Penerjemah : rusmaxyz
Editor : Jeffery Liu


Senjata mereka bentrok dengan suara dentangan. Jenderal baju besi hitam menunjukkan tangan kirinya — dia benar-benar memegang cakar naga lainnya saat dia bertarung dengan Xiao Shan. Xiao Shan menutupi hidungnya dan menahan napas, kecepatannya jelas melambat dengan selisih yang besar. Dia harus mundur dari kabut sesekali, namun dia selalu bisa masuk di saat yang tepat ketika jenderal baju besi hitam hendak mengayunkan pedangnya ke bawah pada Xiang Shu dan Chen Xing untuk menangkis pedangnya!

Mata Chen Xing tampak berkaca-kaca. Pada saat itu, kekuatan Cahaya Hati disuntikkan ke Xiang Shu secara konstan. Meridiannya seperti aliran dan sungai yang berkedip-kedip dengan cahaya putih saat mereka perlahan menyatu menuju satu area, sampai bertemu di dada Xiang Shu.

Dengan kilatan ledakan, Chen Xing tiba-tiba menemukan dirinya berada di tengah-tengah hutan belantara. Ah benar, ini adalah pikiran Xiang Shu.

Dunia itu sangat luas, dan Xiang Shu berlutut di tengah hutan belantara yang luas ini. Di depannya tergeletak kain putih, di mana para mayat terus berjuang. Dia tersentak dan menggigil saat dia perlahan melepaskan penutup kepala dari kain yang membungkus mayat – hanya untuk melihat ayahnya, Shulü Wen, berubah menjadi mayat hidup berwajah abu-abu dan ganas.

Burung gagak berputar-putar di langit saat mereka memandangi mayat di tanah.

“Xiang Shu!” Chen Xing berlari dan berteriak, “Bangun! Kau sudah dirasuki!”

Xiang Shu menutup telinganya. Dia memegang belati, tangannya gemetar, dan berjuang untuk menusuk ayahnya, yang masih berjuang dengan belati.

Tangisan burung gagak terdengar seperti gelombang, menjadi semakin keras. Akhirnya, Xiang Shu mengayunkan belatinya ke bawah dengan paksa, dan tepat ketika dia akan memotong-motong ayahnya yang sudah meninggal untuk penguburan langit, Chen Xing sudah menerjang dan memeluknya — tangan kanannya dengan kuat menggenggam ujung belati Xiang Shu!

“Bangun!” Chen Xing berteriak.

Xiang Shu mengangkat kepalanya dan menatap Chen Xing tak percaya. Darah segar berceceran di seluruh telapak tangan Chen Xing. Rasa sakit yang tajam menyengatnya, tapi dia tahu bahwa ini hanyalah ilusi. Kemudian Chen Xing meletakkan kepala Xiang Shu di depan bahunya, dan belati di tangan Xiang Shu jatuh ke tanah dengan suara “dang”. Cahaya yang kuat dari Cahaya Hati meledak seperti lautan cahaya.

Di lembah.

Kabut berangsur-angsur surut dari mereka berdua. Gagak bergegas menuju ke tengah, dan dalam sekejap, kebencian berkumpul menuju jenderal baju besi hitam itu. Dengan cakar di tangan kiri jenderal, dia mengangkat Xiao Shan di tempat dan mengirimnya terbang. Xiao Shan menghantam tebing terlebih dulu, dan darah mengalir di kepalanya saat dia jatuh. Ayunan pedang lainnya — dalam sekejap, akan menembus Xiang Shu dan Chen Xing, yang berpelukan, pada saat yang bersamaan.

Raja Akele bangun.

Raja Akele meraung gila. Dia mengambil senjata di sampingnya dan dengan paksa menghantamkannya ke jenderal baju besi hitam!

Cahaya putih menyatu sekali lagi, dan seolah-olah dengan suara guntur yang tiba-tiba, mereka sudah kembali ke penjara di bawah Kota Xiangyang. Xiang Shu bangun, membuka matanya sedikit. Bibirnya bergerak, dan dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Dalam kegelapan, seluruh tubuh Chen Xing diselimuti cahaya hangat saat dia menatapnya.

“Aku tahu apa yang kau takutkan.” Chen Xing tersentak.

Xiang Shu berkata perlahan, “Aku ingin menyelamatkan ayahku, tapi aku tidak menyangka untuk benar-benar membunuhnya. Pada akhirnya, itulah yang harus aku lakukan, aku juga takut … jadi aku hanya bisa … memberinya … penguburan langit … sementara dia masih hidup …”

Chen Xing menatap bingung Xiang Shu dan menjawab, “Dia sudah mati pada saat itu. Dia sudah berubah menjadi mayat hidup, dan dia tidak akan mengenali siapa dirimu lagi.”

Xiang Shu, “Aku … aku tidak tahu. Sejak saat itu, aku benar-benar tidak bisa, tidak bisa melupakan hari itu … aku bahkan tidak berani membiarkan anggota klanku melihat, bagaimana aku duduk sendirian di padang gurun, tikaman demi tikaman, ke ayahku …”

Chen Xing menundukkan kepalanya, menempelkan dahinya ke dahi Xiang Shu. “Kita hanyalah pengelana saat masih hidup; kita hanya akan kembali ke rumah kita yang sebenarnya dalam kematian.” Chen Xing bergumam, “Apa yang kau kubur hanyalah lapisan kulit yang dieksploitasi oleh orang lain. Jiwa yin dan yang-nya sudah kembali ke surga saat dia meninggal.”

“Lihat, bintang-bintang itu abadi.” Chen Xing mendongak. Penjara yang gelap berubah menjadi langit malam yang tak berujung. “Setiap orang dari kita adalah makhluk di dalam sungai ini.”

Xiang Shu perlahan-lahan menjadi tenang. Dia mengangkat tangannya, seolah ingin menyentuh sungai berbintang yang sulit dilihat dan samar-samar di langit malam. Bahkan di malam yang panjang ketika keheningan menyelimuti semua sihir, masih ada bintang yang tak terhitung jumlahnya bersinar dengan cahaya yang menyilaukan dan benderang.

Chen Xing memegang tangan Xiang Shu, berbisik, “Sama seperti bagaimana Raja Akele datang ke sini dari ribuan mil jauhnya hanya untuk mencari tahu kebenaran di balik kematian putranya, Youduo, … jika ayahmu tahu, dia pasti tidak akan menyalahkanmu.”

Xiang Shu mengangguk.

“Bangun ba, Pelindung.” Chen Xing memeluk Xiang Shu sambil berlutut di tanah. Dengan kedua mata tertutup, dia berkata dengan suara rendah, “Lepaskan.”

Tiba-tiba, cahaya putih menyala memenuhi lembah, dan seperti longsoran salju, cahaya itu menyapu ke segala arah!

Chen Xing berbaring miring dengan lemah di tanah. Xiang Shu meraih pedangnya yang berat dan meletakkannya di bahunya, menciptakan busur cahaya yang berkedip-kedip dalam malam yang gelap ini. Jenderal baju besi hitam bergerak jungkir balik di udara, dan sekelompok burung gagak terbang. Namun, tepat di saat berikutnya dalam cahaya putih yang berbentuk kipas itu, pedang berat itu secara ajaib berubah menjadi busur raksasa!

Chen Xing, “!!!”

Xiang Shu juga tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, tapi dia membuat keputusan yang cepat dan menarik kembali tali busur yang bersinar itu. Setelah itu, sekelompok panah cahaya putih tumpah ke langit; semua burung gagak di udara ditembak oleh panah cahaya, lalu meledak menjadi uap hitam sebelum menghilang.

Busur raksasa sekali lagi berubah menjadi pedang yang berat. Xiang Shu mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke jenderal baju besi hitam itu. Tepat ketika dia hendak bergegas maju, jenderal itu berubah menjadi meteor api hitam yang terbang ke selatan dan menghilang sepenuhnya.

Xiang Shu tidak berani mengejar lagi. Dia berbalik untuk melihat Chen Xing, yang terbaring di tanah. Chen Xing merasa bahwa setelah mengerahkan semua energinya untuk mengaktifkan Cahaya Hati barusan, jantungnya berdenyut untuk beberapa saat, dan dia bahkan tidak berani bernapas terlalu berat.

“Chen Xing?!” Xiang Shu berlutut dan ingin mengangkat Chen Xing, tapi Chen Xing mengangguk dengan susah payah untuk memberi tanda bahwa dia baik-baik saja.

“Ini sedikit menyakiti jiwaku,” Chen Xing tersentak beberapa saat sebelum menjawab, “Aku akan baik-baik saja setelah istirahat sejenak.”

Kabut dingin yang menggigit berangsur angsur menghilang, namun Xiao Shan berteriak keras, seluruh kepalanya berlumuran darah saat dia bergegas ke arah mereka. Xiang Shu mengangkat pedangnya dengan waspada, tapi Xiao Shan tidak memperhatikan mereka ataupun berhenti. Dia melewati dua lainnya dan bergegas ke bagian terdalam lembah.

Alis Xiang Shu terkunci dalam. Chen Xing hendak bertanya tentang apa yang terjadi, tapi Xiang Shu berkata, “Awalnya aku ingin memancing monster itu pergi, tapi secara kebetulan, aku melangkah ke lembah dan tiba-tiba menemukan Raja Akele …”

“Bangun, masuklah untuk melihatnya.” Chen Xing merasa lembah yang dalam ini mengandung terlalu banyak misteri. “Di mana Akele? Akele!”

Chen Xing berteriak kaget dan berlari ke dinding berbatu, hanya untuk melihat Raja Akele terbaring di bawah sebongkah batu. Sisi lehernya berlumuran darah — untuk melindungi mereka berdua, Raja Akele sudah diserang oleh pedang jenderal baju besi hitam itu, yang sudah mengiris pembuluh darah di lehernya.

Chen Xing buru-buru mencoba menghentikan pendarahan untuknya, tapi dia jelas sudah terlambat. Xiang Shu menekan luka Raja Akele. Setengah dari tubuh Raja Akele berlumuran darah. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang terdengar.

Xiang Shu menatap Chen Xing. Chen Xing berada di sampingnya dengan kesedihan saat air mata mengalir di wajahnya. Dia menggertakkan gigi dan menggelengkan kepalanya pada Xiang Shu — dia tidak bisa lagi diselamatkan.

Xiang Shu hanya bisa mengencangkan cengkeramannya pada tangan Raja Akele yang berlumuran darah segar, namun Raja Akele tersenyum dengan susah payah. Bibirnya bergerak sedikit, dan dua lainnya bisa melihat bahwa dia mengucapkan kata-kata “Nadoro”.

— anak yang dilahirkan dengan bantuan Chen Xing, anak yang dinamai oleh Chanyu yang Agung, Shulü Kong. Raja Akele mengangguk.

Chen Xing menyeka air matanya sementara Xiang Shu meletakkan pedangnya yang berat di samping. Dia berlutut di tanah dan berkata pada Raja Akele dalam bahasa Xiongnu, “Yakinlah akan keselamatan anggota suku kita. Raja Akele, Guwang akan menemukan solusi atas rasa sakit Youduo untukmu. Kamu sudah menebus kesalahan masa lalumu. Tolong kembali ke langit dan bumi dengan Dewa Naga.” Setelah berbicara, dia memberi isyarat pada Chen Xing untuk berhenti menangis, memberi isyarat agar dia menghapus air matanya.

Jadi Raja Akele menutup matanya dengan damai.

Dua lainnya terdiam lama. Chen Xing menghela napas panjang, kesedihannya belum berakhir.

Sebuah suara datang dari dalam lembah yang berkata perlahan, “Kalian berdua, silakan masuk. Terima kasih, Pengguna Cahaya Hati, akhirnya aku … bebas, selama saat-saat terakhir ini.”

Chen Xing tiba-tiba mendongak. Xiang Shu membawa jenazah Raja Akele saat dia bangun, dan mereka berdua menghadap ke kedalaman lembah bersama.

Semua kabut menyebar dan jalan kecil muncul di dalam lembah yang dinaungi pepohonan. Jalan itu dilapisi dengan warna hitam, pohon-pohon tampak mati dan layu dan sungai tampak mengering, seolah-olah sudah dihantui oleh kebencian untuk waktu yang lama sebelum berubah menjadi lembah yang sunyi sepi dan mematikan. Melihat sisa-sisa ini, pada saat Qi spiritual dari langit dan bumi masih melimpah, pasti tempat ini adalah surga yang sangat tenang dan indah.

Chen Xing mengambil cakar naga Cangqiong Yilie di tanah dan mengikuti Xiang Shu ke lembah, hanya untuk melihat sebuah kuburan besar. Namun, semua kuburan itu sudah kosong.

Di tempat di mana tanaman merambat yang lebat dan layu terjalin, jauh di atas di tepi pemakaman ada sebuah danau yang mengering. Di ujung lain danau, suara itu terdengar lagi, berkata, “Ini adalah kuburan Xiongnu kuno. Kamu bisa menempatkan Raja Akele di sini.”

Xiang Shu memasukkan mayat Raja Akele ke salah satu kuburan. Suara itu melanjutkan, “Kemarilah sekarang ba, aku tidak punya banyak waktu tersisa.”

Danau yang mengering itu dikelilingi oleh lapisan pohon yang layu. Pada masa-masa subur, tempat ini memiliki pegunungan, danau, air terjun, dan pepohonan raksasa dengan akar yang meliuk-liuk dan saling terkait. Tapi sekarang, tempat itu sudah menjadi negeri hantu yang menakutkan.

Ada sebuah pulau kecil di tengah danau yang kering. Di pulau kecil itu, seorang pemuda berjubah putih duduk di bawah pohon, tampak memiliki usia yang sama dengan Chen Xing. Xiao Shan berjongkok di sampingnya, dan seperti serigala, satu kakinya terangkat saat dia terus menggaruk bagian belakang telinganya, dan dia mendengus saat dia menunjuk ke pemuda berjubah putih itu.

“Namaku Lu Ying,” pemuda itu berkata dengan lembut, “Maaf, aku hanya bisa berbicara denganmu sambil duduk seperti ini. Karena darah Dewa Iblis Shi Hai, semua kekuatanku sudah habis.”

Chen Xing memiliki firasat samar bahwa mereka sudah datang ke tempat yang tepat.

Setelah Xiao Shan menggaruk gatalnya, dia bergerak sedikit dan memblokir pemuda bernama Lu Ying, mengamati Xiang Shu dengan ketidakpercayaan di matanya. Chen Xing memberinya cakar lainnya. Xiao Shan menerimanya dan memakainya.

“Aku pernah melihatmu sebelumnya,” Xiang Shu tiba-tiba berkata.

“Aku juga pernah melihatmu sebelumnya,” kata Lu Ying, “Kamu adalah anak manusia Chanyu yang Agung, Shulü Wen, guru kecil Chi Le Chuan. Aku pernah melihatmu dari jauh bertahun tahun yang lalu, di Danau Barkol.”

“Manusia …” kata Chen Xing, “Kau … tunggu! Kau! Kau …”

Lu Ying berkata dengan lesu, “Ya, aku seorang yao.”

Pada saat itu, Lu Ying berbalik sedikit. Di bawah cahaya bintang-bintang, Chen Xing dengan jelas melihat dia sepenuhnya dan tiba-tiba berseru!

Pada awalnya, separuh dari tubuh Lu Ying yang menghadap mereka adalah seorang pemuda yang anggun dan tampan yang baru berusia sekitar 16 atau 17 tahun. Namun, bagian lain dari tubuhnya yang tersembunyi di dalam bayang-bayang sudah sangat membusuk sehingga tulang putih yang menakutkan terlihat, dan jeroan hitamnya bisa terlihat samar-samar. Chen Xing dengan cepat berjalan dan berlutut di depan Lu Ying untuk memeriksa ketidaknormalannya.

Xiao Shan seketika menjadi gugup, namun Lu Ying memberi isyarat pada Xiao Shan bahwa tidak apa-apa. Dia berkata, “Xiao Shan hanya mengkhawatirkan tubuhku, maafkan dia.”

Xiang Shu berjalan perlahan dan mengamati Xiao Shan dan Lu Ying. “Apakah dia seorang yao?” Saat Chen Xing mengamati Lu Ying, dia melirik Xiao Shan.

Xiao Shan kemudian naik ke belakang Lu Ying untuk menemukan sesuatu.

Lu Ying menjawab, “Dia manusia sepertimu. Tapi sebelum dewa serigala mati, dia menyerahkan kekuatan yao-nya padanya untuk menyelamatkan hidupnya.“

“Siapa dewa serigala itu?” Tanya Xiang Shu sambil mengerutkan kening.

“Dewa lain yang menjaga gunung suci Carosha bersamaku setelah Dewa Naga, Zhuyin, turun ke dunia manusia … Tapi bagimu pengusir setan, dia1 seharusnya disebut yao besar sebagai gantinya.

Wu.” Chen Xing memeriksa tubuh Lu Ying, hanya untuk menemukan bahwa sebagian besar tubuhnya sudah membusuk. Tubuhnya jelas sudah terkorosi oleh racun yang kuat, dan dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu.

“Tidak bisa diselamatkan,” kata Lu Ying, “Jika keheningan tidak menyelimuti semua sihir, masih ada sedikit harapan. Selama beberapa ratus tahun terakhir ini, aku sudah memeras otak dengan berbagai cara. Di dunia ini, hanya Cahaya Hati yang bisa menyingkirkan Qi iblis untukku, tapi kamu yang sekarang tidak bisa melakukannya.”

Chen Xing mengerutkan kening. “Qi Iblis.”

“Setelah aku terinfeksi darah Dewa Iblis, isi perutku mulai membusuk,” jawab Lu Ying, “Hanya dengan memanggil Qi spiritual dari langit dan bumi dan menggunakan Cahaya Hati untuk secara paksa memurnikan tubuh jasmaniku, hidupku bisa diselamatkan.”

Xiao Shan mengeluarkan sepotong kecil koin kuning dari pohon di belakang Lu Ying. Dia menyerahkannya pada Chen Xing, memberi isyarat agar dia memegangnya.

Chen Xing, “?”

Lu Ying berbisik, “Abu burung phoenix disegel di dalamnya. Aku pernah berpikir bahwa mungkin kekuatan burung phoenix, dari mandi api yang berumur seratus tahun dari kelahiran kembali bisa membangun kembali tubuhku secara sepintas. Tapi setelah Keheningan Semua Sihir, bahkan burung phoenix tidak akan bisa bereinkarnasi. Simpanlah, dan ketika semua sihir dibangkitkan, itu mungkin masih memiliki kesempatan untuk terlahir kembali.”

Chen Xing melihat ke bawah pada token pinggang itu, hanya untuk melihat abu yang berkedip-kedip disegel di dalam batu amber. Dia pernah membacanya di buku-buku: burung phoenix bereinkarnasi sekali dalam seratus tahun. Setelah dibakar sampai tidak ada yang tersisa dalam Api Sejati Samadhi, anak ayam yang baru akan lahir di tengah abu. Selama kelahiran kembali dalam mandi api, jika seseorang melakukannya dengan benar dan menggunakan energi kuat yang dilepaskannya pada saat itu, itu bisa membangun kembali tubuh manusia dan bahkan mungkin membangkitkan orang mati.

Sekarang, hanya secangkir kecil abu yang tersisa dari burung phoenix. Mungkin tidak bisa terlahir kembali setelah dibakar.

“Hari itu akan datang.” Chen Xing hanya menutupi bagian tubuh Lu Ying yang busuk dengan pakaiannya. Setelah merenung lama, dia melirik Xiang Shu.

“Aku tahu hari seperti itu akan datang,” Lu Ying tersenyum kecil dan berkata, “Tapi aku tidak bisa menunggu sampai saat itu. Untungnya, kamu dan Dewa Bela Diri Pelindung datang, dan membiarkanku menunggu saat terakhir ini dengan penuh martabat.”

Xiang Shu bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Lu Ying memberi isyarat pada Xiao Shan, jadi Xiao Shan pergi dan berbaring dengan nyaman di pelukan Lu Ying.

“Ceritanya sangat panjang.” Lu Ying menjawab dengan bingung, “Silakan, duduklah. Aku menduga setelah datang dari jarak ribuan mil, kalian berdua pasti sudah tahu sedikit. Mudah-mudahan, setelah mendengarkan ceritaku, ini akan membantu kalian berdua menemukan jawaban.”

Chen Xing berkata, “Keheningan Semua Sihir.”

Xiang Shu berkata, “Kjera.”

Keduanya duduk di depan Lu Ying. Xiao Shan tidak bisa memahami percakapan mereka. Saat dia berbaring di pelukan Lu Ying, dia mulai menguap.

Chen Xing dengan tegas langsung ke intinya dan berkata, “Apa yang begitu istimewa dari gunung ini? Mengapa semuanya dimulai dari sini?”

“Ini dimulai dari Carosha,” jawab Lu Ying, “Itu petunjuk yang kalian temukan?”

Chen Xing membuka peta dan menunjukkannya pada Lu Ying. Setelah menguap, Xiao Shan sedikit terbangun dan mengambil alih. Dia melihatnya dari depan dan belakang, dari kiri dan dari kanan, dan bahkan membaliknya.

“Seperti yang sudah aku sebutkan, ini adalah tempat dimana Dewa Naga, Zhuyin, turun.” Lu Ying merenung sejenak sebelum berkata, “Mari kita mulai dari Zhuyin ba, menurut catatan kuno …”

“Siang, dengan mata terbuka; malam, dengan mata tertutup,” kata Chen Xing, “Ini adalah awal dari semua naga, naga pertama di dunia ini.”

“Itu benar,” Lu Ying mengangguk dengan sopan, lalu melanjutkan, “Tuan Zhuyin membuat waktu bergerak, mendorong vena langit dan bumi, membentuk roda waktu. Sama seperti bagaimana Dewa Pangu yang Agung mengangkat langit dengan kaki di tanah selama 18.000 tahun, Zhuyin menggunakan kekuatan sucinya untuk menggerakkan waktu, memutar chakra langit dan bumi tanpa akhir. Setelah bertahun-tahun berlalu, dia akhirnya jatuh di sini dan berubah menjadi puncak Carosha di hadapanmu sekarang.”

“Dewa serigala dan aku adalah penjaga makam setelah dia turun. Setelah mendapatkan kekuatan naga Tuan Zhuyin, kami berubah menjadi yao. Dewa serigala bertanggung jawab atas siang hari, sementara aku bertanggung jawab atas mimpi di malam yang panjang dan gelap. Selain itu, Tuan Zhuyin memiliki seorang putra naga bernama “Yeming”, tapi tidak ada yang tahu di mana dia sekarang.”

“Berapa lama kamu hidup?” Xiang Shu bertanya dengan ragu”.

“Sekitar empat ratus tahun atau lebih,” Lu Ying menjawab, “Dewa serigala dan aku tidak seperti Phoenix. Jiwa kami tidak terlahir kembali dalam samsara, tapi kekuatan yao kami diturunkan dari generasi ke generasi. Dua belas tahun lalu, dewa serigala merasakan perubahan yang tidak biasa di tenggara, jadi dia pergi sendirian.”

“Di tenggara adalah …” Chen Xing mengerutkan kening.

“Karakorum,” jawab Xiang Shu.

Lu Ying mengangguk.

“Aku masih ingat, dua belas tahun yang lalu, sama seperti malam musim dingin hari ini,” Lu Ying berkata, “Dewa serigala membawa anak ini dari Karakorum, dan dia terluka parah. Dia menyerahkan bagian terakhir dari kekuatan yao-nya pada Xiao Shan sebelum pingsan. Aku mencoba semua yang aku bisa untuk membuang racun ini untuk dewa serigala tapi secara tidak sengaja akhirnya menginfeksi diriku juga …”

Xiang Shu hanya ingin tahu seberapa besar pemuda ini terlibat dengan iblis kekeringan, namun pihak lain terus berbelit-belit tanpa mengemukakan poin utama, jadi dia mulai merasa sedikit tidak sabar. Alisnya sedikit berkerut, tapi Lu Ying sudah merasakannya dan memberi isyarat agar dia tidak terlalu cemas.

“Apa sebenarnya racun ini?” Chen Xing tahu bahwa setelah Keheningan Semua Sihir, tidak hanya pengusir setan, tapi bahkan para yao di dunia sudah kehilangan kekuatan mereka. Jika Qi spiritual masih ada, bahkan jika yao yang begitu kuat tidak bisa menghilangkan racun, dia setidaknya bisa mengandalkan kekuatan regeneratifnya untuk terus berjuang di pintu kematian untuk sementara waktu.

“Darah Dewa Iblis,” kata Lu Ying, “Itulah alasan mengapa manusia berubah menjadi ‘iblis kekeringan’ setelah mereka mati. Itu berasal dari yao kuno dan kuat yang bahkan lebih tua dari catatan sejarah manusia.”

Chen Xing, “….”

Semua orang di bawah pohon terdiam sesaat. Xiao Shan sudah tertidur dengan nyenyak di pelukan Lu Ying.

“Siapa itu?” Chen Xing berkata, “Aku ingat bahwa hanya ada satu makhluk yang disebut ‘Dewa Iblis’ dalam catatan sejarah.”

“Itu orangnya,” jawab Lu Ying, “Kamu menebak dengan benar.”

Chiyou melawan Kaisar Kuning di Banquan, yang kemudian dikalahkan. Kaisar Kuning, Xuanyuan, membagi mayat Chiyou: kepala, anggota tubuh, dan jantungnya, kemudian dikuburkan di tujuh tempat di dalam Tanah Suci.

“Darah yang ditinggalkan oleh Dewa Iblis,” lanjut Lu Ying, “Bisa membangkitkan orang mati, mengumpulkan mereka untuk bertarung untuknya. Itulah alasan di balik kemunculan iblis kekeringan.”

Chen Xing tiba-tiba teringat! Artinya, apa yang Kjera minta ayah Xiang Shu, Shulü Wen minum saat itu adalah obat yang dicampur dengan darah Dewa Iblis!

Xiang Shu berkata dengan suara rendah, “Kjera adalah inkarnasinya?”

Chen Xing segera menjawab, “Tidak mungkin! Jika Chiyou berhasil mendapatkan bentuk manusia, Tanah Suci tidak akan seperti sekarang.”

Berbicara tentang itu, Chen Xing tiba-tiba merasa sedikit ketakutan. Sebelumnya, dia sudah membuat banyak hipotesis tentang “iblis kekeringan”, tapi semua spekulasinya didasarkan pada spesies “yao“. Itu bisa saja disebabkan oleh seni jahat, atau perubahan yang dipicu oleh semacam yao, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa musuh sebenarnya yang dia hadapi adalah Chiyou!

Posisi apa yang dipegang Chiyou? Dia adalah Dewa Senjata kuno! Dewa dari semua perang di dunia! Bahkan Xuanyuan harus mengandalkan kekuatan kaisar surgawi, Xuannu, Master Hujan Fengbo, dan naga suci untuk akhirnya mengalahkannya setelah bertahun-tahun berperang. Meski begitu, mereka tidak bisa sepenuhnya membasmi Chiyou dan hanya bisa memotong-motong mayatnya dan menyegelnya di tujuh tempat berbeda di Tanah Suci.

Setelah beberapa tahun berlalu, perbedaan kekuatan ini benar-benar terlalu besar! Jika Chiyou bangkit, ini adalah iblis tingkat dewa; tidak mungkin ada orang di dunia ini yang bisa menjadi lawannya. Bertemu dengan dia secara langsung akan membuat siapa pun menjadi abu!

Tapi Xiang Shu tidak tahu tentang legenda Han dan hanya berkata sambil mengerutkan kening, “Lalu siapa Kjera?”

“Kjera?” Lu Ying memikirkannya, lalu berkata, “Meskipun aku tidak tahu siapa yang kamu bicarakan, tapi aku menduga bahwa itu seharusnya adalah Shi Hai.”

Xiang Shu berniat untuk terus menjelaskan, tapi Chen Xing menghentikannya dengan tatapannya. Dia bisa dengan jelas merasakan bahwa kehidupan Lu Ying sedang terkuras perlahan-lahan, dan dia tidak punya banyak waktu tersisa – hanya sisa-sisa cahaya matahari yang bisa terlihat sekarang2.

“Shi Hai adalah bawahan Dewa Iblis,” Lu Ying memejamkan mata dan berkata perlahan, “Aku bahkan tidak ingat kapan dia muncul di dunia ini. Satu-satunya hal yang bisa aku konfirmasi adalah bahwa dia sudah hidup lebih lama daripada aku dan Dewa serigala, dan dia mungkin salah satu orang yang tertinggal dari dunia kuno. Menurut kata-kata terakhir dewa serigala, Shi Hai mungkin sudah membebaskan diri dari kuburan bertahun-tahun yang lalu. Lagi pula, di seluruh Tanah Suci, Xiongnu dan Han di Selatan sudah bertempur selama bertahun-tahun dan menyebabkan terlalu banyak perubahan. Alasan untuk semua ini tidak bisa diperiksa.”

Chen Xing melihat suara Lu Ying semakin lembut dan berkata, “Kamu sudah sangat lelah, Lu Ying, aku pikir kamu perlu beristirahat sebentar.”

“Tidak apa-apa,” Lu Ying membuka matanya dan memaksakan sebuah senyuman. “Dua belas tahun yang lalu, Shi Hai kembali ke Utara untuk pertama kalinya dan membuatku sakit parah. Karena korosiku semakin parah setiap harinya, kekuatan yao-ku yang tersisa juga dipengaruhi oleh kebencian. Semua kuburan yang kalian lihat dalam perjalanan ke sini adalah tempat di mana Xiongnu mengubur tulang mereka.”

Chen Xing ingat bagaimana Lu Ying mengatakan bahwa dia “bertanggung jawab atas mimpi di malam yang gelap dan panjang”. Setelah dia terinfeksi, mimpi itu pasti berubah menjadi mimpi buruk juga, seperti bagaimana Xiang Shu mengenang masa lalunya di dalam kabut. Jadi dia bertanya, “Jadi, mayat hidup ini sudah mengalami perubahan yang tidak biasa?”

Lu Ying menggelengkan kepalanya. “Beberapa tahun kemudian, tepat ketika aku menggunakan seluruh kekuatanku untuk menahan korosi, Shi Hai datang ke Utara untuk kedua kalinya. Dia sangat sabar. Dia menunggu sampai aku terkorosi oleh darah Dewa Iblis untuk waktu yang lama sebelum datang untuk menemukanku. Dia juga membawa mayat manusia bersamanya. Manusia ini disebut “Sima Yue” ketika dia masih hidup, dan dia pernah memiliki perseteruan yang benar-benar tidak bisa didamaikan dengan Xiongnu.”

Chen Xing, “Sima Yue, Pangeran Jin Agung dari Laut Timur!”

Lu Ying mengangguk. “Aku sudah hidup dalam pengasingan di pegunungan untuk waktu yang lama dan tidak tahu apa-apa tentang perseteruan manusia. Shi Hai membujukku untuk menyerah dan bersumpah setia pada Dewa Iblis, untuk membangun dunia manusia tanpa kematian …”

Chen Xing tidak bisa mempercayai telinganya. Dia berjalan mondar-mandir di pulau yang layu itu, berkata, “Gila, ini benar-benar gila!”

Lu Ying tersentak sejenak sebelum menjawab, “Kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian adalah bagian dari samsara. Jika tidak ada kematian, bagaimana mungkin ada kehidupan? Jika tidak ada rasa sakit, bagaimana bisa ada kegembiraan? Waktu itu seperti penginapan, dan aku adalah pengelana. Tanpa perpisahan dan kepergian, bagaimana mungkin dunia bisa berkembang dan berkembang biak tanpa akhir? Secara alami, aku menolak saran Shi Hai.”

“Setelah itu, Sima Yue melawanku dan mematahkan tandukku yang bisa aku gunakan untuk memerintah binatang buas.” Lu Ying berkata, “Sekarang, aku hanya bisa tinggal di Gunung Carosha untuk berjuang di ambang kematianku.”

Xiao Shan terbangun saat ini. Melihat Lu Ying mulai batuk, dia mengulurkan tangan dan menepuk dadanya. Lu Ying mengusap kepala Xiao Shan dan melanjutkan, “Setahun kemudian ketika Xiao Shan berusia sembilan tahun, seseorang datang dari Selatan. Dia adalah putra mahkota suku Akele, yang dipanggil “Youduo” ketika dia masih hidup.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. ‘Dia’ ini mengacu pada dewa naga, bukan dewa serigala.
  2. Pepatah untuk merujuk pada saat-saat terakhir sebelum kematian seseorang.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments