English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Editor: _yunda


Buku 2, Chapter 20 Part 3

Xichuan, di malam hari:

“Yang mulia Pangeran.” Zheng Yan berjalan perlahan. “Besok kita harus berangkat. Yang Mulia Pangeran harus membersihkan diri dan segera tidur.”

Cai Yan duduk menghadap tumpukan catatan peringatan dari belakang mejanya. Dia melirik Zheng Yan, dan menjawab dengan sopan, “Zheng Yan, kau boleh istirahat.”

“Masih menunggu pria itu?” Zheng Yan selalu memukulnya tepat di tempat yang sakit, dan dia juga tidak memiliki saringan sama sekali. Terkadang Cai Yan benar-benar ingin membuat Wu Du meracuni Zheng Yan sampai mati.

“Siapa yang aku tunggu?” Sambil tersenyum, Cai Yan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, “Yah, tidak ada seorang pun yang aku tunggu, tapi siapa yang kau tunggu, Zheng Yan?”

“Oh — tentu saja kau sedang menunggu mayat seseorang, bukankah begitu?”

Cai Yan bahkan tidak bisa memaksakan senyumnya lagi; ekspresinya benar-benar terganggu. Maka sambil tersenyum Zheng Yan berkata kepadanya, “Aku akan pergi menemui pamanmu dan minum dengannya. Apakah Yang Mulia Pangeran ingin ikut juga? Aku pikir mayatnya tidak akan datang dalam waktu dekat.”

Cai Yan hanya bisa berkata dengan kaku, “Zheng Yan, kau bercanda.”

“Amnesti umum1 akan datang besok.” Zheng Yan mengayunkan cangkir di tangannya. “Aku mendengar bahwa sejumlah bajingan akan dibebaskan. Sepertinya Yang Mulia Pangeran penuh dengan kebajikan, hmm?”

Sekali lagi, Cai Yan seolah membeku. Dia mengatakan dengan formalitas ala kadarnya, “Kejahatannya tidak begitu serius sehingga pantas dihukum mati, dan sekarang adalah waktunya untuk darah baru. Kecuali ada sesuatu yang ingin kau katakan tentang ‘Feng’, Zheng Yan?”

Zheng Yan melihat Cai Yan dari atas ke bawah dengan senyum di wajahnya.

“Kau tidak seperti ayahmu.”

Seluruh ekspresi Cai Yan menjadi gelap dalam sekejap, berubah menjadi sangat suram — seolah-olah dia bahkan memiliki keinginan untuk membunuh Zheng Yan sekarang.

Zheng Yan menambahkan, dengan lesu, “Hidup ini sangat singkat. Seseorang harus bergembira selagi mampu, hmm?”

“Zheng Yan.” Suara Cai Yan bergetar, seolah-olah dipenuhi dengan kemarahan yang hampir tidak bisa dia tahan. “Pergilah beristirahat. Hari pengorbanan sudah berakhir. Jangan datang untuk membujukku lagi. Aku lelah.”

Tapi bukannya pergi, Zheng Yan justru duduk di tangga di depan meja Cai Yan dengan punggung menghadap ke arahnya.2 Dia berbicara, seolah bergumam pada dirinya sendiri, “Dunia pada dasarnya adalah tong pewarna yang besar; dekat dengan jenis orang tertentu, dan kau akan menjadi seperti itu.”3

Cai Yan berkata dengan kasar, “Apa yang ingin kau katakan, Zheng Yan? Apakah kau menyuruhku untuk tetap waspada terhadap ‘Feng’?”

“Meskipun benar bahwa skema ‘Feng’ itu jahat, apa yang dia miliki adalah skema rahasia, dan bukan skema terbuka. Mereka tidak pernah mencapai tingkat hingga membutuhkan seseorang untuk berjaga-jaga. Aku hanya tiba-tiba teringat mendiang kaisar.”

“Semua manifestasi dunia berwarna-warni dan dipenuhi dengan terlalu banyak warna, dan setiap orang akan diwarnai dengan warna apa pun sesuai posisinya; kecuali mendiang kaisar, yang memiliki warnanya sendiri.” Berhenti di sini, Zheng Yan bangkit, dan tersenyum pada Cai Yan. “Apakah hitam atau putih, mendiang kaisar dengan Zhenshanhe di tangan tetap tidak tergerak. Bekerja untuknya cukup lama, dan entah bagaimana kau akan melihat sifat sejatimu sendiri. Semua warna lain akan memudar, dan yang tersisa hanyalah selembar kertas putih. Ini seperti mencuri pandang dari ‘kehendak langit’, kurang lebih. Aku hanya berharap Yang Mulia Pangeran juga akan mengingat hal ini.”

Cai Yan mendapati dirinya terganggu sejenak, sangat terkejut. Zheng Yan sedikit membungkuk pada Cai Yan, dan tanpa menunjukkan tanda-tanda mabuk sebelumnya, menendang ujung jubahnya saat dia keluar dengan tenang dari ruangan, meninggalkan Cai Yan tenggelam dalam pikirannya di aula istana.


Angin musim gugur berhembus, dan taman penuh dengan daun-daun berguguran. Sekarang, hampir tidak ada seorang pun yang tersisa di istana untuk mempersiapkan dimulainya perjalanan mereka besok.

Li Yanqiu sedang duduk di dalam melihat pemandangan di taman, pikirannya mengembara. Permaisuri Mu Jinzhi telah pergi dengan rombongan Mu. Istana raksasa di sekelilingnya penuh dengan aula kosong dan terasa agak suram. Ada semangkuk obat di mejanya, yang mulai dingin.

Zheng Yan berjalan melewati koridor, tampak seolah-olah dia tidak pernah benar-benar mabuk. Dia duduk di sebelah Li Yanqiu.

“Ayo minum!” Zheng Yan mengangkat botol penuh anggurnya ke Li Yanqiu. “Aku minum anggurku, kau minum obatmu.”4

Li Yanqiu mengambil mangkuk obatnya dan membenturkannya dengan ringan ke botol Zheng Yan.

“Apakah kau baru saja datang dari Istana Timur?” Dia bertanya.

“Anak laki-laki tersayang Yang Mulia masih berada di Istana Timur, membuat catatan peringatan.” Zheng Yan bersandar ke tepi dipan5 yang rendah. “Dari penampilannya, aku berpikir dia agak mirip denganmu, dan tidak seperti mendiang kaisar.”

Keluarga Li mendirikan kerajaan mereka dengan kekuatan militer, dan semangat ini telah diturunkan dari generasi ke generasi sehingga mereka tidak terlalu ketat dalam hal etiket. Li Yanqiu agak santai dalam memperlakukan rakyat di dalam istananya, tapi Zheng Yan istimewa — daripada mengatakan bahwa hubungan mereka adalah hubungan seorang kaisar dan rakyatnya, mereka lebih seperti teman lama.

“Dia tidak memiliki temperamen saudaraku.” Li Yanqiu menghela napas dan menggelengkan kepalanya. “Tapi dia memiliki hati yang baik. Aku yakin dia mirip dengan saudara iparku dari sisi itu.”

Zheng Yan dengan serius mengalihkan pandangannya ke langit biru di luar.

Li Yanqiu menambahkan, “Aku tertidur beberapa saat tadi, dan entah bagaimana bermimpi tentangnya. Dia tidak datang pada saat peringatan kematiannya, tapi dia datang sekarang.”

Zheng Yan tidak menjawab. Tanpa sadar, dia menyesap anggurnya lagi.

“Aku bermimpi bahwa aku berada di jembatan. Aku pikir itu bahkan bukan dunia fana lagi, dan ada kemilau cahaya bulan di atas segalanya. Dia berkata padaku, ‘Anakku pulang, jadi sudah waktunya untuk memindahkan ibu kota. Ini sudah tahun yang lain’.”

Zheng Yan tetap diam sampai sekarang. “Yang Mulia, kau mungkin harus memikirkan kembali untuk menyatakan amnesti umum. Jika kau membiarkan Feng keluar, dia mungkin hanya akan menimbulkan masalah. Istana Timur benar-benar membutuhkan orang, jika mendiang kaisar masih ada, aku tidak akan terlalu khawatir, tapi penguasa Istana Timur saat ini adalah penguasa masa depan kerajaan. Yang Mulia…”

“Amnesti umum sudah diumumkan.” Li Yanqiu menghela napas. “Seorang penguasa tidak akan menarik kembali kata-katanya. Kau pikir kau bisa mengambilnya kembali? Adapun Feng, Rong’er adalah orang yang memintanya secara khusus. Aku yakin kau sangat menyadari pro dan kontra dari tindakan semacam itu. Feng adalah seorang komandan di Penjaga Bayangan selama bertahun-tahun, dan meskipun dia melakukan kejahatan terhadap ayahku yang membawanya ke hukuman mati, dia masih setia pada Chen yang Agung seperti dulu.”

Zheng Yan menggelengkan kepalanya dan menghela napas.

“Tapi kau benar sekali. Sampai sekarang, tidak ada pengikut di Istana Timur, dan itu tidak benar. Sudah lebih dari setengah tahun sejak Rong’er kembali, tetapi karena dia memiliki Wuluohou Mu untuk menjaganya dan ada begitu banyak hal sepele di pengadilan, itu luput dari pikiranku. Begitu kita pindah, kita harus meluangkan waktu untuk melakukannya.”

“Maafkan keterusteranganku, tapi,” Zheng Yan minum dan berkata dengan santai, “Istana Timur saat ini selalu terasa seperti kekurangan sesuatu.”

“Itu kurang semangat6. Rong’er memiliki potensi besar, dan duduk di posisi itu, dia tahu apa yang harus dia lakukan. Ketika datang untuk membaca dan membuat catatan peringatan atas namaku dan meninjau masalah kesejahteraan rakyat, dia melakukan hal yang sangat mengagumkan. Tapi dia belum menyadari satu hal — ini adalah harta keluarganya, dan dia tidak membiarkan dirinya mengerjakannya dengan bebas.”

“Atau, dengan kata lain…” Li Yanqiu mengambil mangkuk obatnya, tatapannya tertuju pada wajahnya sendiri dalam ramuan hitam pekat seolah-olah wajah lain yang dikenalnya sedang mengawasinya dari pantulan. “Dia belum mulai melihat dirinya sebagai salah satu dari Li. Ketika dia menyelesaikan masalah negara dan memimpin pengadilan kekaisaran, dia masih melakukannya untuk membantuku, dan tidak melakukannya untuk dirinya sendiri.”

“Tapi menunjukkan bakatnya dan tampil terlalu menonjol bukanlah hal yang baik.” Li Yanqiu meneguk kembali obatnya dalam sekali teguk, sangat pahit hingga membuatnya cemberut. “Zheng Yan, bantu aku menyelesaikan ini untuknya. Putra mahkota masih membutuhkan pelayan; rekan belajar, misalnya. Rekrut saja mereka dengan kedok mencari pengikut.”

Langkah kaki bergema melalui koridor, terdengar sangat terburu-buru.

“Putra mahkota ingin meminta pertemuan dengan Yang Mulia,” seorang penjaga di ruang luar mengumumkan.

Li Yanqiu mengangkat alisnya. Baik dia dan Zheng Yan mengalihkan perhatian mereka ke koridor. Cai Yan muncul dari sudut dengan senyum lebar di wajahnya.

Cai Yan membungkuk terlebih dahulu, dan kemudian orang lain muncul di belakangnya — siapa lagi kalau bukan Lang Junxia yang sering bepergian.

“Wuluohou Mu?” Li Yanqiu berkata dengan cemberut, “Kau pergi tanpa pamit, dan aku bahkan belum menghukummu karena meninggalkan jabatanmu tanpa izin. Ke mana saja kau pergi?”

“Paman.” Cai Yan berjalan ke arahnya dan duduk. “Lihatlah apa yang dia bawa terlebih dahulu.”

Lang Junxia melirik Zheng Yan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya, tapi reputasi orang lain mendahuluinya.

“Kau di sini,” kata Lang Junxia.

Zheng Yan memberinya senyum palsu. “Aku di sini.”

Lang Junxia mengeluarkan pedang dari punggungnya dan meletakkannya di atas meja dengan kedua tangannya. Sarung pedang diukir dengan relief Mahasthamaprapta yang menunggangi punggung harimau saat ia menebas setan; gagang pedang diukir dari cangkang kerang raksasa, bertatahkan sarira berkilauan.

“Untungnya, saya tidak gagal dalam misi saya,” jawab Lang Junxia sebelum keluar dari ruangan, dan berdiri di luar pintu untuk menunggu perintah lebih lanjut.

Li Yanqiu meletakkan satu tangan di gagangnya dan mengeluarkan pedang dari sarungnya, menghasilkan dengungan rendah yang bergema. Bilahnya polos dan berbintik darah, dan sebuah nama diukir di logam: Duanchenyuan.


Pagi hari dihiasi dengan sinar matahari yang cerah dan angin sepoi-sepoi; para petani sibuk memanen panenan musim gugur di teras gunung di seberang jalan.

Berdiri di luar penginapan mereka di tepi sungai, Duan Ling menguap, meregangkan tubuhnya, dan meminta ember untuk mengambil air dari pelayan. Setelah mengambil air, dia mulai merebusnya sehingga dia bisa membuat teh untuk Wu Du, sekaligus untuk mengganti perbannya.

Ini adalah tidur malam paling damai yang dia alami dalam setahun, tapi Wu Du sudah berbolak-balik sepanjang malam dan tidak tertidur sampai fajar. Tidak lama setelah dia tertidur, keributan yang dibuat Duan Ling saat air mendidih membuatnya kaget setengah mati, duduk tegak dalam sekejap. Benar-benar kelelahan, dia meletakkan tangan di dahinya, pikirannya sungguh tersiksa.

“Jam berapa ini?” Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, dia menyadari betapa salah kedengarannya — topik yang ditanyakan pada putra mahkota adalah tentang waktu? Dia seharusnya bangun lebih awal untuk menunggunya, tapi Duan Ling justru sudah mendidihkan air, jadi apa lagi yang bisa dia lakukan?

“Saat ini sudah fajar. Apa kau baik baik saja? Tidak enak badan?”

Mata Wu Du memerah, dan dia menatap Duan Ling untuk sejenak. “Mulai sekarang, aku saja yang mengurus pekerjaan rumah. Bahkan jika aku tidak… tidak memperlakukanmu seperti putra mahkota, aku harus tetap menjadi orang yang menjagamu. Itulah yang aku pikirkan sejak hari di mana kita meninggalkan Tongguan. Dan selain itu, kau bahkan hampir tidak bisa hidup dengan nyaman selama beberapa hari sejak kau bersamaku…”

Duan Ling tahu bahwa Wu Du pada dasarnya telah menemukan jawabannya. “Ini tidak seperti bahwa semua itu penting. Jika kau tidak tahu bahwa Cai Yan adalah penipu, dan kau adalah pelayannya, apa kau akan mengatakan seperti ini juga padanya?”

“Tentu saja tidak. Tapi kau tidak seperti dia.”

Dia menuangkan setumpuk kata pada Wu Du sekaligus kemarin, dan Duan Ling sebenarnya merasa agak malu sekarang karena Wu Du benar-benar memikirkannya. Sambil tersenyum, dia berkata, “Lalu jika… yang dibawa kembali oleh Wuluohou Mu adalah aku, dan kita bertemu dalam keadaan yang berbeda, sebagai orang di posisi yang berbeda, apa kau akan merasakan hal yang sama juga?”

Yah, Wu Du tidak pernah memikirkannya, tapi sekarang setelah Duan Ling mengatakannya, kepalanya terasa lebih seperti diisi dengan bola rami yang kusut. Jika Duan Ling bukan Wang Shan yang dia kenal sekarang, dan mereka harus menghabiskan waktu berduaan satu sama lain, mengetahui dirinya sendiri dan sikap angkuhnya, dia pasti tidak akan memberikan hati dan jiwanya pada Duan Ling. Paling banyak dia akan merasa kasihan padanya, dan berusaha keras untuk lebih memperhatikannya — tentu saja, itu dengan dalih bahwa putra mahkota memperlakukannya dengan tulus.

Dia mempertimbangkannya sebentar, dan setelah itu Wu Du hanya bisa mengakui, “Tentu,” katanya. Pada akhirnya, dengan tenang, tatapannya bertemu dengan mata Duan Ling, dan mereka berdua tersenyum.

“Sepanjang malam aku memikirkan masalahmu,” kata Wu Du.

Duan Ling melepaskan perban di tangan Wu Du dan mengoleskan kembali salepnya. Tanpa mengangkat kepalanya, dia membuat gumaman setuju.

“Ada seseorang… aku bisa mengajakmu menemuinya. Namanya Xie You, dan selama dia yakin bahwa kau adalah siapa dirimu yang sebenarnya, dia akan melindungimu bahkan dengan mengorbankan nyawanya sendiri.”

“Aku tahu tentangnya. Dia setia pada kaisar yang sah, bukan? Tapi kaisar yang sah saat ini adalah paman keempatku.”

Alis Wu Du sedikit menyatu, dan dia berhenti berbicara.

“Selama Paman mengakuiku, Cai Yan tidak akan menimbulkan ancaman sama sekali.”

Wu Du mengangguk. “Ada satu hal lagi. Masih terlalu berbahaya bagimu untuk menunjukkan dirimu yang sebenarnya. Aku selalu curiga bahwa Kanselir Mu akan melakukan sesuatu pada penipu itu dan Yang Mulia — racun yang aku kerjakan sebelumnya? Dia tidak pernah memberitahuku untuk siapa dia menginginkannya. Itu mungkin hanya untuk si penipu.”

Duan Ling selesai membalut luka Wu Du, dan Wu Du mencoba turun, jadi Duan Ling membantunya memakai sepatu botnya. Wu Du memperhatikan setiap gerakan Duan Ling, dan Duan Ling menunggunya seolah itu hal biasa, lalu dia meletakkan salah satu lengan Wu Du di atas bahunya sehingga dia dapat mendukungnya saat berjalan keluar.

Langit musim gugur tampak cerah dan bersih, dan udaranya tampak segar di dataran. Duan Ling membasuh wajahnya, berjongkok di tepi sungai, dan berkata pada Wu Du, “Skenario yang lebih buruk, Paman tidak percaya bahwa aku adalah siapa aku yang sebenarnya dan mengabaikanku. Dan kita juga tidak memiliki bukti… kalau begitu kita benar-benar tamat.”

“Itu benar.” Sekarang Wu Du memikirkannya, itu sangat berisiko. Terlalu banyak tergantung pada keberuntungan.

“Skenario terbaik, Paman mengakui identitasku dan membunuh Wuluohou Mu dan Cai Yan. Tapi lalu apa?”

Lalu apa yang harus dia hadapi adalah pusaran kekuatan kekerasan di dalam istana kekaisaran — Mu Kuangda kemungkinan besar akan menggunakan segala cara yang memungkinkan untuk meracuninya sampai mati. Tentu saja, dengan Wu Du di sisinya, dia tidak perlu khawatir tentang siapa pun yang mencoba meracuninya, tapi apa yang ingin dicapai Mu Kuangda?

“Dan kemudian,” Wu Du berkata dengan serius pada Duan Ling, “Aku akan memberitahumu satu hal. Tapi kau tidak boleh mengungkapkan bahwa kau tahu tentang hal ini di depan Mu Kuangda, jika tidak, beberapa orang akan menginginkan kita berdua mati … Aiya, tapi kurasa itu tidak terlalu penting.”

Duan Ling menatapnya diam-diam dan sedikit terkejut.

“Tapi jika itu benar-benar terungkap, mereka akan datang untuk membunuhmu. Maka yang bisa kita lakukan hanyalah mengambil risiko dan mencoba berjuang keluar dan meracuni mereka semua sampai mati.”

“Um… Tolong beri tahu aku apa itu semua terlebih dulu.”


KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. Ini disebut amnesti umum, yang terdengar seperti bahwa semua orang di bawah langit diberikan amnesti, tapi pada kenyataannya biasanya itu hanya diberikan pada beberapa lusin orang, dan itu bukan amnesti seutuhnya. Mungkin mereka yang dihukum mati justru diasingkan; juga, orang yang melakukan hal-hal seperti pengkhianatan tidak dapat diampuni. 
  2. Jika kalian bertanya-tanya, ini sangat tidak sopan. Sebenarnya, duduk membelakangi kaisar adalah sesuatu yang bisa membuat kalian kehilangan kepala kalian; Fox tidak yakin apa hukumannya jika kalian membelakangi putra mahkota. Cai Yan juga tidak pernah menyuruhnya duduk. Zheng Yan lolos dari segalanya karena dia pada dasarnya adalah satu-satunya teman sejati Li Yanqiu. 
  3. Ini seperti paribahasa Indonesia, Berteman dengan tukang minyak wangi kita akan ikut wangi, berteman dengan tukang minyak kita akan ikut bau minyak.
  4. Ini bukan salah ketik, Zheng Yan hanya menyebutkan “aku” dan “kau” pada kaisar sepanjang waktu seperti itu. (Dia juga seperti ini pada Cai Yan, hampir sepanjang waktu.) 
  5. Lebih besar dari sofa biasa, tidak hanya dipergunakan sebagai tempat duduk tetapi juga difungsikan sebagai tempat tidur.
  6. Ambisi.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments