Penerjemah: Keiyuki17
Editor: Jeffery Liu


Di taman kediaman seorang pejabat tingkat tinggi di Chang’an, Xiang Shu terbatuk beberapa kali.

Chen Xing masih dalam keadaan panik. Dia melihat ke arah Xiang Shu; Napas Xiang Shu terdengar agak dalam saat dia melihat ke langit yang ada di balik tembok tinggi. Chen Xing melepaskan anak anjing yang ada di tangannya. Belati milik Putri Qinghe masih menancap di dadanya, dan mayat anjing itu sudah benar-benar dingin sekarang.

Untuk sesaat Chen Xing merasa kesal dan hanya bisa menutup kedua matanya, dia meletakkan mayat anjing itu di belakang susunan bebatuan. Xiang Shu sangat lelah sampai dia hanya bisa bersandar di sudut dinding dengan kedua matanya tertutup.

Cahaya pagi terasa sedikit hangat, dan suara bel terdengar dari kejauhan. Di Kota Chang’an hari sudah siang. Keduanya entah bagaimana bisa menerobos masuk ke dalam kediaman ini setelah melompati tembok yang tinggi; pelayan dari kediaman besar ini sudah bangun, dan sekarang seorang wanita tua sedang mengobrol saat mereka bersiap untuk membersihkan halaman.

“Bergesarlah sedikit lagi,” bisik Chen Xing, “Kau akan terlihat oleh mereka.”

Salah satu kaki Xiang Shu masih berada di luar bebatuan, dan dia tidak menjawabnya. Chen Xing dengan paksa memindahkannya. Saat dia menyentuh bahu Xiang Shu dengan satu tangannya, dia merasakan ada sesuatu yang basah, lalu saat dia melihat ke tangannya lagi, tiba-tiba Chen Xing terkejut.

“Kenapa darahmu sangat banyak?!” Kata Chen Xing.

“Diamlah…..” Akhirnya Xiang Shu menjawabnya.

Chen Xing buru-buru membalikkan tubuh Xiang Shu untuk melihat punggungnya. Saat Xiang Shu melarikan diri dari istana, dia menggunakan punggungnya sebagai perisai, jadi dia terkena beberapa anak panah. Anak panah dari prajurit kekaisaran memiliki sejenis alur darah khusus yang terukir di anak panahnya, jadi dia harus dengan cepat mengambil anak panah yang menancap di punggungnya.

Pada saat itu, Chen Xing mendengar suara datang dari gudang kayu di halaman belakang. Seorang pelayan keluar dengan membawa kayu bakar di tangannya. Setelah menunggu untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain di sekitar mereka, Chen Xing membawa Xiang Shu ke dalam gudang dengan terburu-buru dan menutup pintunya untuk bersembunyi di dalamnya sejenak, kemudian dia menggunakan belati untuk mencungkil anak panah itu untuknya.

Luka lamanya belum sembuh sepenuhnya, tapi sudah ada luka baru yang ditambahkan. Tangan Chen Xing berlumuran darah. Dia mengintip dari celah pintu, lalu bergegas keluar untuk mencuci tangannya dan mengambil air untuk Xiang Shu minum.

“Apa yang akan kita lakukan?”

Saat mereka berdua sudah kembali tenang, Chen Xing berkata, “Ini buruk, kita sudah membunuh Putri Qinghe tepat di depan Fu Jian.”

Xiang Shu tidak mengatakan apapun. Chen Xing duduk bersila dan berkata pada Xiang Shu, “Serangan yang terakhir itu…”

Dalam sepersekian detik, Xiang Shu dengan kuat mencengkeram leher Chen Xing.

Chen Xing, “….”

Xiang Shu mendorong Chen Xing ke samping, mencoba untuk menahan amarah dalam suaranya, “Kau disandera saat itu. Jika aku tidak memberikan pukulan yang berat padanya, apa kau pikir kau akan masih hidup sampai sekarang?!”

Xiang Shu sangat marah. Chen Xing tidak tahu bahwa Putri Qinghe akan berkolusi dengan kelompok misterius itu. Jika dilihat dari api hitam itu, mungkin dia juga sudah diserang oleh kebencian. Tapi sekarang dia sudah mati, jadi tidak ada gunanya mengatakan hal lain.

“Sadarlah sedikit!” Kata Chen Xing marah, “Kau menyalahkanku untuk itu?!”

Xiang Shu praktis mengabaikan hal yang lain saat dia meraung marah, “Kalau saja bukan karena kau! Dia tidak akan mati!”

Chen Xing, “Kalau begitu bunuh saja aku untuk membalaskan dendamnya ah! Cepat!”

Sejenak, keduanya menatap satu sama lain dalam keheningan. Chen Xing secara alami tahu bahwa Xiang Shu menyesal sudah memberikan pukulan yang sangat berat karena dia sudah salah menilai kekuatan dari pihak lain, jadi untuk sesaat dia hanya bisa melampiaskan amarahnya pada Chen Xing. Tapi dari adegan terakhir yang mereka lihat, Putri Qinghe jelas sudah diselimuti oleh kebencian dan juga sudah berkolusi dengan kelompok misterius itu. Jika Xiang Shu tertangkap, pihak lain pasti akan membunuh Chen Xing tanpa belas kasihan apapun.

Chen Xing kembali tenang, “Feng Qianyi, Putri Qinghe, lalu siapa selanjutnya?”

Akhirnya Xiang Shu kembali tenang dan menutup matanya.

Chen Xing melanjutkan, “Sekarang, kita tidak akan bisa membersihkan diri kita sendiri bahkan jika kita melompat ke mata air kuning1. Fu Jian pasti mencari kita di seluruh kota. Kita juga tidak tahu siapa lagi yang ada di belakang Putri Qinghe, Cermin Yin Yang masih ada di istana, dan sekarang aku takut bahwa mereka akan membunuh Feng Dage…”

“Dia ingin membalaskan dendam klan Murong,” Xiang Shu akhirnya berkata dengan pelan, “Sejak hari dimana Yan yang Agung dihancurkan oleh Fu Jian, dia tidak pernah menyerah pada rencana itu. Aku hanya tidak tahu bagaimana dia berhasil bersekutu dengan keluarga Feng.”

Chen Xing tiba-tiba teringat akan kata kata yang diucapkan dengan gagap oleh Putri Qinghe sebelum dia mati.

Xiang Shu menutup mata lagi dan bergumam, “Sayang sekali dia terlahir sebagai wanita. Kecantikannya saat menunggang kuda, keahliannya dalam menunggang kuda, dan keahlian memanahnya tidak kurang dari seorang pria, tapi dia tidak bisa kembali lagi ke padang rumput…”

Chen Xing teringat akan kata-kata dan senyuman Putri Qinghe. Menilai dari apa yang dia lihat selama beberapa hari terakhir, kedua teman lama ini seharusnya memiliki ikatan persahabatan yang sangat dalam.

“Xiang Shu?” kata Chen Xing.

Xiang Shu tidak menjawabnya.

“Aku minta maaf.” Kata Chen Xing.

“Itu bukan urusanmu.” Kata Xiang Shu dengan dingin tanpa membuka matanya.

Keheningan menyelimuti mereka. Chen Xing berbisik, “Aku akan keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar.”

“Jangan pergi kemana pun,” suara dingin Xiang Shu terdengar, “Tetaplah berada di sini. Guwang akan tidur sebentar, aku sangat lelah…”

Chen Xing juga sangat lelah. Mereka tidak tahu apakah Feng Qianjun masih hidup atau sudah mati, dan sekarang mereka mungkin harus menghadapi kemarahan Fu Jian. Interogasi yang dilakukan dengan penyiksaan untuk sekarang tidak bisa dihindari, jadi mereka harus menemukan cara untuk menyelamatkannya secepat mungkin. Tapi masalah yang lebih serius masih tersisa untuk keluarga Feng, dan saat ini sudah terlambat bagi mereka untuk memperingatkan keluarga Feng.

Berapa banyak orang yang harus mati karena hal ini?! Chen Xing merasa sangat gelisah, namun Xiang Shu hanya tidur seolah-olah tidak ada yang salah. Dia ingin keluar dan menyelidiki tentang situasinya dengan mata kepalanya sendiri, tapi tanpa Xiang Shu, dia mungkin tidak akan bisa keluar dari jalan utama tanpa cedera sedikitpun, jadi dia hanya bisa diam di sana.

Dia meraba-raba gulungan bilah bambu yang dia letakkan di kerah bagian depannya, tapi gulungan bilah bambu itu juga sudah menghilang. Chen Xing sangat yakin bahwa gulungan bilah bambu itu tidak akan terjatuh saat mereka melarikan diri, dan sekarang saat dia memikirkan tentang hal itu, satu-satunya kemungkinan adalah barang-barang yang ada di dunia cermin tidak bisa dibawa ke dunia yang sekarang.

Chen Xing benar-benar sudah kehabisan tenaga. Dia menggendong seekor anjing yang sudah mati di dalam pelukannya. Dia merasa terpukul dan lelah saat dia bersandar di tumpukan kayu bakar. Saat dia terus menerus berpikir, dan akhirnya dia jatuh tertidur; kepalanya terkantuk-kantuk dan tanpa dia sadari, dia jatuh ke dalam pelukan Xiang Shu. Xiang Shu memegang pedangnya dengan satu tangan dan dia mulai tertidur lelap. Saat dia melihat bahwa tidak ada musuh di sekitarnya, dia mengangkat tangan kanan dan meletakkannya di bahu Chen Xing.

Hari ini ditakdirkan untuk menjadi hari yang paling bergejolak, setelah hari dimana Fu Jian membunuh kakak laki lakinya sendiri, Fu Sheng. Seluruh kota Chang’an diblokade; hanya masuk ke kota-lah yang diizinkan, sedangkan untuk keluar kota, dilarang. Meskipun perintah keras sudah diberlakukan untuk menutupi berita tentang Putri Qinghe yang kehilangan nyawanya di bawah pedang Chanyu yang Agung, berita itu masih bisa menyebar dengan sangat cepat. Dalam waktu kurang dari dua jam, saat pasar pagi Chang’an dibuka, semua orang di sepanjang jalan dan gang sudah mengetahuinya.

Sejak Fu Jian menghancurkan negara Yan, ini adalah pertama kalinya peristiwa yang sangat mengejutkan terjadi di Chang’an yang mengganggu semua lapisan masyarakat yang ada di sini. Di Dinasti Qin, keluarga Murong masih merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan. Murong Chui, Walikota dari negara yang ditaklukkan, sudah menyerah pada Fu Jian, Murong Ping, gubernur Fanyang yang sudah memasuki ibu kota untuk melapor pada Kaisar atas pekerjaannya dan pada Shangshu2. Murong Wei meminta pertemuan dengan Fu Jian segera setelah fajar menyingsing. Orang-orang dari Klan Xianbei Murong, klan Tuoba yang memiliki hubungan pernikahan dengan mereka, juga orang-orang Qian yang selalu berbagi hubungan kedekatan dengan keluarga Murong, dan yang lainnya, semuanya berlutut di luar aula.

Pengadilan kekaisaran Qin yang Agung langsung gempar. Dalam artian tertentu, Putri Qinghe melambangkan hubungan antara klan Murong dan Fu Jian, yang saat ini berkuasa. Sejak kematian Permaisuri Gou, Fu Jian tidak pernah menunjuk orang lain untuk menjadi permaisuri, dan Putri Qinghe adalah orang yang memimpin harem kekaisarannya. Fu Jian bahkan menolak untuk menerima selir kekaisaran lagi karena Qinghe dan Murong Chong, dua bersaudara ini. Namun dia sudah mati di bawah pedang Chanyu yang Agung, Shulü Kong, begitu saja. Fu Jian harus mempertanggungjawabkannya pada semua pejabat sipil dan pejabat militernya apapun yang terjadi.

Seluruh klan Murong sangat terkejut saat mereka mendengar berita ini. Namun, saat emosi yang tersembunyi sudah melonjak, mereka tampak lebih waspada dari siapapun saat mereka menanyai Fu Jian.

Fu Jian sudah melihat ekspresi seperti itu lebih dari sekali, dan dia tidak bisa lebih akrab lagi dengan ekspresi itu. “Zhen saat ini sedang mengejar Chanyu yang Agung.” Mata Fu Jian terlihat merah padam, dan dia tampak sangat kelelahan, seolah-olah umurnya sudah bertambah sepuluh tahun dalam semalam, “Ada banyak masalah terkait dengan peristiwa yang tidak terduga tadi malam, bukan hanya satu atau dua hal. Chanyu yang Agung sudah melarikan diri dari pengejaran, dan hanya dia yang bisa memberikan jawaban yang kita inginkan.”

Keturunan bangsawan dari klan Xianbei berdiri dalam jumlah besar di dalam pengadilan, dan tidak ada satu suarapun yang terdengar. Hanya Keluarga Yuwen, yang sudah bermusuhan sejak lama dengan klan Murong, mereka terlihat sedikit bersukacita atas kemalangan klan Murong.

“Yang Mulia,” kata Shangshu Murong Wei, “Di manakah Anda saat tragedi itu terjadi?”

Wajah bagian samping Murong Chui sudah terbakar oleh api dalam perang di kota Xiangyang beberapa bulan yang lalu, jadi sekarang dia mengenakan topeng besi dan tetap diam.

“Apa maksudmu?! Apa kau mencurigai Zhen sebagai kaki tangan mereka?!” Fu Jian segera meraung marah.

Semua orang yang ada di bawah anak tangga tampak memiliki ekspresi ketidakpercayaan yang jelas di wajah mereka. Sejak Chanyu yang Agung, Shulü Kong, tiba di Chang’an, dia sudah menimbulkan badai di seluruh kota. Ketakutan Fu Jian akan Shulü Kong sudah lama menyebar ke seluruh istana kekaisaran. Pengekangan Perjanjian Chi Le Kuno tentang Fu Jian, serta kedekatan antara kedua belah pihak sudah membuat berbagai etnis kelompok di Changan merasa tidak nyaman. Mereka bahkan lebih takut lagi dengan suku nomaden wilayah utara yang akan masuk melewati jalur dan menuntut pembagian keuntungan yang mereka peroleh dengan susah payah dengan mengorbankan kehancuran suatu negara.

Akhirnya Murong Chui berkata dengan pelan, “Yang Mulia, saya dengar ada dua pembunuh Han lainnya selain Shulü Kong. Salah satu dari mereka telah melarikan diri bersamanya dari Istana Weiyang, sementara yang lain ditahan di istana, dan seorang yang ditahan di sini adalah putra bungsu keluarga Feng dari Bank Xifeng. Benarkah itu?!”

“Kenapa Chanyu yang Agung berkolusi dengan sekelompok orang Han?” Kata Murong Wei tidak percaya.

Fu Jian berkata tanpa menjawab pertanyaan itu, “Tuoba Yan sudah memimpin para penjaga kekaisaran untuk mengepung Gunung Song. Klan Feng melarikan diri untuk menghindari penangkapan; seluruh keluarga mereka sudah meninggalkan kota dalam semalam.”

“Dimana dia?” Akhirnya seseorang tidak bisa menahan amarahnya lagi, “Serahkan dia!”

“Betapa kurang ajarnya!” Wang Ziye berbicara dan menegurnya atas nama Fu Jian.

Fu Jian menjawab, “Aku tidak bisa menyerahkannya pada kalian semua. Zhen saat ini sedang menginterogasinya. Aku pasti akan memberi tahu semua orang tentang laporan terkait dirinya dalam tiga hari. Dibandingkan dengan orang lain, rasa sakit yang dirasakan Zhen jauh lebih buruk. Kalian semua kembalilah dan pikirkan dengan jernih; tenanglah, sesi pengadilan kali ini ditutup.”

Fu Jian baru saja kehilangan kekasihnya, jadi dia tidak peduli lagi tentang betapa kasarnya keluarga Murong. Tapi pada sore itu, prajurit militer di Kota Chang’an mulai bergerak dengan alasan bahwa Chanyu yang Agung, Shulü Kong, sedang merencanakan pemberontakan. Namun, Shulü Kong sendirian di kota ini, dan prajurit dari Perjanjian Chi Le Kuno berada di luar Tembok Besar. Hal ini akan menjadi jelas bagi setiap orang bahwa bahkan jika sekarang Shulü Kong akan mengeluarkan seruan senjata untuk membunuh penguasa yang tidak mampu itu dan mengamankan tanah di dalam jalur itu, para prajuritnya masih membutuhkan setidaknya sepuluh hari untuk tiba di Chang’an bahkan saat mereka sudah bergegas secepat mungkin. Para prajuritnya tidak akan bisa lebih cepat untuk tiba di Chang’an bahkan sebelum mereka menyelesaikan hal yang besar ini, kemudian membersihkan negara dari para pengkhianat dan mendukung keluarga Jin. Jadi, siapa yang sedang Fu Jian lindungi dengan melakukan hal ini?

Satu-satunya kemungkinan adalah klan Murong.


Chen Xing mendorong pintu gudang kayu sampai terbuka dan melihat keluar.

Keluarga ini sangat tenang, jadi dia merasa sedikit khawatir. Apa istana entah bagaimana caranya berhasil menyembunyikan berita itu?

Xiang Shu tidak kehilangan banyak darah, jadi luka di kulitnya segera sembuh. Dia bangkit dengan pedang di punggungnya.

“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Chen Xing melewati koridor. Tempat itu adalah sebuah kediaman yang sangat besar, namun tidak ada seorang pun di belakang kediaman tersebut. Saat mereka sampai  di dapur, sarapan sudah disiapkan di dalam.

“Aku harus bertemu dengan Jian Tou,” kata Xiang Shu, “Untuk memastikan keamanannya, lalu memikirkannya cara untuk menyelamatkan Feng Qianjun. Karena Putri Qinghe memiliki keinginan untuk membalas dendam, dia pasti sudah lama memendamnya. Kita tidak tahu berapa banyak orang yang dimiliki oleh kelompok itu, dan jika seekor anjing yang terpojok sudah putus asa, Jian Tou bahkan tidak perlu memikirkan balas dendam — dia mungkin bahkan tidak akan bisa bertahan hidup. Kita harus segera bersiap.”

Chen Xing tahu bahwa sekali Xiang Shu menyembunyikan dirinya dalam kegelapan, dengan kehebatan bela dirinya, tidak ada seorangpun yang bisa menyentuhnya. Bahkan jika serangannya tidak berhasil, dia masih bisa mundur tanpa terluka. Namun, jika Xiang Shu membawanya, akan sulit untuk mengatakan apa yang akan terjadi nantinya.

Chen Xing berkata, “Aku…….”

Xiang Shu, “?”

Chen Xing berkata pada Xiang Shu, “Aku tidak akan pergi bersamamu dan tidak akan membebanimu.”

Chen Xing merasa sangat terganggu. Semalam, Xiang Shu tidak akan melakukannya jika dia tidak melindungi Chen Xing.

Xiang Shu, “Kau akan menunggu disini?”

Chen Xing, “Aku akan mencoba memikirkan cara lain.”

Xiang Shu tetap terdiam saat dia dengan serius mempertimbangkan saran dari Chen Xing. Namun, Chen Xing tiba-tiba berubah pikiran, “Bagaimana jika Fu Jian tidak percaya padamu? Haruskah kita menemukan Cermin Yin Yang dan membiarkannya secara pribadi untuk memeriksanya…”

“Jika dia ingin mempercayaiku, dia akan percaya pada apapun yang aku katakan,” Xiang Shu hanya mengatakannya apa adanya, “Jika dia tidak mempercayaiku, dia juga tidak akan mempercayai apa pun yang akan kita tunjukkan padanya.”

Chen Xing berpikir bahwa itu benar. Xiang Shu membuka pintu gudang kayu dan pergi. Cahaya matahari sangat menyilaukan sampai Chen Xing hampir tidak bisa membuka matanya. Xiang Shu melihat ke kiri dan ke kanan, lalu berkata, “Kau harus menemukan tempat yang aman untuk bersembunyi.”

Chen Xing tiba-tiba berhenti. Dia melihat kereta yang terparkir di halaman belakang, dan keduanya segera saling memandang satu sama lain. Keduanya sudah mengenali kereta itu — itu adalah kereta milik Tuoba Yan. Tadi malam, entah bagaimana caranya, mereka melarikan diri ke kediaman Tuoba Yan karena kombinasi kebetulan yang aneh! Pantas saja tidak ada tanda-tanda aktivitas yang terjadi sepanjang pagi. Tidak peduli seberapa teliti para penjaga kekaisaran dalam pencarian mereka, mereka tidak akan menggeledah kediaman mereka sendiri.

Saat itu sebuah suara terdengar dari luar. Kelihatannya, Tuoba Yan sepertinya sudah kembali.

“Aku akan pergi untuk menemuinya.” Kata Chen Xing.

“Jangan pergi untuk mencari kematianmu,” Xiang Shu berkata, “Pergilah sekarang!”

Chen Xing melambaikan tangannya dan dengan cepat berlari melewati koridor. Tuoba Yan mengalami pukulan yang sangat berat semalam. Setelah malam berlalu, dia sekarang berada di ambang kehancuran. Untungnya, Fu Jian bukanlah orang yang bodoh meskipun dia mengamuk dengan gila dan tidak menyeretnya ke penjara untuk menghukumnya. Yang dia lakukan hanyalah memberi tahu seluruh prajurit untuk menangkap Xiang Shu dan Chen Xing dengan segala cara.

Jika tidak, yang pertama akan ditangkap dan dibunuh karena kematian Putri Qinghe adalah Tuoba Yan. Mengesampingkan tanggung jawab berat yang harus dipikulnya, dia berpikir bahwa Qinghe memperlakukannya seperti adik kecilnya, jadi dalam hal kesedihan, orang yang paling merasakan kesedihan di seluruh Kota Chang’an selain Fu Jian adalah Tuoba Yan.

Tuoba Yan menarik napas dalam-dalam. Dia menutupi dahinya dengan satu tangan, membenamkan matanya di telapak tangannya. Dia duduk sendirian di aula dan terus terengah-engah. Darurat militer sudah diberlakukan di kota, dan penjaga kekaisaran melakukan pencarian besar-besaran di mana-mana. Keluarga Murong bahkan sudah mencela para penjaga kekaisaran dan berjanji akan menghukum Tuoba Yan karena melalaikan tugasnya. Melihat bagaimana kecemasan dan amarah yang mengacaukan pikiran Tuoba Yan, bawahannya khawatir bahwa pemuda yang bahkan belum berusia dua puluh tahun ini akan melakukannya sesuatu yang tidak akan bisa diperbaiki karena dorongan hatinya, jadi mereka mengantarnya kembali untuk beristirahat sejenak dan meyakinkannya bahwa mereka akan melapor padanya segera setelah mereka mendapatkan berita apa pun.

“Tuoba Yan, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.” Tiba-tiba terdengar suara Chen Xing.

Tuoba Yan langsung mendongak dan menatap Chen Xing dengan tidak percaya.

Tanpa ada yang memperhatikan, Chen Xing tiba-tiba muncul di aula. Tuoba Yan segera bereaksi dan bangkit, tapi Chen Xing berkata, “Tuoba Yan!”

Tuoba Yan terengah-engah saat dia melihat Chen Xing. “Kau…. kau….”

Chen Xing mengangkat satu tangan dan berkata, “Jika kau mau mendengarkanku, maka dengarkanlah. Jika tidak, ikat aku sekarang dan bawa aku pada Fu Jian.” Saat dia berbicara, dia membuka lengan bajunya untuk menunjukkan bahwa dia tidak bersenjata. Touba Yan melihat ke kiri dan ke kanan, untuk memastikan bahwa dia datang sendirian.

Tuoba Yan tidak memanggil siapa pun, jadi Chen Xing tahu bahwa masih ada harapan.

Mata Tuoba Yan sangat merah. Dia menangis sedih, “Apa yang terjadi Kenapa Chanyu yang Agung membunuhnya?! Itu tidak masuk akal! Kau harus menjelaskan semuannya padaku!”

Chen Xing menarik napas dalam-dalam sebelum menceritakan seluruh kejadian padanya. Semakin Tuoba Yan mendengarkannya, semakin tidak masuk akal menurutnya, tapi dia tidak menyela Chen Xing. Alisnya mulai mengkerut dalam.

“Itu…..” Touba Yan berkata, “Itu sangat tidak mungkin! Kenapa dia…”

Chen Xing menjelaskan, “Dia pasti sudah diperdaya dan dimanipulasi. Tuoba Yan, pikirkan hal ini baik-baik, apa dia pernah berperilaku tidak normal?”

Tuoba Yan bangkit dan mondar-mandir di aula untuk sejenak, dan kemudian tiba-tiba dia melihat ke arah Chen Xing.

“Dimana cerminnya?” Chen Xing berkata, “Selama aku memiliki cermin itu, aku bisa membuktikannya padamu.”

Tuoba Yan memulihkan kembali ketenangannya dan berkata, “Aku tidak tahu. Pada saat itu, situasinya sangat kacau. Kau… bagaimana mungkin? Dia berlatih seni iblis?”

Chen Xing berkata, “Masih ada cara lain. Temukan Feng Qianyi, biarkan aku menemuinya.”

Tuoba Yan, “Semua orang di keluarga Feng sudah berkemas dan pergi pada tengah malam semalam.”

Chen Xing, “!!!”

Chen Xing mendekati Tuoba Yan, yang duduk dengan putus asa. Dia bergumam, “Keluarga Murong sudah menyebabkan keributan besar dan menuntut untuk mengetahui… kemana perginya Chanyu yang Agung? Dia…. bahkan jika dia berlatih seni iblis, kenapa Chanyu yang Agung harus melakukannya?”

Chen Xing duduk di samping Tuoba Yan. Dia ingat bagaimana Putri Qinghe secara pribadi bertindak sebagai mak comblang untuk Tuoba Yan, jadi dia bisa menebak bahwa mereka berdua dekat seperti saudara kandung. Selain itu, pelaku yang dilihat oleh semua orang pada malam itu adalah Xiang Shu, jadi sampai sekarang Tuoba Yan masih belum menganggap Chen Xing sebagai kaki tangannya, dan dia tidak bisa melakukan apapun, hanya bisa merasa kesal.

Chen Xing merenung sejenak, mengulurkan tangannya, dan cahaya putih dan hangat dipancarkan dari telapak tangannya. Dia meletakkan tangannya di bawah lengan Tuoba Yan dan dengan lembut menekan tangannya ke dadanya.

Tuoba Yan menghembuskan napas dan sekarang tampak jauh lebih baik. Chen Xing berkata, “Xiang Shu pergi mencari cara untuk bernegosiasi dengan Fu Jian.”

Sekarang, tidak ada gunanya karena tidak peduli siapapun yang akan mereka coba untuk bujuk. Fu Jian adalah seseorang yang memiliki kekuatan untuk memutuskan segalanya. Mereka hanya akan bisa menyelesaikan kesalahpahaman ini jika mereka menghindari ketajaman dan menjelaskan semuanya dengan jelas.

Tuoba Yan bangkit dan berkata, “Aku akan mengeluarkan perintah untuk memburu klan Feng sekarang.”

Chen Xing tidak terlalu banyak berharap. Jika dia meminta Tuoba Yan melindunginya, dia akan dituduh melindungi dan menyembunyikan seorang penjahat, yang akan setara dengan menjadi pelaku dalam komplotan ini. Namun, poin terpenting kenapa dia muncul di depan Tuoba Yan adalah hal ini: dia setuju dengan pendapat Xiang Shu bahwa mereka harus memastikan Cermin Yin Yang tidak jatuh ke tangan Feng Qianyi atau ke kaki tangannya yang lain lagi. Sebagai gantinya, dia bahkan rela pergi secara langsung untuk menemui Fu Jian dan membiarkannya Tuoba Yan melindungi Cermin Yin Yang.

Tuoba Yan melirik Chen Xing dan berkata dengan gelisah, “Sekarang, kau tidak bisa masuk istana. Setelah kau dipenjara, klan Murong akan memikirkan segala macam cara untuk membunuhmu untuk membalaskan dendam Biaojie.” Saat dia berbicara, dia mengerutkan keningnya, seolah-olah dia menanggap bahwa ini adalah keputusan yang sangat sulit, lalu dia melanjutkan, “Atau mereka akan menyanderamu dan memaksa Chanyu yang Agung untuk muncul.”

“Tinggallah di rumahku,” Tuoba Yan memikirkannya berulang kali sampai akhirnya dia mengatakan hal ini, “Ini adalah tempat yang paling aman saat ini.”

Chen Xing sangat terkejut. Dia berkata, “Tidak! Kau akan menyembunyikan seorang penjahat…”

Namun Tuoba Yan hanya melambaikan tangannya dan pergi sendirian. Dia memanggil anak buahnya untuk datang dan memerintahkan mereka untuk tidak membiarkan siapa pun masuk ke aula. Chen Xing berdiri di satu sisi layar, dan setelah mendengarkan mereka dengan hati-hati, dia tahu bahwa Tuoba Yan sudah meminta seseorang untuk masuk ke istana dan terlebih dulu akan mengambil cermin semalam, lalu meninggalkan Chang’an dengan sekelompok orang untuk memburu keberadaan Feng Qianyi dan keluarganya.

“Keluarga Feng pasti belum melarikan diri terlalu jauh.” Setelah Tuoba Yan kembali, dia memberi isyarat pada Chen Xing untuk beristirahat sejenak di tepi dipan.

“Kau pasti sangat lelah ba?” Tuoba Yan bertanya, “Tidurlah sebentar. Aku akan menyuruh seseorang untuk mengantarkan makanan.”

Chen Xing merasa sangat terharu. Dia baru saja akan berbicara saat Tuoba Yan berkata, “Apa menurutmu aku melindungimu karena aku menyukaimu?”

Chen Xing langsung merasa sangat canggung. Wajahnya memerah, dan dia berpikir bahwa barbarian ini baru saja berbicara terlalu terang-terangan, jadi dia hanya bisa melambaikan tangannya berulang kali untuk memberi isyarat agar dia tidak melanjutkan membicarakan hal ini lebih jauh. Namun tanpa diduga, Tuoba Yan melanjutkan, “Tidak, Saudara Tianchi. Hal terpenting saat ini bukan lagi penyebab kematian Biaojie3. Begitu ratusan ribu ‘iblis kekeringan’ yang saat itu kau bicarakan dilepaskan, konsekuensinya adalah akan terjadi bencana. Kau satu-satunya orang yang bisa menghadapi bahaya ini, jadi aku pasti tidak akan bisa mengirimmu ke istana.”

Chen Xing menghela napas lega. Dia tidak menyangka Tuoba Yan akan menyatakan sesuatu yang tepat sasaran dengan kata-katanya yang sangat singkat dan dia sangat terang-terangan tentang hal itu. Baginya untuk mengambil posisi sebagai komandan penjaga istana diusianya yang baru delapan belas tahun, Chen Xing bisa melihat bahwa Fu Jian sudah menilainya dengan baik.

Saat Xiang Shu, yang sedang bersembunyi di balik layar, mendengar inti pembicaraan mereka, dia tahu bahwa Tuoba Yan kurang lebih percaya dengan apa yang Chen Xing katakan, jadi dia melompat melalui jendela yang ada di belakang aula dan pergi dalam diam.

“Terima kasih,” Chen Xing merasa seperti beban yang sangat besar baru saja diangkat dari bahunya, dan dia berkata dengan tulus, “Terima kasih, Saudara Touba.”

Tuoba Yan mengeluarkan sebuah peta dan menyebarkannya di atas meja. Chen Xing melihat sekilas dari sudut matanya dan mengetahui bahwa itu adalah peta tata letak dari pertahanan kota. Tuoba Yan menghela napas lagi, “Sekarang setelah kematian Biaojie, keluarga Murong tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah. Sekarang, tingkat paling berbahaya sudah berada di puncaknya; kita hanya bisa berharap bahwa Chanyu yang Agung akan membatalkan simpul kematian ini secepat mungkin.”

Chen Xing tidak berani untuk melihatnya dan secara diam-diam dia merasa terkejut. Apa yang terjadi tadi malam pasti memperburuk konflik antar orang orang Xianbei dan Fu Jian; sebagai orang-orang dari negara Yan yang sudah ditaklukkan, klan Murong mungkin mendukung Qinghe dalam rencana rahasianya untuk melakukan pemberontakan pada Fu Jian. Jika memang begitu, orang yang memanfaatkan kebencian untuk menciptakan iblis kekeringan dan dunia cermin adalah keluarga Murong, dan masalah yang mereka hadapi hanya akan bertambah buruk.

Fu Jian akan dihadapkan dengan pemberontakan yang dilakukan klan Murong, dan Tuoba Yan juga berada dalam situasi yang cukup berbahaya.

Chen Xing memikirkannya berulang kali, tapi dia tidak tahu bagaimana cara untuk menghiburnya dan hanya bisa berkata, “Jika kita bisa menemukan cermin itu, aku jamin tidak akan ada masalah setelah itu.”

Tuoba Yan mengangguk dengan sungguh-sungguh dan mulai mengatur ulang pengaturan pasukan di Kota Chang’an.

Dua jam kemudian, Chen Xing yang masih cukup bertenaga terus menerus merenung, namun Tuoba Yan sudah terlebih dulu tertidur di atas meja. Chen Xing berjalan mendekat untuk melihatnya; di satu sisi meja, kata-kata “Terus Maju untuk Menyerang” yang belum lama ini dia transkrip secara pribadi untuk Tuoba Yan tersebar di sana.

Pada saat itu, sebuah suara bisa terdengar dari luar aula. Chen Xing dengan cepat membangunkan Tuoba Yan sebelum dia bersembunyi di balik layar.

Tuoba Yan sedikit tersadar dan berteriak, “Bagaimana hasilnya?”

“Kami telah mencari keberadaan cermin itu di seluruh istana Changfeng,” bawahannya menjawab, “Tapi kami tidak melihat cermin bundar yang Jendral inginkan. Kami sudah bertanya kepada Yang Mulia, tetapi Yang Mulia berkata dia tidak bisa mengingat hal itu.”

Hati Chen Xing tersentak. Tuoba Yan tidak mengatakan apapun, dan bawahannya melanjutkan, “Sebelum datang ke sini, kami sudah memberi tahu petugas istana untuk mengirimkannya ke sini segera setelah mereka menemukan cermin itu.”

Tuoba Yan bertanya, “Yang Mulia mengatakan apa lagi?”

“Yang Mulia sedang berdiskusi dengan Tuan Wang Ziye.” Jawab bawahannya.

Jadi Tuoba Yan hanya bisa melambaikan tangannya untuk memberi isyarat agar mereka pergi. Semakin Chen Xing memikirkannya, semakin dia curiga. Hanya lima orang yang berada di tempat kejadian tadi malam — dirinya sendiri, Xiang Shu, Feng Qianjun, Fu Jian, dan Tuoba Yan, lalu mereka berdua melarikan diri dengan tergesa-gesa dalam kekacauan yang sedang terjadi. Lalu siapa yang bisa mengambilnya?

“Akan sangat berbahaya sekarang,” kata Chen Xing, “Tuoba Yan, akan lebih baik untukmu untuk memindahkan semua pasukan kembali untuk menjaga kota.”

Tuoba Yan belum mengatakan apapun saat bawahannya berteriak lagi dari luar, “Lapor — Jenderal! Setelah keluarga Feng meninggalkan kota, jejak mereka tidak dapat ditemukan di mana pun, dan keberadaan mereka masih tetap tidak diketahui. Kami sudah mengirim orang untuk mengejar mereka di sepanjang Jalan ke Enam Belas.”

“Ini sangat aneh,” Tuoba Yan mengerutkan keningnya, “Dia memiliki keluarga yang harus dia bawa bersamanya, dan Feng Qianyi juga lumpuh, jadi mereka seharusnya tidak bisa melarikan diri terlalu jauh.”

Chen Xing berkata, “Maka hanya ada satu kemungkinan yang tersisa — mereka bersembunyi di dalam cermin. Jadi masalah baru sudah muncul… jadi, sekarang siapa yang memegang Cermin Yin Yang?”

Para penjaga kekaisaran berada di bawah komando keluarga kerajaan, jadi mereka tahu halaman istana seperti halnya punggung tangan mereka. Bahkan, jangankan hanya menemukan sebuah cermin, bahkan jika mereka harus menemukan sebuah jarum, mereka akan mampu untuk menemukannya. Tapi Cermin Yin Yang masih saja menghilang. Pasti ada seseorang yang mengendalikan semua ini dari balik layar.

“Lapor–” Gelombang ketiga bawahannya tiba-tiba datang dan berteriak, “Yang Mulia telah mengeluarkan perintah: tiga perempat setelah periode you4 dimulai, di tempat eksekusi yang berada di jalan masuk Barat, Yang Mulia akan memenggal kepala seorang pembunuh semalam yang berada di istana – Feng Qianjun.”

Chen Xing, “!!!”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Footnotes

  1. Untuk menghilangkan tuduhan yang salah.
  2. Menteri yang bertanggung jawab atas dokumen dan peringatan takhta.
  3. Sepupu perempuan yang lebih tua, dari garis perempuan.
  4. Periode you = 5-7pm, jadi tiga perempat setelah itu adalah pukul 5.45pm.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments