• Post category:Embers
  • Reading time:10 mins read

Penerjemah: Rusma
Proofreader: Keiyuki17


Xing Ye: “…”

Dia menunjuk ke arah Sheng Renxing dan berkata, “Siapa yang akan bertanggung jawab atas ini jika kamu tidak selesai menyalin semuanya nanti?”

Sheng Renxing menyesap susu, menjilat noda susu di sudut mulutnya, dan mengacungkan jempolnya sambil berkata, “Percayalah pada dirimu sendiri!”

Xing Ye: “…”

Dia menatap Sheng Renxing dengan dingin dan menerima buku tugas itu.

Sheng Renxing tersenyum ketika dia melihatnya menulis dan dengan ramah mengingatkan, “Kamu tidak perlu menulis karakter dengan begitu rapi. Tulislah sedikit lebih santai sepertiku, atau guru akan mengetahuinya.”

Xing Ye melirik dan berkata, “Aku bahkan tidak mengerti apa yang kamu tulis.”

Sheng Renxing: “Itulah intinya!”

Sheng Renxing: “Hei, jangan hanya menyalin semuanya. Jelas sekali kamu belum pernah menyalin banyak tugas sebelumnya.”

Xing Ye ragu-ragu sejenak dan mengubah huruf “c” menjadi “a”.

Sheng Renxing: “Jangan menyalin pertanyaan ini, terlalu banyak kata dan tidak ada waktu untuk melakukannya.”

Xing Ye membalik halaman tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sheng Renxing: “Hei.”

Xing Ye: “Diamlah.”

Sheng Renxing tidak bisa menahan tawa, “Mengapa kamu begitu kasar!”

Xing Ye, tak peduli dan tidak berperasaan: “Ucapkan satu kata lagi, dan aku akan menyeretmu keluar lalu memukulimu.”

Xing Ye dengan lembut menekankan tangannya di atas meja dan berbisik, “Hentikan.”

“Lagi pula, tugas siapa ini?” Dia tersenyum tak berdaya.

“Milikku!” Sheng Renxing menyeringai dan mencoba menarik tangannya.

Dia mencoba menariknya, tetapi tidak bergerak.

Xing Ye menahannya dengan satu tangannya dan tangan lainnya dengan cepat menulis tugas bahasa Inggrisnya.

Siswa terbaik Sekolah Menengah Ketiga Belas, Xing Ye, menyalin tugas bahasa Inggris dengan sangat cepat, dan tidak ada yang akan mempercayainya!

Sheng Renxing tertawa sendiri.

Xing Ye terlihat sangat fokus, seperti yang dia lakukan tadi malam saat membuat tato.

Kamu tidak akan menyangka bahwa tangannya yang lain menggunakan seluruh kekuatannya untuk memegang erat tangan Sheng Renxing.

Sheng Renxing memperhatikan profilnya, wajahnya yang tajam, dan profil sampingnya cukup tampan, dengan garis rahang tegas yang terhubung mulus ke lehernya di bawah bayangan, dan ada tahi lalat kecil di lehernya yang terlihat jelas.

Dia sendiri bahkan tidak menyadarinya sampai dia tiba-tiba terbangun oleh suara-suara di kelas, menyadari bahwa dia tidak tahu sudah berapa lama dia menatap Xing Ye.

Dia mengalihkan pandangannya, tetapi Xing Ye kebetulan melirik ke atas, dan mata mereka bertautan sebentar dalam sekejap.

Di tengah hiruk pikuk kelas, mereka diam-diam saling bertukar rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua.

Dia telah menatapnya begitu lama.

Ia tahu dia telah memperhatikannya begitu lama.

Sheng Renxing menjilat bibirnya, dan dengan tangannya yang lain, dia mengambil botol susu, menyesapnya untuk terakhir kali, dan berbisik kepadanya, “Xing Ye,”

Melihatnya menoleh, “Apakah kamu ingin susu?”

Xing Ye melirik botol susunya, dan Sheng Renxing mengocoknya, menandakan botol itu kosong.

Dia memiringkan kepalanya, “Ayo pergi beli beberapa.”

“Bagaimana dengan tugasmu?” Xing Ye bertanya.

“Biarkan saja,” kata Sheng Renxing bahkan tanpa melihatnya.

Dia menarik Xing Ye pergi tanpa sepatah kata pun.

Seperti seseorang yang buru-buru minum air setelah kehausan selama dua hari.

Saat Xing Ye sudah setengah jalan, dia sudah tahu apa yang sedang dilakukan Sheng Renxing dan mengikutinya dalam diam dan saling pengertian.

Mereka berjalan di area terpencil, dan hampir tidak ada orang di jalan.

Ketika mereka sampai di sudut belakang gedung, Sheng Renxing mengulurkan tangan untuk menarik Xing Ye – tapi tiba-tiba terhenti,

Siswa dengan gaya rambut belah tengah yang pernah bermain dengan mereka sebelumnya, termasuk beberapa orang lainnya, ada di sana sambil merokok.

“…”

“…”

Siswa dengan gaya rambut belah tengah itu memandang ke arah Sheng Renxing, lalu ke Xing Ye di belakangnya. Untuk sesaat, tidak ada yang mengatakan sepatah kata pun.

Siswa dengan gaya rambut belah tengah itu melihat mereka mendekat dengan agresif, ekspresi bingungnya hanya berlangsung beberapa detik. Lalu dia langsung menyeringai provokatif, “Ada apa, kawan?”

Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Sheng Renxing mendecakkan lidahnya dengan nada menghina, menarik lengan Xing Ye, dan berbalik untuk pergi.

Siswa dengan gaya rambut belah tengah: “…”

Mereka terlalu sombong! Bisakah ini ditoleransi?

Setelah melirik sekilas ke arah Xing Ye sebelum dia pergi, dia tertawa dingin lagi dan duduk dengan kokoh, mendudukkan pantatnya yang hendak dia angkat.

Lain kali! Mereka pasti akan menunjukkan pada mereka berdua apa yang mereka perbuat.

Sheng Renxing berjalan beberapa saat dengan ekspresi tidak senang, dan saat mereka hendak mencapai kios, Xing Ye tiba-tiba mengaitkan tangan lehernya dan memutarnya ke samping.

Sisi ini memiliki jalan yang sangat sempit, dan setelah melewatinya, itu cukup terpencil, tanpa kamera keamanan.

Segera setelah mereka berdua keluar.

Mereka melihat Huang Mao dan beberapa siswa lainnya sedang mengisap rokok.

– Jadi, itulah mengapa semua yang merokok datang kesini.

“…” Sheng Renxing mengerutkan kening dan hendak pergi.

Namun, Huang Mao dan yang lainnya sudah melihat mereka berdua.

“Hah?” seseorang memanggil. “Kebetulan sekali?”

Dong Qiu tersenyum dengan sebatang rokok di mulutnya, mengangkat tangannya, dan melemparkan rokok itu.

Xing Ye menangkapnya, lalu melemparkannya kembali, menunjukkan bahwa dia tidak ingin merokok.

“Tidak merokok?” Dong Qiu bertanya.

Melihat mereka tampak siap untuk memulai percakapan, Sheng Renxing, dengan wajah tegas, menyela dan berkata, “Kenapa kalian ada di sini?”

Kelompok itu terkejut.

“Apa lagi?” Huang Mao mengangkat rokok di tangannya. “Tentu saja merokok.”

Jiang Jing tersenyum dan menambahkan, “Apa lagi yang akan kita lakukan di sini?”

Saat dia berbicara, tatapannya menyapu mereka bedua bergantian dengan sedikit kecurigaan.

Sheng Renxing sedang tidak ingin mengobrol dengan mereka sekarang, jadi dia menarik Xing Ye dan berbalik untuk pergi.

Jiang Jing menghentikannya. “Hei,” katanya, “Selamat ulang tahun.”

Sheng Renxing menghentikan langkahnya. “Terima kasih.”

Huang Mao dan yang lainnya juga menyadarinya.

Sekelompok orang tersebut kemudian berkata serempak, “Selamat ulang tahun.”

Setelah mengatakan itu, mereka segera mengingatkan, “Jangan lupa, anak yang berulang tahun, kamu harus mentraktir kami makan malam di restoran rooftop malam ini.”

Sheng Renxing menjawab, “Kalian cukup berani, bukan?”

Huang Mao dan yang lainnya terkekeh, “Kita semua bersaudara di sini, apa masalahnya?”

Jiang Jing memberi isyarat dengan tangannya, “Itu adalah tradisi. Ketika Xing Ye berulang tahun tahun ini, kami bahkan mungkin mengadakan pesta steak.”

Dia mengatakannya dengan bangga.

Xing Ye tetap diam.

Sheng Renxing berkata, “Sampai jumpa malam ini.”

Mengatakan itu, dia mencoba menarik Xing Ye lagi.

Huang Mao bertanya, “Setelah makan, apakah kamu akan pergi ke karaoke atau ke bar?”

Dong Qiu berkata, “Tidak ada karaoke, lagu terakhirmu hampir membuatku mati. Aku memilih bar!”

Huang mao menambahkan, “Apa pendapatmu tentang Xu Song? Aku juga memilih ke bar.”

Sheng Renxing sekali lagi terhenti, mengerutkan kening, dan menunggu diskusi mereka selesai. Tiga suara untuk bar, satu suara untuk karaoke.

Dia menoleh ke Xing Ye dan bertanya, “Bagaimana denganmu?”

Xing Ye menjawab, “Karaoke.”

Sheng Renxing dengan tegas berkata, “Kalau begitu, karaoke.”

Huang Mao meratap, “Tidak, ini seri! Ayo pilih lagi!”

Sheng Renxing dengan tidak sabar berkata, “Baiklah, kalau begitu pilih bar, tapi kamu yang membayar.”

Huang mao menyahut, “Karaoke, aku ingin mendengarkan Xu Song.”

Setelah berdiskusi, tak satu pun dari mereka menyalakan rokok.

Baru setelah semuanya selesai, Xing Ye, bersama Sheng Renxing, melanjutkan perjalanan mereka.

Dari bersemangat menjadi lesu, dorongan Sheng Renxing sebelumnya telah memudar. Berjalan menyusuri jalan kecil di belakang Xing Ye, dia menghibur dirinya sendiri, berpikir, “Oh, baiklah, akan ada banyak peluang sepulang sekolah!”

Di tengah jalan, Xing Ye tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadapnya.

“Apa-” Sheng Renxing tiba-tiba menabraknya, mundur selangkah, dan mulai bertanya. Tapi sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, dia disela.

Xing Ye memegangi lengannya untuk menghentikannya melangkah mundur dan mencubit pipinya dengan satu tangan, mencondongkan tubuh untuk menciumnya.

“!” Sheng Renxing menatap dengan heran.

Jalan setapak itu sangat sempit, hanya memungkinkan satu orang untuk lewat dalam satu waktu. Dengan Xing Ye menghalangi pandangannya, Sheng Renxing tidak dapat melihat apakah ada orang yang lewat di depannya, tetapi tawa Huang Mao dan yang lainnya di sudut terdengar jelas di belakangnya.

Selama mereka melihat ke jalan dari persimpangan, keduanya akan terlihat sepenuhnya.

“Ada seseorang!” Sheng Renxing berbisik.

Xing Ye menjawab “Hm” dengan pelan tanpa mengubah ekspresinya. “Aku melihatnya.”

Lalu dia mencondongkan tubuhnya lagi.

Jelas kamu tidak bisa melihat apa pun!

Sheng Renxing ingin berdebat, tetapi kata-kata itu tersangkut di mulutnya, dan dia menelan semua yang ada di dalam pikirannya bersamaan dengan rasa susu.

Jari-jari Xing Ye mengendur dari pipinya dan meluncur ke lehernya, merasakan simpul tenggorokannya naik turun di jari-jarinya.

Sheng Renxing bukan satu-satunya yang ingin minum susu.


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply