Penerjemah : Keiyuki17
Editor : Jeffery Liu


Malam itu.

“Ayo, aku ingin bersulang untuk kalian semua!” Xie An sudah mengadakan pesta penyambutan kecil untuk dirinya sendiri dan memanggil seluruh keluarganya. Istrinya sendiri bahkan datang dan menuangkan anggur untuk sekelompok junior sambil tersenyum.

“Bersulang untuk Xie-daren!” Feng Qianjun mengangkat cangkirnya.

Xiao Shan dan Xiang Shu juga menunjukkan kesopanan, sementara Chen Xing berbicara dengan wajah acuh tak acuh, “Xie-shixiong, kamu benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menyerah ah.”

Chen Xing awalnya percaya bahwa Xie An hanya bertindak seperti ini karena minat atau sebagai hobi. Dia tidak menyangka bahwa keinginan Xie An untuk menjadi pengusir setan sebenarnya begitu kuat bahkan jika dia harus memohon pada kaisar untuk memasukkannya secara horizontal atau vertikal, dia akan memasukkan dirinya ke dalam Departemen Pengusiran Setan apapun yang terjadi.

“Ini adalah anggur terbaik di gudang bawah tanah tuanku. Kadar alkoholnya agak tinggi, jadi semuanya harap minum dengan perlahan.” Istri Xie An adalah adik perempuan dari literati Liu Xun dan juga merupakan keturunan dari sebuah keluarga terhormat di Jiangnan. Dia tersenyum dan berkata, “Sejak kalian semua datang, tuanku mulai berbicara tentang bagaimana dia dapat membantu Chen-daren setiap saat.”

“Ketika kamu pergi membunuh naga di masa depan,” Xie An memulai lagi, “kamu tidak bisa tidak membawaku lagi.”

Chen Xing memegang keningnya dengan satu tangan. Xiang Shu menjawab untuknya, “Kau harus mengurus kehidupan kecilmu sendiri.”

Xie An menjawab, “Tapi tentu saja. Xiao Shidi-ku, aku sudah banyak berlatih metode kultivasi dalam beberapa hari terakhir dan aku hanya menunggu pemulihan sihir. Ini pasti akan berguna… baiklah, istriku, istirahatlah terlebih dulu, kami akan membahas pekerjaan untuk sejenak.”

Istrinya yang seorang gadis bernama Liu tersenyum ketika dia kembali ke kamarnya. Chen Xing melihat ke arah Xie An dan tiba-tiba merasa geli; dia sudah pada usia seperti itu dan merupakan pejabat tingkat tinggi namun dia sebenarnya tidak bisa melupakan mimpi pertama di masa mudanya. Memikirkannya dengan hati-hati, dia menyadari bahwa sebenarnya dirinya-lah yang berpikiran terlalu tertutup.

“Baiklah.” Chen Xing mengangkat gelasnya dan berkata, “Selamat datang Xie-shixiong. Di masa depan, kami akan berada dalam perawatanmu.”

“Sekarang kamu sedang berbicara.” Xie An berkata sambil memukul meja. Dia kemudian lanjut minum dengan semua orang. Selama perjamuan, dia tidak hanya membahas Shi Hai, Tanah Suci, Cahaya Hati, dan Pedang Acala, tapi juga mengangkat kasus besar dari 300 tahun yang lalu. Xie An akhirnya menjadi pengusir setan dengan banyak kesulitan, jadi sekarang ini Anekdot legendaris tidak lagi tidak berhubungan dengannya, tapi sudah dekat dengannya. Sekarang dia bisa berbicara dengan bebas, dia benar-benar menjadi lebih bersemangat, merasa seolah-olah pemulihan sihir bahkan lebih masuk akal setelah beberapa bulan lagi. Harapan mereka tidak pernah tampak lebih cerah.

Apakah ini dihitung sebagai pembentukan kembali Departemen Pengusiran Setan? Chen Xing memikirkan bagaimana dia akan meninggal dalam dua tahun; melihat orang-orang di perjamuan ini, Xiang Shu mungkin tidak akan tetap berada di Departemen Pengusiran Setan setelah kematiannya. Dia kemungkinan besar akan kembali ke Utara untuk menjadi Chanyu yang Agung lagi, sementara meninggalkan Departemen Pengusiran Setan yang baru di Selatan. Menyerahkannya pada Xie An ketika waktunya tiba mungkin adalah pilihan terbaik.

Xie An jelas sangat ingin tahu tentang apa yang disebut sebagai “dunia fantasi” dan mengajukan banyak pertanyaan tentang topik ini, “Lalu di dalam Cermin Yin Yang, apakah itu adalah dunia fantasi?”

Jadi Chen Xing menjelaskan, “Jika aku harus mengatakannya, ‘dunia fantasi’ bukanlah dunia kita, dan ini tidak seperti yang kamu ketahui. Apa yang dikenal sebagai ‘dunia fantasi’ ini sebenarnya, dalam istilah “dunia saat ini”, adalah perwujudan dari Tanah Suci di mata manusia, sehingga mereka melihatnya sebagai dunia saat ini. Tapi apa yang dilihat pengusir setan di dunia sekarang adalah vena bumi, qi spiritual, yao, dan iblis, dan itulah yang kita sebut sebagai dunia saat ini. Itulah yang dimaksud ‘Sungai dan gunung sebagai penghalang, dunia saat ini ada di permukaan, dan dunia fantasi ada di dalam’.”

Xie An berkata, “Jadi akhirnya aku bisa melihat secara sekilas dunia fantasi.”

Chen Xing tidak tahu apakah dia harus tertawa atau menangis ketika dia menjawab, “Kamu… bisa berpikir seperti itu. Tapi pengusir setan tidak selamanya awet muda, selamanya abadi, bisa membumbung tinggi ke langit, menggali melewati bumi, atau mahakuasa seperti yang kamu bayangkan. Pengusir Setan juga memiliki batasannya sendiri. Aku takut kamu akan kecewa nantinya.”

Xie An berseru, “Aku mengerti, aku mengerti! Menjadi abadi ma, shixiong tidak pernah memiliki gagasan seperti itu. Adapun sihir, seperti yang dikatakan oleh keluarga yang mengkhususkan seni bela diri ketika mereka mengajari keturunan mereka, aturan pertama adalah bahwa seseorang tidak boleh sembarangan bertindak pada mereka yang tidak tahu seni. Ini adalah aturan yang tidak tertulis.”

Chen Xing menjawab dengan suara yang tulus, “Mungkin tidak selalu begitu. Ada seseorang yang selalu mengandalkan bela dirinya untuk menjadi orang nomor satu di dunia dan sering mengancam akan memukuliku sampai mati.”

Xiang Shu: “……”

Xiao Shan sudah meminum sedikit anggur, jadi kata-katanya juga meningkat. Dia dengan marah berteriak, “Siapa yang ingin memukulimu sampai mati?!”

Chen Xing melambaikan tangannya, memberi isyarat bahwa dia hanya bercanda. Dia kemudian berbalik ke arah Xie An dan lanjut berkata, “Aku tidak bisa cukup untuk menjaga Xiao Shan, aku sudah merepotkanmu  shixiong.”

“Xiao Shan adalah anak yang baik,” Xie An menjawab dengan gembira, “Dia lebih seperti orang yang merawatku ketika kita sedang mengusir yao.”

Alis Xiang Shu sedikit berkerut ketika dia mendengar itu. Feng Qianjun juga merasakan firasat samar di balik kata-kata itu jadi dia tersenyum dan bertanya, “Kenapa kau mengatakan itu?”

Kesadaran Chen Xing juga mulai muncul, membuatnya dengan cepat terdiam. Xiao Shan kemudian bertanya, “Apakah kalian semua mengenal satu sama lain sebelumnya?”

“Ya.” Sekarang setelah Xie An akhirnya memenuhi keinginannya yang sudah lama diinginkannya, tidak ada satu topik pun yang tidak akan dia bicarakan. Jadi dia berbicara tentang bagaimana dia pernah mendaki Gunung Hua dan mengunjungi Bai Lilun dan seorang anak, Chen Xing. Dia berkata, “Pertama kali aku bertemu xiao shidi-ku, itu saat dia juga seusiamu.”

Chen Xing mengingat hari-harinya di gunung dan merasa itu seperti sesuatu dari masa lalu. Tahun-tahun ketika dia berusia 7 hingga 16 tahun sudah berlalu dalam sekejap mata, namun dua tahun di antara usia 16 hingga 18 tahun sudah membuatnya merasa seolah-olah dia sudah mengalami kehidupan yang penuh gejolak.

Berbicara tentang Gunung Hua, pengetahuan Xie An sangat sedikit, tapi masa kecil Chen Xing sebenarnya dipenuhi dengan banyak kejadian yang lucu. Namun, apa yang menurutnya disebut dengan kejadian masa kecil yang lucu sebenarnya tidak lebih dari hal yang membosankan, hal-hal sepele seperti belajar kedokteran dan membaca gulungan dari Departemen Pengusiran Setan dengan masternya, merawat dan memberikan suntikan pada beruang, menghubungkan kembali tulang burung yang patah, dan mengambil ikan di belakang gunung. Bai Lilun adalah orang yang tidak banyak bicara, jadi Chen Xing kecil harus menemukan cara untuk menghibur dirinya sendiri.

Meskipun orang-orang menyebutnya pengasingan di pegunungan, bagi anak yang setengah tumbuh, sifat alami itu membangkitkan rasa kesepian yang samar. Inilah kenapa Chen Xing bisa memahami Xiao Shan dengan sangat baik, karena dia akan mengingat bahwa dia dan Xiao Shan memiliki masa kecil yang sangat mirip. Tapi sekarang mereka sedang membicarakan tentang topik seperti itu, Chen Xing merasa hal-hal seperti itu hanya tampak tidak menarik dan membosankan bagi orang-orang seperti mereka – hanya Xiang Shu-lah yang mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.

Maka Chen Xing berhenti berbicara dan berkata, “Toleransi alkoholku buruk, jadi aku sedikit bertele-tele, semua orang tolong jangan tersinggung.”

Xie An melambaikan tangannya, dan semua orang lanjut minum lagi. Xiang Shu mengarahkan pertanyaan pada Chen Xing, “Kapan ulang tahunmu?”

“Ah?” Chen Xing tersenyum saat dia menjawab, “Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang hal ini? Pada tanggal tujuh belas bulan lunar ke delapan.”

Hal ini menyebabkan semua orang terkejut untuk sejenak. Xiang Shu bertanya dengan tidak senang, “Kemarin? Kenapa kau tidak memberi tahu kami?”

Chen Xing mencela dirinya sendiri, “Aku juga tidak pernah merayakannya sebelumnya, jadi aku sendiri bahkan sudah melupakannya. Bagaimana denganmu?”

Xiang Shu terdiam beberapa saat. Menghindari tatapan penasaran Chen Xing, dia menjawab, “Bulan lunar ke dua.”

“Yo,” Feng Qianjun terdengar menjawab, “Bukankah itu saat kita semua baru saja bertemu?”

Xiang Shu, “Tanggal satu bulan lunar ke dua, aku belum bertemu denganmu.”

“Satu Februari ah.” Lalu Chen Xing tiba-tiba Ingat, bukankah itu adalah hari dimana dia menemukan Xiang Shu di penjara Xiangyang?!

Tidak satu pun dari mereka melanjutkan topik itu. Karena Chen Xing adalah orang yang membuka percakapan, Xie An mulai berbicara tentang masa kecilnya. Tapi itu adalah sesuatu yang sudah lama didengar oleh semua orang sebelumnya; itu hanya tentang dirinya yang ingin menjadi pejuang abadi di masa mudanya setelah membaca tentang mereka di buku dan mendengar tentang mereka di cerita rakyat. Setelah membicarakan tentang itu, topiknya berpindah ke Xiao Shan. Chen Xing bertanya padanya, “Kapan ulang tahunmu? Apa kau masih ingat?”

Xiao Shan tidak tahu kapan ulang tahunnya sendiri; dia masih terlalu muda saat dibawa ke Carosha oleh Cang Lang sehingga dia hanya bisa merentangkan tangannya. Feng Qianjun juga mengajukan pertanyaan padanya, “Pasti sangat membosankan berada di Carosha sejak kecil.”

Xiao Shan membantahnya, “Tidak membosankan. Lu Ying akan membawaku ke pegunungan untuk bermain. Bermain sepanjang hari.”

Xiang Shu melirik Chen Xing lagi. Chen Xing tersenyum saat berkomentar, “Kalau begitu, kau jauh lebih baik daripada diriku. Kesehatan masterku sangat lemah, jadi aku selalu terkurung di rumah.”

Xiao Shan berbicara beberapa hal tentang Carosha, berkata, “Ada juga vena bumi di Carosha. Mereka akan bersinar di dalam gua, sebuah gua di sana.”

Chen Xing merenung sejenak sebelum bertanya, “Shi Hai tidak mungkin bersembunyi di Carosha, kan?”

“Apa Karakorum juga memilikinya?” Xiang Shu tiba-tiba bertanya, “Apa kau mengetahuinya?”

Xiao Shan menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kosong. Tidak lama kemudian, semua orang juga melewati topik ini. Sekarang giliran Feng Qianjun. Feng Qianjun berbicara tentang hal-hal dari masa kecilnya, termasuk hari-hari yang dia habiskan dengan kakak laki-lakinya dan bagaimana dia mengakui seorang ronin sebagai masternya dan mempelajari teknik pedangnya darinya. Pada akhirnya, semua orang memikirkan Feng Qianyi, dan semua orang menghela napas dengan sedih.

Xie An dan Feng Qianyi juga merupakan kenalan lama, jadi dia mau tidak mau berkata, “Aku tidak pernah menyangka Qianyi benar-benar jatuh dalam keadaan seperti itu.”

“Jadi,” Feng Qianjun menghela napas, berkata, “Aku harus membalaskan dendam kakak tertuaku. Hanya setelah aku membalaskannya, aku bisa melepaskan masalah ini dan menikah dengan Qing’er dengan pikiran yang tenang.”

“Hal-hal duniawi,” Xie An tidak bisa menahan diri mengingatkannya, “tidak menunggu siapa pun. Qianjun, aku sudah melihat kalian dua bersaudara tumbuh dewasa. Lakukan apa yang harus kamu lakukan dan pikirkan tentang saat ini, jangan khawatir tentang masa depan.”

Ketika Chen Xing mendengar kata-kata ini, tidak hanya jantungnya bergetar, tapi dia juga memikirkan dirinya sendiri, juga tentang Xiang Shu. Ketika dia menoleh untuk melihatnya, tatapannya tiba-tiba menunjukkan tanda kesedihan.

Xiang Shu menghindari tatapan Chen Xing dan menyesap anggurnya. Saat tiba gilirannya, dia berdiri dari kursinya dan berkata, “Aku akan pergi terlebih dulu.”

Xiang Shu meneguk sisa anggurnya dan berdiri tanpa mengatakan hal lain, menyebabkan semua orang mencemoohnya beberapa kali. Chen Xing menggelengkan kepalanya tanpa daya, mengetahui bahwa Xiang Shu adalah seseorang yang tidak ingin berbicara terlalu banyak tentang masa lalu. Masa lalunya, seolah-olah setelah dia meninggalkan Chi Le Chuan, sepertinya sudah dilupakan. Hanya Chen Xing sendiri, satu-satunya orang yang terlibat, masih mengingatnya.

Xie An memberi isyarat pada Chen Xing untuk pergi memeriksanya, jadi Chen Xing juga mengambil beberapa gigitan lagi sebelum berdiri, berkata, “Aku juga akan tidur, kalian lanjutkan saja minumnya.”

Sementara pesta anggur belum berakhir, Chen Xing disambut oleh angin sepoi-sepoi di malam musim gugur. Sambil tertatih-tatih di halaman yang tertutupi oleh cahaya bintang, dia awalnya ingin kembali ke kamarnya sendiri, tapi tanpa sadar dia berjalan keluar dari halaman dimana Xiang Shu tinggal.

“Pelindung, apakah kau sudah tidur?” Tanya Chen Xing.

Tanpa menunggu jawaban dari Xiang Shu yang berada di dalam kamar, Chen Xing dengan lembut membuka gerbang halaman yang sedikit terbuka dan berjalan ke dalam untuk menemukan bahwa pintu kamar terbuka lebar. Di dalamnya ada Xiang Shu, yang hanya mengenakan celana bagian dalam selutut dan sepasang sandal kulit, membiarkan bagian atas tubuhnya telanjang. Berdiri di depan meja, otot-otot yang indah dan jelas di tubuhnya bersinar di bawah cahaya lampu. Kontur di punggung dan bahunya sangat sempurna. Dia benar-benar contoh dari ‘ramping saat berpakaian, berotot saat tidak’.

Xiang Shu, “Kau datang ke kamar yang salah.”

Chen Xing menjawab, “Tidak, aku datang untuk memeriksamu.”

Di atas meja ada peta Tanah Suci yang dilukis dengan tinta. Di sampingnya ada tiga lembar kertas berisi salinan yang dibuat oleh Xiang Shu. Yang menekan kertas agar tetap di tempatnya adalah gelang kerang yang mereka beli selama Festival Dewa Musim Gugur. Xiang Shu dengan cepat memindahkan gelang itu saat Chen Xing masuk, tapi Chen Xing sudah melihatnya, hanya memilih untuk tidak mengatakan apa pun.

“Katakan pada dirimu sendiri,” kata Chen Xing sambil tersenyum, “Kau akan mengajariku? Kenakan pakaianmu, jangan sampai kau terkena flu.”

Dia sudah pergi selama setengah jalan, melewatkan perjamuan untuk melihat beberapa peta, orang bisa menebak bahwa dia ingin menemukan Mutiara Dinghai.

Xiang Shu sedikit mengerutkan kening dan menjawab dengan suara rendah, “Itu akan baik-baik saja. Aku baru saja minum anggur jadi aku ingin menyejukkan diri dari alkohol. Aku sedang memikirkan tentang masalah yang berkaitan dengan vena bumi, juga yang disebut dengan ‘Array Sepuluh Ribu Roh’. Apa kau yakin pernah mendengarnya?”

Selama percakapan antara Chen Xing dan Sima Wei, tidak ada orang ketiga yang hadir, tapi Chen Xing bisa mengingat hampir setiap kalimat yang diucapkannya pada saat itu. Jadi dia berkata, “Aku yakin aku mengingatnya dengan benar.”

“Kemarilah dan lihatlah.” Xiang Shu berkata sambil melirik Chen Xing.

Chen Xing berjalan ke sisinya. Xiang Shu bertelanjang dada, dan kulit di tubuhnya sangat panas karena minum alkohol yang kuat. Lehernya bernoda dengan warna merah yang samar, dan ketika dia bergerak sedikit lebih dekat, kemaskulinan itu, aroma yang penuh agresi menyelimuti dirinya, seolah-olah dia sudah menarik Chen Xing ke dalam lingkup auranya. Itu menyebabkan dirinya tanpa sadar tersipu, detak jantungnya bertambah cepat, dan napasnya berhenti.

“Dimulai dari Carosha,” kata Xiang Shu sambil mencelupkan jarinya yang panjang dan ramping ke dalam sedikit cinnabar dan menggosoknya di titik paling utara peta, “inilah yang aku temukan dari kata-kata Xiao Shan.”

“Apa disinilah letak simpul vena bumi?” Chen Xing juga menyadari ini, tapi dengan seorang pria cantik yang setengah telanjang berdiri di sampingnya, dia terus menerus terganggu tanpa gagal. Terutama akhir-akhir ini, dia tidak tahu kenapa, tapi dia semakin menyadari pesona Xiang Shu. Dia tidak menyisakan ruang baginya untuk memikirkan hal lain; semakin dia memandanginya, semakin dia menyukai apa yang dilihatnya, semakin dia mengamatinya, semakin jantungnya mulai berdetak kencang. Dia tidak bisa menahan kepalanya untuk meliriknya, tapi Xiang Shu juga menoleh untuk melihatnya. Mereka begitu dekat satu sama lain sehingga bisa merasakan napas orang lain yang terjalin dengan napas mereka sendiri. Napas Xiang Shu membawa aroma bunga anggur yang harum, mendorong detak jantung Chen Xing untuk sekali lagi menjadi sangat cepat.

Keiyuki17 : Aku gila lama-lama. Senyum-senyum sendiri..

Xiang Shu menoleh ke belakang dengan kaku, tapi tidak menjauhkan diri dari Chen Xing. Dia hanya tetap berada di posisi aslinya, berkata, “Ya. Lalu jika kita melihat ke Karakorum, jika ada vena bumi juga di sana… Aku sudah memutuskan untuk menulis surat dan meminta Xie An mengirimkannya ke Shi Mokun, memintanya untuk membantu kita untuk menyelidiki rahasia Karakorum.”

“Jadi?” Chen Xing memperhatikan ketukan jari Xiang Shu yang ternoda oleh cinnabar di dua lokasi.

“Jika kita memasukkan Jiankang dan Kuaiji,” Xiang Shu kemudian menandai lokasi ketiga, “Jiangnan.”

“En… “Chen Xing mengamatinya dengan memiringkan kepalanya dan berkata, “Itu ada tiga. Kau sudah membaca cukup banyak buku kuno untuk mengetahui tentang vena bumi dengan sangat jelas.”

“Ini adalah bidang pembelajaran keluarga ibuku,” jawab Xiang Shu, “Tidak ada yang aneh. Sekarang melihat di mana iblis kekeringan sudah muncul, tempat berikutnya adalah Chi Le Chuan.”

Sudah ada tiga titik di utara di luar Tembok Besar.

“Setelah itu adalah Chang’an,” Xiang Shu menandai wilayah Shaanxi Tengah dengan cinnabar, “dan juga Xiangyang di Selatan. Kemudian dari Xiangyang, menuju ke Gunung Longzhong.”

“Yang juga merupakan tempat pertama kali dimana kita menemukan iblis kekeringan.” Kesan Chen Xing tentang tempat itu sangat kuat.

“Bagaimana kelihatannya?” Xiang Shu bertanya, “Apakah kau sudah menyadarinya?”

Chen Xing menlihat ke enam titik di peta, mengingat apa yang dikatakan oleh Sima Wei. Dari tujuh Array Sepuluh Ribu Roh di Tanah Suci… masih ada satu lagi yang hilang. Dia bertanya, “Aku merasa bahwa titik-titik ini semuanya adalah vena bumi? Bagaimana dengan yang ketujuh?”

Xiang Shu akhirnya menunjukkan titik ketujuh di Luoyang, dan bertanya, “Bagaimana dengan sekarang?”

Chen Xing menelitinya sebentar. Xiang Shu menghubungkan semua titik ini dari Utara ke Selatan, mengubahnya menjadi garis lengkung yang melewati Carosha, Karakorum, dan Pegunungan Yin di Chi Le Chuan. Kemudian setelah menghubungkannya ke Luoyang dan Dataran Tengah, sebuah persegi muncul.

Empat kota di Dataran Tengah – Chang’an, Xiangyang, Jiankang, dan Luoyang – semuanya sudah menjadi badan sendok.

Tiga lokasi di utara sudah menjadi pegangan sendok!

“Bintang biduk!1” Teriak Chen Xing terkejut.

Xiang Shu berkata, “Bintang Tianquan terletak di Luoyang. Menurut tebakanku, ketujuh tempat ini perlu memiliki banyak kebencian untuk mengaktifkan Array Sepuluh Ribu Roh pada saat yang bersamaan. Rencana Shi Hai di Xiangyang, Carosha, Karakorum, Chi Le Chuan, dan Chang’an seharusnya sudah berhasil, tapi terkena campur tangan kita, itulah sebabnya artefak sihir direnggut darinya. Adapun Wen Zhe dan naga miliknya itu…”

Chen Xing bergumam, “Itu menyerap kebencian untuk Jiankang.”

Xiang Shu mengangguk, melanjutkan, “Jadi sekarang ada Luoyang. Namun, artefak sihir ada di tangan kita, dan Shi Hai sekarang tidak memiliki senjata magis. Untuk saat ini, seharusnya mustahil baginya untuk menggunakan Tanah Suci sebagai ilmu hitam yang menggerakkan  array sihir.”

Ketika Chen Xing pertama kali mulai, dia selalu berpikir bahwa “Array  Sepuluh Ribu Roh” adalah tujuh array ajaib, tapi dia tidak pernah menemukan formasi yang sebenarnya sebelumnya. Namun, sekarang dia melihatnya, mungkin tidak pernah ada formasi apapun. Atau mungkin Bintang Biduk yang terbentuk oleh jalur vena bumi di Tanah Suci adalah formasi itu sendiri.

Dengan kata lain, Shi Hai awalnya ingin memanfaatkan raja iblis kekeringan, dengan menyuruh mereka menyebar ke lokasi-lokasi ini, menunggu Fu Jian untuk mengarahkan pasukannya ke Selatan, dan akhirnya membangkitkan Dewa Iblis Chiyou di tengah pengorbanan besar-besaran terakhir.

“Aku akan pergi ke Gunung Nanping besok.” Xiang Shu berkata, “Sekarang sudah larut, jadi kembalilah dan beristirahatlah.”

Chen Xing membuat suara “en” sebagai jawaban. Dia menyaksikan Xiang Shu menjentikkan jarinya, membuat nyala lilin padam dengan semburan udara.

Chen Xing awalnya ingin mengambil keuntungan dari mabuknya untuk mengobrol dengan Xiang Shu, namun, dia tidak menyangka bahwa selain masalah Departemen Pengusiran Setan, Xiang Shu tidak memiliki hal lain untuk dikatakan padanya. Chen Xing tiba-tiba menyadari apa yang dimaksud Xiang Shu ketika dia bertanya “Apa kau tidak memiliki apa pun lagi di kepalamu?”. Melihat bagaimana Xiang Shu tidak berniat membiarkannya tinggal, dia hanya bisa keluar dari pintu. Dia kemudian melihat Xiang Shu mengeluarkan seruling Qiang dan duduk di dipan rendah di dalam halaman, dia mengangkat kakinya untuk diletakkan di atas sumur dan menguji suara seruling.

“Apa kau akan memainkan seruling Qiang?” Chen Xing bertanya demikian.

Xiang Shu mengangkat matanya dan melirik Chen Xing dengan sembarangan, mengerutkan keningnya saat dia bertanya, “Kau masih belum kembali?”

Chen Xing hanya bisa berbalik untuk pergi, tapi saat dia mengambil beberapa langkah, dia mendengar suara “Lagu Fusheng” yang familiar terdengar dari belakangnya. Dibandingkan dengan saat lagu itu dimainkan di Karakorum, lagunya jauh lebih lembut dari sebelumnya – tidak memiliki ritme yang kuat dan aura heroik.

Chen Xing sudah memunggungi Xiang Shu ketika dia mendengar musik yang dibawa oleh angin musim gugur ke arahnya. Dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang untuk melirik tubuh bagian atas Xiang Shu yang telanjang. Cahaya perak dari bulan yang cerah menyelimuti kulitnya, celana putihnya tampak seperti salju, pita biru tergantung di rambut di pelipisnya, dan dengan mata tertutup dan ekspresi fokus saat dia setengah berbaring di dipan, dia benar-benar seperti sepotong batu giok yang dipotong halus.

Diiringi suara musik, gemericik aliran air di kediaman Xie, pegunungan batu yang tinggi, dan bambu musim gugur yang luas, semuanya tampak hidup dalam sekejap. Pada malam bulan purnama ini, Chen Xing, tanpa tahu kenapa, tampaknya memahami makna di dalam lagu yang dulu tidak bisa dia pahami di Karakorum.

Ketika lagu dimulai, bagian yang sunyi itu tiba-tiba membuat Chen Xing merasa seolah-olah melihat Xiangyang lagi. Ketika mereka berdua pertama kali bertemu, apakah Xiang Shu menempatkan kenangan di dalam Lagu Fusheng? Mengikuti suara lagu itu adalah suara ribuan negara, pemandangan dari era paling makmur di Chang’an, dan setelah itu, bercampur di dalam nada itu adalah dering gumpalan kesepian yang tak terduga dan samar dari padang rumput yang lebih rendah di Chi Le Chuan.

Apakah dia terlalu sensitif, atau Xiang Shu benar-benar mengunakan seruling Qiang untuk mengenang masa lalu.

Sebelum Chen Xing kembali ke kamarnya, dia mengambil guqin dari kamar pelayan. Setelah menyetem beberapa senar, dia mengiringi Lagu Fusheng dari seruling Qiang milik Xiang Shu.

Meskipun kamar tidur kedua orang itu berjauhan, suara musik terdengar jelas dan nyata dan bergema bersama dalam harmoni. Ketika suara qin Chen Xing terdengar, musik di sisi Xiang Shu membuat jeda yang jelas, seolah-olah pikirannya sudah dilemparkan ke dalam kebingungan oleh suara qin.

Tapi dalam waktu kurang dari beberapa kali napas, Xiang Shu sudah kembali ke keadaannya yang sebelumnya. Chen Xing memainkan guqinnya dengan sangat ringan, dan suara seruling Qiang Xiang Shu mengikutinya sampai suara qin dan seruling Qiang berganti secara bersamaan, seolah-olah hati mereka terhubung, ke dalam nada lembut Jiangnan. Chen Xing mendengarnya dan percaya bahwa dia mungkin tidak membuat tebakan liar – Xiang Shu benar-benar mengatakan sesuatu melalui seruling Qiang.

Namun sebelum dia bisa memahami makna yang lebih dalam di dalam Lagu Fusheng, seruling Qiang milik Xiang Shu sudah disingkirkan, dan kediaman Xie kembali menjadi hening.

Chen Xing duduk dengan linglung, terus-menerus memikirkan kembali masa lalu yang tersembunyi di dalam suara seruling. Persis seperti perginya mimpi Fusheng yang gemilang, hanya samar-samar memancarkan kilatan cahaya terakhir, pemandangan itu tidak bisa diingat dengan jelas. Chen Xing mengusap senarnya dan memetiknya sekali.

Sebuah suara “dong” terdengar.

Tepat ketika Xiang Shu ingin bangkit setelah meletakkan seruling Qiang, dia mendengar suara sitar, dan duduk kembali. Dia menatap langit malam di musim gugur yang cerah; lingkaran cahaya bulan bersinar dengan pancaran yang samar.

Chen Xing dengan ringan memetik lagi, membuat beberapa vibrato, sebelum sekali lagi menundukkan kepalanya untuk menatap qin dan mulai memetik senar dengan lancar. Lagu itu adalah bagian dari “Guangling San” yang ditulis oleh Ji Kang dari Dinasti Jin. Menurut legenda, Ji Kang dijatuhi hukuman mati oleh keluarga Sima. Sesaat sebelum eksekusinya, dia memainkan Guanglin San, sebelum akhirnya dengan tenang pergi ke tempat kematiannya. Lagu itu panjang dan mengalir; ia tidak menanyakan tentang tahun-tahun yang tersisa dalam hidupnya, tapi hanya mengungkapkan perasaannya pada dunia.

Xiang Shu mendengarkan sebentar sebelum berdiri dan membuka pintu untuk menuju Kamar Timur. Berdiri di bawah sinar bulan, di ujung lorong, ada Chen Xing dengan ekspresi riang dan santai di wajahnya. Sudut mulutnya menunjukkan sedikit senyuman, seolah-olah dia sedang menghibur dirinya sendiri saat semua orang sedang tidur. Guangling San itu juga membawa sedikit semangat muda yang sepenuhnya mengesampingkan makna asli dari Ji Kang.

Chen Xing sudah mempelajari seni qin di rumahnya sejak dia masih kecil, namun dia jarang memainkannya. Masternya pernah memberi tahunya “Sebuah melodi bisa mengkhianati hati seseorang”. Sekarang dia memikirkannya, dia akhirnya mengerti apa arti dari kalimat itu.

Pada akhirnya, Xiang Shu membiarkan pintu ke halaman dan kamarnya terbuka lebar dan menghela napas, sebelum kembali ke kamarnya dan berbaring. Di sekeliling jari telunjuknya ada benang merah itu. Dia mengangkatnya dan menatapnya lekat-lekat sampai suara qin perlahan-lahan berhenti. Ketika suara pintu menutup terdengar dari suatu tempat yang tidak jauh, Xiang Shu mengayunkan tangannya dengan santai, dan gelang mendarat di atas meja, membuat suara dentuman lembut.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

HooliganFei

I need caffeine.

Footnotes

  1. The Big Dipper.
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Rivaille
Rivaille
5 months ago

Waaa so sweet!! I can take this sugar