English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Keiyuki17
Editor : _yunda


Buku 1, Chapter 10 Part 4

Dengan belati pendek yang diletakkan di pinggangnya dan karung obat kecil yang tergantung di ikat pinggangnya, Duan Ling terlihat seperti pendekar pedang keliling dari hutan belantara. Pakaiannya digulung menjadi bundelan yang dia simpan di pundaknya. Tidur dengan kasar dan mencari makanan telah membuatnya jauh lebih kurus, dan selama perjalanan kulitnya menjadi gelap karena matahari.

Dia tinggal di luar kota untuk waktu yang lama. Melihat para prajurit memeriksa dokumen mereka yang pergi dan memasuki kota, dia tidak berani untuk mendekat agar mereka tidak menangkapnya dan menjebloskannya ke penjara.

Dia hanya selangkah lagi untuk pergi ke kota, namun setiap kali seseorang mencapai langkah terakhir dari apa pun, seseorang harus sangat berhati-hati dan waspada. Duan Ling telah mengamati pemandangan pertemuan kembali mereka berkali-kali, tetapi dia terus-menerus memegang ajaran Li Jianhong di dekat dadanya — saat dia mendekati momen keberhasilan, dia harus lebih berhati-hati dari sebelumnya.

Dalam skenario terburuk, dia mungkin ditangkap begitu dia masuk ke dalam kota. Jika Mu Kuangda masih memiliki kendali penuh atas pengadilan kekaisaran, maka dia bahkan mungkin tidak akan memberi tahu Li Jianhong dan hanya akan menjebloskannya ke penjara. Itu sebabnya dia tidak boleh langsung masuk ke kota begitu saja.

Duan Ling mengamati gerbang kota untuk waktu yang lama; dia melihat banyak hiruk pikuk lalu lintas di sana tetapi keamanannya tidak terlalu ketat. Dia menunggu selama tiga malam penuh sampai suatu malam penjaga gerbang minum sampai mabuk, sebelum dia melompati beberapa anak tangga dan melompat melewati pintu rendah di dalam menara gerbang kota.

Tetapi ke mana dia akan pergi sekarang? Seluruh Kota Xichuan tenang dan sunyi di malam hari; ketika petugas patroli malam lewat, Duan Ling menyembunyikan dirinya jauh di dalam gang, mengintip ke luar dengan waspada.

Di mana istananya? Duan Ling tahu dia tidak bisa terus seperti ini — apakah dia harus memanjat dengan diam-diam melewati setiap dinding sampai dia tiba di aula istana kekaisaran? Dia harus menemukan seseorang yang tepat untuk menyampaikan pesan, tetapi ‘kata’ apa yang dia harus minta untuk disampaikan?

Lengkungan gioknya hilang, dan satu-satunya hal yang bisa dia sampaikan sebagai tanda identitas adalah pisaunya. Li Jianhong pernah melihatnya sebelumnya. Haruskah dia berbohong dan mengatakan bahwa dia adalah seorang pembawa pesan? Bisakah mereka membawa belati itu kepada ayahnya dan membiarkannya melihatnya? Hari itu, dia hanya melihatnya sekilas. Akankah dia mengingatnya? Dia mungkin mengingatnya.

Duan Ling sangat gugup sehingga matanya tetap terbuka sepanjang malam. Menjelang fajar dia tidak bisa lebih lelah, tetapi kepalanya lebih jernih dari sebelumnya.

Pasar Xichuan di musim semi adalah pusat aktivitas. Sudah lama sekali sejak Duan Ling makan sampai pusing karena lapar, dan saat dia diam-diam menyelinap keluar dari gang dan melihat seseorang sedang memandanginya dari atas ke bawah, dia mempercepat langkahnya dan memesan semangkuk besar shiso wonton, lalu dia memutuskan untuk mencoba peruntungannya di depan istana.

Jika itu benar-benar tidak berhasil, maka dia akan melakukan seperti yang dia lakukan di Luoyang, mencari pekerjaan sehingga dia bisa berlindung di Xichuan. Dia bisa meluangkan waktu untuk memikirkan sesuatu setelah itu.

“Minggir, minggir—”

Seseorang datang untuk membersihkan jalan. Tandu Mu Kuangda turun ke jalan. Orang-orang biasa tampaknya terbiasa dengan hal itu, tetapi Duan Ling berdiri di sana mengawasinya dari kejauhan. Jadi, Mu Kuangda benar-benar masih hidup.

Sore hari, Duan Ling pergi ke luar istana dengan satu-satunya tanda identitas di sakunya — pisau tulang yang diberikan Batu kepadanya.

“Permisi,” kata Duan Ling.

Penjaga di jalan memandang Duan Ling, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

“Apakah Yang Mulia ada di istana?” Duan Ling bertanya lagi.

Dia tidak bisa mendapatkan jawaban apa pun dari mereka. Para penjaga tampaknya sudah terbiasa dengan ini. Duan Ling memasukkan tangannya ke kerahnya, mencari, dan penjaga itu segera berjaga, mengamati Duan Ling.

“Pergilah!” Kedua penjaga itu menghunuskan pedang mereka.

Duan Ling mundur beberapa langkah sekaligus. “Aku memiliki sesuatu yang harus aku berikan kepada Yang Mulia!”

“Ada masalah apa?” Orang lain keluar dari dalam, dua penjaga mengikutinya dari dekat. Orang itu jelas seorang kapten. “Siapa namamu?”

“Duan,” jawab Duan Ling, dan menyerahkan belati itu dengan dua tangan. “Sebuah item untuk pemiliknya yang sah. Tolong kembalikan ini kepada Yang Mulia.”

Karena bingung, kapten itu melihat ke arah Duan Ling. “Kau berasal dari mana? Di mana dokumenmu?”

“Aku dari pegunungan Xianbei; bukan orang lokal.”

“Di mana kau tinggal? Tinggalkan alamatmu dan tunggu di sana.”

“Aku akan menunggu di sini,” Duan Ling menjawab demikian; lagipula dia tidak memiliki tempat tinggal.

“Yang Mulia tidak ada di istana. Tidak ada gunanya bahkan jika kau menunggu.”

Hati Duan Ling sedikit jungkir balik. Dia berpikir, oh tidak, ayah tidak ada di sini?! Duan Ling ingin bertanya ke mana dia pergi, tetapi dia berasumsi bahwa dia tidak akan mendapat jawaban. Bagaimana jika kapten menyerahkan barang itu kepada orang lain? Dia ingat Li Jianhong memberitahunya bahwa dia juga memiliki paman keempat… itu mungkin tidak akan berakhir di tangan kanselir agung. Mungkin Mu Kuangda juga tidak akan tahu apa arti belati ini.

“Kapan dia akan kembali?” Duan Ling bertanya.

“Aku tidak tahu,” jawab kapten.

Duan Ling mundur ke belakang peti di ujung jalan, di mana dia mengintip ke pintu belakang istana.

Matahari perlahan mulai terbenam.

Ketika Duan Ling lelah karena berdiri, dia memindahkan bebannya ke kaki satunya, dan bersandar di dada sambil memandang ke luar. Setiap orang yang meninggalkan istana, apakah itu seorang kasim, penjaga, atau pelayan istana, semuanya memberinya secercah harapan. Namun mereka semua tampak terburu-buru, dan tidak tinggal di sekitar. Hari sudah larut; dia harus segera mencari tempat tinggal untuk malam ini. Ketika dia datang dengan cara ini sebelumnya, dia melewati Jembatan Sungai Feng; sepertinya dia bisa tidur di bawah sana.

Kemana ayahnya pergi? Duan Ling terus memikirkan pertanyaan itu di kepalanya. Dia memperhatikan bahwa lentera telah dinyalakan di istana saat senja memudar menjadi kegelapan. Dia memutuskan untuk pergi sekarang dan kembali besok.

Orang lain akan keluar. Dalam sekejap itu, Duan Ling sangat terkejut, sedemikian rupa sehingga untuk waktu yang lama kakinya tidak bisa bergerak.

“Di mana dia?” Suara Lang Junxia berkata.

Lang Junxia telah merubah pakaiannya menjadi satu set pakaian mewah, dan dia hampir tidak bisa dikenali sebagai pria yang dikenal Duan Ling. Hari itu, ketika mereka bertemu sebentar di Viburnum, Lang Junxia tampak seperti ayam betina yang basah karena hujan, tetapi bahkan kemudian Duan Ling diliputi keinginan untuk berlari dan memeluknya.

Sekarang dia melihatnya lagi, Lang Junxia mengenakan satu set jubah pendekar pedang berwarna merah tua dan hitam yang menonjolkan bahunya yang lebar dan pinggangnya, membuatnya terlihat tinggi. Dia memakai sepasang sepatu bot hitam, dan ada topi hitam di kepalanya dengan tali merah tergantung di tepinya. Mulutnya tampak lembut dan alisnya gelap; dengan Qingfengjian dan tiga kaki logam yang melapisi sarungnya di pinggangnya, dia disatukan dengan halus seperti liontin torus giok yang sempurna.

Ini pertama kalinya Duan Ling melihat Lang Junxia berpakaian seperti ini. Jelas dia mendapatkan posisi resmi di pengadilan. Duan Ling tidak pernah begitu khawatir; mengingat apa yang terjadi di Viburnum, dia menyembunyikan dirinya di balik kotak, dan untuk sesaat dia tidak memiliki keberanian untuk melangkah maju.

Ketika dia berada dalam pelarian dari Shangjing, dia pernah berpikir berkali-kali tentang alasan mengapa Lang Junxia ingin membawanya pergi hari itu, mengapa dia tidak mengatakan apa-apa, dan apakah pengkhianat yang dibicarakan Yelü Dashi adalah dirinya… tetapi Duan Ling dengan keras kepala percaya bahwa tidak mungkin Lang Junxia mengkhianatinya. Dan dia tidak memiliki penjelasan mengapa kecuali sorot mata Lang Junxia pada hari itu di dalam Viburnum.

“Duan Ling?” Suara Lang Junxia berkata.

Lang Junxia berbalik menghadap ke tempat Duan Ling bersembunyi.

Jantung Duan Ling berdetak kencang di dadanya saat dia melihat Lang Junxia mencarinya sebelum berbalik untuk bertanya kepada penjaga itu lagi. Penjaga itu terlihat agak bingung, tetapi sikapnya saat menjawab cukup hormat.

Ada seuntai manik tasbih Buddha di sekitar pergelangan tangan Lang Junxia yang sebelumnya tidak ada di sana, dan liontin yaspis tergantung di ikat pinggangnya. Bahkan ikat pinggangnya telah ditukar dengan yang memiliki kancing emas mengilap. Ada jejak awan dan harimau tersulam di bajunya; mereka berkilauan samar saat matahari menyinari mereka pada sudut tertentu.

Dia sangat tampan, batin Duan Ling dalam hati. Lang Junxia dulu selalu mengenakan pakaian berwarna biru dari ujung kepala sampai ujung kaki; Duan Ling hampir tidak pernah melihatnya mengenakan seragam pengawal istana.

“Duan Ling!” Seolah-olah dia bisa merasakannya di dekatnya, Lang Junxia berkata dengan cemas, “Keluar! Aku tahu itu kau! Percayalah kepadaku!”

Duan Ling merasa sangat tidak nyaman, tetapi dia tetap berdiri. Lang Junxia secara tidak sengaja berbalik, dan sekejap mata tatapan mereka bertemu.

Tepi mata Duan Ling langsung memerah. Lang Junxia mengambil satu langkah ke depan, dan Duan Ling tanpa sadar mundur selangkah; Lang Junxia berlari ke arahnya, meraih tangannya, dan menarik Duan Ling dengan kuat ke dalam pelukannya.

“Lang Junxia… ” Sebuah isakan tercekat di tenggorokan Duan Ling.

Lang Junxia memejamkan matanya, menghembuskan napas berat seperti dia menghabiskan setiap sisa kekuatan hidupnya. Duan Ling mengulurkan tangan untuk memeluk punggung Lang Junxia; dia tiba-tiba teringat hari itu ketika salju turun dengan lebat, dan Lang Junxia terluka. Ketika dia kembali untuk menjemput Duan Ling, dia juga seperti ini — semua bebannya menekan Duan Ling seolah-olah dia sepenuhnya dikuasai oleh kelelahan dan keletihan.


• Akhir Buku 1: Lintasan Sungai Perak •


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments