Penerjemah: Chu


Keesokan paginya, Song Juhan harus buru-buru mengejar penerbangan awal, jadi Xiao Song datang menjemputnya jam lima pagi.

Ketika Song Juhan bangun, He Gu sudah bangun dan duduk diam bersandar di kepala tempat tidur, memperhatikan saat dia (Juhan) menyikat gigi, mencuci muka dan berganti pakaian yang nyaman.

Sebelum dia pergi, Song Juhan memberi He Gu ciuman yang panjang dan berat, lalu berkata dia akan kembali dalam beberapa hari. He Gu hampir tidak bereaksi saat dia melihat pria lain pergi tanpa menoleh ke belakang.

Tidak lama kemudian, He Gu juga bangun dan mengeluarkan kopernya yang berdebu dari gudang. Dia mengemasi koper besar berisi pakaian dan kebutuhan sehari-hari, lalu menemukan dokumen perjalanan, kartu kredit, dan sejumlah uang tunai.

Setelah dia selesai berkemas, He Gu mandi, sarapan, dan berganti pakaian.

Berpakaian rapi dan siap untuk pergi, He Gu duduk di ruang kerja dan menelepon ibunya. Dia mengatakan kepadanya bahwa dia akan pergi ke Eropa untuk liburan panjang dan ibunya dengan senang hati mengatakan bahwa dia akan memberikan alamat rumahnya di Prancis, serta informasi kontak untuk pengurus rumah tangga di sana. Jika He Gu memutuskan untuk mampir di Prancis, dia bisa tinggal di sana, dan begitu liburan musim panas tiba, dia (ibunya) akan mengirim Su Su untuk menemaninya.

Setelah dia menelepon ibunya, He Gu mengirim pesan ke Gu Qingpei, Zhuang Jieyu, dan Chen Shan masing-masing untuk mengatakan bahwa dia akan pergi ke Eropa untuk mengambil liburan panjang untuk dirinya sendiri. Dia juga menyebutkan bahwa teleponnya akan dimatikan untuk sementara waktu, dan bahwa jika sesuatu yang mendesak muncul, mereka harus mengirim email kepadanya untuk menghubunginya. Alamat email yang dia tinggalkan untuk mereka adalah alamat email pribadi yang dia gunakan untuk masuk ke forum gay–yang tidak diketahui siapa pun. Dia juga secara eksplisit menginstruksikan mereka untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang hal itu.

Setelah semuanya beres, He Gu memanggil taksi dan pergi ke bandara. Begitu sampai di sana, dia langsung menuju konter dan membeli tiket penerbangan paling awal ke Eropa–itu adalah tiket sekali jalan ke Amsterdam.

Sekitar waktu yang sama, Nanchuang mengadakan pesta tahunan mereka di Nice, Prancis. Meskipun He Gu tidak pergi pada akhirnya, departemen SDM telah menyortir visa perjalanan Eropa-nya. Tanpa diduga, itu berguna.

Saat pesawat lepas landas, He Gu merasakan sakit mati rasa di dadanya saat dia melihat landasan pacu semakin menjauh.

Kali ini He Gu meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu akan menjadi perpisahan terakhir. Dia pernah berpikir bahwa pada saat ini dia akan runtuh dan berantakan, tetapi ternyata tidak. Karena selama tujuh tahun terakhir, dia telah berlatih dan mempersiapkan diri untuk hari ini. Meskipun dia tidak bisa menggambarkan betapa sakitnya dia, dia jelas tahu bahwa pada saat ini, dia sadar–lebih sadar daripada sebelumnya.

Dia bisa dengan jelas melihat orang seperti apa Song Juhan, siapa dia, dirinya sendiri, hubungan antara mereka berdua, dan masa depan yang akan mereka miliki bersama.

Ketika Song Juhan bertanya apakah dia ‘keberatan’ tentang situasi tersebut, He Gu tidak berbohong. Dia benar-benar tidak keberatan, karena dia tidak peduli lagi. Dia tidak lagi peduli dengan kehidupan Song Juhan, karena dia tidak akan ada hubungannya dengan dia lagi.

Perasaan mencintai seseorang datang dalam bentuknya yang paling murni ketika kamu menyimpannya diam-diam tersembunyi di dalam hatimu. Mengapa repot-repot mengeluarkannya dan membiarkannya membusuk menjadi bentuk yang menjijikkan.

Seolah-olah dia telah mabuk selama tujuh tahun terakhir, tidak dapat melepaskan diri dari itu semua… Tapi sekarang dia akhirnya bisa sadar dari periode ini dan bangun dengan pencerahan besar.

Itu sebabnya dia memutuskan untuk keluar, menjelajahi dunia misterius di luar sana, dan mengalami semua hal yang pernah dia tahan. Dia perlu memanfaatkan dorongan yang dia miliki saat ini dan segera pergi. Kalau tidak, dia akan berubah pikiran dan akhirnya menyesalinya.

Dia berharap luasnya dunia akan membawanya keluar dari penjara kecilnya yang sempit, dan memaksa dirinya untuk keluar dari cangkangnya sekali dan untuk selamanya.

Pada saat dia tiba Frankfurt, He Gu mulai menyesali segalanya. Mendapati lingkungan asing di sekitarnya, semua orang dari berbagai ras berbicara bahasa aneh yang dia mengerti dan tidak mengerti, He Gu tidak bisa menahan rasa tidak nyaman yang tumbuh di dalam dirinya. Dia tiba-tiba ingin segera terbang pulang.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu pergi membeli kartu SIM. Akhirnya, dia berhasil memesan hotel di dekat bandara, dan memberhentikan taksi untuk menuju ke sana.

Begitu dia sampai di kamar hotelnya sendiri, He Gu akhirnya merasakan kecemasannya mereda saat dia menghela nafas lega.

Dia mandi lama untuk menghilangkan kepenatan dari perjalanannya, lalu tertidur lelap.

Ketika dia bangun, matahari juga sudah terbit. He Gu menghubungi layanan kamar untuk mengirim sarapannya dan duduk di dekat jendela, menikmati makanannya sambil melihat pemandangan di luar. Di kepalanya, dia mulai memikirkan rencana perjalanannya yang akan datang.

Pada akhirnya, dia tidak bisa untuk tidak menyalakan komputernya dan merencanakan liburannya dengan tepat.

Belanda dan Prancis berbatasan satu sama lain, jadi cukup nyaman untuk melakukan perjalanan antara kedua negara. He Gu ingin menunggu Su Su sampai di sini sehingga mereka bisa bertemu di Prancis bersama. Sementara itu, dia akan berkeliling dan melihat seluruh Eropa dalam dua bulan ke depan.

Setelah mencari di internet sepanjang pagi, He Gu menghubungi agen perjalanan lokal Tiongkok yang menyediakan tur khusus keliling Eropa. Dia menelepon untuk menanyakan tentang tur, dan staf bertanya berapa banyak orang yang dia miliki di grupnya. He Gu dengan cepat menjawab, “Satu.”

Pihak lain berhenti, lalu bertanya, “Tuan, apakah kamu akan berkeliling Eropa sendirian?”

Mengabaikan pertanyaan itu, He Gu bertanya, “Apakah kamu juga menyediakan seorang sopir?”

“Eh, ya… kami punya sopir dan pemandu wisata. Tetapi jika kamu bepergian sendiri, biayanya akan cukup tinggi.”

“Berapa harganya?”

“Itu tergantung pada rencana perjalananmu. Jika kamu menginginkan rute standar yang kami rekomendasikan, biayanya bisa berkisar antara lima puluh hingga enam puluh ribu yuan.”

He Gu ragu-ragu sejenak. Harganya memang cukup tinggi, tetapi dia benar-benar tidak ingin bepergian dengan orang asing. “Aku hanya butuh sopir, tidak perlu pemandu wisata, apakah akan lebih murah?”

“Tentu saja, pengemudi kami dapat bertindak sebagai setengah pemandu wisata.”

“Oke, aku akan mengirimkan daftar tempat yang ingin aku kunjungi.”

Kebiasaan insinyur He Gu muncul saat dia mempelajari peta Eropa di depannya. Dia dengan hati-hati merencanakan rute yang logis dan paling efisien di seluruh Eropa dan mengirimkannya ke agen perjalanan.

Dia dengan cepat mendiskusikan rencana perjalanannya dengan agen perjalanan dan mengkonfirmasi rencana perjalanan untuk perjalanannya yang akan datang. Begitu dia membayar deposit, He Gu berkemas dan menunggu sopir datang menjemputnya keesokan harinya.

He Gu meregangkan anggota tubuhnya dan tidak bisa menahan senyum tipis melengkung di bibirnya.

Sampai sekarang, dia masih merasa seperti hidup dalam mimpi. Bagaimana mungkin dia melakukan perjalanan jauh ke sisi lain dunia, sendirian, dan begitu jauh dari rumah?

Apakah itu hanya untuk menghindari Song Juhan?

Memang, He Gu tidak ingin melihat Song Juhan. Dia takut dia akan kehilangan kendali atas emosinya dan melakukan sesuatu yang tidak dapat diperbaiki. Sama seperti tadi malam–ketika He Gu melihat wajah lembut dan tersenyum Song Juhan, satu-satunya pikiran di benaknya adalah mengencangkan jari-jarinya di leher pria itu.

Cepat atau lambat, dia harus kembali. He Gu hanya berharap ketika dia melakukannya, dia akan bisa menghadapi Song Juhan dengan tenang dan tanpa rasa takut.

Keesokan harinya, seseorang mengetuk pintu kamar hotelnya.

He Gu sudah mengemasi barang-barangnya malam sebelumnya dan menunggu dengan sabar sampai sopirnya tiba. Saat dia mendengar ketukan, dia berjalan dan membuka pintu.

Di sisi lain pintu berdiri seorang pria muda dan tampan. Dia mengenakan T-shirt polos dan jeans robek, dengan senyum cerah dan kulit berwarna madu. “Hai, namaku Chou dan nama Chinaku adalah Zhou Heyi. Kamu pasti Tuan He.”

He Gu tersenyum sambil menjabat tangannya, “Aku He Gu.”

“Halo, halo. Aku akan menjadi pemandu wisata dan sopirmu. Aku harap kita akan saling menjaga di bulan mendatang.” Zhou Heyi dengan sopan mengambil alih barang bawaan He Gu dan memberi isyarat kepada orang lain, “Tuan He, silahkan.”

“Setelah kamu.”

Zhou Heyi adalah seorang pemuda yang sangat ceria dan menghibur. Dia hebat dalam mengadakan percakapan, dan akan dengan mudah menertawakan hal-hal kecil. Dia memberi tahu He Gu tentang bagaimana kakek-neneknya adalah salah satu imigran Cina pertama yang datang ke Belanda, bahwa dia lahir dan besar di sini di Amsterdam, dan bahwa dia hanya kembali mengunjungi Cina beberapa kali.

He Gu benar-benar menikmati gairah, kepolosan, dan temperamennya yang hangat. Sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di benaknya–jika He Gu memiliki seseorang seperti dia yang menemaninya sepanjang perjalanan ini, dia mungkin tidak akan merasa bosan sama sekali.

Sore itu, Zhou Heyi menceritakan semua tentang tradisi dan budaya lokal Belanda, dan menunjukkan kepadanya lingkungan sekitar di area utama kota, serta kota-kota lain yang akan mereka kunjungi. Kadang-kadang dia akan bernyanyi bersama musik di radio dan tertawa bahagia untuk dirinya sendiri untuk sementara waktu.

Mereka menghabiskan sepanjang hari di Amsterdam. Di malam hari, mereka check-in ke hotel di sebelah kanal yang direkomendasikan agen perjalanan.

Setelah makan malam, Zhou Heyi membawa He Gu ke Distrik Lampu Merah.

Kepribadian He Gu agak konservatif, tapi dia tidak kuno. Dia melihat sekeliling, perlahan-lahan menikmati lingkungan yang mencari kesenangan dan kemeriahan1灯红酒绿: secara harfiah lentera merah, anggur hijau (idiom) yang berarti ‘lingkungan yang meriah, mencari kesenangan, dan tidak bermoral’. di Distrik Lampu Merah. Meskipun dia tidak terlalu menerimanya, dia tidak mengungkapkan pendapatnya secara terbuka. Sebaliknya dia tetap diam dan hanya mengikuti Zhou Heyi berkeliling, melihat semua yang ditunjukkan pria itu padanya. Keterbukaan terhadap budaya seks di Belanda–terutama untuk pasangan sesama jenis–benar-benar membuka mata He Gu.

Lelah setelah seharian keluar, Zhou Heyi membawa He Gu ke pub2Pub (Public House) adalah tempat minum bergaya inggris. untuk minum-minum sambil menonton sepak bola bersama.

Zhou Heyi adalah penggemar sepak bola klasik, bahkan ada percikan di matanya saat dia berbicara dengan penuh semangat tentang sepak bola. Dia menjelaskan kepada He Gu bahwa kualifikasi Kejuaraan Eropa sedang dimainkan. Dia bahkan menjelaskan secara mendetail tentang kekuatan dan strategi permainan masing-masing tim. Pada akhirnya, ia dengan bangga mengumumkan bahwa tim Belanda adalah favoritnya dan akan memiliki peluang terbesar untuk menang tahun ini.

He Gu mendengarkan pria muda yang bersemangat itu dengan senyum di wajahnya dan sedikit rasa iri terhadap energi mudanya.

Zhou Heyi adalah seorang pemuda yang berpikiran sederhana, baik, antusias, dan ceria. Hanya dengan berada di sebelahnya, He Gu bisa merasakan energi menular namun santai keluar darinya dalam gelombang.

Pada malam hari, mereka kembali ke hotel di tepi kanal.

Zhou Heyi mengantar He Gu ke pintu masuk hotel dan berkata sambil tersenyum, “Tuan He, kamu harus naik dan istirahat. Jam berapa aku harus menjemputmu besok?”

Dengan bingung, He Gu bertanya, “Apakah kamu tidak tinggal di sini juga?”

“Bagaimana aku bisa bertahan di sini? Mungkin untuk beberapa hari aku bisa, tapi aku akan menemanimu selama sebulan penuh. Tidak mungkin perusahaan akan memesankanku hotel seperti ini.” Zhou Heyi mengedipkan matanya lalu berkata, “Pengemudi tinggal di hostel3Tempat menginap dimana fasilitas akan digunakan bersama seperti kamar mandi, ruang TV, dsb.. Jangan khawatir tentang itu.”

“Hotel macam apa itu?”

“Jenis di mana ada selusin orang yang tinggal di kamar yang sama.” Zhou Heyi menggaruk kepalanya dan menambahkan, “Lagipula ini hanya untuk tidur.”

He Gu mengerutkan kening. “Naik dan tinggallah bersamaku sebagai gantinya. Kamar hotel yang aku pesan harusnya kamar dengan tempat tidur ganda. Bahkan jika itu bukan kamar dengan tempat tidur ganda, tempat tidurnya harusnya cukup besar–kamu bisa tidur denganku. ”

Zhou Heyi terdiam, “Sepertinya itu tidak terlalu pantas, Tuan He.”

“Kita berdua laki-laki, apa yang perlu dikhawatirkan? Lagipula aku hanya sendiri. Bagaimana kamu bisa beristirahat dengan baik di tempat kumuh seperti itu? Kamu adalah sopirku, jadi keselamatanku ada di tanganmu. Aku hanya ingin kamu beristirahat dengan benar setelah mengemudi sepanjang hari. ”

Zhou Heyi tersentuh saat dia berkata, “Tuan He, kamu orang yang sangat baik.”

“Tidak juga. Ayo naik.”

Saat He Gu bepergian dengan gembira keliling Eropa, Song Juhan yang ditinggalkan di Beijing berada dalam keadaan yang mengerikan.

“Apa yang kamu temukan? Katakan padaku.” Song Juhan duduk di kursi kulit kantor, matanya merah dan ekspresinya muram. Hanya dari pandangan pertama, sudah jelas dia sangat lelah.

“Dia membeli tiket sekali jalan ke Amsterdam pada tanggal 17. Setelah itu, ia menggunakan kartu kredit untuk membayar biaya perjalanan, hotel, restoran, dan paket wisata dari agen perjalanan lokal. Kami meretas database biro perjalanan dan mendapatkan rencana perjalanannya.” Seorang pria mengenakan setelan bersih meletakkan folder di atas meja di depan Song Juhan.

Song Juhan membuka folder dan melirik isinya–itu adalah rencana perjalanan yang sangat biasa. Menggosok alisnya, dia berkata, “Perhentian berikutnya adalah Jerman. Pesankan aku tiket ke Berlin.”

“Tuan muda, kamu memiliki acara yang sangat penting lusa….”

Song Juhan meninggikan nada suaranya saat dia mengucapkan setiap kata, “Pesankan tiket untukku.”

Pria itu menatap Song Juhan tanpa daya. “Tapi jika Ketua Song….”

Song Juhan membanting tangannya di atas meja dengan keras saat dia memelototi pria lain dengan kejam. Dengan suara sedingin es, dia berkata, “AKU BILANG… Pesankan aku…Sebuah tiket.”

Pria itu mengangguk, lalu segera pergi.

Song Juhan bersandar dengan lelah. Setelah beberapa detik hening, dia tiba-tiba berdiri dan menyapu semuanya dari meja dengan gerakan kasar sebelum membanting tinjunya ke meja kayu solid dua kali. Benda-benda berserakan di mana-mana saat dia menatap lembaran tipis rencana perjalanan He Gu di lantai, matanya memerah.

He Gu…

Setelah selesai dengan pertunjukan amal yang melelahkan di Melbourne, Song Juhan bergegas kembali ke Beijing pada malam yang sama dengan penerbangan jarak jauh selama lebih dari sepuluh jam. Ketika dia sampai di rumah He Gu dengan seikat suvenir dan hadiah, dia bertemu dengan rumah kosong dan nomor telepon yang sudah terputus.

Song Juhan menjadi gila. Pada pagi hari ketika dia pergi, dia sebenarnya merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi dia tidak repot-repot memikirkannya terlalu dalam. Selama beberapa hari yang dia habiskan di Melbourne, dia terus-menerus merasa tidak nyaman dan gelisah. Begitu dia selesai dengan acara itu, dia langsung bergegas kembali.

Song Juhan tidak pernah merasa begitu putus asa untuk melihat He Gu. Dia perlu melihat pria itu untuk menghilangkan kegelisahan dalam dirinya.

Tapi dia sudah terlambat.

He Gu telah pergi.

Dia tidak meninggalkan apa pun–tidak catatan, pesan, atau cara untuk menghubunginya. Dia pergi begitu saja dengan tiba-tiba, tanpa sepatah kata pun… dan begitu saja.

Song Juhan merosot ke sofa, tidak bisa berdiri lagi. Untuk pertama kalinya, dia mengalami ketakutan yang tak terlukiskan. Itu bukan karena dia takut dia tidak akan bisa menemukan He Gu; dia lebih takut dengan alasan He Gu yang bergegas pergi tanpa sepatah kata pun.

Ketika dia bertanya kepada He Gu apakah dia keberatan atau tidak, dia benar-benar berpikir He Gu tidak keberatan … Mengapa dia begitu bodoh untuk percaya bahwa He Gu benar-benar tidak keberatan?

Kenapa… Kenapa He Gu tidak mengatakan apapun?!

Dengan koper yang dikemas sederhana dan tubuh yang lelah dan terluka, Song Juhan naik ke pesawat. Dia berkelahi dengan pengawal ayahnya saat dia pergi–dia menang.

Hanya ada satu pikiran di benaknya: Dia ingin melihat He Gu.

Sejak Song Juhan kehilangan kontak dengan He Gu, dia terus-menerus merasakan ketakutan yang mengerikan. Dia memiliki perasaan yang mengganggu bahwa jika dia tidak menemukan He Gu sekarang, He Gu akan selamanya menghilang dari hidupnya.

Ketika dia tiba di Berlin, Song Juhan sangat kelelahan, tetapi dia masih bergegas menuju alamat yang tercantum pada rencana perjalanan He Gu dan menemukan hotel. Dia berjalan ke meja depan dan mengatakan dia adalah teman He Gu ketika resepsionis menelepon kamar He Gu–tetapi tidak ada yang menjawab.

Di luar masih terang, jadi mereka pasti masih keluar mengunjungi kota. Song Juhan duduk di sofa besar di lobi hotel dan menunggu, menatap tajam ke pintu putar.

Dia menunggu dari pagi yang cerah sampai matahari terbenam. Akhirnya, seorang pemuda keturunan Asia berjalan masuk. Ketika dia melewati Song Juhan–matanya melebar lucu saat dia menatapnya dengan terkejut.

Dengan semua yang telah terjadi, Song Juhan sedikit kacau akhir-akhir ini. Selain itu, dia berasumsi tidak ada yang akan mengenalinya di Jerman, jadi dia lupa menutupi wajahnya pagi itu. Mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri, Song Juhan hanya balas menatap dengan acuh tak acuh.

Pria muda itu berlari dan tergagap dengan penuh semangat, “Kamu, kamu, kamu… Apakah kamu Song Juhan?! Ya Tuhan, kamu adalah Song Juhan!”

Song Juhan menatapnya dengan dingin.

Pria muda itu menggaruk kepalanya dengan canggung dan bertanya dengan ragu, “Bisakah aku meminta tanda tanganmu?”

Song Juhan mengangguk.

Setelah lama meraba-raba sakunya, pemuda itu menyadari bahwa dia tidak memiliki kertas apa pun. Jadi dia berlari ke meja depan untuk meminta pena dan meminta Song Juhan untuk menandatangani langsung di bajunya.

Song Juhan hanya ingin mengirimnya pergi dengan cepat, jadi dia menulis inisial namanya.

Pria muda itu mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya sebelum dia pergi dengan gembira.

Setelah hari yang panjang, mereka memilih restoran acak di dekat hotel untuk makan malam sebentar. Begitu mereka duduk, He Gu mengeluh bahwa AC terlalu kuat dan dia kedinginan. Jadi Zhou Heyi memutuskan untuk berjalan kembali ke hotel untuk mengambil jaketnya. Dengan jaket He Gu di tangannya, Zhou Heyi meninggalkan kamar hotel dan berjalan kembali ke restoran.

Dia tidak menyangka akan bertemu Song Juhan di lobi hotel!

Zhou Heyi terlalu bersemangat sehingga langkah kakinya tidak menentu. Komunitas Tionghoa di Belanda tidak begitu besar, dan semua anak muda seusianya memiliki minat yang sama. Mereka sering mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu Song Juhan. Zhou Heyi tidak pernah menyangka kebetulan yang menyenangkan akan terjadi padanya.

Ketika dia kembali ke restoran, Zhou Heyi masih melompat-lompat, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

He Gu tersenyum dan berkata, “Apakah kamu menemukan uang? Kenapa kamu terlihat sangat bersemangat?”

“Bahkan lebih baik daripada menemukan uang.” Zhou Heyi tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Aku bertemu idolaku. Ya Tuhan, bagaimana dunia ini begitu kecil?!”

“Oh, siapa? Cristiano Ronaldo?”

“Song. Ju. Han!” seru Zhou Hei.

Wajah He Gu memucat, “Song Juhan?”

“Ya. Ayolah, tidak mungkin kamu tidak tahu siapa dia. Apakah ada orang yang tidak mengenalnya di China?”

Mencengkeram jaketnya erat-erat di tangannya, He Gu bertanya, “Kenapa dia datang ke sini?”

“Entahlah, mungkin dia sedang berlibur juga. Terlebih lagi, dia sebenarnya menginap di hotel yang sama dengan kita. Aku bertemu dengannya di lobi hotel.” Zhou Heyi mengulurkan ujung t-shirtnya untuk menunjukkan kepada He Gu. “Lihat, dia bahkan memberiku tanda tangan.”

He Gu mengambil segelas sampanye dan dengan cepat meneguknya. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia bertanya dengan tenang, “Hei, apakah kamu mengikuti berita di China?”

“Oh? Berita, tidak juga… Maksudmu insiden narkoba dengan tim kreatif Song Juhan? Aku memang mendengar sedikit tentang itu.”

“Kalau begitu mulai sekarang, jangan tanya apa-apa padaku. Masuk saja ke kamar hotel, ambil barang bawaanku, lalu beri tahu biro perjalanan untuk membatalkan semua pemesanan ke depan. Selama sisa perjalanan, kita akan memesan semuanya sendiri dan kamu tidak boleh memberi tahu siapa pun. Malam ini kita akan menarik cukup uang tunai untuk bertahan selama sisa perjalanan, dan kemudian mencoba membayar semuanya hanya dengan uang tunai… Apakah mobilmu memiliki pelacakan satelit?”

“…Tidak.” Zhou Heyi tercengang, dia terdiam sesaat sebelum dia berbisik, “Tuan He, apakah kamu seorang mata-mata?”

Menutup matanya sejenak, He Gu berkata, “Tidak peduli apa yang aku katakan, jangan ajukan pertanyaan. Aku akan membayar semuanya, jadi lakukan saja apa yang aku katakan. Aku berjanji tidak akan membuatmu melakukan sesuatu yang ilegal atau berbahaya.”

“Oh. En, oke.” Zhou Heyi merasa tidak nyaman, tetapi tidak berani menanyainya lagi.

He Gu menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan ekspresinya, lalu menyesap sampanye lagi.

Song Juhan, apa yang kamu inginkan? Sebenarnya, tidak masalah apa yang kamu inginkan lagi, karena itu tidak lagi penting bagiku.


 

KONTRIBUTOR

Chu
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments