Penerjemah: Jeffery Liu


87.

Setelah aku dan Xue Yaozu selesai lari pagi, kami pergi untuk berdoa di kuil, lalu pergi untuk makan. Setelah itu, sambil berpegangan tangan kami pergi menonton film. Kemudian, ketika kami pergi ke puncak gunung untuk melihat bintang, aku bahkan menciumnya dan dia membalas ciumanku. Rasanya luar biasa.

Dan kemudian aku mendapat telepon dari temanku yang mengajakku bermain pada hari Minggu.

Aku bilang jika aku punya sesuatu untuk dilakukan jadi aku tidak bisa pergi, temanku bertanya apa yang aku lakukan, aku bilang aku harus pergi ke sekolah dan menjenguk adik perempuanku.


88.

Xue Yaozu bersumpah bahwa dia tidak sengaja melihat layar ponselku, tetapi penglihatannya terlalu bagus sehingga ketika dia berbalik, dia melihatnya begitu saja.

Terserah apa katanya.

Dia menyuruhku pergi menemui temanku.

Sebenarnya aku ingin sekali pergi, karena sudah lama sekali aku tidak berkumpul dengan temanku.

Saat kami sedang berbicara, temanku menelepon dan mengatakan bahwa dia akan pergi ke wawancara pernikahan1, tetapi keluarganya dengan halus menyuruhnya untuk mengubah penampilannya untuk mencegah wawancara yang diikutinya gagal lagi. Dia hanya bisa berpikir untuk meneleponku dan meminta bantuan.

Dengan sopan aku berkata, “Kancing kotak-kotak dan celana jeans punyamu sepertinya tidak masalah.”

Temanku berkata, “Kamu tidak perlu terus menghiburku, kamu hanya perlu membantuku kali ini saja.”

Aku tahu itu hanya alasannya, dia hanya ingin aku lebih sering keluar. Dia dengan keras kepala percaya bahwa pergi keluar dan berjalan-jalan akan menyembuhkan semua masalahku.

Aku benar-benar berterima kasih atas pemikiran di baliknya, jadi aku setuju.


89.

Xue Yaozu bertanya, “Berapa banyak. K-kalian? H-haruskah aku ikut?”

“Hanya dua orang.”

“Kalau begitu. Aku akan mengantarmu.”

Aku berkata, “Tidak.”

Dia tidak banyak bicara setelah itu.


90.

Aku dan temanku pergi dan memilih setumpuk besar pakaian. Dia tidak bisa memilih pakaiannya seorang diri. Aku bahkan tidak tahu bagaimana dia bisa menemukan begitu banyak kemeja kotak-kotak yang pada dasarnya identik setiap musim, tetapi dia selalu berhasil melakukannya. Entah itu yang memiliki lengan pendek atau lengan panjang, baik memiliki atau tidak memiliki tali, tidak ada perbedaan dari semua itu. Celana jinsnya juga sama.

Dan seterusnya, dia menggumamkan omong kosong.

“Apa kamu yakin pakaian yang kamu pilih ini tidak akan membuat gadis itu merasa seperti aku penipu pernikahan?”

“Kalau kamu mengenakan pakaian biasa, gadis itu bahkan tidak perlu memikirkan kemungkinan kamu menjadi penipu pernikahan atau tidak.”

Dia menunjukkan ekspresi sedihnya padaku.


91.

Ketika aku dan temanku selesai membeli pakaian dan pergi makan, Xue Yaozu meneleponku.

Aku menatap ponselku, memutus panggilan itu dan tidak menjawab.

Temanku bertanya, “Ada apa?”

Aku menjawab, “Tidak ada, hanya ilusi.”

Dia terlihat tercengang, dan ekspresi yang menampilkan kalimat ‘WTF’2 terpancar di wajahnya.

Xue Yaozu menelepon lagi.

Aku tidak ingin menjawabnya.

Temanku bertanya, “Ada apa?”

Aku menjawab, “Tidak ada. Aku mau ke kamar mandi.”


92.

Aku bersembunyi di kamar mandi untuk menelepon Xue Yaozu.

Dia bertanya, “Sekarang. Hujan, k-kapan kamu pulang? Aku bisa. Menjemput-m-mu. ”

Aku sangat tersentuh dan menjawab, “Tidak, terima kasih.”

Dia kemudian berkata, “Kalau begitu. Pesan taksi.”

Aku berkata oke dan kemudian menutup telepon.


93.

Di luar pusat perbelanjaan itu benar-benar hujan. Untungnya temanku berangkat dengan mobil. Dia juga bersikeras mengantarku pulang.

Ketika kami sampai di luar gerbang di daerah perumahan tempat aku tinggal, mobil temanku tidak bisa masuk. Aku melihat sosok Xue Yaozu dari jarak yang sangat jauh, dia tengah memegang payung menungguku, jadi aku segera memberi tahu temanku, “Sudah cukup, aku bisa pulang sendiri, kamu pergi sekarang.”

Temanku berkata, “Hujannya sangat deras. Aku punya payung, tapi cuma satu, jadi aku akan mengantarmu pulang dulu sebelum pulang ke rumah.”

“Tidak, terima kasih.”

“Siapa yang bertanya apa kamu mau atau tidak? Ayo cepatlah.”

Aku mengancamnya dengan mengatakan, “Mobilmu akan ditilang.”

“Tidak akan, ada tempat parkir di sini.”

“Lima dolar tetaplah uang, meskipun kamu parkr sebentar, itu tetap lima dolar.”

“Ren Yigu apa yang sedang kamu mainkan?”

Aku bilang aku tidak memainkan apapun?

Dia bersikeras.

Aku hanya bisa menyetujuinya dan keluar dari mobil bersamanya dan berjalan menuju gerbang.

Xue Yaozu melihat kami dan melambai padaku.

Aku pura-pura tidak melihatnya dan terus berjalan dengan temanku. Kami berjalan melewatinya (tepat di depannya), lalu masuk ke gang dan menyapa petugas keamanan di belakang Xue Yaozu.

Sementara temanku tidak memperhatikan, aku diam-diam berbalik dan melihat ke belakang. Xue Yaozu tampak tercengang saat dia masih memegang payung dan berdiri di sana.

Aku mengangkat jari dan diam-diam membuat gerakan diam padanya.


94.

Temanku menemaniku pulang ke rumah dan aku mengajaknya masuk untuk minum teh. Dia kemudian berkata jika waktu sudah larut dan berpamitan padaku untuk pulang dan memintaku untuk tidak perlu mengantarnya pergi.

Aku melihatnya berjalan ke dalam lift, lalu kembali ke rumah dan menutup pintu.

Aku merasa seolah-olah seluruh dunia runtuh.

Aku duduk di sofa dan tiba-tiba sangat ingin menangis.


95.

Xue Yaozu membuka pintu dan masuk, lalu berjongkok di depanku. Dia terdiam cukup lama, lalu berkata, “Ayo. Lakukan. S-secara perlahan. Lain kali aku tidak akan. Muncul di depan t-temanmu. Tadi. Hujan j-jadi aku. Takut. K-kamu akan s-sakit.”

Aku tidak mengatakan apa-apa jadi dia kemudian berdiri dan pergi untuk merapikan diri, dan kemudian berkata kepadaku, “Aku lebih. B-baik pergi.”

Sejujurnya, dia tidak terlalu buruk.

Lagipula, dia hanya halusinasi.


96.

Itu benar, aku punya alasan kenapa aku percaya bahwa Xue Yaozu adalah halusinasi.

Dia muncul karena penyakit mentalku yang menciptakannya.

Bukannya aku bodoh, bagaimana bisa seseorang yang ingin berkencan denganku dan yang memperlakukanku dengan sangat baik tiba-tiba muncul begitu saja?

Aku tidak ingin temanku tahu bahwa aku mulai mengalami halusinasi. Aku punya waktu setengah bulan sebelum aku bisa pergi menemui dokter, setelah aku minum obat, aku akan lebih baik. Atau setidaknya aku berharap aku akan lebih baik setelah aku minum obat.

Tapi, jika aku minum obat, Xue Yaozu akan hilang.

Tapi, itu berarti aku sudah sembuh, jika aku sembuh aku tidak membutuhkannya lagi.

Tapi, apa benar aku tidak akan membutuhkannya begitu aku sembuh?

Aku tidak ingin gila, tetapi aku juga ingin Xue Yaozu terus berada di sini.

Tetapi jika aku tidak gila, aku akan punya banyak teman, dan aku tidak akan membutuhkannya lagi.

Tidak masalah apakah aku membutuhkannya atau tidak, aku ingin menyembuhkan diriku sendiri.

Aku tidak ingin menjadi orang gila. Aku ingin menjadi orang biasa.

Xue Yaozu berkata, “Jangan menangis. A-apa. A-aku salah? Katakan padaku.”

Aku berkata, “Jangan pergi.”

Dia berkata, “Aku tidak akan pergi.”

Dia hanya bisa tinggal sekitar setengah bulan lagi. Dalam waktu tidak terlalu lama itu, aku harus pergi ke dokter dan meminum obatku, dan kemudian dia perlahan akan menghilang.


97.

Sebelum dia menghilang, aku harus membuat beberapa kenangan lagi dengannya. Untuk berterima kasih padanya karena telah muncul di dalam hidupku.


98.

Kami menggunakan dua hari ini untuk membuat beberapa kenangan lagi. Pada akhirnya aku tidak bisa melakukannya lagi3, jika kita membuat lebih banyak kenangan lagi, aku tidak akan bisa bertahan hidup untuk menemui dokter untuk mendapatkan resep obatku.


99.

Saat aku tidur, aku bermimpi.

Dalam mimpiku, ketika orang-orang itu mengambil fotoku, Xue Yaozu muncul. Dia sangat keren dan mengirim mereka semua terbang dengan tinjunya.


100.

Ketika aku bangun, Xue Yaozu sudah pergi. Kemudian ponselku berdering.

Itu telepon dari kakak laki-lakiku.

Ekspresinya dingin dan gelap seperti biasanya.

“Kakek akan kembali ke Tiongkok untuk berlibur, bawa pulang Ren Yiqi dan Ren Yisen4.”

Kakek tidak menyukai kakak laki-lakiku dan aku, tetapi dia sangat menyukai adik laki-laki dan perempuanku. Dia berulang kali berkata bahwa dia ingin membawa adik laki-laki dan perempuanku ke luar negeri, tetapi adik laki-laki dan perempuanku tidak mau. Yah, sebenarnya adik perempuanku-lah yang tidak mau. Di kelasnya ada dewa laki-laki5 yang sangat tinggi dan perkasa, dan menurutnya dia mungkin bisa berpacaran dengannya sebelum mereka lulus kelas 6 jika dia berusaha keras. Aku bisa apa? Aku hanya bisa mendoakan keberuntungannya, lalu diam-diam memperingatkan adik laki-lakiku untuk tidak memberikan tekanan apa pun kepada bocah itu. Adik laki-lakiku sama sekali tidak puas dan sepenuhnya menentangnya. Dia berkata, kenapa bocah itu bertingkah tinggi dan perkasa, apa dia bodoh?


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Persis seperti kedengarannya, pertemuan ini seperti kencan buta tetapi lebih formal, niat kedua belah pihak adalah (seharusnya) menemukan pasangan untuk menikah.
  2. WTF/What The Fuck?/Apa-apaan?
  3. Membuat kenangan disini maksudnya membuat kenangan nsfw, tahu maksudku ‘kan? Pasti tahu.
  4. Nama adik kembar RYG, Ren Yiqi adalah nama adik perempuannya and Ren Yisen adalah nama adik laki-lakinya.

    任 = Ren (nama marga/nama belakang)

    一 = Yi, adalah kata yang artinya satu (sama seperti pada nama RYG and saudara kembarnya)

    琪 = Qi, berarti giok halus

    任 = Ren (nama marga/nama belakang)

    一 = Yi, adalah kata yang artinya satu

    森 = Sen, Sen disini sama dengan karakter pertama untuk hutan (森林)dan umumnya berarti hutan lebat, atau deras.

  5. Siswa laki-laki yang sangat populer, ini juga merujuk pada gebetan yang tidak terlalu serius, atau untuk menyebut gebetan yang sebenarnya… Teman XYZ, Da Jin, menyebutkan pada RYG jika XYZ adalah ‘dewa laki-laki’.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments