• Post category:Embers
  • Reading time:23 mins read

Membeli Nomor Telepon

Penerjemah: Keiyuki17
Editor: hoshilhouette


Dia menyergap laki-laki yang lengah itu dan laki-laki itu akhirnya diterbangkan ke udara. Pada akhirnya, laki-laki itu membuat kesalahan yang memalukan.

Seketika semuanya menjadi sunyi. Semua orang memandang Sheng Renxing dengan kaget.

Xing Ye adalah orang pertama yang bereaksi. Pada saat orang itu menyentuh tanah, dia meraih leher orang di sebelahnya dan meninju dagu pihak lain.

Korbannya yang juga jatuh ke tanah dibuat tercengang.

Sheng Renxing segera mengikutinya. Seseorang harus cepat ketika mereka bertarung dalam perkelahian kelompok di dalam kegelapan. Dia mengabaikan orang lain dan melemparkan dirinya pada orang yang telah dia tendang. Pihak lain berusaha untuk berdiri. Sebelum dia berhasil bangkit, Sheng Renxing mendaratkan tinju padanya.

Orang yang berada di bawahnya ingin melawan, tetapi Sheng Renxing membalikkan pihak lain. Dia mengunci tangan pihak lain ke belakang punggungnya dan menekan kepalanya dengan keras ke tanah.

Menatap laki-laki itu, dia menyeringai. “Kamu menyukai ponselku?”

“Mm … mm … mm ….” Kepala orang yang berada di tanah itu didorong olehnya ke tanah yang kotor. Dia tidak punya cara untuk melawan, yang bisa dia lakukan hanyalah meraung dan menggeliat dalam upaya untuk keluar dari cengkeraman pihak lain.

Tanah di bawah kaki mereka dilapisi dengan batu ubin. Ada sedikit ruang di antara masing-masing batu ubin. Selain itu, baru saja turun hujan, sehingga tanah tertutup air berlumpur.

Laki-laki itu terpaksa menelan sebagian lumpurnya.

Tidak dapat dihindari, beberapa air kotor pada akhirnya juga memercik ke Sheng Renxing.

Dia menyeka pipinya dengan punggung tangan dan kemudian memalingkan wajahnya untuk memeriksa sisa adegan.

Orang-orang yang tersisa telah ditangani oleh Xing Ye.

Orang itu adalah seorang petarung yang kuat. Beberapa laki-laki sudah tergeletak di lantai.

Raungan terus berlanjut tanpa henti. Bau air berlumpur setelah badai bercampur dengan aroma sampah di dekatnya. Cahaya bulan yang kabur menambahkan filter misterius ke setiap tindakan Xing Ye.

Pertarungan ini tampak seperti sesuatu yang keluar dari film. Filmnya mungkin akan berjudul “Pertempuran Hebat Antara Enam Orang Bodoh di Tempat Pembuangan Akhir.”

Secara alami, Sheng Renxing bukan bagian dari itu.

Setelah menonton sebentar, Sheng Renxing menyadari ada sesuatu yang salah.

Dia telah belajar sedikit kick boxing ketika dia masih muda. Dia bisa melihat bahwa orang-orang ini tampaknya telah menerima beberapa pelatihan sebelumnya; mereka tidak seperti preman jalanan yang dia bayangkan.

Saat tenggelam dalam pikirannya, dia mendengar suara beberapa orang berlari ke gang.

Dia memeriksa dengan cepat.

Sokongan?

Sebelum dia bisa melihat sosok mereka dengan jelas, Xing Ye menarik lengannya dan mendorongnya ke arah lain.

“Lari.”

Suara dari pihak lain melayang ke telinganya. Dia menyaksikan Xing Ye berlari ke gang gelap tanpa dirinya.

Sepertinya orang-orang baru itu bersama dengan kelompok itu.

Pada awalnya, pikiran Sheng Renxing kosong. Namun, dia memiliki beberapa pengalaman dengan mundur secara strategis. Tanpa sepatah kata pun, dia mengikuti Xing Ye.

Dia tidak lupa untuk sekali lagi menendang orang yang dia tekan ke tanah sebelum pergi.

Gang itu sangat gelap. Sheng Renxing memiliki sedikit rabun senja dan juga tidak terbiasa dengan jalan setapak. Dia terhuyung-huyung saat berlari.

Tiba-tiba, kakinya tersandung dan dia hampir jatuh ke lantai.

Xing Ye-yang berlari di depannya-melihat ini. Dia berbalik ke belakang dan meraih pergelangan tangan Sheng Renxing. Ketika dia berlari, dia menyeret pihak lain.

Sudah mulai gerimis lagi. Tetesan tipis berkabut membasahi pakaian mereka disertai dengan angin dingin yang menusuk.

Mereka berdua berlari dengan liar di sepanjang jalur yang berliku.

Pada awalnya, Sheng Renxing masih menyimpan beberapa pemikiran tentang rute itu di benaknya. Namun, setelah melewati beberapa gang, dia tidak punya pilihan selain menyerah.

Akhirnya, Xing Ye membawanya ke sudut dan mereka tiba-tiba bertemu dengan cahaya terang.

Begitu mereka keluar dari gang, mereka berhenti berlari.

Sheng Renxing tidak peduli bahwa tembok itu kotor. Dia menyandarkan dirinya di sana dan terengah-engah. Dia merasa itu agak lucu. Dia merasa sangat senang.

Emosi yang dia tahan sebagian besar tampaknya telah hilang.

Dia berbalik untuk mengintip ke dalam gang. Kegelapan itu sunyi. Sepertinya mereka telah menjatuhkan orang-orang itu pada titik waktu yang tidak diketahui.

Xing Ye berdiri di sampingnya. Kecuali fakta bahwa dia sekarang bernapas dengan lebih berat, tidak ada tentang dirinya yang berubah. Seolah-olah dia tidak seperti orang yang baru saja berkelahi dan melarikan diri. Dia tampak seperti baru saja berlari biasa atau semacamnya.

Sheng Renxing melihat kawannya melepas seragam prajuritnya-maksudnya, seragam sekolahnya.

Anak laki-laki itu mengenakan kaos hitam yang besar di bawahnya. Gambar Mickey Mouse di sisi kanan atas pakaiannya bergerak diikuti dengan naik-turun di dadanya. Bahan pakaiannya yang murah berkilauan di bawah cahaya lampu.

Anak laki-laki itu memegang seragam sekolahnya di tangannya dan diam-diam membersihkan kotoran yang menempel padanya.

Dia sebenarnya terlihat agak polos dan kekanak-kanakan dilihat seperti ini.

Tatapan Sheng Renxing bergeser dari gambar Mickey Mouse ke sekeliling mereka.

Mereka berada di jalan utama. Jalan itu benar-benar berbeda dari gang sempit yang gelap tadi. Banyak tanda warna-warni di kedua sisi jalan yang memenuhi seluruh jalan yang menyilaukan matanya.

Ada bar, klub malam, dan salon rambut di sekelilingnya. Namun, tidak banyak orang yang ke luar.

Cahaya redup yang samar dipancarkan dari toko di depan mereka. Tanda di luar mengatakan bahwa itu adalah salon rambut. Seorang gadis yang lebih tua mengenakan celana pendek dan tank top sedang duduk di dekat pintu. Dia menatap kedua anak laki-laki itu dengan tatapan berapi-api melalui pintu kaca.

Ketika dia bertemu dengan tatapan Sheng Renxing, dia memberinya senyum yang cerah dan menatapnya.

Sheng Renxing: “….”

Tanpa ekspresi, dia mengedipkan matanya dengan keras sebelum membuang muka.

Dia menoleh ke arah Xing Ye.

Dia ingin menyucikan matanya.

Xing Ye masih menggosok-gosok seragamnya dengan kepala menunduk, tetapi itu jelas tidak ada gunanya.

Lengan, tepian, dan belakang seragamnya telah kotor selama pertarungannya.

Sheng Renxing dapat melihat bahwa kotoran telah meresap ke dalam serat jaketnya. Lupakan tentang mencoba untuk membersihkannya, benda itu mungkin tidak akan bersih, bahkan jika dia mencucinya.

Alis Xing Ye berkerut. Dia mendecakkan lidahnya dengan tenang. “Kamu tidak akan bisa membersihkannya seperti itu. Kamu harus mencucinya.”

Napas Sheng Renxing telah teratur. Dia mengambil waktu sejenak untuk memeriksa keadaannya sendiri.

Dia mengenakan kaus abu-abu, sehingga noda lumpur tampak sangat mencolok. Ada juga noda tangan di tempat orang lain tadi meraihnya.

Jika itu adalah dirinya dari masa lalu, dia akan meledak dalam kemarahan. Dia mungkin bahkan akan berlari kembali untuk memukuli orang itu, sampai-sampai dia tidak bisa berlari lagi.

Namun, saat ini dia hanya menatap lumpur yang ada pada dirinya sendiri sebelum melihat ke Xing Ye.

Dia menyadari bahwa Xing Ye sama sekali tidak marah.

Dia bahkan ingin mengambil gambar pakaian mereka-bagaimanapun juga, tadi itu adalah kenangan yang pantas untuk disimpan.

Xing Ye juga kebetulan mendongak dan mata mereka bertemu. Xing Ye sepertinya juga mencoba mencari tahu. Ada juga ekspresi acuh tak acuh di matanya.

Di bawah cahaya lampu, kontras putih dan hitam dari penampilan Xing Ye bahkan tampak lebih jelas.

Rasanya seperti ada filter kasar di atasnya.

Sheng Renxing tanpa sadar mengikuti setetes keringat yang menetes ke mata pihak lain saat meluncur ke hidung lurusnya sebelum sampai di dagunya.

Saat Sheng Renxing mengira pihak lain akan mengatakan sesuatu, dia melihat Xing Ye menundukkan kepalanya. Pihak lain memakai kembali seragamnya.

Setetes keringat jatuh ke kerah pakaian dari pihak lain.

Seragamnya berkibar tertiup angin. Sheng Renxing tiba-tiba menggigil dan menarik kembali tatapannya.

Dia menggosok hidungnya. Rasanya seperti angin jahat ini menyebabkan hidungnya sedikit gatal.

Kemudian, tiba-tiba, dia menyadari ada sesuatu yang salah.

Sheng Renxing: “….”

Di mana pakaian-pakaianku?

Xing Ye sepertinya sudah menebak apa yang dia pikirkan. Dia menaikkan ritsletingnya dan berkata, “Kamu tidak akan bisa mendapatkannya kembali.”

Orang-orang itu kemungkinan besar mengambil barang-barang itu untuk melampiaskan amarah mereka setelah gagal mengejar mereka berdua.

Nada suaranya tenang, seolah-olah dia sudah lama mengetahui hal ini. Dia mungkin bertanya-tanya mengapa Sheng Renxing baru menyadarinya sekarang.

Sheng Renxing: “….”

Dia membuka ponselnya dan dengan serius melihat ramalan bintang hari ini.

Jangan pergi keluar.

… Baiklah.

Xing Ye menatapnya. “Berapa biayanya?”

Sheng Renxing terkejut. “Memangnya kamu mau memberiku ganti rugi?”

Xing Ye mengangguk.

Sheng Renxing mengangkat alisnya, tertarik. Dia menilai Xing Ye secara terbuka, dari leher pihak lain yang terluka hingga pergelangan kakinya yang terbuka.

Dia tidak menyadarinya karena terlalu gelap sebelumnya, tetapi sekarang dia menyadari bahwa orang ini sebenarnya sangat kurus. Dia bahkan terlihat agak lemah.

Meskipun cuaca sangat dingin, anak laki-laki yang lainnya itu hanya mengenakan dua lapis pakaian dan jaket seragam yang kotor. Dia tampak seperti anjing liar yang sudah berguling-guling di tumpukan sampah. Dia tampaknya tidak kaya.

Tatapan Xing Ye tenang. Dia membiarkan Sheng Renxing menilainya.

Sheng Renxing lalu tersenyum. Dia awalnya akan mengatakan bahwa pihak lain tidak perlu membayarnya kembali, tetapi ketika dia membuka bibirnya, dia tiba-tiba teringat berapa banyak uang yang telah dia habiskan. Dia kemudian memberikan jawaban kasar. “Seribu yuan.”

Itu sebenarnya lebih dari ini.

Dia kemudian melihat reaksi pihak lain.

Xing Ye adalah pria yang lugas. Dia mengangguk dan melepas ranselnya sebelum menaruhnya di depan. Dia mengeluarkan dompet dari dalam tasnya.

Dompet itu adalah dompet kulit hitam standar. Sheng Renxing mengenali merek tersebut. Produk mereka biasanya berharga lebih dari seribu.

Namun, dompet pihak lain penuh dengan lubang. Kulitnya juga terkelupas di sudut-sudutnya.

Xing Ye mengeluarkan semua uang yang dimilikinya.

Dia memiliki uang kertas seratus yuan, beberapa uang kertas sepuluh dan lima yuan, dan uang kertas satu yuan.

Xing Ye menyimpan uang satu yuan dan mulai menghitung uangnya.

Dengan kepala tertunduk, temperamennya yang pendiam dan seragam sekolahnya membuatnya tampak seperti siswa tingkat atas yang pendiam. Dia tampak seperti anak yang baik.

Dia terlihat sangat berbeda dari bagaimana penampilannya saat berada di tengah-tengah adegan kejam membenturkan kepala seseorang ke dinding.

Sheng Renxing kemudian merenungkan dirinya sendiri.

“….”

Tiba-tiba, Sheng Renxing menyadari bahwa gadis yang lebih tua dari toko di depan mereka sekarang sedang menatapnya dengan aneh.

Dalam kehiningan, dia membuka gulungan lengan bajunya.

“Ini dua ratus lima yuan.”

Setelah Xing Ye menghitungnya, dia menyerahkan uang itu pada Sheng Renxing.

Tatapan Sheng Renxing tertunduk. Dia tidak benar-benar ingin mengambilnya.

Selain fakta bahwa dia kesal karena tidak punya pakaian, uang itu tidak masalah baginya. Dia merasa timpang, karena mengambil uang milik orang lain.

Tuan Muda Besar Sheng dengan demikian mengangkat tangannya, ingin menolak uang itu.

Xing Ye: “Simpan nomorku. Aku akan memberimu sisanya nanti.”

Tiba-tiba, Sheng Renxing tergoda.

Dia memandang Xing Ye dan perlahan mengulurkan tangan untuk menerima dua ratus lima yuan. Dia kemudian mengeluarkan ponselnya.

Dua ratus lima yuan masihlah uang, pikirnya.

Xing Ye mendaftarkan nomornya dan Sheng Renxing menyimpannya.

Setelah mengetiknya, dia bertanya dengan sangat alami, “Siapa namamu?”

“Xing Ye.”

“Karakter yang mana?”

“Xing ditulis dengan karakter 开 dan 阝 radikal. ‘Ye’ berasal dari ‘tidak beradab.'”1 Sheng Renxing menyimpan informasi kontaknya dan kemudian mengotak-atik ponselnya. Dia menatap yang lain. “Aku akan meneleponmu?”

“Mn.”

Panggilan tersambung dan Sheng Renxing menutup teleponnya.

Xing Ye tidak melakukan apa-apa.

Sheng Renxing menjilat bibirnya. Dia agak haus.

“Apakah kamu ingin tahu namaku?”

“Apa nama belakangmu?”

“Sheng.”

“Mn.”

“….”

Sheng Renxing terdiam. Dia merasa seperti suhunya telah turun dan merasa sedikit kedinginan.

Dia juga agak lapar, yang itu tidak mengejutkan mengingat dia belum makan malam.

“Kamu tidak perlu mengembalikan sisa uangnya.” Dia terbatuk sambil menatap Xing Ye. “Lagipula, itu bukan salahmu.”

Sebenarnya, dia bersenang-senang ketika berkelahi.

Sebelum Xing Ye bisa mengatakan apa-apa, Sheng Renxing mengangkat bahunya dan menawarkan saran. “Bagaimana kalau kamu mentraktirku makan malam sebagai ganti rugi?”

Xing Ye mengerutkan kening pada awalnya. Dia menatap mata Sheng Renxing dengan termenung.

Apakah itu adalah penghinaan di matanya?

Heartthrob2 Sheng, yang selalu diperebutkan orang dalam setiap kesempatan untuk memperhatikannya, mengerjap. Dia merasa ini adalah pengalaman yang cukup baru.

Dia berpura-pura marah, menyilangkan tangannya dan mengangkat dagunya. “Aku tidak bisa melakukan apa-apa jika kamu memilih untuk kembali pada kata-katamu.”

Ketika Xing Ye mendengar ini, alisnya semakin berkerut. Dia sepertinya tidak terlalu menyukai kata-kata Sheng Renxing, tetapi dia sepertinya juga tidak marah.

“Aku tidak akan melakukan itu.”

Dia menyimpan dompetnya. “Mau makan apa?”

Sudut bibir Sheng Renxing terangkat dan dia menggertak. “Apa yang enak untuk dimakan di sekitar sini?”

Xing Ye memikirkannya. Dia kemudian menunjuk ke sisi lain jalan. “Ada restoran mie yang cukup enak di sekitar sudut sana.”

“Kalau begitu sudah diputuskan.”


Letak restoran mie tidak terlalu jauh. Xing Ye memimpin jalan dan mereka sampai di sana dengan berjalan kaki.

Trotoar itu bertatahkan batu bata yang tidak bagus. Batu bata itu seperti bom saat hujan. Menginjak mereka akan membuat kalian semua basah.

Ekspresi Sheng Renxing menjadi buruk ketika sepatunya terkena air kotor. Dia kemudian melanjutkan berjalan seperti sedang berjalan melalui ladang ranjau.

Dia tidak memperhatikan hal lain. Seorang wanita yang bersandar di salon rambut tiba-tiba mengulurkan tangan padanya. “Hei, Tampan! Mau masuk?”

Wanita itu hampir meraih ke lengannya. Dengan cemberut, dia mengelak dan menolaknya. “Aku tidak perlu keramas.”

Dia kemudian melemparkan pandangan merendahkan ke salon rambut yang kurang ajar di belakangnya.

Wanita itu terkejut dengan jawabannya.

Dia menilainya dan kemudian tertawa.

“?”

Dia tanpa sadar menoleh ke arah Xing Ye dan melihat bahwa pihak lain menatapnya dengan aneh. Ada pandangan penuh pertimbangan di matanya.

Sheng Renxing: “???”

Apa aku baru saja mengatakan sesuatu yang lucu?

Untungnya, Xing Ye hanya menatapnya sesaat sebelum menyeretnya pergi. Ketika Sheng Renxing melihat ke belakang setelah membuat jarak antara dirinya dan wanita itu, dia melihat bahwa wanita itu masih tertawa.

Pasti ada yang salah dengannya.


Catatan Penulis:

Sheng Renxing: Keramas, pantatku.3

Xing Ye: Ya, itu benar.4


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. 邢野 adalah namanya. 野蛮 (yeman – tidak beradab.)
  2. Seorang selebriti pria yang dikenal karena ketampanannya.
  3. Dia sebenarnya mengatakan ‘my dick’ tapi kurang lebih artinya sama dengan ‘my ass’ dalam bahasa Inggris ketika berbicara tentang hal-hal yang tidak masuk akal / hal-hal yang kalian olok-olok.
  4. Salon rambut sering menjadi tempat prostitusi di China.

This Post Has One Comment

  1. Sansanumanaaaa

    Kenapa dia tertawa?
    Apakah cuma aku yg bingung disini?? (0-0)???

Leave a Reply