Penerjemah: Jeffery Liu
Proofreader: Keiyuki17


“Gu ingin membuat kesepakatan denganmu.”

“Transaksi ini, Gu cukup yakin kau tidak akan bisa menolaknya.”

“Siapa kau sebenarnya?”

“Ayo. Istana Huanmo memiliki segala hal yang ingin kau ketahui.”

Saat berdiri di tepi utara Sungai Fei tiga bulan lalu, suara Chiyou bergema di benak Xiang Shu. Kawanan burung gagak memenuhi seluruh area, dan seperti harimau mengawasi mangsanya, mereka dengan tamak memandangi daratan di sebelah barat Luojian. Di sini, di dataran luas dan terbuka ini, sejauh mata memandang, pasukan Qin menduduki sisi utara sampai ke cakrawala.

1,12 juta orang … Fu Jian telah memobilisasi kekuatan seluruh negara, bersumpah untuk menaklukkan Selatan sebagai bukti bahwa tidak ada yang tidak bisa dia capai di dunia ini.

Namun di sisi selatan sungai, hanya ada benteng yang sunyi dan suram. Hingga menit-menit terakhir, pasukan Jin masih terus bergegas membangun benteng pertahanan.

Di depan Xiang Shu, seekor burung gagak terbang dan mendarat di sungai yang lebih rendah. Xiang Shu melepas pakaian luarnya dan melompat ke dalam air. Kemampuan renangnya sangat bagus. Saat itu, dia pada dasarnya melayang seperti “garis air di ombak” 1 di sungai dan danau Chi Le Chuan.

Air sedingin es menyapu punggungnya yang telanjang, dan pemandangan dari tiga bulan lalu muncul sekali lagi di depan mata Xiang Shu.

Saat mereka tiba di yique, selubung cahaya menyebar ke setiap sudut dengan suara mendengung.

“Akhirnya aku menemukannya,” suara jelas Wang Ziye terdengar. “Benar saja, tempat ini hanya bisa dibuka dengan kekuatan mutiara naga.”

Karena lengah, Xiang Shu dibawa ke dunia yang aneh. Dia mencoba menggunakan kekuatan Cahaya Hati dengan sekuat tenaga, tapi dengan cepat menghilang, dan dia jatuh ke tanah. Dengan suara rendah, dia bertanya, “Wang Ziye, apakah ini rencanamu?”

Tempat ini mirip dengan dunia di dalam Cermin Yin Yang; tempat itu memiliki pelataran giok putih melingkar yang ditutupi dengan rune bercahaya aneh. Apa yang tertanam di tengah adalah Roda Taiji 2 yang bertatahkan simbol yin dan yang. Di sekelilingnya, tepatnya di empat sudut, seolah-olah di dalam lukisan, terdapat lanskap hijau yang diselimuti awan dan kabut.

Wang Ziye menunduk dan memperhatikan dengan penuh perhatian di pelataran tinggi itu. Dia kemudian berhenti di atas pelataran, pedang Xiang Shu di tangannya.

“Jangan khawatir,” kata Wang Ziye dengan nada acuh tak acuh. “Kecuali jika aku secara paksa menghapus artefak sihir yang menopang tempat ini, aliran waktu di sini terhenti. Shulü Kong, mari kita bicara.”

Setelah menerima pedangnya kembali, Xiang Shu berkata dengan suara yang dalam, “Pada titik ini, tidak ada lagi kesempatan untuk perdamaian, Wang Ziye.”

Perlahan, Wang Ziye turun dan mendarat di sisi Yin Roda Taiji, sementara Xiang Shu berdiri di sisi Yang, melihat sekeliling.

“Tidak perlu khawatir. Jangan merusaknya dan pergi,” jawab Wang Ziye. “Seperti yang kubilang, aku bisa membawa artefak sihir terakhir yang penting ini, dan kau bisa meninggalkan tempat ini tanpa hambatan.”

Xiang Shu tidak berkata apa-apa, hanya menatap Wang Ziye dalam diam.

“Ah,” gumam Wang Ziye, “delapan tahun lalu, aku melihatmu di depan tenda di Chi Le Chuan. Saat itu, kau juga memberiku tatapan seperti ini…”

Kata-kata ini segera membangkitkan amarah Xiang Shu. Kematian ayahnya, Che Luofeng yang kehilangan nyawanya… Sampai sekarang, orang yang bertanggung jawab atas kematian begitu banyak orang adalah pria ini!

“… mata yang menyimpan kecurigaan.” Wang Ziye melanjutkan, “Tapi delapan tahun yang lalu, aku tidak tahu bahwa kau adalah Mutiara Dinghai. Aneh, bagaimana aku bisa sebodoh itu membuat kesalahan seperti itu…”

Dalam sekejap, ledakan keras tampaknya meledak di dalam pikiran Xiang Shu. Seolah-olah dia disambar petir; tangannya yang memegang pedang bergetar tanpa henti.

“Apa?” Xiang Shu berkata dengan tidak percaya. “Kau … apa yang kau katakan?”

Tanpa sadar, Xiang Shu mengeluarkan mutiara yang telah direnggut dari Wang Ziye dari dadanya.

Wang Ziye berkata, “Itu disebut Mutiara Canglang. Itu adalah mutiara naga yang ditinggalkan oleh naga yang menjadi teman ayahmu setelah keluarga Xiang ibumu menekannya.”

Xiang Shu, “……”

Wang Ziye berkata, “Sepertinya kau masih belum menyadarinya, jadi mengatakan ‘ayah’ mungkin tidak tepat sama sekali. Namun, karena kau adalah transformasi inti internal 3 naga, kekuatan naga yang ditinggalkan Zhuyin di dalam tubuhmu bisa dianggap sebagai simbol yang ditinggalkan oleh ayahmu.”

“Kau …” Adegan yang tak terhitung jumlahnya muncul di depan mata Xiang Shu. Interaksi yang dia lakukan dengan orang tuanya selama masa kanak-kanak, hidupnya di padang rumput, waktu saat pertama kali dia belajar cara menunggang kuda… Apa yang baru saja dikatakan Wang Ziye beberapa saat yang lalu telah menembus pandangannya tentang dunia.

“Omong kosong!” Xiang Shu tidak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi. Dia mengeluarkan raungan yang mengejutkan sebelum menyiapkan pedangnya sekali lagi dan bergegas ke depan. Wang Ziye, bagaimanapun, menghilang dari sisi Yin Roda Taiji dan muncul kembali di sisi Yang, menukar posisi mereka.

Keduanya tiba-tiba bertukar posisi. Xiang Shu mengerutkan kening dan mencoba memanggil Cahaya Hati Chen Xing, ingin mengakhiri Wang Ziye dalam satu gerakan.

“Itu adalah kekuatan naga,” lanjut Wang Ziye. “Mengenai kekuatan naga ini, apakah kau ingat apa yang aku katakan ketika kita bertemu terakhir kali di Danau Hong? Aku tahu semua yang ingin kau ketahui.”

“Kekuatan naga yang tertinggal itu mengalir melalui meridianmu,” Wang Ziye tersenyum sambil berkata, “sering kali membuatmu merasa gelisah. Ada kekuatan di dalam tubuhmu yang hanya ingin menghancurkan dan mendatangkan malapetaka, benar ‘kan? Ini membuatmu menjadi yang terbaik di negeri ini, namun itu juga menjebakmu dan membuatmu menderita. Saat kau marah, kau tidak akan bisa menahan diri bahkan terhadap orang-orang terdekatmu.”

Xiang Shu, “……”

Xiang Shu perlahan menjadi tenang. Wang Ziye mengamatinya dan melanjutkan, “Bertahun-tahun ini, aku telah mencari Mutiara Dinghai di semua tempat. Hanya saja, aku tidak menyangka bahwa artefak paling berharga di antara langit dan bumi ini, yang memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah sebab dan akibat, telah terlahir kembali … menjadi manusia.”

Xiang Shu melihat sekeliling, matanya bingung.

Wang Ziye berkata, “Ayo buat kesepakatan, Shulü Kong.”

Sungai Fei. Di kegelapan malam, Xiang Shu mengikuti arahan burung gagak yang terbang tidak terlalu cepat maupun terlalu lambat di atas permukaan air sampai dia menemukan batu besar di tengah sungai.

Burung gagak mendarat di atas batu besar. Sebuah pintu masuk gua yang hitam pekat bisa dilihat di dalam arus deras; di lokasi itu, ada sebuah distribusi, saluran bawah tanah yang bercabang dari Sungai Fei.

Pintu itu berada di bawah air selama ini, tidak heran aku tidak bisa menemukannya… pikir Xiang Shu. Dia keluar dari air dan menarik napas dalam-dalam sebelum menyelam ke dalam sungai bawah tanah yang gelap dan tak berdasar. Di ujung kegelapan, sesuatu tampak memancarkan cahaya; cahaya itu menyerupai cahaya yang melintas di seluruh wilayah Yique hari itu.

“Aku ingin kau membantuku.” Mengikuti gerakannya, Wang Ziye juga melihat sekelilingnya, tengah mengenang sesuatu. “Jika kita mulai membicarakan hal ini dari awal, sudah 300 tahun sejak terakhir kali aku datang ke tempat ini. Ibumu dan Zhang Liu bermaksud untuk tinggal di tempat ini dan mengaktifkan Gelombang Abadi untuk melakukan perjalanan kembali ke masa lalu. Untungnya, aku menghentikan mereka. Ayo langsung saja ke urusan utamanya.”

Ekspresi Wang Ziye berubah serius dan dengan suara rendah, dia berkata, “Aku bisa memastikan kalau kau mendapatkan apa pun yang kau inginkan, kau hanya perlu membantuku.”

Xiang Shu memandang Wang Ziye dengan perhatian penuh.

“Kembalikan aku ke 3.000 tahun yang lalu,” kata Wang Ziye dengan nada dingin. “Biarkan aku mengubah takdirku dengan tanganku sendiri; aku ingin menjadi Dewa Iblis yang baru. Selama kau setuju, aku akan mengajarimu cara memanfaatkan kekuatan qi spiritual langit dan bumi di dalam tubuhmu. Setelah itu, kau akan…”

Xiang Shu menurunkan pedangnya dan menatap Wang Ziye dengan skeptis sebelum perlahan bergerak ke arahnya.

Wang Ziye tersenyum. “Mereka yang kau izinkan untuk hidup akan hidup, dan mereka yang kau harapkan untuk mati akan mati. Qi spiritual dari langit dan bumi ada di dalam tubuhmu, dan bahkan yang disebut Dewa Iblis, Dewa Perang Chiyou, tidak sebanding denganmu. Kau. Tentu saja, karena kau adalah orang yang penyayang dan baik hati, aku yakin kau tidak akan membunuh orang secara sembarangan. Meskipun, jika kau ingin memperpanjang umur teman kecilmu yang hidupnya sudah tidak akan terlalu lama itu, kau tidak boleh menolak harga ini.”

“Lalu apa?” Xiang Shu bertanya.

“Dan kemudian, kau akan menjadi dewa dunia fana ini.” Wang Ziye menatap Xiang Shu yang setengah kepala lebih tinggi darinya dan berkata dengan suara rendah, “Sejak saat itu, kau akan memiliki sepanjang waktu di bumi ini, hidup tanpa kematian…”

Xiang Shu menatap Wang Ziye penuh perhatian. Tiba-tiba, tangannya bergerak secepat kilat, mencekik tenggorokan Wang Ziye.

Seketika, mata Wang Ziye memancarkan seberkas cahaya hitam, menelan kedua orang itu dengan gemuruh yang keras. Xiang Shu terkena gelombang kejut dari qi hitam dan segera meraung, namun tangannya masih memegang erat Wang Ziye, menolak untuk melepaskannya. Dengan kecepatan yang begitu cepat dan hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, dia mengencangkan cengkeramannya dan akan segera mematahkan leher Wang Ziye!

Wang Ziye segera membuka kipas lipatnya dan memberi isyarat dengannya. Ledakan keras pun terjadi, dan seluruh pelataran arrah magis mulai runtuh. Vena bumi segera memancarkan cahaya biru cerah yang menelan seluruh tempat, menyebabkannya hancur. Rune, bagaimanapun, tidak jatuh ke tanah dan malah terbang satu demi satu.

Tangan kiri Xiang Shu masih mencekik Wang Ziye. Dengan satu gerakan, tangan kanannya terulur dan menyambar kipas lipat Wang Ziye!

“Kondisimu cukup bagus,” kata Xiang Shu dengan nada sedingin es.

“Tapi aku lebih menginginkan hidupmu untuk membalaskan dendam ayah dan Anda-ku!” Suara Xiang Shu, di tengah kebencian yang membumbung ke langit, diiringi dengan niat yang kejam dan mengesankan; terdengar seperti naga yang mengeluarkan ancaman yang menargetkan manusia, begitu mengguncang langit dan bumi. Dalam sekejap, bahkan langit dan bumi bergetar di hadapannya. Ruang ilusi menghilang, hancur berkeping-keping!

Wang Ziye menghabiskan semua kebencian di dalam dirinya untuk melawan kekuatan naga Xiang Shu tapi terlempar ke belakang. Di pelataran yang runtuh itu, Xiang Shu mengayunkan pedangnya dengan satu tangan dan menggunakan semua kekuatannya untuk langsung menyerang dan menebas Wang Ziye!

Sungai Fei, di kegelapan malam.

Beberapa napas kemudian, sekeliling tempat itu menjadi cerah. Xiang Shu meninggalkan permukaan air dan membelai rambutnya yang basah sambil mengamati vena bumi di dinding batu sekitarnya. Vena bumi ada di semua sisi dan menyebar ke kedalaman lorong rahasia, tampak mirip dengan akar pohon besar yang saling terkait, dan saat dia berjalan, vena-vena ini berkobar dalam cahaya merah, yang menjadi semakin terang semakin dalam dia pergi. Pada saat dia tiba di luar gua bawah tanah, gua karst setinggi sepuluh zhang itu, seluruh gua telah dipenuhi dengan vena bumi yang bersinar dalam cahaya merah darah. Di tengah gua karst, sebuah hati besar tergantung, terlihat seperti semacam pembuluh darah.

Organ itu memancarkan qi hitam, dan saat berdenyut, cahaya merah menyebar dan menerangi semua tempat di dalam ruangan itu.

“Kau sudah datang,” suara Chiyou bergema di benaknya. “Mutiara Dinghai.”

Cahaya merah bersinar di antara alis Xiang Shu. “Seperti yang aku katakan.”

“Di dalam tubuhmu, Gu merasakan napas Dewa Naga.”

Keheningan menimpa seluruh Istana Huanmo. Dan kemudian, ada orang asing yang berdiri tepat di bawah hati itu.

“Wang Ziye?” Xiang Shu berkata dengan suara rendah. “Kau masih hidup?”

Wang Ziye ingin mengatakan sesuatu tetapi tampak ragu-ragu. Suara Chiyou segera menyela, “Jangan pedulikan dia. Setelah kau mengambil salah satu jiwa abadinya 4, dia hampir menyia-nyiakannya.”

Xiang Shu mengangkat alisnya saat dia melihat Wang Ziye.

Suara Chiyou melanjutkan, “Wang Hai benar-benar mendambakan kekuatan membunuh prajurit Gu dan bahkan berpikir untuk mengundangmu sebagai uluran tangan untuk merebut tubuh Gu. Untungnya, kau tidak yakin.”

Seketika, Wang Ziye mundur ke belakang hati iblis, gemetar tak terkendali.

Xiang Shu menjawab, “Dia tidak bisa menegosiasikan persyaratan apa pun denganku. Namun, kau benar-benar tahu tentang itu?”

Chiyou menjawab, “Aku paling memahami umat manusia. Sebelum aku membangunkannya, dia berjuang, dengan getir, di tanah, meskipun dia tidak lebih dari manusia biasa.”

Xiang Shu berjalan ke arah hati besar itu sementara Wang Ziye terus mundur. Suara Chiyou sekali lagi bergema, “Itulah yang Raja Kebijaksanaan 5 serahkan kepadamu, para manusia, Pedang Acala?”

Di depan hati, Xiang Shu memiringkan kepalanya untuk melihat pedang di punggungnya, tidak memberikan jawaban apa pun.

Chiyou berkata, “Pedang warisan Xuanyuan-Shi 6, dilemparkan dari enam cahaya primordial dunia: sinar matahari, sinar bulan, cahaya bintang, kilatan petir, kobaran api, dan kilauan tulang, dikombinasikan dengan perunggu Gunung Shou … kau bisa mencoba menggunakannya untuk menyerangku, karena itulah alasan pertama kali pedang itu dibuat.”

“Tapi, pedang itu hanya akan melukai, bukan membunuhku,” lanjut Chiyou. “Aku yang sekarang adalah bukti bahwa Raja Kebijaksanaan dan Xuanyuan-Shi memiliki kemauan tapi tidak memiliki kekuatan — justru karena selain enam cahaya primordial dunia, masih ada jenis cahaya lain, yang tidak lain adalah Cahaya Hati Hun 7.”

“Untuk dapat menghancurkanku selamanya, pertama-tama kau harus mengambil nyawa pengusir setan dan memurnikan jiwa abadi dan fana 8 bersama dengan Cahaya Hati ke dalam pedang,” kata Chiyou. “Ini adalah kebenaran dari misi yang kau pikul. Bunuh kekasihmu dengan tanganmu sendiri untuk mencapai bentuk akhir pedang — itulah satu-satunya cara agar kau benar-benar bisa berhasil.”

Xiang Shu menjawab, “Tapi kalau begitu, Chen Xing harus mati.”

Hati Chiyou mengeluarkan tawa aneh. “Tentu saja, kau juga bisa memilih untuk tidak mengindahkan ini dan meninggalkan takdirmu. Dalam hal ini, setahun dari sekarang, ketika Iuppiter kembali ke surga, Cahaya Hati juga akan padam. Tidak semua yang terjadi di dunia ini terjadi seperti yang diinginkan orang, namun mereka memiliki ‘obsesi’. Selama langit dan bumi berputar, obsesi dan rekonsiliasi tidak akan pernah berhenti ada.”

“Sekarang, Gu akan memberimu jalan keluar lain,” suara Chiyou menggema. “Menjadi Tubuh baru Gu. Hidup bersama Gu dalam satu tubuh. Jika hunmu cukup kuat untuk melahap hun Gu, Gu akan menjadi dirimu.”

“Jika kau tidak bisa melawan, kau akan menjadi Gu.”

Xiang Shu melihat dengan hati-hati ke hati iblis dan berkata dengan suara rendah, “Chiyou, untuk sebuah Tubuh, kau bersedia mengambil risiko seperti itu?”

Chiyou menjawab, “Jika Gu memiliki kesempatan untuk dilahirkan kembali sedemikian rupa, bahkan jika itu datang dengan kemungkinan untuk memungkinkanmu memiliki kendali, bagaimana mungkin itu tidak sepadan? Begitu kau menyadari pengalaman hidup Gu, tentunya kau juga akan membuat pilihan yang sama seperti yang dilakukan Gu. Semua orang tahu bahwa Yanhuang 9 adalah nenek moyang umat manusia, namun tidak ada yang tahu bahwa Gu juga adalah nenek moyang manusia. Setelah Pertempuran Banquan 10, darah Gu merembes ke seluruh Tanah Suci 11. Selama beberapa milenium, mata air yang diminum manusia, ramuan obat yang mereka konsumsi, makanan yang mereka makan sepanjang hidup mereka, bahkan persembahan mereka untuk langit dan bumi, semuanya adalah esensi dan darah Gu.”

“Gu telah lama berasimilasi dengan Tanah Suci. Burung yang terbang dan binatang buas yang berjalan di darat, tumbuhan di pegunungan dan sungai, semuanya memiliki keinginan Gu! Xuanyuan-Shi membunuh Gu, tapi dia juga membantu Gu mencapai segalanya!”

“Tapi, tidak peduli siapa yang menang atau kalah pada akhirnya, Gu berjanji untuk mengubah sebab dan akibat untukmu. Gu akan kembali ke waktu 20 tahun yang lalu untuk menghapus Iuppiter, yang saat itu belum terkait dengan takdirnya, dari bagan kelahirannya.”

“Teman-teman yang ingin kau selamatkan,” lanjut suara Chiyou, “Gu juga akan menghilangkan kebencian di dalam tubuh mereka dan mengembalikannya padamu.”

Xiang Shu menjawab, “Bagaimana kau bisa menjamin kalau kau tidak akan menarik kembali kata-katamu?”

Dengan suara yang dalam dan rendah, Chiyou menjawab, “Gu adalah dewa dunia ini, dan dewa tidak pernah menarik kata-kata mereka. Di mata Gu, manusia hanyalah semut, dan semua makhluk di antara langit dan bumi, pada akhirnya, adalah juga keturunan Gu. Obsesi mereka dengan hidup dan mati, ketidaksesuaian dan kebencian mereka sendiri, Gu lebih memahami penderitaan mereka dibandingkan dengan kalian semua. Tunggu sampai kau menjadi Gu atau meninggalkan jejak pikiranmu di dalam tubuh Gu, dan kau akan tahu.”

“Ayo. Fu Jian akan memulai perang, kebencian menyebar, dan Mutiara Dinghai akan dikultivasikan. Keluarkan artefak sihirmu dan kita bisa mulai mempersiapkan Array Sepuluh Ribu Jiwa.”

Xiang Shu masih diam seperti sebelumnya. Chiyou akhirnya berkata, “Gu tidak tertarik sama sekali di era-mu saat ini. Tunggu sampai Array Sepuluh Ribu Jiwa selesai, dan setelah Gu selesai melakukan semua ini untukmu, Gu akan kembali ke Banquan 3.000 tahun yang lalu. Itu adalah medan perang Gu. Mutiara Dinghai, apa yang kau khawatirkan? Untuk bergabung dengan Gu dan menjadi satu-satunya dewa dari Tanah Suci ini untuk selama-lamanya adalah akhir yang terbaik untukmu.”

Akhirnya, Xiang Shu membuka bungkusan yang dibawanya. Enam artefak sihir: Mutiara Canglang, Genderang Zheng, Lonceng Luohun, Panji Harimau Putih, Panji Zouyu, dan Kipas Tianluo, semuanya terbang ke arah hati yang besar itu, masing-masing memancarkan cahaya terang.

“Kipas Tianluo, seperti sebelumnya, akan menjadi milik Wang Ziye. Kau akan bertanggung jawab atas Bintang Keseimbangan Surgawi Luoyang 12, menambahkan Senluo Wanxiang dan Cangqiong Yilie, tujuh po akan utuh,” kata Chiyou. “Wang Ziye, tunggu sampai kebencian dunia terpadat, lalu mulai Array Sepuluh Ribu Jiwa untuk membentuk kembali tubuh Gu.”

Wang Ziye menatap Lonceng Luohun, yang berisi cahaya hun dan po yang samar-samar terlihat, dengan bingung.

Tepi Selatan Sungai Fei, Periode Malam Keempat 13.

Huan Yi dan Xie Xuan berlari kencang dengan kecepatan penuh untuk bertemu dengan Xie Yan yang telah menunggu di luar kamp. Dengan cepat, Chen Xing turun dan berkata, “Di mana Xiang Shu? Apakah ada yang melihat Xiang Shu?”

Xie Yan menjawab, “Dewa Bela Diri-daren melewati kamp sebelumnya. Aku tidak tahu apakah dia menyeberangi sungai atau tidak, tapi jika dia berhasil menyeberang, dia pasti pergi ke sisi pasukan Qin.”

Chen Xing menjadi cemas. “Tidak ada yang mengikutinya?”

Xie Yan mengangkat bahu dan menatap Huan Yi dengan tatapan ingin tahu. Huan Yi juga tidak tahu harus berbuat apa; dengan bencana nasional di depan mereka, dia hanya bisa membiarkan Chen Xing mencari cara untuk menemukan seseorang sendirian. “Pengusir Setan, mohon istirahat sejenak. Silakan gunakan tenda Panglima Tertinggi, aku harus memberikan beberapa nasihat untuk pertempuran, maafkan aku karena tidak dapat menemanimu.”

“Kalian cepatlah,” kata Chen Xing.

Xie Xuan dan Huan Yi berdiskusi dengan suara rendah, “Haruskah kita membawa Chen-xiansheng ke pertempuran?”

Huan Yi mengerutkan kening. “Bagaimana menurutmu? Karena Iuppiter hanya memberkatinya, dia tidak terkalahkan, jadi mungkinkah kita bisa melemparkannya ke sana untuk mengalahkan semua orang?”

“Aku mendengarnya!” Kata Chen Xing dengan marah tidak jauh dari situ. “Tunggu sampai aku menemukan Xiang Shu, aku akan memberi kalian semua pelajaran!”

Xie Xuan sering mendengar bahwa Chen Xing memiliki perlindungan Iuppiter, mengubah kemalangannya menjadi berkah. Dia membawanya ke Sungai Fei juga karena keberuntungannya.

Bagaimana kalau dia jadi Panglima Tertinggi? Jika kita membiarkannya maju lebih dulu untuk memimpin serangan Prajurit Beifu, itu mungkin benar-benar akan menyebabkan Pasukan Qin jatuh ke dalam kekacauan dan saling menginjak-injak. Orang-orang di pihak mereka akan menginjak-injak dan membunuh orang-orang mereka sendiri, yang pada akhirnya menyebabkan pasukan mereka dipukuli dan hancur total. Berapa skala kekacauan dengan lebih dari satu juta orang di dalamnya? Mungkin Fu Jian sendiri telah diinjak-injak sampai mati lebih dulu.

Namun, situasi yang terlalu bagus ini hanyalah angan-angan. Huan Yi telah menyiapkan perimeter pertahanan yang luas dan mengirim pengintai untuk memantau situasi. Xie Xuan menenangkan pikirannya dan bergegas ke tenda komandan untuk menghadiri pertemuan. Chen Xing justru menaiki menara pengawas prajurit dan mengamati pemandangan gelap gulita malam itu dari atas.

Dimana Xiang Shu? Kemana tepatnya dia pergi? Chen Xing tidak tahu kenapa, tapi dia terus merasa khawatir. Dia mengaktifkan Cahaya Hati dan menawarkannya ke tirai malam yang tak terbatas, tapi Xiang Shu tidak memberikan jawaban apapun. Dia menekan salah satu tangannya di dadanya dan sekali lagi menyalakannya, tapi tetap saja, tidak ada tanggapan dari Xiang Shu.

“Pergi ke kamp Qin dan tanyakan,” kata Chen Xing pada dirinya sendiri. Dia menjadi semakin khawatir tentang Xiang Shu. Sejak saat mereka meninggalkan Shouyang menuju Sungai Fei, seolah-olah apa yang disebut hubungan antara mereka yang tumbuh selama tiga tahun terakhir telah terputus. Sebelumnya, meskipun Xiang Shu tidak ada di sisinya, dia masih bisa merasakan hubungannya.

Saat fajar, Chen Xing menunggang kudanya, mondar-mandir beberapa kali di tepi Sungai Fei.

Di sisi lain ada hamparan putih yang luas. Ketika Chen Xing naik ke ketinggian, dia melihat pasukan Qin, yang tampak mirip dengan lautan di kejauhan, di dataran dan menyatu dengan langit.

“Ya Tuhan,” gumam Chen Xing, “ada begitu banyak?! Kenapa ada begitu banyak orang di sini?!”

Sebaliknya, 100.000 pasukan Biefu di tepi selatan, yang berbaris di dataran, hanya membentuk beberapa formasi persegi.

“Aku tidak tahu apakah mereka ingin bertarung di pantai utara atau selatan,” sebuah suara terdengar di belakang Chen Xing. “Kau tidak mungkin ingin menyerang pasukan yang terdiri dari 1,12 juta orang ba.”

Chen Xing memutar kepalanya ketika dia mendengar suara suram yang dikenalnya.

Menunggangi kuda dan membawa pedang panjang bersamanya, seorang pria berpakaian jubah bela diri hitam muncul di belakang Chen Xing.

“Murong Chong?” Chen Xing terkejut.


Catatan Penerjemah:

Array Sepuluh Ribu Jiwa diaktifkan dengan mengumpulkan kebencian di tujuh lokasi di seluruh Tanah Suci (juga alasan mengapa Wang Ziye dan rekannya membuat keributan besar di tempat-tempat tertentu), dan setiap lokasi sesuai dengan satu bintang Northern Dipper atau Biduk Utara(Ursa Major). Pada dasarnya apa yang mereka coba lakukan adalah mengkloning asterisme Northern Dipper di bumi, mengganti ‘bintang’ dengan ‘kebencian,’ dengan masing-masing bertindak sebagai representasi po (seperti yang disebutkan sebelumnya, ada 7 po dalam setiap manusia) untuk menghidupkan kembali Chiyou.

Satu lagi, kami pikir kami lupa menjelaskan mengapa kami mengubah terjemahan kami terkait nama senjata Xiang Shu. Kami pertama kali menggunakan gaya penamaan kami yang biasa (pinyin) untuk nama senjata Xiang Shu, 不动如 山 (Immovable As Mountain/ Tak Tergoyahkan Layaknya Gunung), yaitu, Budong Ru Shan. Tapi kemudian, kami melihat bahwa ‘Tak Tergoyahkan’ di sini mengacu pada dewa yang memiliki senjata, Acala. Karena kami menerjemahkan 不动明 sebagai Acala, kami memutuskan untuk menyimpan referensi dan menamakannya Pedang Acala. Kami harap ini menghilangkan kebingungan kalian.


Jeff : Plot twist banget ‘kan???!!!!! Aku juga syok saat baca chapter ini!


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Mungkin referensi ke Zhang Shun, karakter fiksi di Tepi Air, salah satu dari Empat Novel Klasik Besar sastra Tiongkok, karena ini juga nama panggilannya. Dia peringkat 30 di antara 36 Roh Surgawi, sepertiga pertama dari 108 Bintang Takdir.
  2. 太极 adalah istilah kosmologis Tiongkok untuk ‘Polaritas Tertinggi’, keadaan dengan potensi absolut dan tak terbatas yang tidak terdiferensiasi. Pada dasarnya, lingkaran yin dan yang tanpa sedikit pun hitam dan putih.
  3. 內丹 (neidan), biasa dikenal juga sebagai 金丹 (jindan), inti emas.
  4. Sama seperti 魂 (hun), total ada tiga untuk setiap makhluk hidup, jika kalian lupa.
  5. Ada banyak orang dengan gelar ‘Raja Kebijaksanaan,’ tapi yang ini mengacu pada Acalanātha. Nama lengkapnya dalam bahasa Cina adalah 不 动 明王, Raja Kebijaksanaan yang Tak Tergoyahkan.
  6. Nama lain dari Kaisar Kuning. Dalam legenda, dikatakan bahwa dalam perjalanannya ke Aula Jingyun untuk berlatih, dia mengunjungi Gunung Shou untuk mengambil perunggu dan melemparkan ding (kuali kuno) darinya.
  7. Sama dengan hun yang berarti jiwa abadi di catatan sebelumnya. Aku akan menggunakan versi pinyin karena Jiwa Abadi Hati terdengar terlalu panjang (Kalian akan melihat kami menggunakannya secara bergantian dalam situasi yang berbeda).
  8. 魄 (po), total ada tujuh di setiap makhluk hidup.
  9. Yanhuang adalah nama suku bangsa Tiongkok kuno yang mendiami daerah cekungan Sungai Kuning. Mereka mengklaim keturunan mereka dari dua suku yang dipimpin oleh Kaisar Api (Yandi) dan Kaisar Kuning (Huangdi). Prestasi utama mereka adalah bergabung bersama untuk memperkuat basis kedua suku dan komunitas beradab mereka. Yanhuang adalah pendiri orang Tionghoa dan penggagas budaya Tionghoa.
  10. Pertempuran pertama dalam sejarah Tiongkok seperti yang dicatat oleh Catatan Sejarawan Agung Sima Qian. Peperangan itu melibatkan Huangdi, Kaisar Kuning (suku Shennong), dan Yandi, Kaisar Api (suku Youxiong). Berakhir dengan kemenangan Youxiong dan penggabungan kedua suku untuk membentuk suku Yanhuang.
  11. Pertempuran berikutnya setelah Banquan adalah Pertempuran Zhuolu, di mana Kaisar Kuning mengalahkan Chiyou.
  12. Luoyang’s Star of Celestial Balance. 天 权, bintang ke-4 dari Northern Dipper atau Biduk Utara (Ursa Mayor). Dalam bahasa Inggris disebut Megrez, Delta Ursae Majoris.
  13. Jam 1-3 dini hari.
Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Noa
Noa
5 months ago

Haha 3 tahun nyari2 mutiara dinghai ternyata orang sebelah yang ikutan nyari

Justyuuta
Justyuuta
4 months ago

Pantesan aja pas awal di pukul pake pedang acala gk ada reaksinya ternyata xiangshu sendiri mutiara dinghai nya..

evel
evel
3 months ago

Susah2 nyari taunya xiang shu sndiri yg jd mutiara dinghai :”)