• Post category:Embers
  • Reading time:9 mins read

Penerjemah: Keiyuki17
Proofreader: Rusma


Sejak Xing Ye mengatakan itu terakhir kali, Sheng Renxing telah memikirkan tentang malam ini selama seminggu, dan rencana pengakuan dari a sampai z telah direncanakan, bahkan skenario terburukpun sudah terpikirkan olehnya, dimana Xing Ye menyesali pilihannya. Dia juga dengan serius merencanakan apa yang perlu dilakukannya, bahkan jika harus memaksa. Jika Xing Ye masih menolak untuk menerimanya, dia harus bertindak sebagai tuan muda yang mendominasi.

Naskah ini melewati beberapa halaman dalam pikirannya, tapi pada akhirnya, tidak ada satu pun rencana yang digunakan.

Dia dikalahkan oleh gerakan tiba-tiba Xing Ye.

Dia benar-benar kalah telak.

Dia tidak bisa menahan senyum saat dia memandang Xing Ye. Dia mengangkat tangannya dan menyeka wajahnya, berkata, “Aku belum membuat permintaan.” Dia belum membuat pengakuan.

“Aku tidak bisa menunggu lagi,” kata Xing Ye.

Sheng Renxing berkata, “Persetan.”

Dia menatap Xing Ye sejenak, tapi tak satu pun dari mereka bergerak, seolah menunggu sesuatu atau sedang ragu-ragu.

Seekor anjing tak dikenal menggonggong di luar.

Sheng Renxing tiba-tiba mengulurkan tangan dan meraih kerahnya, membungkuk dan menciumnya.

Suhu tubuh Xing Ye sudah agak rendah, dan setelah diterpa angin dingin selama lebih dari setengah jam, ada sedikit area di tubuhnya yang sedikit panas.

Sheng Renxing pertama-tama mengusap bibir pihak lain yang agak dingin, yang masih agak lembap.

Tanpa sadar, dia menjulurkan lidahnya dan menjilatnya.

Asin.

Itu adalah air matanya sendiri ketika Xing Ye menciumnya sebelumnya.

Dia membeku sesaat, dan pada saat berikutnya, Xing Ye meraih rambut di belakang lehernya dan menggunakan beberapa kekuatan untuk mencegahnya mundur. Kemudian, menciumnya dengan dalam.

Perasaan dingin di belakang lehernya membuatnya tersadar, namun suhu hangat dan lengket di antara bibir dan giginya membuatnya tenggelam.

Ciuman antara dua anak laki-laki seberat perkelahian, seolah-olah mereka akan menelan yang lain ke dalam perut mereka. Percikan panas menekan kulit mereka, membakar oksigen, tapi mereka tenggelam dalam suara yang saling terjerat.

Sheng Renxing mendorong Xing Ye ke samping terlebih dulu, terengah-engah saat tangannya gemetar di depan dada Xing Ye, merasakan pasang surut yang sama dari pihak lain seperti yang dia rasakan sendiri.

Xing Ye tampak tidak puas, jadi dia menempelkan telapak tangannya yang panas di punggungnya. Melalui lekukan di punggungnya, dia membungkuk untuk melanjutkan.

Dia memiringkan kepalanya dan tidak membiarkannya menciumnya: “Tunggu sebentar.”

“Ada apa?” Suara Xing Ye serak.

Apa lagi yang bisa dia lakukan, ciumannya begitu membara!

Sheng Renxing menarik tangannya keluar dari pakaiannya sambil membungkukkan pinggangnya dan melangkah mundur, tidak ingin Xing Ye menyadarinya.

Namun, Xing Ye tidak membiarkannya pergi.

“Jangan,” Sheng Renxing dengan kuat menutup mulutnya. Ponselnya telah memainkan simfoni di sakunya, dan mereka masih berdiri di toko orang lain. Tidak peduli bagaimana kamu melihatnya, adegan ini tidak cocok untuk pengembangan lebih lanjut sekarang!

Xing Ye tetap diam dan melonggarkan pengekangan padanya, tapi tidak melepaskannya, dia duduk kembali di atas meja dan menariknya.

“Selamat ulang tahun,” bisik Xing Ye.

“Katakan lagi,” Sheng Renxing bersandar padanya dan memberinya pelukan yang erat.

“Pacarku,” ulang Xing Ye sambil tersenyum.

“Selamat ulang tahun untuk pacarku.”

“Sial!” Kalimat ini sekarang seperti afrodisiak, Sheng Renxing tidak bisa berhenti tertawa, dan dengan semangat ingin memeluk Xing Ye, tapi dengan posisi ini tidak mudah untuk memeluknya, jadi dia menggunakan paksaan. Dia memeluk Xing Ye dengan keras, lalu menggigit bahunya dengan keras.

“Hisss.” Xing Ye yang tiba-tiba digigit, dengan cepat mengangkat Sheng Renxing, yang menatapnya dengan senyum murni dan cerah, tanpa rasa bersalah karena melakukan kesalahan.

“Anjing Gila Kecil.” Xing Ye meremas pipinya dengan kuat.

Sheng Renxing dengan gembira menjawab, “Guk.1Tentu saja ini suara anjing.

Xing Ye terhibur olehnya, dan mereka berdua tertawa sebentar.

Xing Ye tiba-tiba mengulurkan tangan padanya dan berkata, “Ini.”

“Apa?” Sheng Renxing mengambilnya dan melihatnya. Cahaya bulan tidak cerah, jadi dia hanya bisa melihat bola bundar kecil dengan sambungan perak yang berkilauan tergantung di atasnya. Itu terlihat seperti anting-anting.

“Hadiah ulang tahun,” kata Xing Ye sambil menyalakan lampu.

Cahaya bersinar terang, menerangi benda-benda di tangannya.

Bola bundar itu adalah batu, tapi dipoles hingga menjadi sangat bulat dan memiliki warna dan pola yang unik, seperti bulan.

Sheng Renxing menatap kosong ke arahnya dan berkata, “Apakah ini anting-anting yang kamu katakan kamu buat untukku terakhir kali?!” Dia menatap Xing Ye, dengan matanya yang berapi-api, “Cantik sekali!”

Xing Ye terkekeh ringan dan mengambil anting-anting itu lagi, “Bisakah memakainya di telinga kiri?”

Sheng Renxing bahkan tidak memikirkannya: “Ya!” katanya sambil mendekatkan telinganya ke arahnya, “Aku akan membuat sepuluh lubang lagi besok, dan menggantung semuanya.”

Xing Ye: “Itu tidak perlu.”

“Satu sudah cukup.” Dia membantu Sheng Renxing memakainya, dan batu yang tergantung di bawah telinganya, sedikit bergoyang dengan gerakan Sheng Renxing, seperti cahaya bulan yang kental.

Begitu dia selesai berbicara, dia mengubah perkataannya lagi, “Biarkan aku membuatkanmu anting lagi.”

“Oke!” Sheng Renxing setuju, “Aku akan memakainya begitu kamu selesai membuatnya.”

Xing Ye tersenyum dan menunjuk ke tempat tidur, “Duduklah di sana dan bersiap untuk ditato.”

“Oh,” Sheng Renxing berkata, “Kupikir hadiah ulang tahunnya adalah tato.”

Xing Ye menggelengkan kepalanya seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak mengatakan apa-apa, dia berbalik dan pergi untuk mengambil alat.

Ponsel Sheng Renxing tidak berhenti berdering, tapi dia tidak ingin melihatnya, matanya justru terus mengejar Xing Ye.

“Bukan?”

“Bukan,” jawab Xing Ye, dengan terampil menyalakan mesin sambil berbicara dan menariknya ke tempat tidur.

“Apa itu?” Tanya Sheng Renxing.

Xing Ye mengenakan masker dan duduk di kursi putar di samping tempat tidur. Dia mengambil sarung tangan hitam yang berada di sampingnya, dan berkata sambil memakainya, “Tato akan terasa sangat menyakitkan.”

“Apakah sangat menyakitkan?” Sheng Renxing belum pernah memiliki tato sebelumnya, tapi dia belum pernah mendengar bahwa membuat tato bisa sangat menyakitkan. “Apa kamu memerlukan anestesi?”

“Itu menyakitkan, tapi tidak perlu.” Xing Ye menyesuaikan peralatan yang tidak dia mengerti.

Kemudian dia berhenti dan menatapnya, “Aku akan bertanya lagi, apakah kamu mau tato?”

“Ya.” Apakah kamu bercanda? Pola ini setara dengan pengakuan Xing Ye pada dirinya. Dia dapat membuat tato pengakuan di tubuhnya dan melihatnya setiap hari. Bagaimana mungkin dia tidak menginginkan hal yang begitu baik!

Dia benar-benar lupa bagaimana dia dulu menyindir Qiu Datou tentang tato cinta pertamanya.

Xing Ye mengangguk dan berkata, “Apakah kamu ingin mengubah polanya?” Itu adalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengannya.

“Tidak!” Sheng Renxing memotongnya dan menggulung lengan bajunya. “Jangan tanya lagi, cepatlah.”

“Sudah terlambat untuk menyesalinya.” Xing Ye tidak bergerak dan memandangnya.

“Aku tidak akan menyesalinya,” Sheng Renxing memelototinya. “Jangan mengatakan kata sial seperti itu.”

Xing Ye mengangguk.

“Semua yang mungkin aku katakan sekarang adalah palsu, dan kamu mungkin tidak mempercayainya. Bagaimanapun, aku benar-benar serius.” Sheng Renxing terkekeh dan menekankan, “Aku sangat serius. Jika kamu percaya padaku, kamu pasti tidak akan menyesalinya.”

Setelah selesai berbicara, dia menepuk dirinya sendiri dan berkata, “Kenapa aku merasa nada suaraku agak seperti bajingan.”

Xing Ye tersenyum dan berkata, “Dimengerti, bajingan Sheng.”

Sheng Renxing tidak puas dengan sikapnya dan duduk diam beberapa saat. Tiba-tiba, dia memikirkan sesuatu dan duduk tegak, “Kamu yang mengacaukan rencanaku.”

Xing Ye menatapnya.

Sheng Renxing menjilat bibirnya dan menatapnya dengan serius, jantungnya berdegup kencang lagi: “Aku menyukaimu.”

“Sejak pertama kali kita bertemu.”

“Aku harap kamu bisa menjadi pacarku,” katanya setelah jeda, menjentikkan jarinya. “Oh, kamu sudah menjadi pacarku, jadi aku harap kamu bisa mencintai pacarmu dengan baik di masa depan dan tidak pernah pergi, entah itu kematian atau penyakit.”

“Apa kamu mendengarnya?” Sheng Renxing tertawa ketika dia mengatakannya, merasa agak konyol. Dia mengangkat kakinya dan menendang kaki Xing Ye.

Xing Ye juga tersenyum. Dia meletakkan alat di tangannya dan menarik masker ke dagunya, berkata, “Kemarilah.”

Tanpa menunggu reaksi Sheng Renxing, dia menariknya. Dia jatuh cinta padanya.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

Leave a Reply