Penerjemah: Chu

Editor: Vaniasajati


He Gu lari dari apartemen Song Juhan, dia tidak bisa menahan diri dan tidak mampu untuk bertahan lagi.

Untungnya, saat itu malam, dan tidak ada orang lain di sekitar. Kalau tidak, dia akan tampak sangat tidak enak untuk dilihat dengan bagaimana cara dia menarik celananya.

Dia dengan panik berlari kembali ke mobil, dengan tergesa-gesa menyalakannya, dan pulang ke rumah.

Di tengah jalan, dia tiba-tiba teringat bahwa mobil itu diberikan kepadanya oleh Song Juhan. Perutnya tiba-tiba bergejolak, dan dia menyentak setir, mengerem mobil dengan tajam ke sisi jalan.

Dia dengan lelah bersandar di kursi dan perlahan menutup matanya.

Dalam enam tahun terakhir, dapat dikatakan bahwa Song Juhan telah memperlakukannya dengan baik. Rumah, mobil, hadiah mahal sesekali, dan amplop merah pada Tahun Baru Imlek dan acara-acara lainnya — dia tidak pernah kekurangan secara finansial. Ketika Song Juhan dalam suasana hati yang baik, dia juga akan memeluknya dengan lembut dan manis. Secara umum, selama He Gu dapat menoleransi amarahnya (Juhan), mereka akan harmonis dan Song Juhan tidak akan memperlakukannya dengan buruk.

Adapun Song Juhan yang tidur dengan orang lain dan melakukan skandal seks, itu bukan sesuatu yang bisa dia kendalikan. Seperti yang dia katakan pada Feng Zheng, bukan salah Song Juhan karena tidak menyukainya. Tidak ada komitmen atau kesepakatan di antara mereka berdua. Dan He Gu cukup sadar untuk mengetahui bahwa rasa sakit yang dia rasakan karena bersama Song Juhan adalah kesalahannya sendiri dan sesuatu yang dia bawa pada dirinya sendiri.

Dia berpikir bahwa setelah bertahun-tahun, dia sudah mampu bertahan dengan perbuatan buruk Song Juhan, tetapi hari ini, dia telah meremehkan seberapa bajingannya Song Juhan itu.

Dia meraba-raba tuk mencari setengah bungkus rokok di laci, dan setelah meraba-raba sedikit lagi, akhirnya dia menemukan korek api juga.

Song Juhan tidak suka merokok, jadi jika He Gu ingin merokok, dia harus bersembunyi.

Dia membuka jendela dan membiarkan udara dingin dan lembab masuk, dan asapnya naik sedikit, mengaburkan pandangannya. Saat rasa nikotin berputar di paru-parunya, dia merasakan kebingungan di otaknya telah dibersihkan oleh stimulasi tembakau.

Itu konyol. Perasaannya terhadap Song Juhan adalah lelucon. Lelucon ini seperti guillotine1Bab 8 – Itu Karena Aku Tidak Melepasnya yang tergantung di atas kepalanya. Selama bertahun-tahun, dia telah menunggu guillotine jatuh, menunggu Song Juhan mengucapkan selamat tinggal padanya. Dia telah mempersiapkan hari itu, dan sekarang, dia merasa hari itu tidak lama lagi.

Ponsel tiba-tiba berdering. Hati He Gu bergetar sehingga dia segera mengambilnya dan melihat nomor yang tidak dikenalnya, dia menghela nafas lega. Dia menjawab telepon, “Halo?”

“He Gu, ini aku.” Suara Feng Zheng datang dari ujung telepon.

“Yah, bicaralah.” Suara He Gu dingin. Dia biasanya seperti ini, dan setelah konflik verbal hari itu, kecil kemungkinannya dia akan memberi Feng Zheng wajah yang baik.

“Aku ingin meminta maaf untuk hari itu.”

“Tidak apa.”

“Payungmu bersamaku. Aku akan mengembalikannya kepadamu ketika kamu punya waktu.”

“Jangan repot-repot. Itu hanya payung.”

Feng Zheng tersenyum pahit. “Aku hanya ingin punya alasan untuk bertemu denganmu lagi. Beri aku sedikit wajah.”

He Gu menghela nafas. “Feng Zheng, apa yang ingin kamu lakukan?”

Mau tak mau He Gu bertanya-tanya tentang antusiasme Feng Zheng. Sudah enam tahun. Sama sekali tidak perlu bagi Feng Zheng untuk memperhatikannya. Dia tidak akan percaya bahwa Feng Zheng masih mencintainya.

Ujung telepon yang lain terdiam sejenak. “Aku hanya sedikit merindukanmu, memikirkan saat-saat indah yang dulu kita miliki.”

Hati He Gu tiba-tiba berkedut, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengingat waktunya bersama Feng Zheng di perguruan tinggi. Mereka benar-benar bersenang-senang. Meskipun sebagian besar waktu mereka dihabiskan hanya dengan saling menggoda satu sama lain dan akhirnya berpisah dengan cara yang buruk, dia juga sangat sedih karena itu.

Hanya dua orang dalam hidupnya (He Gu) yang pernah menggerakkan hatinya, itu adalah Feng Zheng dan Song Juhan. He Gu adalah orang yang merasakan sesuatu secara mendalam; jika tidak, dia tidak akan menyukai seseorang begitu lama. Dalam hatinya, Feng Zheng selalu ditempatkan di sudut yang terkena sinar matahari, itu adalah tahun-tahun indah dan subur yang tidak akan pernah bisa mereka kembalikan. Dan karena itu benar-benar sangat indah, dia tidak bisa terlalu dingin kepada pria itu (Feng Zheng).

Feng Zheng menambahkan, “Aku berjanji untuk tidak menyebut tentang Song Juhan lagi. Bisakah kita berteman?”

“Kamu …” He Gu berkata tanpa daya, “Jika kamu melakukan apa yang kamu katakan, kita akan tetap berteman.”

Feng Zheng tertawa. “Aku akan melakukan apa yang aku katakan. Saat kamu senggang, aku akan mentraktirmu makan.”

“Mari kita tunggu sampai aku selesai dengan proyek yang sedang aku tangani. Ada terlalu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini.”

“Apa yang kamu lakukan sekarang? Sepertinya kamu tidak di rumah?”

He Gu tertegun sejenak. “Um, aku baru saja selesai bekerja lembur, dan sekarang aku akan pulang.”

“Aku sedang di bar teman, tidak jauh dari perusahaanmu. Maukah kamu datang untuk minum?”

“Aku tidak bisa, aku sangat lelah hari ini. Aku juga tidak mengenal temanmu.”

Kamu masih sangat takut pada orang asing.” Feng Zheng tertawa dengan suara rendah. “Kamu masih takut bahkan ketika ada aku di sini?” Ada sedikit kekecewaan yang meragukan dalam suara itu.

“Ini bukan tentang takut. Aku hanya benar-benar lelah.”

“Kalau begitu, pulanglah dan istirahatlah. Aku akan menemuimu lain kali.”

Menutup telepon, He Gu menjadi tenang sebentar sebelum mematikan rokoknya dan mengemudi pulang.

Dia jarang makan di rumah, dan ketika dia sibuk dengan pekerjaan, dia tidak punya waktu untuk melakukan apa pun selain mandi dan tidur. Tempat ini terkadang lebih seperti hotel baginya.

Apartemen ini juga merupakan hadiah dari Song Juhan. Sepertinya Song Juhan benar-benar mendukungnya secara finansial, meskipun dia tidak membutuhkan siapa pun untuk mendukungnya. Namun, jika dia membeli apartemen seperti itu di Lingkaran Ketiga, maka dia mungkin harus melunasi hipotek2 Hipotek adalah suatu hak kebendaan atas barang tidak bergerak yang dijadikan jaminan dalam utang. selama sepuluh atau dua puluh tahun.

Adapun Song Juhan memberinya (mobil) RV, dia tidak merasa terhina atau bersyukur. Hal-hal ini tidak berarti apa-apa baginya. Dia memiliki persyaratan material yang sangat rendah, dan dia tidak keberatan menyewa apartemen atau melakukan perjalanan dengan kereta bawah tanah. Song Juhan memberinya sesuatu secara sukarela, seperti bagaimana He Gu bergegas menyukai seseorang yang tidak pernah bisa menyukainya kembali juga atas kehendaknya sendiri (sukarela). Itu tidak ada hubungannya dengan orang lain.

Namun, setiap kali dia dan Song Juhan bertengkar, dia akan merasa bahwa mobil dan apartemen, terutama apartemen yang selalu kosong dan tidak menarik ini, sama-sama merusak pemandangan. Mereka hanya mengingatkannya sekali lagi betapa kesepiannya dia, bahkan membayangkan bagaimana jika Song juhan bosan dengannya suatu hari nanti, dia mungkin harus sendirian selamanya.

Setelah hari itu, mereka berdua tidak saling menghubungi selama setengah bulan.

Setengah bulan sebenarnya tidak terlalu lama. Ketika Song Juhan sedang sibuk atau ketika dia mengasingkan diri untuk menulis lagu, itu normal untuk tidak melihatnya selama satu atau dua bulan. Tapi terakhir kali, mereka berpisah dengan cara yang buruk, dan itu adalah konflik paling intens yang mereka alami selama enam tahun terakhir, membuat setiap hari dalam kehidupan He Gu menjadi siksaan.

Ketika kemarahannya mereda, He Gu mencoba menghubungi Song Juhan beberapa kali, tetapi dia tidak dapat menemukan keberanian. Dia tidak malu; dia hanya takut mengetahui apakah mereka telah mencapai ujung jalan (berpisah). Dia telah berkali-kali menguji batas kesabaran dan garis bawah Song Juhan untuknya, dan dengan setiap air mata di hatinya, dia akan merasakan semacam penebusan masokis. Semakin dia kecewa sekarang, semakin baik perasaannya ketika hari perpisahan mereka tiba. Dan setelah dia menyia-nyiakan semua perasaannya untuk Song Juhan, dia seharusnya bisa pergi dengan mudah.

Tapi sekarang belum waktunya. Seolah-olah dia mengejar sekering bom. Apakah bom itu meledak lebih dulu, atau apakah dia lelah dan berhenti lebih dulu, itu belum diketahui. Tapi di mana pun dia berhenti, bom itu pasti akan meledak, dan dia pasti akan terluka. Dia tahu bahwa jika dia berhenti lebih cepat, kerusakannya akan berkurang, tetapi dia tidak bisa menahan kakinya.

Suatu hari, He Gu tidak tahan lagi dan diam-diam menelepon Xiao Song. Dia sengaja memilih untuk menelepon jam sebelas malam, berpikir bahwa Xiao Song seharusnya sudah pulang. Dia tidak menyangka bahwa ketika panggilan tersambung, akan ada suara dari KTV3KTV: Karaoke TV, tempat karaoke yang biasanya muncul di drama korea di ujung sana. Suara Xiao Song tidak kecil sama sekali, dan di KTV, dia bahkan harus berteriak. “Halo, He Gu-ge?”

He Gu memejamkan matanya. “Ini aku.”

“Tunggu, aku aku keluar dulu untuk berbicara denganmu.” Suara Xiao Song tidak jelas, terdengar sedikit mabuk.

Setelah beberapa saat, ada keheningan di ujung telepon yang lain. He Gu berkata, “Xiao Song, kamu belum pulang?”

“Tidak, aku sedang jalan-jalan dengan Han-ge.”

He Gu menyesal melakukan panggilan ini. Baru saja, Song Juhan seharusnya mendengarnya… Dia sama sekali tidak mengenal Xiao Song. Song Juhan jelas bisa tahu tujuan dari panggilan ini.
“He Gu-ge?”

“Ah, oh, kalau begitu kalian bersenang-senanglah. Aku akan menutup telepon dulu.”

“Apa ada masalah? Kamu pasti punya alasan untuk menelepon.” Xiao Song bersendawa. “Tidak apa-apa, aku tidak mabuk. Kamu bisa memberi tahuku.”

He Gu terdiam sejenak. “Bagaimana kabar Juhan baru-baru ini?”

Xiao Song berhenti, dan suaranya menjadi sedikit lebih serius. “Dia baik-baik saja, hanya sibuk. Apakah kalian tidak bertemu akhir-akhir ini?”

“Tidak …” He Gu tidak tahu tujuannya sendiri untuk menelepon, jadi dia hanya menguatkan dirinya untuk mengatakan, “Bagaimana suasana hatinya akhir-akhir ini?”

“Dia cukup baik akhir-akhir ini. Tapi di paruh pertama bulan, ya Tuhan, itu mengerikan. Aku hampir membuat surat pengunduran diri, tetapi untungnya aku selamat.”

“Oh …” He Gu tidak tahu harus berkata apa lagi.

Xiao Song juga merasa sedikit malu. “He Gu-ge, apakah kalian berdua bertengkar?”

“Tidak juga.”

“Aku akan menunggu saat Han-ge dalam suasana hati yang baik, dan aku akan menyebutmu padanya.”

He Gu tersenyum pahit. “Terima kasih.”

He Gu merasa seperti seorang selir yang menunggu Kaisar untuk meliriknya? Jika dia tidak mengandalkan Xiao Song, si kasim pribadi, maka Kaisar akan lama melupakannya. Betapa lucunya.

Tapi dia sangat ingin melihat Song Juhan. Ia tak lagi puas hanya dengan melihat foto dan video.
Terkadang, dia sangat senang bahwa Song Juhan tidak pernah memberinya harapan dalam enam tahun terakhir. Kalau tidak, dia akan disiksa sampai mati oleh keinginan posesif dan imajinasinya sendiri.

Setelah menutup telepon, He Gu duduk kaku dalam kegelapan untuk beberapa saat, lalu mencari album baru yang dirilis Song Juhan tahun lalu. TV 65 inci yang dibelinya telah tiba, dan ukurannya benar-benar sangat mengesankan.

He Gu bersandar ke sofa empuk dan menyaksikan pria tampan dan jahat itu di TV yang bak Raja malam yang gelap. Mendengarkan suara serak dan seksi yang bergumam di telinganya seperti mantra, hatinya tidak bisa tak tergerak.

Ada begitu banyak orang di dunia yang menyukai Song Juhan. Dia harus puas bahwa dia bisa begitu dekat dengannya.

Dia telah menasihati dirinya sendiri untuk menjadi puas, puas, dan puas.

Dering telepon membangunkan He Gu. Dia membuka matanya dan menyadari bahwa dia tanpa sadar telah tertidur di sofa. Album Song Juhan sudah dimainkan.

Dia meraih ponsel. Sudah jam dua pagi, dan Xiao Song menelepon. Jantung He Gu berdebar kencang. Mungkinkah sesuatu terjadi pada Song Juhan?

Dia dengan cepat menjawab telepon. “Halo, Xiao…”

“He Gu-ge, Han-ge sedang mengalami masalah di sini. Bisakah kamu datang?”

Hati He Gu menegang, dan dia melompat dari sofa, “Apa yang terjadi?”

“Aku tidak tahu bagaimana para penggemar tahu dia ada di sini, tetapi sekarang mereka menghalangi pintu depan dan belakang KTV. Han-ge mabuk, dan dia marah.”

He Gu merasa lega. Dia pikir Song Juhan dalam bahaya. Dia berkata, “Aku akan pergi sekarang… tunggu, bukankah perusahaanmu memiliki seseorang yang ahli dalam hal ini?” Dia takut dia tidak akan banyak membantu ketika dia datang ke sana.

Xiao Song berkata dengan malu, “Ini… Jika bos tahu, dia akan menyalahkanku karena tidak melindungi keberadaan Han-ge, jadi….”

He Gu mengerti. “Beri aku alamatnya, aku akan ke sana sebentar lagi.” Dia dengan cepat mengenakan pakaiannya, mengambil kuncinya, dan bergegas keluar apartemen.

Tidak banyak mobil di malam hari, jadi He Gu melewati dua lampu merah berturut-turut dan tiba di KTV dengan kecepatan tercepat.

Seperti yang diharapkan, pintu masuk KTV penuh dengan penggemar fanatik dan orang yang lewat ikut bersenang-senang (berkumpul).

He Gu menerobos kerumunan untuk sampai ke pintu, praktis berdiri di antara sekelompok gadis dan terlihat tidak pada tempatnya (terlihat menonjol).

Penjaga KTV yang menghentikannya di pintu memandangnya dan berkata, “Apakah kamu …”

“Ya, aku He Gu.”

Penjaga itu membiarkannya masuk.

Pelayan membawa He Gu ke ruangan pribadi, tetapi bahkan sebelum dia sampai di sana, dia sudah bisa mendengar Song Juhan mengamuk di dalam.

“Enyah! Aku ingin pulang ke rumah. Siapa yang berani memblokir laozi4老子 – cara arogan untuk menyebut diri sendiri.–“

“Han-ge, ada banyak penggemarmu di luar. Kamu tidak bisa keluar dengan keadaan seperti ini…”

“Penggemar pantatku. Apa itu penggemar? Mereka hanya sekelompok bajingan bodoh. Apakah mereka mengenalku? Apakah aku mengenal mereka? Minggir!”

Ada suara sesuatu yang pecah di dalam.

Ketika He Gu mendorong pintu, dia melihat Song Juhan dihentikan oleh Xiao Song, yang berkeringat deras. Ada dua pelayan laki-laki di dekatnya, tampak panik dan tak berdaya.

Melihat He Gu, Song Juhan membeku, lalu mengerutkan kening. “Kenapa kamu datang?”

Dia menoleh ke Xiao Song, “Apakah kamu menyuruhnya datang? Kamu punya banyak keberanian. Siapa yang mengizinkanmu bertindak sendiri!”

“Han-ge, Han-ge, dengarkan aku. Kamu bisa memarahiku besok ketika kamu bangun, tetapi untuk saat ini, dengarkan aku, oke? Jika kamu difoto dalam keadaan seperti ini, Ketua Song akan membunuhku.” Xiao Song hampir menangis, dan dia terus menatap He Gu dengan ekspresi minta tolong.

Baru saat itulah He Gu menyadari bahwa Xiao Song menyuruhnya datang untuk menenangkan Song Juhan. Dengan begitu banyak pengawal dan pelayan di dalam dan di luar, akan mudah untuk mengeluarkan Song Juhan. Tapi sekarang, Song Juhan mabuk dan marah. Dia cenderung kehilangan kesabaran ketika para penggemarnya mendorongnya. Jika dia mengatakan atau melakukan sesuatu yang keterlaluan, dia akan berada dalam masalah.

He Gu berjalan mendekat. “Juhan, tenanglah sedikit. Ada banyak penggemarmu di luar, bahkan mungkin reporter. Sekarang….”

Song Juhan mencengkeram kerahnya. “Siapa yang menyuruhmu datang? Keluar!”

He Gu tidak berdebat dengannya tetapi dengan lembut menggenggam tangannya. “Juhan, kamu biasanya tidak minum banyak. Jangan biarkan alkohol mengendalikanmu, oke?”

Wajah He Gu memancarkan energi positif. Itu sangat proporsional dan tanpa kesalahan sedikit pun. Ciri-cirinya layak, tetapi tidak luar biasa atau sempurna. Selain tampan, ia juga memberi orang rasa dapat diandalkan dan dapat dipercaya. Ketika dia menghibur orang dengan tatapannya yang tulus dan suaranya yang lembut dan baik, dia bisa memberikan ketenangan pikiran yang luar biasa kepada orang-orang.

Xiao Song mengedipkan mata ke para pelayan, dan mereka semua keluar, hanya menyisakan dua orang di ruangan pribadi.

Song Juhan melambaikan tangannya dan berkata dengan suara kasar, “Aku ingin pulang. Disini pengap. Singkirkan wanita-wanita bodoh itu dari jalanku.”

He Gu menekan bahunya dan membiarkannya duduk di sofa. Tangannya yang kuat memijat bagian belakang lehernya. “Aku akan mengantarmu pulang sebentar lagi, tapi untuk saat ini, tenanglah, oke?”

Song Juhan memejamkan matanya. Pijatan He Gu sangat nyaman. Bulu matanya yang panjang bergetar, dan napasnya menjadi lebih stabil.

Melihat bulu mata Song Juhan yang sedikit gemetar, He Gu memikirkan temperamennya yang bandel dan mudah tersinggung, dan sudut bibirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum pahit. Song Juhan menyukainya ketika dia memijatnya. Untuk memberi Song Juhan satu alasan lagi untuk tetap bersamanya, dia sengaja belajar cara memijat. Sebenarnya, dia telah melakukan banyak upaya hanya untuk lebih dekat dengan Song Juhan, tetapi Song Juhan mungkin tidak akan pernah tahu sama sekali.

Setelah memijat sebentar, Song Juhan benar-benar tenang. He Gu dengan cepat menuangkan segelas air untuknya.

Song Juhan menyesap dan membuka matanya untuk melihat He Gu. “Sejak kapan kamu begitu dekat dengan Xiao Song?”

“Kami tidak terlalu dekat.”

Song Juhan tersenyum mengejek. “Bukankah kamu menelepon Xiao Song hari ini? Kamu pikir aku tidak tahu bahwa kamu meneleponnya malam ini? Aku berada tepat di sebelahnya.”

He Gu tidak tahu bagaimana menjelaskannya, jadi dia setuju saja.

Song Juhan mencibir, dan nadanya agak sombong. “Baru setengah bulan. Aku pikir kamu akan bertahan lebih lama.”

Hati He Gu merasakan kebingungan, dan kepalanya menjadi terlalu berat untuk diangkat.

Song Juhan minum seteguk air lagi, lalu tiba-tiba meletakkan cangkir di atas meja. Dia dengan kasar menjambak rambut He Gu, memaksanya untuk mengangkat kepalanya, lalu mencium bibirnya yang hangat dan manis.

Mata He Gu bersinar karena terkejut.

Song Juhan dengan ceroboh menyapu semua isi mulut He Gu, lalu melepaskannya.

He Gu menjilat bibirnya dan tanpa berkedip menatap Song Juhan dengan sepasang mata hitam cerah.

Tatapan He Gu yang sedikit bingung saat menjilat bibirnya membuat hati Song Juhan bergetar. “Apakah kamu merindukanku?”

He Gu mencubit dagu Song Juhan, dan tatapan kepercayaan diri di matanya tampak seperti sedang menatap miliknya sendiri.

He Gu mengangguk.

“Seberapa besar kamu merindukanku?”

“Setiap hari aku merindukanmu.”

Song Juhan mengulurkan jarinya dan menunjuk ke jantung He Gu. “Apakah kamu merindukanku di sini …” Dia menggerakkan tangannya yang lain untuk mencubit pinggang He Gu. “Atau kamu lebih merindukanku di sini?”

He Gu menangkup wajahnya (Juhan) dan menciumnya dengan lembut. “Aku merindukanmu di keduanya.”

Song Juhan tersenyum dan tiba-tiba merasa jauh lebih baik. Dia tahu He Gu tidak bisa meninggalkannya.

He Gu mengungkapkan senyum ringan. “Mari kita pulang.”

Song Juhan tidak bergerak. Dia dengan lembut membelai wajah He Gu dengan jari-jarinya yang ramping, tatapannya tak terduga. “Apakah Zhuang Jieyu memberi tahumu tentang aku bermain seks dengan orang lain?”

Senyum He Gu membeku.

Song Juhan melengkungkan bibirnya menjadi senyuman. “Itu benar. Terkadang terlalu menjengkelkan untuk melakukannya dengan seseorang yang berteriak lelah di setengah jalan5Di sini maksudnya Juhan belum puas, tapi si uke udah berteriak lelah., jadi aku mencari dua.”

Dia mencondongkan tubuh lebih dekat ke He Gu, dengan lembut membelai dan menelusuri bibir merah He Gu. “Tapi aku tidak pernah mengajakmu bermain6Threesome. Apa kamu tahu kenapa?”

Dengan ekspresi kosong, He Gu berkata dengan suara rendah, “Karena aku tidak mau.”

“Bahkan jika kamu mau, tidak mungkin kamu bisa bermain. Aku tidak akan mengizinkannya.” Song Juhan mencubit wajah He Gu. “Kamu sangat bersih. Kamu telah bersamaku sejak kamu lulus dari perguruan tinggi, dan lingkaran hidupmu juga sangat sederhana. Aku tidak suka kondom, jadi aku suka betapa bersihnya kamu. Paham? Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu, karena itulah satu-satunya kelebihanmu.”

He Gu menatap wajah yang paling dia cintai, hanya untuk melihatnya kabur, sangat kabur sehingga dia hampir tidak bisa melihatnya. Hatinya tercekik dengan begitu banyak rasa sakit sehingga sulit untuk mengatur kata-katanya. Pada akhirnya, dia hanya mengangguk dengan tenang, wajahnya seperti topeng benteng besi7铜墙铁壁 – benteng dari tembaga dan besi. Secara kiasan, ini adalah “pertahanan yang tidak bisa ditembus.”, menghalangi pedang dari luar dan menahan emosi di dalam.

Song Juhan mengerutkan kening pada tanggapan kebingungan He Gu dan menciumnya dengan keras seolah-olah dia sedang merajuk. “Mari kita pulang.”

He Gu berdiri dan mengikuti di belakang Song Juhan. Melihat punggung itu, sepertinya bahkan punggungnya tampak memancarkan cahaya.

Dia menghabiskan sepuluh tahun mengejar sosok itu. Dia mencoba yang terbaik untuk mendekat dan mendekat, tapi tetap saja. Kesenjangan di antara mereka tidak akan pernah hilang. Bahkan jika dia meraih ujung mantel Song Juhan, apa yang akan berubah?

He Gu menarik napas dalam-dalam dan tidak bisa menahan tawa.

Itu benar-benar seperti yang dia duga. Song Juhan tidak putus dengannya selama bertahun-tahun karena dia menyukai seks yang nyaman dan aman — aman dalam segala hal. He Gu tidak melakukan seks dengan orang lain, tidak mengomel, dan tidak membuat masalah bagi Song Juhan. Kata-kata Song Juhan hari ini tidak lebih dari konfirmasi dugaannya. Itu tidak masalah.

Faktanya, dia merasa bahwa dia dan Song Juhan saling bertukar pikiran. Song Juhan mendapat seks aman darinya, dan dia mendapat persahabatan dari Song Juhan. Keduanya mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan keduanya bahagia.

Adapun rasa sakit dan keputusasaan yang dia alami, itu tidak ada hubungannya dengan orang lain.

Sama seperti bagaimana cintanya pada Song Juhan juga merupakan urusannya sendiri.


KONTRIBUTOR

Chu
Vaniasajati
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
ThisPersonLoveToRead
ThisPersonLoveToRead
7 months ago

Aku berharap He Gu bisa cepat bahagia. Lalu Song Juhan, kupikir dia sudah mulai cemburu. Tapi gk sadar dengan perasaannya. Apa Song Juhan harus kehilangan dulu baru akan sadar? Itu bagus kalau He Gu pergi dengan bahagia lalu Song Juhan kehilangan. Jangan sampai He Gu mengalami hal buruk baru Song Juhan merasa kehilangan