English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Rusma
Editor : _yunda


Buku 2, Chapter 11 Part 1

Di sebuah kediaman di ibu kota, Lang Junxia masuk ke dalam, menutup gerbang di belakangnya. Duan Ling mengawasinya dengan gelisah; Lang Junxia tidak mengucapkan sepatah kata pun saat dia membawa Duan Ling ke sini. Duan Ling tahu bahwa jika Lang Junxia benar-benar tega membunuhnya, tidak mungkin dia bisa lari sekeras apapun dia berusaha. Banyak hal yang dimaksudkan sejak awal, yang pada gilirannya membuat semuanya lebih tenang untuk dihadapi.

“Apakah ini rumahmu?” Duan Ling bertanya.

“Ini adalah rumah yang Yang Mulia berikan padaku. Aku sebagian besar tinggal di istana.”

“Di mana ayahku?”

“Masih di luar sana mencarimu. Selain beberapa hari dia tinggal di ibu kota bulan lalu, dia belum kembali sama sekali.”

“Cepat dan kirimkan dia surat.”

“Saat aku melihat pisau itu, aku tahu itu pasti dirimu, jadi diam-diam aku sudah mengirim seseorang untuk menyampaikan kabar kepadanya. Saat ini pengaruh Mu Kuangda membayangi semua pejabat lain di istana kekaisaran, dan dia pada dasarnya mengendalikan informasi apa yang Yang Mulia dengar. Sebelum Yang Mulia kembali, kau tidak boleh menunjukkan wajahmu di depan pengadilan.”

Duan Ling mengangguk. Lang Junxia berkata, “Mandilah terlebih dulu. Aku akan memberitahumu semuanya secara detail setelah kau makan malam.”

Rumah resmi dilengkapi dengan perabotan mewah, tetapi hampir tidak ada pelayan, dan Lang Junxia yang menyiapkan bak mandi untuk Duan Ling di sayap samping. Berendam di air, Duan Ling akhirnya menghela napas lega. Dia memiliki terlalu banyak pertanyaan untuk ditanyakan tetapi dia tidak tahu harus mulai bertanya dari mana.

Ada ketukan di pintu dan Lang Junxia masuk. Duan Ling berbaring di bak mandi seperti yang dia lakukan saat kecil sementara Lang Junxia menyingsingkan lengan bajunya dan membungkuk untuk mencuci rambutnya.

“Makan malam sudah siap.”

“Hari itu, kau…”

“Hari itu, Kanselir Mu menyuruhku datang ke Shangjing, membunuhmu, dan membawakan Yang Mulia Pangeran kepalamu.” Lang Junxia menjawab dengan linglung sambil mencuci rambut Duan Ling, “Aku tidak ingin mengatakannya karena aku khawatir Mu Kuangda memiliki mata-mata lain yang ditanam di kota. Pada satu titik aku menduga bahwa itu mungkin Xunchun.”

“Aku tidak mendapat perintah, dan aku juga tidak berani pergi menemui Yang Mulia Pangeran, jadi aku membuat keputusan sepihak untuk membawamu pergi dan bersembunyi untuk sementara waktu agar kau tidak digunakan sebagai sandera.”

Saat dia berbicara, Lang Junxia mengeluarkan sesuatu dari kantung kecil di pinggangnya — lengkungan giok yang sama, murni dan tembus cahaya.

Dia mengikat lengkungan giok di sekitar leher Duan Ling, dan Duan Ling langsung diliputi keheranan.

“Di mana… di mana kau menemukan ini?”

“Di desa para ahli obat. Jangan sampai menghilangkannya kali ini. Aku pikir kau mati pada awalnya, dan aku tidak berani menyerahkannya kepada Yang Mulia — Aku menganggapnya sebagai meninggalkan gagasan untuk dipegang. Untungnya, surga memberkati Chen Agung kita, kau masih hidup.”

“Xunchun tidak mengkhianatiku. Dia mengantar kami sampai ke luar kota.” Duan Ling menjawab, “Dia mengorbankan dirinya sendiri.”

Lang Junxia tidak berbicara lebih banyak. Duan Ling selesai mandi, dan saat dia keluar dari bak mandi, dia mulai merasa agak malu.

“Kau sudah dewasa,” kata Lang Junxia.

Dia membungkus jubah baru ke tubuh Duan Ling dan memakaikannya seperti yang biasa dia lakukan ketika Duan Ling masih kecil, memegang tangannya untuk mengantarnya melewati serambi ke ruang makan.

Lang Junxia telah membuat beberapa hidangan sederhana. Begitu Duan Ling duduk, dia mengambil sumpit dan mulai makan.

“Setelah Yang Mulia kembali, aku akan membawanya untuk menemuimu. Situasi di pengadilan saat ini tidak stabil. Kita harus mempertimbangkan keputusan apa pun yang kita buat setelah ini secara panjang lebar.”

“Mengapa?”

Setelah hening sejenak, Lang Junxia mulai berbicara lagi, “Pangeran Keempat tidak memiliki ahli waris, dan dia telah menikahi adik perempuan Mu Kuangda, Mu Jinzhi. Mereka berharap Mu Jinzhi akan melahirkan seorang anak. Jika kau tidak pernah muncul, maka tahta akan berada di bawah kendali keluarga Mu.”

“Tapi ayahku tidak akan membiarkan mereka melakukan apa pun yang mereka …”

“Dia tidak ingin kembali. Dia berkata bahwa selama dia tidak menemukanmu dia tidak akan kembali ke Xichuan. Dia sudah kehilangan Xiaowan; dia tidak bisa kehilanganmu juga.”

Duan Ling terdiam, menatap Lang Junxia dengan tatapan kosong seperti anak kecil yang sedih.

“Kau sudah bertemu ibuku, kan?”

Lang Junxia tidak menjawab, dan hanya menyesap anggurnya.

Duan Ling menatap Lang Junxia dengan bingung, dan dia tiba-tiba merasa sedikit pusing. Ada rasa sakit yang menusuk di perutnya.

“Lang Junxia, ​perutku sakit.”

Lang Junxia menatap Duan Ling yang seolah sedang kesurupan. Detak jantung berlalu, dan Duan Ling sepertinya mengerti tentang apa rasa sakit ini.

Maka, begitu saja, mereka saling menatap saat rasa sakit di perut Duan Ling semakin hebat, sampai pada akhirnya dia menggigit bibir bawahnya dengan kerutan yang dalam di antara alisnya dan dia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya dicelupkan ke dalam air es, pikirannya berubah menjadi rumit,.

Dia membuka mulutnya, tapi tidak ada kata yang keluar sama sekali. Perlahan, dia ambruk di atas meja, akhirnya menutup matanya, dunia menjadi gelap gulita. Di saat-saat terakhir, dia melihat tangan Lang Junxia mengulurkan tangannya untuk menutup punggung tangannya. Tangannya kehilangan satu jari.

Pikiran terakhir di kepala Duan Ling adalah: siapa yang menyakitimu?

Sepanjang waktu, Lang Junxia dengan lembut memegang tangan Duan Ling. Cai Yan berkata pelan dari tempat bertenggernya di luar jendela, “Lihat, dia tidak bertanya tentang diriku. Mungkin dia mengira aku juga binasa.”

Lang Junxia terdiam beberapa saat sebelum berkata, “Apakah kau tidak ingin melihatnya?”

Cai Yan tidak pernah masuk. Akhirnya, Lang Junxia melepaskan lengkungan giok, meletakkannya di atas meja, dan mengangkat Duan Ling. Pada saat dia melangkah melewati pintu, Cai Yan dengan cepat menghindar untuk menghilang di ujung koridor.

Tangan Duan Ling tergantung di sisinya. Dia baru saja mandi, jadi kulitnya bersih dan rambutnya tidak diikat; matanya tertutup rapat seolah-olah dia sedang tidur nyenyak.

Lang Junxia berjalan melalui koridor ke halaman belakang dengan Duan Ling di pelukannya, menurunkannya dengan kereta tarik.

Dia membungkuk dan dengan sungguh-sungguh merapikan pakaian Duan Ling, melepas jubah luarnya, hanya menyisakan pakaian dalam yang polos. Kemudian dia dengan lembut membelai dahi Duan Ling.

Ada bunyi dari cambuk kuda, dan Lang Junxia mengemudikan kereta dari halaman belakang menuju gerbang kota.

Cai Yan berdiri di belakang jendela lantai dua dengan lengkungan giok di tangannya, menatap keluar diam-diam.


Bunga persik ada di mana-mana, memenuhi langit dan menutupi tanah saat mereka terbang sepanjang malam. Di bawah bulan, kereta berhenti di tepi Sungai Min. Sungai yang deras melonjak ke arah timur.1Sungai Min mengalir dari utara-selatan, tetapi ketika bergabung dengan Yangtze, sungai itu cukup terkenal menuju ke timur. Metafora “air yang mengalir ke timur” berarti menunjukan penyesalan yang tak terhindarkan, karena Sungai Yangtze paling sedikit mengalir terus menerus.

Lang Junxia mengambil Duan Ling dari kereta, dan dengan Duan Ling di pelukannya, dia berjalan di bawah sinar bulan menuju tebing yang menghadap ke sungai.

Di belakangnya, bunga persik melayang ke sana kemari menghamburkan sinar bulan saat setiap kelopak berjalan sendiri-sendiri ditiup angin menuju suatu tempat yang jauh.

Dia menggendong Duan Ling seperti yang dia lakukan pada hari itu juga ketika dia membawanya menjauh dari Shangzi, keluar dari kematian dan memasuki kehangatan musim semi. Sekarang dia membawanya menjauh dari malam musim semi yang hangat ini, membawanya ke dalam kegelapan abadi.

Dengan melodi lembut dan berkelok-kelok dari lagu seruling, dia membawa Duan Ling dari medan perang yang dipenuhi tombak dan kuda lapis baja ke kebun bunga persik, bunganya menutupi tanah sepanjang sepuluh mil; melewati gurun yang dilanda angin topan menuju Jiangnan yang hijau subur.

Namun hidup itu sangat halus seperti mimpi yang terbangun; seberapa besar sukacita yang bisa kita harapkan?2Dari puisi Kata Pengantar untuk Perjamuan Malam Musim Semi di Taman Persik, oleh Li Bai.

Semua yang hidup kembali jatuh tertidur lelap, untuk selama-lamanya.

Dari pinggir tebing, tubuh Duan Ling langsung jatuh ke Sungai Min. Ada percikan saat dia menyentuh air, di mana arus dalam kegelapan menyeretnya ke bawah ke dalam pusaran air tak terduga di bawahnya.


Larut malam, sebuah kereta berhenti di luar gerbang istana. Seorang penjaga membuka tirai dan membantu Cai Yan turun.

“Yang mulia Pangeran.”

Cai Yan menaruh lengkungan giok ke pinggangnya saat dia berjalan. Penjaga itu berkata dengan tenang, “Wuluohou Mu mengemudikan kereta ke tepi sungai, dan kemudian dia melemparkan mayat ke sungai.”

Cai Yan bertanya, “Apakah dia berhenti di mana saja di sepanjang jalan?”

Penjaga itu menggelengkan kepalanya, dan Cai Yan mengangguk. Penjaga lain mendatanginya. “Yang Mulia sudah bangun. Dia mencarimu.”

“Saat Wuluohou Mu kembali ke istana, suruh dia tidur. Dia tidak perlu datang untuk menemuiku.”

Cai Yan mempercepat langkahnya untuk melihat kaisar, sosoknya menyatu dengan kegelapan.


Anak sungai dari Sungai Min, di tepi pantai berbatu:

Derap langkah kaki kuda mendekat dari jarak yang sangat jauh, dan seorang gadis berkuda dengan pakaian pria berlari kencang dengan ekor gaunnya terbang di belakangnya tertiup angin. Dua anjing pemburu berlari di sepanjang pantai, mengendus-endus mayat di pantai yang hanyut di tepi sungai. Wanita muda itu menatap semak-semak dengan bingung.

Anjing pemburu menggonggong saat mereka mengendus wajah Duan Ling. Seorang pria mengejarnya dengan menunggang kuda. “Putri!”3Ada banyak tingkatan untuk putri di kekaisaran Cina, tetapi dalam bahasa Inggris umumnya semuanya diterjemahkan ke Putri. Putri Congping tidak dilahirkan dengan gelar, dan dia tidak akan mewarisi gelar ayahnya, karena hanya putra sulung dari istri utama yang dapat melakukan itu, dan mungkin itulah sebabnya dia dianugerahi gelar. Gelarnya umumnya diterjemahkan menjadi “putri berdaulat”

Wanita muda itu adalah putri dari Putri Ruiping dan Marquis Huaiyin, Putri Congping, dan namanya adalah Yao Zheng. Dia keluar kota dengan pakaian pria hari ini untuk balapan di sepanjang Sungai Min dengan menunggang kuda, dan telah berlari ke jalur pegunungan. Dua anjing kesayangan yang dia pelihara telah berlari di sepanjang lereng bukit dengan sangat leluasa sehingga dia berhasil kehilangan mereka, dan karena itu Yao Zheng mengejar mereka sampai ke sini. Menemukan tubuh seorang anak muda di pantai berbatu membuatnya merasa agak bingung.

Pria itu berpakaian serba hitam, ujung ikat pinggangnya berkibar tertiup angin saat dia berlari mengejarnya. Matahari menyinari wajahnya, dan cahayanya sangat menyilaukan sehingga dia tidak bisa membuka matanya. Ini adalah Wu Du.

“Putri,” Wu Du tidak tahu harus berbuat apa padanya. “Jalur pegunungan di sini sulit untuk dilalui, dan musim semi berarti ada banyak ular dan serangga berbisa di sini. Itu tidak aman. Ayo kembali.”

“Dan siapa kau sebenarnya? Sejak kapan kau bisa memberi tahuku apa yang harus dilakukan?” Yao Zheng berkata, “Jika kau tidak ingin menemaniku, pergilah sendiri!”

Melihat bahwa tidak ada seorang pun di pantai, cerah dan terang dengan semua bunga bermekaran penuh, Wu Du hanya bisa turun dari kudanya untuk melihat-lihat. Hanya setelah dia yakin tidak ada ular atau kalajengking dan bahaya berbisa lainnya, dia mengangguk kepada Yao Zheng tanpa berbicara, dan berdiri di tepi sungai dengan tangan di samping.

Yao Zheng tertawa terbahak-bahak. Wu Du melakukan yang terbaik untuk menenangkan amarah di hatinya. Dia melihat sekeliling dengan simpul erat di antara alisnya, dan memperhatikan dua anjing menggonggong di semak-semak, dia menuju ke sana. Yao Zheng turun dari kudanya dan berdiri di tepi sungai dengan ekspresi mengelak.

“Putri,” Wu Du berbalik lagi untuk berkata padanya, “Kamu tidak boleh terlalu dekat dengan sungai. Ada banyak kecelakaan di sekitar sini.”

Yao Zheng mengabaikannya. Di semak-semak, Wu Du menemukan tubuh babak belur Duan Ling, penuh luka dan memar.

Yao Zheng berdiri sebentar sebelum dia berjalan. Ketika dia melihat Duan Ling dia berkata, “Eh, kenapa ada orang mati di sini?”

Wu Du berlutut untuk memeriksa napas Duan Ling, dan menyadari bahwa dia sudah berhenti bernapas.

Wu Du berkata, “Tidak ada luka fatal di tubuhnya. Anak siapa ini?”

“Dia sudah mati, kan,” kata Yao Zheng. Saat Wu Du menekan jari ke sisi leher Duan Ling, dia menambahkan, “Ayo pergi.”

“Tunggu sebentar,” kata Wu Du.

Yao Zheng berkata mengejek, “Jika kita tidak segera kembali, kau akan dimarahi oleh tuanmu nanti.”

Wu Du berbalik untuk melirik Yao Zheng, seolah-olah dia akan mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya dia menyimpannya untuk dirinya sendiri. Saat itu juga, meridian di sisi leher Duan Ling berdenyut ringan sekali.

Wu Du memiliki kerutan yang dalam di antara alisnya saat dia bergumam pada dirinya sendiri, “Diracuni?”

Yao Zheng tiba-tiba berkata, “Hei, Wu Du, aku dengar kau bisa meracuni makhluk hidup sampai mati, tetapi kau juga bisa menghidupkan kembali orang mati. Mengapa kau tidak mencobanya? Jika kau berhasil membawa kembali orang yang sudah mati, aku akan mengatakan sesuatu yang baik di depan ayahku untukmu tentang apa pun yang kau inginkan.”

“Tingkah laku saya lurus dan pantas, dan saya tidak benar-benar menginginkan apa pun. Apa pun yang saya katakan di depan Marquis Huaiyin tidak lebih dari kebenaran.”

Wu Du berlutut dengan satu lutut di sisi Duan Ling dengan ekspresi agak bingung di wajahnya, lalu dia mengeluarkan botol porselen dari kantong obatnya dan menuangkan pil.

“Kau benar-benar bisa menghidupkannya kembali?” Yao Zheng merasa Wu Du benar-benar kebal terhadap akal sehat.

Wu Du tidak menjawabnya. Dia meremas pil menjadi bubuk dan memberikannya ke Duan Ling, memijat tenggorokannya untuk membuatnya turun. Dia bangkit dan berkata kepada Yao Zheng, “Tapi jika dia benar-benar hidup, apakah kamu akan menghargai taruhanmu?”

Yao Zheng mengangkat alis, memperhatikan Wu Du. Setelah menatapnya sebentar, dia berjalan melewati pantai untuk kembali menaiki kudanya. Dari tempat bertenggernya dia menatap air dari atas, dan segera dia berbicara lagi, “Aku cenderung menepati janjiku, jadi tentu saja taruhannya akan dihargai.”

Ekspresi Wu Du menjadi gelap lagi saat dia melihat ejekan dalam kata-kata Yao Zheng. Beberapa saat berlalu sebelum dia berkata, “Lihatlah, dia sudah bernapas.”

“Oh, lupakan saja.” Yao Zheng merasa Wu Du seperti karung pasir yang tidak pernah membalas, dan jika kau menamparnya, dia hanya akan memberikan pipi yang lain. Dia juga tidak mengatakan apa-apa sepanjang jalan, dan dia menganggapnya membosankan. Dia berkata tanpa berpikir, “Aku akan pergi bermain dengan Wuluohou Mu. Kau tidak perlu mengikuti aku berkeliling lagi.”

“Tunggu!” Wu Du akan berlari ke arahnya, tetapi Yao Zhen sudah berlari menuruni jalur gunung seperti embusan angin. Kedua anjing itu menggonggong ke Wu Du beberapa kali sebelum mereka mengejar Yao Zheng, dan bahkan gonggongan mereka penuh penghinaan seolah-olah mereka menertawakan kemalangannya.


Di puncak musim semi, Istana Xichuan dipenuhi dengan kelopak bunga yang melayang di udara. Cai Yan duduk di luar aula istana utama menikmati angin sepoi-sepoi yang hangat.

Li Yanqiu sedang mandi, dan Cai Yan menunggunya di luar.

“Apakah putra mahkota ada di sini?” Li Yanqiu bertanya.

“Yang Mulia,” jawab pelayan istana, “Putra Mahkota telah menunggu di luar sepanjang malam.”

“Biarkan dia masuk.”

Cai Yan memasuki ruangan itu, dan memberi hormat kepada Li Yanqiu, maju untuk menunggunya.

“Saat aku kembali tadi malam, Anda sudah tidur lagi, paman. Apakah Anda tidak tidur nyenyak akhir-akhir ini?”

“Aku bermimpi.” Li Yanqiu berkata, “Itulah mengapa aku memikirkanmu. Aku merasa gelisah dan ingin bertanya apa yang sedang kau lakukan.”

Bagian dalam aula istana penuh dengan kesibukan. Li Yanqiu meletakkan tangannya di atas meja, dan pelayan serta kasim membantunya memakai cincinnya. Cai Yan mengeluarkan bagian lain dari lengkungan giok dari kotak kayu dan berlutut, dengan hati-hati meletakkannya ke sabuk Li Yanqiu.

“Aku memimpikan hari di mana kau kembali.” Li Yanqiu memberinya senyuman lembut. “Kau sendirian, dan semuanya sangat kabur jadi aku tidak bisa melihat wajahmu. Aku merasa sangat cemas.”

Li Yanqiu tersenyum sedih, tetapi Cai Yan tidak balas tersenyum. Matanya dipenuhi dengan kesedihan.

Seorang pelayan istana memegang semangkuk obat di kedua tangan di atas kepalanya.

Li Yanqiu bahkan tidak repot-repot melihatnya sebelum mengambilnya dan meminumnya.

“Saya juga tidak bisa tidur nyenyak tadi malam. Saya memimpikan ayahku.”

“Mungkin dia mencoba mengirimimu pesan melalui mimpimu.” Li Yanqiu menghela napas. “Dia tidak pernah menjadi mimpiku selama ini. Dia pasti masih menyalahkanku.”

“Dia tidak akan pernah berpikir seperti itu. Anda terlalu khawatir, paman.”

“Lupakan.” Li Yanqiu memberinya senyuman singkat dan berkata dengan santai, “Apakah sepupumu datang menemuimu?”

Cai Yan menggelengkan kepalanya, dan Li Yanqiu menoleh ke seorang penjaga, “Kirim seseorang ke putri dengan undangan agar kita makan siang bersama.”

Ketika Yao Zheng kembali ke istana pada sore hari, dia masih mengenakan pakaian pria dari kepala sampai kaki, dan bahkan ada lumpur di sepatu botnya saat dia menyapa Li Yanqiu dan Cai Yan. Cai Yan tidak tidur nyenyak tadi malam jadi dia sedikit pusing.

“Hei, Rong.” Yao Zheng berkata, “Di mana Wuluohou Mu?”

“Aku tidak bisa tidur tadi malam dan pergi jalan-jalan. Dia ingin ikut denganku, tetapi aku mengatakan kepadanya bahwa dia tidak perlu menunggu. Aku akan memanggilnya sekarang, dia bisa menemanimu di sore hari tapi ke mana kamu akan pergi?”

“Aku belum memikirkannya, jadi kita lihat saja nanti. Aku pikir aku akan mendaki Gunung Wenzhong dulu. Kamu ikut atau tidak?”

“Aku tidak pergi. Aku memiliki catatan peringatan untuk disetujui.”

“Hei,” Yao Zheng bahkan tidak tahu harus berkata apa tentang itu.

Li Yanqiu bertanya pada Yao Zheng, “Kapan ayahmu mengirim seseorang untuk menjemputmu?”

Yao Zheng berkata, “Saya pikir mungkin saya harus tinggal di sini secara permanen.”

Li Yanqiu berkata, “Kalau begitu ini akan menjadi kesempatan bagus untuk mencarikan jodoh untukmu.”

Ekspresi Yao Zheng menjadi gelap, dan setelah beberapa saat berpikir, senyum canggung menutupi wajahnya. “Heheh, paman, um…”

“Ketika kau di rumah, mereka mendorongmu untuk menikah sehingga kau datang ke sini ke rumah pamanmu, tetapi bahkan jika kau di sini kau harus menikah secara babi buta oleh pencari jodoh4Mak Comblang.. Kau sendirian.”

Yao Zheng tidak berani berbicara lagi. Dia hanya menundukkan kepalanya dan memilih jalan lain. Seseorang di luar mengumumkan bahwa Wuluohou Mu telah tiba, jadi Cai Yan menyuruhnya menunggu di luar. Li Yanqiu meminta seorang pelayan untuk mengirimkan beberapa makanan untuk dimakan olehnya di aula sebelah mereka.

Kasim lain mengumumkan, “Wu Du ingin berbicara dengan Putri.”

Li Yanqiu berkata tanpa berpikir, “Suruh dia pergi. Untuk apa dia sering datang ke sini?”

Orang itu kemudian pergi untuk mengirim Wu Du pergi.

Saat ini Wu Du tidak memiliki tanda baginya untuk memasuki istana sesuka hati, jadi dia menunggu di luar gerbang istana sambil memegang kendali kuda. Ada sesuatu di punggung kudanya, ditutupi kain.

Dia telah menunggu selama satu jam penuh sebelum penjaga istana memberinya pesan yang menyuruhnya pergi, dan sang putri tidak akan melihatnya. Maka Wu Du memimpin kudanya di sekitar jalan dan kembali ke tempat kediamannya — sebuah rumah halaman terpencil di dalam kediaman milik Kanselir Agung.

Kediaman Kanselir diatur dalam empat lapisan besar;5Ukuran halaman rumah — “siheyuan” diukur dalam 進 / jin / entry. Empat entri melalui empat gerbang besar biasanya membawamu ke halaman master dalam empat-jin siheyuan, tetapi tata letaknya tidak standar. Kekayaan kanselir adalah sebesar desa kecil. memiliki empat puluh delapan halaman, terdiri dari lebih dari seratus bangunan, dan memiliki banyak pengikut.6Pengikut adalah kelompok sosial di kekaisaran Tiongkok. Di sudut paling terpencil telah didirikan halaman luar dengan tiga bangunan, satu rumah halaman dengan satu kandang dan satu gudang kayu. Setelah pengorbanan Li Jianhong, orang-orang di Xichuan harus pindah ke jalur baru. Wu Du direkrut oleh Mu Kuangda dan mendapatkan tempat tinggal.

Dia sering diejek sebagai “budak dengan tiga nama keluarga”7Dalam Romance of the Three Kingdoms, Zhang Fei menyebut Lu Bu sebagai budak dengan tiga nama keluarga sebagai cara untuk mengejek kurangnya kesetiaannya. Tiga nama keluarga Lu Bu adalah miliknya dan dua nama ayah angkatnya yang berurutan. Dia membunuh kedua ayah angkatnya. Sedikit hal sepele: Feitian tampaknya memiliki preferensi untuk Lu Bu sebagai karakter dan telah menuliskannya sebagai ML dua kali dalam dua novel berbeda.— pertama dia mengikuti Zhao Kui, kemudian dia bekerja sebentar di bawah Li Jianhong, dan akhirnya dia berakhir di kediaman Mu Kuangda, menjadi pelayannya. Selama bertahun-tahun, empat pembunuh besar telah mencapai ketenaran bersejarah: Wuluohou Mu mengantar putra mahkota kembali ke ibu kota dan mendapatkan banyak kebaikan atas namanya; Zheng Yan tinggal di Huaiyin dalam pengasingan, dan sementara dia secara terbuka menyatakan bahwa dia tidak peduli tentang apa yang terjadi di dunia, pada kenyataannya dia adalah orang kepercayaan Marquis Huaiyin, Yao Fu; Chang Liujun selalu penting bagi Mu Kuangda; hanya Wu Du yang masih kurang beruntung — setiap misinya berakhir dengan kegagalan. Dua tuan pertamanya telah meninggal satu demi satu, dan seperti anjing tersesat dia tidak memiliki pilihan selain menjanjikan dirinya sendiri pada Mu.

Para pengikutnya yang lain bahkan mencoba memperingatkan Mu Kuangda bahwa Wu Du ditakdirkan menjadi kutukan bagi tuannya, dan lebih baik Mu Kuangda tidak membawanya masuk. Ada juga yang mencurigai Li Jianhong dibunuh oleh Wu Du; di tengah semua pandangan yang berbeda ini, Mu Kuangda hanya tersenyum, dan menerima janji kesetiaan Wu Du, meninggalkannya tempat duduk di perjamuan di antara banyak pengikutnya.

Bagaimanapun juga, Wu Du tahu terlalu banyak tentang Zhao Kui, dan yang bisa dia lakukan dengan orang seperti itu hanyalah membunuh atau merekrutnya; membuangnya saja bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Dan selain itu, meskipun namanya hampir dicoret dari daftar, sebutan seperti salah satu dari empat pembunuh bayaran masih cukup bagus.

Mu Kuangda seolah-olah memperlakukan Wu Du sebagai penasihat yang berharga, tetapi pada kenyataannya dia tidak benar-benar membutuhkannya. Sebagian besar waktu dia disimpan sebagai layabout,8Seseorang yang biasanya melakukan sedikit atau tidak bekerja sama sekali. dan Chang Liujun benar-benar meremehkannya. Jadi Wu Du mulai tinggal di kediaman kanselir dengan cara ini, dan kebanyakan tidak ada yang peduli tentang apa yang dia lakukan sehari-hari.

Chang Liujun pernah mengingatkan Mu Kuangda bahwa Wu Du mungkin berbaring di sini dan suatu hari nanti dia akan membalas dendam untuk Zhao Kui. Namun jawaban Mu Kuangda untuk ini adalah, “Pasti tidak. Wu Du tidak pernah menjadi saingan bagi kalian semua dari awal, dan tidak ada alasan lain selain karena dia tidak pernah tahu apa yang dia inginkan. Dia hanya mengacau.”

Ketika Chang Liujun memikirkannya, dia setuju dengan pendirian itu — Wu Du tidak memiliki ketekunan yang terlalu banyak, dan seni bela dirinya tidak terlalu bagus, jadi dia berhenti memperhatikannya. Pada awalnya, ada beberapa pelayan di rumah halaman ini untuk mengawasinya, tetapi melihat bahwa keluarga Mu tidak terlalu menghargai Wu Du, mereka menghabiskan hari-hari mereka dengan santai. Akhirnya Wu Du meledakkan mereka pada suatu hari dan mengusir semua pelayan, meninggalkan dia menjadi satu-satunya orang yang tinggal di sini.

Begitu Wu Du pulang, dia menarik kembali kain itu, membawa Duan Ling ke bawah, dan membaringkannya di halaman sebelum menyendok semangkuk cairan keras untuk disiramkan ke wajah Duan Ling. Duan Ling terengah-engah, tapi dia tidak bangun. Wu Du memeriksanya, tetapi kemudian seseorang datang ke halaman untuk memberitahunya bahwa Kanselir ingin menemuinya.

Wu Du tidak memiliki pilihan selain pergi.


Kata pengantar untuk Perjamuan Malam Musim Semi di Taman Bunga Persik
Karya Li Bai

Dunia hanyalah sebuah penginapan untuk mereka semua yang hidup;
waktu hanyalah pengembara yang lewat sejak keberadaannya muncul.

Namun hidup sama ringannya dengan mimpi yang terjaga;
seberapa banyak kebahagiaan yang dapat kita harapkan?

Ketika orang dahulu bergembira di malam hari dengan cahaya lilin;
mereka memiliki alasan bagus.

Selain itu, musim semi memikatku dengan pemandangan yang indah dan alam memberiku banyak hal baik.

Untuk bertemu di taman yang beraroma bunga persik,
dan untuk mengenang masa-masa indah bersama dengan keluarga.

Untuk semua adik laki-lakiku yang tampan dan luar biasa

Yang masing-masing sama berbakatnya dengan Huilian;9Xie Huilian, penyair Selatan. namun ketika aku membacakan puisiku,

Karena perasaan maluku, aku sendiri tidak dapat dibandingkan dengan Kangle.10Xie Lingyun, Duke Kangle, juga seorang penyair.

Menghargai sekeliling kita yang tenang,
percakapan kita berkisar pada hal-hal yang agung dan langka.

Kita mengadakan pesta untuk menyaksikan bunga,
minum dari piala bulu berukir sampai kita mabuk di bawah rembulan.

Bagaimana kita bisa mengungkapkan perasaan yang ringan ini, tanpa puisi yang indah?

Jika ada seseorang yang gagal mengimprovisasi puisi,
berharap membuatnya minum sesuai dengan aturan Taman Jingu.
11Kalian tidak bisa menulis puisi? Minum tiga cangkir anggur.


KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Rusma

Meowzai

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments