• Post category:Embers
  • Reading time:18 mins read

Penerjemah: Rusma
Proofreader: Keiyuki17


Sheng Renxing tidak tahu berapa lama waktu telah berlalu. Xing Ye sedikit mundur, dan nafas mereka yang agak tergesa-gesa masih terdengar di telinga mereka.

“Sial.” Sheng Renxing menjilat bibirnya dengan kilau samar dan berbisik, “Aku merinding.” Dia tidak mengatakan bahwa kakinya agak lemah.

Dari ujung jalan setapak kecil itu, mereka bisa melihat ujung jalan secara langsung. Mereka berdiri di sana, dan jika tidak hati-hati, mereka berdua akan ketahuan.

Xing Ye mengikutinya dan bertanya dengan lembut, “Apa kamu takut?”

“Kamu cukup berani.” Goda Sheng Renxing, walau begitu dia tidak melepaskan tangannya di pinggang Xing Ye.

Xing Ye tidak mengatakan apa pun; sebaliknya, dia menjilat bibir Sheng Renxing dan mengusap hidungnya, tetap dekat namun sulit dijangkau, sampai ke daun telinganya yang memerah.

Rasa merinding Sheng Renxing, yang baru saja mereda, kembali muncul. Dia tidak bisa menahan tawa, “Itu geli.”

Xing Ye mengecup cuping telinganya, napas hangat menyapu telinganya.

Dia ingin melarikan diri, tapi Xing Ye menahannya erat.

Kekuatan mereka meningkat, dan dari ujung jalan, terdengar suara Huang Mao, “Apakah kalian tidak akan kembali?”

Sheng Renxing terdiam.

Dong Qiu: “Aku akan menyelesaikan yang ini.”

Huang Mao: “Aku ingin membeli minuman dari kantin.”

Sheng Renxing mencubit pinggang Xing Ye dan berkata, “Ayo pergi.”

Xing Ye bertanya, “Apakah kamu tidak takut mereka akan mengetahuinya?”

Mereka telah berdiskusi apakah akan memberi tahu Huang Mao dan yang lainnya tentang hal ini atau tidak.

Sheng Renxing bertanya pada Xing Ye apakah dia ingin memberi tahu mereka.

Xing Ye balik bertanya apakah dia bersedia memberi tahu orang lain.

Sheng Renxing, yang setengah tertekan olehnya pada saat itu, mengangkat alisnya, “Mengapa kamu tidak mau?”

Cengkeraman Xing Ye padanya begitu erat hingga hampir menyesakkan.

Sheng Renxing berkata, “Mengambil inisiatif untuk memberi tahu mereka, dan memergoki kita sedang bermesraan adalah dua hal yang berbeda!”

Dia berhenti sejenak, “Lagipula, kamu belum siap, kan?”

Xing Ye tiba-tiba tampak tersadar dari keadaan intimnya beberapa saat yang lalu. Dia akhirnya mundur sedikit dan menatap Sheng Renxing tanpa berkata apa-apa.

Huang Mao: “Apakah kalian sudah selesai merokok? Sebenarnya kalian sedang menyulam atau merokok?”

Di belakang mereka, suara Huang Mao yang tidak sabaran bisa terdengar.

Telinga Sheng Renxing berkedut, seolah dia ingin menoleh dan melihat, tapi sepertinya dia terperangkap oleh tatapan Xing Ye dan tetap tidak bergerak.

Akhirnya, Xing Ye menggelengkan kepalanya.

Kemudian, tepat sebelum Huang Mao dan yang lainnya hendak keluar, dia menarik Sheng Renxing pergi.

Mereka tidak kembali ke kelas; Xing Ye membawanya ke kios.

Tidak ada susu panas yang tersedia.

“Mau ini?” Dia mengambil sekantong susu dan bertanya pada Sheng Renxing.

“Tidak,” Sheng Renxing berjalan ke lemari es di sampingnya. “Aku mau teh hitam. Kamu mau?”

Xing Ye meletakkan susu di tangannya. “Aku tidak meminumnya.”

“Apakah kamu tidak menyukai minuman manis seperti ini?” Sheng Renxing melewatkan botol pertama dan mengambil botol kedua.

Xing Ye berpikir sejenak. “Aku tidak suka minum ini.”

Sheng Renxing meliriknya.

Xing Ye bertanya, “Ada apa?”

“Tidak ada,” Sheng Renxing membawanya ke meja kasir. “Hanya saja jarang sekali mendengarmu mengatakan tidak menyukai sesuatu.”

Tepat saat mereka berdua mencapai lantai dasar gedung sekolah, bel kelas berbunyi.

Sheng Renxing melirik Xing Ye sekilas. “Sungguh merepotkan.”

Xing Ye: “?”

“Sudah kubilang aku tidak membawanya, dan aku akan menebusnya nanti,” kata Sheng Renxing sambil memasukkan tangannya ke dalam saku. Dia melewati dua anak tangga sekaligus, sesekali melompat tiga langkah, dan jika seseorang mendekat, dia akan beralih ke langkah santai satu per satu.

Xing Ye mengikutinya, menyamai kecepatan Sheng Renxing, dan tidak mempedulikan apakah ada orang di sekitarnya.

“Apa kamu tidak akan kembali ke kelasmu?” Ketika mereka sampai di lantai dua, Sheng Renxing berbalik untuk bertanya padanya.

Sinar matahari menyinari Xing Ye, dia menyipitkan mata dan mengangguk, lalu menatap Sheng Renxing.

Sheng Renxing berkata, “Kalau begitu aku akan naik.”

Xing Ye mengangguk dalam diam.

Sheng Renxing terus menaiki anak tangga, berbelok ke lantai berikutnya, dan tiba-tiba berhenti. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat ke bawah dari pegangan tangga, dan matanya bertemu dengan tatapan Xing Ye.

“Sampai jumpa,” Sheng Renxing melirik ke arah seorang siswa yang berjalan tidak jauh darinya, mengucapkan kata-kata kepada Xing Ye, “Pacar.”

Xing Ye menatapnya dari bawah ke atas, tatapannya dalam dan terkendali. Tiga detik kemudian, dia mengangkat dagunya ke arahnya.

Ketika kembali ke kelas, gurunya memang sudah tiba.

Siswa di barisan belakang sedang mengumpulkan tugas, dan Sheng Renxing, yang masih dalam suasana hati yang baik, tersenyum kepada mereka dan berkata, “Aku tidak membawanya.”

Teman sekelas: “…”

Ia kemudian terus melangkah maju, kecuali dua baris pertama dan kapten, dia menerima jawaban “tidak membawanya” yang tak terhitung jumlahnya.

Setelah semua orang menyerahkan tugas mereka, guru bahasa Inggris melihat ke tumpukan kertas tipis itu, wajahnya menjadi gelap. Tatapan dinginnya menyapu sekelompok wajah muda namun tak kenal takut:

“Bagi yang tidak membawa tugasnya, kumpulkan besok.”

Memarahi mereka hanya akan membuang-buang energinya.

Sheng Renxing menghela napas.

Chen Ying dan si gendut yang duduk di sebelahnya menghela napas lega.

Chen Ying bertanya kepada kapten yang berada di depannya, “Bisakah kamu membawa kembali tugas itu untuk aku salin?”

Karena hanya sedikit siswa yang menyerahkan tugasnya, guru menitipkan tugas tersebut kepada perwakilan kelas, sehingga kapten dapat mengambilnya kembali.

Kapten menoleh ke arahnya, ragu-ragu sambil melirik ke arah Sheng Renxing.

“Sheng-ge, apakah kamu masih membutuhkannya?”

“Hm?” Sheng Renxing mendongak.

“Tugas bahasa Inggris, apakah kamu masih perlu menyalinnya?”

Sheng Renxing berkata, “Oh,” dan melihat tugas di mejanya, di mana tulisan tangan Xing Ye sangat artistik dan mengesankan. Dia meliriknya dan menyadari bahwa, selain dari pertanyaan pilihan ganda, dia bahkan tidak mengerti satu kata pun. “Tidak perlu.”

Ucapnya lalu mengambil gambar dengan cepat untuk dikirim ke Xing Ye.

[Kata ini.]

Tanggapan cepat dari pihak lain,

Y: [?]

X: [Lukisannya terlalu indah. Aku akan membingkainya saat aku kembali nanti, dan menyebut diriku sebagai ahli kaligrafi kontemporer.]

Y: [ ]

X: [/Lucu.]

Y: [ ]

X: [/Hampir menangis.]

Y: [/Peluk.]

Sheng Renxing melihat emotikon itu dan tersenyum. Dia mengetik: [/Peluk.]

Tidak ada jawaban dari seberang sana.

Sheng Renxing mendongak lagi dan melihat kapten diam-diam mengawasinya sambil mengeluarkan sesuatu dari ranselnya.

“?”

Dia mengeluarkan sesuatu yang terbungkus kantong plastik dan meletakkannya di meja Sheng Renxing.

Sheng Renxing melirik bungkusan itu, lalu menatap kapten tanpa berbicara atau bergerak.

Kapten menelan ludah dengan gugup, “Ini hadiah ulang tahunmu.”

“…” Sheng Renxing melihat ke kantong plastik itu, lalu kembali menatap kapten. Dia belum pernah menerima hadiah ulang tahun yang sederhana dan biasa, yang tersedia di mana-mana di jalanan.

“Tidak, terima kasih,” Sheng Renxing berpura-pura terkejut, lalu segera menolak. Dia menggunakan ujung jarinya untuk mendorong kantong plastik itu ke depan, tidak menunjukkan ketertarikan.

Kapten tampak terkejut dengan penolakannya dan terdiam sejenak. Setelah beberapa detik, dia berkata, “Tidak, tidak, ini…” Dia tidak tahu bagaimana membujuknya untuk menerimanya dan tampak cemas, dengan keringat mengucur di ujung hidungnya. Dia mengulurkan tangan dan membuka sudut kecil kantong plastik untuk memperlihatkan apa yang ada di dalamnya.

Itu adalah sebungkus rokok.

Dan itu adalah merek yang dikenali Sheng Renxing. Dia tidak ingat harga pastinya, tapi harganya mencapai ribuan.

Sheng Renxing tiba-tiba merasa seperti sedang merayakan ulang tahunnya yang kedua puluh tujuh.

Melihat kapten dan adegan “pertukaran hadiah” yang meragukan ini, sungguh merupakan ulang tahun yang tidak biasa.

“Apakah kamu pernah memberikan hadiah ulang tahun kepada orang lain sebelumnya?” Sheng Renxing terdiam sesaat dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

Kapten ragu-ragu sejenak dan kemudian mengangguk.

Penasaran, Sheng Renxing bertanya, “Apa yang kamu berikan kepada mereka?”

Kapten menjawab, “Uang.”

Sheng Renxing: “…”

Kapten, melihat keheningannya, berpikir sejenak dan berkata, “Aku juga bisa memberimu uang.”

“…” Sheng Renxing mengangkat alisnya, “Apakah kamu ayahku? Mengapa kamu memberiku uang?”

Kapten panik dan dengan cepat melambaikan tangannya, “Tidak, bukan itu maksudku!”

“Aku tidak merokok dengan merek ini, jadi kamu dapat mengambilnya kembali,” Sheng Renxing melambaikan tangannya. Meskipun dia merokok, namun, dia belum pernah mendengar bahwa keluarga kapten begitu kaya sehingga mereka bisa memberikan hadiah ulang tahun kepada teman sekelasnya senilai ribuan yuan. Lebih baik tidak menerimanya.

Kapten terdiam sejenak dan bertanya, “Jadi, merek apa rokokmu?”

Sheng Renxing mendongak, alisnya sedikit berkerut.

Kapten berbalik untuk menghadap Sheng Renxing, matanya sekarang menunjukkan sedikit semangat.

Sheng Renxing melirik ke arah guru dan Chen Ying, yang sedang bermain gim di sebelahnya, dan berkata, “Ayo keluar.”

Di samping toilet, Sheng Renxing berdiri dengan tangan disilangkan, dagu sedikit terangkat, dan tatapannya menunduk. Itu bukanlah sikap ramah.

Kapten dengan jelas merasakan suasananya dan tersipu malu dalam cuaca bulan Desember yang dingin. Dia masih memegang erat rokok di tangannya.

Sheng Renxing mengetuk lengannya dengan jarinya dan menunggu beberapa saat. Melihat kapten tidak menunjukkan tanda-tanda berbicara, dia harus memecah keheningan terlebih dahulu, “Aku menghargai sikap baikmu, tapi aku tidak menerima hadiah ulang tahun.”

Kapten memutar rokok di tangannya, dan kantong plastik mengeluarkan suara gemerisik. Suaranya agak lembut, “Merek apa yang kamu suka?”

Sheng Renxing dengan tidak sabar mendecakkan lidahnya, “Mengapa kamu memberiku hadiah ulang tahun?”

Kapten mengeluarkan suara bingung, “Ah.”

“Beberapa ribu yuan bukanlah jumlah yang kecil untukmu, bukan?”

Kapten tetap diam.

Hanya dalam beberapa kalimat, kesabaran Sheng Renxing hampir habis. Melihat bahwa dia tidak mendapat jawaban, dia berkata, “Apakah kamu tuli?”

“Tunggu,” kapten menghentikannya.

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih,” lanjutnya.

Sheng Renxing: “?”

Kapten menjelaskan, “Karena kamu telah membantuku terakhir kali. Aku ingin mengucapkan terima kasih.”

Sheng Renxing bingung, “Membantumu dengan apa?”

Kapten berkata perlahan, “Terakhir kali di toilet. Qian Sui dan Li Xiang mengatakan bahwa kamu membantuku selama pertengkaran.”

Suatu kali, ketika dia sangat perlu ke toilet selama kelas, dia melihat Sheng Renxing mencuci tangannya di wastafel ketika dia keluar.

Tadinya ia berniat menyapa namun tak sengaja mendengar seseorang menyebut namanya dari luar.

“Mengapa Zheng Xian masih berani datang ke kelas?”

“Kenapa? Dia bisa datang ke sekolah jika dia mau,” komentar seseorang.

“Aku merasa mual hanya dengan melihatnya,” seorang anak laki-laki berpura-pura muntah secara berlebihan. “Gay sialan.”

Di dalam toilet, wajah kapten langsung memucat. Dia dengan cepat melirik ke arah Sheng Renxing, yang seharusnya juga mendengar komentar tersebut. Sheng Renxing fokus mencuci tangannya seolah-olah dia tidak mendengar apa pun.

“Kenapa kamu merasa jijik padanya? Dia tidak berusaha berbicara denganmu,” kata seseorang.

“Untung dia belum mencobanya! Kalau tidak, aku pasti sudah menghajarnya habis-habisan.”

“Kesetaraan gender, teman-teman,” anak laki-laki lain menimpali sambil bersenandung.

“Katakan itu pada Xing Ye,” anak laki-laki itu terkekeh samar dengan maksud yang tidak diketahui, “Bukankah dia hampir mengirim gay sialan itu ke rumah sakit terakhir kali. Oh, ngomong-ngomong, menurutku pria gay itu masih berteman dengan Zheng Xian.”

“Apakah mereka bertengkar?” anak laki-laki yang lain berpikir sejenak. “Kudengar mereka tidak berkelahi.”

“Mereka memang bertengkar. Lihat saja bagaimana Wan Guanshan dan yang lainnya memperlakukan pria itu sejak saat itu,” anak laki-laki itu ragu-ragu sejenak, “Siapa yang peduli? Pokoknya, setiap kali aku berpikir tentang harus menghabiskan dua tahun bersama pria gay, aku merasa jijik.”

Tepat saat mereka tengah berbincang, kedua anak laki-laki itu memasuki toilet dan segera melihat Sheng Renxing dan kapten di depan wastafel.

Suasana tiba-tiba menjadi sunyi.

Mereka membeku di ambang pintu, tidak tahu apakah akan masuk atau tidak.

Tetapi mungkin fakta bahwa kapten tidak memelototi mereka dan justru berpura-pura mereka tidak ada, memberi mereka rasa percaya diri.

Kedua anak laki-laki itu bertukar pandang dan berjalan masuk seolah-olah mereka tidak mengatakan apa pun beberapa saat yang lalu. Mereka dengan santai menyapa Sheng Renxing, “Hei, teman sekelas baru datang untuk menggunakan toilet.” Anak laki-laki yang mengatakan dia gay, Qian Sui, menyapa Sheng Renxing dengan sangat akrab, dan mengabaikan kapten dengan sangat alami.

Sheng Renxing meliriknya dari sudut matanya, mengangkat kelopak matanya, dan memandangnya dari atas ke bawah di pantulan cermin. Kemudian dia menurunkan pandangannya dan fokus mencuci tangannya.

“…”

Keheningan terjadi sebagai jawaban terhadap penolakan semacam ini, dan ketegangan di udara mencapai puncaknya.

Anak laki-laki di sebelahnya, Li Xiang, dengan cepat mengganti topik pembicaraan dan memandang kapten dengan nada ramah, “Hei, kapten, kenapa kamu kembali ke sekolah? Sudah muak menonton film dewasa di rumah? Jika kamu membutuhkan lebih banyak, pinjam saja dariku!”

Qian Sui terkekeh, “Jangan khawatir, apa yang mereka lihat tidak sama dengan apa yang kamu lihat.”

“Oh,” Li Xiang meninggikan suaranya dengan nada penuh makna dan bertanya dengan rasa ingin tahu, “Apakah kapten masih terangsang oleh wanita?”

“…” Kapten melihat ke wastafel tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tampak membeku.

Melihat dia tidak menjawab, mereka berdua tidak bisa melanjutkan pembicaraan, jadi mereka pergi ke bilik toilet sendiri.

Sementara itu, Sheng Renxing akhirnya mematikan keran dan mengangkat tangannya untuk mencium baunya. Aroma rokok telah tertutupi oleh wangi sabun cuci tangan, dan dia tampak puas.

Kemudian, dia mengeluarkan sebungkus tisu yang sudah setengahnya terpakai dari sakunya dan mulai mengeringkan tangannya.

Di sisi lain, kedua anak laki-laki itu selesai menggunakan toilet dan datang untuk mencuci tangan.

Qian Sui berkata, “Kapten, beri ruang.”

Kapten tampak baru saja terbangun dari kebingungannya dan, dengan kepala tertunduk, berbalik untuk pergi.

Begitu dia berbalik, dia mendengar suara Qian Sui dari belakang, “Murid baru, sepatumu bagus. Apakah itu asli atau palsu?”

Dia ragu sejenak, berjuang dalam hati apakah akan menunggu Sheng Renxing atau tidak.

Namun selama beberapa waktu, suara Sheng Renxing tidak terdengar olehnya.

Seolah dia tidak mendengarnya, suara Qian Sui bergema lagi, “Aku bertanya padamu! Apa kau bo-“

Sebelum kata “bodoh” keluar dari mulutnya, tiba-tiba dia mendengar suara keras.

Dia segera berbalik dan menyaksikan Sheng Renxing membanting kepala Qian Sui ke wastafel.

Setelah “gedebuk” yang keras, lalu terdengar bunyi lainnya.

Sheng Renxing tetap diam, sementara Li Xiang, yang akhirnya sadar, mencoba melangkah maju.

Tapi Sheng Renxing menendangnya ke pintu partisi kamar kecil.

Terdengar suara keras lainnya.

Seluruh prosesnya memakan waktu kurang dari satu menit, dan terjadi secara tiba-tiba dari awal hingga akhir.

Kapten berdiri di sana, bersandar ke dinding dalam keadaan terkejut dan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Kemarahan dan rasa malunya sebelumnya telah terhapus seluruhnya oleh noda darah di wastafel. Dia bertanya-tanya, apakah ada yang terbunuh?

“Apa yang kami lakukan padamu?” Li Xiang duduk di lantai, wajahnya masih dipenuhi luka, tidak mampu berdiri untuk beberapa saat. Ia menyeka darah yang mengalir dari hidungnya dan berkata, “Kamu tidak akan lolos hari ini, aku tidak akan membiarkanmu di masa depan!”

Sheng Renxing menyalakan keran lagi untuk mencuci darah dari tangannya, mendengar ancaman Li Xiang. Setelah selesai mencuci, dia mematikan keran dan berjalan menghampirinya.

Li Xiang mengatupkan lehernya, matanya tanpa sadar dipenuhi rasa takut.

Dia telah bertarung dengan Qian Sui berkali-kali di masa lalu, tapi dia belum pernah dipukuli hingga tak berdaya, dan pukulan pihak lain terlalu kejam. Seolah-olah orang tersebut tidak memiliki rasa takut, meskipun itu berarti dia akan membunuh seseorang di sini.

Sheng Renxing menatapnya dengan merendahkan seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi melihat kondisinya, dia kehilangan minat dan terkekeh sebelum pergi.

Saat kamu bertarung dengan begitu brutal, tentu saja hal itu menarik perhatian para guru.

Di kelas berikutnya, keduanya dikirim ke rumah sakit.

Namun yang mengejutkan kapten, Sheng Renxing tampak baik-baik saja, dan sekolah bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Kecuali dua siswa yang sedang cuti, tidak ada jejak kejadian tersebut.

Sheng Renxing menyipitkan mata dan berpikir sejenak sebelum akhirnya mengingat kejadian itu. Meski sudah kurang dari sebulan, rasanya seperti tinggal kenangan. Dia hampir melupakannya karena itu bukan peristiwa penting.

Namun dalam ingatannya…

Dia memandang ke arah kapten dan hampir berseru, “Jadi kamu juga ada di sana saat itu.”

Setelah berpikir sejenak, dia menemukan ingatan samar tentang kerumunan orang yang menonton ketika dia memukuli kedua idiot itu. Sheng Renxing hendak berbicara ketika dia melihat Xing Ye bersandar di dinding di tangga.

“…”

Reaksi pertamanya adalah mundur dan menambah jarak antara dia dan kapten.


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply