“Tunggu!” Duan Ling penuh keraguan. Mengapa pria ini ada di sini? Dan mengapa dia memindahkan barang-barang di halaman belakang?

Wu Du membongkar kuas di luar halaman dan memindahkannya ke dalam halaman depan. Dengan kerutan yang dalam di antara kedua alisnya, Duan Ling terus mengikutinya. Batu sudah mulai tidak sabar, dan dia mendorong Duan Ling ke belakang galeri. Ketika Wu Du menoleh dia hanya menangkap wajah Batu.

Batu memiliki ciri yang berbeda, hidung yang tinggi, mata yang dalam, sedikit warna biru di irisnya, dan dia berpakaian ala Yuan. Dalam sekali pandang Wu Du mengira bahwa itu hanyalah seorang anak dari dalam halaman yang datang untuk melihat-lihat. Tanpa memperhatikannya lebih lanjut, dia terus berjalan menuju kelompok yang sedang berbaris dengan langkah yang cepat, namun saat melakukanya dia juga memindai wajah anak-anak yang berbaris satu persatu.

Dia tidak menemukan orang yang dia cari, dan kemudian dia menuju ke jendela aula, menyilangkan lengannya, dan mendengarkan percakapan yang sedang terjadi di dalam.

Sekelompok pemuda setengah dewasa berbaris di depan aula, termasuk juga Cai Yan, semuanya menyambut Yelü Dashi.

“Sangat bagus.” Yelü Dashi jelas sangat senang dengan pemuda. Guru memanggil nama mereka, ketika nama mereka dipanggil, orang yang namanya di panggil maju ke depan, berlutut dan mempersembahkan kowtow kepada Yelü Dashi. Kemudian Yelü Dashi mengambil sebuah perak dan kuas dari pengawal di sebelahnya dan secara pribadi memberikannya kepada pemuda tersebut sambil mengatakan sesuatu untuk menyemangati mereka.

“Dimana anak dari rumah keluarga Helian itu?” Yelü Dashi sepertinya mengingat sesuatu, dan menanyakannya kepada sang guru.

“Helian Bo! Helian Bo!” Sang guru buru-buru keluar untuk memanggilnya, dan pemuda gagap yang sebelumnya bergulat dengan Batu bergegas masuk.

Yelü Dashi mengangguk kepadanya. “Apakah kau sudah terbiasa di Shangjing?”

“Yang.. yang mulia,” pemuda bernama Helian Bo berkata, “su.. sudah terbiasa, terimakasih atas bantuan Anda, Yang Mulia.”

Setelah dia selesai bicara, dia tidak langsung menunggu interuksi dari Yelü Dashi sebelum dengan tegas berlutut dan berkowtow tiga kali dengan keras. Yelü Dashi merasa sangat senang dengan ini, dan tawa lepasnya dapat terdengar hingga ke luar halaman. Dia secara pribadi membantu Helian Bo bangkit, meletakkan hadiah itu langsung ke tangannya dan membuat Helian Bo menutup jarinya di atasnya, menepuk punggung tangannya dengan cukup ramah.

Helian Bo mengangguk, berbalik, dan keluar. Ketika dia keluar dia menjadi amat sangat marah — dia membuang hadiah itu ke taman dan menginjaknya hingga hancur. Ketika dia akan pergi, Batu melambai ke arahnya. Helian Bo berkerut, dan setelah melihat ke kanan dan ke kiri, dia berlari ke arah Batu.

Di aula.

“Bagaimana dengan Rumah Keluarga Borjigin?” Tanya Yelü Dashi.

Jadi sekarang sang guru harus menemukannya juga. Batu bersembunyi bersama dengan Duan Ling.

Sementara semua ini terjadi, Wu Du menyipitkan matanya di belakang bingkai jendela, menoleh dan mengamati para pemuda di dalam aula.

Sang guru telah pergi mencari Batu, namun setelah beberapa waktu berlalu dia tak kunjung kembali, sementara semua pemuda menunggu, jadi Yelü Dashi bertanya, “Bagaimana dengan Han Jielie? Dia berada di sini kan?”

“Salam Yang Mulia.” Anak laki-laki gemuk dari Keluarga Han melangkah maju ke depan, memberi hormat kepada Yelü Dashi secara formal, namun dia tidak berlutut.

“Kau telah bertambah berat.” Yelü Dashi tertawa. “Kini kau hampir terlihat seperti ayahmu.”

Semua pemuda di sana mulai tertawa, wajah Han Jielie mulai memerah padam namun dia tidak mengatakan apapun. Yelü Dashi menyemangatinya, “Berkerja keraslah saat belajar.”


“Orang itu sangat aneh,” kata Duan Ling

“Apa.. orang apa?” Tanya Helian Bo dengan bingung.

Duan Ling berkata, “Dia memiliki sebilah pedang.”

Baik Helian Bo dan Batu langsung kaget. Duan Ling menyadari bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya, dan langsung menutup mulutnya.

Batu bertanya, “Itu seorang pembunuh, dan kau pernah melihatnya sebelumya?”

Duan Ling mengoreksi dirinya sendiri, “Belum pernah melihatnya sebelumnya, tapi tidakkah kalian pikir dia terlihat seperti seseorang yang memiliki sebilah pedang?”

Batu dan Helian mengamatinya sesaat. Helian Bo berkata, “Itu itu itu ….. orang itu adalah…” Dia tiba-tiba begitu marah hingga tidak dapat mengucapkan kata-katanya dengan benar. Dia menampar tangan Batu, “Tangan! Tangan!”

Batu juga telah menyadarinya. “Dia adalah seorang seniman bela diri. Pedangnya disembunyikan di balik punggungnya — itu seorang pembunuh! Duan Ling, aku tidak percaya kau menyadarinya!”

Duan Ling tanpa sengaja menebaknya dengan benar, tegapi dia tidak mengerti untuk apa pria ini ada di sini. Mungkin pekerjaannya adalah untuk membunuh dan pekerjaan sampingannya adalah sebagai pekerja serabutan.


Kembali ke aula, Yelü Dashi menunggu dan terus menunggu bocah dari Keluarga Borjigin yang tak kunjung muncul, jadi dia tak memiliki pilihan lain selain memberi tahu sang guru untuk terus melanjutkan ke daftar selanjutnya. Cai Yan berdiri di belakang dari barisan dan terlihat cukup gugup, tapi hanya karena dia mengambil puding yang sebelumnya diberikan oleh Duan Ling padanya. Dia tidak terlalu memikirkannya sebelum dia menyimpannya di balik pakaiannya. Sayangnya puding bunga plum adalah kudapan dingin, ketika dia belajar soal etika di halaman sebelumnya dan berdiri di depan gerbang untuk menyambut para tamu, itu bukanlah masalah karena di luar cuaca sedang dingin, namun sekarang dia berada di dalam aula yang hangat dan juga telah di hangatkan oleh tubuhnya sendiri, puding itu telah mencair. Begitu meleleh itu hanya menjadi air gula yang merembes melalui pakaiannya dan menetes ke bawah lengan bajunya.

Cai Yan diam-diam mengatakan ‘sialan‘ kepada dirinya sendiri, tetapi Yelü Dashi sudah berada tepat di hadapannya.

“Kau…” Yelü Dashi memikirkannya lama, namun tidak dapat mengingat nama Cai Yan.

Cai Yan memberi salam dengan hormat, dan dia sudah akan menjawab, namun Yelü Dashi sama sekali tidak tertarik dengan wajah Han ini. Dengan anggapan bahwa dia bukanlah orang yang penting, Yelü Dashi memberinya hadiah dan mengantarnya pergi.

Di luar para pemuda melihat Cai Yan meneteskan air berwarna coklat kemerahan di belakang lengannya ketika dia berjalan menyusuri koridor.

Sedikit kerutan muncul di antara alis Wu Du, seolah-olah dia menyadari sesuatu, dan kemudian dirinya mengejar Cai Yan. Dia melihat Cai Yan bersembunyi di balik bebatuan dan buru-buru melepas ikatan gaunnya untuk melepaskan sesuatu yang terbungkus kertas minyak, yang kini sudah sepenuhnya basah. Dia membuka bungkusan untuk menampakkan segenggam bunga plum basah.

Cai Yan hampir menjadi gila ketika dia tengah menyeka gaunnya, sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakangnya.

“Sebuah pudding bunga plum yang dibuat untukmu oleh pria Xianbei?”

Cai Yan ingin menoleh, tetapi pria di belakangnya mengulurkan tangannya dan menutup mulut dan hidungnya. Sebelum Cai Yan bisa bersuara, dia telah pingsan.

“Dia menangkap anjing Cai!” Batu terperangah, “Apakah dia musuh dari keluarga Cai?”

“Selamatkan dia?” Helian Bo bertanya.

Ketiganya saling menatap, tidak tahu harus berbuat apa, sama sekali tidak dapat menebak motif dari Wu Du. Tetapi Duan Ling tahu apa yang mampu dilakukan oleh Wu Du dan segera berlari ke sana. Helian Bo dan Batu segera mengikutinya. Wu Du berlari di koridor menuju ke halaman belakang, dan saat mendengar langkah kaki mendekat dari para pengawal Yelü Dashi yang sedang berkeliling, dia meletakkan Cai Yan yang tidak sadarkan diri di belakang pohon dan berdiri di sana menunduk dengan kedua tangan di sampingnya.

“Ikut aku!” Kata Batu pelan.

Batu membawa Helian Bo dan Duan Ling berjalan memutar di sekitar halaman belakang. Duan Ling ingin menyelamatkan Cai Yan, tetapi Helian Bo menangkapnya dan menyeretnya. Mereka bertiga saling berbicara dengan cepat ketika mereka berlari.

Duan Ling bertanya, “Apakah kalian tidak akan melaporkannya kepada kepala sekolah?”

“Menunggu kepala sekolah untuk menangkap seseorang?” kata Batu, “Mayatnya akan menjadi dingin ketika dia datang!”

“Tunggu, Tunggu! Dia… akan, akan….” Kapanpun Helian Bo menjadi gugup dia menjadi semakin tidak jelas. Duan Ling dan Batu berada di ujung kursi ketika mereka tengah mendengarkannya, berharap bisa membalikkan tubuhnya dan membuatnya mengeluarkan semua kata-katanya sekaligus. Akhirnya dia menyerah dengan kata-katanya dan menunjuk ke arah halaman utama.

Duan Ling berkata, “Apakah maksudnya kita harus pergi menjemput pangeran?”

Helian Bo mengangguk. Batu langsung menolak gagasan itu. “Para Anjing Yelü tidak akan peduli dengan kehidupan para Han. Mereka hanya perduli akan hidup mereka sendiri.”

“Benar!” Helian Bo dia akhirnya benar-benar sadar, dan mengangguk.

Duan Ling menjadi semakin cemas. “Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Helian berbicara terlalu lamban.” Timpal Batu, “Kau pergi ke markas penjaga dan temui kakak anjing Cai. Aku dan Helian akan memikirkan cara untuk menyelamatkannya.”

“Aku tidak tahu di mana itu?” kata Duan Ling.

Batu tidak tahu lagi harus berkata apa, dia menyerah. “Aku akan pergi. Kalian berdua ikuti dia.”

Wu Du menjemput Cai Yan dan akan pergi setelahnya.

Setelahnya Duan Ling dan Helian Bo berlari keluar dari koridor untuk mengikuti Wu Du. Tiba-tiba, kerah Duan Ling menegang ketika dia di cengkram dan di seret menuju belakang koridor.

Duan Ling sudah akan berteriak ketika sebuah tangan menutupi mulutnya. Dia berbalik dan menemukan bahwa seorang pria bertopeng yang mengenakan jubah.

Helian Bo cukup tangguh, dia cukup berkepala dingin. Dia melemparkan dirinya ke arah mereka untuk menyelamatkan Duan Ling, namun pria bertopeng itu dengan santai mengibaskan tangannya ke arah satu setengah inci di bawah tenggorokannya dan Helian Bo roboh ke tanah, sekaligus tidak dapat mengatakan apapun atau bergerak sama sekali.

Duan Ling di tarik ke dalam pelukan pria bertopeng, di mana dia mencium bau yang di kenalnya, pria bertopeng ini memindahkan Duan Ling selangkah ke samping, keluar dari garis pandangan Helian Bo, dan meletakkan jarinya di bibirnya memberi signal padanya untuk diam, ujung bibirnya melengkung, menyarankan agar Duan Ling tetap tenang.

Duan Ling berpikir, oh.

Pria bertopeng itu menepuk Helian Bo melepaskannya dari segel akupuntur. Lalu dia dengan cepat keluar dari halaman belakang, untuk membuat masalah dengan Wu Du.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Artinya adalah ‘menjilat’ untuk memperlakukan seseorang yang sangat kuat atau terkemuka dengan sangat hormat dengan maksud untuk mendapatkan persetujuan, pertemanan dll.
  2. Sayangnya, Dinasti Liao berumur terlalu pendek untuk meninggalkan kita dengan kamus Inggris-Khitan untuk semua judul mereka, jadi saya harus berimprovisasi. 北 院 大王 secara langsung diterjemahkan menjadi “Pangeran Kekaisaran Administrasi Utara”, tapi dia sebenarnya lebih dari seorang komandan agung atau marshal. Ini adalah perkembangan selanjutnya dalam sejarah Liao, gelar tersebut dulunya adalah kata Khitan yang berarti “kepala suku”.
  3. Han di sini merujuk ke orang-orang suku Han.
  4. Xenofobia perasaan benci (takut, waswas) terhadap orang asing atau sesuatu yang belum dikenal; kebencian pada yang serba asing.
  5. Mereka yang bukan berasal dari sukuku tidak seharusnya berada di hatiku; sebuah frasa yang amat sangat tua dari Zuo Zhuan.
  6. Copybook, buku yang digunakan dalam pendidikan yang berisi contoh tulisan tangan dengan bagian kosong untuk meniru sebuah tulisan.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments