English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Editor: _yunda


Buku 3, Chapter 24 Part 3

Malam itu, mereka hanya dikelilingi oleh kegelapan kecuali satu lentera yang tergantung di dermaga yang bergoyang lembut tertiup angin di atas sungai.

Gelombang demi gelombang mendarat di tepi sungai. Lang Junxia dan Zheng Yan masing-masing bersembunyi di balik karang, menatap dermaga kayu dari jauh.

Di ujung dermaga terletak seikat kain kecil yang dibungkus.

Wajah Zheng Yan tiba-tiba tersenyum. “Aku tiba-tiba merasa bahwa cara Wang Shan berbicara mengingatkanku pada seseorang.”

Lang Junxia tidak mengeluarkan suara dan terus menatap dalam diam ke dermaga dengan tangan disilangkan. Sudah lebih dari setengah jam, tapi tidak ada yang datang untuk mengambil bungkusan itu.

Setelah ini dikatakan, mereka berdua masing-masing terdiam lagi seperti sepasang patung kayu.

Tiba-tiba, dari sungai datang seorang pria yang basah kuyup. Dia menekan satu tangannya ke tanah, dan dengan tangan yang lain, menarik bungkusan itu ke arah dirinya di bawah air.

Zheng Yan dan Lang Junxia, mereka berdua tampak terkejut sebelum mereka melesat dengan cepat ke arahnya, tapi pada saat itu sudah terlambat. Sosok itu sekali lagi menyelam ke dalam sungai. Zheng Yan meluncur ke dalam air, sementara Lang Junxia berlari di sepanjang tepian mengejarnya.


Di dalam Paviliun Karangan Bunga.

Adegan demi adegan masa lalu melintas di depan mata Cai Yan dan Duan Ling.

Mereka berdua tampaknya telah kembali ke musim semi di mana bunga persik bermekaran; kembali ke hari-hari yang dilewati satu sama lain di Aula Kemasyhuran, menyilangkan tangan di depan mereka, mengangguk dan saling menyapa; kembali ke malam ketika mereka belajar seni bela diri dari Li Jianhong bersama-sama, melalui gerakan Pedang Alam; kembali ke hari di mana ada ratapan di segala penjuru saat kota itu jatuh, dan darah mengalir di jalan-jalan.

Cai Yan telah kembali ke saat dia merobek kain putih yang menutupi tubuh saudaranya, ketika matanya dipenuhi dengan ketakutan dan ketidakberdayaan.

Ketakutan keluar dari tubuh Cai Yan, membuatnya sangat gugup hingga perutnya bergejolak, sangat gugup hingga dia menjatuhkan cangkir kosong di depannya.

Yang Duan Ling lakukan hanyalah melihat kembali ke arahnya, tenang dan hening, saat ketakutan Cai Yan tumbuh setiap saat seolah-olah orang yang duduk di depannya adalah hantu balas dendam yang datang untuk mengambil nyawanya, membawa serta kemarahan mendiang Li Jianhong yang menggoyahkan dan kecaman dari semua Chen yang Agung.

Dia takut. Duan Ling juga menyadarinya — apa yang dia takutkan?

Duan Ling tiba-tiba merasa semuanya sangat lucu, saat dia menyadari dari mana ketakutan Cai Yan berasal. Bukan Duan Ling-lah yang dia takuti, melainkan ayahnya. Memikirkan seseorang akan takut pada orang mati; kekuatan ayahnya untuk mengintimidasi tampaknya tidak hilang hanya karena dia telah jatuh dalam pertempuran, tapi sebaliknya telah bersembunyi di suatu tempat yang tidak dapat mereka lihat — seperti pisau tajam yang menusuk jiwa Cai Yan, memakukannya ke sebuah tugu peringatan.

“Yang Mulia Pangeran, silakan,” Duan Ling tersenyum sembari menyikut Wu Du dengan sikunya.

Literati yang mengikuti di sisi Cai Yan berkata dengan dingin, “Betapa ramahnya.”

Wu Du mengambil kendi, dan begitu pula literati itu. Mereka masing-masing menuangkan secangkir anggur untuk pemuda di sebelah mereka.

Wu Du menenangkan diri dan berkata kepada Cai Yan, “Yang Mulia Pangeran, ini putra angkat saya, Wang Shan.”

“Wang … Wang Shan.” Cai Yan berkata dengan suara gemetar, “Jadi itu kau.”

“Saya akan meminum ini atas nama Yang Mulia Pangeran,” kata literati itu.

Karena Duan Ling adalah orang yang menawarkan anggur, literati itu kemudian meminumnya atas nama Cai Yan.

Mereka berdua berada dalam keadaan hening berkepanjangan yang berlangsung begitu lama sehingga bahkan literati itu pun mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dia bertanya pada Cai Yan, “Apakah Yang Mulia Pangeran tidak enak badan?”

Yang ingin dilakukan Cai Yan hanyalah meninggalkan tempat ini secepat mungkin. Dia memaksa dirinya untuk mengatakan, “Cuacanya terlalu berangin, dan itu membuatku sedikit … sakit perut.”

Oh betapa sulitnya bagimu untuk mencari alasan di saat seperti ini, pikir Duan Ling. Kemarahan yang dia rasakan sejak saat dia menatap Cai Yan semakin menguatkan alasannya, dan yang ingin dia lakukan hanyalah mengatakan lebih banyak untuk memprovokasinya, tapi saat dia akan mulai berbicara lagi, tiba-tiba ada keributan keras di luar.

“Jangan biarkan dia pergi!” Itu suara Zheng Yan.

Pikiran Duan Ling menjadi kosong sesaat sebelum kesadaran kembali padanya, Amga kembali! Tanpa diberi waktu jeda, ada suara keras lainnya saat Amga menabrak pagar dan jatuh ke lantai mereka. Wu Du dan literati itu masing-masing sibuk melindungi orang yang mereka coba lindungi, dan saling menjauh dalam dua kelompok. Wu Du dengan tegas menghunuskan pedangnya.

Detik berikutnya, orang lain melakukan gerakan salto di udara, mengirim terbang layar dengan tendangan. Layar terbang tepat ke Amga, dengan benturan keras seketika hancur menjadi debu.

Duan Ling mundur lagi dan lagi, terlindungi di belakang Wu Du, dan bergerak lebih jauh dari Cai Yan. Kemudian Amga meraih Cai Yan dan menendang literati itu, meletakkan pedangnya di leher Cai Yan.

Orang yang menendang layar itu adalah Lang Junxia, ​​dengan Zheng Yan yang basah kuyup mengikutinya dari belakang. Ketika mereka menyadari bahwa Cai Yan telah ditangkap, ada ketakutan di wajah mereka berdua.

“Beri tahu kami apa yang kau inginkan,” kata Lang Junxia. “Jangan buang waktu lagi.”

Amga tidak pernah menyangka akan menemukan ikan besar seperti ini setelah jatuh dari tangga. Hanya setelah lawannya mulai berbicara, dia menyadari bahwa sandera yang dia tangkap adalah putra mahkota Chen yang Agung, dan dia tersenyum.

“Menarik,” kata Amga, “Jadi itu kau, huh.”

Amga melakukan trik dengan pedangnya, ujungnya menyilaukan di bawah cahaya lentera, dan Cai Yan berhenti bernapas. Semua orang menatap tangan Amga yang memegang pedang, sementara Cai Yan menatap tepat ke mata Duan Ling.

“Beri tahu aku apa persyaratannya,” kata Amga, “Kita semua orang pintar.”

Keheningan mengambil alih ruangan dan tidak ada yang berani mengatakan apa pun; yang mengejutkan mereka adalah Duan Ling yang akhirnya berbicara terlebih dahulu.

“Semua orang tetap tinggal. Zheng Yan, ambilkan tiga kuda untuknya. Apakah Khatanbaatar masih di sini? Bawa dia ke sini dan taruh dia di atas kuda.”

Lang Junxia dan Zheng Yan saling bertukar pandangan. Zheng Yan mengangguk padanya, dan langsung menuju ke luar untuk menyiapkan kuda-kuda.

Sementara itu, Lang Junxia menyadari bahwa Duan Ling dan Cai Yan telah bertatap muka. Dia tampak terkejut pada awalnya, lalu dengan khawatir dia menoleh ke Cai Yan untuk memberi isyarat bahwa dia tidak perlu khawatir; dia bisa mengurusnya.

“Kau,” kata Amga kepada Wu Du, “pindah ke sana. Jaga jarakmu.”

Wu Du dan Duan Ling memutuskan untuk menyingkir dan menikmati pertunjukan.

Duan Ling membalikkan banyak ide di kepalanya, dan ada banyak hal yang ingin dia katakan, tapi pada akhirnya dia tidak mengatakan satu pun dari mereka.

Beberapa saat kemudian, langkah kaki mendekat lagi saat pria lain berlari ke dalam ruangan. “Yang Mulia Pan— Apa yang terjadi?!”

Pria itu adalah Chang Liujun, dan dia memahami situasinya segera setelah dia melihat apa yang terjadi di dalam Paviliun Karangan Bunga. Amga meneriakkan perintah, “Kalian semua, keluar!”

Dan semua orang mundur dari ruangan. Lang Junxia memandang antara Cai Yan dan Duan Ling, seolah ragu-ragu. Amga menyuruhnya bergegas, “Bergerak!”

Semua orang perlahan mundur dari ruangan.

Mereka semua diam, dan Duan Ling pada dasarnya bisa menebak apa yang terjadi — Zheng Yan dan Lang Junxia sedang menunggu di dermaga, dan mereka bertemu Amga ketika dia pergi ke sana untuk mengambil barang. Begitu dia mendapatkan bungkusan itu, dia pasti kembali ke kota dengan kecepatan tinggi, berlari melintasi atap untuk masuk ke Paviliun Karangan Bunga, dan ketika Lang Junxia dan Zheng Yan hendak menangkapnya, Amga akhirnya menjadi putus asa.

“Kuda-kuda sudah siap.” Zheng Yan masuk. “Biarkan dia pergi.”

Keempat pembunuh besar hadir, dengan Amga dan Cai Yan, yang dia tangkap di satu sisi, dan Duan Ling di sisi lain dengan Wu Du, Lang Junxia, ​​Chang Liujun serta Zheng Yan di belakangnya.

Duan Ling berpikir, betapa beruntungnya kau, Cai Yan. Jika kau terbunuh sekarang, ini akan menjadi kekacauan yang sulit untuk dibersihkan. 

“Apakah Khatanbaatar ada di sini?” kata Duan Ling. “Bawa dia ke luar kota,” kata Duan Ling pelan.

“Jenderal Xie berjaga di gerbang kota, jadi dia tidak bisa keluar sendiri. Kami akan memimpin, ayo.”

Paviliun Karangan Bunga tidak jauh dari gerbang kota. Mereka berjalan sebentar dengan Duan Ling dan empat pembunuh yang memimpin, sementara Amga menunggang kuda yang sama dengan Cai Yan, membuntuti kelompok itu jauh di belakang.

“Kami mempertaruhkan seluruh hidup kami padamu,” kata Zheng Yan, “jika kami tidak bisa mendapatkan Yang Mulia Pangeran kembali, kami hanya harus kabur dan menjadi buronan.”

Duan Ling akan lebih senang jika Amga menculik Cai Yan ke utara; bagaimanapun Batu akan merawatnya dengan cukup baik. Namun, jika putra mahkota negara mereka diculik begitu saja, dia tidak tahu bagaimana mereka akan menjelaskannya kepada Li Yanqiu. Menyingkirkan lawannya mungkin hanya membuat hidupnya lebih sulit.

Duan Ling berbalik untuk melirik mereka saat Chang Liujun bertanya kepada tiga lainnya, “Apa yang terjadi?”

“Aku tidak tahu,” jawab Duan Ling. “Aku sedang minum di Paviliun Karangan Bunga.”

“Aku juga tidak tahu,” jawab Wu Du. “Aku juga sedang minum di Paviliun Karangan Bunga.”

“Amga datang untuk mengambil bungkusan itu secara langsung.” Zheng Yan masih basah, jubahnya menempel di tubuhnya. “Dia berlari sangat cepat sehingga kami kehilangannya dalam sekejap.”

Lang Junxia tidak menguping, tapi ini membuktikan teori Duan Ling.

“Dan untuk apa kau datang ke sini?” Duan Ling bertanya pada Chang Liujun.

“Tuan muda memintaku untuk datang meminta maaf kepada Yang Mulia Pangeran,” jawab Chang Liujun. “Dia tidak bisa datang malam ini.”

“Apa kau baik-baik saja?” Duan Ling telah memperhatikan bahwa ada darah yang merembes keluar dari lengan Zheng Yan, tapi Zheng Yan mengabaikan kekhawatirannya.

Mereka berlima sudah sampai di gerbang kota. Lang Junxia mengeluarkan plakat yang tergantung di pinggangnya dan menunjukkannya kepada Zirah Hitam yang menjaga kota. “Kita harus meninggalkan kota untuk urusan Istana Timur.”

Duan Ling meminjam satu set busur dan anak panah dari prajurit.

Zheng Yan dan Lang Junxia baru saja meninggalkan kota sebelumnya, jadi para prajurit tidak akan repot-repot memeriksa mereka. Kemudian mereka bertanya, “Bagaimana dengan orang-orang di belakangmu?”

“Mereka bersama kami,” jawab Lang Junxia.

Amga mengawal Cai Yan dan menjaga jarak beberapa lusin langkah antara mereka dan para pembunuh, tidak mau mendekat.

Duan Ling berkata, “Wuluohou Mu, siapkan perahu untuknya.”

Lang Junxia pergi untuk mengambil perahu, jadi semua orang menunggunya kembali.

“Aku butuh ke belakang sebentar1.” Duan Ling mundur ke dalam kegelapan, berjalan menuju tepi sungai. Wu Du mengikutinya.

Duan Ling merobek sepotong kecil kain dari jubahnya, dan menulis kata-kata “Semoga surat ini menemukanmu dengan baik2 di atasnya dengan tongkat arang. Dia mengikat kain ke panah, dan memasukkannya ke bawah lengan bajunya, kembali ke pelabuhan.

“Tempatkan Khatanbaatar di atas kapal,” Duan Ling menambahkan.

Literati itu juga mengikuti mereka ke luar kota, berdiri di kejauhan; melihat kelompok itu dan yang lain, bertanya-tanya siapa Duan Ling sehingga keempat pembunuh hebat itu dengan sempurna bersedia menerima perintahnya tanpa pertanyaan.

Amga mencibir, “Sudah pasti, kau satu-satunya orang pintar di sini.”

Duan Ling berpikir dalam hati, jika kau benar-benar menginginkannya, putra mahkota adalah milikmu, simpan kembaliannya, tapi dia berkata, “Pergi, naiklah perahu.”

“Tunggu sebentar!” Zheng Yan berkata, terdengar panik, “Apa maksudmu? Kembalikan dia!”

Amga membawa Cai Yan ke perahu bersamanya; Lang Junxia dan Zheng Yan berlari beberapa langkah setelah mereka. Chang Liujun berkata, “Tidak mungkin, Wang Shan. Jangan berani macam-macam denganku.”

Heh, itu membuatmu takut, pikir Duan Ling, dan begitu tongkat Amga menyentuh air dan kapal akan pergi, Duan Ling berteriak, “Kejar dia!”

Amga segera menendang Cai Yan ke dalam air. Pada saat yang sama, Lang Junxia, ​​yang mengejar mereka ke tepi dermaga, berhenti di jalurnya, sedangkan Zheng Yan melemparkan dirinya ke dalam air lagi.

Duan Ling tahu bahwa Amga akan menendang Cai Yan ke dalam air untuk mengulur waktu; dia tidak pernah khawatir bahwa Amga akan benar-benar membawa Cai Yan bersamanya.

Namun setelah percikan besar saat Zheng Yan menyelam ke dalam air untuk menyelamatkan Cai Yan, Amga meneriakkan ini pada mereka dari perahu yang sudah jauh, “Putra mahkotamu palsu—! Kalian semua telah tertipu!”

Duan Ling menatapnya tanpa berkata-kata. Wu Du, Lang Junxia, ​​Chang Liujun, serta literati yang berlari ke arah mereka, semua terlihat ngeri. Bahkan Duan Ling tidak pernah menyangka Amga akan meneriakkannya begitu saja!

Untuk sesaat Duan Ling terganggu, dan dia mengingat panah itu sekarang. Dia segera menembakkan panah, dan itu terbang seperti bintang jatuh ke dalam kegelapan, tapi dia tidak tahu apakah panah itu terkubur sendiri ke dalam perahu atau jatuh ke sungai.

Waktu berlalu sebelum Zheng Yan merangkak keluar dari sungai dengan Cai Yan yang basah kuyup di tangannya. Lang Junxia dan Chang Liujun keduanya bergegas untuk memeriksa Cai Yan. “Apakah Anda baik-baik saja, Yang Mulia Pangeran?”

Duan Ling memberi Wu Du senggolan untuk memberitahunya bahwa dia harus pergi dan setidaknya menunjukkan kepedulian. Wu Du akhirnya pergi ke mereka dan memeriksa denyut nadi Cai Yan.

“Yang Mulia Pangeran,” jawab Duan Ling, “maaf jika saya telah menyinggung Anda. Ini semua salahku, sungguh.”

Cai Yan bahkan tidak memiliki kekuatan lagi untuk berbicara, dan mengabaikan permintaan maafnya, terlihat sangat menyedihkan.

Literari itu menuntun seekor kuda ke arah mereka dan berkata, “Yang Mulia Pangeran, saya akan membawa Anda kembali ke istana.”

Cai Yan berkata dengan lemah, “Kalian semua … kalian semua …”

“Yang Mulia Pangeran?” Literati berkata.

“Feng Duo,” kata Zheng Yan, “bawa kembali Yang Mulia Pangeran segera. Jangan biarkan dia sampai masuk angin.”

“Aku juga akan kembali,” kata Lang Junxia.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Alasan yg biasanya digunakan ketika mau pergi buang air.
  2. “May this letter find you well, kalimat yang biasanya berarti penulis surat berharap pada saat orang yang dituju (pembaca) membaca surat itu, mereka (pembaca) dalam keadaan yang diinginkan/sehat/aman/nyaman.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments