Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: Keiyuki17


Kereta itu bergoyang maju mundur saat melintasi jalan panjang yang sepi di tengah malam. Chen Xing masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Feng Qianyi, dan pikirannya berada dalam kekacauan besar. Yuwen Xin secara pribadi menggantung orang tuanya? Tapi kenapa?! Dia belajar di bawah keluarga Chen! Apa Ayah tidak memperlakukannya dengan cukup baik saat itu?

“Kau tidak sepenuhnya tidak peduli dengan balas dendam, bukan?” Suara dingin Feng Qianyi masih terdengar di samping telinganya.

Chen Xing menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam. Dengan kepala menunduk, dia terus memijat celah di antara alisnya dengan ibu jari dan telunjuknya.

Xiang Shu memacu kudanya di sepanjang jalan panjang itu. Saat melewati jalan Hanguangmen, suara genderang yang dipukul untuk menandakan jam malam berangsur-angsur memudar ke kejauhan, dan embusan angin bertiup.

Xiang Shu segera mendongak dan melihat bayangan yang sangat samar dan kabur melompat keluar dari pepohonan di tepi jalan, lalu menyapu melewati tembok tinggi.

Xiang Shu mengerutkan keningnya. Dia membalikkan kudanya dan berteriak hampir pada saat yang bersamaan, “Jia!”

Kuda perang itu berbalik dan bergegas menuju kereta yang melaju menuju Hanguangmen di sepanjang jalan panjang. Begitu Xiang Shu melihat bayangan yang terpantul di dinding, dia melesat ke arah kereta dan berteriak, “Keluar dari kereta!”

Kusir mencoba melihat lebih dekat, tapi dia tidak melihat bayangan apapun dan hanya melihat Xiang Shu bergegas dengan pedang di tangan. Dia takut kuda itu akan menabrak sesuatu dengan dirinya yang masih ada di dalam kereta, jadi dia langsung menjatuhkan dirinya dan jatuh ke pinggir jalan. Dalam waktu singkat, bayangan itu sudah sampai di depan gerbong; bayangan itu tampak memegang pedang saber panjang gelap di kedua tangannya dan mengayunkannya secara horizontal ke atas kereta, memotongnya.

Dengan “wusss“, pedang milik bayangan itu memotong apapun di hadapannya seperti memotong kertas, kepala dan tubuh kusir terbang ke tempat yang terpisah. Gerbong itu diiris tepat di tengahnya menjadi dua bagian, dan bagian atasnya miring saat terbang dan mendarat sekitar satu zhang jauhnya. Orang yang duduk di dalam hampir akan dipotong menjadi dua——

Kepala Chen Xing terkubur di lututnya sendiri dalam kesedihan, tapi embusan angin dingin tiba-tiba bertiup dari punggungnya.

Chen Xing, “?”

Chen Xing duduk tegak dan melihat ke sekelilingnya. Kenapa gerbong ini berubah menjadi gerobak tangan?

Dalam sepersekian detik, Xiang Shu meninggalkan kudanya dan naik ke kereta, lalu terbang melewati sisi Chen Xing. Chen Xing belum melihat sekelilingnya dengan jelas dan berpikir bahwa Xiang Shu tiba-tiba kehilangan akal sehatnya dan telah berbalik untuk memotong kereta menjadi dua, jadi jiwanya segera tersebar saat dia meraung, “APA KAU GILA?!”

Bayangan itu bergegas melesat ke dinding dengan “wusss“. Xiang Shu mengayunkan pedangnya untuk menusuknya, diikuti dengan munculnya kembali pedang saber gelap milik bayangan itu yang kemudian dikeluarkan dari dalam dinding. Xiang Shu tiba-tiba membungkuk ke belakang, dan bilahnya melesat kurang dari satu inci dari wajahnya dengan rasa dingin yang tertinggal sesudahnya.

Chen Xing keluar dari gerbong dengan tergesa-gesa. Xiang Shu berteriak, “Cepat dan bantu aku!”

“Bagaimana aku bisa membantumu??” Chen Xing benar-benar bingung saat dia berdiri di jalan. Dari sudut pandangnya, Xiang Shu hanya menghancurkan dinding secara acak.

“Chanyu yang Agung?” Chen Xing bertanya, “Apa kau baik-baik saja? Apa kau …… secara tidak sengaja menghancurkan gerbongnya?”

Xiang Shu, “……”

Begitu Chen Xing turun, bayangan itu melepaskan diri dari perkelahiannya dengan Xiang Shu dan menghambur ke tanah, lalu menyapu ke arah Chen Xing. Xiang Shu segera berbalik dan mengejar, berteriak, “Cahaya!”

Kali ini, Chen Xing melihat bayangan itu. Dia segera mengaktifkan Cahaya Hatinya, dan dalam sekejap kilatan cahaya terang menyinari area di sekitarnya. Bayangan itu menghilang tanpa jejak di tempat yang dilintasi oleh cahaya itu; cahaya dari Cahaya Hati menerangi mayat kusir yang ada di pinggir jalan, dan begitu Chen Xing melihatnya, dia langsung terpana!

“Apa ini?!” Chen Xing segera mundur selangkah.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu.” Xiang Shu berkata dengan dingin, lalu berteriak, “Di belakangmu! Dia ada di sini lagi!”

Chen Xing segera berbalik. Xiang Shu mengambil langkah besar ke depan dan memblokir di depan Chen Xing dengan pedang di tangannya. Chen Xing berteriak, “Seekor yao!” Kemudian dia memaksimalkan kekuatan dari Cahaya Hati, dan senjata di tangan Xiang Shu langsung menyala. Bayangan itu tampak ragu sejenak tapi masih meluncur ke arah mereka berdua. Namun, Xiang Shu bahkan lebih cepat dari bayangan itu dan berhasil memaku bayangan itu ke tanah dalam sekejap. Awan kabut hitam meletus dari bayangan, lalu mundur, berputar di tempat, dan melepaskan semburan angin yang menakutkan.

Xiang Shu memblokir Chen Xing dengan satu tangan dan tidak membiarkan dia bergerak maju. Chen Xing mengintip dari belakang Xiang Shu dan melihat dengan ngeri, “Y-y-ya …… yao macam apa itu? Bukankah keheningan menimpa semua sihir?! Kenapa Chang’an memiliki yao?!”

Keduanya menyaksikan bayangan itu; bayangan itu tampaknya sedikit mengkhawatirkan Chen Xing dan perlahan-lahan mundur.

Xiang Shu, “Bukankah kau seorang pengusir setan? Usir dia!”

Chen Xing menyalakan Cahaya Hati beberapa kali untuk mencoba dan mengusir bayangan itu, tapi bayangan itu hanya akan berputar di luar cakupan iluminasi dan tidak berani mendekatinya dengan sembarangan.

“Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya!” Chen Xing benar-benar tidak sadar dan hanya berseru, “Selain memancarkan cahaya, aku tidak bisa menggunakan mantra lain!”

Xiang Shu sangat marah pada Chen Xing sehingga penglihatannya menjadi hitam, kalau kau tidak tahu cara mengusir setan, kau bisa menakut-nakutinya, kenapa kau mengatakannya dengan keras seperti itu? Sekarang yao itu juga tahu!

Dan benar saja, di saat berikutnya, bayangan itu mulai mengubah bentuk, memanjang, kemudian meluncurkan pusaran angin dari tanah dengan suara deru. Dari dalam pusaran angin, sosok yang dibalut baju besi berat dari ujung kepala sampai ujung kaki secara bertahap muncul.

Suara langkah kaki yang menghantam tanah melintas dari kejauhan – penjaga yang sedang berpatroli telah tiba.

Xiang Shu membuat keputusan yang begitu menentukan di tempat saat itu juga — dia mengunci pergelangan tangan Chen Xing dan menyeretnya mundur. Chen Xing tidak punya waktu untuk berpikir sebelum seluruh tubuhnya diseret ke udara oleh Xiang Shu. Xiang Shu berlari ke dinding yang ada di samping jalan dalam dua langkah, menabrak dada Chen Xing, dan mengangkatnya.

Seorang prajurit yao yang mengenakan baju besi hitam pekat bergegas keluar dari pusaran angin itu dan melesat di udara saat prajurit itu terus mengejar mereka. Pedangnya hendak menusuk langsung ke punggung Xiang Shu saat Chen Xing bergegas mengangkat tangannya; dengan tangan kirinya yang melingkari pinggang Xiang Shu, tangan kanannya menembus dari bawah tulang rusuknya, dan kilatan cahaya muncul dari telapak tangannya.

Dalam sekejap, Chen Xing tiba-tiba melihat pelindung kepala yao itu …… dan tiba-tiba berpikir jika itu tampak sedikit familiar.

Prajurit berbaju besi hitam itu meraung dan jatuh dari dinding. Xiang Shu beralih dari berjongkok menjadi memeluknya dan dengan kuat memeluk Chen Xing. Dia menendang tembok tinggi itu dengan satu kaki dan melewati tembok kediaman pejabat di pinggir jalan, lalu membawa Chen Xing bersamanya saat dia melompat lagi dan menyeberangi kediaman itu. Setelah melompat ke atas atap, keduanya meluncur ke samping bersama-sama dan meluncur turun dari atap genteng.

Melewati dinding lain, melompati atap lain, dan mereka sudah melewati dua tempat tinggal dalam sekejap mata. Baru kemudian Chen Xing menyadari bahwa Xiang Shu melarikan diri!

Chen Xing, “Kita akan lari begitu saja?”

Xiang Shu tampak marah dan bertanya dengan marah, “Memangnya apa lagi?!”

Chen Xing setengah dipeluk oleh Xiang Shu, dan keduanya sangat dekat satu sama lain. Xiang Shu memiliki paru-paru yang sangat kuat, jadi dengan raungan yang dia teriakan tepat di samping Chen Xing, Chen Xing hampir menjadi tuli, dan dia dengan cepat berkata, “Bukan itu yang aku maksud, monster itu ……”

Xiang Shu memasang ekspresi muram dan sudah membawa Chen Xing menjauh dari jalan utama dalam sekejap. Mereka berdua berada tidak jauh dari istana sekarang, dan tembok tinggi yang hampir setinggi dua zhang tampak seperti tanah datar bagi Xiang Shu. Sebelum waktu yang dibutuhkan untuk membakar dupa berlalu, mereka sudah memasuki taman. Chen Xing berjuang untuk menjaga pijakannya saat mendarat; kepalanya berputar-putar, dan saat dia akan melihat ke belakang untuk melihat apakah bayangan itu mengejar mereka, Xiang Shu dengan sombong meraih lengan Chen Xing dan secara praktis menyeretnya kembali ke kamar tidur.

Di dalam aula, enam kasim sedang menunggu untuk melayaninya. Xiang Shu berkata dengan suara yang dalam, “Nyalakan semua lampu.”

Di tengah malam, kamar tidur itu tampak begitu terang benderang. Xiang Shu kemudian melambaikan tangannya lagi untuk memberi isyarat agar semua orang pergi.

Chen Xing sama sekali belum tenang. Dia duduk untuk mencari teh untuk diminum dan berkata, “Monster itu adalah sha ……”

Sebelum dia selesai berbicara, Xiang Shu mencengkeram kerah baju Chen Xing, dan tehnya tumpah ke seluruh tubuhnya.

Chen Xing, “!!!”

Kilatan berbahaya melintas di mata Xiang Shu. Dia menyeret Chen Xing dari sisi meja ke pilar dan menekannya ke pilar disana. Chen Xing terus berjuang, wajahnya benar-benar memerah. “Apa yang kau lakukan di tempat sekelompok Han itu tinggal?!” Xiang Shu menekan suaranya dan hampir menggeram pada Chen Xing, “Dan aku benar-benar percaya pada omong kosongmu!”

Chen Xing berjuang dengan panik. Dia mencengkeram pergelangan tangan Xiang Shu dengan kedua tangannya, tapi seolah-olah lengan Xiang Shu terbuat dari besi, dia bahkan tidak bisa bergerak sedikit pun. Embusan napas marah Xiang Shu sangat dekat, dan seluruh tubuhnya memancarkan niat membunuh di ambang kegilaan. Chen Xing diangkat ke udara; matanya sejajar dengan mata Xiang Shu, dan dia benar-benar tidak punya cara lain selain menggunakan gerakan jahat “tendangan berbahaya” dan mencoba untuk menendang Xiang Shu di selangkangannya.

Gerakan ini tidak hanya akan menyebabkan kerusakan yang tak terkatakan pada lawan, tapi juga bisa dengan mudah membuat marah lawan. Namun, Chen Xing sekali lagi salah menilai kekuatan Xiang Shu. Yang dilakukan Xiang Shu hanyalah menjentikkan jari kirinya dengan lembut, dan dia menjentikkan titik akupuntur yang ling quan di bawah lutut Chen Xing. Dalam sekejap, separuh tubuh Chen Xing terasa sakit dan mati rasa.

Chen Xing tersentak lama sebelum dia duduk, lalu dia menatap kosong ke arah Xiang Shu.

“Aku seorang Han,” Chen Xing akhirnya meledak saat dia menukas marah, “Memangnya itu urusanmu ke mana aku pergi?!”

Xiang Shu berteriak, “Sekelompok orang itu sedang merencanakan pemberontakan! Apa yang kau lakukan hanyalah mendekati kematianmu sendiri!”

Chen Xing bergidik — bagaimana kau bisa tahu?!

Ketika dia berbicara, Xiang Shu sudah mencabut pedangnya secepat kilat. Chen Xing duduk di lantai dan dengan cepat mundur, tapi pedang panjang Xiang Shu sudah ditempatkan di tenggorokannya. Dia memandang rendah dirinya dari atas dan berkata dengan dingin, “Kau bukan pengusir setan, kau berbohong! Jelaskan semuanya kepadaku dengan sejelas-jelasnya. Kalau kau berbohong kepadaku sekali lagi, aku akan mengambil nyawa anjing milikmu sekarang!”

Chen Xing tidak bisa berhenti terengah-engah. Ujung pedang yang sedingin es itu diletakkan di tenggorokannya; dia menatap Xiang Shu dan segala macam perasaan memenuhi hatinya untuk sesaat. Segudang urusan rumit malam ini melonjak, dan semuanya terlintas di benaknya.

“Kalau kau tidak percaya padaku, lakukan saja.” Chen Xing menahan kesedihannya saat dia dengan keras kepala berkata, “Ayo ah! Bunuh aku!”

Dia mengingat apa yang dikatakan Feng Qianyi; kematian orang tuanya, pengkhianatan Yuwen Xin… Chen Xing akhirnya tidak bisa menahannya lagi — air matanya mengalir tak terkendali di pipinya.

Xiang Shu, “……”

Xiang Shu sama sekali tidak mengharapkan Chen Xing akan menangis. Dia mengangkat pedangnya sedikit dan mengamati Chen Xing dengan bingung. Chen Xing akhirnya berteriak, “Aku benar-benar ingin memberontak! Aku ingin membalas dendam untuk orang tuaku! Kau benar, semua yang aku katakan adalah kebohongan!”

“Diam!” Xiang Shu berteriak lagi. Dia takut suara Chen Xing akan menarik perhatian orang-orang. Ada banyak telinga dan mata di istana ini, dan bahkan jika dia adalah Chanyu yang Agung, merencanakan pemberontakan adalah hal yang sangat tabu.

Ledakan emosi Chen Xing berlangsung sesaat sebelum dia dengan cepat tenang kembali. Dia menatap mata Xiang Shu, tatapannya sama sekali tidak terganggu.

“Siapa yang mengirimmu ke sini? Apa kau tidak takut seluruh keluargamu akan dieksekusi?!” Xiang Shu akhirnya menerima penjelasan ini, tapi setelah memikirkannya dengan hati-hati, sepertinya ada lebih banyak hal yang tidak masuk akal di balik penjelasan itu.

Chen Xing menyeka air matanya dan berkata, “Aku sendiri yang ingin datang, kenapa aku harus takut seluruh keluargaku dieksekusi? Seluruh keluargaku sudah mati!”

Xiang Shu tertegun saat mendengar ini dan menarik pedangnya sebagai gantinya. Dia mengambil langkah maju, dan dalam tatapan yang dia berikan pada Chen Xing, beberapa kilatan perasaan simpati bisa dilihat. Dia mengulurkan tangan saat dia ingin menarik Chen Xing dari tanah, tapi begitu pergelangan tangannya bergerak sedikit, Chen Xing berpikir bahwa Xiang Shu akan memukulnya lagi jadi dia mundur ketakutan.

Keduanya saling memandang sejenak. Chen Xing tidak mengatakan apa-apa saat dia menghindari Xiang Shu, lalu dia perlahan merangkak ke tempat tidurnya dan berbaring dengan punggung menghadap Xiang Shu.

Jadi Xiang Shu memutuskan untuk mengganti pakaiannya sendiri dan duduk di ranjang utama.

Dengan ekspresi membunuh di wajahnya, dia akan melirik Chen Xing dari waktu ke waktu.

“Apa si pembunuh akan datang lagi?” Chen Xing menghadap dinding dan mengubah topik pembicaraan.

“Kau harus bertanya pada dirimu sendiri.” Xiang Shu berkata dengan dingin.

Chen Xing berkata, “Apa kusir tadi sudah mati?”

“Bagaimana menurutmu?” Xiang Shu menjawab dengan marah.

Chen Xing, “……”

Kenapa mereka tiba-tiba bertemu pembunuh seperti itu ketika Xiang Shu membawanya kembali ke istana Sebenarnya siapa identitas si pembunuh? Pelindung kepala itu …… dia terus merasa seperti dia pernah melihatnya sebelumnya di suatu tempat. Bahkan Xiang Shu tahu bahwa keluarga Feng sedang merencanakan pemberontakan secara rahasia? Kepala Chen Xing terasa sangat sakit sehingga dia tidak tahan lagi, dan dia masih merasa begitu pusing saat berkata, “Apa yang harus kita lakukan kalau lampunya mati nanti?”

Sangat jarang bagi Xiang Shu untuk berbicara dengan kalimat penuh, “Ini adalah wilayahku. Jika dia berani mengejar kita sampai ke sini, aku akan membunuhnya.”

Chen Xing sangat lelah sehingga dia bahkan tidak tahu kapan dia tertidur. Dia bermimpi bahwa yao besar tinggal di tubuh Xiang Shu, dan di jalan yang panjang dan gelap gulita, Xiang Shu melangkah maju dengan berani dan menggendongnya. Saat keduanya melompat ke atap dan melompati dinding, yao besar di dalam tubuh Xiang Shu muncul dan membungkus mereka berdua dengan tentakel hitam pekat yang tak terhitung banyaknya. Chen Xing terus berjuang, tapi tenggorokannya akhirnya tercekik.

Ketika dia tiba-tiba membuka matanya lagi, malam telah berlalu tanpa terjadi apa-apa. Matahari telah terbit setinggi tiga kutub, dan aula di belakang layar dipenuhi oleh para pria muda berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun.

Xiang Shu, dengan pakaian rapi, berdiri di depan cermin saat seorang kasim membantunya mengenakan pakaian Hu. Ketika dia berbalik dan keluar, semua pemuda itu sangat patuh saat mereka berturut-turut memanggil, “Chanyu yang Agung.”

“Chanyu yang Agung ……”

Chanyu yang Agung Chanyu yang Agung Chanyu yang Agung ……

Chen Xing berdiri dengan mata merah. Dia mengenakan pakaiannya dan menatap dingin pada Xiang Shu, yang sedang sarapan di aula. Sekelompok pria muda yang tampak cantik memadati aula, dan Yuwen Xin juga ada di sana. Dia duduk tegak di kursi agak jauh di belakang aula dan menatap iri pada pemuda Xianbei yang menuangkan secangkir air untuk Xiang Shu.

Xiang Shu melirik Chen Xing. Chen Xing memalingkan wajahnya dan mengabaikannya, tapi saat dia memalingkan kepalanya ke samping, dia tiba-tiba merasa seperti semua orang di aula menatapnya.

Ada catatan yang diletakkan di atas meja dengan nama Chen Xing tertulis di atasnya. Chen Xing membukanya untuk memeriksanya, dan melihat bahwa tulisan tangan di dalamnya tampak tebal dan kuat — itu adalah tulisan tangan Fu Jian. Kaisar sendiri sangat ingin mengundang Chen Xing untuk mengobrol di istana Taixing setelah Chen Xing bangun di pagi hari.

“Apakah Chanyu yang Agung ingin berjalan-jalan di Kota Chang’an hari ini?” Tanya seorang pria muda.

Xiang Shu tidak mengatakan apapun. Setelah menyelesaikan sarapannya, dia mulai minum teh.

Pemuda lain berkata, “Atau kita bisa pergi ke tempat berburu?”

“Ya ya.” Semua orang menyetujuinya sekaligus. Yuwen Xin melanjutkan, “Saya pernah mendengar bahwa Chanyu yang Agung memiliki keterampilan berkuda dan memanah yang luar biasa dan tak tertandingi di seluruh negeri; Saya sangat ingin melihatnya meskipun hanya sekilas.”

Xiang Shu tampak termenung, dan pemuda yang telah mengambil inisiatif untuk menunggunya bergerak sedikit lebih dekat. Dia tersenyum ketika dia ingin berbisik kepada Xiang Shu, dan Xiang Shu hendak mendorong kepalanya menjauh ketika Chen Xing tiba-tiba mendongak.

“Chanyu yang Agung,” kata Chen Xing, “Yang Mulia telah memanggil saya. Saya perlu melakukan perjalanan nanti.”

Xiang Shu tidak mendorong pemuda itu ke samping. Pemuda itu sudah setengah jalan berbicara ketika dia melirik Chen Xing, yang telah mengelilingi layar, dan mengungkapkan ekspresi permusuhan.

Siapa pemuda itu?! Mengapa dia tinggal di kamar Chanyu yang Agung? Apakah mereka menghabiskan malam bersama?

Chen Xing hampir bisa mendengar teriakan gila di dalam kerumunan itu hanya dari ekspresi mereka. Sudut mulutnya bergerak-gerak; Aku sama sekali tidak berniat merebut Chanyu yang Agungmu. Kalau kalian menyukai anjing gila itu, sukai dia saja terus, itu tidak ada hubungannya denganku. Kemudian dia memasukkan surat itu ke dalam sakunya dan tanpa menunggu jawaban Xiang Shu, dia langsung pergi ke istana Taixing untuk bertemu dengan kaisar, Fu Jian.

Sebelum pergi, Chen Xing sedang berada dalam dalam suasana hati yang sangat rumit saat dia melirik Yuwen Xin. Yuwen Xin tidak menyadarinya sama sekali dan masih menunjukkan senyum hangat dan ramah pada Xiang Shu.

Chen Xing menekan dorongan untuk maju dan meninju wajah Yuwen Xin. Jika dia benar-benar melakukan langkah seperti itu sekarang, dia harus menanggung akibatnya nanti. Dan dari kelihatannya, Xiang Shu juga tidak akan melindunginya — selain itu, dia belum menyelidiki masalah ini secara menyeluruh. Bagaimana jika itu hanya kebohongan yang dibuat oleh Feng Qianyi untuk menipu dan menghasutnya agar bergabung dengan mereka?

Orang tuanya sudah meninggal selama bertahun-tahun. Akan selalu ada kesempatan untuk menemukan kebenaran, jadi dia tidak perlu merasa terlalu cemas sekarang. Tapi bagaimana jika semuanya memang seperti yang dikatakan Feng Qianyi?

Karena mereka sudah mati, apa balas dendam akan berguna? Orang tua dan neneknya tidak akan hidup kembali bahkan jika dia membunuh Yuwen Xin …… Chen Xing melewati taman kekaisaran dan menghela napas dengan banyak pikiran membebani benaknya. Dia hanya merasa dunia manusia benar-benar terlalu kompleks. Pada awalnya, Shifu-nya pernah berkata bahwa hati manusia terkadang lebih berbahaya daripada yao, dan Chen Xing sekarang merasakan sedikit kebenaran di balik pernyataan itu.

Istana Taixing terletak di dalam taman kekaisaran, dan menjadi tempat belajar kekaisaran milik Fu Jian. Musim semi telah tiba, rerumputan berdiri tegak, dan oriole beterbangan, semuanya berkerumun di sekitar bangunan kecil yang elegan itu. Seseorang bisa memiliki bidang pandang yang luas di sini, embusan angin musim semi terasa segar, dan pemandangannya menyerupai permainan cahaya dan bayangan di layar. Chen Xing tiba di luar ruang belajar kekaisaran, di mana Tuoba Yan secara pribadi menjaga pintu untuk Fu Jian.

Tuoba Yan berbisik, “Aku akan menemuimu setelah tugasku selesai.”

Chen Xing hendak berbasa-basi dengannya ketika Tuoba Yan memberi isyarat agar dia masuk lebih dulu.

Rak buku setinggi satu zhang mengelilingi tempat di ketiga sisinya; dokumen bambu, buku, dan beberapa gulungan semuanya diklasifikasikan menurut kategori yang berbeda dan disusun menurut Batang Surgawi dan Cabang Bumi1. Fu Jian, yang memiliki sosok yang mengesankan, duduk tegak di sofa tepat di tengah ruangan.

Di belakangnya tergantung dua spanduk, satu di kanan, dan satu lagi di kiri. Satu disulam dengan bentuk harimau putih, sementara yang lain disulam dengan Zouyu.

Tunggu, apakah itu senjata ajaib dari Dinasti Jin? Chen Xing menyipitkan matanya saat dia mengingat bahwa teks kuno yang dia baca memang menyebutkan mengenai spanduk harimau putih dan Zouyu. Harimau putih memberi energi pada pasukan, sementara Zouyu menenangkan mereka, dan senjata ajaib yang luar biasa itu sebenarnya ada di tangan Fu Jian! Tapi sayang sekali setelah keheningan terjadi pada semua sihir, kedua spanduk itu tidak lagi berguna, tapi dia masih perlu menemukan kesempatan untuk menjauhkan mereka dari Fu Jian. Jika tidak, akan sulit bagi seseorang untuk mengatakan apa yang mungkin terjadi di masa depan.

Fu Jian sedang berbicara dengan seorang terpelajar yang lembut dan elegan di sampingnya. Di bawah mereka ada deretan rapi 24 meja pendek, digunakan untuk para pangeran dan menteri ketika datang ke sini dan membahas mengenai masalah politik serta untuk menerima pertanyaan kaisar.

“Kau datang tepat waktu.” Begitu Fu Jian melihat Chen Xing, dia memberi isyarat dan berkata, “Kemarilah, biarkan Ziye melihatmu.”

Chen Xing maju dan hendak bersujud pada Fu Jian ketika Fu Jian berkata, “Tidak perlu bersujud. Di depan Zhen2, para terpekalar selalu dibebaskan dari bersujud.”

Dia tahu bahwa meskipun Fu Jian mencoba yang terbaik untuk bersahabat, dia masih memiliki rasa otoritas yang tidak perlu dipertanyakan, sangat kontras dengan cara dia berbicara dengan Xiang Shu malam itu.

Dia tahu bahwa Fu Jian mencoba yang terbaik dengan berpura-pura akrab dengan “para terpelajar” dan hanya akan benar-benar akrab dengan Xiang Shu.

Cendekiawan bernama “Ziye” tersenyum, “Apapun yang dikatakan kaisar. Karena beliau mengatakan bahwa Anda tidak perlu bersujud, Anda mungkin merasa bebas untuk bersikap kurang ajar.”

Mendengar ini, Chen Xing tertawa, lalu Fu Jian berkata dengan tenang, “Ini Wang Ziye, Asisten Sekretaris Istana Zhen.”

Meskipun Asisten Sekretaris Istana hanya dari kelas standar, tingkat 33, dia tetap seorang pejabat yang memeriksa semua pejabat, semua peringatan takhta tentang urusan negara, dan melaporkan langsung ke Fu Jian, yang mana posisinya ini setara dengan menjadi sekretaris pribadi Fu Jian. Rekomendasi pengadilan kekaisaran dari sistem xiaolian4 dan persetujuan akhir harus melalui pejabat di bawah orang yang bernama Wang Ziye ini, jadi dia adalah pejabat yang memegang kekuasaan besar.

Chen Xing memanggilnya “Tuan Wang”. Wang Ziye hanya tersenyum ketika dia memperhatikan Chen Xing dan bertanya tentang keluarganya, seolah-olah dia mencoba untuk memastikan bahwa identitas Chen Xing bukanlah palsu.

“Saya tidak menyangka Tuan Chen masih memiliki keturunan,” kata Wang Ziye dengan sedih, “Ini bagus, ini benar-benar hebat!”

Ketika Chen Xing dengan sopan menjawab pertanyaannya satu per satu, dia terus memiliki perasaan yang tidak bisa dijelaskan bahwa Wang Ziye sedikit aneh.

Ini adalah pertama kalinya dia merasa sangat gelisah di depan orang asing setelah meninggalkan gunung.

Tatapannya seperti bisa melihat semuanya. Chen Xing hanya bisa berpikir, jangan bilang Fu Jian ingin aku menjadi pejabat setelah baru bertemu denganku sekali? Juga, kenapa semua orang disini seperti punya informasi tentang segalanya?

Selain Xiang Shu, hanya Yuwen Xin yang tahu tentang latar belakangnya, dan dia tidak menyangka berita ini akan menyebar seperti api di Istana Weiyang. Dalam sehari, keluarga Feng berhasil mengetahuinya, dan sekarang bahkan Fu Jian pun menyadarinya. Pasti ada lebih banyak lagi orang yang mendiskusikan dan membicarakan tentang dirinya di belakang punggungnya.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Footnotes

  1. Digunakan sebagai nomor seri dan dalam kombinasi dengan dua belas Cabang Bumi untuk menunjukkan tahun, bulan, hari dan jam
  2. Istilah yang digunakan kaisar untuk menyebut dirinya sendiri.
  3. Cek https://en.wikipedia.org/wiki/Nine-rank_system.
  4. Melewati kesalehan dan catatan bersih seorang pejabat: dua subjek yang digunakan untuk memilih pejabat di Dinasti Han. Itu setara dengan rujukan pengawas modern tapi dengan dua kriteria khusus.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments