“Jadi keberuntunganku hanya bisa digunakan sampai aku berumur 20 tahun.”

Penerjemah: Keiyuki17, Jeffery Liu
Editor: Jeffery Liu, Keiyuki17


Tahun ke empat Taiyuan, tanggal 2 Februari. Kebakaran besar menutupi langit kota Xiangyang; seorang penunggang kuda, bergegas keluar dari kota, menuju ke selatan menembus asap hitam dan berlari sangat jauh.

Di siang hari, ketika matahari membumbung tinggi di langit, Chen Xing terus mendesak kudanya untuk pergi dari Xingyang, membawa Xiang Shu bersamanya saat mereka hampir berlari sejauh 20 mil. Kerumunan orang berkumpul di sepanjang jalan; jalan di Dangyang Selatan dipenuhi orang-orang beserta keluarganya yang melarikan diri dari malapetaka. Ratapan kesedihan memenuhi tanah ini untuk sesaat, jalanan dipenuhi oleh orang-orang yang tidak bisa melangkah maju, dan tangisan seseorang yang mencari kekasihnya terus berlanjut tanpa henti.

150 tahun yang lalu, Guan Yu telah mengepung benteng Cao Wei di luar kota dan menenggelamkan ketujuh pasukannya, dan mencapai pencapain militer yang gemilang. Kemudian, Kota Mei dikalahkan dalam pertempuran, rute yang mereka ambil persis seperti dengan jalan ini. Tangisan kesedihan mengguncang langit dan bumi, seolah-olah orang-orang menghadiri peringatan dari Dewa Perang Abadi yang hidup di Tanah Suci bertahun-tahun yang lalu.

Chen Xing merasa begitu cemas dalam keputusaasannya. Dia tahu bahwa dia tidak akan bisa melewati kerumunan ini, jadi dia harus berjalan melewati jalan setapak. Setelah sampai di kaki gunung, dia menurunkan Xiang Shu dan melepaskan ikatan tali yang mengikat Xiang Shu.

Pada masa perang, sembilan dari sepuluh rumah ditinggalkan di Jingzhou. Orang-orang pergi melintasi jalur selatan menuju Jiaozhi atau melarikan diri ke timur menuju Jiankang, Gusu, atau tempat lainnya. Chen Xing berjalan melewati hutan dan menemukan desa kecil di kaki gunung. Di sore ini, dimana musim dingin dan musim semi mulai berganti, kabut berangsur-angsur naik, menciptakan suasana yang tenang.

Ternyata, desa itu juga telah melalui masa kekacauan. Desa itu tampak sangat kacau. Unggas dan anjing peliharaan telah dibawa pergi. Chen Xing masuk tanpa ijin ke dua rumah dan tak melihat seorang pun, jadi dia hanya bisa mencoba menemukan air untuk minum dari dalam sumur. Dia memeriksa kulit Xiang Shu lagi; setelah melewati satu malam yang penuh dengan siksaan, merupakan suatu keberuntungan bahwa dia tampak baik-baik saja. Sudah hampir 12 jam; setelah efek obat ini mereda, meridian Xiang Shu akan segera pulih. Chen Xing harus segera menemukan makanan untuk membantunya memulihkan kekuatannya….. pria ini sangat kurus. Jika dia tumbuh lebih baik, mungkin dia akan tampak cukup baik.

Menurut daftar yang ada di tangan Zhu Xu, tahun ini Xiang Shu berumur 20 tahun, hanya empat tahun lebih tua darinya. Namun, ada banyak orang Hu yang memiliki istri dan anak setelah berulangtahun pada usia mereka yang ketigabelas. Di usianya, orang lain pasti sudah menikah dan memulai karirnya.

“Pelindung, apa kau merasa lebih baik?” Chen Xing diterangi oleh cahaya matahari saat dia memperhatikan penampilan Xiang Shu. Wajah Xiang Shu sepenuhnya menghitam karena asap. Dia awalnya memiliki perawakan yang tinggi, dan sekarang dia tampak seperti seorang biadab. Namun, ketika Chen Xing melihat dirinya sendiri, dia tampak tidak lebih baik. Setelah melewati semua kekacauan itu, kini mereka berdua tampak benar-benar seperti pengemis.

Chen Xing mengambil air dan membantu Xiang Shu membasuh wajahnya. Efeknya sangat mengejutkan. Setelah wajahnya dibersihkan, sepasang mata yang jernih dan cerah milik Xiang Shu begitu terpancar di tengah janggutnya yang berantakan; dia memiliki wajah yang ramping, bulu mata yang tebal dan hitam, sedangkan alisnya menyerupai ujung pedang yang tajam. Matanya seindah langit malam, bibir di bawah janggutnya tampak merah karena efek obat. Jika penampilannya dirapikan sedikit saja, dia pasti akan terkenal karena keelokan dan ketampanannya.

Pelindung keluargaku sangat tampan!

Chen Xing tidak bisa menahan diri untuk berseru, “Benar-benar batu giok yang indah ahhhhh!”

Juga, dari kepala sampai ujung kaki, selain dari bagaimana ** miliknya memenuhi standar orang Hu….. fitur dari orang-orang Hu tidak tampak di wajah dan kulitnya sama sekali. Bagaimana dia bisa menjadi bagian dari orang-orang Hu? Memakaikannya jubah orang terpelajar dan menggantungkan sebuah pedang kuno di pinggangnya, jelas dia akan berubah 100% menjadi pelajar terkenal yang beradab dan menawan; dengan mengenakan bakiak kayu yang menginjak angin, sosoknya akan seperti suara siulan yang begitu nyaring menuju bulan di langit, sekelompok terpelajar di Jingkang semuanya harus menyingkir.

Penampilan Chen Xing, bagaimanapun, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan sosok tampan dari Pelindungnya, bukan masalah selama Pelindungnya ini bisa bertarung. Jalan di depan mereka masih sangat panjang dan dipenuhi dengan duri-duri dan onak. Untuk orang seperti dirinya yang hanya bisa mengandalkan keberuntungan dan mengandalkan pertolongan Tuhan ketika melawan musuhnya dalam pertarungan, memiliki Pelindung yang ahli dalam pertarungan adalah hal yang sangat penting.

Tapi pria yang tampan sangat menyenangkan untuk dilihat, dan seseorang akan memiliki suasana hati yang bagus setelah sering ditemani oleh seseorang. Tapi Tuhan benar-benar memberkatiku, dan semoga Pelindung yang baru ini bukan sosok bantal sulam1Kelihatan menawan di luar tapi dalamnya kosong (tidak ada apa-apanya). sepertiku.

“Aku mendengar bahwa Kaisar Qing yang Agung, Fu Jian, menyukai pria yang tampan.” Chen Xing duduk di bawah pohon dan membiarkan Xiang Shu menggunakan pahanya sebagai bantal. Dia dengan santai mengusap leher Xiang Shu untuknya, “Sebelumnya, dia bahkan ingin membesarkan Murong Chong di istananya. Dalam beberapa bulan, kita harus mencari kesempatan untuk pergi ke utara ke Chang’an, merapikanmu sedikit ketika tiba waktunya, lalu mengandalkan ketampananmu untuk membuatnya terkesan.”

Jari Xiang Shu bergerak sedikit. Chen Xing bangkit dari tempatnya duduk dan pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Aliran sungai itu dipenuhi dengan kepingan es, dan airnya sangat dingin sampai menembus tulang.

“…. tidak peduli apakah kau orang Hu atau Han. Selama kau tidak membunuh orang tanpa pandang bulu, maka…..”

Sebelum dia menyelesaikan satu kalimatnya, bagian belakang kepala Chen Xing tiba-tiba dipukul oleh sesuatu, dan dia pingsan.

Seperempat jam kemudian, wajah Chen Xing disiram dengan air dingin. Dia terbangun, dan menyadari bahwa jubah luarnya telah dilucuti. Dia hanya menggunakan sehelai pakaian dengan selimut yang dililitkan pada tubuhnya di kursi dimana dia duduk. Dia telah diculik oleh Xiang Shu, dibawa keluar dan diletakkan di halaman belakang.

Chen Xing berteriak marah segera setelah dia sepenuhnya terbangun, “Apa begini caramu memperlakukan penolongmu?”

Xiang Shu secara sembarangan memeriksa barang-barang Chen Xing satu persatu. Ada kompor arang di sampingnya dengan api yang menyala di bawahnya. Sepanci bubur putih dimasak di atas kompor; rupanya, itu adalah beras terakhir yang ditemukan di rumah petani itu.

Chen Xing, “Brengsek! Katakan sesuatu!”

Xiang Shu mengayunkan belati Chen Xing ke depan dan ke belakang saat dia mengamatinya, memainkannya sebentar, kemudian menyimpannya kembali. Kemudian dia memeriksa tas obat milik Chen Xing. Dia tidak mengenali semua jenis obat itu.

Chen Xing dibungkus seperti cacing, dia diikat dengan sangat erat sehingga tidak bisa bergerak.

Xiang Shu kemudian berjalan menuju sumur untuk mengambil seember air.
Dia menelanjangi dirinya sendiri tanpa berniat menyembunyikan apapun dari Chen Xing. Bagaimanapun juga, dia telah melihat semua yang sudah terlihat. Dia mulai membasahi rambutnya dan mandi, dia melihat pada pantulan dirinya di air dan mulai muncukur janggutnya
menggunakan belati Chen Xing.

Chen Xing, “Wei! Wei!

Bulu rambut dari janggutnya berjatuhan. Kurang dari satu jam, dia sudah selesai merapikan dirinya sendiri. Ketika dia berbalik, meskipun dia tampak kurus dan tak tampak seperti manusia, dia masih memiliki wajah yang tampan, mata yang dalam dan tajam, garis rahang yang jelas, dan penampilan yang sangat tampan. Dia duduk di depan kompor dan mulai makan.

Perut Chen Xing berbunyi “gu–“

Setelah memakan buburnya, Xiang Shu memasuki ruangan, menggeledah sekelilingnya dan menemukan dua pakaian milik pria pemilik rumah itu, lalu mengganti pakaiannya sendiri. Pria pemilik rumah ini dulunya adalah seorang pemburu sebelum dia mati. Xiang Shu memakai jubah luar pemburunya dan mengikat lengan bajunya. Ketika dia menampakkan diri lagi, meskipun pakaian itu terlalu kecil untuknya, dia masih memiliki aura kemegahan yang terpancar dari dalam dirinya.

Chen Xing, “…..”

Dia jelas adalah orang Han, bagaimana dia bisa menjadi orang Hu? Sejenak Chen Xing melupakan semua hal dan hanya memikirkan tentang hal ini.

Xiang Shu membawa busur dan panah si pemburu, mengepak belati, jubah, dan kantong obat milik Chen Xing. Dia menuntun kudanya, menaikinya, dan menatap dingin dan acuh tak acuh ke arah Chen Xing.

Chen Xing meronta-moronta, “Lepaskan aku! Jika kau meninggalkan aku terikat disini, aku akan mati!”

Xiang Shu membalikkan kudanya. Chen Xing masih berteriak dari belakang, “Apa ini karena kau tidak ingin menjadi Pelindung?! Kalau kau tidak mengiginkannya, kau tidak perlu melakukannya! Kapan aku memprovokasimu! Aku sudah menyelamatkan hidupmu, dan aku
bahkan memiliki kesempatan untuk membunuhmu, tapi lihat, aku tidak melakukannya….”

Punggung Xiang Shu menghadap Chen Xing. Dia memacu kudanya dengan lambat, tapi perlahan-lahan berhenti ketika mendengar kata-kata itu. Dia memasang panah di busurnya dan berbalik ke arah Chen Xing.

Chen Xing, “……”

Segera setelah itu, Xiang Shu melepaskan panah dari busurnya, dan sebuah panah melesat dengan bunyi whoosh!

Chen Xing menutup matanya, tapi dia merasa tali di sekitar tubuhnya telah melonggar — tali itu telah dipotong oleh panah yang ditembakkan Xiang Shu.

Jia!” Xiang Shu berteriak.

Xiang Shu menunggangi kudanya, berbalik menuju jalan utama, dan meninggalkan desa.

Ai!” Chen Xing hanya menggunakan sehelai pakaian, dia berlari, giginya bergetar, “Kembali kesini! Pelindung! Kau sialan!”

Itu adalah kali pertama Chen Xing mendengar suara Xiang Shu. Bunyi “jia” terdengar sangat jelas dan kuat, menggema di udara. Chen Xing tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikir, Pelindung keluargaku memiliki suara yang indah…. tunggu! Ini tidak benar! Brengsek tetaplah brengsek! Kenapa pelindungku melarikan diri?!

Saat matahari terbenam dan hembusan angin dingin bertiup, Chen Xing berdiri di desa dengan ekspresi kosong dan tatapannya mengelilingi segala penjuru desa.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Chen Xing benar-benar tercengang. Perutnya keroncongan lagi, dengan bunyi “gu——” lainnya.

Aku sangat lapar…… Xiang Shu meninggalkan beberapa makanan, tidak ada salahnya untuk makan dulu, ‘kan? Chen Xing benar-benar kelaparan, jadi dia ingin bergegas makan sebelum memikirkan hal lain. Aku bahkan tidak tahu kemana bajingan itu lari, bagaimana aku bisa memprovokasi dia?! Saat Chen Xing memikirkannya, dia hampir membalik seluruh panci bubur.

Malam tiba, dan suhu tiba-tiba turun di tanah Jingzhou. Chen Xing bersembunyi di rumah yang ditinggalkan itu dan mencari-cari pakaian untuk dipakai, tetapi seekor anjing datang entah darimana dan mulai menggonggong padanya tanpa henti. Chen Xing menghiburnya dengan sabar dan memberinya makan setelah menemukan makanan. Setelah mendapat makanan, anjing itu secara bertahap menerima kenyataan bahwa dirinya telah ditinggalkan oleh tuannya dan dia menghabiskan malam yang dingin ini bersama dengan Chen Xing.

Chen Xing memakai apa pun yang bisa dia pakai untuk menutupi dirinya di rumah yang ditinggalkan ini, dan dia juga memeluk anjing itu. Dia menggigil saat berkata, “Dingin sekali, bagaimana sesuatu seperti ini bisa terjadi? Pelindung yang dipilih oleh Cahaya Hati sebenarnya adalah seorang bajingan?”

Chen Xing meratapi dirinya sendiri. Di malam yang panjang dan dingin ini, dia tidak bisa tidak mengingat harapan bahwa kenyataan telah benar-benar hancur untuknya. Pada hari dia meninggalkan gunung, dia tidak pernah membayangkan bahwa hal-hal pada akhirnya akan menjadi seperti ini.

Sesuatu seperti ini terjadi tanpa kecuali, setiap pengusir setan dalam sejarah selalu memiliki “Pelindung” yang selalu bersama dengan mereka. Tujuan para Pelindung itu adalah untuk melindungi pengusir setan selama pengusiran setan mereka berlangsung dan memastikan bahwa mereka tidak akan diganggu.
Pelindung yang berada di sisi Pengusir Setan Agung yang memimpin Markas Besar juga memiliki gelar yang gemilang – “Dewa Beladiri.”

Sekarang, Chen Xing adalah satu-satunya pengusir setan yang tersisa di dunia ini, jadi tentu saja dia adalah “Pengusir Setan Agung”. Adapun untuk Dewa Beladirinya, Cahaya Hati telah menunjuk Xiang Shu sebagai Pelindungnya.

Chen Xing telah membaca begitu banyak teks kuno dan menemukan sisa kaligrafi sutra – apa yang tertulis disitu adalah setengah bagian dari ritual pengorbanan yang ditulis oleh Pelindung, Wen Che, untuk pengusir setan, Xin Yuanping. Xin Yuanping meninggal saat melawan naga iblis di Sishui, dan Wen Che membunuh naga iblis itu. Setelah membalas dendam Xin Yuanping, Wen Che menenggelamkan dirinya dengan melompat ke Sungai Si dan dilupakan.

Pada Dinasti Han, Xie Yiwu, Pengusir Setan Agung yang menjadi gubernur Xingzhou, tidak pernah menikah atau memiliki anak. Ia ditemani oleh Jenderal Hu Bi, yang reputasinya mengguncang dunia, serta pendekar pedang nomor satu Jianghu saat itu, Wang Yue, dan menjadi legenda di generasinya.

Bahkan kemudian, Zhang Liang, Marquis Liu, menjadi murid Huang Shigong, dan mahir dalam berbagai seni. Adapun Pelindungnya, pendapat utama tentang dirinya beragam dan saling bertentangan. Beberapa mengatakan Pelindungnya adalah Xiao He, sementara yang lain mengatakan bahwa dia adalah Han Xin. Tetapi ketika Zhang Liang melarikan diri dengan dalih kematian beberapa tahun kemudian, Han Xin dijebak dan dibunuh oleh Xiao He dan Lu Hou. Ada banyak kritik tentang Xiao He dari para sejarawan, jadi sebagian besar orang berspekulasi bahwa Pelindung sebenarnya adalah Han Xin. Ada juga cerita bahwa Dewa Beladiri Pelindung Kiri dan Kanan didirikan masing-masing di depan tumpuan Pengusir Setan Agung di Dinasti Han.

Ketika dia masih setengah tidur, Chen Xing tenggelam di dalam ingatannya sendiri ketika Shifu-nya berada dalam ambang kematiannya.

“Luppiter adalah bagian dari takdirmu; dia adalah segalanya yang akan kamu andalkan dalam hidupmu, dan dia adalah pelindung yang akan kamu gunakan untuk mengatasi berbagai rintangan dalam hidupmu. Luppiter memiliki siklus selama seratus tahun dan hanya bertahan di dunia manusia selama dua puluh tahun. Ketika waktu dua puluh tahun sudah terlewati, dia akan kembali ke surga.”

Chen Xing berjalan mengikuti di belakang Shifu-nya, “Jadi, keberuntunganku hanya akan bertahan samapai berumur dua puluh.”

“Tidak, lebih jauh dari itu. Saat waktunya tiba, Iuppiter akan dilepaskan dari bagan kelahiranmu.” Shifu berhenti dan melihat ke belakang dari dalam hutan maple. Dia menjelaskan kepada Chen Xing, “Dalam keadaan apa kiranya seseorang akan kehilangan bintang penguasa dalam hidup mereka? Kamu seharusnya sudah mengetahui jawaban untuk pertanyaan itu sejak lama, jadi aku tidak perlu menjelaskan lebih lanjut.”

Chen Xing merasa seolah-olah dia mendengar gemuruh guntur dalam sekejap.

“Aku …… aku tidak akan bisa hidup lebih dari dua puluh tahun.”

Shifu menjawab dengan tenang, “Takdir ditentukan oleh surga. Segala sesuatu di dunia ini memiliki cara pertumbuhan dan penyebarannya sendiri, dan segala sesuatu di dunia ini juga memiliki tempat yang pada akhirnya harus mereka tuju. Surga telah memberimu takdir ini. Kenapa kamu tidak melakukan sesuatu untuk Tanah Suci dalam jangka waktu terbatas yang tersisa ini?”

“Karena kamu memiliki mimpi itu, pergilah ke Xiangyang. Kamu adalah Pengusir Setan Agung.” Suara Shifu masih menggema di telinganya, “Di dalam tubuhmu ada satu-satunya Cahaya Hati ajaib yang masih berfungsi di dunia ini. Di dunia yang sunyi ini, di dalam malam-malam gelap di mana semua bintang tersembunyi, kamu adalah benih cahaya di dunia manusia. Dalam empat tahun ke depan, kamu harus melakukan segalanya yang kamu bisa untuk mendapatkan kembali keajaiban dunia manusia yang telah hilang. Cari tahulah mengapa Qi spiritual langit dan bumi mengering. Gunakan Cahaya Hatimu untuk menerangi hamparan luas dunia di sekitarmu.”

“Tapi tentu saja, jika kamu ingin membuang waktumu sebelum ulang tahun ke kedua puluh, carilah ‘Dao’mu dalam kehidupan singkatmu selama dua puluh tahun ini ba. Pergi dan carilah.”

Keesokan harinya, Chen Xing menjarah rumah-rumah di dekatnya dan mengumpulkan beberapa jatah makanan. Dia memberi makan anjing itu sampai kenyang, lalu mengenakan jaket besar bermotif bunga yang sepertinya adalah milik nyonya rumah, serta sepasang celana katun pria yang dia pakai sembarangan — setidaknya sepasang pakaian itu bisa membantunya menahan udara dingin. Kemudian dia meninggalkan desa itu dan berangkat—— kuda, perak, dan tas obatnya semuanya telah direnggut oleh Xiang Shu, jadi dia hanya bisa bepergian dengan berjalan kaki. Dia harus pergi ke Kota Mai dulu dan memikirkan cara untuk mendapatkan beberapa biaya perjalanan untuk sampai ke Chang’an sebelum mempertimbangkan hal lain.

Ketika anjing itu melihat bahwa Chen Xing akan pergi, ia mengikuti, mengibas-ngibaskan ekornya saat mengejarnya.

Ketika dia memikirkan Xiang Shu, Chen Xing …… dia menarik napas dalam-dalam, Xiang Shu bahkan tidak setara dengan seekor anjing! Setelah menerima hanya satu kali makan, bahkan anjing itu akan mengikutinya! Lupakan. Shifu pernah berkata bahwa seseorang seharusnya tidak terlalu memikirkan banyak hal. Masih ada begitu banyak hari yang akan dilaluinya, jika mereka benar-benar ditakdirkan, maka orang itu mungkin tidak akan bisa melarikan diri. Tapi bagaimana jika dia tidak? Lalu apa gunanya marah?

Namun demikian, kurang dari setengah bulan setelah meninggalkan gunung, mengalami kemunduran besar seperti ini benar-benar membuat Chen Xing sangat putus asa dan sedih. Dia benar-benar tidak mengerti di mana kesalahannya.

Sementara imajinasinya menjadi liar, sebuah kereta kuda yang saat ini sepertinya tengah digunakan untuk melarikan diri tiba-tiba berhenti di pinggir jalan.

Ai! Ayo naik ba!” Seseorang berteriak padanya, “Dari mana asalmu? Nyonya menyuruhmu untuk naik!”

Chen Xing, “?”

Pagi-pagi sekali, ada begitu banyak orang yang membawa serta keluarganya saat mereka melakukan perjalanan menuju Kota Mai di selatan. Di antara mereka, afa begitu banyak juga keluarga kaya yang melarikan diri dari utara. Chen Xing mengenakan jaket bermotif bunga tebal dan bahkan diikuti seekor anjing di belakangnya, membuatnya benar-benar terlihat seperti anak bodoh dari keluarga tuan tanah. Selain itu, ia terlahir tampan, sehingga orang-orang kurang lebih tidak tahan melihatnya menderita, itulah sebabnya kereta kuda itu melambat dan memintanya naik bersama anjingnya di jalan.

Keluarga ini adalah keluarga terpelajar yang melarikan diri dari Kota Fan. Sang majikan berusia lima puluhan dan membawa serta istri dan putrinya yang berusia sepuluh tahun. Ketika seorang wanita tua dalam keluarga, bersama dengan gadis pelayannya, menyadari bahwa Kota Xiangyang jatuh, dia segera melarikan diri ke selatan, bersiap untuk menyeberangi Kota Mai sebelum pergi ke Daerah Changsha untuk mencari perlindungan dengan kerabatnya. Tuan keluarga itu sudah agak tua; dia melarikan diri dalam kepanikan di larut malam bersama keluarganya dan setelah dia mengetahui penderitaan orang-orang Han dari pembantaian yang tidak disengaja, dia merasakan kesedihan yang tak tertandingi dan hampir tidak bisa bernapas. Dia berbaring di dalam gerbong kereta kuda itu, tidak bisa bergerak; kedua matanya tertutup rapat dan dia kini berada di ambang kematiannya.

“Apa yang terjadi?” Chen Xing berterima kasih kepada wanita tua itu atas bantuannya terlebih dahulu,
kemudian menjelaskan asal-usulnya dengan mengatakan bahwa dia adalah seorang sarjana dari selatan. Dia memandang tuan keluarga itu yang tampaknya sekarat dan meraba denyut nadinya. Setelah mengetahui tentang penyakitnya, Chen Xing bertanya, “Apa beliau sakit? Apakah Anda punya jarum? Pinjamkan aku satu, dia akan baik-baik saja setelah sesi moksibusi.”

Wanita tua itu dengan cepat memerintahkan seseorang untuk mengambil jarum bordir. Chen Xing
membakarnya, lalu menerapkannya pada lelaki tua itu, dan tentu saja, setelah tujuh jarum, lelaki paruh baya itu mengeluarkan seteguk darah yang tersumbat. Dia perlahan bangun, lalu berteriak dengan keras.

“Seorang Tabib Ilahi!”

“Tabib Ilahi——!”

Semua orang buru-buru berterima kasih kepada Chen Xing karena telah menyelamatkan nyawa tuan mereka. Chen Xing dengan cepat melambaikan tangannya dengan sangat sopan dan dia pada akhirnya dibawa ke Kota Mai seperti itu. Sepanjang jalan, Chen Xing memberikan gambaran umum tentang pengalamannya dirampok oleh Xiang Shu, dan semua orang menghela napas.

“Kau tidak menemukan pengawal.” Nyonya berkata, “Kau menemukan leluhur.”

“Moral publik merosot seiring berlalunya hari, orang-orang belakangan ini berubah menjadi bajingan tak bermoral na.” Wanita tua itu melanjutkan.

“Benar, ‘kan?” Chen Xing merasa sedikit lebih baik setelah dia mencurahkan isi hatinya. Orang-orang asing ini berkumpul secara kebetulan dan berpisah di Kota Mai. Keluarga itu memberinya empat puluh dua perak sebagai hadiah terima kasih, dan juga memberinya ayam panggang sebagai tambahan.

Chen Xing memegang batangan perak yang beratnya sekitar tiga jin itu dan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Dia punya uang lagi sekarang. Dia harus mengganti pakaian terlebih dahulu, lalu menukar perak ini menjadi emas. Kalau tidak, akan sangat tidak nyaman, berat perak ini pasti akan membebani celananya. Ketidaknyamanan adalah satu hal, tetapi membawa perak seberat itu juga pasti akan membuatnya menjadi sasaran empuk untuk dirampok.

“Pada hari ibuku melahirkanku,” kata Chen Xing kepada anjingnya, “Legenda mengatakan bahwa Iuppiter turun ke bumi. Keberuntunganku sangat baik sejak aku lahir. Lihat, sekarang kita punya ayam panggang untuk dimakan ba?”

Chen Xing membagi ayam panggang menjadi dua dan memberikan setengahnya kepada anjing. Dia pergi
mencari pemandian umum terlebih dahulu dan mandi sambil bersantai, kemudian pergi ke toko pakaian. Dia sangat teliti saat memilih dan membeli satu set pakaian baru. Dia tiba-tiba mendapatkan kembali penampilan bangsawannya dari perubahan itu. Dia bahkan membeli jaket bulu kecil untuk dipakai anjingnya sebelum melangkah ke bank.

Meskipun Kota Mai cukup kecil pada saat itu, ia memiliki semua kebutuhan. Sebagai pusat distribusi pertukaran barang terbesar, setelah Xiangyang dikepung setahun lalu, para pengusaha yang lewat justru berbisnis di sini. Prajurit Jin tidak bisa menyelamatkan Xiangyang, tetapi mereka tentu bisa mempertahankan swasembada jika bertahan di Kota Mai. Berita jatuhnya Kota Xiangyang berhasil mencapai tempat ini dibawa oleh orang-orang yang melarikan diri ke selatan, dan kini, semua jalan dipenuhi dengan pengungsi dan orang-orang yang menginap.

Penginapan, kedai teh, dan restoran di kota itu semuanya dipenuhi orang kaya yang menuju ke selatan. Ada keriuhan dari diskusi yang memanas; beberapa bersedia menyumbangkan uang dan menawarkan diri mereka sebagai pekerja fisik sehingga prajurit bisa melawan balik, sementara beberapa merasa tempat ini pada akhirnya masih tidak aman, dan akan lebih baik untuk pergi ke selatan secepat mungkin. Setiap orang begitu gelisah.

Pergi ke bank dulu untuk menukar uang, lalu pergi ke pemerintah untuk menandatangani dokumen perizinan; hanya dengan begitu seseorang bisa dengan lancar pergi ke utara ke Chang’an. Negara Qin dan Jin terlibat dalam perang, jadi pengurusan perizinan harus dilakukan dengan hati-hati.

Chen Xing, dengan membawa seikat perak seberat tiga jin, memasuki bank. Keadaan di dalam bank benar-benar rapi dan seolah siap dibawa melarikan diri kapan saja. Dia baru saja memasuki aula utama ketika dia tiba-tiba menyadari bahwa di dalam bank itu benar-benar sunyi, dan suasana di dalamnya memiliki keanehan yang tak bisa dijelaskan.

“Penjaga toko, aku ingin menukar ……” Chen Xing tiba-tiba berhenti berbicara.

Mulut semua asisten toko, penjaga toko, dan penjaga bank terbuka lebar; pergelangan tangan dan pergelangan kaki mereka diikat oleh batang besi yang dilepas dari jendela bank. Begitu mereka mendengar Chen Xing masuk, mereka semua menoleh dan menatapnya dengan mulut terbuka—— dagu mereka seolah terkilir, dan mereka memiliki kemiripan yang luar biasa dengan angsa yang melotot.

Seorang pria bersandar dengan tenang di jendela kasir. Dengan tubuh menghadap ke samping, tangan kirinya bersandar di meja kasir dan dia mengenakan satu set pakaian pemburu — itu adalah Xiang Shu!

Xiang Shu mengetuk meja kasir dengan jarinya untuk meminta pemilik toko segera mengambilkan uangnya. Penjaga toko gemetar, dan dengan mulut terbuka karena rahangnya yang terkilir, menggunakan mistar gores untuk menyusun deretan batangan emas untuk Xiang Shu. Dia membungkusnya menjadi bundelan kecil dan memberi isyarat kepada Chen Xing untuk berlari dengan tatapan panik.

Xiang Shu menoleh sedikit ke samping ketika dia mendengar suara kedatangan Chen Xing, dan mereka berdua saling memandang.

Sekelompok prajurit Jin lewat di luar pintu. Chen Xing dengan tegas meraung,

“TOLONG! SESEORANG MERAMPOK BANK——!”


Bab SebelumnyaBab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments