Penerjemah : Keiyuki17
Editor: Jeffery Liu


Xiang Shu tiba-tiba menjadi sangat lelah karena suatu alasan. Meskipun demikian, pikirannya masih jernih. Chen Xing mendukungnya di halaman belakang dan membiarkannya berbaring di ranjang sakit di Aula Huichun. Xie Daoyun memeriksa denyut nadinya sebelum melihat Chen Xing dalam diam.

“Apakah kamu pernah berhubungan dengan seseorang akhir-akhir ini?” Tanya Xie Daoyun.

Chen Xing: “Kami baru saja tiba di Jiankang kemarin lusa. Kami memang melihat banyak orang, tapi kami tidak bertemu… orang asing.”

Xie Daoyun bertanya lagi, “Apa yang kamu makan?”

Chen Xing ingat bahwa selama mereka tinggal bersama keluarga Xie, makanan dan minuman mereka normal. Kemarin di Dongzhe, Xiang Shu juga tidak meminum teh yang sudah mereka sajikan, padahal Chen Xing sendiri banyak meminumnya. Kemudian di malam hari, mereka hanya minum anggur di rumah Feng Qiangjun, dan tidak mungkin Feng Qiangjun yang sudah mengaturnya.

Chen Xing menjawab, dan baru kemudian Xie Daoyun menyadari bahwa Chen Xing adalah tamu di rumah paman kecilnya.

Chen Xing memegang tangan Xiang Shu dan menyuntikkan Cahaya Hati ke meridian tubuh Xiang Shu. Anehnya, tidak ada yang aneh.

“Ini tidak mungkin…”

Xie Daoyun tidak menjawab.

Xiang Shu tidak tertidur; dia hanya mengangkat tangannya yang lain dan menggosok ruang di antara alisnya menggunakan ibu jarinya. Chen Xing berkata, “Xiang Shu, kau merasa mengantuk ma?”

“Tidak mengantuk,” Xiang Shu mengerutkan keningnya. Hanya saja dia tidak punya kekuatan lagi. “Kembalilah terlebih dulu ba.”

Kali ini, Gu Qing datang dengan semangkuk sup obat yang kental. Chen Xing mencium rasa ginseng yang kuat. Xiang Shu berkata, “Aku tidak perlu untuk meminum ini. Aku tidak mengantuk. Ini bukan wabah penyakit.”

“Coba minumlah?” Kata Chen Xing.

Xiang Shu tampak agak kesal; dia mengangkat tangannya untuk menjauhkannya. Chen Xing, bagaimanapun, tidak akan membiarkannya lolos, “Aku akan menyuapimu, patuhlah.”

Xie Daoyun mengamati hubungan antara kedua orang itu lalu melihat ke arah Gu Qing. Gu Qing tersenyum dengan enggan dan mengangguk ke arah Xie Daoyun, maksudnya: “Seperti yang kau pikirkan.” Xie Daoyun sedikit mengerutkan kening, seolah-olah sedikit khawatir.

Xiang Shu berkata, “Baiklah, aku akan meminumnya sendiri!”

Chen Xing tahu bahwa Xiang Shu tidak suka menunjukkan kelemahannya di depan orang, jadi dia tidak memaksanya. Setelah Xiang Shu meminum supnya, dia langsung merasa segar.

“Tanaman herbal apa yang ada di dalamnya?” Chen Xing bertanya pada Xie Daoyun.

“Ginseng1, gutta-percha2, teh himalaya3, buah babchi4…” Xie Daoyun terlihat seperti biasa saat dia mengatakan lebih dari sepuluh nama tanaman herbal berturut-turut, semuanya tonik dengan atribut Yang yang kuat. “Resep Master.”

Xiang Shu bangkit setelah meminum obat; dia tidak ingin tinggal di kedai obat lebih lama lagi.

Chen Xing bangkit untuk mengejarnya. Bagaimanapun, apa yang ingin dia ketahui, Xie Daoyun seharusnya sudah bisa menebak secara kasar sekarang, jadi, dia hanya bisa meminta maaf padanya. Xie Daoyun juga tidak meminta biaya pengobatan dari mereka. Dia meminta Gu Qing untuk membawa kedua pria itu keluar, menyiapkan kereta, dan mengirim mereka kembali ke kediaman Xie.

“Apa kau merasa lebih baik?” Chen Xing takut, setengahnya karena Xiang Shu, dan setengahnya lagi karena dia sendiri yang takut. Bagaimanapun, di dalam pikirannya, Xiang Shu selalu menjadi sosok yang sangat kuat. Itu membuatnya berangsur-angsur lupa bahwa sebetapa baik pun kemampuannya, pada akhirnya, dia masih memiliki tubuh manusia — daging dan darah di dalam tubuhnya harus makan nasi, harus minum air, dan harus tidur. Saat Chen Xing tiba-tiba melihat bahwa dia tampak sakit, dia langsung panik dan sangat khawatir. Di dalam kereta, dia memeriksa denyut nadi Xiang Shu sepanjang waktu.

Xiang Shu sedang berpikir dan tidak menjawab Chen Xing. Setelah Chen Xing memanggilnya beberapa kali berturut-turut, Xiang Shu kembali tersadar. Saat dia bertemu dengan mata Chen Xing, dia sedikit marah. “Kubilang, aku tidak mengantuk. Kau tidak percaya padaku?”

Chen Xing hanya bisa mengangguk. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan pada saat ini dan hanya bisa berharap bahwa itu bukan masalah besar.

“Aku sedang menyelidiki keberadaan Kjera sekitar dua tahun lalu. Saat aku pindah ke selatan dari Luoyang, aku juga menghadapi situasi yang sama persis,” kata Xiang Shu. “Itu membuatku ditawan oleh prajurit Jin.”

Chen Xing: “!!!”

Chen Xing ingat; dia juga sudah bertanya-tanya selama beberapa saat tentang peristiwa itu. Dengan tingkat keterampilan Xiang Shu, bagaimana dia bisa ditangkap?

“Aku kehilangan semua kekuatanku dalam sekejap.” Xiang Shu mengerutkan keningnya.

“Apa yang terjadi setelah itu?” Chen Xing terkejut.

Xiang Shu berpikir dengan keras, “Aku tidak tahu, mungkin aku sembuh karena aku meminum obat darimu, atau mungkin aku sudah sembuh bahkan sebelum aku bertemu denganmu. Tapi karena orang Han tidak menyediakan makanan atau air, aku tidak bisa membebaskan diri. Setelah ditangkap dan dipindahkan ke Xiangyang, aku menjadi lemah untuk waktu yang lama.”

Xiang Shu mengangkat tangannya, mencoba untuk mengangkat pedangnya. Dia hampir tidak bisa mengangkat pedangnya; jelas bahwa gerakannya lambat dan kurang kekuatan.

“Ini seperti tiba-tiba, kekuatanku benar-benar hilang,” gumam Xiang Shu. “Ada apa? Chen Xing, bisakah kau tenang?”

“Aku… apa yang salah denganku?” Chen Xing bingung, “Apa aku terlihat sangat panik?”

Xiang Shu mengerutkan keningnya dan berkata, “Kau terlihat seperti terkena wabah. Karena aku bisa sembuh terakhir kali, aku yakin kali ini juga sama.”

Chen Xing sedikit tenang, “Aku… itu karena aku agak ketakutan.”

Chen Xing memegang tangan Xiang Shu. Xiang Shu mengamatinya sejenak. Akhirnya, Chen Xing perlahan menjadi tenang dan berkata, “Mari kita ambil cuti satu hari dan memeriksanya ba.”

Hari itu juga, Chen Xing mengamati kondisi Xiang Shu dan mencurigai bahwa itu adalah sejenis penyakit yang tidak bisa dikeluarkan. Itu membuatnya semakin bingung karena Xiang Shu tidak mengantuk seperti yang dijelaskan oleh Xie Daoyun. Ekspresinya tetap sama, dan dia hanya tampak sedikit lelah; mungkin, dia tidak menderita wabah. Namun, mungkin juga karena Xiang Shu sendiri memiliki kondisi tubuh yang kuat sehingga gejalanya tidak begitu jelas.

Malam itu, Chen Xing pindah ke kamar Xiang Shu dan tidur dengannya di dipan. Keesokan paginya, Xiang Shu bangun seperti biasa. Chen Xing berkata “terima kasih Tuhan” pada dirinya sendiri, lalu bangkit dan menekan denyut nadi Xiang Shu; normal dan berdetak dengan stabil.

“Bagaimana perasaanmu?” Tanya Chen Xing.

Xiang Shu bangkit, mencoba mengangkat pedang, lalu berkata, “Tidak bagus. Bahkan sulit untuk bergerak. Jika musuh datang, itu akan sangat merepotkan.”

Berkata demikian, Xiang Shu dan Chen Xing saling bertukar pandang; keduanya sadar akan bahayanya. Chen Xing bergumam, “Mungkinkah mereka? Anak buah Shi Hai sudah sampai ke sini?”

Xiang Shu berkata, “Mungkin tidak. Setidaknya sejauh ini, belum ada yang menggangguku. Mungkin, mereka belum mengetahui kondisiku yang melemah dan masih bersembunyi dalam kegelapan. Namun, kita harus sangat berhati-hati dan perlakukan hal ini dengan serius. Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Feng Qianjun tempo hari, aku terus merasa ada yang tidak beres. Tidak mungkin Shi Hai menyerahkan Selatan. Dia pasti sudah memikirkan Jiangkang dalam benaknya sejak perang di Xiangyang.”

Awalnya, Chen Xing curiga bahwa wabah itu terkait dengan Shi Hai. Bahkan jika Shi Hai tidak melakukannya sendiri atau dengan mengirim anak buahnya ke Jiangnan, penyebaran wabah itu semua disebabkan oleh iblis kekeringan. Namun, banyak informasi rumit yang mengganggu pertimbangannya dan membuatnya berpikir: Apakah masalah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan iblis kekeringan?

Dari awal, apa aku menebaknya dengan cara yang salah? Chen Xing mulai merasakan semacam bahaya yang tidak diketahui tersembunyi di bawahnya kota Jiangkang yang ramai dan rusuh. Dengan asumsi bahwa bawahan Shi Hai sudah mengintai di Jiangnan dan bersiap untuk menggulingkan istana Jing yang puas dengan wilayahnya, namun pelaksanaan rencananya tidak semulus seperti di Utara, maka semua yang terjadi akan masuk akal.

“Kau benar,” Chen Xing mengakui, “Aku menganggapnya enteng.”

Xiang Shu mengangguk; tampaknya keterampilannya tidak berkurang sama sekali dengan hilangnya kekuatannya. Chen Xing juga menemukan bahwa hanya kekuatan fisik Xiang Shu yang terkikis; pikirannya masih jernih seperti sebelumnya — sama sekali tidak menyerupai gambaran biasa tentang “kehilangan jiwa yin dan yang”.5

Jadi, Chen Xing memperbaiki resepnya dan meminta keluarga Xie untuk pergi membeli bahan obat. Dia mengecualikan beberapa obat yang diresepkan oleh Xie Daoyun; dia terutama berfokus pada peningkatan kekuatan fisik. Xie An mendatangi mereka seperti biasa, mengundang Chen Xing dan Xiang Shu untuk makan. Chen Xing mulai menanyakan apakah ada jejak orang aneh di Jiankang, Danyang, Kuaiji, dan Moling pada tahun lalu.

“Tidak.” Xie An memikirkannya dan berkata, “Ada apa? Aku dengar, kemarin kamu pergi menemui Daoyun?”

Chen Xing dan Xiang Shu sudah mendiskusikannya secara sederhana sebelumnya dan mereka memutuskan untuk pergi hari ini untuk melakukan penyelidikan serius. Tidak boleh ada penundaan lagi, jadi dia berkata, “Hari ini, kami tidak akan merepotkanmu lagi. Kami harus pergi keluar.”

Xie An berkata pada Chen Xing, “Aku sudah mengirim beberapa orang ke Kuaiji beberapa hari yang lalu untuk menemukan tempat di mana dokumen Pedang Acala berada. Aku pikir mereka akan kembali hari ini, atau dalam satu atau dua hari lagi. Tunggulah sebentar lagi?”

Xiang Shu: “Masalah yang ada sekarang lebih penting, jadi simpan dulu untuk saat ini. Mungkin kita juga bisa bertemu mereka di Kuaiji.”

Xie An baru akan mengatakan sesuatu tapi kemudian dia ragu-ragu. Setelah beberapa saat, dia bertanya lagi, “Apa ada yang bisa aku bantu? Kenapa kalian begitu terburu-buru untuk pergi?”

Sebenarnya, Chen Xing tidak mencurigai Xie An. Jika Xie An benar-benar licik untuk melawan mereka, dia tidak akan menunggu sampai saat ini. Namun, semakin sedikit orang yang mengetahui tentang masalah Xiang Shu yang kehilangan semua kekuatannya, itu semakin baik. Alhasil, dia hanya mengatakan bahwa itu terkait dengan wabah. Saat Xie An mendengar tentang hal itu, dia mengangguk tanpa terburu-buru. Tepat pada saat ini, Xie Daoyun datang bersama dengan Gu Qing.

“Apa sudah lebih baik?” Kata Xie Daoyun begitu dia memasuki pintu. Dia mengangguk ke Xie An dan melakukan sopan-santun sebelum memeriksa denyut nadi Xiang Shu dan menatap Chen Xing. Chen Xing perlahan menggelengkan kepalanya.

“Saudara Xiang merasa tidak enak badan?” Tanya Xie An.

“Tidak seperti itu,” jawab Chen Xing seketika itu juga.

Xie Daoyun memeriksa dan menemukan bahwa dia secara keseluruhan sama seperti kemarin. Dia tidak mengantuk – bukan berarti dia benar-benar terinfeksi wabah. Ini membuat mereka sangat bingung. Beberapa saat kemudian, kunjungan yang lain ada untuk Xie An. Itu adalah manajer dari Bank Dongzhe, tapi kali ini bukan Wen Zhe yang datang, tapi sejumlah laki-laki.

Rumah Xie An benar-benar tampak hidup hari ini. Mereka hanya bertemu dengan seseorang yang membawa peti, dan bagian dalamnya dipenuhi dengan surat kepemilikan. Mereka berkata pada Xiang Shu, “Shulü daren, ini adalah sertifikat yang diperintahkan oleh nyonya kami untuk kami bawa. Benar-benar tidak ada cukup uang di bank, jadi kami hanya dapat membawa sebagian saldo dari industri yang kami buka di Jiankang, Kuaiji, dan tempat-tempat seperti itu dari tahun sebelumnya. Bagaimana menurut Anda?”

Xie An tercengang karena mendengarkannya. Chen Xing melambaikan tangannya untuk memberi isyarat agar dia tidak bertanya saat ini. Setelah melihat surat kepemilikan, tampaknya saat Wen Zhe kembali menghitung, dia menemukan bahwa bank itu tidak memiliki banyak. Atau mungkin dia hanya tidak ingin menghabiskan semua perak untuk Xiang Shu, jadi dia memikirkan trik ini.

“Taruh saja di sini.” Pandangan Xiang Shu tidak berbeda dari biasanya, “Berapa banyak yang tersisa setelah dihitung?”

Orang yang datang dengan hormat menjawab, “Surat kepemilikan dan industri di sini bernilai seratus juta liang perak, dan masih ada dua ratus juta liang yang harus dibayar. Nyonya sudah meminta Shulü daren untuk memberi kami waktu setengah tahun lagi.”

“Hei! Paman kecil!” Xie Daoyun buru-buru menegakkan punggung Xie An. Xie An hampir pingsan setelah mendengar kata-kata itu.

“Baiklah.” Xiang Shu melihat bahwa pihak lain bahkan mengeluarkan surat kepemilikan; itu cukup tulus. Tidak baik untuk menekan orang terlalu banyak, jadi dia setuju untuk memperpanjang waktunya. Orang yang datang mungkin sudah lama menebak bahwa dia akan mengatakan itu dan buru-buru melanjutkan percakapan. Dia mengeluarkan pulpen dan kertas dan berkata dengan gembira, “Tolong tinggalkan catatan di sini agar orang yang rendah ini dapat melaporkannya saat kembali.”

“Apa aku, Shulü Kong, mengatakan bahwa aku tidak bisa diandalkan?” Xiang Shu dengan dingin bertanya, “Kau harus kembali sekarang, atau aku mungkin akan berubah pikiran.”

Orang itu hanya bisa mundur dengan ketakutan. Baru saja dia meninggalkan rumah Xie, orang lain datang lagi. Itu adalah Feng Qianjun.

Feng Qianjun kebetulan lewat; dia yang berpengetahuan luas jelas sudah mendengar apa yang mereka katakan. Dia bertanya saat dia masuk, “Saudara Xiang, apa kau baik-baik saja?”

Semua orang di aula memberi isyarat padanya dengan mata mereka, hanya Xie An yang secara tidak sadar ingin berlari. Feng Qianjun dengan tidak sabar berkata, “Aku tidak akan mengejar hutangmu lagi Xie daren, aku akan melepaskanmu setahun lagi!”

Setelah setengah sichen, di kamar Xiang Shu.

Chen Xing sedang mengemasi barang bawaannya, dan Feng Qianjun sedang duduk, mengamati kulit Xiang Shu. Xiang Shu mengerutkankan kening dan bertanya, “Apa lagi yang kau lakukan di sini?”

“Bagaimana bisa aku tidak datang?” Feng Qianjun panik setelah Gu Qing selesai menceritakan kejadiannya tadi malam. Dia bangun pagi-pagi untuk mengirim seseorang untuk melihat apa yang sedang terjadi, jadi dia bergegas untuk memeriksa situasi saat dia melihat Xie An kembali dari pengadilan. “Kau minum di rumahku dua malam yang lalu, kemudian baru kemarin kau mengalami kecelakaan, bagaimana bisa aku tidak datang?”

Xiang Shu menjawab, “Itu tidak ada hubungannya dengan anggurmu, itu yang aku yakini.”

Feng Qianjun bertanya, “Kalian akan pergi ke Kuaiji sekarang?”

Chen Xing menjawab, “Kami tidak bisa menunggu kabar dari Xie Shixiong lebih lama lagi, kami harus pergi secepat mungkin.”

Feng Qianjun dengan tegas menyatakan, “Aku akan pergi dengan kalian.”

Chen Xing melihat ke arah Xiang Shu dan Xiang Shu mengangguk; itu juga merupakan tujuan Feng Qianjun untuk mencari tahu tentang keberadaan Shi Hai. Saat ini, Xiang Shu tidak memiliki kekuatan, jadi akan lebih aman dengan Feng Qianjun di sana.

Jadi Feng Qianjun pergi untuk mengurus beberapa urusan terlebih dulu, dan ketiganya berangkat ke Kuaiji sore itu.

Di suatu tempat di bawah tanah yang gelap, banyak sungai bawah tanah yang berkelok-kelok berkumpul. Saat air sungai lewat melalui dataran rendah, tempat itu menahan kilatan cahaya, bersinar dalam kegelapan. Tepian di kedua sisi sungai dipenuhi bunga yang memancarkan cahaya aneh.

Lautan bunga memantulkan ruangan gelap menjadi biru. Di atas bunga-bunga beristirahatlah kupu-kupu dengan cahaya putih di sayapnya; kupu-kupu itu memancarkan partikel cahaya, berhamburan keluar dari tengah lautan bunga.

Di dalam lautan bunga, di dangkalan di jantung sungai, muncul array  rumit yang menutupi hampir satu hektar tanah. Array ini tidak henti-hentinya menarik kekuatan dari ribuan juta kupu-kupu di bawah tanah, membuat cahayanya bergantian antara tiba-tiba bersinar dan tiba-tiba memucat.

Di tengah array, ada seekor ular hitam besar dengan tanduk patah di kepalanya dan aliran gas hitam yang tidak berujung melingkari tubuhnya. Matanya tertutup rapat.

Wen Zhe berdiri di luar array dengan jam kecil di tangan kirinya, diam-diam menatap ular itu.

“Sesuai dengan perintahmu kemarin, kekuatan array naga sudah ditingkatkan.” Wen Zhe mengangkat alis tipisnya sedikit dan bertanya, “Tapi aku tidak mengerti, apa gunanya ini?”

“Sebuah percobaan,” kata pria di belakang Wen Zhe.

Wang Ziye muncul di pantai di luar lingkaran dari bunga-bunga yang bercahaya. Di sampingnya ada tiga prajurit berbaju besi hitam melangkah keluar dari air. Wen Zhe terkejut. Dia menoleh dan melirik ke belakang untuk melihat tiga raja iblis kekeringan muncul secara bersamaan, membuatnya tercengang.

“Percobaan apa?” Tanya Wen Zhe lagi. “Ini hampir berhasil disempurnakan, tapi tiba-tiba ingin memperkuat array naga sekarang, Shi Hai daren, apa yang ingin Anda lakukan?”

Di tangan Wang Ziye ada kipas hitam. Dia melambaikannya dengan santai dan tidak khawatir akan tindakannya, berkata, “Array naga memiliki kekuatan penuh untuk memastikan identitas seseorang. Fakta-fakta sudah membuktikan bahwa tebakanku benar, tapi banyak hal yang masih tidak bisa dianggap enteng.”

Wen Zhe bertanya dengan nada jijik, “Apa itu perlu? Mengirimkan tiga orang untukku?”

Wen Zhe berbalik dan melihat ke tiga raja iblis kekeringan di hadapannya.

Wang Ziye menjawab, “Meremehkan musuh adalah langkah yang ceroboh. Ini mengarah pada kekalahan Feng Qianyi, Zhou Zhen, dan Zhou Yi dan bahkan kerusakan dari dua raja iblis kekeringan. Tuanku telah mengeluarkan perintah, Wen Zhe, jangan membalikkan perahu di selokan6.”

Wen Zhe: “Itu tidak mungkin. Kebencian yang dikumpulkan oleh Lonceng Luohun terbatas. Pada tingkat ini, kekuatan yang diambil bunga jiwa dari vena bumi mungkin tidak bisa bertahan lebih lama.”

Wang Ziye menjawab, “Jangan khawatir, saat ini mereka tidak memiliki mana. Apa rencana mereka sekarang?”

Wen Zhe: “Pengusir setan itu meninggalkan Jiankang hari ini.”

Wang Ziye berkata dengan santai, “Aku tahu, meskipun kebenaran sudah dekat, selalu baik untuk memastikannya dengan hati-hati. Aku akan menemui mereka sebentar sekarang.”

“Berhati-hatilah,” Wen Zhe mengingatkannya.

Wang Ziye memberi isyarat dengan tangannya dan membawa tiga raja iblis kekeringan, meninggalkan Wen Zhe sendirian untuk menjaga array. Setelah beberapa saat, Wen Zhe memasuki array naga dan dengan lembut membelai mata ular raksasa itu, menampakkan ekspresi hangat.

Dua hari kemudian, di kanal yang mengarah dari Jiankang ke Kuaiji.

“Xiang Shu, apa kau baik-baik saja?” Chen Xing bertanya pada Xiang Shu.

Pedang Xiang Shu diikat ke punggung kuda itu. Di sisinya ada Chen Xing dan Feng Qianjun yang memimpin kudanya ke hutan pegunungan. Tanah Jiannan diselimuti dengan tanaman hijau di musim semi; bukit-bukitnya pun tertutup dengan sawah yang bertingkat-tingkat, membuat orang-orang merasa santai dan senang saat melihatnya.

Feng Qianjun membuat kudanya melambat. Dia berkata pada Xiang Shu, “Ingat lebih dari setahun yang lalu, kita juga seperti ini dalam perjalanan menuju ke Chang’an? Tanpa disadari, satu tahun sudah berlalu.”

Xiang Shu tidak menjawab. Chen Xing takut dia akan pingsan lagi, jadi dia dengan sengaja sedikit melambat.

“Aku seharusnya tetap tinggal di Jiankang,” Xiang Shu berkata, “Aku menyeret kalian berdua ke belakang.”

Chen Xing mengerutkan keningnya, “Bagaimana bisa kau berkata begitu?”

Xiang Shu menjawab, “Aku merasa sedikit tidak nyaman karena meninggalkan artefak sihir di Xifeng. Tapi membiarkanmu pergi ke Kuaiji sendirian membuatku semakin tidak nyaman.”

Feng Qianjun: “Hei, Saudara Xiang, aku mendengar semua itu. Ternyata di matamu, aku bahkan bukan manusia…”

Xiang Shu: “Uang.”

“Jangan!” Feng Qianjun segera berteriak, “Gege, aku bukan manusia! Aku akan pergi ke depan sekarang dan mencari jalan untuk kalian!”

Sebelum Chen Xing dan Xiang Shu meninggalkan kota, mereka untuk sementara waktu menyimpan Cermin Yin Yang dan Genderang Zheng serta cincin itu di ruang rahasia Bank Xifeng. Jika terjadi kecelakaan, mereka takut artefak sihir itu akan hilang lagi.

“Semuanya akan baik-baik saja,” kata Chen Xing dengan tenang. “Terkadang aku juga bisa melindungi kalian. Keberuntunganku selalu luar biasa, hanya saja jangan tinggal terlalu jauh dariku.”

Ketiga orang itu melewati ngarai. Feng Qianjun yang berjalan di depan tiba-tiba memperlambat langkahnya.

Chen Xing dan Xiang Shu berhenti di belakang Feng Qianjun.

“Apa yang kau tebak sebelumnya?” Tanya Feng Qianjun. “Chen Xing, kau berpikir jika Shi Hai yang membuat Saudara Xiang sakit, ‘kan?”

Chen Xing merenung dan berkata, “Mungkin, tapi masih membutuhkan bukti untuk mendukungnya.”

Feng Qianjun bertanya lagi, “Apa yang Xie An katakan lagi? Kenapa dia mengirim orang ke Kuaiji untuk menyelidiki sesuatu untukmu?”

Chen Xing: “???”

Xiang Shu: “……….”

Feng Qianjun mendesak kudanya ke depan. Saat mereka tiba di kedalaman ngarai, mayat pucat tergantung di pohon di depan sungai. Mayat itu mengenakan pakaian orang-orang Jin, dan di bagian depan gaunnya tergantung tanda pengenal di pinggangnya.

Ketiga orang itu turun dari kudanya. Feng Qianjun melepaskan tanda pengenal yang ada di pinggang mayat itu; di atasnya ada kata-kata “Menteri Dalam Negeri Dinasti Jin Lin”.

Chen Xing melihat ke tanda pengenal yang ada di pinggang dan berseru, “Ini adalah orang dari Kementerian Dalam Negeri? Ini adalah bawahan Xie An! Bagaimana dia… mati di sini?!”

Tiba-tiba, mayat itu meraung liar. Mayat itu membuka matanya yang keruh dan meraih Chen Xing!

“Awas!” Meskipun Xiang Shu tidak memiliki kekuatan bela diri, reaksinya tidak melambat sedikit pun. Dia menarik Chen Xing menjauh. Chen Xing sangat ketakutan, mengangkat tangannya, dan memanggil Cahaya Hati. Saat mayat hidup itu disinari oleh cahaya, tiba-tiba dia berteriak ketakutan. Lehernya digantung di pohon; tidak ada cara untuk melarikan diri, dia hanya bisa berjuang dengan liar, terlihat sangat menakutkan!

Di bagian ngarai yang lebih tinggi, Wang Ziye yang sudah menyaksikan pemandangan itu sepanjang waktu, tampaknya menganggap ini sangat menarik, menyebabkan dia tertawa.

Tiga raja iblis kekeringan yang ada di belakangnya, semuanya berdiri tegak dengan pedang mereka.

Wang Ziye melambaikan kipasnya dan memerintahkan, “Pergilah.”

Segera setelah itu, raja iblis kekeringan itu membungkuk, berubah menjadi bayang-bayang, dan terbang turun dari tebing!

Pada saat berikutnya, Feng Qianjun tiba-tiba membanting lengan kirinya ke belakang dan menekan lengan kanannya ke pinggangnya; dua pedang segera dilemparkan. Xiang Shu berbalik dan menggunakan bahunya untuk mendorong Chen Xing ke samping, membuatnya jatuh bersamanya ke samping.

Tiga raja iblis kekeringan mencabut pedang mereka pada saat yang bersamaan, masing-masing dari mereka melawan satu orang. Feng Qianjun belum berbalik dan menggunakan punggungnya yang memegang pisau ganda untuk memblokir serangan. Chen Xing ditekan oleh Xiang Shu ke tanah dan menghindar dengan berguling!

“Serangan musuh!” Feng Qianjun baru saja berhasil untuk berteriak. “Cepat pergi!”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Gingseng,

    [1]Gingseng

  2. Gutta-percha.

    [2] Gutta-percha

  3. Teh Himalaya.

    [3] Teh himalaya

  4. Buah Babch.

    [3] Teh himalaya

  5. Ini juga idiom yang pada dasarnya berarti ‘menjadi linglung setiap saat’ tapi karena jiwa yin dan yang merupakan konsep yang cukup penting dalam novel ini…
  6. Kau tidak boleh menemui kegagalan yang tidak terduga.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments