English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Me_524
Editor : _yunda


Buku 1, Chapter 3 Part 2

Pria bertopeng itu mencemooh, dan langsung melancarkan serangan dari balik pohon — Qingfengjian menduplikasi dirinya menjadi bayangan dengan jumlah tak terhingga, membentuk jaring yang mengelilingi Wu Du.

Menutupi segala sudut dalam sekali gerakan, Wu Du tidak memiliki pilihan lain selain mundur ke kandang kuda, satu tangannya bergerak mengambil pedangnya bersamaan dengan sebuah senyum ejekan yang muncul di wajahnya.

Pedang pria bertopeng mengarah langsung ke tenggorokan Wu Du.

Wu Du terlihat tidak kesulitan akan hal ini — masih ada senyum di wajahnya. Tanpa memperhatikan pertahanannya, dengan kibasan pergelangan tangannya dia membalikkan pedangnya dan mengarahkannya pada Cai Yan yang tidak sadarkan diri.

Namun tidak seperti harapannya, pria bertopeng itu mengabaikan semua bahaya yang mungkin akan menimpa Cai Yan, dan tetap lurus menyerang Wu Du dengan kecepatan tinggi. Dengan waktu yang hanya berlangsung selama sambaran petir, Wu Du menyadari bahwa bahkan jika dia membunuh Cai Yan, pedang pria bertopeng ini akan langsung menembus tenggorokannya, meninggalkannya tanpa pilihan lain selain merubah taktik. Namun Wu Du telah kehilangan kesempatannya sejak serangan pertama — saat dia menoleh untuk menghindar, pria bertopeng telah merubah arah pedangnya dari tusukan ke depan menjadi sapuan ke samping, pedangnya langsung menarik garis berdarah pada pipi Wu Du!

Wu Du mundur sekali lagi, dan pria bertopeng itu mengejarnya seperti bayangan tanpa henti. Menyadari bahwa pemuda dalam penjagaannya tidak bisa digunakannya sebagai sandera, Wu Du kini diharuskan untuk menangkis pukulan tersebut. Kedua pedang tersebut terjerat, terbang ke langit-langit kandang, dan menancap di pilar kayu. Pria bertopeng melepaskan pedangnya, dan dengan kedua tangan kosongnya dia menekan mereka tepat ke perut Wu Du.

Itu adalah gerakan yang tidak menimbulkan suara, namun gerakan ini menyalurkan kekuatan penuh dari pria bertopeng itu. Di mana ‘kekuatan lembut’1 ini mengenainya, energi itu langsung menyerang organ dalam Wu Du — dan dia memuntahkan seteguk darah, langsung jatuh ke belakang.

Wu Du hampir saja membayar satu kesalahan dalam mengambil keputusan dengan hidupnya. Namun ketika dirinya menabrak dinding kandang dan terbang ke sisi lain, dengan sekali lambaian tangannya dia menaburkan segenggam racun. Pria bertopeng itu segera menahan napasnya, meraih pedangnya, dan melompat ke udara. Wu Du bergerak melalui kabut beracun, menarik pedangnya seperti yang dilakukan pria bertopeng itu, kemudian mengejarnya.

Pria bertopeng itu mundur ke dinding halaman saat mundur, jubah berkibar di belakangnya, Wu Du tepat berada di belakangnya, dan keduanya melompat ke atap Aula Kemasyhuran, melewati para penjaga dari atas. Pria bertopeng itu tampaknya lemah karena tengah terluka, sedangkan Wu Du menderita setelah mendapat sebuah pukulan telapak tangan di awal pertarungan mereka, sehingga keduanya tergelincir di atas atap membuat genting berjatuhan.

Keributan ini membuat para penjaga mendongak ke atas.

Sementara mereka sibuk, Duan Ling dan Helian berlari keluar dengan cepat dan mengangkat Cai Yan bersama-sama, membawanya ke koridor.

Saat penjaga melihat ke atas, Wu Du dan pria bertopeng itu sudah pergi; keduanya menggunakan seni cahaya2 pada saat yang bersamaan, terbang melintasi atap dengan langkah yang tidak bersuara untuk mencapai atap aula utama.

Goresan di pipi Wu Du masih meneteskan darah ketika dia mengejar pria bertopeng di atap terbesar di Aula Kemasyhuran.

Wu Du dan pria bertopeng itu saling menatap, keduanya tidak bisa ceroboh, keduanya tahu bahwa hanya satu dari mereka yang akan keluar dari pertarungan ini hidup-hidup.

Suara pria bertopeng menjadi sangat serak. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Wu Du menyeringai, “Aku membiarkanmu hidup hanya untuk memancing ikan besar itu keluar. Setelah kita berpisah, kau segera berangkat ke Shangjing. Apalagi selain untuk melindungi keturunannya dengan terburu-buru? Jika ada ahli waris, mungkin mereka hampir seusia ini sekarang.”

Pria bertopeng itu membalas dengan nada serak, “Rencana yang paling baik sering kali salah. Wuxiong, kau telah mengakaliku.”

“Kau bisa membuatnya aman untuk saat ini, tapi kau tidak bisa membuatnya aman selamanya.”

“Aku akan menjaganya tetap aman selama yang aku bisa. Kaulah yang kalah hari ini.”

Wu Du tertawa mengejek, “Itu jauh dari kesimpulan.”

Sang pria bertopeng tidak berkata apa-apa lagi; dia tiba-tiba memfokuskan energinya ke satu kaki dan menginjak atap, dan semua ubin yang bisa dijangkau kekuatan internalnya runtuh dengan suara gemuruh yang keras. Ekspresi khawatir melintasi wajah Wu Du, tetapi sudah terlambat baginya untuk melompat keluar, dan bersama-sama mereka jatuh tepat ke aula utama di bawah mereka!

Yelü Dashi masih membagikan hadiah di dalam aula ketika tiba-tiba atapnya runtuh tepat di atasnya. Inilah mengapa para Han memiliki pepatah yang mengatakan bahwa ‘orang yang sangat kaya tidak boleh duduk di bawah atap agar ubin tidak jatuh di atasnya’. Sekarang dua pembunuh jatuh pada saat yang sama dan aula menjadi kacau balau; dalam sekejap, pangeran menggeram, para penjaga berteriak, kepala sekolah menjerit, dan anak-anak mengencingi diri mereka sendiri — setiap reaksi di bawah matahari telah terwakili, betapa meriahnya itu!

“Siapa di sana—!”

“Pembunuh!”

“Lindungi yang mulia!”

Yelü Dashi juga seorang ahli seni bela diri, dan segera membuat keputusan untuk mengangkat meja dan melemparkannya langsung ke arah mereka.

Tetapi baik Wu Du maupun pria bertopeng, yang baru saja berhasil keluar dari kekacauan, tidak mengatakan apa-apa lagi. Bersamaan dengan itu mereka melompati dan menabrak jendela, pria bertopeng itu melarikan diri ke timur dan Wu Du ke barat, dan tepat di belakang mereka, hampir seratus anak panah diluncurkan ke punggung mereka.

Hembusan angin dari panah berkecambuk melewati es, dan setetes air menetes ke bawah.

Pria bertopeng itu melompat ke atas bebatuan di halaman depan. Keahlian Khitan dalam memanah sangat luar biasa, sangat akurat, dan semua anak panah mengarah ke titik-titik vitalnya; panah akan mengenainya dalam sekejap. Mata pria bertopeng itu menyipit. Setiap ujung anak panah terakhir berubah menjadi poin dalam visinya.

Setelah itu dia merentangkan kedua tangannya, dan mendorong bebatuan itu dengan membalikkannya ke belakang seperti elang jantan yang merentangkan sayapnya. Dia langsung menghindari semua anak panah dan menjatuhkan diri di balik dinding halaman belakang.

Sebaliknya, Wu Du melompat ke dinding saat anak panah mendekat ke punggungnya. Dengan satu langkah keras di atas tembok, dia menggunakan momentum untuk memutar dirinya sepenuhnya — gaya sentripetal3 dari gaunnya yang menjerat gerak maju anak panah. Kemudian mendorong qi-nya ke luar, membuat panah-panah itu terbang ke segala arah!

Para pengawal berlari keluar dari halaman depan untuk mengejarnya, tapi tidak ada lagi tanda-tanda Wu Du.

Suara derap kuda bergema di jalan setapak saat Cai Wen tiba bersama para penunggang kuda. Batu melihat Wu Du mendarat dan berteriak, “Itu dia!”

Para penunggang kuda menyerang. Dia telah terluka untuk memulai, Wu Du tidak berani tinggal untuk bertarung, jadi dia melarikan diri jauh ke dalam gang. Tapi begitu dia berbelok keluar dari gang belakang, lebih banyak penunggang kuda yang datang. Melihat para penjaga berlari di sepanjang jalan utama di samping sungai dan dirinya akan segera terkepung, Wu Du melompat ke udara. Dia menghunus pedangnya dan memotong busur di udara, mengarah ke sungai yang membeku.

Dengan sekali tabrakan, es pecah menjadi beberapa bagian; Wu Du menyelam ke dalam air, menghilang tanpa jejak.

Di halaman samping, Duan Ling dan Helian Bo sedang mengguncangkan tubuh Cai Yan.

“Cai Yan!” Duan Ling dengan cemas memanggil namanya.

“Air.” Helian Bo memberi Duan Ling air untuk di suapkan ke Cai Yan.

Tanpa peringatan apapun, pria bertopeng itu mendarat. Helian Bo dengan cepat meraih Duan Ling untuk menariknya ke belakangnya, tetapi Duan Ling melambaikan tangan untuk menunjukkan bahwa ‘tidak apa-apa‘. Mereka melihat pria bertopeng itu membungkuk untuk memeriksa napas Cai Yan terlebih dahulu sebelum memeriksa denyut nadinya. Duan Ling hendak mengatakan sesuatu tetapi pria bertopeng itu mengangkat tangannya yang lain dan menempelkannya ke bibir Duan Ling.

Cai Wen mengatakan sesuatu di luar halaman mereka. Akhirnya pria bertopeng itu menunjuk ke Cai Yan, dan menggoyangkan jari telunjuknya ke arah Duan Ling. Duan Ling mengerti bahwa hidup Cai Yan tidak dalam bahaya. Kemudian, pria bertopeng itu pergi dengan memanjat tembok, dan Cai Wen tiba.

Sore itu, Yelü Dashi sangat marah. Dia mengunci Aula Kemasyhuran dan meminta setiap anak untuk diinterogasi. Semua orang lelah dan letih pada akhirnya, dan beberapa dari mereka tidak berhenti menangis.

Batu pergi untuk mendapatkan bala bantuan dan tidak sempat melihat pria bertopeng yang melawan Wu Du, sementara Duan Ling telah menggambarkan seluruh kejadian itu tiga kali dengan sangat rinci. Dia tidak berani menyebutkan Lang Junxia, ​​dan dengan sengaja menyimpan beberapa detail untuk dirinya sendiri. Dia hanya memberi tahu mereka bahwa ketika dia pergi menemui Batu, dia kebetulan melihat Cai Yan dibawa, dan kemudian pembunuh misterius lain muncul juga dan seterusnya.

Dan Cai Yan di sisi lain, setelah terbangun, tidak tahu apa-apa; Yelü Dashi mendengarkan kesaksian mereka secara pribadi, dan ketika dia pergi untuk memverifikasi cerita dari Helian Bo, Helian Bo tergagap-gagap. Yelü Dashi benar-benar lebih suka mendengarkan Duan Ling mengulang cerita sepuluh kali daripada mendengar Helian Bo mengulanginya bahkan hanya sekali. Pada akhirnya, kesaksian Duan Ling dan Cai Yan dianggap sebagai fakta dan dicatat. Penyelidikan lebih lanjut oleh Cai Wen tidak menemukan apa-apa — semua orang tampaknya tidak tahu apa-apa, sehingga masalah ini tersingkirkan begitu saja.

Semua pertanyaan itu membuat Duan Ling kelelahan secara fisik dan mental; dia hampir tidak berhasil mendapatkan beberapa gigitan saat makan malam, dan ketika dirinya kembali ke halaman sampingnya untuk tidur, kepalanya masih tenggelam dalam apa yang terjadi pada siang hari itu, membuatnya berguling-guling, tidak bisa tidur. Tetapi sekarang seseorang memainkan seruling di luar seperti yang dilakukan sebelumnya, melodi yang merdu dan manis, dan Duan Ling perlahan-lahan menjadi tenang dikelilingi oleh musik dan tertidur lelap.


Keesokan harinya semuanya kembali normal kecuali Cai Yan terlihat agak kelelahan. Duan Ling pergi untuk menunjukkan perhatiannya, dan Cai Yan hanya mengangguk. Keduanya berbicara untuk waktu yang lama, dan bahkan Cai Yan tidak tahu siapa yang bisa menjadi musuh bagi keluarganya sendiri. Dia hanya memberi tahu Duan Ling bahwa saudaranya, Cai Wen, menemukan seorang pekerja yang tidak sadarkan diri di balik ruang tinta, dan mungkin begitulah cara si pembunuh menyelinap masuk — dengan berpura-pura menjadi pekerja.

Adapun mengapa dia memilih untuk mencoba melakukan pembunuhan di sekolah pada waktu itu, mengapa targetnya adalah Cai Yan, dan identitas pria bertopeng lainnya, bahkan Cai Yan dibiarkan hanya untuk menggaruk kepalanya. Untunglah para penjaga kota menemukan lubang di es di parit di luar kota, dan dari sini mereka menyimpulkan bahwa si pembunuh telah melarikan diri.


Malamnya di Viburnum

Dihadapan cermin, Lang Junxia mencampurkan bubuk obat dengan cairan dan mengoleskan campuran tersebut pada luka di pinggang dan punggungnya. Di sisinya ada sebuah layar, dan di belakang layar ada enam gadis berpakaian menawan termasuk Ding Zhi, masing-masing dari mereka adalah pelacur terkemuka di Viburnum — Lan, Shao, Jin, Zhi, Mo, dan Zhi.4

Dari enam, satu gadis menyalakan penghangat tangan, yang lain menawarkan cangkir teh; semuanya duduk di sekitar seorang wanita di ruang tamu, tampak seperti karangan bunga berwarna cerah. Dia pasti adalah “Nyonya” yang sebelumnya disebut Ding Zhi — Pemilik Viburnum.

“Kau dan anak itu benar-benar mendapatkan keberuntungan.” Kata Nyonya itu dengan dingin. “Mengapa tidak mencari kediaman baru dalam beberapa hari ke depan dan kami akan merepotkan kalian berdua untuk pindah lagi.”

Bayangan Lang Junxia jatuh ke layar, menampilkan siluet tubuh pria yang telanjang hingga ke pinggang.

“Daripada bersembunyi dan menghindar lebih baik duduk dan menunggu.”

“Nasib anak itu diberkati oleh bintang-bintang, karena yang datang kali ini adalah Wu Du.” Nyonya berkata, “Pertama adalah serangkaian kecelakaan yang tak terduga — ‘Zhu’ sudah cukup terampil sebagai salah satu penjaga bayangan, untuk berpikir dia entah bagaimana akan mati di tangan anak kecil. Tentunya kekuatan yang telah memutuskan nasib mereka. Tapi yang berikutnya mungkin bukan Wu Du. “

“Lalu bagaimana jika itu adalah Chang Liujun?” Lang Junxia meletakkan wadah obat dan menjawab dengan acuh tak acuh.

“Jangan meremehkan musuh.” Dengan bersungguh-sungguh, Nyonya itu berkata, “Meskipun Wu Du berpengalaman dalam meracuni, dia orang yang eksentrik di antara jenismu. Dia akan meracuni sampai tidak sadarkan diri kapan pun dia bisa, membiarkan hidup yang dia bisa biarkan hidup. Setiap kali dia membunuh, dia meninggalkan lebih banyak yang selamat daripada musuh, dan dia sering membiarkan seseorang hidup karena belas kasih. Mereka yang terlalu baik tidak bisa menjadi pembunuh untuk tugas itu. “

Lang Junxia selesai mengganti perban, mengenakan gaun luar, dan setelah menutupnya, dia keluar dari balik layar.

Mengenakan brokat merah tua dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan sulaman burung bangau mahkota merah yang hidup dengan sayap terbentang, alis Nyonya itu seperti lengkungan pegunungan yang jauh, matanya seperti melihat ke kedalaman mata air pegunungan yang jernih. Meskipun beliau adalah ratu dari banyak bunga di Viburnum, dia belum berusia tiga puluh tahun, dan wajahnya memiliki jejak seseorang dari Xiyu5.

“Aku percaya bahwa Chang Liujun tidak akan datang.” Kata Lang Junxia.

Nyonya itu berkata tanpa ekspresi, “Keyakinanmu selalu agak tak tergoyahkan.”

“Kaisar Chen Selatan tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ekspedisi utara selesai. Pasukan Chen Selatan tidak dapat melintasi Yubiguan dalam tiga tahun ke depan. Satu-satunya hal yang Zhao Kui dan Mu Kuangda tinggalkan untuk membuat mereka sibuk adalah pertikaian. “

“Dan begitu mereka mulai berkelahi, baik Wu Du maupun Chang Liujun tidak akan berani meninggalkan tuannya masing-masing.” Lang Junxia menyelesaikan, “Shangjing adalah wilayah Khitan. Mengirim pembunuh terkenal di belahan dunia lain hanya untuk mencari seorang anak yang identitasnya bahkan belum diketahui kebenarannya — Aku berharap mereka tidak akan melakukan sesuatu yang tidak berguna.”

Lang Junxia mengangguk pada nyonya, lalu berbalik, dia meninggalkan Viburnum.

Nyonya menyimpan nasihatnya sendiri.


Malam di Chen Selatan

“Biarkan dia hidup.” Kata Zhao Kui.

“APA!” Wu Du pikir dia salah dengar.

Wu Du telah kembali dari Shangjing dengan cukup cepat, tidak dapat menemukan keberadaan Li Jianhong atau membunuh Yang Tak Bernama — satu-satunya hal yang dia bawa kembali adalah sepotong informasi yang berguna.

Zhao Kui sedang duduk di ruang tamu dengan punggungnya menghadap ke cahaya yang redup, memberikan bayangan. Cahaya yang sama menyinari wajah Wu Du. Ekspresi pembunuh bayaran itu tampak cukup rumit.

“Siapa lagi yang tahu?” Tanya Zhao Kui.

Wu Du menggelengkan kepalanya, dan menjawab, “Zhu sudah mati, dan pembunuh lainnya dari penjaga bayangan bahkan tidak berhasil menyusup ke Shangjing. Mereka semua berada di luar kota bertindak sebagai pendukung. Informasi ini adalah sesuatu yang aku simpulkan sendiri. Tetapi aku tidak mengerti…”

“Yang Mulia sudah kehabisan waktu.” Zhao Kuai berkata perlahan, “Pangeran keempat belum memiliki ahli waris, dan Li Jianhong hilang. Aku khawatir pengadilan kekaisaran di masa depan akan menjadi milik Mu Kuangda. Jika kita tidak membiarkan satu opsi tetap terbuka, dia mungkin menjadi sangat kuat sehingga tidak dapat dikendalikan. Anggap saja ini tidak pernah terjadi. “

Wu Du mengerti dan mengangguk.

“Jenderal, aku melepaskan pencarian jejak pangeran ketiga dan mengubah arah ke Shangjing. Mungkin Kanselir Mu…. sudah bisa menebak mengapa.”

Zhao Kui berkata dengan mengejek. “Bahkan jika Mu Kuangda tahu, dia pasti tidak akan berani mengirim Chang Liujin ke Shangjing tanpa berkonsultasi dengan siapa pun. Di luar perlindungan Chang Liujin, dia bahkan tidak bisa tidur nyenyak. Selain itu, setelah perjalananmu sebelumnya, keamanan akan diperketat. Kesempatan lain seperti ini tidak akan datang lagi. “


Kota Shangjing berada di bawah darurat militer selama sepuluh hari, dan sering ada penjaga yang berpatroli di Aula Kemasyhuran, mengawasi anak-anak dengan cermat. Bahkan lebih dari mereka, para guru hampir tidak bisa bernapas. Setelah kejadian ini, Cai Yan dan Duan Ling tanpa disadari, menjadi semakin dekat. Cai Yan kadang-kadang akan membiarkan Duan Ling meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas rumahnya, dan menjelaskan apa pun yang tidak bisa dia pahami untuknya, mendesaknya untuk belajar dengan serius.

Hari di mana para pengawal menarik diri kebetulan adalah hari terakhir bulan pertama, dan ada lebih banyak kerabat yang menunggu di luar gerbang dari biasanya, masing-masing telah mengetahui tentang upaya pembunuhan sebelumnya, dan semua terlihat khawatir, mendiskusikan masalah ini dengan bersemangat di antara mereka. Pembukaan jalan dipenuhi dengan gerbong, dengan banyak gerbong keluarga kaya dijaga oleh penjaga sewaan.

“Keluarga Duan — tuan muda Duan.” Penjaga gerbang itu menyanyikanya seperti lagu, “Tidak di sini?”

Lang Junxia yang pertama datang hari ini, menunggu di gerbang bahkan sejak siang.

“Di sini! Di sini!” Duan Ling buru-buru keluar dan menyerahkan token namanya, dia melemparkan dirinya ke lengan Lang Junxia di mana dia langsung berada di dalam pelukannya.

“Mari kita pulang.” Lan Junxia meraih tangan Duan Ling, tetapi Duan Ling tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat ke belakang, melalui kisi-kisi pintu masuk utama Aula Kemasyhuran tempat Batu berdiri di halaman depan, menatap Duan Ling dari jauh.

Lang Junxia menyadari apa yang dipikirkan Duan Ling kemudian berhenti berjalan, “Kau telah menjadi teman Borjigin?”

Duan Ling mengangguk.

Lang Junxia bertanya, “Apakah kau mau mengajaknya ke tempat kita untuk makan malam?”

“Bolehkah?”

“Dia temanmu, tentu saja boleh.”

“Batu!” Duan Ling memanggil Batu. “Ayo pergi bersama. Datanglah ke rumahku sore ini.”

Batu melambai padanya. Duan Ling menunggu lebih lama, hingga hampir semua orang yang menunggu antrian pergi dan Batu tetap tidak datang, mungkin hari ini juga sama, tidak ada yang menjemputnya. Duan Ling memanggilnya lagi. “Ayo pergi!”

Batu tidak menjawab. Dia berbalik dan langsung menuju halaman dalam. Bersama lonceng batangan logam miliknya. Cahaya senja menyinari ujung gang, Duan Ling merasa sedikit rasa sendu memukulnya.

Tetapi begitu dia kembali ke rumah, sedikit sendu itu menghilang tanpa jejak — itu karena Lang Junxia telah membuat banyak hidangan dan mengaturnya di atas meja. Dengan bersorak-sorai, Duan Ling duduk, akan mulai makan bahkan sebelum dia mencuci tangannya, tetapi Lang Junxia menahannya di tempatnya, menyeka cakar kecilnya yang kotor.

“Aku bukan juru masak yang piawai.” Kata Lang Junxia, “Aku tidak memiliki keterampilan semacam Zheng Yan. Kelak ketika kau mencicipi makanan yang lebih baik dari ini kau tidak akan terlalu mengingat lagi tumpukan makanan ini, tapi untuk saat ini kau harus menerimanya.”

Siapa Zheng Yan?‘ Pikir Duan Ling, tetapi itu tidaklah penting, dia hampir tidak memiliki hal lain untuk dibicarakan, mulutnya penuh sesak dengan makanan. Tidak berapa lama, seseorang mengetuk pintu. Kerutan muncul di antara alis Lang Junxia.

“Duan Ling!” di luar terdengar suara Batu memanggilnya.

Duang Ling buru-buru menelan makanan di mulutnya dan berlari ke depan untuk membuka pintu. Jubah kulit domba yang dikenakan Batu telah dibiarkan tidak dicuci selama berhari-hari dan terlihat cukup kotor, dan kini kotoran dan dedaunan bergantungan di sana. Dia berdiri di luar gerbang dan berkata, “Kakak Anjing Cai benar, kau benar-benar tinggal di sini. Ini untukmu.” Dia memberikan Duan Ling sepaket cemilan.

Duan Ling bertanya, “Bagaimana kau bisa keluar?”

“Aku punya caraku sendiri tentunya.”

“Cepat, masuk dan makan.”

Duan Ling ingin mengajak Batu ke dalam, namun Batu seakan tidak menginginkannya. Keduanya saling tarik dorong di depan pintu untuk beberapa waktu hingga Lang Junxia muncul di belakang Duan Ling, “Masuklah dan nikmati secangkir teh.” Hanya setelah itulah Batu berhenti menolak dan memasuki kediaman Duan.

Lang Junxia meletakkan satu set peralatan makan untuknya, tapi Batu berkata, “Aku baru saja makan. Aku datang untuk berbicara padanya.”

“Kalian berdua lakukanlah yang kalian suka.” Lang Junxia meninggalkan ruangan itu. Duan Ling merasa agak kecewa, kemudian dia melihat Lang Junxia mengambil bangku dan duduk di depan pintu.

Duan Ling ingin memanggilnya, namun Batu menyuruhnya, “Lanjutkan makanmu.”

Batu hanya meminum teh yang dipegangnya, tapi melihat meja yang penuh dengan makanan, dia merasa agak cemburu. Duan Ling terus membujuknya untuk makan, tetapi Batu tetap mengatakan kalau dirinya sudah makan di Aula Kemasyhuran jadi Duan Ling tidak bisa apa-apa dan membiarkannya. Kedua anak yang setengah dewasa itu untuk sementara saling berbincang, bercakap-cakap, dan tertawa. Duan Ling membuat kemajuan yang cepat dalam belajarnya, dia telah memasuki Ruang Tinta, dan ia akan mulai memasuki kelas menengah di awal bulan.

Begitu Lang Junxia juga makan, Duan Ling mengambil beberapa barang dan satu set pakaian untuk dikenakan Batu dan mengantarkannya ke pemandian untuk mandi. Awalnya Batu tidak benar-benar mau, tetapi sayangnya dia benar-benar bau – ketika dia berada di kediaman Cai untuk menanyakan arah jalan dia sudah disambut dengan pandangan ‘cukup bau’. Dan meskipun setengah hati menolak undangan itu, dirinya tetap diseret oleh Duan Ling.

Mereka berendam di pemandian umum, jubah kulit domba milik Batu diberikan kepada pekerja pemandian untuk dicuci, kemudian dikeringkan dengan api dan dia bermain dengan Duan Ling untuk sementara waktu sebelum Lang Junxia memanggil seseorang untuk mencukur wajah Batu dan merapihkan kukunya, sedangkan Lang Junxia memilih dia sendiri yang merawat Duan Ling.

“Matamu seperti danau.” Duan Ling melihat ke cermin, dan berbalik melihat Batu di cermin, “Mereka sangat cantik, aku harap memiliki mata sepertimu.”

“Kau iri akan mata biruku, tapi sebenarnya aku iri akan mata hitammu.” Jawab Batu.

Lang Junxia menjawab dengan pasif, “Mata biru memiliki keunggulannya sendiri, dan mata hitam memiliki keunggulannya sendiri. Setiap dari kita bergantung dengan takdir – tidak ada gunanya untuk saling iri akan apa yang tidak bisa kau miliki.”

Duan Ling mengangguk. Untuk saat ini dia masih tidak mengerti apa maksud Lang Junxia. Waktu yang amat sangat lama akan terlewati sebelum kalimat yang Lang Junxia katakan kini, untuk beberapa alasan, sering muncul dalam ingatannya dan Batu.

Setelah larut malam, dengan mengenakan jubah kulit domba yang lembab, Batu berkata kepada Duan Ling, “Aku pergi.”

“Tidurlah di tempatku,” Kata Duan Ling.

Batu melambaikan tangannya, dan sebelum Duan Ling sempat mengatakan apapun, dia sudah berlari secepat kilat. Duan Ling melihat kepergian Batu, dan untuk waktu yang lama dia tidak mengatakan apapun.

Batu berlari sepanjang gang dan sampai di luar Aula Kemasyhuran, dia merangkak di sepanjang pagar kebun dan memindahkan kembali pot bunga lili untuk menutupi lubang di pagar, dan kembali ke perpustakaan untuk tidur.


“Kau boleh berteman dengan anak laki-laki dari Keluarga Borjigin itu.” Lang Junxia memperingatkannya, “Tapi kau tidak boleh meniru semua perilaku dan prinsip-prinsipnya.”

Duan Ling mengangguk.

Anak-anak secara alami suka bersenang-senang, itu bukan seperti tidak ada yang mau berteman dengan Duan Ling — itu karena Duan Ling selalu duduk sendiri dengan hati-hati mematuhi ajaran Lang Junxia. Selain itu, kewaspadaan masa kecilnya telah membara dalam dirinya membuatnya takut kehilangan segalanya, takut bahwa tindakannya akan merugikan ayahnya yang masih jauh. Jadi dia menyendiri di halaman samping dan tidak punya teman.

Sebagian besar dunia Duan Ling telah diambil oleh Lang Junxia dan ayah yang tidak pernah dirinya temui.

Pada awalnya, semua orang hanya berpikir Duan Ling pemalu dan tidak berani bergaul dengan mereka, tetapi seiring berjalannya waktu mereka menyadari bahwa dia tampaknya benar-benar enggan bersosialisasi, dan menerima kenyataan itu. Norma Shangjing cenderung merujuk pada kebebasan dan membiarkan orang melakukan apa yang mereka suka; Kebiasaan Khitan tidak akan pernah memaksa orang lain untuk melakukan apa yang tidak ingin mereka lakukan, dan orang-orang saling menghormati. Saat mereka bertemu dengannya sesekali, mereka akan mengangguk, dan Duan Ling akan dengan sopan mengikuti apa yang diajarkan kepala sekolah kepadanya. Dia akan berhenti berjalan, menepuk kerutan di bajunya, dan membalas gerakan mereka.

Hal ini sesuai dengan pepatah “kenalan yang mengangguk”, dan teman-teman sekolahnya sering terkikik tentang hal ini, menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat aneh, tetapi kemudian mereka menyadari Duan Ling, dengan fitur-fiturnya yang sangat cantik, terlihat cukup baik saat dia memberikan salamnya, dan karenanya untuk sementara ‘penghormatan pria’ menjadi sangat populer di dalam Aula Kemasyhuran. Hanya Cai Yan yang mulai menganggapnya sebagai seseorang yang sangat istimewa; dan meskipun hal ini bukanlah sesuatu yang mereka katakan dengan lantang, itu adalah sesuatu yang mereka berdua pahami. Cai Wen juga melihat Duan Ling beberapa kali setelah itu dan dia juga menyukai ketenangan dan kesungguhan Duan Ling.

Ketika Duan Ling naik ke Ruang Tinta, dia terkejut mendapati dirinya semeja dengan Helian Bo yang tinggi dan gagap. Teman kelas barunya ini berbicara sangat sedikit dan sebagian besar waktu dia memilih diam, tetapi hal itu sangat cocok dengan temperamen Duan Ling yang pendiam.

Waktu berlalu dengan sangat cepat; sebelum mereka menyadarinya hari-hari mulai bertambah panjang, salju mencair sepenuhnya, dan musim dingin digantikan oleh musim semi. Daripada tetap bersekolah, Duan Ling lebih memilih pulang. Sejak hari itu, Lang Junxia tidak pernah terlambat lagi, dan terkadang ketika Duan Ling menghadiri kelas di Aula Kemasyhuran, dia bahkan merasa seperti ada orang di belakangnya, mengawasinya.

Perlahan hari semakin panas. Selama kelas sore, pikiran Duan Ling mengembara dan menutupi mejanya, dia tertidur. Tiba-tiba, sebutir plum menghantam kepalanya.

“Aiyoh!” Duan Ling mengangkat kepalanya dan melihat siluet berkedip di atas dinding dan kemudian tiba-tiba menghilang, jadi dia tidak punya pilihan selain kembali belajar menulis. Kelas pemula hanya membutuhkan waktu tiga bulan bagi Duan Ling, lebih cepat dari anak-anak lain, dan tidak lama kemudian dia dipindahkan ke kelas lain. Ada lebih banyak buku untuk dibaca, lebih banyak variasi untuk subjek – astrologi, ramalan, komposisi esai formal6 — dan semua itu adalah hal yang paling membebani otak.

Ada aroma yang menggairahkan di udara musim semi pada malam yang hangat, dan kegelisahan yang aneh di hati Duan Ling. Bayangan sekilas Lang Junxia dari belakang, yang dia tangkap di Viburnum pada malam pertama dirinya tiba di Shangjing sepertinya selalu memenuhi pikirannya.

Di luar di halaman samping, suara seruling yang merdu tiba-tiba mulai dimainkan; pada malam musim semi seperti malam ini di mana bunga-bunga bermekaran penuh, sepertinya nada-nada itu berbicara kepadanya. Duan Ling merasa samar-samar bahwa Lang Junxia-lah yang memainkan seruling itu, tetapi dia tidak bisa melihatnya. Dia berlari keluar untuk berdiri tanpa alas kaki di bawah bulan, dan hanya ketika musik memudar ia kembali ke kamarnya dan berbaring. Tetapi dia hanya bolak-balik, tidak bisa tidur.

Dalam sekejap mata, setengah tahun telah berlalu. Lang Junxia melakukan persis seperti yang dia janjikan, dan tidak pernah bepergian jauh sejak itu. Dia menjaga kediaman Duan dengan rapi, dan setiap kali Duan Ling memiliki hari libur dirinya akan membawanya keluar untuk tamasya musim semi; berpacu di dataran tak terbatas, mengamati kawanan ternak; duduk di bawah Altyn-Tagh untuk minum sambil mencairkan salju dingin dan pergi memancing di sungai. Sesekali dia juga akan membawa Batu bersama mereka.

Duan Ling sering berpikir bahwa dia sangat bahagia, tetapi Batu sepertinya tidak ingin berbagi kebahagiaannya. Seiring waktu, dia mulai mencari alasan untuk tidak bersama Duan Ling. Lang Junxia mengatakan bahwa setiap orang memiliki cara berpikirnya sendiri, dan pada saat seperti itu tidak perlu memaksakan sesuatu.


“Apakah ayahku sudah datang?” Setiap kali Duan Ling pulang, dia akan menanyakan pertanyaan ini pada Lang Junxia.

“Dia akan segera datang.” Lang Junxia menjelaskan kepada Duan Ling, “Dia tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Duan Ling sepertinya hanya menanyakan pertanyaan ini demi mendapatkan jawaban yang biasa. Lang Junxia berjanji padanya lagi, “Kau harus belajar dengan serius. Itulah satu-satunya cara untuk tidak mengecewakan ayahmu.”

Kediaman Duan telah dikelola dengan baik. Duan Ling telah menanam banyak tanaman obat di taman. Beberapa dari mereka hidup, beberapa tidak berhasil hidup. Lang Junxia bertanya-tanya dengan lantang, “Mengapa kau menanam begitu banyak obat-obatan?”

“Ini menyenangkan.” Duan Ling menjawab sembari mengusap keringat di pelipisnya.

“Apa kau ingin belajar mengenai obat-obatan?”

Duan Ling memikirkannya. Mungkin karena masa kecilnya penuh dengan rasa sakit dan penyakit, dan itu membuatnya selalu merasa gelisah. Kehidupan manusia dipenuhi dengan masa-masa sulit, dan tidak ada yang kebal dari kematian yang mungkin datang tiba-tiba; mungkin itu sebabnya minatnya condong ke penyembuhan penyakit dan menyelamatkan orang. Di luar studinya dia sering meminjam buku-buku kedokteran mengenai identifikasi tumbuhan obat.

“Jangan belajar kedokteran.” Lang Junxia berkata, “Ayahmu menaruh harapan besar padamu. Ada banyak hal yang harus kau capai di masa depan.”

Duan Ling berkata dengan keras kepala, “Aku baru saja memikirkannya.”

“Karena kau suka menanam sesuatu, kau sebaiknya menanam ini.”

Lang Junxia telah membelikan Duan Ling pohon persik muda dari pasar. Itu dibawa oleh karavan dari selatan; Jiangnan ditutupi oleh bunga persik, tetapi sulit untuk mempertahankannya hidup setelah dipindahkan ke utara. Setelah menanam pohon persik dengan Duan Ling, Lang Junxia berkata kepadanya, “Ayahmu seharusnya sudah berada di sini pada saat persik bermekaran.”

“Benarkah?” Kata Duan Ling.

Jadi dia memperlakukan pohon persik itu dengan lebih hati-hati, tetapi sayangnya pohon itu tidak sesuai dengan iklim di sana dan selalu terlihat agak sakit-sakitan. Saat musim semi tiba, kuncup bunga mulai menyebar, tetapi belum sampai mekar, kuncup bunga sudah layu.


Musim gugur lainnya telah tiba; ladang dan padang rumput berkarat mengelilingi Shangjing. Angin kencang menerobos dari ujung lain pegunungan, dan Lang Junxia memimpin kudanya, berhenti di tepi sungai yang berkelok-kelok seperti pita7, menatap ke kejauhan.

Saat ini sebagian besar Duan Ling telah melupakan semua tentang Runan yang terpencil. Dari Sekolah Dasar hingga Ruang Tinta dan kemajuan lebih lanjut ke Paviliun Literatur, semakin sedikit orang Mongol, Khitan, dan Jurchen, dan semakin banyak Han. Dari teman-teman sekolahnya, dia telah menemukan banyak hal yang tidak pernah dibicarakan Lang Junxia —

Misalnya, bagaimana sebagian besar Han di Shangjing berasal dari selatan.

Misalnya, bagaimana kepala sekolah Aula Kemasyhuran dulunya adalah seorang Konfusianisme besar dari Chen selatan.

Misalnya, bagaimana Viburnum adalah tempat pejabat administrasi utara dan selatan pergi untuk minum dan bergembira, dan semua gadis di dalamnya dibawa kembali dari selatan selama ekspedisi hukuman selatan Kaisar Liao.

Misalnya, bagaimana, bagi kebanyakan orang Han, ada tanah air dalam mimpi mereka. Dalam mimpi itu, biji kapas yang lembut dari pohon willow melayang di udara, dan buah persik sedang mekar penuh.

Misalnya, teman-teman muridnya di Aula Kemasyhuran seperti Borjigin Batu, Helian Bo, Urlan… bagaimana ayah mereka semua berbagi status khusus yang disebut “sandera”.

Misalnya, bagaimana keluarga Cai, Lin, dan Zhao… bagaimana kerabat mereka di rumah juga memiliki pos, mereka disebut “birokrat sisi selatan”8.

Dan setiap orang merindukan tanah air mereka masing-masing. Meskipun mereka tidak membicarakannya, hampir semua dari mereka percaya ini di dalam hati mereka tanpa adanya keraguan — bahwa suatu hari, mereka akan pulang.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. “Kekuatan lembut” sering digunakan dalam kehidupan nyata untuk menggambarkan kekuatan di balik gerakan di Taichi, tetapi dalam istilah wuxia, istilah ini secara harfiah menggunakan “kekuatan”, di mana seorang seniman bela diri meletakkan tangan mereka pada seseorang dan mendorong qi melalui mereka. Tidak meninggalkan memar. Melukai organ dalam.
  2. Seni cahaya. Dalam novel ini benar-benar wire-fu, istilah ini adalah gabungan dari wire dan kungfu. Kami terbang.
    -wire fu, merujuk pada subgenre film kungfu di mana para pemeran pengganti ataupun aktor menggunakan wire untuk membantu pergerakan dalam adegan perkelahian dan memberi ilusi manusia super.
  3. Gaya sentripetal adalah gaya yang membuat benda bergerak melingkar.
  4. Anggrek, peony, kembang sepatu, angelica, melati, gardenia.
  5. Xiyu, adalah Wilayah Barat atau Xiyu (Hsi-yu; Tionghoa: 西域) adalah nama sejarah yang digunakan dalam cerita sejarah Tionghoa antara abad ke-3 SM hingga abad ke-8 M yang merujuk ke wilayah barat Gerbang Yumen, paling sering merujuk ke Asia Tengah atau kadang-kadang lebih khusus lagi bagian paling timurnya (misalnya Altishahr atau Cekungan Tarim di selatan Xinjiang), meskipun kadang-kadang digunakan secara lebih umum untuk merujuk ke daerah lain di sebelah barat Cina juga, seperti anak benua India (seperti di novel Journey to the West).
  6. Ingat susuan dalam membuat essai? Essai China klasik disebut 起承轉合 yang tersusun dari pendahuluan, argumen pendukung, transisi, kesimpulan. (Ini pada dasarnya adalah akronim).
  7. Sungai Jindai yang sebenarnya ada di Guangzhou, yang JAUH ke selatan dari tempat mereka berada, jadi saya memperlakukan 錦帶 seperti kata sifat, bukan kata benda. (Tidak pernah digunakan lagi.)
  8. Tapi untuk versi catatan tebing, admin selatan kebanyakan berurusan dengan Han yang tinggal di wilayah Khitan, itulah mengapa Batu menyebut mereka “anjing”. Sementara admin utara adalah jantung militer, dan menjaga suku utara tetap sejalan dengan menahan anggota kerajaan suku sebagai sandera.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments