Penerjemah : Kueostmanthus
Editor : Jeffery Liu


“Apa yang sedang kau lakukan?” Chen Xing menjulurkan kepalanya untuk mengintip ke dalam ruangan dan melihat bahwa Xiang Shu baru saja selesai mengganti pakaiannya. Di kakinya ada sepasang bakiak kulit, tapi bagian kayunya diganti dengan kulit; itu membuat sepasang bakiak itu terlihat rapuh, dan seperti bakiak kayu, setiap alas kakinya memiliki dua untai tali untuk mengencangkannya. Xiang Shu mengenakan jubah bela diri dengan dua lapisan, bergaris dan polos, dan celana bela diri yang mencapai pergelangan kakinya. Bakiak kulit yang dipakainya membuatnya tampak hampir tanpa alas kaki. Dia terlihat sangat keren dan tampan.

“Pergi keluar,” kata Xiang Shu, “dan bersantai.”

Chen Xing bertanya, “Sendirian?”

Xiang Shu menjawab, “Ada masalah?”

Chen Xing berinisiatif berkata, “Aku ingin pergi denganmu.”

Xiang Shu berkata, “Ada begitu banyak orang yang mengundangmu keluar hari ini, kenapa kau tidak pergi dan menemui Kaisar?”

Chen Xing berkata dalam hatinya, Bagaimana kau tahu Sima Yi meminta untuk menemuiku? Dia kemudian menjawab, “Tidak pergi.”

Xiang Shu: “Bagaimana dengan Feng Qianjun? Xiao Shan?”

Chen Xing: “Kenapa kau tiba-tiba jadi bertele-tele? Ngomong-ngomong, aku akan pergi.”

“Kau pergilah ba.” Xiang Shu tidak memiliki pedang di punggungnya; dia dengan tangan kosong. Dia memperbaiki mansetnya sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan. Chen Xing mengikutinya dari belakang pada jarak yang tidak terlalu dekat atau terlalu jauh. Xiang Shu berjalan sangat lambat hari ini; itu bertentangan dengan langkah besarnya yang biasanya yang membuat Chen Xing kehabisan napas saat mengejarnya. Mereka pergi ke Jalur Wuyi di mana kediaman Xie berada.

Potongan kertas emas dalam bentuk manusia kecil dan kuda kecil digantung di depan pintu setiap rumah, dan kain merah diikatkan di antara pohon maple. Daun maple beterbangan di sekitar kota Jiankang, dan itu adalah hari musim gugur yang cerah. Anak-anak juga menerbangkan layang-layang; itu segera membuat semua orang merasa senang dan santai.

Sebuah meja yang ditata dengan semua jenis beras ketan, gorengan, dan kue bunga juga diletakkan di luar setiap rumah; semua makanan itu gratis untuk dimakan oleh orang yang lewat. Xiang Shu berjalan tidak terlalu cepat atau terlalu lambat, tapi kemudian, dia tiba-tiba berhenti dan bertanya pada Chen Xing, “Apakah itu untuk dimakan orang, atau digunakan untuk menyembah dewa?”

Xiang Shu akhirnya memulai percakapan dengan Chen Xing, dan keduanya sekarang berjalan berdampingan. Chen Xing kemudian berkata, “Ini digunakan untuk menyembah dewa. Setelah digunakan untuk menyembah dewa, mereka bisa dimakan oleh orang-orang. Apakah kau ingin mencobanya? Aku akan mengambilkannya untukmu.”

“Tidak,” kata Xiang Shu. “Aku tidak makan yang manis.”

Chen Xing makan satu untuk dirinya sendiri, dan kemudian memberikan satu lagi untuk Xiang Shu. Kali ini, osmanthus harum manisnya pas; kuenya bening dan tembus cahaya. Xiang Shu mengerutkan kening. “Makanan anak-anak.” Namun, menghadapi kue yang ditawarkan oleh Chen Xing, dia memalingkan muka untuk menghindari tatapannya lalu memakannya dalam satu gigitan.

Chen Xing berkata, “Kemana kau ingin pergi?”

“Tidak mau kemana-mana,” kata Xiang Shu dengan santai. “hanya jalan-jalan. Ini weishi, kenapa kau tidak kembali?”

Chen Xing mempelajari nada bicara Xiang Shu dan berkata, “Aku ingin merayakan festival bersamamu. Ada masalah dengan itu?”

Xiang Shu: “…”

Ketika kedua orang itu tiba di pasar, mereka melihat bahwa pasar saat ini sedang ramai dengan kebisingan dan kegembiraan; sama sekali bukan pertunjukan pemborosan untuk mengatakan itu sebanding dengan Festival Penutupan Musim Gugur di Chi Le Chuan. Para terpelajar Jiankang dan orang biasa semuanya pergi; mereka yang menjual layang-layang menjual layamg-layang, dan mereka yang mencari riasan sedang mencari riasan. Chen Xing segera menjadi penasaran dan pergi untuk melihat penjual manisan, sementara Xiang Shu menonton dari samping dengan ekspresi dingin di wajahnya.

Di sebelah penjual manisan, ada toko yang menjual gelas porselen, barang bekas dari Utara dan Selatan, barang kering, kotak kayu, dan ukiran. Chen Xing memandang mereka satu per satu, lalu mengamati penjual lukisan.

“Kau ingin membeli sesuatu?” Chen Xing berkata pada Xiang Shu yang ada di belakangnya.

Xiang Shu awalnya mengira bahwa Chen Xing akan membeli sesuatu dan bermaksud untuk mengeluarkan uang dari sakunya. Ketika dia melihat Chen Xing memegang sebotol anggur dan melihatnya dengan hati-hati, dia berkata, “Tidak.”

Chen Xing berkata, “Kau ingin mencoba anggur ini?”

Xiang Shu menjawab, “Aku tidak ingin minum.”

Chen Xing mengamati Xiang Shu: Xiang Shu tidak berbicara dan juga sedingin ini dan acuh tak acuh saat Window Shopping. Dia berpikir dalam hati, Bagaimana kau bisa begitu bosan? Dewa Musim Gugur sangat menarik, ceritakan bagaimana kau bisa begitu bosan dengan hiruk pikuk daun maple?

“Apa pendapatmu tentang Jiangnan?” Chen Xing bertanya.

“Membosankan,” jawab Xiang Shu.

Chen Xing berkata, “Tapi kau masih datang?”

Xiang Shu menjawab dengan pertanyaan lain, “Bukankah kau yang ingin datang?”

Kata-kata Chen Xing dengan demikian dibalas. Dia tahu bahwa pada saat ini, Xiang Shu pasti menganggap Jiankang sangat menarik. Dia mengambil genderang mainan dari pedagang pinggir jalan, mengguncangnya beberapa kali, mengguncangnya di depan wajah Xiang Shu, lalu meletakkannya kembali, dalam hati berkata, kau hanya tidak ingin menunjukkan ekspresi kagum dan tertarikmu, untuk menghindariku menjadi sombong dan mengatakan bahwa Jiankang lebih baik dari Chi Le Chuan.

Xiang Shu melihat genderang itu dan sedikit mengernyit. Chen Xing tahu dia memikirkan tentang Genderang Zheng.

Tiba-tiba, Chen Xing berkata, “Hari itu, aku mendengar kau memanggilku Xing’er.”

Xiang Shu dengan acuh tak acuh berkata, “Kapan?”

Chen Xing: “Malam itu di Kuaiji.”

Berpikir tentang Wu Qi dan pasangan itu, Chen Xing merasa sedikit tersesat lagi. Xiang Shu melihat ekspresi frustrasi di wajah Chen Xing dan berkata, “Aku tidak memanggilmu seperti itu.”

Chen Xing: “Aku mendengarmu. Tapi, bagaimana kau tahu nama masa kecilku adalah Xing’er? Hanya orang tuaku dan Shifu-ku yang pernah memanggilku seperti itu. Bahkan Yuwen Xin juga tidak memanggilku seperti itu dulu.”

Xiang Shu: “Oh? Begitulah biasanya Shifu-mu memanggilmu? Guwang tidak tahu.”

Chen Xing: “Jangan pura-pura bodoh… Yi? Apa itu?”

Xiang Shu mengikuti garis pandang Chen Xing, dan melihat bahwa di jalan, ada banyak pria dan wanita muda berpegangan tangan, dan masing-masing mengenakan tali merah di pergelangan tangan mereka; sepotong cangkang yang diukir dari kerang diikatkan pada tali itu. Cangkangnya memiliki bentuk yang berbeda, besar dan kecil, tapi semuanya berpasangan.

Xiang Shu bertanya pada seorang pejalan kaki, “Dari mana benda di tanganmu itu?”

Gadis itu tersenyum pada Xiang Shu dan berkata, “Orang lain memberikannya padaku.”

Chen Xing: “?”

Semua orang sepertinya memakai gelang ini hari ini, apakah itu untuk mengusir roh jahat? Chen Xing mengamati sejenak dan sekali lagi melihat benang merah di tangan dua pemuda tampan yang sedang mencari batu tinta di depan kios; gelang merah yang diikat di kedua pergelangan tangan mereka memiliki cangkang.

“Ini hadiah juga? Terlihat sangat cantik,” pikir Chen Xing.

Xiang Shu mendekati orang itu dan bertanya, “Dari mana kalian berdua mendapatkan cangkangnya?”

Kedua pria itu berbalik dan memandang Xiang Shu dan Chen Xing; salah satu dari orang-orang itu sebenarnya adalah Xie Shi, yang tersenyum dan berkata, “Yo, ternyata itu kalian?”

“Hadiah dari seseorang.” Pemuda lainnya mengangkat tangannya dan menunjukkannya pada Chen Xing.

Chen Xing: “Ah sangat cantik, mengapa orang-orang memakainya pada Dewa Musim Gugur?”

Xie Shi diam-diam tersenyum, wajahnya memerah. Dia kemudian berkata, “Itu sudah diberikan kepadamu.” Mengatakan demikian, dia menarik pemuda itu, berbalik dan pergi sambil melambaikan tangannya.

Chen Xing: “???”

Xiang Shu mengangkat bahu, tidak bisa melanjutkan masalah ini. Tanpa pilihan yang lebih baik, Chen Xing pergi ke pasar. Sisi Sungai Huai dipenuhi dengan daun maple, dan ada juga tukang perahu yang mendayung perahu mereka untuk pria dan wanita muda. Banyak orang membeli makanan dan duduk di bawah jembatan untuk makan, sepertinya menunggu sesuatu. Di kejauhan, sebuah panggung didirikan di tepi sungai; orang-orang di sana mulai menampilkan opera, menceritakan Zhijinwu,1cerita tentang Lu Xiu dan Yin Lihua.2

“Jika aku menjadi pejabat, aku ingin menjadi seorang Zhijinwu; jika aku menikah, aku ingin menikahi Yin Lihua…” Chen Xing tersenyum.

Xiang Shu berdiri di tepi sungai dengan lebih sedikit orang dan menyaksikan panggung yang jauh dengan daun maple berjatuhan di antaranya. Chen Xing menjelaskan kisah Lu Xiu dan Yin Lihua pada Xiang Shu, dan keduanya duduk di tepi sungai, mendengarkan sebentar. Saat dia berbicara, Chen Xing kembali menemukan bahwa Xiang Shu agak linglung; itu membuatnya berpikir bahwa Xiang Shu mungkin tidak terlalu tertarik pada hal-hal ini. Dia berbicara dengan sangat bersemangat setiap saat, tapi Xiang Shu, sebagian besar, tidak memperhatikannya dan hanya mendengarkannya karena kesopanan, jadi Chen Xing hanya harus menghentikan topik pembicaraan itu.
“Kenapa kau berhenti bicara?” Xiang Shu bingung.

“Aku lupa,” kata Chen Xing dengan sedikit minat. Sesaat kemudian, dia mengubah topik dan bertanya lagi, “Menurutmu Murong Chong…”

Xiang Shu menjadi sangat tidak sabar kali ini. “Haruskah kau menyebutkan masalah tentang pengusir setan? Hari ini, aku pergi ke festival karena aku ingin bersantai.”

Chen Xing hanya bisa berkata, “Oke ba.”

Xiang Shu: “Apakah kau memiliki hal lain dalam pikiranmu selain hal-hal itu?”

Chen Xing hanya bisa berkata, “Tidak ada. Jadi orang yang membosankan itu sebenarnya aku.”

Keduanya terdiam beberapa saat, lalu Chen Xing menyerah dan tersenyum.

“Ada yang bisa dimakan?” Chen Xing berkata, “Seharusnya kita membawa makanan hari ini.”

Xiang Shu hanya bangkit dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Chen Xing berasumsi bahwa dia akan membeli makanan panas dan karenanya, dia tidak mengikuti. Setelah beberapa saat, dia tiba-tiba melihat ada qin bersenar lima, serta bantal, diletakkan dengan santai di bawah pohon maple; pemiliknya pergi entah ke mana, mungkin untuk menonton pertunjukan. Jadi, dia mengambil qin dan meletakkannya di atas lututnya untuk menguji suaranya dan menemukan bahwa itu sebenarnya adalah guqin yang tak ternilai harganya.

Benar-benar kaya … Chen Xing berpikir, harganya beberapa ratus liang dan guqin perak ini baru saja dibiarkan tergeletak di tanah. Jadi, dia memetik senar; ia menghasilkan serangkaian nada dengan cara yang sangat halus, mirip dengan awan yang bergerak dan air yang mengalir.

Xiang Shu membeli roti kukus daun teratai dan shaojiu di sebuah restoran, dan ketika dia kembali ke jembatan di tepi sungai, dia tiba-tiba mendengar lagu yang dia kenal, itu adalah lagu yang dia mainkan di puncak Karakorum tempo hari, ketika dia mengucapkan perpisahan dengan orang-orang dari Perjanjian Chi Le Kuno, dia memainkannya menggunakan seruling Qiang-nya, Melodi Fusheng. Dia mendengar suara guqin itu terputus-putus, seolah-olah pemainnya tidak bisa mengingat dengan jelas pergeseran nadanya. Tapi setelah memodifikasi kunci beberapa kali, itu menjadi jauh lebih lembut daripada suara yang dihasilkan dari seruling Qiang yang nyaring.

Xiang Shu: “…”

Dari jembatan tempat Xiang Shu berdiri, dia melihat di kejauhan, Chen Xing sedang duduk di tepi sungai. Dia memiliki guqin di pangkuannya, dan daun maple beterbangan di sekelilingnya. Dia memetik guqin dengan serius; membuatnya benar-benar berpikir bahwa ini memang pemandangan yang indah.

Setelah beberapa saat, Melodi Fusheng berakhir. Xiang Shu berbalik dan turun dari jembatan, hanya untuk mendengar lagu yang belum pernah dia dengar sebelumnya datang dari bawah hutan maple di tepi sungai.

Pada awalnya, lagu itu penuh dengan kesendirian dan kesepian; suaranya sedikit dan jarang. Tapi kemudian, senar itu dipetik dengan segera, putaran demi putaran, seperti suara mutiara perak yang meledak di mana-mana di langit, atau palu berat yang menghantam tanah.

Suara guqin dipercepat. Dalam sepersekian detik, embusan angin bertiup, dan bersama dengan daun maple yang tersebar di seluruh langit, mereka membuka panorama baru: air berkabut membentang ke kejauhan, pegunungan yang luas dan tak terbatas, burung yang bermigrasi melintasi Selatan dan kembali ke Utara. Suara guqinnya lembut, tapi dicampur dengan itu adalah nada yang mengungkapkan kemegahan gunung dan laut.

Xiang Shu sebenarnya sedikit terpesona untuk sementara waktu. Ketika Chen Xing menyadari bahwa dia ada di belakangnya, dia berhenti memainkan qin dan berbalik, berkata, “Apa kau sudah membeli sesuatu? Aku mati kelaparan.”

“Lagu apa itu?” Xiang Shu bertanya.

“Pulanglah,” kata Chen Xing, “karya Tao Qian.[efn/note]Tao Yuan Ming (365-425) dengan  nama pelajarnya adalah Tao Qian , lahir pada masa Jin Timur dan meninggal di Negeri Song pada masa Dinasti Selatan. Dia adalah seorang penyair, dengan salah satu karyanya berjudul  歸去來辭 atau Guī qù lái cí. Lirik ini ditulis ketika Qian adalah hakim di daerah Pengze (30 mil dari rumahnya) seorang auditor dikirim ke distriknya oleh pemerintah provinsi. Dia adalah seorang pejabat militer yang sia-sia, (tapi Tao Qian) diminta untuk menyambutnya dengan pakaian yang pantas. Qian berkata, “Aku tidak bisa, karena lima nasi, membungkuk di pinggang.” Pada hari yang sama dia mengembalikan stempel kantornya dan kembali ke rumah. Menulis lirik ini dan menyiarkannya sebagai lagu yang diiringi string menyebabkan orang menjadi jelas dan tegas. Seribu tahun kemudian masih bisa membangkitkan minat masyarakat.[/efn_note] Aku tidak tahu apakah dia ada di sini hari ini. Kau membeli apa? Bukankah kau bilang kalau kau tidak minum?”

“Minum sedikit saja,” kata Xiang Shu. “Kau akan mabuk segera setelah kau minum.”

Saat ini, pemilik qin kembali. Ternyata Wang Xizhi yang sudah diseret oleh keluarganya; kedua belah pihak saling bertukar sapa dan berbasa-basi. Xiang Shu memiliki ekspresi tidak sabar di wajahnya, dan setelah makan, Chen Xing menyeretnya pergi.

“Kau suka melodi itu?” Xiang Shu tiba-tiba bertanya.

“Sangat menyenangkan untuk didengarkan,” kata Chen Xing, “meskipun hanya ketika kau memainkannya dengan seruling Qiang-mu. Bagaimana kau belajar memainkan seruling? Aku sudah lama ingin bertanya.”

Xiang Shu berkata, “Ayahku mengajariku. Aku akan mengajarimu jika aku punya waktu, ba. Kau bisa bermain sitar?”

Xiang Shu juga sedikit terkejut bahwa Chen Xing benar-benar bisa memainkan qin, tapi kejutan ini pasti sama seperti ketika Chen Xing mengetahui bahwa Xiang Shu sebenarnya bisa memainkan seruling Qiang. Seolah-olah pemahaman umum mereka satu sama lain hanya terbatas pada pengusir setan dan pelindung, dan tidak lebih.

“Keterampilan sitarku sangat luar biasa,” kata Chen Xing sambil tersenyum. “Sangat buruk, aku tidak belajar cukup keras saat itu.”

Ketika mereka berdua menyeberangi jembatan, Chen Xing berkata, “Mau menerbangkan layang-layang?”

“Aku akan menemanimu jika kau ingin menerbangkannya,” kata Xiang Shu tanpa berpikir.

Chen Xing merasa bosan lagi. “Lupakan.”

Xiang Shu mencari layang-layang setelah mereka menyeberangi jembatan, tapi Chen Xing menghentikannya untuk membelinya. Di tepi utara Sungai Huai, ada pasar lain yang lebih besar. Pasar ini tidak seperti pasar di luar Jalur Wuyi, di mana mereka menjual kebutuhan untuk keluarga aristokrat; sebaliknya, itu dirancang untuk orang biasa. Xiang Shu berhenti dan melihat-lihat tempat tinggal di sepanjang jalan di tepi sungai; tempat itu penuh dengan kedai anggur dan etalase toko.

“Tunggu, bukankah ini jalan menuju Bank Dongzhe yang diberikan padamu?” Chen Xing ingat.

En,” kata Xiang Shu. “Semuanya milikku sekarang.”

Pada saat ini, Chen Xing menemukan bahwa Xiang Shu sudah menjadi kantong uang besar Jiankang. Dia berkata, “Apa yang ingin kau lakukan?”

“Tidak ada,” kata Xiang Shu. “Aku awalnya datang ke sini hari ini hanya untuk melihat dan membuka kembali bisnis setelah perbaikan; sisanya bisa ditunda sampai nanti.”

“Lalu?” Chen Xing berkata sambil tersenyum. “Kau ingin tinggal di sini?”

Xiang Shu memandang Chen Xing dan tidak berkata apa-apa. Chen Xing ingin berkata, “Siapa yang bilang Jiangnan membosankan beberapa saat yang lalu?” tapi setelah dipikir-pikir, Xiang Shu juga setengah Han, dan sejak mereka mengunjungi Kuaiji, mereka mengetahui tentang asal-usul keluarganya. Jiangnan adalah kampung halamannya juga, jadi kenapa dia tidak bisa tinggal di sini?

Chen Xing: “Akankah kau mengundangku ke rumahmu?”

Xiang Shu berkata, “Jika kau bersedia.”

Ketika kedua orang itu berjalan melewati jalan yang panjang, mereka tiba-tiba melihat banyak penjaja di pinggir jalan mengangkat tiang bambu mereka; tergantung di tiang adalah cangkang yang cocok yang tidak diketahui asalnya yang pernah dilihat Chen Xing sebelumnya!

Ah, benda ini!” Chen Xing berkata, “Berapa? Mengapa semua orang memakainya?”

Penjual itu berkata dengan tatapan positif, “Dua senar? Kau bisa memberikannya pada seorang gadis atau kekasihmu ..”

Chen Xing: “…”

Pantas! Semua orang bilang itu hadiah!

Chen Xing sudah memegang satu tali di tangannya; dia tidak bisa mengembalikannya begitu saja. Namun, jika dia membelinya, pada siapa dia akan memberikannya? Selain itu, dia tidak memiliki uang.

Penjual itu berkata lagi, “Ini disebut kulit bulan, dan hanya dapat ditemukan di tepi pantai pada malam bulan purnama. Tuan pelanggan dari Utara? Pada Hari Dewa, kami membeli dan mengirimkannya ke kekasih kami; itu pasangan yang serasi…”

“Oh baiklah.” Chen Xing berpikir sejenak. Memegang tali merah itu, dia tanpa sadar melirik Xiang Shu.

Xiang Shu mengangkat bahu dan memberi penjual itu beberapa keping perak. Penjual itu ingin memberikan kembalian, tapi Xiang Shu berkata, “Simpan kembaliannya, aku ambil dua senar.”

Tiba-tiba jantung Chen Xing berdegup kencang. Dia memegang salah satu gelang, yang kebetulan merupakan bagian dari gelang yang dimiliki Xiang Shu. Ketika penjual itu menerima uang itu, dia berkata dengan semangat tinggi, “Terima kasih banyak, Tuan. Semoga hubunganmu langgeng selamanya.”

Apakah dia akan memberikannya padaku? Chen Xing hanya bisa berpikir bahwa kebahagiaan datang terlalu cepat dan terlalu tiba-tiba, dan pikirannya meledak dengan pusing. Namun, dia hanya melihat Xiang Shu, yang berjalan di depannya, melirik ke arahnya.

Xiang Shu: “?”

Chen Xing melihat gelang merah di tangannya; dia sejenak bingung sebelum mengikuti di belakang Xiang Shu.

Xiang Shu menyingkirkan benang merah itu dan memasukkannya ke dalam dada jubahnya. Chen Xing sedikit bingung, memegang tali merah itu saat mereka kembali ke jembatan, tapi dari awal sampai akhir, Xiang Shu tidak pernah memberikan gelang kerang itu padanya. Setelah beberapa saat, Chen Xing juga menyingkirkan gelang itu.

“Tidak memakainya?” Xiang Shu berkata.

“Lupakan,” kata Chen Xing sambil tersenyum.

Keduanya berdiri di jembatan saat mereka melihat air sungai mengalir saat Chen Xing berkata, “Xiang Shu, kau ingin memberikannya pada siapa?”

Xiang Shu tidak menjawab. Chen Xing berkata, “Simpan dulu, ba. Nanti, kau bisa memberikannya pada orang yang kau suka.”

Xiang Shu dengan linglung membuat suara ‘en‘. Daun maple di sungai mengalir di sepanjang sungai. Chen Xing berkata, “Kau ingin bersama orang seperti apa di masa depan?”

Xiang Shu mengangkat kepalanya, memperhatikan warna langit, tapi tidak menjawab. Dia berkata, “Hari sudah mulai gelap, ayo kembali?”

Chen Xing tahu bahwa Xiang Shu tidak akan berbicara jika dia tidak ingin membicarakan sesuatu. Jika dia terus melanjutkan topik ini, itu hanya akan membuat hal-hal tidak menyenangkan. Dia lalu berkata, “Tunggu, ada apa di sisi itu?”

Warna langit perlahan menjadi gelap. Semakin banyak orang berbondong-bondong ke sungai, dan ada banyak lentera air yang mengapung di permukaan air. Chen Xing berkata, “Aku akan melihat apa yang mereka lakukan, setelah itu, aku akan kembali.”

Xiang Shu mengikuti Chen Xing dari jembatan. Setelah malam tiba, pasar secara bertahap ditutup. Semua orang Jiankang datang ke kedua tepi Sungai Huai, dan ada banyak kios yang dibuka kembali di setiap sisi, menjual lentera kertas. Chen Xing bertanya-tanya dan kemudian tahu bahwa setelah Bencana Yongjia, pada malam Dewa Musim Gugur, ada tradisi tak tertulis untuk menempatkan lentera air di Sungai Huai untuk meratapi kerabat.

“Aku juga akan membeli satu ba,” kata Chen Xing, “karena ada begitu banyak yang mati karenaku.”

Xiang Shu berkata, “Kalau begitu kau harus membeli setiap lentera air di setiap kios.”

Chen Xing menghela napas. “Iya.”

Xiang Shu bermaksud mengejek Chen Xing; dia tidak berharap dia tidak menangkapnya. Dia tidak bisa menahan diri untuk berkata, “Bahkan sampai sekarang, kau masih menyalahkan dirimu sendiri?”

Chen Xing tersenyum. “Aku mengerti, tapi aku tidak bisa melepaskannya  ah.”

Xiang Shu hanya bisa membeli semua lentera dari kios, meminjam korek api3 untuk menyalakan lilin, lalu menyalakan lentera untuk Chen Xing di tepi, yang diletakkan Chen Xing satu per satu: kusir dan orang-orang Chang’an, Raja dan Permaisuri Akele, Xiongnu yang telah meninggal di tangan Che Luofeng, Hu dari Chi Le Chuan… Wu Qi dan Zheng Lun dari Kuaiji.

“Apakah kau ingin menyalakan satu untuk Che Luofeng?” Chen Xing bertanya.

Xiang Shu: “Nyalakan satu untuk keluargamu dulu.”

Jadi, Chen Xing mengambilnya dan membungkuk, meletakkan lentera terakhir di permukaan air. Ketika dia mendongak, dia tiba-tiba melihat Feng Qianjun dan Gu Qing berdiri tidak jauh, juga membungkuk untuk meletakkan lentera.

Xiang Shu bersiul ke kejauhan. Mereka menemukan bahwa Xiao Shan juga ada di sana, duduk di atas kapal, dengan Xie Daoyun dan pria lain mendayung perahu di bawah jembatan. Xiao Shan berlutut di haluan dan juga meletakkan lentera, yang mereka anggap untuk Lu Ying.

“Mereka ada di sana.” Chen Xing memberi isyarat pada Xiang Shu untuk melihat.

Xiang Shu membuat suara ‘en‘, dan di belakang Chen Xing, dia meletakkan lentera terakhir, yang ada di tangannya, ke sungai.

Chen Xing melihat orang lain di sisi lain melambai pada mereka. Awalnya, dia tidak mengenali orang itu, namun, ketika pria itu meletakkan lentera di dekat wajahnya, cahayanya menyinari —— itu adalah Bi Hun! Bi Hun tiba-tiba ada di Jiankang juga.

Kemudian, Chen Xing juga melambaikan tangannya ke arahnya, lalu berkata pada Xiang Shu, “Ingat dia?”

“Aku ingat,” kata Xiang Shu dengan lemah. “Perwira militer yang menjaga Kuaiji, kekasihnya sudah meninggal.”

Chen Xing dengan sungguh-sungguh berkata, “Xiang Shu, kau selalu merasa bahwa aku hidup seolah-olah aku tidak memiliki perasaan, dan juga terus mengatakan padaku untuk tidak menggunakan Cahaya Hati karena takut aku akan mati. Aku juga sering mengatakan banyak hal, tapi aku tidak memiliki pilihan, aku hanya bisa menerima apa yang sudah diatur surga untukku, dan mungkin terkadang aku masih merasa tidak berdamai dengan ini ba. Tapi ah, dengan begini, pada saat ini…”

Bi Hun meletakkan lenteranya di permukaan air. Chen Xing tidak bisa menahan untuk mengangkat tangannya, dan di dalamnya, Cahaya Hati memancarkan cahaya yang cemerlang. Untuk sesaat, semua orang di kedua sisi sungai memandangnya.

Chen Xing diam-diam menatap mereka, pada orang-orang di Tanah Suci, yang dipenuhi dengan kebahagiaan, kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan —— dan dia juga tidak berbeda dari “orang-orang” itu.

Dia perlahan mengangkat tangan kanannya dan meletakkannya di depannya, dan dengan satu tangan, dia melakukan trik sulap untuk semua orang, yang sebenarnya adalah “trik cahaya” yang sudah dia pelajari sejak usia muda. Trik itu menyalakan cahaya untuk bersinar dengan megah di keempat dataran, menghalau kegelapan dan menerangi semua tempat, dan dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa di malam yang gelap ini, dia tidak akan pernah berhenti memberi mereka kekuatan untuk mendukung keyakinan mereka.

Rambutnya berayun karena tertiup angin malam, kedua matanya tertutup, dan wajahnya diterangi oleh pancaran sinar yang berkilauan.

“Aku benar-benar berpikir,” Chen Xing tersenyum sambil berkata, “terlepas dari kenapa dan berapa banyak aku harus membayar, melihat mereka, aku masih sangat bersedia untuk melakukannya.”

Xiao Shan, Feng Qianjun, Gu Qing, Xie Daoyun, Bi Hun… dan seterusnya, serta orang-orang di kedua sisi sungai, seolah-olah mereka mengerti apa yang dimaksud Chen Xing, ribuan orang menatap ke arah Cahaya Hati yang berkilauan. Satu demi satu, mereka mengikuti Chen Xing dan membuat isyarat “trik sulap” dengan menyalakan lentera.

Xiang Shu terdiam sejenak, tapi kemudian, di samping yang lain, dia berbalik dan menghadap Chen Xing. Tangan kanannya sedang “menyalakan” cahaya, dan apa yang terpantul di matanya, adalah Chen Xing yang bermandikan cahaya murni yang bersinar itu.

Suara sepatu kuda terdengar; Xie An menunggang kudanya, menyeberangi jembatan Sungai Huai, dan turun ke tepi sungai.

Chen Xing dan Xiang Shu meninggalkan tepi sungai, dan Bi Hun datang. Ketika dia hendak berbicara dengan mereka, Xie An menghentikan kudanya di samping dan berkata, “Akhirnya aku menemukanmu. Aku punya kabar, tapi aku tidak tahu apakah itu kabar baik atau buruk. Aku ingin memberitahumu, Xiao Shidi.”

Chen Xing sedikit bingung, tapi Xie An berkata, “Aku baru saja mendapat kabar bahwa tiga hari yang lalu, Murong Chong dan Wang Ziye bentrok di Chang’an, dan Wang Ziye sudah meninggal.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

HooliganFei

I need caffeine.

Footnotes

  1. Secara harfiah diterjemahkan menjadi “orang yang memegang tembaga menandakan otoritas.” Itu adalah gelar resmi kuno untuk orang yang bertanggung jawab menjaga hukum dan ketertiban di dalam ibukota.
  2. Lu Xiu adalah pendiri Dinasti Han Timur dan Yin Lihua adalah istri pertamanya (dan kekasih masa kecilnya), meskipun dia menolak gelar permaisuri pada awalnya dan hidup sebagai selir kekaisaran sampai permaisuri pertama digulingkan. Baca lebih lanjut di sini: https://en.wikipedia.org/wiki/Yin_Lihua
  3. Khususnya jerami, kertas yang mudah terbakar yang dimasukkan ke dalam tabung bambu. Seperti ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments