• Post category:Embers
  • Reading time:25 mins read

Apakah semua siswa SMA di daerah ini seliar ini?

Penerjemah: Jeffery Liu


Peringatan untuk keseluruhan cerita: Penggambaran mengenai kekerasan dan penggunaan zat pada anak di bawah umur (rokok dan alkohol).


“… Apa aku boleh memastikan apa kamu akan tinggal di asrama sekolah atau kamu akan pulang ke rumah setiap akhir hari sekolah?”

Suara lembut wanita di ujung telepon sedikit beraksen. Dia sepertinya mengerti bahwa Sheng Renxing mungkin tidak mengerti apa yang dia tanyakan barusan, jadi dia memperlambat ucapannya.

Tetesan-tetesan kecil air hujan berhamburan ke jendela mobil. Mobil itu bergetar saat rodanya melaju di jalan yang tidak rata. Seolah seperti mobil ini bisa terbang ke udara kapan saja.

Pengemudi mobil itu mengemudi dengan sangat tenang. Sesekali ia mengintip dari kaca spion. Dia tidak punya nyali untuk melihat penumpang mobilnya di kursi belakang secara terang-terangan.

Lagi pula, dia jarang mendapat penumpang seperti ini.

Beberapa saat yang lalu, pengemudi mobil ini baru saja tiba di pusat kota ketika pemuda ini melambai padanya.

Kemarahan terpancar dari wajah bocah itu ketika dia mengatakan kepadanya bahwa dia ingin pergi ke Xuancheng1. Pemuda itu kemudian dengan santai mengambil segepok uang tunai dan memberikannya kepadanya bahkan tanpa menghitung tagihannya.

Pengemudi itu jelas tidak menolak. Pertama, dia dihadapkan dengan segepok uang tunai yang begitu tebal. Kedua, ekspresi pemuda itu begitu menakutkan. Dia merasa seperti akan dipukuli jika dia menolak.

Dari kaca spion, dia bisa melihat pemuda itu bersandar di kursi belakang, berbicara di telepon dengan alis berkerut dan ekspresi busuk.

Dia juga tampak sedikit arogan dan sulit diatur.

Pengemudi itu mengenali ponsel yang digunakannya: itu adalah model terbaru. Model ponsel itu telah mencapai pasar kurang dari dua bulan yang lalu. Putranya beberapa kali membuat keributan dan begitu menginginkannya, tetapi harganya sangat mahal. Dengan harga semahal itu, ponsel itu bahkan tidak mampu mengungguli pesaingnya. Terlebih lagi, ponsel itu sangat rapuh—kamu tidak boleh menjatuhkannya.

Namun, bocah itu tampak cukup tampan ketika memegangnya. Membuatnya agak ingin membelikan satu untuk putranya.

Sheng Renxing melirik pengemudi melalui kaca spion. Segera, pengemudi itu mengalihkan pandangannya.

Sheng Renxing: “….” Dia melirik tanda ‘Keramahan Membuatmu Kaya’ yang baru saja digantung oleh pengemudi di kaca spion dan merasa tidak bisa berkata-kata.

Dia memainkan anting di telinga kanannya. Suaranya tidak mencerminkan emosinya. “Bukankah semua kamar sudah diambil? Kita sudah memasuki pertengahan tahun ajaran. Apa aku bisa mendapatkan kamar kalau aku  mau?”

Pihak lain: “….”

Wanita di seberang telepon terdengar seperti sedang berjuang untuk menawarkan kompromi. “Semua tempat tidur siswa sudah terisi, tapi kalau kamu ingin tinggal di asrama, kami bisa memberikan satu di asrama guru. Semua kamar di asrama guru adalah hunian tunggal dan dilengkapi dengan kamar mandi sendiri. Mereka juga dilengkapi dengan AC dan apa pun yang kamu perlukan.”

“Tidak, terima kasih.” Sheng Renxing bahkan tidak repot-repot mempertimbangkannya sebelum dia menolak. “Aku akan tinggal di rumah.”

“Ah …” Orang di ujung sana berhenti dan kemudian mengajukan pertanyaan dengan nada tidak pasti, “Lalu, ayahmu … bagaimana pendapat Tuan Sheng?”

“Pendapatnya sama dengan pendapatku.” Tidak ada ekspresi di wajah Sheng Renxing. Kesal, dia berpikir, aku sendiri yang mengurus perpindahan itu. Dia tidak bisa berkata apa-apa.

“Baiklah. Kami memutuskan menempatkanmu di Kelas 3. Bagaimana menurutmu?” Wanita di sisi lain kemudian menambahkan, “Kami membagi kelas menggunakan model S2. Kelas tidak dibagi berdasarkan prestasi akademiknya. Tapi guru yang bertanggung jawab di Kelas 3 cukup baik.” Bahkan jika sekolah itu membagi siswa tiap kelas menggunakan model S, itu tidak berarti bahwa semua kelasnya sama.

Sheng Renxing tidak memiliki pendapat: “Tidak masalah.”

“Baiklah. Kapan kamu akan tiba di sekolah? Kami perlu mempersiapkan kedatanganmu terlebih dahulu.”

Sheng Renxing mengintip ke luar jendela, menatap hujan gerimis dan jalan asing di luar. Seseorang dengan sembarangan membuang beberapa sampah dari langkan3 dan sampah itu kebetulan mendarat di kepala korban malang di bawahnya. Kedua pihak yang terlibat mulai bertengkar keras sambil berdiri di tingkat yang berbeda. Orang-orang mengelilingi tempat kejadian, bergabung dalam kemeriahan. Sayangnya, kerumunan itu akhirnya menyumbat jalan. Klakson mobil berbunyi dengan riuh, menutupi gerutuan keluhan di jalan.

Dia sudah tiba di Xuancheng.

“Senin depan.”

Dia benci hari hujan. Cuaca satu minggu ke depan diperkirakan akan hujan setiap hari. Udara lembab menghalangi sinar matahari dan kelembapan ini membuat sulit bernapas.

Pengemudi menyadari bahwa ini adalah kesempatannya untuk berbicara ketika Sheng Renxing menutup telepon. “Kita sudah sampai di kota. Mau turun dimana?”

Sheng Renxing mematikan layar ponselnya tetapi satu detik baru saja berlalu ketika panggilan lain masuk. Dia melirik ponselnya, mendengus, dan kemudian menolak panggilan itu.

“Di hotel di sini, kurasa.” Dia menunjuk dengan santai.

“Oke.”

Papan nama hotel sebagian terhalang oleh toko pakaian di depannya. Dari jauh, satu-satunya kata yang bisa dibaca adalah ‘hotel’.

Sheng Renxing hanya melihat sekilas nama lengkapnya setelah pengemudi mengemudikan mobilnya sampai berjarak cukup dekat: Hotel Bintang Lima.

Manajemen hotel bahkan tanpa malu-malu menggambar bintang lima di sebelah nama itu.

“…..”

Pengemudi memarkirkan mobilnya di sisi jalan. Sebelum pengemudi memberi Sheng Renxing kembalian, pemuda itu sudah melompat keluar dari mobil, meninggalkan kata “Simpan kembaliannya” di belakang.

Pengemudi itu memperhatikannya menyeberang jalan, termenung. Pemuda itu tidak disangka ternyata cukup sopan.

Dia kemudian memasukan uang dua ratus yuan ke dalam dasbor mobil sambil menyalakan sebuah rokok. Dia tidak berani merokok dalam perjalanan kesini dan baru ingin menyalakannya satu sekarang.

Sheng Renxing memiliki ransel yang tersampir di satu bahu. Saat memasuki ‘Hotel Bintang Lima’, dia menyadari bahwa hotel itu bahkan tidak memiliki meja resepsionis yang layak.

Gadis yang duduk di meja depan menundukkan kepalanya, meskipun tidak diketahui apa yang sebenarnya dia lakukan. Tidak ada sedikit pun profesionalisme dalam perilakunya. Kesampingkan senyum ramah khas pegawai resepsionis yang seharusnya ada—dia bahkan tidak menunjukkan wajahnya.

Sheng Renxing berjalan mendekat dan mengetuk kaca.

Gadis itu terkejut. Dia mendorong ponselnya agar tidak terlihat, seolah-olah dia berada di sekolah dan baru saja ketahuan memainkannya oleh kepala sekolah. Dengan senyum cemerlang, dia bertanya, “Halo, ada yang bisa saya bantu?”

Pergantian perilaku yang sangat alami.

Sheng Renxing: “….”

“Satu kamar.”

“Tentu. Tolong tunggu sebentar.”

……

Sheng Renxing telah memasukkan empat nomor ayahnya ke daftar hitam pada saat prosedur selesai.

“Ini adalah kunci untuk Kamar 306. Silakan. Anda bisa menghubungi saya dengan telepon kamar jika Anda memiliki pertanyaan.” Gadis itu menyerahkan kunci, menatap tajam ke tubuh Sheng Renxing. Dia kemudian tersenyum manis, “Lift sedang dalam perbaikan jadi Anda harus naik tangga. Apa Anda membutuhkan saya untuk mengantar?”

Sheng Renxing menerima kunci dan melirik tanda ‘Dalam Perbaikan’ di lift. “Tidak, terima kasih.”

Dia mengabaikan ekspresi kecewa gadis itu dan pergi.

Beberapa langkah kemudian, ponselnya bergetar.

Dengan kesabaran yang semakin menipis, dia mengulurkan tangan untuk menolak panggilan. Tapi dia membeku ketika dia melihat nama yang ditampilkan di layar. Dia kemudian menerima panggilan itu.

Speaker di sisi lain ponsel agak keras dan ada nada menggoda di suaranya. “Kecebong Kecil, apa kamu sudah sampai di kota?”

“Enyahlah.” Dia kemudian menutup telepon.

Beberapa detik kemudian, ‘Kepala Besar Qiu’ menelepon lagi. “Ai, kenapa kamu begitu marah? Apa kamu baru saja menelan bahan peledak atau semacamnya?”

Terdengar suara yang begitu berisik di seberang sana. Seseorang mencela: “Qiu ge, siapa yang kamu maksud ‘Kecebong Kecil?’ Itu sangat klise!”

“Dari yang kuingat, itu bukan nama gadis tercantik di SMA No. 2!”

“Hahahahahaha, mungkin akan ada gadis tercantik baru.”

Qiu Huaixin terkekeh. “Benar sekali. Gege Xingxing-mu mengambil alih gelar itu.”

Orang yang mengolok-olok itu langsung diam. Sepertinya seseorang telah menekan tombol pause padanya.

Beberapa saat kemudian, orang itu bertanya, “…Apa itu benar-benar Sheng ge?”

Sheng Renxing mengerutkan kening. “Terlalu berisik di sana.”

Qiu Huaixin berjalan sedikit lebih jauh dari kelompoknya. Bicaranya teredam, seolah-olah ada sesuatu di mulutnya. “Kecebong gege, apa kamu sudah sampai?”

“Ya.” Sheng Renxing menaiki tangga bata, memutar kunci di jarinya. “Tapi itu tidak berarti aku tidak akan naik taksi kembali untuk menghajarmu.”

“….” Qiu Huaixin mendengus, merasa sedikit terintimidasi. Dengan suara sengau, dia berkata, “Bukankah ‘Kecebong Kecil’ adalah nama panggilan yang bagus? Kecebong Kecil Mencari Ibunya~”4

Setelah saling menghina, Qiu Huaixin merasa bahwa Sheng Renxing berada di ambang serangan. Dia kemudian bertanya, “Apa perjalanannya berjalan lancar?”

“Uh huh.” Sheng Renxing telah mencapai lantai tiga. Dia mencocokan nomor kunci dengan masing-masing kamar. “Pengemudinya terus menatapku sepanjang jalan. Aku pikir dia jatuh cinta padaku.”

“…Kupikir dia takut kau merampoknya! Rambutmu merah.”

“Bukankah kelihatan bagus?” Sheng Renxing melihat bayangannya dari cermin yang tergantung di sepanjang dinding koridor. Dia mengusap rambutnya yang diwarnai tanpa ekspresi.

Seseorang kebetulan lewat. Mereka berbalik untuk menatapnya.

Setelah menatap matanya, orang lain segera berbalik dan mempercepat langkah mereka.

Sheng Renxing: “….”

“Bukankah kamu harus mengecatnya kembali setelah kamu kembali ke sekolah? Untuk apa kau menyiksa rambutmu?!”

Sheng Renxing memasukkan kunci ke dalam lubang kunci kamarnya dan memutarnya. “Aku menyukainya! Mungkin aku akan mewarnainya dengan warna hijau besok dan mengirim fotonya ke Sheng Qiong.”

“…” Sisi lain berkata: “Kau ada-ada saja. Jangan membuat ayahmu marah. Hati-hati, dia mungkin mengejarmu dengan tank.”

Sheng Renxing mencibir. “Dia tidak punya nyali untuk datang ke Xuancheng.” Kunci di pintu sepertinya macet. Dia mencoba beberapa kali tetapi tidak juga berhasil. Lambat laun, tindakannya menjadi semakin kejam.

“Xuancheng … bukan kota yang cukup maju di sana, ‘kan?” Qiu Huaixin mencoba mengatakannya dengan bijaksana. Khawatir, dia bertanya, “Apa kamu bisa beradaptasi?”

Sheng Renxing bergulat dengan kunci kamar itu untuk waktu yang lama sebelum dia berhasil membuka pintu. Dia tertawa. “Memangnya ada yang membuatku tidak bisa beradaptasi.”

Lima menit kemudian, dia mendapati dirinya berdiri di meja depan hotel, meminta gadis sebelumnya untuk memberinya suite eksekutif.

Sheng Renxing mengetukkan kuncinya ke konter dan bertanya, “Di mana biasanya kalian membeli pakaian?”

Dia pergi terlalu terburu-buru. Yang ada di tasnya hanyalah dompet dan sepatu Air Jordan-nya. Dia bahkan tidak membawa pakaian dalam, tidak termasuk celana yang dia kenakan sekarang.

Gadis resepsionis merenungkan pertanyaan ini sambil menatapnya. “Kami semua berbelanja di Pusat Perbelanjaan Qingmao5. Kalau kamu pergi ke arah ini, kamu akan tiba dalam sepuluh menit.”

Sheng Renxing mengangguk.

Dia meninggalkan hotel dan mulai berjalan, orang-orang datang dan pergi dari kedua arah.

Infrastruktur jalan tidak terlalu bagus. Jalanan tidak rata dan bergelombang; lubang besar saat ini dipenuhi air. Setiap kali sebuah mobil lewat, air akan membumbung setinggi satu meter ke udara.

Sheng Renxing mundur dua langkah. Tidak banyak mobil di jalan sekarang jadi dia butuh beberapa saat untuk naik taksi.

Pakaiannya sudah dalam perjalanan, jadi dia hanya akan membeli beberapa pakaian darurat di Pusat Perbelanjaan Qingmao untuk dipakai selama beberapa hari ke depan.

Dengan sangat cepat, dia menyadari bahwa tempat ini memiliki berbagai macam pakaian. Itu cukup komprehensif.

Dia bahkan melihat sepasang adidas tergantung di sebelah sepasang pume di satu toko. Mereka dihargai 60 sepasang.

Pemilik toko telah memperhatikan tatapannya. Dia mencoba menarik perhatiannya: “Apa kamu menginginkannya? Aku bisa memberimu sepasang seharga 55.”

Sheng Renxing hampir menolak ketika dia mendengar pemilik toko menambahkan: “Mereka akan terlihat sebagus pasangan yang kamu kenakan saat ini.”

Sheng Renxing: “….”

Dia melihat sepatu ayah6 edisi terbatas yang dia ambil dari orang lain dan segera pergi.

Tidak berbudaya!

Dia ingin naik taksi untuk kembali, jadi dia memberi tahu pengemudi taksi yang dia tandai untuk membawanya ke Hotel Bintang Lima.

Pengemudi: “Hah? Yang mana? Kami punya beberapa hotel bintang lima!”

Sheng Renxing: “….”

Dia hendak menjelaskan bahwa hotel itu bernama Bintang Lima, tetapi pada akhirnya, dia memutuskan untuk keluar dari mobil dan kembali dengan berjalan.

Itu hanya keberuntungannya bahwa GPS-nya terbalik dan membawanya ke rute yang aneh. Itu membawanya ke sebuah gang seperti labirin.

Sheng Renxing: “….”

Dia memutar ponselnya secara horizontal dan vertikal tetapi dia tidak tahu bagaimana keluar dari sini.

Di luar sudah gelap. Siapa yang tahu apa yang terjadi di daerah ini, tetapi disana tidak ada banyak lampu. Setiap gang samping yang dia lewati tampak sama.

Cahaya redup menerangi tempat sampah yang berdiri di sudut dinding. Dinding putih kotor ditutupi grafiti merah yang bertuliskan ‘persetan denganmu’. Ada juga bintik-bintik kotor lainnya dengan warna dan bentuk yang tidak diketahui. Melengkapi gang sempit dan gelap itu dengan cukup baik.

Ada tumpukan sampah yang menumpuk di sebelah tong sampah. Tiba-tiba, tumpukan itu bergetar dan seekor tikus menjulurkan kepalanya. Mata hitamnya yang bulat menatap Sheng Renxing tanpa berkedip.

Sheng Renxing berdiri di tempat selama beberapa waktu. Tiba-tiba, dia memberikan tendangan keras ke dinding dalam upaya untuk melampiaskan amarahnya. Tikus terkejut dengan tindakannya dan melesat pergi.

Persetan, tidak ada yang berjalan lancar!

Sheng Renxing melemparkan tas pakaiannya ke tanah. Dia kemudian mengeluarkan korek api dari sakunya dan menyalakan sebatang rokok.

Nikotin bekerja dengan baik untuk menumpulkan emosi seseorang, entah itu baik atau buruk.

Saat dia merokok, emosinya berangsur-angsur menjadi tenang. Dia tidak lagi ingin merusak sesuatu.

Sheng Renxing mengacak-acak rambutnya. Tempat sampah itu bahkan memberinya kesan tanah kosong akibat apokaliptik.

Seni sampah; sampah berseni.

Dia mengambil beberapa foto ‘seni’ di depannya.

Pengaturan suara di ponselnya tidak dalam keadaan diam. Efek suara rana kamera sangat keras bila dikontraskan dengan keheningan malam itu.

Mereka seperti ketukan drum yang menandakan dimulainya sesuatu. Tak lama setelah itu, dia mendengar suara-suara di kejauhan, seolah-olah itu dibangkitkan sebagai respons terhadap suara rana kamera ponselnya.

Sheng Renxing: “?”

Di gang di depannya di sebelah kiri, suara perkelahian melayang. Dia tidak tahu berapa banyak orang di sana.

Sheng Renxing membuang rokoknya ke tempat sampah, seolah-olah dia sedang menembakkan lemparan tiga angka dalam bola basket. Dia mengambil tas yang menyimpan pakaian yang baru dibelinya. Dia tidak punya niat untuk memeriksa situasi. Itu tidak ada hubungannya dengan dia.

Dengan begitu, dia memutuskan untuk pergi.

Sebelum dia bahkan bisa mengambil dua langkah, dia memperhatikan bahwa suara-suara itu sepertinya terdengar semakin keras. Dia melihat lampu di jendela lantai dua di depannya tiba-tiba mati.

Itu adalah tindakan yang akrab, sunyi dan bisa dimaklumi.

Yang bisa dilakukan Sheng Renxing hanyalah berbalik. Dia bertemu dengan pemandangan… seorang siswa SMA laki-laki (?) yang berlari ke arahnya.

Jaket biru dan putih dari seragam sekolahnya sangat mencolok di kegelapan gang. Pakaian anak laki-laki itu berkibar tertiup angin, seolah-olah akan terbang kapan saja.

Di belakangnya ada sekelompok orang.

Mereka semua membawa senjata saat mengejarnya dengan ekspresi ganas dan teriakan.

Apakah semua siswa SMA di daerah ini seliar ini?

Anak laki-laki itu jelas memperhatikannya juga. Mereka berdua ternganga saat mata mereka bertemu.

Kelompok yang mengejar bocah itu berhasil menyusul karena jeda singkat ini.

Anak laki-laki itu berhadapan dengan kelompok di depannya.

Sheng Renxing: “….”

Sheng Renxing lalu melirik ke belakangnya. Ah… dia mungkin telah memblokir jalan keluar orang lain.

Kelompok itu terdiri dari lima orang tetapi mereka tampak khawatir. Mereka tidak menyerang lebih dulu. Bocah penyendiri itu berbalik untuk melirik Sheng Renxing. Di bawah cahaya redup, yang bisa dilihat Sheng Renxing hanyalah siluet seperti pisau pemuda itu. Anak laki-laki lainnya bertubuh kurus tapi tinggi. Dia tidak mengatakan apa-apa.

Sosoknya tampak seperti akan menyatu dengan kegelapan di sekitar mereka.

Salah satu anggota kelompok itu melirik Sheng Renxing. “Xing Ye, kau meminta bantuan?!”

Bocah penyendiri itu sedikit terengah-engah tetapi nadanya tenang. “Aku tidak butuh bantuan.”

Sheng Renxing berpikir, wah, dia cukup ganas.

Anggota kelompok yang berbicara tidak dalam suasana hati yang baik seperti dia. Dia menunjuk anak laki-laki bernama Xing Ye: “Ini adalah kesempatan terakhirmu! Kau sebaiknya memikirkannya dengan hati-hati!”

Xing Ye memiringkan kepalanya sedikit, seolah-olah dia tidak mendengar apa yang dikatakan pihak lain.

Anggota kelompok lain kemudian menunjuk ke Sheng Renxing. “Kau! Kau lebih baik tetap di sana, kau dengar aku?”

Sheng Renxing: “?”

Dia memperhatikan bahwa tatapan orang lain telah beralih dari tas di tangannya ke ponsel yang dia pegang.

Yang lain tidak repot-repot menyembunyikan niatnya sama sekali.

“….” Jadi dia berencana menghasilkan uang sambil bertarung? 

Sheng Renxing mau tidak mau ingin tertawa.

Pada akhirnya, dia benar-benar tertawa terbahak-bahak. Dia melemparkan pakaiannya ke tanah. Di bawah tatapan kelompok itu, dia tiba-tiba berubah menjadi liar. Dia mengangkat kakinya dan mendaratkan tendangan keras pada orang yang menunjuk ke arahnya. Suaranya mencerminkan hilangnya kesabaran. “Kalau kau ingin bertarung, ayo kita bertarung. Kau terlalu banyak bicara.”


Catatan Penulis: Judul aslinya adalah ‘Tuan Muda Yang Sombong Telah Jatuh Cinta Padaku’ dan ‘Romansa Klasik Pedesaan’. Ini adalah romansa sekolah menengah. Ini bukan novel sekolah biasa, atau novel tipikal di mana shou mengejar gong. Ceritanya terjadi beberapa tahun yang lalu. Itu bisa dianggap realisme sihir.

Catatan Penerjemah: Sheng Renxing adalah shou. Xing Ye adalah gong.


Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Xuancheng adalah kota yang benar-benar ada di Tiongkok. Terletak di provinsi Anhui.
  2. Salah satu cara membagi kelas adalah dengan membaginya berdasarkan prestasi akademik sehingga siswa di kelas tersebut berada pada level yang sama satu sama lain. Model S sedikit berbeda. Katakanlah ada lima kelas. Berdasarkan prestasi akademik, siswa peringkat nomor satu ditempatkan di kelas satu. Siswa peringkat kedua ditempatkan di kelas dua, dan begitu seterusnya sampai kita mencapai siswa peringkat enam. Siswa peringkat enam ditempatkan di kelas lima dengan siswa peringkat lima. Kemudian, siswa peringkat tujuh ditempatkan di kelas empat dengan siswa peringkat empat. Dan begitulah seterusnya. Aliran pembagiannya seperti membentuk huruf S.
  3. Langkan -> pagar berkisi-kisi, seperti pada balkon.
  4. Little Tadpoles Look for They Mom‘ adalah animasi berdasarkan lukisan cat air.
  5. Pusat Perbelanjaan Qingmao/Qingmao Shopping Mall -> Mal ini benar-benar ada… tapi penerjemah sama sekali tidak bisa menemukan foto apa pun, maafkan kami.
  6. Sepatu ayah, atau sepatu kikuk, adalah gaya sepatu yang dicirikan dengan tampilannya yang besar.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments