English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Keiyuki17
Editor : _yunda


Buku 2, Chapter 12 Part 2

Haruskah dia mengambil kesempatan ini untuk meninggalkan kediaman dan mencoba mengumpulkan beberapa informasi? Namun, jika dia melakukannya saat pertama kali keluar, mungkin Wu Du akan waspada. Akan sangat buruk jika Wu Du menjadi curiga kepadanya.

Duan Ling berdiri di tengah hujan dan menatap ujung jalan untuk waktu yang lama, tetapi akhirnya dia menahan godaan itu. Gerbang di sudut antara halaman rumah yang mengarah ke kediaman utama kanselir ditutup, dan Duan Ling menghabiskan waktu lama untuk mencari jalan masuk ke semua tempat sebelum dia sampai ke pintu belakang. Penjaga gerbang dengan sengaja mempersulitnya, Duan Ling diinterogasi, lalu ditanyai lebih dalam lagi dengan sangat mendetail sebelum dia diizinkan untuk masuk.

Mu Qing yang berdiri di serambi sedang mendapatkan teguran dari seorang pria paruh baya, dengan wadah jangkrik berada di sebelah mereka. Ada tujuh pria muda berdiri di dekatnya, masing-masing menatap pria itu dengan cemas.

“Hancurkan,” kata pria itu.

Seorang pelayan membawa Duan Ling melewati koridor menuju ke tempat mereka, dan saat melihat bahwa kanselir sedang kesal, dia berhenti, tidak berani mendekat. Duan Ling menyadari kehadiran luar biasa yang dimiliki pria ini dan berpikir — itu tidak mungkin Mu Kuangda, kan?

“Apakah kau mendengarkanku?” Pria itu menegurnya sekali lagi.

Memberanikan dirinya sendiri, Mu Qing mengambil wadah jangkrik Longquan Celadon1 dan melemparkannya dengan kuat ke lantai. Dengan bunyi ka-klang, wadah itu hancur berkeping-keping. Mu Kuangda menambahkan, “Injaklah sendiri dan bunuhlah.”

Mu Qing menatap ke tanah tanpa kata.

Berdiri di belakang pilar, Duan Ling teringat ayahnya sendiri. Jika dia yang bermain dengan jangkrik, Li Jianhong pasti tidak akan membuatnya menginjaknya sampai mati. Dia bahkan mungkin menangkapnya sendiri dan bermain dengannya.

Wajah Mu Qing memerah, tetapi tetap saja dia tetap menginjak jangkriknya sampai mati.

“Masuk ke dalam dan belajarlah.” Pria paruh baya itu menunjuk ke arah rumah, dan Mu Qing pergi dengan patuh.

Kemudian dia berkata kepada pria muda yang berkumpul, “Jika aku melihat tuan muda melakukan pertandingan jangkrik lagi, jangan salahkan aku atas apa yang terjadi. Pergi sekarang.”

Karena ketakutan muncul dibenak mereka, semua pria muda itu pergi dengan panik.

Ketika pria itu melirik ke ujung koridor. Duan Ling mencoba untuk menghindarinya, tetapi dia sudah terlihat.

“Siapa yang menyelinap di sana?” Pria itu bertanya.

“Master.” Pelayan itu datang dan membungkuk kepadanya, dan Duan Ling juga membungkuk, memanggilnya master. Jadi pria ini adalah Mu Kuangda. Saat ini, Duan Ling mengenakan jubah Wu Du, dan itu tidak terlalu cocok untuknya; lengan bajunya digulung dan kerahnya diikat menjadi simpul, diselipkan di pinggang. Dia terlihat agak menggelikan.

“Siapa ini?” Mu Kuangda bertanya.

Duan Ling tidak berani menjawab. Dia tahu bahwa akan jauh lebih bisa dipercaya jika pelayan itu yang menjelaskan atas namanya. Pelayan itu menjawab, “Master, ini adalah pelayan muda dari rumah Wu Du. Saya mendengar dia datang untuk mengantarkan obat kepada tuan muda.”

“Bawa obatnya ke sini. Mari kita lihat.”

Duan Ling mengeluarkan paket itu dari bawah kerah bajunya dan pelayannya yang memberikannya. Sambil melihat Duan Ling, Mu Kuangda membuka bungkusan itu, mengerutkan kening saat melihat bubuk di dalamnya.

“Master mengajukan pertanyaan untukmu.” Pelayan itu memberi Duan Ling sedikit dorongan. Duan Ling melirik ke dalam rumah dan melihat Mu Qing berdiri di depan mejanya, wajahnya pucat saat dia melihat ke luar.

Duan Ling berpikir, itu adalah afrodisiak ekstra kuat yang diminta oleh putramu untuk dibuat Wu Du, lihat apakah kau tidak akan memukulinya sampai mati, tetapi kemudian tiba-tiba terpikir olehnya bahwa jika dia menjual bantuan kepada Mu Qing sekarang, mungkin itu akan berguna untuknya nanti… dan dia membuat kebohongan. “Ini untuk jangkrik.”

Mu Kuangda berjalan keluar dari taman, dan membuka bungkusan itu, dia membuang isinya ke kolam.

“Jika kau terus tidak belajar dengan serius,” kata Mu Kuangda, menghela napas, “Kau benar-benar akan memalukan keluarga Mu.”

Mu Kuangda mengamati Duan Ling lagi. “Tetapi aku tidak tahu bahwa Wu Du telah mengambil seorang anak magang. Ada beberapa tatapan yang tajam pada dirimu.”

Duan Ling berdiri di sana tanpa sepatah kata pun, lalu Mu Kuangda menambahkan, “Jika kau benar-benar ingin mendapatkan bantuan tuan muda, pastikan dia membaca beberapa buku lagi. Jangan mendorong kebodohannya lagi.”

Duan Ling menjawab, tentu saja, dan Mu Kuangda pergi dengan suasana hati yang suram.

Duan Ling tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menyentuh sudut mulutnya — Mu Kuangda tidak melihat apapun. Kesan pertama adalah yang terkuat, dia mengira; dia tidak terlalu mirip dengan Li Jianhong, dan menurut ayahnya dia terlihat seperti mendiang ibunya. Justru karena alasan itulah dia masih aman berada di kediaman Mu. Satu-satunya bagian wajahnya yang memiliki kemiripan dengan ayahnya adalah bibir dan sudut mulutnya, tetapi selama dia tidak memperhatikannya dengan hati-hati, Mu Kuangda mungkin tidak akan menghubungkan gagasan tentang Pewaris dengan Duan Ling sendiri karena sudah ada “putra mahkota”.

“Kau. Masuklah ke sini, “kata Mu Qing pada Duan Ling.

“Tuan muda menyuruhmu masuk ke dalam, jadi masuklah ke dalam,” kata pelayan itu kepadanya.

“Aku tidak sedang berbicara denganmu,” kata Mu Qing kepada pelayan itu dengan marah, “Mengapa kau berbicara sembarangan?!”

Pelayan itu hanya bisa membungkuk saat itu. Mu Qing jelas masih gelisah saat Duan Ling masuk ke dalam; pertama-tama dia mendapat ceramah, lalu obat yang begitu sulit didapatnya dibuang sampai habis oleh ayahnya. Dia merasa sangat sedih.

Mu Qing membuka laci dan melemparkan amplop berisi uang ke Duan Ling. “Untuk tuanmu memperbaiki atapnya.”

“Terima kasih, tuan muda.” Duan Ling mengambil amplop itu, dia akan pergi saat Mu Qing berkata, “Tunggu sebentar. Apakah kau tahu bagaimana cara membuat obat ini?”

Duan Ling memberinya anggukan diam-diam.

Maka Mu Qing berkata, “Buatkan aku paket yang lain saat Wu Du keluar, dan jika kau melakukannya dengan baik, aku akan memberimu sesuatu untuk itu. Jika informasi itu tersebar, kau tahu benar apa yang akan terjadi padamu.”

“Tentu saja,” Duan Ling menjawab sebagaimana mestinya.

Mu Qing meliriknya ke samping lagi, dan mata mereka secara kebetulan bertemu.

Duan Ling segera menambahkan, “Aku pasti tidak akan membiarkan Master mengetahuinya, dan aku juga tidak akan memberi tahu Wu Du. Jangan khawatir, tuan muda.”

Mu Qing berpikir, anak ini tahu apa yang baik untuknya. Dia mengusirnya. “Pergilah kalau begitu.”

Ketika dia kembali, Duan Ling menjaga ekspresinya tetap dingin dan tenang sambil memberikan uang itu kepada Wu Du. Ada dua tael perak di amplop itu. Wu Du tidak mengatakan apa-apa, hanya mengambil perak dan duduk di luar pintu untuk melihat hujan. Di dalam rumah, Duan Ling memikirkan apa yang terjadi dengan keluarga Mu. Pria muda umumnya tidak bisa tutup mulut, jadi jika dia bisa mendapatkan akses ke Mu Qing dia bisa mendapatkan banyak informasi penting darinya. Jika dia cukup beruntung untuk mendapatkan kepercayaan Mu Qing, dia bahkan mungkin mendapat kesempatan untuk melihat pamannya sendiri, kaisar saat ini.

Tetapi jika dia menjadi seseorang di sisi Mu Qing, risiko untuk ketahuan juga akan meningkat — itu karena kemungkinan besar dia akan bertemu dengan “putra mahkota” dan Lang Junxia. Putra mahkota palsu mungkin tidak dapat mengenalinya, tetapi tidak mungkin Lang Junxia tidak dapat mengenalinya… Duan Ling harus memastikan keselamatannya sendiri terlebih dahulu.

Ayahnya pernah mengatakan kepadanya bahwa terkadang tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman. Lang Junxia pasti tidak tahu bahwa dia belum mati, dan mungkin dia tidak bisa membayangkan bahwa Duan Ling bersembunyi di kediaman milik kanselir.


Dia menunggu dan menunggu. Beberapa hari kemudian, Duan Ling akhirnya mendapat kesempatan.

“Belilah dua shaobing untuk makan malam,” kata Wu Du pada Duan Ling.

Wu Du menghitung sejumlah uang dan melemparkannya pada Duan Ling. Duan Ling berpikir bahwa mereka tidak bisa terus hidup seperti ini, dan entah bagaimana dia mulai mengasihani Wu Du. Benar-benar tidak masuk akal bagi seorang penumpang sepertinya berpikir seperti itu, tetapi menyaksikan Wu Du perlahan-lahan kehabisan uang hari demi hari cukup menyedihkan.

Duan Ling pergi ke luar dengan sepuluh tembaga di lengan bajunya dan berpikir, suatu hari nanti ketika aku menjadi kaisar, aku akan membiarkanmu berpesta setiap hari sampai kau merasa kenyang… tetapi ketika dia memikirkan tentang kehidupan yang dia jalani sekarang, apakah harapannya tidak menjadi ilusi seperti pantulan bulan yang terperangkap di kolam?

Duan Ling tidak bisa menahan diri untuk tidak berbalik, dia menatap sekilas Wu Du, tetapi Wu Du benar-benar waspada. “Apa yang kau lihat? Apa yang kau pikirkan?”

Duan Ling hanya bisa menggenggam uangnya dan berkata kepada Wu Du, “Aku berpikir bahwa kita bisa memasak sendiri. Dengan begitu kita bisa makan apapun yang kita inginkan dan tidak harus membelinya di luar.”

Aura Wu Du perlahan-lahan menjadi tenang pada saat itu. “Diam. Aku menyuruhmu untuk membelinya, jadi belilah.”

Jadi Duan Ling mengangguk dan pergi karena dia tahu bahwa dia harus melakukannya.

Tidak setiap hari dia dapat pergi keluar tetapi dia tidak berani berlarian kemana-mana. Jika Lang Junxia ada di istana, kecil kemungkinannya dia akan memiliki waktu luang untuk berjalan-jalan di sepanjang jalan utama, tetapi Duan Ling tetap harus memastikan bahwa dia tidak terlalu kurang ajar; jika dia tidak terlihat seperti sedang menyelinap, tentu saja dia tidak akan ditanyai. Dia pergi ke pasar dan menyelesaikan apa yang telah ditugaskan Wu Du kepadanya untuk dilakukan terlebih dahulu sebelum menuju ke kedai teh untuk melihat apakah ada yang mengobrol tentang kejadian saat ini.

Dia tidak pernah berpikir tentang bagaimana tidak ada seorang pun yang akan membicarakan seorang kaisar yang telah meninggal selama lebih dari setengah tahun, dan setelah mendengarnya cukup lama, Duan Ling berpikir dia tidak dapat berbicara dan bertanya-tanya, karena takut Wu Du menunggu terlalu lama, dia bergegas kembali.

Benar saja, Wu Du tidak senang. “Kenapa kau butuh waktu lama untuk membeli shaobing? Apa kau menunggu gandum tumbuh?”

“Aku tidak tahu jalannya. Aku tersesat. Seseorang yang baik menunjukkan jalan yang benar untukku kembali.”

Duan Ling telah belajar membuat kebohongan, dan dia membuatnya dengan sempurna. Wu Du masih tidak tahu bahwa Duan Ling merahasiakan sesuatu dan menjawab, “Baiklah, baiklah, ayo makan.”

Mendengarkan pelanggan di kedai teh bukanlah cara untuk mengumpulkan informasi, dan yang terpenting itu adalah tempat bereputasi buruk karena semua jenis orang pergi ke sana. Melarikan diri untuk menguping di luar ruang kerja kanselir hanya akan mencari masalah. Duan Ling memikirkan hal ini berulang kali dan mengingat bahwa berita menyebar paling cepat ketika dia belajar di Akademi Biyong dan Aula Kemasyhuran. Apakah ada sekolah di Xichuan?

Begitu sibuk dengan masalahnya sendiri sehingga Duan Ling beberapa kali hampir memutuskan untuk mengambil risiko menguji Wu Du — mungkin berpura-pura tidak sengaja bertanya tentang situasi di istana? Tetapi setelah banyak pertimbangan dia menemukan bahwa ide itu terlalu berisiko. Lagipula, sulit untuk melihat ke dalam hati seseorang dengan semua lapisan yang masih menghalangi, dan jika ternyata dia bertemu dengan Lang Junxia yang lain, tidak ada yang tersisa untuk menyelamatkan dirinya.

Dari pengamatannya sejauh ini, Duan Ling merasa bahwa meskipun Wu Du adalah seorang ahli racun, dia benar-benar orang yang baik. Dia ahli dalam seni bela diri tetapi dia tidak mencuri dan tidak mengambil apa yang bukan miliknya, dia juga tidak mengeksploitasi keahliannya dalam meracuni untuk mendapatkan keuntungan; dia orang yang lurus dan jujur. Kadang-kadang ketika dia bangun di pagi hari dia akan menemukan Wu Du sedang berlatih gerakan telapak tangan di halaman, dan ketika tangannya berputar ke sana kemari, tangannya terlihat seindah layaknya elang yang terbang di udara.

Setelah selesai berlatih, Wu Du melempar kantong koin kecil ke Duan Ling.

“Belilah beberapa shaobing dan setengah kati anggur.”

Mengetahui bahwa kesempatan datang memanggilnya lagi, Duan Ling mengambil uang itu dan berlari ke jalan dengan kecepatan dua kali lipat. Setelah bertanya-tanya, dia menyadari bahwa meskipun dia tidak dapat mendengar banyak tentang masalah politik saat ini di sekolah swasta di Xichuan, ada banyak siswa di akademi Kekaisaran, jadi dia menanyakan arah dan pergi ke sana.

Duan Ling sampai ke pagar di luar taman Akademi Kekaisaran, dan menumpuk dua batu menjadi satu untuk membuat pijakan, dia berdiri di luar dinding sambil menatap melalui kaca jendela yang diukir dengan indah. Beberapa siswa baru saja menyelesaikan kelasnya, dan mereka berdiri di taman mengobrol.

“… Tetapi jika kau memikirkannya seperti ini, menimbang pro dan kontra, itu hal yang baik.” Satu orang berkata, “Selatan tidak bisa lagi berperang; kita membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Sayang sekali saat ini kita memiliki kanselir yang baik tetapi tidak ada pejuang yang cakap, jadi tidak ada salahnya jika mereka tidak menyukai militer…”

Seperti yang mereka lakukan di Akademi Biyong, ketika siswa tidak memiliki hal lain yang lebih baik untuk dilakukan, mereka suka bertingkah seperti orang dewasa dan mendiskusikan politik. Sebagian besar berbicara tentang pemerintahan, dan beberapa percaya mereka harus membiarkan Yuan dan Liao bertarung satu sama lain sesuka mereka sehingga Chen dapat mengumpulkan kekuatannya; lagipula, dengan Liao dalam perjalanannya, perlu waktu cukup lama bagi orang-orang Mongol untuk sampai ke sini. Setelah Liao dikalahkan hingga satu inci dari hidupnya, Chen yang Agung akan berada di posisi yang tepat untuk menuai hasilnya. Saat ini, dengan Mu Kuangda yang menyusun undang-undang baru untuk menurunkan pajak dari Xichuan sampai ke Jiangzhou, dia mendapat dukungan dari rakyat. Di sisi lain ketika Zhao Kui berkuasa, dia menghargai militer dan menekan para pejabat sipil, yang sebenarnya lebih mudah menimbulkan masalah.

Topik percakapan mereka berubah, dan beralih ke pendekatan pemerintahan kaisar baru Li Yanqiu. Keluarga Li selalu dikuasai oleh filosofi Daois “kelambanan”, atau kebanyakan meninggalkan hal-hal untuk mengambil jalan mereka. Namun yang mengejutkan, begitu putra mahkota kembali ke pengadilan, dia menjadi lebih rajin membaca dan menyetujui tugu peringatan. Sebagian besar keputusan dalam pemerintahan masih dibuat oleh Mu Kuangda.

Karena terlalu mengerahkan perhatian untuk mendengarkan percakapan, Duan Ling jadi lupa waktu, sehingga Wu Du tidak sabar lagi dan datang mencarinya. Dia menemukan Duan Ling berdiri di atas tumpukan batu bata menatap ke taman Akademi Kekaisaran, matahari terbenam menyinari wajahnya, ekspresinya dipenuhi dengan kerinduan.

Wu Du berdiri di gang belakang dan mengawasinya beberapa saat sebelum bertanya dengan cemberut, “Untuk apa kau datang jauh-jauh ke sini?”

Duan Ling sangat terkejut sampai dia hampir jatuh, dan para murid telah pergi saat ini. Duan Ling menjelaskan, “Aku kebetulan lewat, dan hanya… melihat ke dalam.”

Dia berpikir bahwa Wu Du akan menghukumnya, tetapi yang mengejutkan adalah bahwa Wu Du tidak mengatakan apa-apa sebelum berbalik untuk pergi. Duan Ling segera mengikutinya kembali ke halaman rumah, pikirannya memilah-milah informasi yang diperolehnya dengan susah payah. Begitu mereka sampai di rumah, dia membersihkan kamar Wu Du dan menyeka raknya. Ada seikat kain di rak, dan di dalamnya ada kotak kecil dan pedang di dalam sarungnya.

Pedang itu adalah pedang yang biasa dipakai oleh Wu Du, dan selain itu, raknya tidak berisi apa-apa selain buku. Duan Ling benar-benar ingin tahu apa yang ada di dalam peti itu, tetapi rasa penasaran dapat membuatnya mendapat masalah, jadi Duan Ling membiarkannya.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Longquan Celadon (龍泉 青瓷) adalah sejenis keramik kaca hijau tingkok, yang dikenal di Barat sebagai celadon atau peralatan hijau, diproduksi dari sekitar 950 hingga 1550.Mu Qing menatap ke tanah tanpa kata
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments