Penerjemah: Chu


Setelah makan malam, Zhou Heyi pergi ke hotel untuk mengambil barang bawaannya. Ketika dia masuk ke mobil, dia merendahkan suaranya dan berkata secara misterius kepada He Gu, “Tuan He, tidak ada yang memperhatikan kita.”

He Gu sedikit geli dengan tingkahnya. “Aku bukan mata-mata, jadi santai saja.”

He Gu berpikir sejenak dan berkata, “Apakah kamu punya teman di Jerman?”

“Ya.”

“Untuk saat ini, minta temanmu memesan kamar hotel untuk kita menggunakan ID-nya.”

“Oke.” Zhou Heyi mengerutkan kening. “Tapi apa yang akan kita lakukan ketika kita sampai di Eropa Timur?”

“Selama ada uang, pasti ada jalan.”

“Omong-omong, aku tahu situs web tempat orang menyewakan rumah mereka sendiri kepada turis. Itu ada di setiap kota. Mereka tidak terlalu ketat dengan dokumen, dan beberapa akomodasi sangat bagus, tapi itu agak lebih mahal daripada hotel.”

“Bagus, hubungi satu untukku.”

Zhou Heyi tampak sedikit bersemangat, mungkin karena seolah dia merasa seperti sedang berakting dalam film mata-mata. Saat mengemudi, dia menelpon temannya di Berlin. Temannya dengan antusias memesan kamar hotel untuk mereka. Keduanya kemudian mengambil kartu kamar mereka dan langsung naik ke atas.

Duduk di ruangan yang tenang, He Gu diam-diam menatap t-shirt yang dilemparkan Zhou Heyi ke tempat tidur.

Di atasnya, dua kata1Naskah mentah menyebutkan “tiga”, mengacu pada tiga karakter hanzi yang membentuk nama Song Juhan. “Song Juhan” bisa terlihat samar.

He Gu hanya ingin keluar dan bersenang-senang. Tidak bisakah dia (Juhan) tidak mengganggunya…

Setelah beberapa saat, Zhou Heyi keluar dengan hanya mengenakan celana pendek besar, bagian atas tubuhnya dibiarkan telanjang. Menurut standar Eropa, dia tidak terlalu tinggi, 178 cm. Namun, dia memiliki bentuk tubuh yang cukup bagus. Dia memiliki otot perut yang samar-samar terlihat dan otot-otot dada yang jelas, bersama dengan pinggang yang ramping namun kuat, dan kaki yang lurus dan panjang. Dipadukan dengan wajah yang selalu tersenyum dan energi yang tak terbatas, dia sangat mudah disukai, mengingatkan orang-orang tentang matahari, laut, dan pantai.

He Gu tidak bisa untuk tidak melihat dua kali.

“Tuan He, pergi mandi. Aku sudah menyeka semua air di lantai, tapi sebaiknya kamu tetap berhati-hati saat masuk. Lantainya agak licin.”

“Oke terima kasih.” He Gu mengambil baju ganti, pergi ke kamar mandi, dan mandi dengan nyaman.

Ketika dia keluar, dia melihat Zhou Heyi dengan kakinya tergantung di sandaran tangan sofa saat dia bermain dengan ponselnya. Mendengar pria lain datang, Zhou Heyi berbalik dan melirik He Gu dengan cepat dengan tatapan canggung dan aneh di matanya.

He Gu secara kasar bisa menebak tentang apa itu, tapi dia hanya memiringkan kepalanya dan menatapnya, menunggunya berbicara.

Zhou Heyi berkedip. “Tuan He, aku tahu kenapa kamu bersembunyi dari Song Juhan, aku… aku mencarinya di internet, dan ternyata kalian….”

He Gu mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil berkata dengan tenang, “Aku tidak bersembunyi darinya. Aku hanya tidak ingin diganggu olehnya dalam perjalananku.”

Zhou Heyi berkata dengan malu-malu, “Kamu tidak marah padaku, kan? Aku hanya sedikit penasaran.”

“Tidak apa-apa. Bagaimanapun, tidak ada bedanya jika satu orang lagi tahu.”

“Jangan khawatir, Tuan He. Gaya hidup dan pilihanmu adalah milikmu sendiri. Mereka tidak akan mengubah rasa hormat yang aku miliki untukmu.”

He Gu tersenyum. “Terima kasih.”

“Aku sama sekali tidak menyukainya sekarang.” Zhou Heyi mengangkat dagunya ke arah tong sampah dan melemparkan t-shirt ke dalamnya. “Aku tidak percaya apa yang dikatakan artikel berita. Aku mengenalmu dan aku yakin kamu adalah orang yang baik.”

Dengan sungguh-sungguh He Gu berkata lagi, “Terima kasih.”

Mendengar kata-kata seperti itu, bahkan dari seseorang yang baru mengenalnya beberapa hari, itu sudah cukup menghibur.

“Um… Yah, Song Juhan memiliki luka di wajahnya.” Zhou Heyi membuat tebakan. “Dia pasti dipukuli. Apakah kamu akan senang mendengar ini?”

He Gu berkata tanpa daya, “Aku akan lebih bahagia jika aku tidak mendengar apa-apa tentang dia.”

Zhou Heyi buru-buru mengangguk. Dia melihat betis ramping yang terlihat dari bawah jubah mandi He Gu, dan matanya sedikit berbinar.

Song Juhan menunggu di hotel sampai jam sepuluh malam. Karena selalu memiliki temperamen yang buruk, dia tidak pernah menunggu siapapun begitu lama dalam hidupnya. Setelah duduk sepanjang hari, punggungnya sakit dan kakinya mati rasa. Akhirnya, dia tidak bisa untuk tidak mengeluarkan ponselnya dan memanggil pengemudi yang menemani He Gu. Namun tiba-tiba, telepon dimatikan. Sebuah firasat buruk muncul di hatinya. Dia pergi ke meja depan, ingin memeriksa apakah He Gu telah kembali saat dia pergi ke kamar mandi.

Resepsionis memeriksanya dan kemudian memberitahu dia bahwa He Gu telah check-out dari kamar.

“Check-out?!” Ekspresi Song Juhan langsung berubah ganas.

Terkejut, wanita resepsionis itu melangkah mundur dan menatapnya dengan ketakutan.

Song Juhan menggertakkan giginya. “Kapan? Kapan dia check out!”

“Sekitar jam delapan malam.”

Pukul delapan… Song Juhan mengingat, bukankah saat itu pemuda Tionghoa yang meminta tanda tangannya kembali ke hotel untuk kedua kalinya? Saat itu, dia memang pergi ke meja resepsionis sambil membawa dua koper.

Apakah He Gu dengan orang itu?

Dengan marah, Song Juhan berbalik dan pergi. Dia masuk ke mobilnya dan menelepon ke rumah. “Segera kirimkan aku foto pengemudi yang menemani He Gu.”

Setelah menunggu selama tiga menit, ponselnya menerima gambar ID. Song Juhan melihatnya dan menemukan bahwa itu memang pemuda itu.

Song Juhan sangat marah dan cemas sehingga dia ingin membunuh seseorang.

He Gu sedang melakukan tur keliling Eropa dengan pemuda tampan ini? Mereka berdua bahkan tinggal di kamar yang sama?! Dia merasa sangat marah karena pria ini!

Song Juhan merasa seperti telah menjadi gila. Tangannya yang memegang ponsel bergetar, dan dia berkata dengan suara dingin, “Selidiki dengan seksama segala sesuatu tentang pengemudi ini.”

Setelah menutup telepon, Song Juhan menutup matanya. Sesuatu yang berat sepertinya menekan dadanya, dan tenggorokannya terasa seperti ada tangan yang mencengkeramnya, setiap tarikan nafas membutuhkan banyak usaha.

He Gu menghindarinya. Tidak hanya dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia juga mencoba bersembunyi darinya.

He Gu adalah satu-satunya pria yang telah mencintainya selama bertahun-tahun, memanjakannya dan membujuknya, dan mengatakan apa pun yang ingin dia dengar, kemana He Gu yang dulu pergi? Mengapa dirinya tidak bisa mempertahankan agar He Gu tidak menghilang dari hidupnya, tidak peduli seberapa erat dia memeluknya dan seberapa baik dia memperlakukannya?

He Gu sangat tidak ingin melihatnya sehingga dia benar-benar menghindarinya….

Song Juhan sangat menyesal tidak menyadari keanehannya sebelumnya. Namun, He Gu selalu berhati-hati dengan kata-katanya. Sulit untuk mengetahui apa yang ada di pikirannya ketika dia tidak berbicara. Dia pergi tanpa mengatakan apa-apa benar-benar sesuai dengan kepribadiannya.

Setelah bertahun-tahun bersama, dia sepertinya masih belum cukup mengenal He Gu. Dia ingin mengerti. Dia sangat ingin memahaminya. Dia ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk mengenal pria ini sedikit demi sedikit, dan mungkin kemudian dia akan mengerti bagaimana, dalam tujuh tahun terakhir, dia telah selangkah demi selangkah berubah dari sama sekali tidak peduli pada He Gu menjadi tidak bisa berpisah dari dia. He Gu, pria yang bahkan tidak bisa mengatakan kata-kata manis ini, obat macam apa yang dia berikan padanya?!

Ketika He Gu bangun, dia menemukan tempat tidur di sebelahnya kosong.

Dia memiliki rutinitas yang disiplin dan akan bangun cukup pagi setiap hari. Dia tidak menyangka Zhou Heyi telah bangun lebih dulu dan keluar dari kamar. He Gu menguap, lalu bangkit untuk membasuh wajahnya.

Saat dia selesai mandi, Zhou Heyi kembali. Dia memakai baju olahraga. Kabel headphone-nya tergantung di lehernya, dan rambutnya sedikit basah. Dia jelas baru saja kembali dari jogging. Dengan kantong kertas di tangannya, dia tersenyum pada He Gu, memperlihatkan gigi putihnya. “Tuan He, aku menyadari bahwa kamu tidak terbiasa dengan sarapan ala Barat, jadi aku pergi ke Chinatown dan membelikanmu beberapa pangsit kukus dan bubur.”

He Gu tertegun dan sedikit tersentuh. “Terima kasih. Sebenarnya aku bisa makan apa saja, tapi sekarang aku telah merepotkanmu untuk bangun pagi-pagi sekali.”

“Tidak masalah. Aku sebenarnya ingin makan pangsit dan bubur juga.” Zhou Heyi membuka kantong kertasnya dan mengendusnya. “Mmm, baunya sangat enak. Ayo, ayo makan.”

He Gu benar-benar tidak terbiasa dengan roti, keju, dan makanan lainnya. Dia selalu merasa belum kenyang. Sarapan tradisional Cina masih yang terbaik.

“Tuan He, hari ini kita akan pergi ke Cologne. Aku akan mengajakmu melihat Katedral Cologne.”

“Oke.”

“Perhentian terakhir kita di Jerman adalah Munich. Bir di sana enak, dan jika kamu suka sepak bola, aku juga bisa mengajakmu menonton pertandingan.”

“Oke, kamu atur saja semuanya.”

Zhou Heyi berkata sambil tersenyum, “Tuan He, kamu adalah klien terbaik yang pernah aku miliki.”

He Gu tersenyum. “Benarkah?”

“Beneran. Kamu sopan, enak diajak bicara, murah hati…” Zhou Heyi mengerucutkan bibirnya. “Dan juga tampan.”

“Terima kasih. Kamu juga pengemudi dan pemandu yang hebat.”

“Jika aku pergi ke China di masa depan, bolehkah aku mengajakmu untuk keluar bersama?”

“Tentu saja boleh.”

Kedua pria itu masuk ke mobil dan menuju Cologne.

Di jalan, He Gu menyadari bahwa tidak ada satupun lagu Song Juhan dalam daftar musik di mobil Zhou Heyi. He Gu sudah merasa senang dengan kepedulian dan perhatian pemuda ini di jalan, dan sekarang, dia merasa lebih dari itu.

Ketika Zhou Heyi memperhatikan bahwa He Gu sangat diam hari ini, dia mengubah triknya dan mulai mencari topik. “Tuan He, Tuan He.”

“Hm?”

“Tidak ada batasan kecepatan di jalan raya Jerman. Ada begitu sedikit kendaraan saat ini, apakah kamu ingin merasakan bagaimana rasanya mengendarai mobil super cepat?”

“Yah, seberapa cepat mobil ini bisa melaju?”

“220 tidak masalah.”

“Kalau begitu ayo!” He Gu menarik sabuk pengaman dan mengencangkannya dengan erat.

Zhou Heyi mengubah lagu menjadi rock heavy metal yang meledak. Dengan “yoohoo!”, Dia menginjak pedal gas, dan minivan Buick melompat terbang.

He Gu terkejut. Dia belum pernah mengendarai mobil secepat itu dalam hidupnya, dan dia merasa sedikit gugup. Bahkan dengan kaca laminasi di tempatnya, efek visual di depan masih menakutkan. Jika dia memutar kepalanya untuk melihat ke jendela di samping, dia akan menemukan pemandangan di luar semuanya melintas melewati mereka, tubuh mobil itu tampak melayang.

He Gu mengepalkan tinjunya. Seluruh tubuhnya dipenuhi dengan ketegangan dan ketakutan, tetapi sensasi semacam ini juga belum pernah terjadi sebelumnya, dan dia tidak bisa menahan tawa.

Zhou Heyi juga tertawa. “Ha ha ha ha! Bukankah itu menyenangkan!”

“Ya!” He Gu menjawab dengan penuh semangat.

Jarum di dasbor melebihi 200. Kedua pria itu melaju di sepanjang jalan raya yang kosong selama dua menit penuh. Tidak ada orang biasa yang bisa menahan ketegangan yang menegangkan itu terlalu lama, jadi Zhou Heyi perlahan-lahan menurunkan kecepatan mobilnya.

He Gu merasa punggungnya penuh keringat.

“Whoo, itu sangat keren.” Zhou Heyi menghela nafas dan tersenyum lebar pada He Gu. “Apakah itu menyenangkan?”

“Ya itu menyenangkan!”

“Ada begitu banyak hal menyenangkan di dunia. Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan, singkirkan saja. Seperti yang dikatakan orang Cina, ‘ini adalah hari untuk bahagia dan ini adalah hari untuk tidak bahagia’2Aku sudah mengecek di Baidu, dan kalimatnya memang seperti itu, yang maksud utamanya yaitu semua orang bebas untuk memilih apa yang akan dilakukan di hidupnya dan bebas untuk merasakan kebahagiaan.. Jadi kenapa tidak memilih bahagia setiap hari saja? Itu tidak seperti hidup tidak bahagia akan menyelesaikan apa pun.”

He Gu tertawa. Dia sebenarnya telah dididik oleh seorang pria beberapa tahun lebih muda darinya, dan itu sedikit memalukan. Namun, Zhou Heyi ada benarnya. Awalnya, dia menyesal menghabiskan begitu banyak uang dan pergi ke tempat yang begitu jauh dan asing, tetapi sekarang dia berpikir bahwa perjalanan ini sepadan. Dunia memiliki begitu banyak hal baru dan menarik untuknya. Mengapa dia harus hanya terpaku pada satu orang ketika dia jelas bisa mencoba untuk mendapatkan kegembiraan, kesenangan, dan kepuasan dari tempat lain?

Ketika mereka tiba di Cologne, mereka berkeliling selama sehari. Sore harinya, mereka pergi ke Chinatown untuk membeli banyak snack, makanan siap saji, dan mie instan. Setelah itu, mereka pergi ke rumah milik pribadi yang ditemukan Zhou Heyi.

Rumah itu dimiliki oleh pasangan Italia yang bekerja di Jerman. Perusahaan mereka menyewakan sebuah rumah besar untuk mereka, jadi mereka menyewakan kamar cadangan kepada turis untuk mendapatkan uang tambahan.

Pada hari ini, ketiga kamar penuh. Selain dia dan Zhou Heyi, ada juga pasangan muda Jepang yang datang berkunjung.

Secara kebetulan, hari ini adalah hari ulang tahun putri pemilik rumah dan istrinya, sehingga sekelompok teman, tua dan muda, datang berkunjung. Pemilik rumah mengundang mereka untuk bergabung dengan pesta juga.

He Gu minum sedikit hari itu dan memiliki keberanian untuk bertukar kata dengan beberapa orang asing. Bahasa Inggrisnya sebenarnya cukup bagus, dia hanya mudah gugup. Setelah mengobrol sebentar, ketegangannya mereda, dan dia bisa berbicara dengan lancar.

Zhou Heyi terkejut dan berkata, “Tuan He, bahasa Inggrismu sangat bagus. Aku pikir kamu tidak terlalu baik dalam hal itu.”

“Sudah lama sejak aku menggunakannya.” He Gu tersenyum, merasa santai saat dia menyaksikan pertemuan yang hangat dan bahagia itu. Ketika dia berada di ibu kota, dia selalu merasa bahwa udaranya menindas dan menyesakkan, tetapi ketika dia tiba di sini, dia tidak lagi merasa seperti itu.

Setelah pesta, He Gu merasa sedikit mabuk, tetapi sebagian besar dia masih sadar.

Zhou Heyi memegang pinggangnya dan berkata, “Tuan He, biarkan aku membawamu kembali ke kamarmu.”

“Tidak apa-apa. Aku tidak mabuk. Aku bisa kembali sendiri.”

“Tidak aman untuk menaiki tangga. Biarkan aku membantumu.”

“Oke.”

Meski rumahnya besar, desain tangganya cukup sempit. Zhou Heyi menopang He Gu saat mereka menaiki tangga bersama, tubuh mereka saling bertabrakan tanpa henti. Sebenarnya lebih mudah baginya untuk menaiki tangga sendirian, tetapi antusiasme dan semangat Zhou Heyi untuk membantu sulit ditolak.

Setelah berjuang beberapa saat, mereka akhirnya berhasil kembali ke kamar. He Gu menjatuhkan diri di atas selimut beraroma lavender dan meregangkan tubuhnya.

“Tuan He, apakah kamu merasa tidak nyaman? Aku punya obat mabuk di dalam mobil.”

“Aku baik-baik saja, aku tidak minum sebanyak itu.” He Gu memandang Zhou Heyi, matanya berat, lalu dia bertanya secara acak, “Hei, berapa umurmu?”

“Dua puluh satu.” Zhou Heyi menatap dengan seksama ke arah He Gu, jakunnya naik turun perlahan.

“Begitu muda… Kenapa kamu tidak kuliah?”

“Aku tidak suka belajar.” Zhou Heyi tersenyum sambil berkata, “Aku suka berselancar. Saat ini aku perlu bekerja dan menabung cukup uang sehingga aku dapat melakukan perjalanan keliling dunia dan mendatangi semua tempat selancar. Di masa depan, aku ingin membuka tempat pelatihan selancar milikku sendiri.”

He Gu tersenyum. “Kedengarannya luar biasa.”

Zhou Heyi dengan santai duduk di sisi tempat tidur dan berkata, “Tuan He, bagaimana denganmu? Apa impianmu?”

“Impian…” Kata itu sepertinya mengejek He Gu.

Apa yang He Gu pahami sebagai mimpi atau keinginan adalah hal-hal yang dia inginkan atau hal-hal yang ingin dia capai. Dalam hidupnya, satu-satunya hal yang dia inginkan dengan penuh gairah adalah Song Juhan, tetapi di akhir He Gu menjadi tidak yakin apa yang awalnya dia inginkan dari Song Juhan. Dia menginginkan dedikasi, kesetiaan, dan persahabatan seumur hidup Song Juhan–dan bukan hanya saat-saat sesekali yang dia pikir dia puas. Saat-saat itu hanyalah ‘kompromi’ yang perlahan-lahan dia terima selama tujuh tahun terakhir. Seiring berjalannya waktu, dia menjadi takut memikirkan keinginan aslinya.

Karena Song Juhan justru seseorang yang tidak pernah bisa setia pada perasaannya. Meskipun dia adalah penuntut yang egois dan serakah, bukan berarti Song Juhan tidak pernah memberi kembali. Hanya saja apa yang dia berikan bukanlah apa yang diinginkan He Gu—dia ingin Song Juhan hanya menjadi miliknya sendiri. Jika itu masalahnya, He Gu lebih suka tidak menginginkan apa pun.

Selama tujuh tahun terakhir, He Gu dapat menyaksikan Song Juhan berpindah dari satu kekasih ke kekasih lainnya hanya karena dia (He Gu) tidak dalam posisi untuk mengatakan apa pun. Pada akhirnya, Song Juhan memberinya janji–sebuah janji yang tampak seperti garis hidup yang tak terlihat bagi He Gu, tetapi bagi Song Juhan, itu hanyalah kebohongan mewah lainnya. Bahkan, Song Juhan ingin menghilangkan gelarnya sebagai teman bercinta, dan meningkatkannya menjadi ‘simpanan’. Dihadapkan dengan keputusasaan yang tak ada habisnya, dia (He Gu) akhirnya sadar.

Dengan pikiran jernih, He Gu akhirnya mengerti bahwa dia tidak akan pernah mendapatkan apa yang dia inginkan dari Song Juhan. Jika dia terus tinggal di rawa ini, dia pasti akan kehilangan akal sehatnya dan menjadi gila karena perselingkuhan Song Juhan dan akhirnya menghancurkan bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga Song Juhan.

Itu sebabnya dia harus mencegah mimpi buruk ini terjadi.

Zhou Heyi memperhatikan bahwa He Gu tidak mengatakan apa-apa, dan berkata dengan sedih, “Orang sering mengatakan ‘semakin tua kamu, semakin besar kemungkinan kamu akan melupakan impianmu’. Aku tidak tahu apakah aku akan melupakan mimpiku di masa depan juga.”

“Bahkan jika kamu lupa, itu mungkin karena ada sesuatu yang lebih penting untuk kamu lakukan dalam hidupmu.”

Zhou Heyi tertawa, “Kurasa begitu.” Lalu dia menundukkan kepalanya untuk menatap lurus ke mata He Gu. “Tuan He, ini pertama kalinya kamu berbicara begitu banyak padaku.”

“Betulkah? Bukankah kita berbicara setiap hari?”

“Biasanya hanya aku yang berbicara dan bertanya, lalu kamu kadang-kadang menjawab. Ketika kita pertama kali mulai bepergian bersama, aku sebenarnya sedikit takut padamu.”

He Gu tertawa, “Takut apa?”

“Kamu terlalu serius.” Zhou Heyi berbaring di tempat tidur dan menatap pria di sebelahnya. “Kemudian, aku mengetahui bahwa kamu hanya pendiam dan tidak banyak bicara, tetapi kamu sebenarnya sangat baik. Kurasa menjadi pendiam juga cukup menarik bagi seorang pria.”

He Gu berbalik untuk menatapnya, dan senyum halus muncul di matanya.

Jantung Zhou Heyi berdetak kencang. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan dengan cemas saat dia menghindar dari tatapan He Gu.

He Gu terkejut sesaat. Kemudian, seolah-olah dia menyadari sesuatu, dia tiba-tiba duduk.

Zhou Heyi buru-buru duduk juga, pipinya merona merah. “Tuan He, kamu harus segera tidur. Kita masih punya banyak rencana untuk besok.”

“OK, selamat malam.”

Sebelum dia pergi tidur, He Gu memeriksa emailnya. Beberapa orang yang tahu tentang akun email ini semuanya telah mengirim pesan kepadanya.

Ibunya mengiriminya jadwal dan informasi program studi wisata musim panas Su Su, Gu Qingpei mengatakan kepadanya bahwa dia baik-baik saja, dan Zhuang Jieyu mengatakan bahwa Song Juhan mencarinya ke mana-mana.

He Gu menjawab masing-masing secara terpisah, dan di email Zhuang Jieyu dia hanya menulis: “Biarkan saja.”

Song Juhan berhasil melacak alamat email Zhou Heyi, dan mengetahui tentang akomodasi bersama yang mereka tinggali. Saat dia hendak bergegas, pengawal ayahnya menyusulnya.

Song Juhan tidak berpikir ayahnya akan begitu kejam kali ini untuk mengirim orang ke Jerman untuk mencarinya.

Sekitar tujuh atau delapan pengawal muncul di luar kamar hotelnya. Mereka bahkan memiliki taser3Taser adalah pistol listrik atau alat kejut listrik. saat mereka berkerumun dan mengelilinginya.

Tepat ketika Song Juhan berhasil menangkis mereka bertiga, dia tiba-tiba merasakan rasa sakit yang mati rasa menjalar ke seluruh tubuhnya saat dia jatuh dengan keras ke lantai. Ketika dia membuka matanya lagi, dia sudah berada di pesawat pribadi ayahnya, terbang pulang.

Sesampai di rumah, Song Juhan kembali menjadi tahanan rumah. Kali ini, itu benar-benar sulit–Song He membuat orang-orang mengawasinya dua puluh empat jam sehari.

Selama periode ini, Song Juhan mengalami masa tersulit dalam hidupnya. Faktanya, itu seratus kali lebih tak tertahankan daripada waktu yang dia habiskan di pusat penahanan.

Yang bisa dia pikirkan hanyalah He Gu.

Setiap hari pikiran yang sama akan melewati pikirannya berulang-ulang–‘Di mana He Gu?’, ‘Apa yang dia lakukan sekarang?’, ‘Apakah pengemudi itu juga gay?’, dan ‘Bagaimana jika mereka berakhir bersama?’ Song Juhan telah menghabiskan bertahun-tahun dengan He Gu sehingga dia terkadang lupa betapa menawannya pria itu. Tetapi semua pria di sekitar He Gu–Feng Zheng, Zhuang Jieyu, Gu Qingpei–semuanya sangat tajam dan menyadarinya lebih awal dan itu sudah cukup untuk membuktikan betapa menariknya He Gu.

Semakin banyak waktu berlalu, semakin sulit bagi Song Juhan untuk tidur dan makan dengan benar. Ketika dia bangun, dia akan merasa cemas sepanjang waktu. Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya; itu seperti dia sudah gila. Dia merindukan He Gu dengan keputusasaan yang sama seperti seseorang yang tidak makan selama lebih dari sepuluh hari dan saat ini mendambakan makanan–dia mendambakan He Gu.

Dia ingin melihat He Gu. Dia ingin melihat He Gu. Dia hanya ingin melihat He Gu.

Dia ingin bertanya pada He Gu bagaimana dia bisa berani memperlakukannya seperti ini. Dia ingin menculik pria itu, membawanya pulang, dan menguncinya. Dia ingin menyembunyikan He Gu untuk dirinya sendiri, jadi tidak ada orang lain yang bisa melihatnya, atau menyentuhnya. Dan dia ingin memberitahu He Gu bahwa dia tidak akan menikah, dia tidak akan punya anak. Selama He Gu yang dia sukai akan kembali kepadanya, dia akan menyetujui apa pun.

Hanya memikirkan kesadaran bahwa ‘He Gu mungkin tidak menyukainya lagi’ sudah cukup untuk membuatnya gila.

Setelah upaya kedua Song Juhan untuk melarikan diri gagal, dan insiden di mana ia bahkan mematahkan salah satu tulang rusuk pengawal untuk melarikan diri, Song He menyadari beratnya situasi dan menghubungi Vanessa untuk segera kembali dari luar negeri. Tapi dia (Vanessa) sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada putranya di rumah.

Setelah mengetahui apa yang terjadi, Vanessa bertengkar hebat dengan suaminya sebelum pergi menemui Song Juhan. Berjalan ke kamar tidurnya, dia melihat ekspresi sedih di wajah putranya dan mengerutkan kening dalam-dalam.

Song Juhan mengangkat kepalanya untuk menatapnya saat dia berkata dengan lemah dan tanpa kekuatan, “Kamu kembali.”

Vanessa berlutut dengan anggun di depannya dan menggunakan jarinya yang panjang dan ramping untuk mengangkat dagunya. “Sayang, kenapa kamu menempatkan dirimu dalam situasi ini? Kamu sudah dua puluh tujuh tahun, bukan tujuh belas. Bagaimana kamu bisa tetap kekanak-kanakan seperti sebelumnya?”

“Ma, aku ingin melihat He Gu,” kata Song Juhan dengan suara serak.

“Apakah He Gu ingin bertemu denganmu?”

Song Juhan membeku, mengerutkan bibirnya, lalu dengan enggan menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, kenapa kamu masih memaksanya?”

“Aku hanya ingin melihatnya,” kata Song Juhan dengan keras kepala. “Aku bisa mencari tahu di mana dia sekarang. Selama aku bisa keluar dari sini, aku bisa langsung menemukannya.”

“Dan apa yang akan kamu lakukan setelah kamu menemukannya?”

“Bawa dia kembali.” Song Juhan menatap lurus ke arah Vanessa. “Ma, He Gu mencintaiku, dia memberitahuku sendiri. Aku tahu itu, dia telah mencintaiku selama bertahun-tahun. Dia tidak tahan berpisah denganku. Dia hanya marah padaku sekarang, dia tidak benar-benar ingin mengabaikanku.”

Vanessa menatap putranya dengan ekspresi sedih di wajahnya dan berkata pelan, “Dia mencintaimu; semua orang tahu itu. Aku pikir satu-satunya yang tidak tahu adalah kamu. Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali sebelumnya untuk memperlakukan He Gu dengan baik–apakah kamu memperlakukannya dengan baik?”

“Tentu saja aku memperlakukannya dengan….” Kata-kata itu tepat di ujung lidahnya, namun dia tidak bisa memaksa dirinya untuk menyelesaikan kalimatnya.

Apakah dia memperlakukan He Gu dengan baik?

Dia memberi He Gu sebuah rumah, mobil, dan banyak hadiah, tetapi He Gu tidak pernah peduli dengan hal-hal berbau materi itu. Setiap kali dia merasa kesal atau marah, dia akan melampiaskannya pada He Gu, karena dia tahu He Gu akan mengalah dan menenangkannya. Kadang-kadang dia bahkan dengan sengaja menyebut tentang orang lain di depan He Gu hanya untuk melihat apakah pria yang biasanya tenang dan selalu serius ini akan cemburu. Dia bahkan membuat He Gu kehilangan pekerjaannya, membuat informasi pribadinya tersebar secara online, dan dihina serta dilecehkan oleh orang asing yang tak terhitung jumlahnya. Pada akhirnya, dia bahkan mempertimbangkan untuk menikahi orang lain….

Apakah dia memperlakukan He Gu dengan baik?

Pertanyaan yang sarat ini… Song Juhan tiba-tiba tidak berani menjawabnya.

Tapi… tapi dia tidak pernah berpikir untuk berpisah dengan He Gu. Tidak peduli berapa banyak orang cantik dan luar biasa yang datang dan pergi dalam hidupnya; setiap kali dia lelah, setres, atau kesal, dia hanya ingin He Gu di sisinya. Setelah Feng Zheng muncul lagi, dia pernah menyuruh He Gu pergi dalam kemarahan, tapi dia tahu He Gu tidak akan benar-benar meninggalkannya, karena He Gu selalu kembali pada akhirnya. Tapi kali ini He Gu tidak datang mencarinya… tapi itu juga tidak masalah, karena dia akan mencari He Gu sebagai gantinya.

Pria ini telah berada di sisinya selama tujuh tahun dalam hidupnya, berbagi kegembiraan dan pencapaiannya, frustasi dan kekecewaannya. Tidak peduli apa yang terjadi, setiap kali Song Juhan berbalik, He Gu akan selalu ada di sana diam-diam menunggunya. Selama dia membutuhkannya, dia bisa melakukan apa saja pada He Gu, dan mendapatkan apa pun yang dia inginkan dari He Gu.

Dia tidak pernah berpikir bahwa suatu hari He Gu benar-benar akan meninggalkannya. Dia bahkan tidak bisa membayangkan seperti apa hidup ini tanpa He Gu.

Sekarang dia telah mengalaminya sendiri, seolah-olah hidupnya telah benar-benar hancur.

Song Juhan tidak pernah merasa takut, tidak ketika dia diborgol dan ditangkap, tidak ketika dia dituduh oleh media dan dicaci maki oleh netizen. Bahkan ketika seluruh karirnya runtuh di sekitar kakinya. Tetapi ketika He Gu pergi, dia merasa takut.

Itu adalah semacam ketidakberdayaan, seperti mencoba menggenggam sebuah pasir, tidak peduli seberapa keras dia mencoba, betapa dia ingin mempertahankannya, pasir itu akan menyelinap lebih cepat dan lebih cepat melalui jari-jarinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia mengalami seperti apa sebenarnya rasa takut itu.

Sejujurnya, itu tidak seperti dia tidak pernah memikirkannya sebelumnya. Dia memang berpikir bahwa He Gu mungkin memiliki perasaan yang lebih dalam padanya–jika tidak, dia tidak akan begitu gigih berada di sisinya begitu lama. Tapi dia terlalu malas untuk memikirkannya lebih dalam, atau untuk membuktikannya. Lagipula dia masih muda. Dia masih belum cukup bermain-main, dia tidak ingin menanggapi hal-hal rumit seperti perasaan. Dan bahkan jika dia tidak membalasnya, He Gu masih ada di telapak tangannya, jadi mengapa repot-repot?

Tapi He Gu sangat pintar, mungkin dia sudah tahu segalanya? Mungkin He Gu selalu tahu apa yang dia (Juhan) pikirkan di dalam hatinya? Jika demikian, jika He Gu benar-benar tahu, bukankah dia (He Gu) akan merasa sangat terluka karenanya….

Song Juhan memegangi kepalanya saat rasa sakit yang tumpul dan berdenyut mengepal di dadanya.

Pikiran jenis apa yang harus He Gu miliki agar bisa bertahan untuk tetap bersamanya selama tujuh tahun terakhir?

Song Juhan tidak berani menyelesaikan pemikiran itu. Dalam beberapa hari di mana dia ditahan sebagai tahanan rumah, dia banyak berpikir. Semakin dia berpikir, semakin dia merasa takut–dia takut He Gu benar-benar tidak akan kembali lagi.

Vanessa menghela nafas dan dengan lembut menyentuh rambut putranya. “Sayang, pernikahan antara ayahmu dan aku ini terbuka dan saling pengertian, dan ini adalah jenis pernikahan yang istimewa. Namun hubungan pada umumnya berbeda, orang kebanyakan membutuhkan kepastian dan kesetiaan. Maafkan ayahmu dan aku tidak pernah mengajarimu ini sebelumnya.”

Song Juhan menggelengkan kepalanya, dan berkata dengan suara serak, “Ma, aku ingin melihat He Gu. Dia mencintaiku. Dia akan kembali.”

“Dia mungkin tidak akan kembali.” Vanessa dengan lembut membelai lengannya. “He Gu adalah seseorang yang melakukan segalanya secara ekstrim. Perasaannya padamu sudah mencapai puncaknya, sekarang dia ingin meninggalkanmu, dia juga akan.…”

“Mustahil!” Song Juhan menyentakkan kepalanya tiba-tiba, matanya memerah saat dia berkata dengan keras, “Dia mencintaiku, dia akan kembali. Aku hanya perlu melihatnya, dan kemudian aku akan membujuknya dengan baik.”

Vanesha menghela napas. “Baiklah, aku akan berbicara dengan ayahmu. Jika kamu ingin pergi, kamu bisa pergi. Tapi kamu harus berjanji padaku tiga hal. Pertama, kamu tidak boleh melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain atau dirimu sendiri. Tahukah kamu bahwa kamu telah melukai beberapa pengawal? Kedua, kamu tidak bisa bertindak gegabah atau seenaknya lagi. Tidak mudah bagi karirmu untuk bangkit kembali, kamu tidak bisa menghilang begitu saja di saat genting ini. Dan terakhir, kamu harus berjanji padaku, berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan memaksa He Gu melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan.”

Song Juhan mengangguk, dan menggenggam tangan Vanessa dengan erat.

Melihat fitur wajahnya yang sempurna, Vanessa membelai pipinya sambil berkata dengan sedih, “Mungkin ini salahku karena tidak membangun konsep cinta yang tepat untukmu, tapi aku telah mengajarimu untuk memiliki kerendahan hati, ketulusan dan kebaikan. Aku tidak tahu bagaimana kamu tumbuh menjadi begitu sombong, egois dan berubah-ubah. Apakah kamu telah dipengaruhi oleh ayahmu, atau apakah lingkaran hiburan yang menyesatkanmu?”

Song Juhan menunduk, tidak bisa menjawab.

“Bahkan jika kamu pergi mencarinya, kamu mungkin tidak dapat mengubah apa pun. Bagaimana kamu memperlakukan He Gu dalam beberapa tahun terakhir? Pikirkan bagaimana rasanya jika He Gu memperlakukanmu seperti itu, dan kamu akan mengerti. Dia tidak akan kembali.”

Song Juhan menggigil, tinjunya mengepal erat di sisinya, dan pandangannya kabur saat dia menggertakkan giginya, “Dia akan kembali. Dia pasti akan kembali.”


KONTRIBUTOR

Chu
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments