“Aku tidak berpikir dia berniat untuk menjadi Pelindungmu.”

Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: Keiyuki17


Pagi hari, di Kota Mai.

“Para mayatnya berubah–!” Seseorang berlari terburu-buru dalam kepanikan dan berteriak dengan penuh kegilaan, “Di kantor pemerintahan, mayat-mayatnya sudah berubah!”

“Jangan menyebarkan kebohongan!” Seorang tentara menahan orang itu di pintu masuk Kota Mai, dia berusaha mengatasi gelombang kedatangan orang-orang ini, dan berteriak, “Kalian semua, kembalilah! Tidak ada hal yang seperti itu! Semua itu hanya rumor! Hanya rumor!”

Di kantor pemerintahan, hakim daerah, sekelompok pejabat klerikal dan jenderal yang bertugas di kota tersebut menatap sosok mayat hidup dari prajurit Jin yang ditahan dalam sebuah sangkar.

Sebuah rantai terseret-seret di belakang mayat hidup dengan mata keruh itu, saat dia terus memberontak di dalam sangkar baja yang besar itu.

“Kita harus cepat..” Hakim daerah mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, “kawal monster ini menuju Jiankiang dan laporkan kepada pengadilan kekaisaran…”

Wakil hakim daerah Kota Mai berkata, “Yang Mulia, hamba yang rendah hati ini berpikir…”

“Masalah ini benar-benar sudah tidak bisa ditekan lagi!” Hakim daerah tersentak dari lamunannya dan berteriak, “Xiangyang telah jatuh, dan jumlah orang yang tewas dalam peperangan ini mencapai ratusan ribu. Jika semua mayat mereka berubah, tidak peduli berapa banyak orang yang masih hidup yang kau miliki, apa mereka bisa melawan orang mati?! Cepat dan bawa pergi secepat mungkin! Berikan peringatan takhta1 untuk meminta keputusan dari pengadilan kekaisaran!”

Barat laut Gunung Longshan, di pintu keluar gunung.

Anjing yang sebelumnya terus mengikuti Chen Xing itu menunggu di tempat itu sepanjang malam; dia terus berlarian kesana kemari dan menggoyang-goyangkan ekornya kepada Chen Xing. Ketiganya berhenti untuk sementara waktu ketika mereka menemukan sebuah tempat untuk duduk dan beristirahat di ujung jalan papan yang sebelumnya mereka lewati. Feng Qiangjun pergi untuk mencari kuda mereka yang sebelumnya melarikan diri. Beruntung, kuda-kuda mereka belum pergi terlalu jauh. Sementara itu, Xiang Shu pergi dan mengambil tali kekang kudanya yang dia bawa bersamanya. Dia berdiri di jalan papan itu dan menatap pemandangan yang berupa pegunungan di depannya tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Feng Qiangjun berbagi informasi yang dia ketahui dengan mereka berdua. Tampaknya, pasukan Jin sudah tahu cukup lama mengenai situasi yang terjadi di Gunung Longzhan. Lagipula, orang-orang yang baru saja melarikan diri dari desa pada pertengahan jalan menuju gunung itu ingin melaporkan kasus tersebut ke pihak berwenang Xiangyang. Namun, Xiangyang dikepung, jadi mereka harus beralih ke Kota Mai. Pemerintah Kota Mai sendiri, karena ada desas-desus bahwa pasukan Qin akan melancarkan serangan besar-besaran di kota itu, menjadi gelisah sejak awal. Mereka takut jika laporan tersebut adalah tipu muslihat pasukan musuh untuk membuat pengalihan, dan orang-orang juga tidak bisa menjelaskan dengan jelas mengenai apa yang terjadi, sehingga masalah tersebut ditekan untuk sementara waktu.

“Tepatnya,” Feng Qiangjun berkata, “sampai tadi malam, kejadian ini sudah berlangsung selama 49 hari.”

Xiang Shu masih berdiri membelakangi keduanya dan tidak pernah menyela pembicaraan mereka.

“Apa kau mau makan sesuatu?” Chen Xing mencoba mengambil inisiatif untuk berbicara dengan Xiang Shu.

Xiang Shu tetap mengacuhkannya. Chen Xing terdiam selama beberapa saat, kemudian menjawab, “Semua ini berhubungan dengan peluang nomor ‘7’2, jadi pasti ada penyebabnya. Tapi kau seharusnya tidak perlu membawa mereka juga ‘kan!”

Feng Qiangun menjawab, “Aku mencoba untuk menghentikan mereka, tapi itu benar-benar tidak berguna.”

Ketika kuda yang sebelumnya kembali ke Kota Mai dengan membawa mayat prajurit Jin di punggungnya, orang-orang tampak begitu panik. Hakim daerah melihat bahwa prajurit yang dia kirim untuk menyelidiki berita itu belum kembali dalam dua hari. Sekarang, setelah dia melihat mayat itu, dia tahu bahwa masalahnya tidak bisa lagi ditekan. Dia dengan cepat mengirim tim lain untuk memasuki Gunung Longshan dalam satu malam. Pemimpinnya sudah mengetahui lokasi makam dari informasi yang mereka peroleh sebelumnya. Feng Qianjun ingin pergi sendiri untuk membantu Chen Xing, tetapi dia gagal membujuk yang lain, dan hanya bisa mengikuti di belakang mereka.

Sebagai hasilnya, semua prajurit Jin yang bertugas itu mati. Setelah menyingkirkan pria misterius berjubah hitam sebelumnya, Xiang Shu menyalakan api dan membakar semua mayat yang ada di sana.

Sekarang, satu-satunya kekhawatiran Chen Xing adalah pemandangan Sima Wei, yang mengenakan baju besi hitam, berubah menjadi meteor hitam yang menyala di saat-saat terakhir, dan terbang menjauh.

Kisah sebenarnya pasti agak rumit; seseorang pasti sedang merencanakan sesuatu di suatu tempat di Tanah Suci, namun mereka tidak memiliki petunjuk sama sekali.

Hampir seratus tahun yang lalu, penerus Dinasti Jin begitu bodoh dan tidak kompeten. Delapan pangeran mengumpulkan pasukan dan bertempur memperebutkan takhta, menyebabkan Dataran Tengah terlibat dalam peperangan. Selama perang saudara itu, orang-orang Han saling menyerang.

Perselisihan internal yang terjadi begitu signifikan, dan menyebabkan pengosongan garnisun di luar lima lintasan dan kelaparan selama beberapa tahun. Hanya tersisa puluhan ribu orang yang masih bisa bertarung; Xiongnus mengambil kesempatan itu untuk pergi ke selatan, Guanzhong jatuh, anggota bangsawan Han menaiki kapal feri dan melarikan diri ke Selatan, menghasilkan pemerintahan terpisah di wilayah utara dan selatan.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa Sima Wei, raja Chu, baru berusia 21 tahun ketika dia meninggal. Dia memiliki tubuh yang tinggi dan mengesankan serta wajah yang luar biasa, tetapi dieksekusi karena “bertindak dengan dalih dekrit kekaisaran”. Artinya, dia mengarang dekrit kekaisaran itu dan mengumpulkan pasukan untuk perang salib melawan pejabat pengadilan yang berbahaya. Setelah kematiannya, Sima Wei dianugerahi gelar anumerta ‘Jenderal Kavaleri’, dan dimakamkan di Gunung Longzhong, area fengshui berharga yang terletak di Jingchu, tanah feodal.

“Xiang Shu, apa kau mengetahui sesuatu?” Chen Xing sekarang merasa bahwa rangkaian kejadian aneh yang tak terbayangkan ini masih berada di posisi kedua terpenting baginya; Identitas dan motif Xiang Shu adalah hal yang paling dia khawatirkan.

Xiang Shu melirik Chen Xing, tapi perhatiannya tidak tertuju padanya. Dia menjawab, “Aku hanya ingin menyeberang ke sana untuk sampai ke Chang’an dan akhirnya justru ikut campur dalam urusan orang lain di tengah jalan.”

Chen Xing bertanya dengan rasa ingin tahu, “Kenapa kau ingin pergi ke Chang’an?”

Mungkin itu karena mereka bertiga baru saja melalui situasi hidup dan mati bersama di malam sebelumnya, penghalang di antara mereka agak sedikit terangkat. Atau mungkin karena Cahaya Hati milik Chen Xing telah membuktikan bahwa dia memang pengusir setan sejati, jadi sikap Xiang Shu telah berubah menjadi lebih baik.

Xiang Shu berulang kali membalik topeng di tangannya saat dia memeriksanya. Tepat saat dia berbalik menghadap Chen Xing, Chen Xing tanpa sadar membungkuk lebih dekat ke Feng Qianjun.

“Berhentilah menggangguku sepanjang waktu!” Chen Xing sedikit takut pada Xiang Shu dan menguatkan dirinya untuk mengatakan ini.

Wei!” Feng Qianjun juga sedikit takut pada Xiang Shu; dia tidak bisa mengalahkannya sama sekali, jadi dia juga menguatkan dirinya untuk berkata, “Jangan menggertak adik laki-laki Chen Xing, dia tidak memprovokasimu dengan cara apa pun.”

“Tidak memprovokasiku? Kalian Orang-orang Han bahkan tidak tahu bagaimana membedakan yang benar dari yang salah dan mempermainkanku untuk menipuku agar pergi ke Jiangdong dari Jinzhou, lalu memenjarakanku sampai sekarang.” Xiang Shu menjelaskannya sambil melanjutkan, “Jika Kota Xiangyang tidak jatuh, aku pasti sudah berubah menjadi mayat yang membusuk di dasar penjara sekarang, dan kau ingin aku meneteskan air mata terima kasih untukmu? Lupakan saja ba.”

Chen Xing marah ketika dia mendengar ini, “Ini tidak seperti aku tahu pengalaman seperti apa yang sudah kau alami! Dan bukankah aku sudah menyelamatkanmu? Kapan aku pernah memintamu untuk menitikkan air mata terima kasih untukku? Izinkan aku menanyakan ini, apa kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan terakhir kali? Jadi, apa kau percaya padaku sekarang?”

“Kamu adalah orang Hu?” Begitu Feng Qianjun melihat wajah Xiang Shu, dia segera mencekik paruh kedua kalimat “tapi kau tidak terlihat seperti mereka ah” dengan paksa. Dia menduga bahwa Xiang Shu tidak suka ditanyai tentang identitasnya, jadi dia dengan cepat berkata, “Tenanglah! Jangan berkelahi!” Kemudian dia dengan tergesa-gesa melakukan kompromi, “Yah, karena kita semua menuju ke Chang’an, ayo kita pergi bersama.”

Xiang Shu tidak mengatakan apapun dan menaiki kudanya. Begitu dia menekan perut kudanya, dia sudah berlari jauh; Chen Xing baru memakan setengah dari perbekalannya dan segera berkata, “Tunggu! Kau belum memberi tahuku kenapa kau pergi ke Chang’an……”. Dia meletakkan anjingnya di samping pelana, sementara Feng Qianjun berkemas, dan mereka memacu kudanya untuk berangkat.

Xiang Shu menjaga jarak dari mereka saat dia melaju di depan. Chen Xing dan Feng Qianjun berjarak sekitar sepuluh atau lebih zhang di belakang, mereka berdua terlibat dalam diskusi yang tenang saat mereka menunggang kuda berdampingan.

“Pelindungmu tampaknya bukan orang jahat,” kata Feng Qianjun, “percayalah, dia tidak akan menusukmu dengan pedangnya hanya karena perselisihan kecil.”

“Ya, dia hanya akan melemparkan uang padaku” Chen Xing menjawab.

“Dia melempar batangan emas itu untuk menguji kekuatanku.” Feng Qianjun berkata, “Dia sudah menyadari bahwa aku ada di belakangmu pada saat itu, dan bahkan jika kau tidak menghindarinya, emas itu tidak akan benar-benar mengenaimu.”

“Kalau begitu aku benar-benar harus berterima kasih padanya atas belas kasihannya.” Chen Xing tidak setuju dengan Feng Qianjun, dia berkata dalam hati, orang ini bajingan, dia bahkan merampas barang-barangku.

Chen Xing mengerutkan keningnya dalam-dalam dan mengamati Xiang Shu, yang tidak terlalu jauh di depan mereka. Dia bertanya pada Feng Qianjun, “Kenapa dia pergi ke Chang’an?”

“Untuk menemukan orang dari sukunya.” Feng Qianjun berkata, “Bukankah itu sudah jelas? Semua orang Hu ada di utara, dan Chang’an berada di bawah kendali Kaisar Qin, Fu Jian.”

Chen Xing tiba-tiba teringat kalimat “berspekulasi menjadi pejabat militer” di daftar yang ditunjukkan Zhu Xu padanya. Mungkinkah mereka sudah menyita semacam barang berharga dari Xiang Shu ketika mereka menangkapnya sampai mereka bisa berada pada kesimpulan seperti itu? Orang macam apa dia? Komandan 1003? Seorang petugas lapangan4? Posisi yang bisa diambil oleh seseorang yang masih berumur 20 tahun seharusnya tidak terlalu tinggi, jadi tidak mungkin baginya untuk menjadi seorang jenderal.

Feng Qianjun, “Tapi, menurutku dia tidak berniat untuk menjadi Pelindungmu.”

Chen Xing berkata dengan tenang, “Aku sudah merasakannya sejak lama.”

Chen Xing mencoba mengalihkan perhatiannya. Dia teringat sekali lagi akan tubuh Sima Wei yang telah berubah menjadi api hitam sebelum pikiran itu perlahan terbang menjauh. Saat itu, mereka sedang menuju barat laut, yang kebetulan ke arah Chang’an. Tapi Liangzhou dan tempat-tempat lain bahkan lebih jauh ke barat laut. Pasti ada kekuatan yang luar biasa di belakang pria bertopeng dengan jubah hitam itu, tapi dia tidak tahu di mana mereka bersembunyi sekarang, dan apa yang mereka rencanakan …… apa yang mereka maksudkan dengan kebangkitan mayat yang telah berubah menjadi tulang hampir seratus tahun yang lalu?

Kekuatan Cahaya Hati telah menghilang selama lebih dari tiga ratus tahun bersama dengan keheningan yang menyelimuti semua sihir. Apakah cahaya itu sekarang kembali muncul karena kekuatan rahasia ini yang sedang mencoba memunculkan sebuah konspirasi? Chen Xing mengerutkan keningnya dalam diam di sepanjang jalan, dan sekali lagi menatap Xiang Shu yang jauh di depan. Penjelasan Xiang Shu untuk kejadian ini adalah dia hanya ikut campur dalam urusan orang lain, tetapi Chen Xing selalu merasa bahwa dia tahu lebih banyak daripada yang dia katakan.

Tetapi jika dia tahu sesuatu, bukankah itu bisa dijadikan alasan baginya untuk dengan sungguh-sungguh membicarakannya dengan Chen Xing? Chen Xing benar-benar bingung. Untungnya, Xiang Shu tidak mengganggu mereka sepanjang jalan seperti yang diduga Feng Qianjun. Dalam perjalanan ke barat laut ini, mereka akan tinggal di penginapan jika mereka bisa menemukannya dan tidur di luar ruangan jika mereka berada di alam liar.

Perang yang bergejolak itu berlangsung selama bertahun-tahun; tanah yang membentang dari utara Jingjiang sampai ke Hanzhong telah dijarah berkali-kali, sembilan dari sepuluh rumah telah lama ditinggalkan. Ketika mereka tidak bisa menemukan penginapan, mereka bertiga hanya bisa menghabiskan malam di rumah yang terlantar tanpa atap. Chen Xing menatap pemandangan langit luas yang dipenuhi oleh bintang-bintang dan dia menghitung jumlah hari dengan jari-jarinya; dia lahir di akhir Oktober saat musim gugur, jadi dia hanya punya waktu selama tiga tahun delapan bulan lagi. Dia harus menemukan reruntuhan dari Markas Besar Pengusir Setan di Chang’an sesegera mungkin, dan berharap bahwa dia bisa menemukan alasan dari keheningan yang menimpa semua sihir.

Hasil terbaik baginya adalah melakukan yang terbaik yang bisa dia lakukan dan menggunakan beberapa tahun sisa hidupnya untuk mendapatkan kembali sihir yang hilang ke dunia manusia. Kemudian, dia akan meneruskannya ke generasi selanjutnya dari pengusir setan, jadi mereka bisa menangani kemunculan Mara di masa yang akan datang. Tapi tanpa diduga, gelombang lain telah naik sebelum gelombang yang lain hilang — kemunduran tak terduga yang entah muncul dari mana itu terwujud dalam bentuk pria berjubah hitam sebelumnya. Tanpa petunjuk yang terlihat, masalah ini membuat Chen Xing semakin kesal ketika dia semakin memikirkannya. Dia membalikkan tubuhnya, tidak bisa tidur, jadi dia bangun dan pergi untuk jalan-jalan keluar.

Di bawah cahaya bulan, dia melihat Xiang Shu berdiri di aliran sungai kecil di belakang desa yang sudah hancur. Dia menggunakan celana panjang saat dia menyeka tubuh bagian atasnya dengan air dingin. Chen Xing meliriknya sekilas sebelum dia berjalan ke arah aliran itu. Xiang Shu tidak menghindarinya dan hanya tetap berdiri diam di tempatnya.

Ketika Chen Xing menyelamatkannya dari penjara, Xiang Shu sangat kurus dan tak tampak seperti manusia. Tapi sekarang, bahkan belum ada sepuluh hari berlalu, dia kurang lebih sudah kembali pulih. Cahaya bulan menyinari bahu dan punggungnya, seolah-oleh melapisinya dengan lapisan kristal cahaya perak yang jernih.

“Kau sekarang sudah lebih baik daripada sebelumnya,” kata Chen Xing.

Xiang Shu memiliki kulit yang cerah. Setelah otot-ototnya kembali pulih, dan menjadi ramping dengan cara yang tidak berlebihan, memperlihatkan kontur yang mengingatkannya pada aliran sungai. Ketika dia berdiri dengan tubuh telanjangnya, dia tidak tampak seperti jenderal Hu yang garang, tapi malah memiliki semacam aura yang agak halus. Tanpa mengenakan sehelai pakaian apapun, tubuhnya sangat sempurna seperti tubuh seorang terpelajar, dan Chen Xing merasa sangat aneh.

Sepanjang perjalanan, Xiang Shu terkadang menerima jatah makanan yang diberikan Chen Xing padanya, tapi dia tidak pernah menerima tawaran makanan yang diberikan Feng Qianjun padanya. Ketika mereka mendirikan kemah untuk istirahat, Xiang Shu bahkan pergi berburu dari waktu ke waktu; kadang-kadang dia membawa kembali rusa, sementara di tempat lain dia akan membawa kembali kambing liar. Dia harus memakan banyak daging dalam sekali makan, dan karena itulah tubuhnya menjadi cepat pulih.

“Apa yang kau rencanakan di Chang’an?” Saat mereka berdua duduk berhadap-hadapan, Xiang Shu akhirnya mengambil inisiatif untuk berbicara pada Chen Xing.

“Bekerja.” Chen Xing duduk di batu di samping aliran sungai dan menjawab, “Aku adalah pengusir setan, aku memiliki sebuah tanggung jawab.”

Xiang Shu berjalan menuju tepian, mengenakan pakaiannya, dan menarik tali pakaiannya dengan kedua tangannya untuk mengencangkan pakaiannya. Pakaian putih yang menempel erat dengan tubuhnya menampakkan garis kontur di punggungnya dan dia memiliki kesan halus yang tenang tapi mengancam.

“Hanya untuk memastikannya,” Chen Xing berkata, “kau sudah memutuskan untuk tidak menjadi pelindung, ‘kan?”

Xiang Shu menaikkan alisnya.

Jadi Chen Xing menjelaskan padanya: akan selalu ada seseorang yang berperan sebagai “Pelindung” di samping semua pengusir setan, untuk melindungi para pengusir setan dari gangguan ketika mereka mengusir yao. Dan pelindung di sisi Pengusir Setan yang Agung yang mengawasi markas besar memiliki gelar yang hebat — “Dewa Beladiri”.

Dan sekarang, hanya tersisa satu orang pengusir setan di dunia ini — Chen Xing, jadi tentu saja dia akan menjadi “Pengusir Setan yang Agung”. Dan untuk posisi Dewa Beladiri, Cahaya Hati telah memilih Xiang Shu untuk mengambil posisi itu. Chen Xing sendiri sama sekali tidak punya hak untuk memilih, dan dia juga ingin menjelaskan tentang sihir dan Tanah Suci.

“Carilah orang lain.” Xiang Shu berkata dengan santai, “Kau telah menyelamatkan hidupku, dan aku telah menyelamatkan hidupmu, jadi sekarang kita impas.”

Xiang Shu telah menyelamatkan hidup Chen Xing lebih dari sekali, terutama ketika Chen Xing bertindak sangat sembrono di depan makam Kaisar Chu. Jika Xiang Shu tidak bereaksi dengan cepat, Chen Xing akan mati karena terbakar oleh api hitam. Meskipun dia tidak yakin jika api hitam itu bisa membakarnya sampai mati, tapi bukankah itu yang memang seharusnya dilakukan oleh Pelindung?

Chen Xing tidak marah ketika mendengar kata-kata itu. Faktanya, untuk seseorang yang waktunya sudah terbatas dan hanya memiliki tiga tahun delapan bulan untuk hidup, tidak ada banyak hal yang bisa membuatnya kesal. Dia hanya merasa sedikit tidak senang.

“Oke.” Chen Xing melihat sosok Xiang Shu yang mulai menghilang saat dia berkata, “Aku tidak terlalu berharap sejak awal, dan setidaknya aku harus menghormati keputusanmu. Karena kau sudah menolakku, maka setelah kita sampai di Chang’an, biarkan jembatan tetap menjadi jembatan dan jalan tetap menjadi jalan5.”

Xiang Shu pergi, meninggalkan Chen Xing di belakang dengan wajah sedihnya. Dia masih memiliki banyak hal yang belum diceritakan pada Xiang Shu, termasuk hubungan para Pengusir Setan dengan Pelindung mereka, dan juga era 300 tahun yang lalu ketika Pengusir Setan berkembang, dimana para Pengusir Setan dan Pelindung mereka bergantung satu sama lain dan akan menembus api dan air bersama sama.

Dalam perjalanannya setelah meninggalkan Gunung Hua, dia telah berulang kali membayangkan penampilan dan temperamen Pelindungnya, dan juga bagaimana dia akan menjelaskan segalanya pada Pelindungnya setelah mereka bertemu. Di sisa empat tahun hidupnya, dia setidaknya akan memiliki seseorang yang menemaninya di sisinya; dia tidak berani untuk mengharapkan apapun lagi, tapi setidaknya dia tidak akan kesepian.

Selama ini keberuntungan luppiter telah membantunya menangani semua masalahnya, tapi itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap masalah tentang Xiang Shu. Atau mungkin, untuk masalah sulit yang terkait dengan Cahaya Hati dan keberuntungan dari Tanah Suci, bahkan luppiter pun tidak berdaya.

Pada awalnya, Chen Xing dengan penuh harap bermaksud untuk mempercayakan sisa empat tahun hidupnya kepada Xiang Shu, namun ekspektasinya secara bertahap berubah menjadi sebuah kekecewaan. Ada banyak hal yang ingin dia jelaskan pada Xiang Shu, tapi sekarang apa gunanya mengatakan semua itu padanya? Xiang Shu tidak peduli sama sekali, dia juga tidak khawatir tentang hal itu dan dia bahkan tidak mau repot-repot untuk memperhatikannya.

Apa yang harus kulakukan mulai sekarang? Mencari yang lain? Tapi akankah Cahaya Hati mengubahnya untukku? Ini tidak seperti urusan hati dimana aku bisa berganti pasangan sesuka hati. Chen Xing awalnya berjalan-jalan untuk melupakan kekhawatirannya, tapi kekhawatirannya semakin bertambah, jadi dia memilih untuk kembali ke rumah dan tidur. Namun sekarang dia bahkan menjadi sulit untuk tidur, dan setelah memikirkannya lagi dan lagi, dia hanya memikirkan satu hal.

Ini semua salah bajingan itu.

Beberapa hari kemudian, Chen Xing memutuskan bahwa dia sebaiknya berhenti berbicara pada Xiang Shu. Feng Qianjun tahu bahwa Chen Xing keluar pada tengah malam di malam itu, jadi dia tidak banyak bertanya. Ada lebih banyak desa berpenduduk di sepanjang perjalanan mereka. Burung-burung bernyanyi dan bunga-bunga yang harum bermekaran di musim semi; hal ini memudahkan mereka untuk mencari bantuan, dan sekarang ada tempat bagi mereka untuk menukarkan tael perak dan koin tembaga. Mereka bertiga melewati Jalur Wu dengan cara ini. Dengan dokumen dari Kota Mai yang sudah ditandatangani, Chen Xing membawa kedua orang itu melewati jalur ini. Mereka bisa mempercepat perjalanan mereka selama beberapa hari sebelum tiba di Kota Chang’an.

Chang’an telah melalui perang selama lebih dari seratus tahun. Setiap kali penguasanya berganti, Chang’an akan mengalami masa penjarahan dan pembakaran lagi. Namun, sejak era dimana kota ini dinamakan Haojin di masa Dinasti Zhou, kota ini telah berdiri di sisi barat Tanah Suci. Kota kuno ini dikelilingi oleh delapan sungai yang seperti pohon besar yang menyuburkan bumi. Setiap kali kota ini dibakar dan dihancurkan, berkali-kali pula kota ini akan memperlihatkan kegigihannya yang menakjubkan; hijau dan subur, kebahagiaan dan kemakmuran, pemandangan yang selalu berkembang akan memenuhi pandangan seseorang.

Di jalur itu, suar api telah dinyalakan selama berhari-hari di garis depan dalam pertempuran sengit dengan selatan, namun Chang’an tetap dalam keadaan damai. Meskipun jaraknya sepuluh mil jauhnya, ada orang-orang dari Dataran Tengah yang melarikan diri dari malapetaka yang ada di tempat lain ke kota ini. Banyak orang yang mati di pinggir jalan atau hutan belantara disebabkan oleh kelaparan dan penyakit. Tembok tinggi di Kota Chang’an telah memblokir wabah, kelaparan, bencana, dan perang.

Tembok itu juga memblokir kematian.

Seperti oasis di padang tandus yang dipenuhi oleh kehidupan.

Puncak atapnya yang terbuat dari genteng emas dan kediaman yang beratap giok bisa dilihat saling berdekatan satu sama lain. Istana Weiyang yang megah adalah sebuah pertanda baik, meskipun penguasa istana telah lama berubah. Bunga yang berlimpah ruah bermekaran dengan cantik di taman Shanglin bersamaan dengan datangnya musim semi.

Orang Hu menunggang kuda dan menonton sabung ayam. Orang-orang tertawa dan berbincang-bincang, Orang Hu dan Han hidup bersama dengan harmonis, dan orang Hu dengan hidung mancung dan mata yang dalam sering datang dan pergi. Tidak peduli mereka orang Hu atau Han, semua orang mengenakan pakaian terbaik. Bahasa orang Di, Xie, Xianbei, dan Tiele tak henti-hentinya menarik perhatian orang-orang. Pasar dipenuhi dengan barisan barang-barang yang menyilaukan mata; jubah biru para terpelajar yang tak berujung tampak terlihat, mahkota rambutnya seperti awan.

Chen Xing baru berumur lima tahun ketika datang ke Chang’an terakhir kali, jadi sebagian besar ingatannya tentang tempat ini telah lama kabur dan menjadi tidak jelas. Melihat pemandangan ini di hadapannya sekarang, perasaan yang tak terlukiskan muncul di hati Chen Xing.

“Meskipun Fu Jian adalah Kaisar Hu, dia memerintah Chang’an dengan cukup baik ma.” Chen Xing berkata dengan masam.

Setelah hampir setengah bulan melakukan perjalanan dengan Feng Qianjun dan Xiang Shu, pakaian mereka sekarang penuh debu dan tampak seperti orang desa setelah memasuki Chang’an. Xiang Shu masih mengenakan pakaian pemburu, tapi justru dia tampak tidak terlalu peduli dengan hal itu. Dia mengamati sekelompok orang Hu di pinggir jalan yang tidak jauh dari tempatnya; sepertinya perhatiannya telah terbangun setelah mendengar aksen dari tempat asalnya.

Feng Qianjun berkata, “Yah, aku pikir sebaiknya aku mengampuni nyawa anjing itu untuk sementara waktu.”

Mereka bertiga masing-masing memesan semangkuk mie di kedai mie di sebuah jalan di Chang’an, yang cukup untuk dijadikan santapan perpisahan untuk teman perjalanan sementara ini. Setelah makan, Chen Xing bertanya kepada pelayan tentang seseorang, sementara Feng Qianjun pergi untuk melunasi tagihan dan berkata, “Sejak kita tiba di Chang’an, kenapa kita tidak…”

Saat dia berbicara, Feng Qianjun sedikit ragu. Dia melihat ke arah Chen Xing dan bertanya, “Kenapa kau tidak pergi dulu ke penginapan Dage untuk tinggal selama dua hari?”

Chen Xing tahu bahwa tawaran Feng Qianjun merupakan sebuah kesopanan. Meskipun mereka telah melindungi satu sama lain selama perjalanan kesini, pada akhirnya mereka hanyalah orang asing yang bertemu secara kebetulan. Dia segera berkata, “Aku tidak ingin merepotkan Saudara Feng lagi. Aku punya tempat untuk dituju, dan aku baru saja mendapatkan kabar tentangnya. Dia memang berada di Chang’an, jadi secara kebetulan aku bisa mencari tempat tinggal dari seorang teman lama di sini. Bisakah kau membantuku untuk menjaga anak anjing itu sementara waktu? Tidak mudah bagiku untuk mengurusnya untuk saat ini.”

“Tidak masalah.” Feng Qianjun mengambil anjing itu dan segera berkata, “Jika kau menemui masalah, kirim saja surat ke kediaman Songbai di barat kota. Kelihatannya, aku mungkin harus tinggal di Chang’an untuk jangka waktu tertentu.”

Dan untuk Xiang Shu, Feng Qianjun tidak menanyakan apapun dan hanya bersiul padanya, “Aku akan mempercayakan Tianchi dalam perlindunganmu.”

Chen Xing berfikir, apa yang harus kulakukan terhadapnya? Feng Qianjun segera mengenakan topi bambunya, menaruh tangannya di lengan bajunya, dan berjalan ke jalan sebelum menghilang dalam keramaian.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Peringatan takhta (Tionghoa: 章 表; pinyin: zhāngbiǎo) adalah komunikasi resmi yang ditujukkan kepada Kaisar Tiongkok. Mereka umumnya menulis esai yang cermat dalam bahasa China Klasik dan presentasi mereka adalah urusan formal yang diarahkan oleh pejabat pemerintah. Penyerahan tugu peringatan adalah hak yang secara teoritis tersedia untuk semua orang, mulai dari Putra Mahkota hingga petani biasa, tetapi sekretaris istana akan membacakannya dengan lantang kepada kaisar dan melakukan kontrol yang cukup besar atas apa yang dianggap layak untuk waktunya. Ini digunakan oleh kekaisaran China sebagai alat untuk mengatur pejabat lokal yang korup yang mungkin lolos dari pengawasan.
  2. Peluang nomor 7 berasal dari pepatah “逢 七 必 变”, yang dapat diterjemahkan dengan, karena pasti akan ada perubahan pada setiap ‘tujuh’. Secara umum, angka urut 7 cenderung berubah. Ini berarti bahwa ketika unit waktu tertentu [tahun atau bulan atau hari atau waktu] ditetapkan sebagai titik awal, ketika waktu terus bergerak maju, itu akan selalu berubah ketika ada selisih ‘tujuh’ sehubungan dengan titik awal.
  3. Gelar kuno untuk perwira militer yang memiliki seratus orang di bawah komando mereka
  4. perwira menengah, kedua setelah Jenderal.
  5. Tidak berhubungan lagi satu sama lain.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments