English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Keiyuki17
Editor : _yunda


Buku 1, Chapter 8 Part 1

Setiap tahun ketika musim dingin tiba di Shangjing, kota itu berubah menjadi kota yang membeku. Dikelilingi oleh gemerisik dan gemericik kembang api, Duan Ling menyambut tahun keempat belasnya. Pada Malam Tahun Baru dia duduk berhadap-hadapan dengan Li Jianhong.

“Ini adalah Tahun Baru pertama yang kita habiskan bersama.” Tersenyum, Li Jianhong menuangkan sedikit anggur untuk Duan Ling. “Minumlah. Kau bisa minum anggur, tetapi jangan terlalu memanjakan diri.”

Duan Ling dan Li Jianhong masing-masing duduk secara formal; suara Duan Ling bukan lagi nada keperakan yang dimilikinya di masa kecil. “Ayah, aku bersulang untukmu. Ini untuk kemenangan segera setelah panjimu dikibarkan.”

Berseberangan ketika mereka minum. Di bawah cahaya lentera, Li Jianhong dengan serius mengawasi Duan Ling. “Kau sudah dewasa.”

Duan Ling selesai meminum anggurnya, dan perlahan menghela napas.

Sebenarnya, aku tidak ingin tumbuh dewasa, pikirnya dalam benaknya.

Tapi dengan lantang dia bertanya, “Apakah tumbuh dewasa bukanlah hal yang bagus?”

“Itu hal yang bagus. Ayah suka caramu terlihat dewasa.”

Duan Ling tertawa. Li Jianhong selalu mengatakan itu, tetapi Duan Ling tahu dia tidak pernah mengatakan yang sejujurnya. Untuk beberapa alasan sejak hari di mana Li Jianhong mulai mengajarinya pedang, dia merasa ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Sejak mereka kembali dari Akademi Biyong, mereka tidak lagi berbagi tempat tidur. Tetapi jika Duan Ling sedang tidur di tempat tidur, Li Jianhong masih akan tidur di kamar yang sama, berbaring di kamar luar tepat di luar.

Malam ini Duan Ling sudah meminum sedikit anggur, dia merasa agak kepanasan, tidak bisa benar-benar tidur, jadi Li Jianhong menghampirinya dan berbaring di tempat tidur. Duan Ling bergerak mendekati tembok, meninggalkan tempat untuknya.

“Nak,” Li Jianhong berkata, “Ayah akan pergi besok.”

Duan Ling berbalik menghadap ke tembok. Dia tidak membuat satu suara pun.

Li Jianhong meraih Duan Lin dan membalikkannya untuk menghadapnya. Benar saja, mata Duan Ling menjadi merah.

“Kenapa kau malu?” Li Jianhong menggodanya, tersenyum, lalu dia menarik Duan Ling ke dekapan dadanya.

Setelah berlatih seni bela diri selama hampir setahun, tubuh Duan Ling berangsur-angsur tumbuh menjadi dewasa, tetapi ketika dia dipeluk oleh Li Jianhong seolah-olah mereka telah memutar waktu kembali ke hari pertama dia tiba. Li Jianhong membungkuk sedikit untuk melihat matanya, mengulurkan dua jari untuk menarik benang merah di lehernya, dan mengeluarkan lengkungan giok.

“Ayah telah mengecewakanmu, mengecewakan ibumu.”

Duan Ling menatap mata Li Jianhong; pupil matanya seperti setetes langit berbintang di malam yang gelap gulita.

“Satu hal dalam hidup ini yang paling aku sesali adalah tidak pergi untuk mencari kalian berdua.”

“Itu semua ada di masa lalu…”

“Tidak.”

Li Jianhong menggelengkan kepalanya, menyela Duan Ling. “Jika aku tidak mengatakannya, hatiku tidak akan pernah merasa damai. Ketika itu, aku tidak berpengalaman dan tidak sabar, aku hanya berpikir bahwa Xiaowan tidak dapat memahami apa yang baik baginya dan pergi begitu saja, dan aku pikir, pada akhirnya dia akan kembali. Sepuluh tahun berlalu. Aku tidak pernah membayangkan bahwa dia sudah pergi.”

“Kenapa dia ingin pergi?”

“Karena kakekmu tidak akan setuju dengan pernikahan itu. Dia adalah orang biasa, dan aku adalah seorang pangeran yang ditempatkan di perbatasan. Dia menungguku untuk mengatakan bahwa aku akan menikahinya, tetapi aku tidak pernah melakukannya. Mereka ingin aku menikahi adik perempuan Mu Kuangda, Permaisuri Putri saat ini dari paman keempatmu.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Kemudian Lang Junxia membuat kesalahan besar dan aku akan menghukumnya sesuai dengan kode militer. Dia memohon keringanan untuknya, karena dia pikir kejahatannya tidak perlu hingga hukuman mati. Kami berdua bertengkar sepanjang malam, dan dia pergi segera setelah fajar menyingsing. Aku mengatakan pada Lang Junxia untuk mencegatnya. Orang itu mengejarnya dengan pedangnya dan kembali untuk memberitahuku bahwa dia menyandera dirinya, berkata dia akan bunuh diri jika Lang Junxia membuatnya kembali. Sifat pantang menyerah itu…”

Li Jianhong menggelengkan kepalanya tanpa daya. “Ayah juga sangat marah. Aku pikir karena dia kembali ke selatan, dia mungkin akan menikah cepat atau lambat, jadi aku berhenti begitu saja. Aku tidak pernah bertanya padanya selama bertahun-tahun — sampai hari Zhao Kui mencabut komandoku di militer atas nama istana kekaisaran. Ketika aku melarikan diri dari Gunung Jiangjun, saat itulah aku akhirnya meminta Lang Junxia untuk menjemputnya.”

“Aku tidak pernah menyangka dia sudah pergi.” Li Jianhong menyelesaikannya, “Dan untukku, dia sudah melahirkanmu.”

“Apakah kau menyesal?”

“Tentu saja. Aku sering berpikir bahwa aku harus memberinya gelar anumerta suatu hari nanti. Tapi dia sudah tiada. Apa gunanya gelar anumerta?”

Duan Ling memainkan lengkungan giok yang tergantung di leher Li Jianhong, kepalanya bersandar di lengan Li Jianhong. Sekali lagi, Li Jianhong menghela napas panjang.

“Maafkan aku, Ruo’er1. Katakan padaku ‘Aku tidak membencimu, ayah’, dan aku akan menganggapnya seperti kau dan ibumu mengatakannya bersama.”

“Tidak,” kata Duan Ling tiba-tiba.

“Kau masih berhutang banyak pada kami.” Duan Ling tersenyum. “Kau harus memastikan bahwa kau akan terus tetap hidup. Tidak akan terlambat untuk mengatakan hal seperti itu lagi ketika kau benar-benar sudah tua.”

Sudut mulut Li Jianhong sedikit melengkung ke atas.

“Baiklah. Aku berjanji padamu.”

“Saling menepukkan telapak tangan sebagai sumpah,” kata Duan Ling.

Satu tangan Li Jianhong melingkari Duan Ling, dan sekarang dia mengangkat tangan yang lain, menepukkan telapak tangannya pada telapak tangan Duan Ling sebanyak tiga kali. Malam itu, Shangjing menyambut salju terlebat yang pernah dilihat di kota; kepingan salju berjatuhan dalam gumpalan berbulu, tumpah ke cakrawala.


Pada saat Duan Ling membuka matanya saat matahari bersinar di keesokan paginya, Li Jianhong sudah pergi.

“Ayah!” Duan Ling bangkit dan menggeledah seluruh isi rumah. Semua yang dia butuhkan untuk dibawa ke sekolah sudah disiapkan untuknya; Li Jianhong adalah satu-satunya hal yang hilang. Sebilah pedang tergeletak di atas kopernya.

Akademi Biyong tampak cukup meriah di hari pertama sekolah ini dibuka kembali. Renovasi gedung telah selesai; bahkan plakat kayu mereka sudah ditukar dengan yang baru. Duan Ling berjalan melewati aula semulus gerbong muatan ringan yang melewai jalan-jalan yang sudah dikenalnya, menyapa orang-orang yang dia kenal, merapikan tempat tidurnya sendiri.

“Di mana ayahmu?” Cai Yan juga sedang merapikan tempat tidurnya sendiri.

“Dia pergi untuk menyelesaikan urusan.”

“Kapan dia akan kembali?”

“Mungkin dalam setahun.”

Duan Ling dan Cai Yan duduk di tempat tidur mereka masing-masing, saling bertatapan tanpa mengatakan apa pun. Cai Yan memberinya senyuman, dan Duan Ling balas tersenyum, seolah-olah mereka tahu apa yang dipikirkan satu sama lain tanpa perlu bertukar kata.


Xichuan; hari ketiga di bulan pertama tahun ini.

“Li Jianhong kembali,” kata Zhao Kui. “Dia bergerak melewati Jalan Shangjing dengan sepuluh ribu prajurit Khitan, pertama melewati Gunung Bo, Mata Air Qixue, Gunung Jiangjun, dan kemudian melewati jalan barat ke Xichuan. Ada benteng strategis alami di sepanjang jalan.”

Mu Kuangda, Chang Liujun, Wu Du, Lang Junxia, ​​dan seorang literati berkumpul di ruang kerja Zhao Kui, melihat peta yang tergantung di dinding.

“Atas dasar apa?” Tanya Mu Kuangda.

“Penembusan dosa pengadilan,”2 jawab Zhao Kui

“Kita tidak bisa menyembunyikan Yang Mulia Pangeran Keempat dalam kegelapan hal ini,” tambah Mu Kuangda.

“Kanselir, Jenderal.” Literati itu kebetulan adalah penasihat utama Mu Kuangda. Dia berkata dengan agak sopan, “Sebaiknya kita menuduhnya dengan pembelotan. Itu satu-satunya cara untuk meyakinkan pangeran keempat.”

Mu Kuangda bersenandung setuju, mengangguk.

“Kita perlu mengeluarkan perintah pemindahan pasukan,” kata Zhao Kui. “Ketika Li Jianhong melarikan diri empat tahun lalu, kita sudah mengerahkan kembali semua prajurit. Saat ini, jalan barat dipenuhi orang-orang yang dulunya mengabdi di bawah komandonya. Mereka kemungkinan besar akan menyerah tanpa perlawanan.”

“Pindahkan mereka.” Mu Kuangda bangkit. “Tidak ada waktu untuk kalah. Aku akan pergi ke istana sekarang. Hal pertama yang akan kulakukan adalah mengeluarkan surat teguran atas nama Yang Mulia dan mengumumkan kepada dunia bahwa Li Jianhong telah melakukan pembelotan kepada musuh serta pengkhianatan, membuat daftar delapan pelanggaran utamanya, dan menandatangani perintah pemindahan. Tetapi aku khawatir jika kita mengerahkan kembali pasukan sekarang, itu sudah terlambat.”

“Aku memiliki cara sendiri untuk menahannya,” kata Zhao Kui, terdengar seolah-olah dia sudah berhasil.

Mu Kuangda sedikit menyipitkan matanya.

Zhao Kui berkata, “Kanselir, silahkan lewat sini.”

Mu Kuangda meninggalkan harta jenderal dengan dua orang kepercayaannya, satu dari tinta dan satu pedang, dan mereka naik ke kereta. Chang Liujun duduk di kursi kusir sementara literati dan Mu Kuangda masuk ke dalam gerbong.

“Chang Pin.” Mu Kuangda bersandar di bangku empuk di dalam gerbong.

“Ya, Kanselir,” literati bernama Chang Pin berkata secara referensial, “Wuluohou Mu pasti telah menemukan beberapa kelemahan Li Jianhong.”

“Apa saja yang bisa menjadi kelemahannya?” Mu Kuangda bergumam.

Chang Pin memikirkannya sejenak. “Enam tahun lalu, ketika Wu Du dan Penjaga Bayangan bergegas ke Shangjing, kapten penjaga mereka meninggal di sana. Jelas Li Jianhong tidak ada di Shangjing, jadi apa yang membuat Wuluohou Mu keluar untuk bertarung dengan Wu Du dengan mengorbankan dirinya sendiri? Bahkan saat itu saya berspekulasi bahwa satu-satunya kemungkinan adalah bahwa istri dan anak Li Jianhong ada di Shangjing.”

Mu Kuangda membuat suara ‘hum‘. “Itu masuk akal. Jika dia bisa menggunakan istri dan anak Li Jianhong sebagai sandera, dia seharusnya bisa menundanya sebentar, tapi aku rasa itu tidak akan bisa menundanya terlalu lama.”

Chang Pin menambahkan, “Saya khawatir Zhao Kui tidak ingin menghentikannya, tetapi ingin membunuhnya.”

Mu Kuangda mulai tertawa. “Sekarang dia benar-benar hanya bercanda.”

“Zhao Kui berurusan dengan hal-hal lain seperti yang dia lakukan sebagai pasukan di medan perang. Dia tidak akan pernah bergerak jika dia belum menemukan langkah selanjutnya. Jika dia membunuh keluarga Li Jianhong terlebih dahulu, itu pasti akan membuat dia tidak stabil secara mental, jadi untuk memancingnya, menjebaknya, membunuhnya — seharusnya tidak terlalu sulit. Selama Wuluohou Mu bisa mengelola sebanyak ini, dia bahkan tidak perlu pergi menemui Li Jianhong secara pribadi. Dia hanya harus menyerahkan kepala mereka dan Zhao Kui pasti akan memenangkan ini.”

Mu Kuangda menjawab, “Kepala itu mungkin jauh lebih berguna daripada kepala pangeran keempat.”

Mu Kuangda tertawa terbahak-bahak, dan Chang Pin bergabung dengannya dalam beberapa tawa pendek. Mu Kuangda menambahkan, “Ini akan sulit untuk diatur.”

Kereta berhenti. Chang Liujun turun, dan Mu Kuangda memasuki istana.

Li Yanqiu kebetulan berdiri di serambi saat Mu Kuangda mendekat, membungkuk padanya saat dia mendekat.

“Mundur,” perintah permaisuri putri Mu Jinzhi pada pelayannya.

Mu Kuangda memberi Mu Jinzhi senyuman, dan berdiri di serambi dengan tangan di belakang punggung tanpa sepatah kata pun. Mu Jinzhi mengawasi kakak laki-lakinya sebentar, dan pada akhirnya dia tidak memiliki pilihan selain berbalik untuk pergi.

Li Yanqiu menatap Mu Kuangda, lalu Mu Kuangda membungkuk kepadanya. “Salam, Yang Mulia.”

Kemudian Li Yanqiu melirik Chang Liujun yang berdiri di belakang Mu Kuangda sebelum kembali ke Mu Kuangda. “Sudah lama sejak kunjungan terakhirmu, Kanselir Mu.”

“Ada situasi militer yang paling mendesak yang harus saya sampaikan kepada Yang Mulia hari ini.”

“Ayah sudah meminum obatnya. Dia sudah tidur. Apa pun itu, katakan saja padaku.”

“Yang Mulia ketiga telah meminjam sepuluh ribu pasukan elit dari Yelü Dashi, dan dia sedang dalam perjalanan ke selatan atas nama pengampunan dosa pengadilan, melewati jalan barat. Dia bisa berada di gerbang Xichuan dalam tiga bulan.”

“Aku hanya tahu bahwa Kakak ketiga tidak mati,” kata Li Yanqiu dengan hambar.

Mu Kuangda tidak menjawabnya, dia hanya menunggu Li Yanqiu mengatakan satu kalimat penting itu.

Li Yanqiu tetap diam untuk waktu yang lama. Pada akhirnya, dia hanya mengatakan satu hal.

“Aku merindukannya.”

Dan saat kata-kata itu berhenti, Li Yanqiu berbalik dan pergi.

Mu Jinzhi muncul dari balik pilar saat itu, matanya tertuju pada kakak laki-lakinya.

“Aku selalu menjadi orang yang bijaksana.” Mu Kuangda tersenyum tipis, dan mengeluarkan sebuah peringatan dengan tangannya untuk Mu Jinzhi, menunjukkan bahwa dia harus mengawasinya.

Cahaya lentera menembus kaca jendela, menyinari dinginnya gerimis di Xichuan ketika musim dingin. Mu Jinzhi membentangkan gulungan sutra kuning di atas meja pemerintahan, mengambil kuas, mencelupkannya ke dalam tinta, dan meletakkannya di tangan Li Yanqiu.

Mu Kuangda menunggu di luar sambil tersenyum, tangannya di belakang. Segera, suara benturan keras terdengar dari ruang kerja saat Li Yanqiu menyapu tempat kuas dan cangkir untuk mencuci, menjatuhkan semuanya ke lantai.

Mu Jinzhi mengeluarkan dekrit kekaisaran dan memberikannya kepada Mu Kuangda. Mu Kuangda mengambilnya dan pergi.


Bulan pertama, hari kelima belas: perintah pemindahan tiba di Yubiguan. Pasukan mulai mengerahkan kembali mereka.

Bulan kedua, hari pertama: Li Jianhong tiba di Tembok Besar dan menghilang di ujung gurun seperti badai.

Bulan kedua, hari kesepuluh: daerah Yulin dan Yudai berada dalam siaga tinggi sementara mereka menunggu dengan nafas terengah-engah seolah-olah menjadi musuh yang tangguh, tetapi dalam sekejap mata Li Jianhong telah muncul empat ratus mil jauhnya di Juyongguan sebagai gantinya. Selama penyerangan malam, pasukan terdepannya menangkap Juyongguan dalam serangan yang terkoordinasi dengan prajurit di dalam gerbang. Tetapi begitu dia merebut Juyongguan, dia tidak tergesa-gesa. Sebagai gantinya, dia mengirimkan panggilan ke semua yang berada di bawah langit untuk bergabung dengannya dalam pencariannya, mengumpulkan kekuatan militer.

Siapapun yang bersumpah setia sebelum kota Xichuan jatuh akan diampuni kesalahan mereka sebelumnya tanpa terkecuali.

Bulan ketiga, hari pertama: Jiangzhou, Yangzhou, Jiaozhou, dan Jingzhou sangat terguncang. Pada saat yang sama, pengadilan kekaisaran menjatuhkan dekrit kekaisaran yang dicap dengan Segel Dunia, mencantumkan delapan pelanggaran Li Jianhong.

Tapi Li Jianhong sangat sabar. Dia mengumpulkan pasukannya sebelum Juyongguan, menunggu pertempuran pertama, yang juga merupakan pertempuran tersulit; dia menunggu pasukan Chen untuk ditempatkan kembali dari timur ke barat — dan menyerang mereka saat mereka masih lelah karena perjalanan.

Li Jianhong tidak bersamanya, tetapi kehidupan Duan Ling tetap teratur. Dia belajar di siang hari, dan berlatih pedang dengan Cai Yan di malam hari, mengerjakan pondasi pelatihannya.

Di awal musim semi ini, badai pasir yang ada di mana-mana bertiup melewati Shangjing; ini adalah waktu pulang untuk bulan ini. Duan Ling mengemasi barang-barangnya sendiri, dan ketika dia akan pergi, dia melihat seorang gadis berdiri tidak terlalu jauh di gang, berbicara dengan Cai Yan, dan ketika mereka selesai berbicara, dia melirik ke arah Duan Ling.

Itu Ding Zhi. Sudah lama sekali dia tidak melihatnya. Dia pernah berhubungan dengan Cai Wen, jadi Duan Ling berasumsi bahwa dia mungkin kadang-kadang menjaga Cai Yan yang sekarang tidak memiliki kerabat. Duan Ling menyapanya, tetapi saat dia berjalan melewatinya, Ding Zhi memberinya surat. Amplop itu seluruhnya kosong; Duan Ling segera menyadarinya bahwa itu dari Li Jianhong, jadi dia segera pulang untuk membukanya.

Setelah mengikis segel lilinnya, dia menemukan bahwa gaya kaligrafi bukanlah gaya yang biasanya disukai oleh ayahnya, jelas itu digunakan sebagai cara untuk menghindari terungkapnya informasi terkait. Sebaliknya, dia menemukan tulisan tangan biasa dan berbentuk kotak-kotak, seolah-olah kata-kata itu dicetak dengan potongan kayu. Tidak ada nama penerima, dan juga tidak ada tanda tangan.

Melempar dan berputar, aku merindukanmu siang dan malam. Dua dari sepuluh hal yang perlu dilakukan sekarang telah selesai; tidak ada apa pun di luar Tembok Besar selain pasir yang bertiup. Dari semua samsara yang tak terbatas, aku hanya merindukan sudut kecil dari duniamu dengan bunganya yang indah, bertunas dan penuh janji.

Dengan waktuku di bumi, yang paling aku banggakan hanyalah ini: dengan pedang alam di tangan, aku akan menunjukkan jalannya.3

Bakarlah!

Duan Ling benar-benar tidak tahan membayangkan untuk membakar surat ini; dia membacanya berulang kali, lalu dia meletakkannya ke bawah kasur. Pada akhirnya, dia turun dari tempat tidur di tengah malam, membacanya sekali lagi dengan hati-hati sebelum dia melihatnya terbakar, merasa seperti pisau berputar di dalam hatinya.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. -er adalah sufiks kata pengecil yang umum digunakan untuk seseorang yang lebih muda. Ini secara harfiah berarti anak laki-laki, tetapi dalam akhiran itu menunjukkan masa muda. Pembicaranya juga tidak harus lebih tua.
  2. Secara harfiah “untuk membersihkan sisi kaisar”, menyiratkan untuk membersihkan pejabat yang terlalu kuat yang mempengaruhi kaisar. Tetapi itu seringkali hanya sebuah alasan untuk melakukan kudeta.
  3. Ada makna ganda dalam hal ini, baik “Aku akan menunjukkan jalannya” dan “Aku akan mengatur jalan ke selatan untukmu” . Namun, lirik asli dalam 聞戰 adalah “Aku telah merajut cahaya bulan yang cerah, dan akan menunjukkan jalannya”, jadi eng tl er menggunakan penafsiran kompas.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments