English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Editor: _yunda


Buku 2, Chapter 14 Part 7

Pembunuh itu jatuh dengan agak canggung, dan dia berbalik untuk bangkit kembali.

“Hentikan sekarang juga—!”

Penjaga setempat telah tiba dan Duan Ling segera berseru, “Jangan bertarung lagi! Kembali ke sini!”

Wu Du berdiri di sana memandangi si pembunuh, tapi si pembunuh sepertinya tidak terburu-buru untuk melarikan diri. Begitu jalan di dekatnya dipenuhi oleh penjaga, seorang pria paruh baya berlari keluar dari kerumunan dan berteriak, “Nona! Nona!”

Baru kemudian gadis yang diselamatkan oleh Duan Ling sebelumnya keluar dari keterkejutan dari banyaknya situasi mengerikan yang harus dia tanggung, dan dengan teriakan dia melemparkan dirinya ke arah pria itu.


Dua jam kemudian.

Wu Du dan Duan Ling berbagi satu kuda. Kereta mereka hilang, mereka kehilangan barang bawaan mereka, dan Wu Du masih telanjang dari pinggang ke atas dengan sarung pedang di punggungnya, tampak seperti pandai besi, sementara wajah Duan Ling tertutup jelaga dari asap saat dia duduk di depan Wu Du. Para penjaga memimpin di depan saat kawalan mereka bergerak dengan mantap.

“Siapa dia?” Duan Ling bertanya.

Wu Du bersandar di sebelah telinga Duan Ling dan berbisik, “Itu Helan Jie.”

Duan Ling langsung diliputi dengan keterkejutan. Wu Du menambahkan, “Itulah orang yang meracuni mendiang kaisar. Jangan mendekatinya dalam keadaan apapun.”

“Kenapa dia akan membunuhku?” Duan Ling berkata dengan tidak percaya. Dia baru saja mulai khawatir — dia tidak boleh mati di tangan musuh bebuyutannya setelah semua upayanya untuk tetap hidup.

“Tidak ada alasan sama sekali.” Wu Du menambahkan dengan tenang, “Dia akan membunuh siapa saja yang tidak dia sukai.”

Saat dia mengatakan ini, Helan Jie yang mengendarai di depan mereka menoleh dan menatap Duan Ling dan Wu Du sekilas. Tatapannya memenuhi hati Duan Ling dengan teror.

“Apa yang dia lakukan di sini?” Duan Ling bertanya.

Dengan mereka berdua menunggang kuda, mereka duduk sangat dekat satu sama lain, dan ketika Duan Ling menoleh, bibir mereka hampir bersentuhan.

Wu Du terdiam, lalu dia bertanya, “Bukankah kau seharusnya sangat pintar?” Wu Du melihat orang-orang di sekitar mereka dan berkata pelan, “Coba tebak?”

Hati Duan Ling sama kesalnya seperti gulungan yang kusut; pembunuh ayahnya sudah dekat tapi tidak ada yang bisa dia lakukan akan dirinya. Dia bahkan tidak bisa memberi tahu Wu Du identitas aslinya, dan pikirannya sejenak begitu gelisah sehingga dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali.

“Ada apa?” Wu Du bertanya dengan rasa ingin tahu.

Duan Ling menggelengkan kepalanya, mencoba yang terbaik untuk menjernihkannya, dan dia mulai memahami jaring kusut dari semua yang terjadi.

“Aku mengerti sekarang.” Duan Ling bergumam, “Dia bekerja untuk Bian Lingbai. Bian Lingbai memintanya untuk mencari keberadaan gadis itu.”

“Itu benar.” Nada bicara Wu Du terdengar dingin. “Sandera itu awalnya menuju Tongguan, mungkin untuk menemui Bian Lingbai, dan di tengah perjalanan dia diculik oleh bandit berkuda, dan itulah sebabnya Bian Lingbai mengirim Helan Jie ke sini untuk menyelidikinya. Adapun siapa dia, aku juga tidak yakin tentang itu.”

Duan Ling mengangguk. Itu berarti mereka hanya dirampok karena para bandit itu keliru tentang siapa mereka.

Ketika mereka sampai di persimpangan jalan, Duan Ling melihat sebuah kereta dan semuanya akhirnya menjadi jelas baginya — kereta gadis itu seperti gambaran keretanya sendiri. Para bandit pasti salah mengira kereta Duan Ling sebagai target mereka, karena bingung dan tidak dapat memenuhi misi, mereka tidak memiliki pilihan selain menyeret kereta kembali bersama mereka. Kemudian mereka kebetulan bertemu dengan target yang sebenarnya dalam perjalanan kembali dan dengan demikian membawanya bersama mereka. Satu-satunya yang berhasil melarikan diri adalah pria paruh baya yang tampaknya adalah seorang pelayan, dan dia pergi mencari bantuan di sepanjang jalan.

Benar saja, dugaan Duan Ling tidak jauh dari kebenaran sama sekali; seorang kapten Pengawal Tongguan sedang menunggunya di sebuah rumah pos di depan. Sepertinya mereka salah jalan sejak rumah pos sebelum ini, karena mereka telah diarahkan ke perbatasan antara Xiliang dan Chen. Menyeberangi sungai itu telah menempatkan mereka di wilayah Xiliang.

Setelah mereka pergi, pria paruh baya itu membawa kusir bersamanya dan pergi meminta bantuan di rumah pos terdekat. Ternyata Tongguan juga menunggu kedatangan wanita muda ini, jadi ketika kedua belah pihak kebetulan bertemu, mereka datang untuk memberikan bantuan secepat mungkin.

Kusir mereka tidak terluka parah, dan dia beristirahat di gudang kayu di belakang rumah pos. Duan Ling telah memeriksa denyut nadinya dan memutuskan bahwa hidupnya tidak dalam bahaya.

Bandit berkuda menghancurkan daerah itu sepanjang tahun, dan mereka telah mengganggu penduduk untuk waktu yang lama. Penjaga Tongguan telah mencoba untuk menghentikan mereka, tapi kali ini tamu mereka telah diculik, jadi mereka sekarang berkeliling mengekspresikan simpati pada masing-masing dari mereka secara bergantian.

“Jangan khawatir, Nona.” Seorang penjaga Tongguan berkata pada wanita muda itu, “Mulai sekarang, Anda tidak akan berada di dalam bahaya lagi.”

Wanita muda itu masih berduka atas pelayannya dan para pelayan yang datang bersamanya, dan dia tidak memiliki nafsu makan. Dia memberinya anggukan, dan selanjutnya kapten mendekati Wu Du dan Duan Ling.

“Hei,” kata kapten, “Siapa kalian?”

“Kami hanya lewat.” Wu Du berkata, “Jangan membuat masalah denganku.”

Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, semua orang di sekitar mereka menarik senjata mereka. Duan Ling sedang berbaring tertidur di belakang Wu Du, dan terkejut mendengar suara senjata, dia tiba-tiba terduduk. Namun Wu Du, hanya mengulurkan tangan ke belakangnya, dan meletakkan tangannya di bahu Duan Ling untuk membuatnya perlahan berbaring kembali.

“Bahkan Tuan Helan-mu dikalahkan oleh tanganku. Jika hanya itu yang kau miliki, menurutmu berapa lama kau akan bertahan melawanku?”

Salah satu penjaga memberi kapten mereka satu ketukan di lengan dan menggumamkan sesuatu dengan pelan. Duan Ling berbaring di belakang Wu Du, sementara Wu Du duduk bersila meminum secangkir teh, sama sekali tidak terganggu. Dia melemparkan kartu nama. “Suruh seseorang untuk menunjukkan ini pada Jenderal Bian-mu, dan katakan padanya untuk mempersiapkan diri.”

Kapten itu mengawasi Wu Du sebentar, dan mengambil kartu nama itu saat dia meninggalkan rumah pos, membawa anak buahnya bersamanya.

Pengunjung di rumah pos berkumpul dalam tiga kelompok terpisah. Pengawal Tongguan dan pembunuh bernama Helan Jie berkumpul di tempat yang sama. Helan Jie memiliki sarung tangan di tangan kirinya dan pengait untuk tangan kanannya, dan dia terus-menerus mengamati setiap gerakan Wu Du. Sementara itu wanita muda yang pernah menjadi sandera sekarang duduk di sisi lain ruangan, masih menangis, sementara pria paruh baya itu terus mengatakan sesuatu padanya dengan suara lembut berusaha menghiburnya.

Wu Du dan Duan Ling telah menjadi kelompok ketiga di rumah pos. Malam tanpa tidur telah membuat Duan Ling begitu lesu sehingga dia hampir tidak bisa membuka matanya, dan setelah tidur siang sebentar, Wu Du membangunkannya lagi, menyuruhnya makan.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku sudah makan.”

Maka Duan Ling duduk untuk makan, sementara Wu Du tetap di dekatnya membersihkan sepatu bot Duan Ling untuknya seperti kakak laki-laki yang sabar.

Begitu wanita muda itu tenang, dia menatap mereka berdua dari seberang ruangan. Segera, pelayan datang untuk berterima kasih pada mereka berdua dan mengundang Duan Ling untuk berbicara dengannya, tapi Wu Du mengatakan padanya, “Tuan mudaku sedang tidak dalam suasana hati yang bagus sekarang. Kita lihat saja begitu kita sampai di Tongguan.”

Pelayan itu hanya bisa membawa jawaban itu kembali bersamanya. Duan Ling mengambil waktu untuk memakan makanannya, dan saat dia berpikir tentang bagaimana pembunuh ayahnya duduk tepat di seberang ruangan, dendam yang menetes melalui darahnya langsung mengalir lagi. Saat dia mengunyah kue, terpikir olehnya bahwa jika bukan karena pria bernama Helan Jie ini, dia tidak akan pernah mendarat di tempat yang menyedihkan seperti sekarang. Kenangan masa lalu dan masa kini terjalin, tumpang tindih, membuatnya lebih marah dari sebelumnya.

Wu Du! Bunuh dia! Itu adalah satu hal yang paling ingin dikatakan Duan Ling.

Tentu saja, tidak mungkin dia bisa memerintahkan Wu Du untuk membunuh Helan Jie. Dia tidak bisa melakukannya sekarang, dan di masa depan jika dia mendapatkan kembali identitasnya sebagai putra mahkota, fakta itu tetap sama.

Itu karena Wu Du bukanlah alat pembunuh yang bisa diperintah.

“Ada masalah apa sekarang?” Wu Du bertanya.

Duan Ling menenangkan dirinya; dia mulai menyadari bahwa setiap kali dia merasa tidak nyaman, Wu Du selalu mengetahuinya untuk beberapa alasan.

“Aku tidak… tidak tidur dengan nyenyak. Dia terus mengawasi kita.”

“Dia sudah hancur. Empat jarinya dipotong oleh mendiang kaisar di luar Shangjing. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa memotong lengan kanannya juga, tapi itu berarti dia tidak akan pernah bisa menggunakan pedang lagi.”

“Dia pasti masih ingin membunuhku.” Duan Ling dapat merasakan sebanyak itu.

“Oh, Master Wu-mu di sini juga ingin membunuhnya,” kata Wu Du dengan dingin. “Kau tidak perlu takut padanya.”

Jika dia menempelkan pedang ke tunggul pohon, dia mungkin masih bisa menggunakannya, pikir Duan Ling, tapi dengan cara ini dia tidak akan bisa menggunakan pergelangan tangannya untuk gerakan seperti membalikkan, memutar, menjentikkan, atau merebut; seni bela dirinya pasti akan mengalami kemunduran yang menjatuhkannya, sehingga kehilangan kesempatan untuk bersaing memperebutkan keunggulan lagi.


Malam itu, Wu Du meminta rumah pos untuk memasang layar, dan mereka berdua berbaring di belakangnya. Duan Ling mengingat hal-hal yang Master Kongming katakan; satu-satunya murid junior yang mengkhianati sektenya dan mengambil Duanchenyuan pasti adalah Helan Jie.

Kata-kata dan perbuatan itu sudah begitu lama di masa lalu sehingga mereka merasa seolah-olah itu adalah kenangan dari kehidupan masa lalu, dan hal itu membuat Duan Ling merasa aneh, seolah-olah itu tidak nyata. Saat pikirannya mengembara, dia memikirkan bagaimana Lang Junxia telah melakukan hal yang sama seperti Helan Jie dan pernah mengkhianati sektenya. Duan Ling bertanya-tanya mengapa dia begitu membenci Helan Jie sehingga dia berharap dia bisa memotongnya menjadi berkeping-keping, sedangkan untuk Lang Junxia, ​​dia kebanyakan merasakan sakit hati karena dikhianati.

“Bagaimana kau berencana untuk berurusan dengannya?” Duan Ling bertanya.

“Aku tidak bisa melakukan apa pun padanya sekarang.” Wu Du menoleh ke sampingnya dan berkata di sebelah telinga Duan Ling dengan bisikan yang hampir tidak jelas, “Kita harus memastikan dulu siapa dirinya bagi Bian Lingbai.”

“Dia pasti bawahannya.” Duan Ling berkata dengan pelan, “Tidak diragukan lagi.”

“Ya.”

Duan Ling memperhatikan Wu Du dengan penuh harap. Ini pertama kalinya dia mendengar sesuatu tentang pembunuhan dari mulut Wu Du sendiri.

“Apakah kau ingin menyelamatkan hidupnya?” Duan Ling bertanya.

“Apa?” Wu Du menjawab, terdengar bingung, “Untuk apa aku menyelamatkan nyawanya? Setelah kita selesai di sini dan kita harus pergi, tentu saja aku harus membunuhnya. Kenapa kau menanyakan itu?”

Duan Ling hampir meneteskan air mata — dia ingin memeluk Wu Du dan menciumnya. Wu Du, pada bagiannya, memperhatikan bahwa ada sesuatu yang aneh lagi tentang Duan Ling. Duan Ling telah menyadari bahwa ketika Wu Du benar-benar ingin membunuh seseorang, dia tidak akan ragu-ragu, dan di matanya Helan Jie ini sama bagusnya dengan kematian. Satu-satunya alasan dia masih hidup sekarang adalah karena mereka belum bisa membuat Bian Lingbai ketakutan.


Keesokan harinya, lebih banyak orang tiba di rumah pos; saat fajar, bahkan sebelum Duan Ling membuka matanya, dia sudah mendengar derap langkah kaki mereka. Penjaga Tongguan sangat disiplin, formasi mereka rapi dan seragam. Dengan mata tertutup Duan Ling menghitung dalam hati: lima, sepuluh, lima belas, dua puluh… hampir seratus orang telah tiba.

Salah satu perwira senior dari Penjaga Tongguan masuk untuk membawa wanita muda itu keluar terlebih dulu, dan Helan Jie juga meninggalkan rumah pos tepat setelahnya. Sebelum Duan Ling menyadarinya, semua orang telah pergi.

“Jika kau sudah bangun, maka bangunlah,” kata Wu Du.

Duan Ling duduk saat itu juga, dan ketika dia melihat ke sekelilingnya dia menyadari bahwa tidak ada orang di sekitar mereka lagi.

“Mereka semua pergi?”

“Mereka semua di luar. Duduklah di belakang layar dan jangan keluar untuk saat ini.”

“Aku tidak pernah membayangkan bahwa kau akan memiliki nyali untuk melakukan ini.” Sebuah suara berkata, “Tidak disangka bahwa kau akan datang jauh-jauh ke sini ke Tongguan.”

Wu Du mencibir, “Bian Lingbai, aku sudah menyuruhmu untuk membersihkan lehermu dengan baik dan bersih.1 Apa kau melakukan apa yang aku minta?”

Seorang perwira militer yang terlihat berusia sekitar tiga puluh tahun berjalan masuk, berhenti di dalam pintu dengan kaki sedikit terbuka, kemudian Penjaga Tongguan dengan cepat masuk ke belakangnya untuk mengambil posisi di sekitar ruangan, masing-masing mengangkat panah mereka ke arah Wu Du.

Sementara itu, di depan layar, Wu Du berjongkok di dipan dan menguap, memperhatikan Bian Lingbai dengan tidak sabar.

“Jika aku benar-benar ingin membunuhmu,” kata Wu Du, “Aku akan menunggu di dekat pintu dan menikammu di sana. Kau akan mati saat kau berjalan melewati pintu itu — bahkan jika aku akan memberimu kesempatan untuk mengatur anak buahmu. Bahkan aku tidak perlu repot-repot melihat ke belakang pintu ketika kau masuk, astaga, kau sama bodohnya dengan anjingmu. Tinggal terlalu lama di Tongguan dan kau menjadi lambat seperti ini.”

“Kenapa kau…” Bian Lingbai sangat marah.

Mendengarkan dari balik layar, Duan Ling merasa semua ini sangat lucu.

“Untuk apa kau datang ke sini?!” Bian Lingbai berkata dengan dingin.

“Aku membawa seseorang ke sini untuk menemuimu.” Wu Du bangkit dengan malas. “Tapi karena kau menodongku dengan anak panah dengan cara ini, kami akan pergi.”

“Tunggu.” Bian Lingbai memberi isyarat kepada bawahannya untuk menurunkan busur mereka.

Nada bicara Wu Du dingin. “Adalah satu hal bagimu untuk tidak berterima kasih padaku ketika aku menyelamatkan seseorang untukmu, tapi Bian Lingbai, apakah kau benar-benar berpikir tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menahanmu di bawah jempolnya2?”

Bian Lingbai terlihat sangat marah, tapi dia tidak berani menentang Wu Du; lagi pula, Wu Du dulunya adalah tangan kanan nomor satu Zhao Kui, dan sebagai orang kepercayaan yang dekat Jenderal Zhao, tidak ada yang tahu berapa banyak transaksi rahasia militer perbatasan yang dia ketahui. Yang bisa dilakukan Bian Lingbai hanyalah mencibir. “Jika kau memiliki nyali, kalau begitu pergi dan masuklah ke Tongguan.”

Bian Lingbai mundur dari ruangan itu. Wu Du membawa Duan Ling keluar hanya setelah dia pergi, dan setelah dia memeriksa kereta, dia membiarkan Penjaga Tongguan mengemudikan kereta sementara dia sendiri duduk di dalam bersama Duan Ling, dan mereka bergerak ke Tongguan.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Jika ini tidak jelas, pesan tersiratnya adalah “Bersihkan lehermu dengan baik dan bersih sehingga tidak mengotori pisauku ketika aku memenggal kepalamu”.
  2. Untuk mempertahankan kontrol otoriter atas seseorang; untuk terus memaksa seseorang untuk tunduk pada seseorang.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments