Penerjemah: Jeffery Liu


Ren Yigu dipasangkan dengan orang lain.

Xue Yaozu dipasangkan dengan kotak obrolan. Sangat jelas bahwa para guru ingin dia berbicara lebih banyak.

Xue Yaozu sangat tertekan, tetapi dia tidak punya pilihan selain menerima keputusan ini. Di sisi lain, kotak obrolan itu cukup antusias, begitu dia mendapat kabar ini, dia berlari ke kelas dan pergi menemui Xue Yaozu untuk lebih mengenalnya.

Dari awal hingga akhir, Xue Yaozu hanya mengucapkan tiga kata.

Kotak obrolan bertanya, “Kamu Xue Yaozu, ‘kan?”

Xue Yaozu menjawab, “En.”

Kotak obrolan berkata, “Kita sudah dipasangkan bersama! Ayo kita saling mengenal dulu.”

Xue Yaozu menjawab, “En.”

Jutaan kata yang diucapkan kotak obrolan di antaranya mendapat tanggapan yang serupa.

Setelah itu, Ren Yigu datang dan berbicara dengan kotak obrolan, “Ternyata kamu ada di sini. Kemari dan bantu aku, ruang musik sedang dibersihkan, ayo pergi bersama untuk memindahkan pianonya.”

Kotak obrolan berkata kepada Xue Yaozu, “Kalau begitu aku akan pergi sekarang, lain kali aku akan datang mencarimu.”

“En.” Xue Yaozu menjawab.

Dia memperhatikan saat kotak obrolan dan Ren Yigu berjalan bersama beberapa langkah, tetapi kemudian tiba-tiba, Ren Yigu kembali lagi. Dia bertanya pada Xue Yaozu, “Hei, teman sekelas, apa sekarang kamu sibuk?”

Xue Yaozu dengan ragu menggelengkan kepalanya.

Ren Yigu tersenyum sekali lagi, lalu berkata, “Kalau begitu kenapa kamu tidak ikut dan membantu kami!”

Xue Yaozu tidak mengatakan apa-apa.

Ren Yigu mengatupkan kedua tangan dan menahannya di dadanya. “Aku mohon, ikut dan bantu kami, aku akan memberimu minuman sebagai ucapan terima kasih.”

Dan setelahnya Xue Yaozu diseret untuk membantu memindahkan piano.

Setelah mereka selesai memindahkan semuanya, Ren Yigu membelikan mereka semua minuman.

Ketika semua orang sedang tidak memperhatikan, Xue Yaozu diam-diam pergi.

Tetapi setelah sekolah berakhir, kotak obrolan datang dan menemukannya lagi. “Ah, kenapa kamu pergi? Yigu memintaku untuk membawakanmu ini, karena dia bilang dia sudah janji akan mentraktirmu. Dia tidak tahu rasa apa yang kamu suka, jadi dia hanya memilih satu secara acak. Kalau kamu tidak menyukainya, kamu bisa menggantinya.”

Xue Yaozu tidak mengatakan apa-apa, menerima jus itu dan memasukkannya ke dalam ransel.

Kotak obrolan terus mengoceh kepada Xue Yaozu.

Saat Xue Yaozu menyampirkan ranselnya dan hendak keluar, dia masih mengoceh.

Ketika mereka sampai di pintu gerbang sekolah, dia masih mengoceh. Ketika mereka sampai di sana, Xue Yaozu ingat jika dia tidak membawa pekerjaan rumahnya. Mungkin karena kotak obrolan itu terus mengoceh, dia melupakannya. Dia tidak punya pilihan selain kembali ke kelas untuk mengambil pekerjaan rumahnya, tetapi ketika dia baru sampai di ambang pintu kelas, dia berhenti. Dia mendengar orang-orang di dalam bergosip tentang Ren Yigu.

Anak yang mengoceh paling keras adalah siswa yang dipasangkan dengan Ren Yigu. Dia berkata, “Ibuku bilang dia tahu tentang ibu Ren Yigu!”

“Aku selalu merasa Ren Yigu tidak terlihat seperti laki-laki.”

“Tidak heran perempuan sialanku1 tergoda olehnya.”

“Sebelumnya aku memberitahu kalian kalau aku melihatnya dekat dengan seorang pria SMA, tapi kalian tidak percaya padaku! Persetan, beberapa gadis bahkan mengatakan aku suka menganggap semua orang gay. Siapa yang kalian pikir melihat para gay.”

“Hei, kamu ‘kan pasangannya jadi kenapa kamu tidak memikirkan cara untuk mengetahuinya!”

Kelompok itu sangat berisik, seperti sekelompok monyet yang cerewet. Tidak banyak waktu berlalu sebelum mereka meninggalkan kelas dengan membawa ransel, siap untuk pulang.

Ketika mereka keluar dari pintu kelas, mereka melihat Xue Yaozu, yang berdiri di balik pintu seperti hantu. Itu membuat mereka ketakutan. “Apa kau gila?! Orang aneh itu membuatku takut setengah mati!”

Xue Yaozu menatap orang yang memulai percakapan itu. Dia menatap sejenak, lalu tiba-tiba membanting kerah pria itu ke petak bunga disana.

Untuk pertama kalinya, Xue Yaozu tahu bahwa dia bisa berkelahi. Dan terlebih lagi, dia sangat pandai dalam hal itu.

Meskipun saat dia selesai berkelahi, dia merasa jika tubuhnya terasa begitu sakit dan lelah. Tangannya gemetar dan otaknya masih terasa pusing.

Kotak obrolan telah lama menunggu di depan gerbang sekolah dan belum ada satu pun siswa yang keluar, jadi dia kembali untuk mencari Xue Yaozu. Ketika dia tiba, dia disambut dengan pemandangan kekacauan besar. Dia terkejut, lalu setelah beberapa saat mencoba menenangkan pikirannya, dia berteriak, “Kalian berkelahi——ah——”

Xue Yaozu yang berdiri di sampingnya bergerak terlebih dahulu dan menutup mulutnya. Dia dengan rendah berkata, “Diam.”

Mata kotak obrolan itu melotot, menatap Xue Yaozu seolah-olah dia tidak mengenalnya.

Baru saja, kacamata Xue Yaozu jatuh selama perkelahian dan poninya yang dipenuhi keringat disibak ke samping, memperlihatkan dahi dan matanya.

Kotak obrolan hampir tidak bisa mengenalinya.

Para siswa lainnya sekarang berusaha membantu orang yang paling banyak dipukuli untuk berdiri. Mereka baru saja akan mengatakan sesuatu, ketika Xue Yaozu menyela dan berkata, “Diam!”

Semua orang tanpa sadar menutup mulut mereka, bahkan jika mereka tidak tahu persis mengapa mereka harus mendengarkan perintahnya.

Xue Yaozu, tanpa kacamata, menatap mereka dengan dingin, lalu berkata, “K-k-k-kalian. K-kalian. M-merundung. Ku.”2

Semua orang: “………………………………”

Tak tahu malu! Siapa yang merundung siapa?!

Xue Yaozu mengulanginya kembali. “J-jika. K-kalian. Membahas masalah. Ini. A-a-aku… A-aku akan memberitahu. Guru. K-k-k….k-kalian. M-merundungku.”

Ketika si gagap akhirnya selesai berbicara, semua orang akhirnya menyadari bahwa ini bukan waktunya untuk tertawa.

Guru akan lebih dari bersedia untuk mempercayai Xue Yaozu.

Setelah itu, insiden ini berubah menjadi ‘anak yang dipukuli tengah bermain di petak bunga dan secara tidak sengaja disenggol oleh Xue Yaozu’.

Terlebih lagi, ini adalah versi cerita yang dibuat oleh orang dalam yang terlibat.

Versi cerita yang dibuat oleh orang luar adalah bahwa anak yang dipukuli tengah bermain di atas petak bunga kemudian tersandung sendiri.

Dalam sekejap, kotak obrolan izin tidak masuk karena sakit dan mundur dari kegiatan pasangan itu.

Tidak mampu jika sampai membuat orang ini kesal.

Dan begitulah, Xue Yaozu berpasangan dengan Ren Yigu, yang juga baru saja kehilangan pasangannya.

Seperti biasa, Ren Yigu sangat bersemangat. Tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, dia berhasil mendapatkan alamat Xue Yaozu dan pergi pagi-pagi sekali pada hari Sabtu dengan membawa buah-buahan.

Xue Yaozu membuka pintu dan menatapnya selama tiga detik. Setelah tersadar, dia kemudian membanting pintu dengan keras.

Ren Yigu berteriak dari luar, “Namaku Ren Yigu! Aku pasanganmu!”

Xue Yaozu merosot ke pintu, tidak ingin bergerak.

Meskipun ruang tamu rumahnya tidak berantakan, tempat itu sangat buruk. Ada banyak barang, tetapi semuanya hanyalah sampah3. Baru-baru ini hujan sering sekali turun, jadi pakaian mereka dijemur di ruang tamu.

Ren Yigu mengetuk pintu sebentar. Ketika dia melihat jika pintunya masih belum terbuka, dia berkata, “Maaf, aku tidak memberi tahumu sebelumnya. Tidak ada yang menjawab teleponku….”

Itu karena tagihan teleponnya belum dibayar.

“Kalau begitu aku akan menaruh buah-buahannya di dekat pintu. Ingatlah untuk mengambilnya nanti, aku akan pulang sekarang.”

Xue Yaozu menatap lantai, lalu tiba-tiba berbalik dan membuka pintu.

Ren Yigu masih berdiri di ambang pintu, dan belum pergi. Dia menyeringai padanya ketika dia berkata, “Aku hanya bercanda.”

Xue Yaozu: “……..”

Ren Yigu berkata dengan malu-malu, “Maaf, tapi aku benar-benar meneleponmu, tapi tidak diangkat. Kebetulan aku sedang melakukan sesuatu di sekitar ini, aku ingat juga kalau rumahmu ada di sekitar sini, jadi aku memutuskan untuk datang dan menyapa. Kalau itu benar-benar merepotkanmu, aku bisa pulang, tapi aku terlalu malas untuk membawa pulang buahnya. Aku tidak membelinya, buah-buahan ini diberikan kepada kami oleh bibi seorang teman dari pedesaan. Buah-buahannya besar dan tidak terlihat terlalu bagus, tapi rasanya sangat manis.”

Xue Yaozu ragu-ragu, lalu dengan susah payah berkata, “Tunggu. Di Sini.”

Ketika dia selesai berbicara, dia mengumpulkan semua pakaian yang dijemur di ruang tamu dan membawanya ke kamar ayahnya; melemparkan mereka ke tempat tidur.

Ayahnya sedang berbaring di sana sambil melamun, dan tiba-tiba dia tenggelam dalam lautan pakaian. Dia menatap anaknya dengan ekspresi penuh keterkejutan di wajahnya.

Xue Yaozu baru saja membuang semua sampah ke kamar tidur utama, lalu akhirnya membuka pintu baja itu, membiarkan Ren Yigu masuk. Dia bahkan menyalakan lampu ruang tamu.

Ren Yigu merasa itu agak aneh. “Di luar cerah.”

Xue Yaozu tidak mengatakan apa-apa.

Ren Yigu sudah pergi ke jendela dan membuka tirai yang telah tertutup begitu lama itu. “Lihat, mataharinya terbit.”

Sinar matahari masuk ke dalam ruangan.

Ren Yigu mematikan lampu pijar ruang tamu. “Cobalah untuk menghemat energi ah.”

Ren Yigu tidak menganggap dirinya sebagai orang luar. Dia membawa buah-buahan ke dapur untuk dicuci, dan bertanya sambil terus mencuci, “Apa bibi sedang bekerja?”

Xue Yaozu menjawab, “En.”

Ren Yigu bertanya, “Di mana paman?”

Xue Yaozu tidak mengatakan apa-apa.

Ren Yigu berkata, “Bahkan kalau kamu tidak memberitahuku, aku tahu.”

Xue Yaozu menunduk dan melihat ke lantai.

Setelah Ren Yigu selesai mencuci buah, dia mengambil pisau buah dan memotongnya menjadi potongan-potongan kecil, lalu memasukkannya ke dalam mangkuk. Selanjutnya, dia mengeluarkan beberapa tusuk gigi dari tasnya seolah-olah dia sedang melakukan trik sulap dan menusukkannya pada buah-buahan itu. Akhirnya, dia membawa semangkuk buah-buahan itu ke kamar tidur dan mengetuk pintunya. “Halo Paman, aku teman sekelas Wang Bei.”

Xue Yaozu: “……..”

Tunggu sebentar, siapa Wang Bei?

Oh ya, nama anak yang dia pukul adalah Wang Bei.

Ayah Xue Yaozu tetap dalam keadaan tercengang.

Putranya tiba-tiba mengambil pakaian di ruang tamu dan melemparkannya ke tempat tidur, lalu setelah itu, seorang pemuda datang dan berkata bahwa dia adalah teman sekelas Wang Bei, tapi tunggu, siapa Wang Bei……

Pemuda ini membawa semangkuk buah dan meletakkannya di sampingnya, bertindak seolah-olah itu adalah rumahnya dan membuka tirai, meletakkan pakaian di balkon untuk digantung, dan kemudian dengan antusias mengobrol sambil duduk di samping tempat tidur. Dia mengatakan bahwa Wang Bei sangat aktif di sekolah, selalu berpartisipasi dalam pertemuan olahraga, dan bahkan membantu teman sekelas memindahkan meja.

Jadi siapa sebenarnya Wang Bei?

Xue Yaozu menerima teriakan minta tolong ayahnya di dalam tatapannya, lalu diam-diam menggelengkan kepalanya dan kemudian menunjuk Ren Yigu, yang punggungnya menghadapnya, lalu menunjuk ke kepalanya.

Ayah Xue Yaozu terkejut.

Xue Yaozu juga tidak bisa mengatakan dengan pasti apa yang dia pikirkan, mungkin dia sedikit tidak senang.

Dia tidak memikirkan kemungkinan bahwa bahkan sekarang, Ren Yigu masih tidak tahu siapa dia.

Jadi semua hal itu sebelumnya benar-benar hanya kebetulan.

Meskipun dia sudah berpikir sejak awal bahwa itu hanya kebetulan, dia masih sedikit tidak senang.

Karena segalanya sudah menjadi seperti ini, Xue Yaozu terlalu malas untuk menjelaskan.

Sepertinya Ren Yigu ingin tinggal untuk makan malam, tetapi pada akhirnya dia ingat dia masih memiliki beberapa tugas untuk dijalankan dan harus bergegas kembali.

Xue Yaozu menemaninya turun, lalu keluar dari gedung. Ren Yigu berkata, “Aku benar-benar minta maaf karena muncul tanpa memberitahumu dulu, saat kamu punya waktu, datanglah ke rumahku dan bermain.”

Xue Yaozu tidak mengatakan apa-apa.

Ren Yigu berkata, “Kalau kamu sempat, kamu harus secara teratur membuka tirai, jangan membuat rumahmu pengap, itu tidak baik untuk orang sakit, ayahmu harus mendapatkan lebih banyak sinar matahari.”

Xue Yaozu masih tidak mengatakan apa-apa.

Ren Yigu dengan sungguh-sungguh berkata, “Sungguh, aku tidak bercanda. Aku punya teman yang ibunya seorang dokter.”

Xue Yaozu mengangguk.

Ren Yigu tertawa lagi, “Lalu kapan kamu akan datang ke rumahku untuk bermain?”

Xue Yaozu tidak mengatakan apa-apa.

Ren Yigu berkata, “Bagaimana kalau minggu depan. Minggu depan, ibu, ayah, dan kakakku tidak ada di rumah, jadi kita bisa memasak sendiri.”

Setelah mengantar Ren Yigu keluar, Xue Yaozu kembali ke rumah dan mendengar ayahnya bertanya, “Siapa itu?”

Xue Yaozu menjawab, “T-teman. Sekelas.”

Ayahnya menghela napas. “Dia seperti orang yang cukup baik, sayang sekali otaknya memiliki beberapa masalah.”

Xue Yaozu “T-tidak, dia. S-salah mengira aku. O-orang. Lain.”

Ayahnya tidak bisa benar-benar memahami dunia pemuda saat ini. Bagaimana seseorang bisa salah mengira teman sekelasnya sendiri? Tapi dia tidak bertanya lebih jauh, dan hanya berbalik untuk melihat ke luar jendela.

Matahari di luar jendela mulai terbenam,

Ketika ibu Xue Yaozu pulang malam itu, dia mengernyitkan alisnya dan bertanya, “Kenapa tirainya dibuka?”

Xue Yaozu menghentikannya untuk menutup tirai, tetapi dia juga tidak mau berbicara.

Ayahnya dengan cepat berkata, “Hari ini salah satu teman sekelasnya datang.”

Ibunya menatapnya ragu. “Teman sekelas apa? Untuk apa?”

“Aku juga tidak tahu, dia hanya bilang dia datang untuk menemuiku.” Ayahnya menjawab.

Ibunya bahkan lebih bingung. “Yao Yao, apa dia mengganggumu?”

Xue Yaozu menggelengkan kepalanya dan berkata, “Dia. Teman.”

Tidak pernah sekali pun sebelumnya, Xue Yaozu menantikan datangnya akhir pekan sebanyak yang dia lakukan sekarang.

Dia hanya berhasil melewati minggu itu dengan terus menatap Ren Yigu.

Untungnya Ren Yigu sangat hidup dan bisa dilihat di mana-mana.

Pada Senin pagi, dia pasti bisa melihatnya, karena dia adalah pembawa acara untuk pertemuan sekolah. Di sela-sela kelas dia bisa mendengar suaranya di siaran sekolah. Selama kelas olahraga, dia bahkan lebih mudah melihatnya, karena setiap kali teriakan bernada tinggi para gadis berlangsung lebih dari lima menit, itu berarti Ren Yigu sedang bermain basket.

Sampai Jumat sore akhirnya tiba dan Ren Yigu tidak datang untuk mencari Xue Yaozu setelah kelas.

Xue Yaozu diam-diam berjalan pulang dengan ransel di pundaknya.

Tidak lama setelah dia sampai di rumah, dia menerima telepon. “Halo, permisi, apa Wang Bei ada di rumah?”

Xue Yaozu menjawab, “Ini aku.”

Ren Yigu menjawab di seberang telepon, “Maaf, ada beberapa hal yang harus aku urus dan hampir lupa. Apa kamu masih akan datang ke rumahku untuk bermain?”

Xue Yaozu berkata, “Aku akan. Pergi.”

Suara Ren Yigu terdengar sangat bahagia. “Keren! Kalau begitu ayo kita atur tempat untuk bertemu besok pagi. Bagaimana kalau kamu datang ke sini langsung dengan naik bus, aku akan menunggumu di halte bus.”

Malam itu, Xue Yaozu memberitahu ibunya, “A-aku akan. Menginap di. R-rumah. Teman. S-selama. Dua hari.”

Ibunya awalnya tidak mengerti. “Hah?”

Xue Yaozu mengulanginya sekali lagi.

Ibunya sangat khawatir. “Kamu benar-benar diganggu, bukan? Seseorang memaksamu untuk mencuri uang, bukan? Aku pernah melihat berita yang mengatakan jika ada beberapa orang yang secara khusus menipu anak-anak introvert untuk pergi dan mencuri barang-barang, dan mengatakan bahwa mereka adalah teman, tetapi itu sebenarnya hanya tipuan agar kamu membantu mereka melakukan hal-hal buruk.”

Xue Yaozu menjawab, “Bukan. Itu.”

Ibunya masih sangat khawatir, dan bersikeras menelepon gurunya untuk menyelesaikan masalah.

Setelah menyelesaikan panggilan telepon, sikap ibunya berubah seratus delapan puluh derajat, dan dia berkata, “Menginaplah beberapa hari lagi!”

Xue Yaozu: “……..”

Dan begitulah, Xue Yaozu pergi ke rumah Ren Yigu.

Kebetulan, saat itu kakak laki-laki Ren Yigu tiba-tiba pulang.

Dia cukup tinggi, dan tampak seperti siswa sekolah menengah atau universitas. Dia tampan, tetapi sedikit berbeda dengan Ren Yigu. Ren Yigu masih remaja, tapi kakak laki-lakinya sudah terlihat seperti seorang pria.

Dia tampak sangat tinggi dan perkasa, juga sangat dingin. Tanpa memandang maupun menyapa Ren Yigu, dia pergi ke kamarnya.

Ren Yigu tersenyum ceria dan menjelaskan kepada Xue Yaozu. “Tadi itu kakak laki-lakiku, dia pemalu sepertimu.”

Xue Yaozu: “……”

Mereka duduk di ruang tamu dan memainkan beberapa permainan untuk sementara waktu.

Ren Yigu, ketika dia sedang bermain gim sangat berbeda dari biasanya. Dia biasanya sangat ceria dan bersemangat, tetapi ketika dia bermain gim, dia sangat serius. Seolah-olah dia sedang menggali bom atau semacamnya.

Poin utamanya adalah, bahkan masih ada hal yang tidak dia kuasai. Jika Xue Yaozu tidak ada di sana, dia bahkan tidak akan bisa menyelesaikan level pertama.

Terlebih lagi, Ren Yigu memiliki semacam kebanggaan aneh dalam hal itu. “Aku sudah bermain di level pertama selama satu tahun sekarang.”

Xue Yaozu: “…………………”

Setelah itu mereka memainkan permainan papan. Ren Yigu berlari untuk mengetuk pintu kakaknya. “Kakak, apa kamu ingin bergabung dengan kami?”

Hanya setelah jeda yang lama, kakak laki-lakinya membuka pintu. Dia dengan dingin melirik Ren Yigu.

Dan kemudian Ren Yigu bergumam pada dirinya sendiri, “Oh, kamu masih punya banyak hal yang harus dilakukan, ya. Maaf, kamu bisa melanjutkannya.”

Kakak laki-lakinya membanting pintu dengan keras.

Ren Yigu menjelaskan kepada Xue Yaozu, “Kakakku mungkin sedang belajar dan meninjau tugas kuliah.”

Xue Yaozu: “………”

Ketika hampir waktu makan malam tiba, Ren Yigu bertanya pada Xue Yaozu, “Apa kamu bisa memasak?”

Xue Yaozu menggelengkan kepalanya.

Ren Yigu berkata dengan ketakutan, “Kalau begitu aku yang memasak lagi. Terserah, kalau aku harus memasak, aku akan memasak. Bantu aku mencuci sayuran kalau begitu.”

Xue Yaozu mengangguk.

Saat itu, suara ketukan datang dari pintu. Yang datang ternyata adalah kurir yang mengantar makanan pesan antar.

Mata Ren Yigu menjadi cerah. Dia mengambil pesanan itu dan membawanya masuk. “Kakakku yang memesannya!”

Dan kemudian kakak laki-lakinya keluar dari kamarnya, mengambil makanan itu, lalu kembali ke kamarnya, membanting pintu hingga menutup sekali lagi.

Ren Yigu dengan sungguh-sungguh memberi tahu Xue Yaozu, “Ada banyak makanan pesan antar yang tidak bersih.”

Xue Yaozu: “……..”

Dan begitu saja, mereka menghabiskan hari dengan makan, minum dan bermain, lalu di malam hari mereka mengerjakan pekerjaan rumah bersama, dan kemudian mereka akhirnya tidur.

Tapi Ren Yigu masih begitu gaduh bahkan saat waktunya tidur. Dia keramas, tetapi tidak langsung mengeringkannya. Sebagai gantinya, dia menatanya ke dalam semua jenis gaya rambut dan bertanya pada Xue Yaozu mana yang terlihat paling bagus.

Xue Yaozu berpikir jika semua gaya itu membuatnya sangat tampan.

Ren Yigu tidak puas dengan itu dan mengeluarkan banyak majalah mode dari rak buku, lalu menunjukkannya kepada Xue Yaozu.

Xue Yaozu: “……..”

Ren Yigu menunjuk seorang model dan berkata, “Aku pikir dia sangat tampan.”

Xue Yaozu: “……..”

Ren Yigu berkata, “Tapi aku tidak tinggi, kalau kamu memakai pakaiannya mungkin akan terlihat sangat bagus. Kemudian potong sedikit rambutmu, dan setiap kali kamu keramas, kamu harus menatanya. Dan kalau kamu mengganti kacamatamu jangan memilih jenis bingkai hitam ini, itu tidak bergaya lagi.”

Xue Yaozu tidak punya teman lain, dan tidak tahu apakah membicarakan topik semacam ini normal di antara pria atau tidak, tapi sepengetahuannya, ini seharusnya menjadi topik yang akan didiskusikan para gadis.

Setelah Ren Yigu menilai setiap model, dia akhirnya mengeringkan rambutnya dan pergi tidur.

Di rumah, Xue Yaozu tidur di sofa tua. Ren Yigu tidur di ranjang yang sangat besar sendirian, kelihatannya sangat nyaman. Xue Yaozu menemani Ren Yigu dan mendengarkan buku audio, dan tertidur dengan sangat cepat.

Saat dia tertidur, dia sekilas mendengar Ren Yigu dengan lembut bergumam, “Kamu bahkan bisa tertidur begitu cepat sambil mendengarkan cerita hantu?”

Xue Yaozu yang sedang tertidur, tiba-tiba tersentak bangun. Dia sepertinya mendengar suara pertengkaran di luar.

Dia meraih ke seberang tempat tidur dan meraba-raba. Tidak ada orang di sana.

Segera, dia menjadi berhati-hati dan waspada; dia takut maling masuk untuk merampok rumah. Dia buru-buru dan diam-diam berjalan ke pintu, tanpa alas kaki.

Dia perlahan membuka pintu kamar dengan sedikit celah, dan melihat bahwa Ren Yigu sedang berdiri di dekat pagar, diam-diam melihat sesuatu di lantai bawah.

Pagarnya transparan, jadi Xue Yaozu juga bisa melihat apa yang terjadi.

Di ruang tamu di lantai bawah, seorang pria dan wanita tengah berdebat, dan berkelahi.

Ruangan di seberang Ren Yigu adalah kamar kakak laki-lakinya. Kakak laki-lakinya membuka pintu, memeriksa, lalu menutupnya lagi.

Ren Yigu masih di sana, memperhatikan. Dia memperhatikannya untuk waktu yang sangat lama.

Ini adalah pertama kalinya Xue Yaozu melihat Ren Yigu yang tidak tersenyum.

Tidak, itu salah. Ketika Ren Yigu bermain video gim, dia juga tidak tersenyum.

Ini adalah pertama kalinya Xue Yaozu melihat Ren Yigu kecewa.

Ketika Ren Yigu kecewa, itu akan membuatmu ikut merasa kecewa ketika melihatnya.

Ini seperti Ren Yigu telah melakukan sesuatu yang membuat dirinya sendiri kecewa. Dia sangat terluka dan juga sangat kecewa. Perlahan, dia menguatkan dirinya di dinding dan meluncur ke bawah sehingga dia duduk di lantai. Dia memeluk lututnya ke dadanya, membenamkan kepalanya di lengannya dan duduk seperti itu untuk waktu yang sangat lama.

Xue Yaozu bergegas untuk kembali ke tempat tidur sebelum Ren Yigu. Dia menyelipkan dirinya ke dalam selimut dan berpura-pura bahwa dia tidak pernah bangun.

Ketika Ren Yigu kembali ke kamarnya, dia mencuci mukanya dan dengan cepat kembali tidur.

Namun Xue Yaozu tidak bisa tertidur.

Dia menunggu lama, dan tiba-tiba dia mendengar Ren Yigu menggumamkan sesuatu. Dia membuka matanya dan melihatnya, menemukan bahwa Ren Yigu masih tertidur lelap.

Sepertinya dia mengalami mimpi buruk. Dia juga tidak tahu apa yang dia gumamkan, karena dia tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

Kemudian, setelah beberapa saat, Ren Yigu mulai menangis. Dan dia sesekali akan gemetar.

Setelah memikirkannya sebentar, Xue Yaozu dengan hati-hati menepuknya dan mencoba membangunkannya. Tetapi tiba-tiba dia ingat bahwa orang dewasa pernah mengatakan bahwa kamu tidak boleh membangunkan seseorang yang sedang berjalan dalam tidur, jika tidak, sesuatu yang buruk akan terjadi. Lalu apa kamu boleh membangunkan seseorang yang sedang berbicara dalam tidurnya?

Xue Yaozu sedikit ragu-ragu.

Tapi saat dia ragu-ragu, Ren Yigu menggenggam tangannya.

Xue Yaozu tercengang.

Ren Yigu memeluk tangannya sebentar, lalu, seolah-olah itu tidak terlalu nyaman, dia mulai menggeliat dan bergerak sampai dia berpindah ke pelukan Xue Yaozu.

Xue Yaozu benar-benar membeku. Butuh waktu lama sebelum dia pulih dan mulai kembali tenang.

Ketika Ren Yigu sudah kembali tenang, dia tidak menangis lagi, dia juga tidak gemetar. Kepalanya terselip di dadanya dan dia tertidur lelap.

Xue Yaozu tidak tahu persis apa yang dia pikirkan, tapi dia merasa sangat ketakutan.

Seolah-olah dia sedang memegang cangkir kaca yang sangat halus dan sangat cantik. Dia sangat takut memecahkan cangkir itu, seolah-olah sentuhan sekecil apa pun, akan menghancurkannya.


Jeff: Yeay.. sudah selesai~! Terima kasih sudah mengikuti kisah Ren Yigu dan Xue Yaozu! Semoga kalian menikmatinya!

02.10.2021


Bab Sebelumnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. 马子, merujuk ke pacar tapi kata-katanya terkesan merendahkan.
  2. XYZ di ekstra ini, di masa lalu, cara bicaranya lebih gagap dan jeda bicaranya jauh lebih jelas. XYZ mungkin menjalani beberapa terapi wicara, baik melalui profesional atau tidak. Tapi, pada adegan di bawah, cara bicara XYZ mungkin lebih gagap karena dia sedikit gugup karena berkelahi dan melawan orang-orang yang mungkin mengejek dan mengolok-oloknya.
  3. Bukan sampah sebenarnya, sampah disini untuk menyebut sejenis barang-barang tua dan murah.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments