Penerjemah: Jeffery Liu


119.

Kakekku masih sangat dingin, tinggi dan perkasa, bahkan lebih dingin, lebih tinggi dan lebih perkasa dari kakak laki-lakiku.

Dia tidak repot-repot menunjukkan sedikit kesopanannya atau sekadar basa-basi. Dia berbicara langsung pada intinya dan memberi tahuku bahwa dia akan membawa adik perempuan dan adik laki-lakiku pergi bersamanya.

Sejujurnya, jika mereka berdua mau pergi bersamanya, aku pasti akan langsung menyetujuinya! Tapi sekarang mereka tidak mau pergi! Apa gunanya memaksaku memikirkan cara untuk membujuk mereka?! Kenapa kalian tidak menculikku saja dan menggunakanku sebagai sandera untuk mengancam mereka?!

Aku tidak berani mengatakan ini dengan lantang, karena aku sendiri takut jika aku secara tidak sengaja memberinya ide ini, dia benar-benar akan melakukannya.

Siapa yang tahu, mungkin dia akan menanggapinya dengan lebih serius dan langsung membunuhku.


120.

Kakekku berkata jika dia akan membelikan rumah untukku, sebagai ganti adik laki-laki dan perempuanku.

Haahh.

Dan begitulah, niat baik dan sempurna ini lebih terdengar seperti perdagangan manusia. Mau tak mau aku bertanya-tanya apakah ada motif tersembunyi di balik semua ini, apakah dia benar-benar ingin menjual adik laki-laki dan perempuanku?


121.

Tidak, aku tidak bisa melakukan ini. Aku tidak bisa menebak-nebak seperti ini.

Aku menyuruhnya pergi dan bertanya sendiri pada adik perempuan dan adik laki-lakiku.


122.

Aku tidak tahu bagaimana keduanya mendiskusikan masalah ini dengannya, tetapi kakek setuju untuk menyediakan uang untuk biaya sekolah dan biaya hidup mereka.

Ini adalah sesuatu yang sangat hebat dan membahagiakan, tetapi aku tidak bisa merasa bahagia dengan hal ini.

Bahkan aku tidak tahu mengapa aku tidak merasa bahagia. Aku benar-benar merasa ketakutan. Aku lebih takut jika aku akan tidur sambil berjalan di malam hari.

Aku tidak bisa terus seperti ini, aku harus kembali dan bertemu dengan Xue Yaozu.


123.

Tidak, aku tidak bisa pergi menemui Xue Yaozu.

Aku harus mengatasinya sendiri.

Jika dia selalu melihatku bertingkah gila, dia pasti akan cepat kehilangan kesabarannya juga.


124.

Aku sangat percaya pada Xue Yaozu.


125.

Kenapa aku harus percaya pada Xue Yaozu? Ini bukan seperti aku dekat dengannya.


126.

Kenapa aku harus curiga pada semua orang yang bersikap baik padaku?


127.

Ini karena aku gila.


128.

Setelah makan malam, aku membuat alasan dengan berkata jika aku memiliki beberapa hal yang harus dilakukan dan mengunci diri di dalam kamarku. Aku berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit.

Aku tidak berani menyentuh ponselku, bagaimana jika aku mengirim sesuatu yang memberatkan diriku seperti ini?

Tapi hanya menatap langit-langit seperti ini juga tidak membuatku nyaman. Aku merasa seperti sedang berbicara. Pikiranku ingin mengatakan banyak hal, banyak rahasia, rahasia yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain. Jika mereka mengetahuinya, rahasia-rahasia itu akan berpengaruh padaku1. Bagaimana jika aku secara tidak sengaja mengatakannya dengan keras dan direkam oleh alat penyadap di dalam ruangan ini?

Aku tahu kalau tidak ada alat penyadap di ruangan itu, dan aku tahu kalau aku tidak mengatakan apa-apa…. tapi bagaimana jika sesuatu semacam itu terjadi?

Untuk jaga-jaga, aku memutuskan untuk menutup mulutku dengan telapak tanganku sendiri. Dengan begini, jika aku mengatakan sesuatu, aku akan bisa langsung merasakannya.


129.

Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku harus melakukan ini?

Ini tidak seperti aku orang jahat.


130.

Aku mati-matian memberi makan diriku sendiri sup ayam untuk jiwaku.

Tidak apa-apa, tidak peduli apapun yang terjadi, selama aku hidup, segalanya akan baik-baik saja, semua hal lainnya materialistis. Jadi aku tidak perlu takut, aku tidak perlu takut pada apa pun, aku hanya perlu sehat dan terus hidup. Dan segalanya akan baik-baik saja. Semua hal yang aku takutkan tidak akan terjadi, aku tidak bisa menakuti diriku sendiri. Dan, bahkan meskipun sesuatu itu memang terjadi, lalu apa? Itu bukan masalah besar, paling buruk aku akan memulai dari awal lagi.

Emosiku mulai sedikit stabil.

Aku merasa seperti aku bisa menyelamatkan diriku sendiri.

Aku tidak bisa bergantung pada orang lain, aku harus bergantung pada diriku sendiri untuk menjadi lebih baik.

Ini hanya cobaan kecil, tidak lebih, aku bisa melewatinya.

Karena aku adalah seseorang yang harus menjadi hero2. Aku pasti lebih luar biasa, lebih berani dan berkemauan lebih kuat daripada orang lain, pengalaman masa kecilku sangat aneh dan sulit. Itu sebabnya aku harus menjadi karakter utama, jika aku adalah karakter utama maka segalanya tidak masalah, aku akan memiliki halo karakter utama, segala hal yang terjadi sekarang ini hanyalah plot latar belakang, itu saja.


131.

Aku pasti bisa membuat diriku sendiri lebih baik.

Rasanya seperti dalam beberapa menit lagi aku sudah menjadi lebih baik.


132.

Aku beranjak dan mencuci muka, minum teh, dan menonton beberapa klip video.


133.

Tidak ada yang tidak bisa hidup, selama aku memiliki keinginan untuk terus hidup, aku pasti akan terus hidup.

Tidak ada yang mencoba menyiksaku, selama aku tidak menyiksa diriku sendiri.

Bahkan jika Xue Yaozu tidak ada di sini, itu sama saja. Aku bisa pergi dan menemui dokter sendirian, dan jika dokter mendiagnosis aku memiliki penyakit, aku akan bertahan dengan minum obat. Aku pasti akan menjadi lebih baik.

Tidak ada akhir yang lebih buruk daripada kematian, dan terlebih lagi, selama aku tidak menyerah, aku akan bisa terus maju. Aku masih bisa bertahan selama beberapa dekade, siapa yang tahu, suatu hari nanti aku bisa mencapai pencerahan dan memasuki alam dewa3.


134.

Setelah tinggal bersama kakek selama beberapa hari, dia pergi ke tempat lain. Adik laki-laki dan perempuanku dikirim kembali ke sekolah untuk pergi menghadiri kelas. Kakak laki-lakiku juga kembali ke perusahaannya.

Xue Yaozu mengingatkan aku jika aku harus segera pergi ke rumah sakit, dan dia datang pada siang hari untuk menjemputku.

Dan kemudian aku mengatakan kepadanya bahwa aku telah membatalkan janji temu dengan dokter.

Dia menatapku dan bertanya, “K-kenapa?”

“Aku merasa bisa menyembuhkan diriku sendiri, aku tidak mau minum obat. Ini semua hanyalah masalah mental dan masalah perspektif, bagaimana minum obat bisa membantu? Ini bukan seperti obat bisa mengubah pemikiranku, akan lebih baik jika aku mengandalkan konseling psikologis4.”

Xue Yaozu berkata, “K-konseling. psikologis membantu. Tapi k-kamu harus melakukan. Pengobatan.”

Dasar idiot, aku sudah bilang kalau mencoba memecahkan masalah mental dengan minum obat sama saja dengan pergi ke kelas kimia dan mencoba menggunakan konsep biologi untuk melakukan pekerjaan lab.

Dia dengan sabar berkata, “K-kamu. Takut efek sampingnya. ‘k-kan?”

Aku menjawab tidak, aku hanya merasa akan segera sembuh, aku sudah berhasil meyakinkan diriku sendiri, walaupun tidak minum obat, tidak apa-apa.

“Tidak. K-kamu harus pergi. T-temui dokter.”

Aku berseru, “Kalau begitu, bunuh saja aku.”

Segera setelah aku selesai berbicara, aku menyesalinya. Aku bahkan tidak tahu mengapa aku mengatakan hal seperti itu.

Aku langsung ingin meminta maaf, tetapi sebelum aku bisa mengatakannya, entah kenapa aku mulai menangis.

Aku benar-benar menangis begitu saja. Aku hanya perlu minta maaf, untuk apa menangis?! Ini bukan seolah-olah Xue Yaozu akan memukulku!

Dia menarikku ke arahnya dan memelukku. “Ayo. Pergi dan buat janji. K-kamu mungkin. Tidak perlu obat. J-jadi ayo. Pertama. Dengarkan a-apa. Kata dokter. K-kamu tidak pernah tahu, mungkin saja. Kamu hanya menopause.”

Aku hampir mati tersedak ludahku sendiri, apa maksudmu menopause? Sekarang aku bahkan tidak bisa terus menangis.

Dia tersenyum dan berkata, “Jangan menangis. K-kamu paling cantik. K-ketika k-kamu t-tersenyum. K-ketika k-kamu. Tersenyum. Aku bisa melihat kebahagiaan. Hidup menjadi sangat. Indah.”

Sekarang dia bahkan membacakan aku puisi5?

 “Bagaimana kalau aku pergi dan aku masih belum sembuh?” Aku bertanya.

“Kalau begitu rumah sakitnya s-seharusnya tidak akan membuka b-bidang ini. Mereka pasti bisa. Menyembuhkannya.”

Itu tidak meyakinkan sama sekali, tidak ada obat untuk kanker tapi orang-orang masih menipu diri mereka sendiri dan mencoba menyembuhkan penyakit mereka.

Xue Yaozu berkata, “Itu. M-masih lebih baik daripada. K-kamu menyerah sebelum mencoba apapun. Bagaimana bisa. K-kamu memenangkan. Lotere kalau k-kamu. Tidak membeli. Tiket?”

Wow, metafora yang bagus! Saat kamu di sekolah, kamu mungkin mendapat nilai nol saat menulis karangan, bukan?


135.

Xue Yaozu memperhatikanku saat aku menjadwalkan janji lain. Sekali lagi, waktu tunggunya adalah setengah bulan.

“K-kamu tidak. Boleh untuk membatalkannya lagi.”

Aku bilang aku tidak akan melakukannya aku tidak akan melakukannya.

Dia memperingatkan aku dengan penuh arti6. “Kalau k-kamu berbohong. K-kamu akan membuat. Tempat tidurmu. Basah.”

Kalimatnya itu membuatku sangat marah sampai aku harus memikirkan kutukan atau umpata apa yang cocok aku katakan, sebelum pada akhirnya aku berkata “bajingan” dengan lemah.


136.

Dan kemudian kakak laki-lakiku dengan dingin bertanya, “Apa yang kalian berdua lakukan?”

Ciuman duh, apa lagi yang akan kami lakukan saat berdiri di dekat pintu?

Aku menatap kakak laki-lakiku dengan ekspresi tercengang.

Dalam kabut aku melihat secercah harapan.

Aku bisa mendapatkan tiga puluh ribu sekarang. Semoga Xue Yaozu pintar. Harga awalnya setidaknya harus setengah juta.


Tunggu, tidak, apa ini artinya, kakakku bisa melihat Xue Yaozu?


138.

Kakak laki-lakiku melemparkan Xue Yaozu ke ruang tamu dan menyeretku ke ruang kerja. Dengan kemarahan yang begitu dingin, dia bertanya padaku, “Ren Yigu, apa kamu sudah dibodohi oleh nafsumu? Kamu bahkan menggoda pria gagap?! Apa kamu benar-benar begitu menginginkan seorang pria?! Apa kamu gila7?!”


139.

Aku sudah terbiasa dengan ini. Ini bukan pertama kalinya kakakku bilang aku gila, terakhir kali aku menciumnya, dia juga bilang begitu.

Waktu itu memang salahku, dia hampir mati karena dikagetkan olehku.


140.

Sebenarnya kakak laki-lakiku memperlakukan aku dengan sangat baik. Meskipun sejak kecil dia tidak terlalu memperhatikanku, tapi ini benar-benar normal. Jika itu aku, aku tidak sudi memperhatikan orang-orang yang menyebabkan ibuku meninggal karena amarah.

Yang lebih langka lagi adalah kakak laki-lakiku membalas dendam dengan niat baik.

Meskipun ketika ayahku meninggal, kakak laki-lakiku menendangku dan istri baru ayahku, nyonya kedua, keluar dari rumah, itu adalah apa yang dia pikir harus dia lakukan. Dan ketika aku diculik oleh nyonya kedua, kakak laki-lakiku-lah yang menyelamatkan aku. Terlebih lagi, setelah dia menyelamatkan aku, dia bahkan merawatku untuk waktu yang lama.

(Jangan tanya kenapa nyonya kedua memutuskan untuk menculikku, entahlah, mungkin karena aku terlihat paling mudah disandera, atau mungkin dia gila.)

Itu adalah pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku mendengar kakak laki-lakiku berbicara dengan baik padaku. Meskipun dia masih tidak banyak bicara, aku masih sangat berterima kasih.

Nah, aku punya masalah ini, lihat, saat aku bersyukur, aku sangat mensyukuri lahirnya perasaan ini.

Yang lebih parah adalah kakakku mengetahuinya.

Dia sangat terkejut sehingga dia menunjuk ke arahku dan memarahiku selama satu jam, lalu berlari keluar rumah dan tidak kembali lagi setelahnya.

Ini tidak benar, orang yang harus pergi adalah aku.

Jadi aku memutuskan untuk pindah.

Sebenarnya pada titik ini, segalanya tidak terlalu buruk. Setelah aku mulai mandiri untuk sementara waktu, aku mengeluarkannya dari sistemku. Mungkin, jika saat itu yang menyelamatkan aku adalah sopir Paman Wang, aku bahkan akan… hentikan pemikiran itu/hapus hapus.

Dan kemudian aku mulai berkencan dengan mantan pacarku, bajingan senilai tiga puluh ribu.

Kemudian kakak laki-lakiku benar-benar muak denganku.

Mungkin dia pada awalnya mengira aku setengah aneh untuk sementara waktu, tapi kemudian ia sadar jika aku memang selalu seperti itu. Jadi tidak ada yang menyelamatkan aku. Juga, tidak peduli seberapa keras aku mencoba untuk menjelaskan bahwa saat itu otakku benar-benar hanya berpikiran pendek untuk sesaat, dia sudah begitu yakin bahwa aku mengejarnya untuk waktu yang lama dan bahkan dia menjadi lebih jijik denganku.

Jika aku berada di posisi kakak laki-lakiku, situasinya adalah, pada hari itu, ibunya, karena kebaikan hatinya, membantu ibuku, dan hasilnya adalah dia meninggal dalam amarah karena ibuku. Dan sekarang, karena kebaikan hatinya, dia menyelamatkanku dan aku ingin menidurinya.

Jadi dia sama sekali tidak mau mendengar penjelasanku.


141.

Memang benar bahwa satu langkah saja salah, setiap langkah yang diambil setelahnya akan selalu salah8.


142.

“Pria gagap itu sebenarnya sudah sangat bagus, selain cara bicaranya, segala sesuatu tentangnya baik-baik saja. Dia bahkan tidak keberatan aku sakit9.”

“Bajingan sepertimu tidak sakit?!”

Kakakku sangat marah sehingga dia mulai mengumpat.

“Keluarga Ren tidak berhutang padamu, aku juga memperlakukanmu dengan cukup baik. Sebelumnya, keluarga Ren menjadi kaya karena ibuku. Aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi milikku, tidak lebih.”

Aku tidak mengatakan apa-apa. Apa yang dia katakan tidak salah, itu sebabnya aku tidak pernah berpikir untuk memperjuangkan apa pun. Bahkan dalam kasus di mana aku benar-benar tidak mampu untuk membesarkan adik laki-laki dan perempuanku, aku bisa saja meminta bantuannya, tetapi tidak mungkin bagiku untuk dapat secara terang-terangan ​​meminta uang kepadanya.

Dia melanjutkan, “Kamu tidak punya hak untuk membalas dendam padaku.”

“Aku tidak pernah berpikir untuk melakukan itu.” Aku membalas.

Dia tidak percaya padaku.


143.

Kakak laki-lakiku mengunciku di ruang kerja–sepertinya dia tidak berniat membiarkanku keluar.

Dia berpikir bahwa aku melakukan ini dengan sengaja, bahwa aku ingin menjadi aib, dan bahwa aku ingin orang lain menertawakannya.

Tapi bukan itu. Aku juga takut menjadi aib. Aku juga tidak ingin orang lain menertawakan aku.


144.

Aku mendengar, di sisi lain pintu, ada suara perkelahian.


145.

Aku tahu ini sulit dipercaya, tetapi saat mereka berkelahi, aku tiba-tiba ingin tidur.

Aku tiba-tiba merasa sangat lelah.

Ini adalah waktu yang buruk.

Tapi aku benar-benar ingin tidur.


146.

Aku benar-benar tertidur.

Aku belum tidur nyenyak selama berhari-hari.

Jika aku bisa menghilang begitu saja dalam tidurku, bukankah itu menyenangkan? Aku hanya perlu menghapus semua jejak keberadaanku yang pernah hidup di planet ini, seolah-olah tidak pernah ada orang seperti aku.

Tiba-tiba aku sadar, aku tidak takut dengan kematian itu sendiri, tapi aku takut akan ada jejak yang kutinggalkan dari diriku sendiri di dunia ini.

Jika tidak ada yang memikirkanku, maka kepergianku tidak akan menyakitkan.

Bahkan jika hanya ada satu orang yang merindukanku, itu akan membuatku enggan untuk menghilang.

Ada banyak, banyak sekali orang yang akan merindukan aku. Adik laki-laki dan perempuanku akan menangis, teman-temanku akan sedih. Aku tidak ingin mereka sedih.


147.

Jadi akan lebih baik jika aku tidak tidur.


148.

Ketika aku bangun, Xue Yaozu sedang mengemudi.

Aku bertanya tentang kakak laki-lakiku.

Xue Yaozu menjawab, “Dia. Juga ingin. Y-yang terbaik untukmu. Hanya saja. Metodenya berbeda.”

“Jadi bagaimana kamu membicarakannya dengan dia? Kakak laki-lakiku sangat keras kepala. Kamu bisa mengubah pikirannya?”

“Aku tidak meyakinkannya. Dengan berbicara. Tapi dia tidak bisa mengalahkan. Aku dalam perkelahian.”

Aku: “…….”

Sekarang pertanyaannya adalah, seberapa hebat sebenarnya Xue Yaozu dalam berkelahi? Kakak laki-lakiku bisa menangkap pisau dengan tangan kosong.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. RYG takut rahasia itu akan digunakan pihak lain untuk memerasnya.
  2. Pada raw, RYG menggunakan kata bahasa Inggris untuk menyebut pahlawan yakni hero.
  3. RYG berkata 三花聚顶原地飞升了 disini, yang mana disini juga ada kata 三花聚顶 yang merujuk pada  mencapai tingkat atas 三花-mu (tiga bunga, yakni 精 ,气 dan 神) dan 原地飞升, yang berarti untuk naik ke alam dewa.
  4. Dalam konteks ini, yang dimaksud RYG lebih ke konseling psikologis mandiri, karena kemungkinan besar dia juga tidak ingin pergi menemui terapis.
  5. Cara XYZ mengatakan kalimat di atas sedikit puitis, atau dalam hal apa pun, tidak terdengar normal seperti yang biasa kamu katakan, tetapi itu bukan seolah-olah dia mengatakannya dengan berirama atau semacamnya. Ini lebih seperti puisi modern.
  6. Arti di sini sama dengan yang ada pada kalimat ‘jeda yang penuh arti’ atau ‘dia memberiku tatapan/pandangan penuh arti’.
  7. Freak, bisa merujuk pada orang mesum/cabul juga.
  8. Idiom yang memiliki makna yang mirip dengan ‘sekali kalah, kamu akan selalu kalah’ …. sehingga sekali kamu melakukan satu kesalahan, kamu akan terus melakukan lebih banyak kesalahan dan tidak dapat menghapusnya.
  9. Sakit mental.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments