• Post category:Embers
  • Reading time:24 mins read

Adik laki-laki dari pihak ibumu

Penerjemah: kueosmanthus
Editor: hoshilhouette


Sheng Renxing duduk di kursi, tenggelam dalam pikirannya untuk waktu yang lama. Akhirnya, dia memutuskan untuk mandi dulu.

Kondisi kamar mandi cukup bersih. Sisi negatifnya adalah kepala pancuran air sudah tua, sehingga air menyembur ke segala arah.

Nah, kamu akan mendapatkan sesuai apa yang kamu bayar.

Setelah dia selesai mandi, dia menyandarkan tubuhnya pada kepala tempat tidur untuk menelepon, dia ingin meminta pakaiannya dicuci.

Sisi lain: “Apa? Maaf, kami tidak memiliki layanan binatu.”

Sheng Renxing menyangga kakinya pada tempat tidur. Seperti yang diharapkan. Dia tidak terpengaruh sedikit pun. Secara mental, dia mendengar suara ‘cha-ching’1 di dalam kepalanya saat dia memenangkan taruhan dengan dirinya sendiri.

Pihak lain berkata, “Tapi kami memiliki ruang cuci di lantai pertama. Kamu bisa mencuci pakaianmu di sana.”

Sheng Renxing menoleh untuk melihat tumpukan pakaian di tanah dan ia kemudian melihat jubah mandi di tubuhnya.

“….”

Setelah bernegosiasi, pihak lain setuju untuk mencuci pakaiannya dengan biaya seratus yuan. Pihak lain juga dengan antusias menawarkan untuk mengantarkan pakaian tersebut sampai ke depan pintu kamarnya dalam kondisi persis seperti saat mereka masuk setelah kering.

Seperti yang diharapkan, kekuatan uang.

Sheng Renxing menutup telepon, kemudian membuka aplikasi lain. Dia mulai menelusuri WeChat-nya.

Kepala Besar Qiu telah mengiriminya serangkaian pesan.

Sementara itu, hal terakhir yang dikirim Sheng Renxing adalah gambar kedai mie dan sebuah pesan yang mengatakan, “Aku sedang makan dengan seseorang.”

Di bawahnya ada pengeboman teks.

Dengan nada tidak percaya, Qiu Huaixin mengirim chat:

[Apakah itu … kedai pinggir jalan?]

[Tempat seperti ini ….]

[Apa kamu terpengaruh oleh masalah yang terjadi dengan Paman Sheng?! Bagaimana dengan mysophobia2-mu yang konstan dan tidak masuk akal?!]

Setelah mengungkapkan keterkejutannya, dia fokus pada aspek yang lebih penting.

[Tunggu—dengan siapa kamu makan?! Siapa yang pantas mendapatkan kehormatan besar seperti itu?!]

[Dulu aku pernah secara pribadi membuat kue untukmu dan kamu menerimanya, tapi di belakangku, kamu memberikannya kepada Sheng Anquan karena kamu pikir kue itu kotor! Lalu, bagaimana dengan mie di kedai itu? Ada apa dengan itu?!]

[Saat itu, aku pikir itu hanya karena mysophobia-mu sedang kambuh. Nyatanya kamu hanya tidak berpikir bahwa aku layak?!]

[Aku bekerja keras untuk membuat kue itu selama tiga jam! Tiga jam!!!]

[….]

Setelah membaca rangkaian pesan ini, Sheng Renxing tanpa berkata-kata kemudian menggulir sisanya dengan cepat.

[Makanan di sini bagus. Mienya enak.]

Dia kemudian berhenti saat mengetik dan menyeringai.

[Apa kamu pikir aku tidak melihat cara kamu membuat kue itu? Kamu tidak hanya tidak memakai sarung tangan saat mengoleskan krim mentega, tapi kamu juga menjilatnya setelah kamu selesai melapisinya!]

[Sudah dengan penuh pertimbangan aku memberikan kue itu untuk orang lain di belakangmu, bukan langsung di depan wajahmu.]

Setelah mengirim pesan-pesan ini, dia menerima telepon dari orang lain. Sheng Renxing dengan dingin menolak.

Namun, ini tidak mencegah kemarahan yang lain datang.

Kepala Besar Qiu:[Jangan ubah topik pembicaraan! Katakan padaku, siapa yang mengajakmu? Apa kamu makan bersama dengan seorang pria secara acak di luar? Kita baru berpisah satu hari! Dan kamu sudah menemukan orang baru?!]

X:[.]

Kepala Besar Qiu:[Jangan coba-coba menyelamatkan diri dengan tanda titik! Siapa pria itu? aku akan meringankan hukumanku padamu jika kamu mengatakan yang sebenarnya! Jika tidak, aku akan menjual istri kecilmu! ]

X:[Pesan yang Anda kirim telah terkirim, tetapi pihak lain menolak untuk menerimanya.]

Kepala Besar Qiu:[???]

Sheng Renxing keluar dari ruang obrolan dan menatap layar saat dia mengetuk sisi ponselnya dengan jari telunjuknya.

Dia mengerutkan bibirnya dan kemudian membuka halaman ‘tambah kontak’.

Dia memasukkan nomor telepon yang diberikan Xing Ye padanya.

Dia kemudian menekan ‘cari.’

[Pengguna tidak ditemukan]

“?” Sheng Renxing tercengang.

[Pengguna tidak ditemukan]

Apakah ini nomor palsu?

dia kemudian menolak pemikiran ini.

Mungkinkah dia tidak punya WeChat?

Dia memikirkannya sebentar dan kemudian menulis pesan:[Terima kasih untuk payungnya. Mie hari ini enak.]

Dia menatap layarnya sebentar sebelum menambahkan [Kapan aku harus mengembalikan payungmu?]

Setelah menambahkan kalimat itu, Shen Renxing tidak segera mengirim pesan. Dia mengerutkan alisnya saat dia mengamati pesan itu untuk waktu yang lama.

Dia merasa apa yang dia lakukan ini tidak terdengar benar. Dia terdengar terlalu manja dan centil.

Jadi, dia pun menghapus pesannya.

[Kapan kamu ingin payung itu kukembalikan?]

Sekarang ini terdengar sempurna. Hal ini cocok dengan aura Sheng ge.

Dia menekan tombol ‘kirim’.

Pesan berhasil terkirim.

Sheng Renxing berbalik di tempat tidur dan meletakkan teleponnya di dekat bantal. Dia tidak keluar dari aplikasi perpesanan. Saat dia mengklik nama kontak ‘Xing Ye’, untuk beberapa alasan yang membingungkan, kata-kata ‘manusia liar’3 yang Qiu Huaixin katakan muncul di benaknya.

Kedengarannya cukup akurat.

Xing Ye baru saja mencuci pakaiannya dan mandi. Dia saat ini sedang menjemur pakaiannya di luar jendela.

Setelah menggantung semuanya, dia tidak segera menutup jendela. Dia meletakkan tangannya pada pagar di luar dan bersandar di ambang jendela.

Lumpur di jaket seragamnya sudah sulit dibersihkan. Dia telah menggunakan tangannya untuk menggosoknya dua kali.

Angin malam yang dingin membawa serta hujan berkabut. Pakaiannya berkibar tertiup angin, berdesir di udara.

Dia mungkin harus mencuci pakaiannya lagi setelah kering.

Namun, jika dia tidak mencucinya sekarang, ibunya akan menginterogasinya tentang kotoran itu.

Xing Ye merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus rokok.

Rumahnya berada di dekat gang tempat mereka bertarung.

Lebih tepatnya, itu lebih jauh di dalam.

Gang ini dipenuhi dengan bangunan ilegal. Jalannya sangat sempit, sehingga hanya satu orang yang bisa melewatinya pada satu waktu.

Jendela-jendela bangunan di sisi yang berlawanan bisa saling bersentuhan saat dibuka. Sinar matahari tidak bisa mencapai tempat ini.

Pada malam hari, tidak ada lampu jalan.

Bahkan jika dipasang di sini, mereka tidak akan bertahan lama. Tidak ada yang menginginkan mereka di sini.

Saat ini, hari sudah gelap, tidak ada secercah cahaya pun yang terlihat. Tempat itu sangat gelap, sehingga terasa seperti seseorang sedang terjebak di luar angkasa.

Namun, apa yang tidak bisa dilihat oleh mata, bisa didengar oleh telinga. Di luar terdengar sangat ramai. Ada berbagai macam suara—ada orang-orang yang mencoba menggaet pelanggan dan ada orang-orang berkelahi. Ada tawa, cemoohan dan kutukan marah di sekitar.

Gang menjadi hidup dalam kegelapan.

Sebagai perbandingan, keheningan rumahnya tidak normal.

Namun demikian, keheningan yang tidak normal ini adalah ciri khas rumahnya.

Xing Ye bersandar pada dinding lantai dua dan perlahan-lahan mengembuskan segumpal asap.

Tatapannya mengikuti asap yang melayang di udara. Bahkan saat partikel asap menghilang dari pandangannya, dia terus menatap kosong ke angkasa.

Hingga ponselnya berbunyi.

Bulu mata Xing Ye sedikit bergetar dan dia kembali ke dirinya sendiri. Reaksi selanjutnya adalah mengerutkan kening.

Reaksi ini adalah reaksi kebiasaan untuk menerima pesan sekarang.

Dia mengambil ponselnya dan melihat ke layar.

Ada nomor tak terduga di atasnya.

[Kapan kamu ingin payung itu kukembalikan?]

Xing Ye menatapnya sebentar. Awalnya, dia berencana membalasnya [Simpan].

Tapi teleponnya berdering lagi.

Nomor baru yang familier mengiriminya pesan: [Pihak lain telah setuju. kamu mengatur waktu.]

Lampu di ruangan ini tidak menyala. Layar ponsel memancarkan cahaya biru pucat, memancarkan cahaya mengerikan di wajah Xing Ye.

Ekspresinya sedikit dingin dan dia perlahan mengetik jawabannya.

[Lusa, jam sembilan malam, tikungan barat.]

Dia mendapat balasan dengan sangat cepat: [ok.]

Suara kunci yang diputar di lubang kunci bergema di seluruh ruangan.

Xing Ye terkejut. Dia membuang puntung rokok ke luar jendela sebelum menutupnya.

Klik.

Lampu menyala.

Xing Ye menyipitkan matanya, dibutakan oleh cahaya yang tiba-tiba.

Sebuah jeritan merobek udara sedetik kemudian.

“Ya ampun, kau membuatku takut setengah mati!” Seorang wanita yang memakai rok pun masuk. Dia menepuk-nepuk tetesan hujan dari dirinya dan menggerutu padanya: “Mengapa kamu tidak menyalakan lampu di rumah? Aku pikir jantungku akan melompat keluar dari dadaku.”

Suaranya bernada tinggi dan halus. Saat dia berbicara dengan nada lembut ini, gerutuannya terdengar lebih seperti dia mencoba untuk bertindak centil daripada seperti dia benar-benar marah.

Xing Ye, bagaimanapun, mengerutkan kening pada ini. “Kenapa kamu kembali?”

Wanita itu memutar bola matanya. “Ada apa dengan sikapmu?!”

Dia melemparkan dompetnya ke sofa dan datang untuk mendorongnya pergi. Aroma parfum tercium darinya. “Aku datang untuk mengambil pakaianku.”

“Kamu benar-benar bodoh. Apa kamu tidak tahu bagaimana membantuku membawa pakaian saat badai seperti ini?”

Setelah dia gagal memindahkannya, dia mendorongnya lagi. “Minggir. Apa kamu merokok saat aku pergi? Kau bau!”

Xing Ye menatapnya diam-diam dan kemudian bergeser ke samping.

Setelah wanita itu membawa pakaian yang baru saja dia jemur, dia berkata, “Itu adalah pakaian yang baru saja aku cuci.”

“Kenapa kamu tidak mengatakannya lebih awal?!” Wanita itu memarahinya, kesal, pakaiannya masih ada di pelukannya. Segera, tatapannya berubah waspada. “Kenapa kamu mencuci pakaianmu di tengah malam?”

Dia kemudian berbalik untuk mengukurnya4.

Xing Ye tetap tenang. “Hari ini terlalu panas. Aku banyak berkeringat.”

Wanita itu memeriksanya untuk waktu yang lama sebelum memutuskan untuk melepaskannya. Dengan ‘tsk‘, dia berkata, “Sangat istimewa meskipun sangat miskin.”

Dia kemudian menggantung pakaiannya sekali lagi. Setelah itu, dia menggaruk kepalanya. “Tunggu, aku bersumpah aku mencuci pakaian. Aku mengingatnya dengan jelas! Di mana gaun kulitku?”

Xing Ye memotongnya: “Itu adalah hari sebelum kemarin.”

“….”

Wanita itu memutar bola matanya lagi. “Ya … ya … kamu punya ingatan yang bagus.”

Dia menutup jendela dan kemudian berbalik untuk menyampirkan tasnya di bahunya.

Xing Ye menatap punggungnya. “Apa kamu akan keluar lagi?”

Wanita itu menoleh untuk melihat putranya yang bersandar di dinding.

Dia tersenyum dan kemudian berjalan untuk mengacak-acak rambutnya.

Xing Ye memiringkan kepalanya ke samping, menghindari sentuhannya dengan cemberut.

Namun, wanita itu tidak menyerah.

Setelah mengacak-acak rambutnya, dia mengambil uang seratus dolar dari dompetnya. “Jangan bertingkah seperti anak manja. Aku akan bermain mahjong di tempat Bibi Fangmu.”

Xing Ye tidak bergerak. Dia terus menatapnya, tatapannya dingin.

Wanita itu mengabaikannya dan memasukkan tagihan ke sakunya. “Aku akan pergi sekarang.”

Dia memperbaiki pakaiannya saat dia berjalan ke pintu. “Hari yang mengerikan. Oh, bukankah kamu punya payung yang lebih besar? Yang hitam. Biarkan aku menggunakannya. “

Xing Ye: “….”

“Aku meminjamkannya ke teman sekelas.”

“Oh?” Wanita itu menatapnya, terkejut. Dia menyipitkan matanya. “Teman sekelas perempuan?”

“Tidak.” Xing Ye berkata, “Sun Wen.”

Wanita itu kehilangan semua minat sekaligus. Dia mendengus. Setelah mencapai pintu, dia berkata, “Jangan terlalu banyak merokok. Apa kamu mendengarku?”

Xing Ye melipat tangannya saat dia menatapnya. Dia pura-pura tidak mendengar itu.

Wanita itu mengambil sebuah benda kecil dan melemparkannya ke arahnya. “Jangan berpura-pura tuli. Cepat dan pergi tidur. Bukankah kamu harus pergi ke sekolah besok? Aku akan memukulmu sampai mati dengan sapu jika sekolah memanggilku lagi!”

Bang. Pintu terbanting menutup di belakangnya.

Xing Ye menangkap barang itu dan meliriknya. Benda itu adalah tabung lipstik sialan.

Dia terdiam beberapa saat sebelum menghela napas pelan. Ia lalu membuangnya ke tempat sampah.

Dia kemudian mengambil teleponnya dan menghapus pesan yang akan dia kirim ke Sheng Renxing.

Dia kemudian mengetik pesan baru.

[Terserah kamu.]

Sheng Renxing tidak tidur nyenyak tadi malam. Dia merasa seperti ada nyamuk yang berdengung di telinganya sepanjang malam. Sayangnya, itu selalu menghilang setiap kali dia menyalakan lampu. Dia sangat kesal, sehingga dia hampir mencoba membunuh seseorang.

Baru setelah matahari menembus cakrawala, dia jatuh ke dalam tidur yang kacau.

Namun, setelah memejamkan mata selama beberapa detik, dia dikejutkan oleh teleponnya.

Dia telah mengubahnya menjadi getar. Getaran tanpa henti mengingatkannya pada nyamuk.

Sheng Renxing meraih meja samping tempat tidur dengan mata masih tertutup. Tanpa melihat layar, dia menolak panggilan itu.

Sedetik kemudian—

Bzz—bzz—

Dengan ekspresi membunuh di wajahnya, dia menarik teleponnya. Dia ingin melihat siapa idiot ini.

Nomor itu adalah nomor yang tidak dikenal.

Setelah membuka satu mata, dia bertemu dengan cahaya yang menyilaukan, memaksanya untuk menutup matanya lagi.

Sheng Renxing berguling ke samping, menerima panggilan dan kemudian mendekatkan telepon ke telinganya. Dia menunggu orang lain berbicara.

“Halo?”

Suara itu adalah suara seorang pria. “Apakah ini Sheng Renxing?”

“Siapa kamu?”

“Eh, kamu masih tidur?” Orang lain bertindak sangat akrab dengannya. “Sekarang sudah siang. Ayo makan bersama!”

“Siapa kamu?” Sheng Renxing bertanya lagi, alisnya berkerut saat dia memaksa dirinya untuk tetap tenang.

“Hm?” Pihak lain tampak terkejut. Dia kemudian bergumam pada dirinya sendiri, “Apakah dia tidak menyimpan nomorku?”

Suara pria lain tiba-tiba datang dari sisi lain.

Pendatang baru itu tertawa. “Sekarang bukankah ini canggung? Kamu telah berbicara tentang dia sepanjang hari, tetapi dia tidak tahu siapa dirimu. “

“Diam,” pria pertama mengutuk. Dia kemudian batuk dan berbicara di telepon. “Kalau begitu bagaimana kalau aku memperkenalkan diri?”

“Namaku Wei Huan. Aku adalah adik dari ibumu. Kurasa aku pamanmu.”

Pikiran pertama dalam pikiran setengah sadar Sheng Renxing adalah: Persetan denganmu5. Kerabat sampah macam apa ini?

Setelah memikirkan kata-kata yang lain, dia tiba-tiba tersentak bangun.

Dia duduk dengan mata melebar. “… Paman?”

Orang lain bereaksi dengan cepat. “Kamu ingat?”

Dia kemudian berbicara kepada orang di sebelahnya dengan tenang, “Sudah kubilang dia tidak akan melupakanku!”

Sheng Renxing baru saja bangun dan otaknya belum menyala. Dia memberi ‘mn’ dengan bingung.

Pria itu adalah adik laki-laki ibunya yang telah tinggal di Xuancheng selama ini.

Mereka bertemu ketika dia masih muda, tapi Paman dan ayahnya tampaknya bertengkar, yang menyebabkan yang lain untuk menghentikan kontak.

Sheng Renxing bertanya-tanya apakah dia harus menghubungi pamannya setelah memutuskan untuk datang ke Xuancheng. Pada akhirnya, yang lain telah membuat keputusan untuknya.

Ia mengerjap beberapa kali lalu mengacak-acak rambutnya. “Maaf, aku masih setengah tertidur.”

“Jangan khawatir. Aku hanya bercanda.” Pria itu tertawa, tidak memasukkannya ke dalam hati.

“Apa kamu punya waktu? Mari makan bersama.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Cha-ching termasuk Onomatopeia atau menyamakan sesuatu berdasar bunyinya. Cha-ching diambil dari bunyi laci mesin kasir ketika di buka tutup, atau bunyi uang koin yang bergemerincing, makanya cha ching diasosiasikan dengan uang. Ini sama seperti meow diasosiasikan dengan kucing karena meow adalah bunyi kucing mengeong menurut orang Inggris, atau moo untuk sapi dsb.
  2. Mysophobia merupakan kumpulan kondisi germaphobia. Germaphobia adalah istilah yang digunakan oleh psikolog untuk menggambarkan ketakutan patologis terhadap kuman, bakteri, mikroba, kontaminasi, dan infeksi. Pengidap mysophobia cenderung mudah jijik terhadap hal-hal yang bersifat kotor. Seperti kondisi fobia lainnya, mysophobia biasanya dimulai saat masa kanak-kanak dan umumnya berlanjut hingga dewasa.
  3. 野男人 secara harfiah berarti pria ‘liar’ atau ‘kejam’ tetapi biasanya digunakan untuk merujuk pada pria yang berselingkuh dengan wanita yang sudah menikah.
  4. Mengukurnya bisa diartikan dengan menatapnya dengan pandangan curiga.
  5. 你妈的 secara harfiah berarti ‘ibumu’ tetapi sering digunakan sebagai kata kutukan. Itu bisa dianggap sebagai ‘bercinta’. Jadi ketika Wei Huan mengatakan ‘Nama saya Wei Huan dan saya saudara laki-laki ibumu’ sepertinya dia mengatakan ‘Saya Wei Huan, ya pecundang’. Secara teknis, alih-alih pecundang, dia mengatakan ‘adik laki-laki’ tapi itu terdengar aneh. SXR secara harfiah merespons dengan ‘kamu adalah adik laki-laki sialan’.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments