Penerjemah : Chu


“Orang tua ini bernama Zhuang Zhiqiang, dia benar-benar rumah paku1 tua yang keras kepala.”

Setengah jam kemudian, pegawai dari Departemen Layanan Tunawisma Biro Urusan Sipil muncul, berterima kasih kepada staf medis dan semua orang yang datang bersama Xie Qingcheng saat dia menjelaskan.

Xie Xue dan Bai Jing — yang bersikeras untuk menumpang — juga datang dari garasi parkir bawah tanah. Mereka duduk di sofa di ruangan dokter, mendengarkan detail situasi.

“Tuan Zhuang Zhiqiang….” menghela nafas, “Keadaannya agak rumit, ini adalah masalah yang Layanan Tunawisma telah berjuang untuk menyelesaikan….” Sambil meremas-remas tangannya, pegawai itu menyesap teh yang telah diseduh oleh perawat dalam cangkir kertas sekali pakai dan memukul-mukul bibirnya sebelum menghela napas kembali. “Dia datang ke sini sekitar tiga tahun yang lalu, mengatakan bahwa dia sedang mencari putrinya, tapi saat kami memeriksa identitasnya — dia hanya seorang lelaki tua yang tinggal sendirian tanpa orang lain di keluarganya. Dia dulu tinggal di Yaodong2 di Shanzhou, tempat yang sangat miskin bahkan burung pun tidak mau tinggal. Dia tidak punya tetangga sama sekali, dan dia harus berjalan dua kilometer hanya untuk mendapatkan air. Kami bahkan mengirim orang secara khusus untuk bertanya kepada orang-orang di desanya, dan mereka semua mengatakan bahwa lelaki tua itu sangat antisosial, bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang dia sama sekali.”

“Tapi itu bukan alasan bagimu untuk melalaikan tanggung jawabmu! Bukankah seharusnya kamu menangkap semua bahaya seperti itu bagi masyarakat? Dia mengganggu lingkungan kota, dan bahkan mungkin menyerang orang!” Bai Jing mau tidak mau mulai berteriak.

“Nona, begini….” Pegawai itu terlihat canggung. “Kami tidak bisa menangkap tunawisma, mereka juga warga masyarakat. Kami hanya dapat mengatur perumahan untuk mereka, atau mengirim mereka ke rumah sakit untuk perawatan medis….”

Bai Jing berbicara dengan kejam. “Aku tidak peduli, semua orang gila harus ditangkap secara paksa. Bukankah semua hal abnormal ini harus dikarantina?”

Sejak awal, He Yu tidak memiliki pendapat khusus tentang wanita ini. Dia adalah seseorang dengan moral yang agak rendah — dengan kata lain, dia memiliki toleransi yang cukup tinggi untuk semua jenis orang. Baginya, apa yang dikatakan Xie Qingcheng kepadanya bahkan tidak layak untuk dikomentari. Setiap orang memiliki cara hidup mereka sendiri; setiap orang memiliki pilihan mereka sendiri.

Tapi kata-kata kasar Bai Jing tentang “orang gila” benar-benar menggelitik saraf Tuan Muda He.

Senyum yang sedikit mengejek tiba-tiba melengkung di sudut mulut He Yu. Menurunkan kepalanya, dia tidak mengatakan sepatah kata pun.

Pegawai dari Departemen Layanan Tunawisma menyeka keringatnya. “Nona muda, tolong tenanglah sedikit. Karena kondisi Tuan Zhuang Zhiqiang tampaknya dapat memburuk sehingga dia mungkin kehilangan kemampuannya untuk berfungsi di Masyarakat, begitu situasinya di sini membaik, kami akan membawanya ke rumah sakit jiwa afiliasi kami untuk perawatan dan pengawasan.”

Xie Qingcheng tiba-tiba bertanya, “Rumah sakit jiwa mana?”

“Mengingat situasi saat ini, mungkin itu adalah Cheng Kang. Meskipun bukan yang terbaik dalam hal fasilitas dan manajemen, akomodasi yang kami pesan dengan Wan Ping sudah terisi, tidak ada yang bisa kita lakukan.”

Mendengar ini, Bai Jing akhirnya puas. Dia bergumam, “Lebih baik seperti itu….”

Tepat ketika mereka berbicara, dokter dari bagian gawat darurat datang.

Dokter memberi tahu mereka tentang keadaan resusitasi Zhuang Zhiqiang; karena dia telah dirawat tepat waktu, dia sudah tidak lagi dalam bahaya maut. Jika mereka ingin pergi memeriksanya, mereka dapat mengizinkan satu pengunjung.

“Seorang gadis akan menjadi yang terbaik. Pasien masih dalam keadaan bingung, dia terus berusaha mencari putrinya”

Xie Xue bangkit. “Aku akan pergi.”

Dia mengikuti dokter itu keluar.

He Yu tergeletak malas di atas sofa ruang tamu dengan siku disandarkan di punggung sofa, mendengarkan mereka berbicara dengan kepala menunduk dan ekspresi acuh tak acuh di wajahnya. Sekarang, melihat Xie Xue pergi, dia mengayunkan kakinya yang panjang ke bawah dan bersiap untuk bangun juga.

Dengan rasa waspada dan pengawasan yang jelas, Xie Qingcheng berkata, “Berhenti.”

“Apa?”

“Kenapa kamu mengikuti adikku sepanjang waktu?”

Bocah laki-laki itu duduk kembali di sofa, terdiam sejenak. Meskipun sepertinya mereka melakukan percakapan yang pantas dan sopan, mata almondnya sebenarnya penuh dengan ejekan. “Lalu, bagaimana jika aku mengikuti Anda3 sepanjang waktu sebagai gantinya?”

“….”

He Yu berkata dengan kehangatan yang mantap, “Kamu dan pasangan kencanmu ada di sini, bukankah tidak nyaman bagiku untuk berada di dekatmu? Aku akan memberimu ruang, aku tidak ingin mengganggu.”

Bai Jing segera memenuhi harapan dan berteriak, “Kita tidak punya kesempatan bersama!”

He Yu tertawa pelan, dan tidak menatap Bai Jing. Memiringkan kepalanya, dia berkata pelan pada volume yang hanya bisa didengar Xie Qingcheng, “Dokter Xie, tidakkah menurutmu karismamu memudar seiring bertambahnya usia? Kamu bahkan tidak bisa mendapatkan gadis kecil seperti itu.”

“….”

Hal yang tidak bermoral.

Mungkinkah makam leluhurnya telah direnovasi menjadi jamban? Bagaimana bisa mereka menghasilkan binatang bejat seperti itu?

Ekspresi Xie Qingcheng dingin, bibirnya bergerak sedikit. “Cepat dan enyahlah.”

He Yu tersenyum, lalu tiba-tiba bangkit dan menempelkan tangannya di bahu Xie Qingcheng4. Xie Qingcheng terkejut dan ketakutan, bingung dengan apa yang dilakukan pria bejat yang menolak untuk mengikuti etiket normal ini — tetapi ketika He Yu menjulang di atasnya, dia bisa mencium aroma hormon remaja yang berasal dari tubuh anak laki-laki itu, dan merasakan panas dari dadanya bahkan dalam jarak beberapa inci.

Aura dominan yang unik untuk pria muda membuat Xie Qingcheng, sesama pria, sangat gelisah. Sebagai laki-laki yang sangat patriarki, ia langsung merasakan kejengkelan karena “wilayah laki-laki” miliknya dilanggar.

Xie Qingcheng baru saja akan mendorongnya pergi ketika siswa laki-laki yang telah menyerang batas-batas pribadinya ini menegakkan kembali dirinya sendiri. Di tangannya ada sekantong besar kopi yang dia ambil dari meja teh di belakangnya.

–Minuman yang baru saja dipesan He Yu yang belum dihabiskan.

“Ge, aku baru saja mengambil minuman.”

Saat melihat ekspresi gelap pria itu, cemoohan yang mengangkat sudut mulut He Yu menjadi semakin jelas. Dia mengambil kopi dari kantong kertas dan membagikannya kepada pegawai dari Layanan Tunawisma, para dokter, dan perawat. Dia juga meminta seseorang untuk membawakannya ke Xie Xue, dan bahkan memberikan secangkir kepada Bai Jing.

Tapi–

“Tsk, kamu mau? Maaf, aku lupa membelikannya untukmu.”

Setelah jeda singkat, dia memberikan secangkir es kopinya sendiri kepada Xie Qingcheng. “Bagaimana jika kamu meminum milikku?”

Tapi ini jelas bukan tawaran yang tulus. Dia sudah memasukkan sedotan, dan mengarahkannya tepat di bibir Xie Qingcheng, begitu saja.

Dia pikir Xie Qingcheng akan menolak.

Dia tidak pernah menyangka bahwa ini akan memicu kemarahan Xie Qingcheng. Dengan tatapan licik, seperti itu, duduk di sofa, dengan suasana yang bertentangan dengan harapan He Yu — seolah-olah dia benar-benar sedang dilayani oleh bocah nakal ini — bibir pucat itu terbuka dan, saat Xie Qingcheng menatap ke mata He Yu, ia menutup perlahan bibirnya di sekitar sedotan yang He Yu dorong ke wajahnya.

Dengan sedotan di antara bibirnya, dan masih menatap He Yu, dia menyesap dalam-dalam tanpa sedikit pun kesopanan.

Tenggorokan Xie Qingcheng terangkat, menelan minuman seolah-olah menghasutnya untuk berkelahi.

“Kamu bisa meletakkannya di sana.” Kemudian, dia melepaskan, bibirnya basah mengkilap, ketajaman di matanya. “Aku akan menganggapnya sebagai tanda bakti.”

“….”

Ketika He Yu melihatnya menundukkan kepalanya dan menutup bibirnya di sekitar sedotan, dia merasakan panas yang menjengkelkan di dadanya — seperti dia sedang marah. Dia merasa orang ini benar-benar pantas untuk disiksa secara menyeluruh, pantas mendapatkan lebih dari yang bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia ingin melihatnya terjebak dalam dilema yang canggung, atau kembali marah karena malu.

Tetapi dalam menghadapi tantangan, Xie Qingcheng menanggapinya dengan tenang, menatapnya dengan arogan.

Untuk sesaat, He Yu memiliki keinginan untuk melemparkan es kopi ke seluruh wajah es batu kebapakan itu, lalu melihat betapa menyedihkannya dia dengan wajahnya yang basah oleh air dan pakaiannya basah kuyup.

Tetapi pada akhirnya, dia hanya tersenyum dan meletakkan es kopi dengan ringan di atas meja teh. Menundukkan kepalanya sejenak, dia berkata pelan kepada Xie Qingcheng, “Baiklah, karena kamu menginginkannya, maka jangan buang setetes pun. Minumlah semuanya, tiriskan cangkirnya, beri tahu aku jika itu tidak cukup, aku akan mendapatkan yang lain untukmu.”

“Bagaimana mungkin aku merepotkanmu lagi? Malam ini, kamu telah bertindak sebagai sopirku dan menyerahkan kartu kreditmu, dan sekarang kamu bahkan mau menjadi seorang pengantar barang.” Xie Qingcheng tertawa dingin dan mengambil cangkir kopi, jari-jari panjang dan ramping meluncur melalui tetesan kondensasi yang terkumpul di cangkir, “Kamu diberhentikan.”

Setelah dia selesai berbicara, dia menggoyangkan cangkir ke arahnya.

He Yu berjalan pergi, ekspresi gelap di wajahnya.

Setelah melihat mereka berdua menembakkan duri bolak-balik, semua orang di sekitar mereka dapat melihat bahwa mereka tidak cocok. Itu agak canggung, tetapi Xie Qingcheng bertindak seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Dia bangkit, dan di bawah lingkaran pengawasan, melemparkan kopi ke tempat sampah. Hanya bocah laki-laki yang memesan kopi selarut ini. Bermain-main seperti ini di usianya, bagaimana dia bisa tidur malam?

Xie Qingcheng duduk kembali, ekspresinya tenang saat dia melihat ke arah pegawai Layanan Tunawisma. “Maaf membuat keributan seperti itu. Putra klienku tidak tahu apa-apa.”

“Ti-tidak apa-apa.”

Dia tertawa kering.

Xie Qingcheng berkata, “Jadi sampai di mana kita — oh, itu benar … jadi kamu yakin Zhuang Zhiqiang tidak memiliki anak perempuan?”

Pegawai kembali ke akal sehatnya. “Itu benar, dia tidak punya. Tuan Zhuang Zhiqiang tidak memiliki kerabat sama sekali. Kami membantu para tunawisma untuk berhubungan dengan keluarga mereka atau anggota komunitas lainnya, tetapi tidak ada yang dapat kami hubungi untuk pria tua ini.”

Xie Qingcheng terdiam.

Dilihat dari pengalamannya, dia merasa bahwa reaksi Zhuang Zhiqiang tidak tampak seperti histeria tanpa alasan. Soal “putrinya” pasti menjadi simpul di hatinya.5

“Putriku….” Pria tua itu berbaring di ranjang rumah sakit dengan kanula oksigen, masih bingung dan mengoceh tentang orang yang mungkin hanya isapan jempol dari imajinasinya. “Putriku yang luar biasa, ayah tuamu melihatmu tumbuh tepat di depan matanya, melihatmu pergi ke sekolah dengan ransel kecil di pundakmu, melihatmu lulus ujian masuk perguruan tinggi, dan pindah ke kota besar….”

Dia berhenti cukup lama, air mata keruh merembes keluar dari lipatan kelopak matanya yang berkerut.

Obrolan tidur lelaki tua itu terdengar menyakitkan dan tersedak oleh isak tangis. “Kenapa kamu tidak… pernah kembali untuk melihat orang tuamu….?”

Xie Xue berhati lembut, air matanya mengalir deras saat dia mendengarkan di sisinya. Setelah mendapatkan izin perawat, dia meraih tangan Zhuang Zhiqiang atas kemauannya sendiri dan berkata dari samping tempat tidurnya, “Paman, jangan menangis lagi. Aku… Aku di sini. Aku akan tinggal di sini bersamamu. Tolong segeralah membaik…”

Dia tidak bisa menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berhubungan dengan pasien. Setelah dia menghabiskan beberapa saat untuk menghibur lelaki tua itu, yang pikirannya masih kacau, dokter memberi tahu dia bahwa sudah waktunya dia pergi.

Setelah mendisinfeksi dirinya sendiri, Xie Xue berjalan keluar dari ruang gawat darurat. Dia merogoh tasnya untuk mencari tisu untuk menyeka air matanya, hanya untuk mengetahui bahwa itu sudah habis.

Pada saat ini, sebuah tangan cantik memberikan saputangan seorang pria padanya.

Xie Xue melihat ke atas melalui matanya yang sedikit bengkak dan merah, dan bertemu dengan pemandangan wajah tersenyum lembut He Yu.

Sebelumnya dengan Xie Qingcheng, He Yu berperilaku seperti binatang buas, tetapi dengan Xie Xue, dia agak seperti anjing peliharaan yang berperilaku baik. Saputangan yang dia berikan adalah sutra berwarna putih salju berbentuk persegi yang sangat halus dan indah, tanpa satu lipatan pun yang menutupi permukaannya.

“Ini pakai….”

“Te-terima kasih.”

“Tidak apa.”

Dia sudah tahu bahwa Xie Xue akan bereaksi seperti ini.

Orang tua Xie Xue meninggal tidak lama setelah dia lahir, sementara kakek-neneknya sudah lama meninggal. Sejak dia masih kecil, dia sangat iri pada orang lain yang bisa berteriak keras untuk “Ayah” atau “Ibu” atau “Kakek” atau “Nenek”. Baginya, dia hanya bisa diam-diam mengucapkan kata-kata itu selama festival tahunan Qingming6, sambil berdiri di bawah payung hitam Xie Qingcheng dengan karangan bunga krisan putih mungil di tangannya dan menghadap batu nisan yang sedingin es dan basah kuyup itu.

Jadi, satu-satunya hal yang dia rasa paling tak tertahankan adalah melihat orang-orang seusia orang tua atau kakek-neneknya tanpa anak untuk menemani mereka.

“Dokter.” Menyeka air matanya, dia berbicara dengan dokter darurat lagi. “Bisakah kamu memberi tahuku ketika dia pindah ke rumah sakit jiwa? Aku akan pergi bersamanya.”

He Yu sedikit mengernyit. “Untuk apa kamu pergi ke tempat seperti itu?”

“Tidak apa-apa — kebetulan universitas ingin aku pergi ke beberapa penjara dan rumah sakit jiwa untuk mendiskusikan apakah kita bisa membawa mahasiswa berkunjung. Mereka bilang itu untuk bekal penulisan skenario dan memberikan mahasiswa beberapa pengalaman yang lebih spesifik dalam keterlibatan sipil. Tapi aku belum memiliki kesempatan untuk mendiskusikannya dengan mereka.” Xie Xue mengendus. “Ini tidak seperti aku akan keluar dari jalanku”

Dengan dia mengatakan sebanyak ini, He Yu tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya bisa berjalan ke samping dan mengambil anjing kuning kecil itu.

He Yu mengambil anjing kecil itu dari bawah kaki depannya yang gemuk dan mengangkatnya ke wajahnya, menyebabkan kakinya yang bergaris kuning-putih menendang beberapa kali di udara. Hidung kacang hitam anjing itu bertemu dengan mata almondnya yang menjadi agak linglung.

He Yu bertanya dengan lembut, “Aku akan memberimu izin anjing, sehingga kamu bisa tinggal di tempatku untuk sementara waktu. Setelah pemilikmu sembuh, aku akan mengirimmu kembali padanya.”

Dengan gemetar dan menggigil, anjing kecil itu merintih. Hewan sering kali memiliki apa yang disebut indra keenam — mereka bisa merasakan perasaan tertekan dan gila di balik senyuman seseorang. Akibatnya, anjing kecil itu takut padanya, tetapi juga ingin mendapatkan sisi baiknya. Itu dengan gugup menjulurkan ujung lidahnya yang lembut dan menjilat He Yu.

He Yu tertawa dan mengulurkan tangan untuk membelai kepala anjing itu, membiarkan anjing itu menjilati ujung jarinya. Dengan mata gelap, dia berkata, “Anak baik. Kamu jauh lebih masuk akal daripada dia.”


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Kemarin, seorang teman memberi tahuku bahwa bagian komentar sangat lucu, karena banyak kritikus dan orang-orang bodoh, dan bahwa aku harus membacanya untuk bersenang-senang. Aku melihat-lihat, dan itu benar-benar sangat lucu hahahaha. Kemudian, aku melihat seorang jie-mei tiba-tiba mengatakan bahwa mencintai adalah penyakit. Aku berhenti dan berpikir, sial, beruntung aku membaca komentar tadi malam. Ada satu hal yang harus aku katakan, teman. Xie Qingcheng tidak pernah berpikir bahwa mencintai adalah penyakit aaaaahhhh! Ini adalah kesalahpahaman besar!!! Aku berharap Bao Beis tidak akan salah memahami pikirannya; karena, begitu logika ini digunakan, maka Xie Qingcheng akan menjadi playboy bajingan!!! Persetan! Pernahkah kalian berpikir bahwa, jika dia menganggap cinta adalah penyakit, lalu mengapa dia ingin menikah dan hidup seperti itu? Bukankah dia akan menjadi bajingan yang menipu perasaan gadis?!! Tidak, lemak besar tidak.

Mari kita menganalisis dengan serius mengapa pemikiran ini jelas bukan miliknya. Kembali ke topik pernikahan itu, Xie Qingcheng bukanlah pembohong, tapi korban dari pernikahan yang gagal itu. Li Ruoqiu juga menjadi korban, tetapi alasan mereka berdua menjadi korban adalah karena situasi yang sangat tidak berdaya yang juga ada dalam kenyataan — yaitu, ketika banyak orang mencapai usia tertentu, dengan masyarakat yang menekan mereka, pemikiran kuno memaksa mereka, ketika kencan perjodohan terlihat cukup menyenangkan, mereka hanya berencana untuk hidup jujur ​​dan murni selama sisa hidup mereka, dan bahkan mulai berpikir bahwa ini adalah cinta dan pernikahan. Ini sebenarnya menyedihkan. Xie Qingcheng adalah contoh tipikal seseorang yang menjebak dirinya sendiri dalam gagasan sosial ini dan menempuh jalan semacam ini. Ketika dia berada di usia menikah, dia merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan banyak orang lain dengan ide-ide konservatif. Dia berpikir bahwa cinta, pernikahan, dan memiliki keluarga adalah hal yang harus dia lakukan, jadi dia sangat menghargainya dan berusaha sangat keras untuk melakukannya dengan baik. Dia tidak tahu bagaimana mencintai, dan tidak mengerti cinta, tetapi dia melakukan yang terbaik untuk mencapai apa yang dia pikir adalah cinta. Dia berpikir bahwa merawat istrinya selama sisa hidup mereka, tenang seperti air yang tenang, dan mengandalkan satu sama lain adalah cinta, bahkan jika hatinya tidak benar-benar terpengaruh. Ini adalah kesalahpahamannya terhadap cinta, dan akar dari pernikahannya yang tragis. Aku menulis tentang pernikahannya dengan cara ini karena aku ingin mengungkapkan bahwa, di bawah tekanan masyarakat, orang akan menciptakan banyak tragedi karena mereka tidak memahami diri mereka sendiri.

Jika semua orang melihat lagi dengan cermat bab aslinya dan dengan serius merenungkan reaksi Xie Qingcheng, kalian seharusnya dapat menemukan bahwa apa yang tidak dapat dia terima bukanlah cinta, tetapi tindakan sembrono, tidak etis, liar, ekstrem yang mengkhianati keluarga dan tanggung jawab. Dia percaya itu bukan cinta, tapi penyakit; dia juga terluka oleh tindakan itu.

Karakter inti dan bawaannya benar-benar berlawanan dengan Jiang Xi. Jiang Xi adalah seorang liberalis, dan sampai batas tertentu, seorang egois. Pemikirannya sangat progresif; dia bisa memandang rendah mereka yang dikhianati oleh cinta, bisa meremehkan aturan dan mengabaikan orang lain, bisa mengejar uang, kekuasaan, ketenaran, dan keuntungan sambil menginjak-injak dan mengejek duniawi. Tapi Xie Qingcheng adalah kebalikannya. Dia pria yang sangat bertanggung jawab yang selalu dikekang oleh tanggung jawabnya. Dia lelah dengan uang, kekuasaan, ketenaran, dan keuntungan, dan terikat erat dengan etika masyarakat; seorang pria feodal, paternalistik. Keindahan dingin dengan seorang ibu akan serupa; karena itu adalah fetishisme penulis dan kosa kata dan gaya penulisan yang sama, itu seperti seorang seniman dengan gambar mereka. Akan ada preferensi dan gaya tertentu. Tapi rasa dingin hanya sedalam kulit, sedangkan jiwa terukir di tulang. Sikap acuh tak acuh Xie Qingcheng berasal dari pikirannya yang jernih dan tenang, tidak pernah dari ego dan kebebasan. Jadi, tentang hal ini, kalian benar-benar tidak dapat dan tidak boleh salah paham dengannya. Baginya, mencintai bukanlah penyakit; sebaliknya, emosi yang tidak terkendali tanpa dasar adalah penyakit, karena dia sangat memperhatikan keluarga dan tanggung jawab di pundaknya. Jika dia dan Jiang Xi bisa bertemu, mereka pasti akan saling meremehkan. Jiang Xi akan berpikir bahwa Xie Qingcheng gila, karena mengapa dia menjalani kehidupan yang begitu melelahkan daripada bekerja keras untuk mengejar hasratnya sendiri? Xie Qingcheng juga akan berpikir Jiang Xi gila, karena bagaimana bisa seorang pria begitu tidak dapat diandalkan dan begitu bebas? Mereka tidak akan melihat mata ke mata sama sekali. Aku tidak tahu mengapa Xie-ge, seorang protagonis dalam karya modern, akan hidup lebih kaku daripada pria di danmei kuno. Xie-ge, tolong renungkan dirimu sendiri….

[Peringatan: Paragraf berikutnya berisi beberapa spoiler backstory ringan, jangan baca jika kalian ingin mengetahuinya secara alami.]

Ah, aku juga pernah melihat gadis-gadis manis menebak bahwa Xie Qingcheng telah melakukan banyak hal yang He Yu pikir Xie Xue lakukan untuknya, dan kemudian ketika He Yu mengetahui itu semua adalah Xie Qingcheng, dia akan sangat tersentuh, menyadari semuanya adalah perhatian diam-diam Xie Qingcheng. Tidak, tidak ada adegan seperti ini sama sekali, hahahaha, Xie Xue putih murni 24k, ini benar-benar kalah taruhan = =

[Spoiler berhenti setelah catatan ini.]

Aku  mengoceh sedikit hari ini. Maaf – maaf. Aku menemukan bahwa setiap kali aku melihat komentar, aku menjadi sangat bertele-tele; setiap kali aku melihat Bao Beis membahas plot, aku tidak dapat menahan diri untuk tidak merusaknya, dan kemudian catatan penulis menjadi sangat panjang… masih harus menahan dan tidak melihat, melanjutkan dalam pengasingan dan tidak merusak atau menjelaskan, membiarkan semua orang perlahan terus membaca sendiri … menutupi wajah!

…. Ucapan terima kasih hari ini berakhir pukul 6 sore~~ Mwah Mwah!!


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu

Footnotes

  1. 钉子户 secara harfiah adalah “rumah paku”, istilah untuk orang yang menolak untuk mengosongkan tempat tinggal mereka bahkan di bawah tekanan dari pengembang properti.
  2. Tempat tinggal pedesaan yang dipahat di lereng bukit. (Wikipedia)
  3. He Yu menggunakan “kamu” yang formal untuk Xie Qingcheng.
  4. Ini adalah sebuah kabedon. He Yu sedang melakukan kabedon pada Xie Qingcheng.
  5. 心结 sebuah fiksasi, sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan untuk dipikirkan.
  6. Liburan untuk menghormati leluhur yang telah meninggal. (Wikipedia)
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments