Penerjemah: Chu


Saat cuaca menghangat, Song Juhan perlahan kembali ke mata publik. Untuk mendapatkan kembali perhatian publik, dia tidak memulai dengan mengerjakan pekerjaannya sendiri, tetapi malah menemani Vanessa ke acara amalnya. Kadang-kadang, dia juga muncul di berita utama gosip dengan aktris Zhang Xiaoli, bersama dengan foto ‘candid’ dari keduanya.

Sepanjang hidupnya, Song Juhan hanya mengungkapkan secara terbuka hubungan romantisnya sekali. Saat itu dia masih remaja dan masih belajar musik di Amerika. Dia berkencan dengan putri orang berpengaruh di musik pop. Keduanya memiliki usia yang sama, dengan penampilan luar biasa, dan berasal dari keluarga terkenal. Meskipun hubungan itu dimulai dengan baik, itu ditakdirkan untuk gagal, karena hampir tidak mungkin hubungan mereka bisa matang dan bertahan melalui kehidupan publik mereka yang terus berubah. Sekarang putri itu sudah bercerai dan menikah lagi, namun Song Juhan tetap ‘lajang’ sepanjang waktu, terlepas dari skandal terlarangnya yang tak ada habisnya.

Akhir-akhir ini, media berspekulasi tentang apakah Song Juhan akan mempublikasikan hubungannya dengan Zhang Xiaoli untuk melawan rumor homoseksualitasnya. Bagaimanapun, Zhang Xiaoli bukan hanya wajah yang cantik, dia juga dari keluarga terkemuka, dan cocok dengan Song Juhan.

Setiap kali Song Juhan melihat artikel itu, dia akan mencibirnya dengan jijik. “Semua foto itu palsu. Itu adalah foto-foto dari orang-orang yang sengaja dibayar untuk mengambilnya secara ‘diam-diam’. Setelah mereka mengambil satu, mereka akan selalu mengeluh bahwa sudutnya buruk dan membuatnya terlihat buram. Seolah-olah kamera yang harus disalahkan….”

He Gu hanya tutup mulut.

Song Juhan menarik He Gu dengan erat ke dalam pelukannya dan berkata, “Itu semua palsu, dia hanyalah artis kontrak lain di perusahaan kami. Kamu tidak keberatan, kan?”

“Aku tidak keberatan.”

Song Juhan mencium mulutnya dengan ganas sebelum dia berkata dengan genit, “Tapi aku ingin melihatmu cemburu.”

“…Kamu tidak menginginkan itu.”

Setelah menganggur begitu lama, He Gu mulai merasakan kegelisahan. Tetapi seperti yang dia katakan sendiri, tidak mungkin baginya untuk menemukan pekerjaan di Beijing saat ini. Karena itu, dia berpikir untuk memulai bisnisnya sendiri, tetapi dengan kurangnya keterampilan sosial, dia pikir itu akan menjadi tantangan yang lebih besar daripada sekadar mencari pekerjaan. Pada akhirnya, He Gu memutuskan untuk menelepon Gu Qingpei untuk meminta nasihat.

Dia tidak pernah bisa membayangkan bahwa dalam waktu sesingkat itu, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi pada Gu Qingpei.

Sejak dia mengundurkan diri dari Nanchuang, He Gu dan Chen Shan masih terus berhubungan. Hari itu, Chen Shan meneleponnya tiba-tiba dan mengatakan sesuatu telah terjadi pada Gu Qingpei. He Gu menelan ludah saat dia bertanya dengan khawatir, “Apa, apa yang terjadi?”

“Aku baru tahu hari ini… bahwa Ketua Gu juga gay. Sebenarnya, bukan hanya aku, aku pikir semua orang mungkin tahu sekarang.”

“…Apa maksudmu?”

“Foto-foto vulgar Gu Qingpei dan seorang pria telah dikirim ke kotak surat perusahaan dari perusahaan barunya. Kamu tahu betapa populernya dia, ada terlalu banyak orang yang mengenal Gu Qingpei. Sekarang seluruh perusahaan tahu… Apakah kamu ingin melihatnya juga? Aku punya beberapa.”

He Gu menggigil, lalu menarik napas dalam-dalam. Dia masih bisa merasakan hawa dingin menjalari dirinya saat dia gemetar. “Aku tidak mau melihatnya.” Lebih dari siapa pun, He Gu memahami perasaan memalukan seolah ditelanjangi untuk dilihat semua orang.

“Sebenarnya tidak terlalu vulgar, hanya bagian atas tubuhnya yang terungkap. Tapi wajah Ketua Gu terekspos, sementara pria lainnya ditutupi.”

Tanpa banyak usaha, He Gu mungkin bisa menebak apa yang terjadi. Pria yang ditutupi pasti adalah Yuan Yang. Dalam hal ini, orang yang menyebarkan foto mungkin adalah Yuan Lijiang, yang melakukannya dengan sengaja untuk menantang hubungan mereka. Yuan Lijiang berasal dari latar belakang revolusioner1红色背景- secara harfiah: Latar belakang merah. Merah adalah warna simbolik Revolusi Tiongkok. dan sangat konservatif. Bagaimana mungkin dia bisa mentolerir skandal seperti itu dari putra sulungnya?

Sambil menghela nafas, Chen Shan berkata, “Ketua Gu sangat malang. Dia orang yang baik dan bermartabat, apa yang akan dia lakukan sekarang?”

“Chen Shan, kamu harus menghapus email itu, dan mendesak semua orang di perusahaan untuk menghapusnya juga. Aku akan menelepon Direktur Sun sendiri dan memintanya untuk mencegah hal-hal ini menyebar di Nanchuang. Jika kamu mengenal seseorang yang terus menyebarkan ini, beri tahu aku. Ketua Gu telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan Nanchuang. Jika kita membiarkan desas-desus ini memfitnah kehidupan pribadinya, bagaimana Nanchuang masih bisa disebut perusahaan yang bermartabat?”

Chen Shan segera menjawab dengan serius, “Ketua He, Anda2您- kamu (bentuk sopan) benar. Aku akan meminta mereka semua untuk segera menghapusnya.”

Setelah dia menutup telepon, tangan He Gu masih gemetar. Dia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Gu Qingpei saat ini. Pria itu selalu bersemangat tinggi dan penuh percaya diri. Dia selalu tampil sempurna dan elegan di depan umum. Bagaimana dia bisa bertahan hidup saat menerima penghinaan total seperti itu….

Baru setelah dia menarik napas dalam-dalam, He Gu berhasil menenangkan gejolak batinnya dan menelepon Ketua Nanchuang. Direktur Sun selalu sangat menghargai etos kerja He Gu dan merasa sangat tidak berdaya dan menyesal atas pengunduran dirinya baru-baru ini. Setelah mendengar apa yang He Gu katakan, dia jelas terkejut dengan ketidakadilan situasi dan berjanji untuk tidak membiarkan foto-foto itu menyebar di Nanchuang.

He Gu memahami situasi, dan mengatakan bahwa dia masih istirahat dari pekerjaan.

Direktur Sun terdiam beberapa saat sebelum dia berkata, “Aku tahu sulit bagimu untuk mencari pekerjaan saat ini. Nanchuang memiliki banyak anak perusahaan internasional. Meskipun aku tidak bisa menawarkanmu posisi di kantor pusat kami di Cina, kamu dapat memilih dari salah satu perusahaan internasional kami. Meskipun aku harus mengatakan, bisnis utama kami adalah energi, jadi aku tidak yakin apakah akan ada posisi yang cocok untukmu di mana saja. Tetapi selama kamu menginginkannya, aku bisa memberimu posisi.”

“Terima kasih, Direktur Sun,” kata He Gu dengan penuh terima kasih. Meskipun dia tidak ingin pergi ke luar negeri, He Gu masih cukup tersentuh karena bosnya memikirkan masa depannya.

Setelah dia menutup telepon, He Gu menelepon Gu Qingpei. Dan benar saja, nomornya sudah tidak aktif.

Mengambil kunci dan mantelnya, He Gu memutuskan untuk pergi ke rumah Gu Qingpei dan memeriksa pria itu sendiri. Tapi tidak peduli berapa kali dia membunyikan bel pintu, tidak ada yang menjawab. Dengan enggan, He Gu hanya bisa kembali ke rumah.

Begitu sampai di rumah, He Gu tiba-tiba teringat sesuatu dan dengan cepat memanggil kepala SDM di Nanchuang. Dia meminta kontak darurat Gu Qingpei, dan berhasil mendapatkan nomor telepon ayah Gu Qingpei.

Panggilan itu segera tersambung, He Gu dengan hati-hati berkata, “Halo paman. Senang bertemu denganmu. Aku teman Gu Qingpei.”

“Oh, teman Qingpei… Halo. Um, bagaimana kamu mendapatkan nomorku?”

“Ponsel Gu Qingpei dimatikan dan aku sangat perlu menghubunginya, jadi aku meminta nomormu pada perusahaan.”

“Ada hal mendesak apa? Apakah sesuatu terjadi?”

“Tidak ada, hanya sesuatu yang ada hubungannya dengan pekerjaan.” He Gu merasa lega; jelas ayah Gu Qingpei masih tidak tahu apa-apa. “Jadi, apakah kamu bisa menghubunginya untukku?”

“Dia baru pulang kemarin.” Paman Gu menghela nafas dan melanjutkan, “Sesuatu pasti telah terjadi di tempat kerja–dia sudah murung sejak dia tiba di sini. Aku belum pernah melihatnya seperti ini. Apakah dia melakukan sesuatu yang salah di tempat kerja? Apakah dia akan dipecat karena itu?”

He Gu merasakan ledakan kesedihan. “Tidak, dia tidak melakukan kesalahan apapun. Bisakah aku berbicara dengannya sebentar?”

“Tentu, tunggu sebentar.”

Suara ketukan bisa terdengar melalui telepon, lalu suara Paman Gu saat dia berkata, “Qingpei, temanmu sedang menelepon.”

Setelah beberapa saat, Paman Gu bertanya, “Siapa namamu?”

“He Gu.”

Setelah beberapa detik lagi, suara gemerisik ponsel diambil dapat terdengar, dan disusul suara lelah dari Gu Qingpei, “He Gu.”

He Gu merasa tidak nyaman saat mendengar nada lelah Gu Qingpei. “Ketua Gu, apakah kamu baik-baik saja?” Dia bertanya.

Dengan tawa pahit, Gu Qingpei memberikan jawaban singkat lainnya, “Jelas tidak.”

“Ada yang bisa aku bantu?”

“Bisakah kamu menelepon Direktur Sun, dan katakan padanya….”

“Aku sudah meneleponnya.”

Gu Qingpei menghela nafas panjang. “He Gu, kamu selalu bisa diandalkan.”

“Tentu saja. Apakah ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?”

“Tidak, tidak ada yang bisa membantuku dengan ini. Saat ini, aku hanya berharap orang tuaku tidak mengetahuinya.”

He Gu terdiam sejenak. “Ketua Gu, kamu menghiburku ketika aku mengalami hal serupa di awal tahun ini. Aku masih ingat kata-katamu saat itu. Aku tahu, aku tidak pandai menghibur orang lain, dan aku tidak fasih berbicara sepertimu, tapi aku dapat mengulangi persis apa yang kamu katakan padaku sehingga kamu dapat sedikit terhibur.”

Gu Qingpei tertawa. “Ini pertama kalinya aku mendengar seseorang menghibur orang lain seperti ini, tapi ini sangat efektif, terima kasih. Sejujurnya, secara logika, aku tahu semuanya akan baik-baik saja, hanya saja aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Akhir-akhir ini, …keadaan pikiranku sangat buruk, tapi jangan khawatir–kemunduran semacam ini tidak akan membuatku jatuh.”

“Bagus. Kamu jauh lebih kuat dariku, jadi aku percaya padamu.”

“Tidak, kamu jauh lebih kuat dariku,” kata Gu Qingpei pelan. “Aku baru menyukainya selama satu tahun, dan aku sudah tidak bisa mempertahankannya. Kalian sudah tujuh tahun bersama… Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kamu menanggungnya.”

He Gu tercengang saat gelombang emosi yang luar biasa menyerbunya.

Dia bahkan tidak yakin mengapa; setelah semua yang dia alami–tidak peduli seberapa menyakitkan itu–dia tidak pernah menangis. Hanya ketika dia mendengar tentang masa lalu Song Juhan dan Feng Zheng, dia meneteskan air mata untuk pertama kalinya. Tapi karena satu kalimat Gu Qingpei, He Gu merasa jantungnya mengencang kesakitan.

“Aku benar-benar gagal,” kata Gu Qingpei mencela diri sendiri. “Ketika aku masih muda, riang, dan tidak khawatir tentang dunia, aku tidak benar-benar merasakan cinta dan rasanya kehilangan. Tapi sekarang aku sudah setua ini, aku telah benar-benar menghancurkan segalanya. Ini benar-benar… takdir.”

He Gu menghela nafas panjang dan berkata dengan suara serak, “Ya, takdir.”

Setelah He Gu menutup telepon, suasana hatinya sangat buruk. Dia sangat marah, tapi anehnya dia tidak tahu apa yang dia marahi. Keadaan Gu Qingpei sekarang hanya mengingatkan He Gu tentang dirinya beberapa bulan yang lalu. Pada saat itu, dia penuh dengan dendam, ketidakberdayaan, frustrasi, dan rasa sakit–begitu banyak rasa sakit. He Gu bergidik saat mengingatnya. Dia bahkan tidak ingin memikirkannya lagi.

Untungnya, Gu Qingpei sama seperti dia. Dia mampu bertahan dalam situasi sulit, dan begitu dia mengatasi rintangan ini, dia akan baik-baik saja.

Hanya saja bekas luka di hatinya tidak akan pernah sembuh seumur hidup ini.

He Gu duduk tak bergerak untuk waktu yang lama, sampai bel pintu tiba-tiba berbunyi. Dia terkejut dan akhirnya kembali sadar. Pikiran pertamanya ketika dia pergi untuk membuka pintu adalah bahwa Song Juhan pasti datang lagi. Tetapi orang yang berdiri di sisi lain pintu membuatnya menahan amarahnya.

Itu adalah seorang wanita. Dia mengenakan kacamata hitam besar, menutupi hampir separuh wajahnya. Meski begitu, itu tidak bisa menyembunyikan fitur wajahnya yang indah dan halus.

Samar-samar, He Gu merasa dia tampak tidak asing. “Hai, siapa yang kamu cari?” Dia bertanya.

Dia melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan wajah yang lembut dan cantik. Matanya yang bercahaya dan magnetis begitu menawan, dipasangkan dengan rambut hitam berkilau yang mengalir di kulitnya yang mulus tanpa cacat. Ciri-ciri halus itu mendorong naluri protektif dari semua yang menatapnya.

He Gu langsung mengenalinya. Itu adalah kekasih baru Song Juhan yang dikabarkan–Zhang Xiaoli.

Dengan senyum tipis, dia berkata, “Hai, kamu pasti He Gu.”

Dada He Gu menegang sebagai tanggapan saat dia menjawab tanpa emosi, “Ya.”

Zhang Xiaoli menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya, terlihat sedikit malu namun genit pada saat yang sama. “Bolehkah aku masuk dan mengobrol denganmu?” dia bertanya.

“Tidak pantas bagi gadis muda sepertimu untuk masuk dan keluar dari rumah pria asing.” Secara naluriah, He Gu ingin menghindari orang ini; jauh di lubuk hatinya dia tahu dia (ZXL) hanya akan membuatnya sakit.

Zhang Xiaoli tertegun sejenak sebelum dia tertawa kering, “Tidak masalah, aku tahu kamu… kamu tidak akan tertarik padaku.”

He Gu meliriknya sebentar, lalu pindah ke samping untuk membiarkannya masuk.

Sudut bibir Zhang Xiaoli terangkat sedikit dengan senyum sopan saat dia dengan elegan bergerak di sekitar He Gu dan berjalan masuk. Bahkan ekspresi dingin dan acuh tak acuh He Gu tidak menghalanginya.

He Gu meremas pegangan pintu dengan erat sejenak sebelum dia dengan lembut menutup pintu.

Duduk di sofa, Zhang Xiaoli melihat sekeliling apartemen sampai tatapannya jatuh pada He Gu. “Apakah tempat ini baru saja direnovasi? Aku masih bisa mencium bau cat. Bukankah tidak sehat berada di lingkungan seperti ini?”

“Itu tidak akan apa-apa jika hanya sebentar.”

“Aku tidak membicarakanku, aku mengkhawatirkanmu,” kata Zhang Xiaoli canggung.

He Gu tidak menjawabnya, tetapi langsung ke intinya. “Maaf, tapi apakah ada sesuatu yang kamu inginkan?”

Zhang Xiaoli mengerutkan bibirnya, “En. Kamu pasti sudah tahu tentang aku dan Song Juhan. Aku juga tahu tentangmu, jadi kamu tidak perlu gugup.”

He Gu berkata dengan tenang, “Zhang-xiaojie3小姐- xiaojie, sufiks yang digunakan untuk nama seseorang. Ini bisa berarti nona muda atau nona., kamu terlihat lebih gugup daripada aku.”

Zhang Xiaoli mengerutkan kening dan tetap diam untuk sementara waktu. “Sebenarnya, aku sudah memikirkan ini sejak lama. Aku tidak tahu apakah aku harus datang menemuimu sendiri….”

“Siapa yang memberimu alamatku?”

Sedikit goyah, Zhang Xiaoli bergumam, “Uh…”

“Siapa yang memberikan alamatku padamu?” He Gu menatap lurus ke arahnya dengan ekspresi gelap namun tanpa emosi di matanya.

Bahu Zhang Xiaoli merosot saat dia berkata, “Ketua Song yang memberikannya kepadaku.”

“Ketua Song, dia benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa,” kata He Gu mengejek.

Zhang Xiaoli mengutak-atik rambutnya yang rapi. “Aku tahu aku cukup tidak sopan dan kamu mungkin tidak senang dengan ini. Tapi aku tidak bisa mengatur untuk bertemu denganmu di mana pun di depan umum, karena para penggemar akan segera mengenali kita. Jadi aku memutuskan untuk datang ke rumahmu sebagai gantinya. Mm… Kupikir, bagaimanapun juga, aku harus datang menemuimu sendiri. Lagi pula, jika aku dan Juhan menikah, aku ingin tahu apakah aku bisa menerimamu atau tidak.”

He Gu merasa seperti disambar petir!

Me… Menikah?!

Zhang Xiaoli memperhatikan reaksi He Gu, lalu berkata dengan terkejut, “Kamu… kamu tidak tahu?”

Rasa sakit yang tajam melonjak melalui dada He Gu seolah-olah dia telah ditikam di jantung.

Menikah….

Dia mengepalkan tinjunya dan menggertakkan giginya, “Lanjutkan.”

Song Juhan–bagaimana kamu selalu menemukan cara baru untuk ‘mengejutkan’ku. Setiap kali ketika aku pikir aku telah mencapai titik terendah, kamu entah bagaimana berhasil menguburku beberapa meter lebih dalam.

Hatiku sudah dikosongkan, sampai-sampai tidak ada secuil daging pun yang tersisa.

Zhang Xiaoli memutar matanya, lalu mengungkapkan senyum elegan dan manis yang sama dari sebelumnya, “Juhan berkata dia akan memberitahumu–kami berencana untuk menikah pada akhir tahun. Aku kira itu masih lebih dari setengah tahun lagi, itu sebabnya dia belum memberitahumu.”

He Gu mendengar suaranya sendiri yang tanpa nada saat dia berkata, “Lalu kenapa kamu ada di sini sekarang?”

“Pernikahan kami sangat tidak biasa dan ada banyak syarat yang menyertainya, tapi aku benar-benar menyukainya.” Zhang Xiaoli tersenyum, “Aku tahu hubunganmu dengan Juhan sangat baik dan kamu mungkin orang yang sangat baik, jika tidak, Juhan tidak akan bersamamu selama bertahun-tahun. Aku pikir… aku bisa menerimamu.”

He Gu memejamkan matanya sejenak; udara di sekitarnya terasa lebih berat pada detik saat dia mendapati dirinya tidak dapat bernapas.

Wanita muda ini pada dasarnya menampar wajahnya berulang kali. He Gu merasa sangat malu, dia ingin menghilang di tempat.

Ketika Xiao Song memanggilnya ‘istri sah’ Song Juhan, He Gu sudah merasa sulit untuk menelannya. Tapi hal yang lebih buruk dari itu adalah dia juga akan kehilangan gelar itu.

Apa yang dipikirkan wanita muda ini tentang dia (He Gu) sama dengan apa yang dipikirkan Song Juhan tentang dia.

Bagi Song Juhan, He Gu tidak lebih dari seorang ‘simpanan’.

Jika bukan karena momen yang salah saat ini, He Gu benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak.

Benar-benar konyol–ini terlalu konyol. Seluruh keberadaannya, atau seluruh situasi ini, sangat menjijikkan dan konyol.

He Gu berpikir dia cukup berhati-hati dengan hanya memberikan lebih dari setengah dari dirinya sendiri. Dia berpikir, kali ini, dia memiliki sedikit keuntungan dalam hubungan mereka yang sangat rumit, tetapi Song Juhan entah bagaimana masih berhasil menusuknya tepat di tempat yang paling menyakitkan.

Dalam tujuh tahun, tikaman ini adalah yang terdalam, terkuat, dan paling menyakitkan dari semuanya.

Zhang Xiaoli mengamati He Gu, sedikit senyum muncul di matanya saat dia melanjutkan, “Aku orang yang sangat mudah bergaul. Aku pikir kita bisa bergaul dengan baik. Jangan khawatir, aku tidak akan meminta Juhan untuk selalu bersamaku.”

He Gu menatapnya dengan tercengang; tatapannya sepertinya telah menembusnya dan melihat ke tempat yang tidak diketahui.

“Mmm… aku tahu sulit bagimu untuk mencari pekerjaan saat ini. Jika kamu tidak keberatan, aku dapat membantumu dengan itu. Bagaimana kalau kamu menjadi asistenku? Gajinya terserah kamu. Plus, dengan cara ini kamu selalu bisa melihat Juhan, dan dia tidak akan terganggu pekerjaannya karena kamu…”

Tatapan He Gu akhirnya kembali ke wajahnya. Entah dari mana, dia tertawa kaku dan berkata, “Tentu, gaji tahunanku adalah enam ratus ribu yuan ditambah bonus akhir tahun. Aku bekerja empat puluh jam dalam seminggu. Lembur dibayar tiga kali lipat dari tarif normal, dan selain hari libur resmi, aku ingin sepuluh hari libur.”

Ekspresi Zhang Xiaoli menjadi lebih buruk semakin lama dia mendengarkan kata-kata He Gu. Setelah beberapa saat, dia tergagap, “Asisten seorang selebriti… tidak memiliki jadwal tetap.”

He Gu menjawab dengan tenang, “Kalau begitu, kurasa kamu tidak bisa mempekerjakanku.”

Satu-satunya bukti kekesalan Zhang Xiaoli adalah jari-jarinya mengencang di sekitar kain rok halusnya saat dia perlahan berdiri. “Secara keseluruhan, aku hanya ingin mengenalmu terlebih dahulu. Aku harap kita akan rukun di masa depan. Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu lagi, aku akan pergi sekarang.”

“Baiklah, silahkan.”

Setelah Zhang Xiaoli pergi, He Gu ambruk di sofa, terengah-engah dan berjuang untuk bernapas saat dia menekan telapak tangannya ke dadanya dalam upaya menahan rasa sakit yang menyesakkan.

Dengan jari gemetar, He Gu meraih ponselnya dan mengirim pesan ke Song Juhan: Apakah kamu akan datang malam ini?

Song Juhan dengan cepat membalas: Aku akan segera ke sana. Tunggu aku, sayang.

He Gu melihat kata ‘sayang’ yang mencolok, dan akhirnya tertawa terbahak-bahak. Tawa histeris dan tercekik bergema di sekitar ruangan kosong, terdengar sangat suram dan sangat dingin.

Ketika Song Juhan tiba, He Gu sudah mandi air dingin dan berganti pakaian rumah yang baru. Seperti biasa, dia tampak tenang dan damai.

Song Juhan langsung pergi ke meja untuk meletakkan barang-barang yang dibawanya. “Temanku memberiku sup sarang burung walet yang sangat enak. Ini baik untuk kesehatanmu. Lihat dirimu, akhir-akhir ini kamu sudah makan banyak tapi tidak bertambah berat sama sekali.”

Dengan hati-hati, He Gu memandang Song Juhan, mengamati pria lain dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa melewatkan satu inci pun.

Song Juhan merinding dari cara He Gu menatapnya tanpa berkata-kata. “Apa yang salah denganmu?” Dia bertanya.

He Gu mengangkat matanya perlahan untuk bertemu dengan mata pria lain, lalu langsung ke intinya, “Zhang Xiaoli datang menemuiku hari ini.”

Song Juhan membeku, matanya melebar, “Siapa?”

“Zhang Xiaoli, pacarmu yang dikabarkan. Atau haruskah aku katakan–tunanganmu?”

Wajah Song Juhan segera berubah saat dia meninggikan suaranya, “Kenapa dia datang ke sini?! Omong kosong apa yang dia keluarkan?!”

Ekspresi He Gu sedingin es yang membeku, dan tanpa memperlihatkan sedikit pun emosi batinnya, dia berkata dengan wajah dingin, “Dia bilang kalian akan menikah pada akhir tahun, dan dia ingin mengenalku terlebih dahulu.”

Amarah Song Juhan meledak dan dia berteriak, “Idiot sialan! Apa dia sudah gila?!”

“Ayahmu yang memberinya alamatku.”

Song Juhan sangat marah dan mengeluarkan ponselnya, memikirkan sesuatu, lalu membuang ponselnya. Dia bergegas untuk berdiri di depan He Gu, dan berkata dengan kesal, “Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Jangan memikirkan apa pun dan dengarkan aku dulu. ”

He Gu berkata dengan tenang, “Ayo, jelaskan.”

Meremas rambutnya, Song Juhan mulai menjelaskan dengan wajah cemberut, “Reputasiku hancur berantakan sekarang. Ayahku ingin menekan desas-desus tentang homoseksualitasku, jadi dia menemukan dia (zxl) untuk mengalihkan perhatian publik. Dia ingin kami mengatur pernikahan kontrak, jadi kami bisa punya anak bersama dan tenang saja….”

“Oh, kamu akan punya anak bersama juga.” He Gu tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Dia berbicara kepada Song Juhan secara mekanis seolah-olah jiwanya melayang di luar tubuhnya, menyaksikan lelucon ini dengan acuh tak acuh.

“Jika kamu tidak dapat menerimanya, kami akan menggunakan IVF4Bayi tabung.. Aku tidak akan menyentuhnya.” Semakin Song Juhan mencoba mempertahankan situasi, semakin bersalah dia; ditambah dengan ekspresi mati rasa He Gu, Song Juhan merasa sangat bingung. “He Gu, aku belum pernah menyentuhnya, dan aku bahkan tidak menyukainya sama sekali. Aku akan menepati janjiku dan melakukan apa yang aku janjikan kepadamu. Sejujurnya, tidak ada bedanya bagiku apakah aku menikah atau tidak–itu hanya nama.”

He Gu mengangguk.

“Jadi…” Song Juhan bertanya dengan gugup, “Jadi kamu… tidak keberatan?”

He Gu memperhatikan Song Juhan sejenak sebelum dia mengungkapkan senyum tipis, “Aku tidak keberatan.”

Ternyata ketika hati benar-benar telah mati, kamu tidak akan merasakan sakit lagi. Itu sangat bagus.

Song Juhan segera menghela nafas lega. “Aku tahu kamu tidak tahan melihatku dalam situasi yang sulit. Apakah aku akan menikah atau tidak, aku berjanji aku hanya menginginkanmu.”

“Tentu.”

Song Juhan memberinya ciuman lembut, lalu menariknya erat ke dalam pelukannya. “Aku merasa paling nyaman saat bersamamu. Kamu sudah berada di sisiku selama bertahun-tahun, aku tidak bisa hidup tanpamu.”

He Gu merasa linglung saat dia mencium aroma samar di rambut Song Juhan.

Rasanya seperti dia telah mengalami kematian–jenis di mana kamu merasakan rasa kehilangan yang utuh baik dalam kekuatan maupun harapan. Satu-satunya yang tersisa adalah perasaan ketiadaan. Seperti inilah yang He Gu bayangkan tentang akhir kehidupannya, sampai-sampai dia bahkan tidak merasa ingin membalas sama sekali.

Malam itu, mereka bercinta seperti orang gila. Song Juhan terkejut sekaligus senang dengan antusiasme He Gu yang tidak biasa saat dia mendorongnya ke tempat tidur sepanjang malam. Mereka hanya berhenti ketika keduanya pingsan karena kelelahan dan tertidur.

Saat mereka tertidur, He Gu bermimpi indah. Dalam mimpi itu, mereka kembali ke sekolah menengah di mana He Gu melihat Song Juhan dari jauh, sangat jauh, sementara Song Juhan sepertinya tidak mengenalnya sama sekali. Sekali lagi, He Gu dapat merasakan kegembiraan yang dia rasakan saat dia diam-diam memperhatikan idolanya dari kejauhan. Itu adalah perasaan yang luar biasa.

Andai saja kehidupan bisa kembali ke saat pertama kali kita bertemu.


KONTRIBUTOR

Chu
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments