PenerjemahOnnaKaneshiro
Editor: Chu


“Bagaimana kamu tahu aku di sini?”

Di dalam ruangan pribadi, He Yu menuangkan segelas anggur merah untuk dirinya sendiri, lalu menuangkan satu lagi untuk Xie Qingcheng. Setelah itu, dia memberi isyarat kepada wanita di sebelahnya untuk memberikan pada Xie Qingcheng.

Xie Qingcheng tidak mengambilnya.

He Yu menautkan jari-jarinya, menatapnya dengan tenang.

Setelah beberapa saat, dia berkata, “Dokter Xie. Sebenarnya, jika Anda1Kamu Formal – digunakan sepanjang percakapan oleh He Yu kepada Xie Qingcheng. benar-benar ingin melakukan percakapan yang layak denganku, akan lebih baik jika Anda menghabiskan segelas anggur ini.”

Menekan segudang emosi yang rumit, Xie Qingcheng memandang He Yu dari tempatnya berdiri, berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang. “He Yu, kamu harus kembali.”

“Jangan katakan itu — orang-orang akan berpikir Anda istimewa bagiku.” He Yu tersenyum. Wanita menawan di sampingnya menyalakan sebatang rokok lagi; Anehnya, kali ini, He Yu menerimanya.

Saat dia menatap Xie Qingcheng tanpa berkedip dengan mata almondnya, bibirnya sedikit terbuka untuk memegang filter rokok. He Yu mengambil tarikan yang lambat dan dalam, dengan anggun perlahan-lahan menghembuskannya.

Gumpalan asap abu-abu menyebar di udara.

He Yu tahu cara merokok — ketika dia bersosialisasi, dia terkadang menerima sebatang rokok dengan senyum tipis untuk berbaur. Tapi karena dia tidak menikmatinya, dia tidak pernah menyentuhnya secara pribadi.

Jadi sebelum hari ini, Xie Qingcheng tidak tahu bahwa meskipun He Yu orang yang sangat benci merokok, dia bisa memegang sebatang rokok di tangannya dengan mudah, bahkan dengan cara yang terlatih.

“Beri Dokter Xie sebatang rokok.”

Wanita itu menyalakan sebatang rokok lagi dan memegangnya di depan Xie Qingcheng.

Xie Qingcheng tidak mengambilnya, “Aku tidak merokok.”

He Yu segera mulai tersenyum, menekan tangan yang memegang rokok di dahinya. “Ya Tuhan… Dokter Xie, Anda benar-benar munafik, ya. Bagaimana bisa aku tidak pernah menyadarinya?”

Xie Qingcheng berkata. “Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui, jika kamu pergi denganku terlebih dahulu, kamu bisa menanyakan apa pun yang kamu mau — selama aku bisa menjawab, aku akan memberitahumu segalanya.”

Mendengar Xie Qingcheng mengatakan ini. Postur He Yu berubah dari berbaring malas menjadi duduk malas. Menegakkan tubuh, dia menyandarkan sikunya di bagian belakang sofa dan kemudian mengangguk sambil menghela nafas.

“Itu benar, ada banyak hal yang tidak aku ketahui.” Dia mengangkat mata almondnya yang seperti anak anjing; namun, pada saat ini, sorot matanya sangat dingin dan lebih mirip serigala.

“Misalnya….”

“Misalnya, alasan kenapa Anda tiba-tiba menolak untuk tetap bekerja di rumah sakit saat itu, atau kenapa Anda tiba-tiba mulai menghindariku seolah-olah aku adalah ular atau kalajengking yang ganas….”

Dia berhenti — dia belum berencana menyebut Xie Xue atau kontraknya kepada Xie Qingcheng.

Itu saja sudah cukup. Apa gunanya menyebutkan lebih banyak masalah dan menambah kebodohannya sendiri.

“Xie Qingcheng–” Pupil He Yu melayang ke atas saat dia melirik pria itu dengan dingin, berhenti sejenak dengan setiap kata yang dia keluarkan di antara giginya. “Saat itu, aku benar-benar tidak tahu tentang hal-hal ini.”

Xie Qingcheng menutup matanya, “…Apakah itu alasan kamu membuang dirimu sendiri ke sarang kejahatan ini2Referensi dari sarang laba-laba iblis yang menggoda.?”

Gadis-gadis sarang kejahatan ini : “….”

Senyum He Yu menjadi lebih jelas, memperlihatkan gigi taring yang biasanya dia sembunyikan. Karena perubahan halus ini, fitur awalnya yang lembut tiba-tiba tampak agak menyeramkan.

“Dokter Xie, pertama-tama, tempat ini mencari nafkah di atas papan, dan tidak berurusan dengan seks, perjudian, atau narkoba. Gadis-gadis yang bekerja di sini cantik dan penuh perhatian dalam pelayanan mereka, tetapi itu seharusnya tidak terlalu berpengaruh bagi Anda. Jika aku menghabiskan 100.000¥ untuk sebotol anggur, tidak mungkin aku dilayani oleh sekelompok troll yang mengerikan3Troll : mahluk mitologi yang mengerikan..”

“Kedua — Xie Qingcheng, bolehkah aku bertanya mengapa Anda selalu menganggap diri sendiri begitu tinggi?”

“….”

“Anda pikir Anda ini siapa? Jangan bilang Anda berpikir ke mana pun aku pergi atau apapun yang aku lakukan, aku harus selalu tunduk pada kehendak Anda?”

Senyumnya tiba-tiba menghilang, hanya menyisakan awan badai diwajahnya.

“Profesor Xie, aku tahu bahwa orang tua suka berada di atas. Ditambah lagi, Anda adalah profesor yang cukup sukses, jadi selalu ada banyak siswa yang mengejar dan menjilat Anda. Tidak dapat dihindari bahwa Anda akan selalu merasa seperti berada di puncak dunia dan terbiasa dianggap serius ke mana pun Anda pergi. Aku bisa mengerti mengapa orang setengah baya seperti Anda memiliki masalah seperti ini — tetapi agar kita jelas, aku hanya melakukan hal-hal untuk membuat diriku bahagia.”

Menjentikkan rokoknya dengan ringan untuk membersihkan abunya, He Yu bersandar, membuka tangannya yang lain dan meletakkannya di belakang sofa.

“Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Anda.”

Baru pada saat itulah Xie Qingcheng memperhatikan tepi matanya yang merah dan perubahan warna bibirnya yang tidak normal. Pada dasarnya ini lebih buruk dari gejolak parah yang dialami He Yu di masa lalu; jantungnya berdebar-debar, tanpa sadar dia mencoba untuk memeriksa suhu tubuh He Yu.

He Yu sering mengalami demam tinggi saat kambuh; Xie Qingcheng mengetahui gejalanya lebih baik daripada siapapun, dan dengan demikian meraihnya karena kebiasaan.

Tetapi He Yu meraih pergelangan tangannya dengan cengkraman.

He Yu tampaknya tidak memaksakan diri, tetapi jari-jarinya mengencang tanpa sedikitpun perubahan ekspresi — sebenarnya dia benar-benar mengerahkan kekuatan agar tidak menerima penolakan. “Mm. Jika Anda memiliki sesuatu untuk dikatakan maka katakan dengan benar, tidak perlu secara fisik.”

Dia menatap Xie Qingcheng dari belakang pergelangan tangan Xie Qingcheng.

“Kurasa kita belum pernah sedekat ini sehingga Anda bisa menyentuhku sesuka Anda.”

Pada titik ini, dia merasakan kekuatan Xie Qingcheng perlahan mulai mengendur, cahaya di matanya secara berangsur-angsur menghilang.

Mereka berdua menemui jalan buntu. Akhirnya He Yu memilih mengendurkan cengkeramannya dan Xie Qingcheng menurunkan tangannya.

“… He Yu.” Beberapa saat kemudian, Xie Qingcheng berbalik, menghindari tatapan gelap dan dingin dari He Yu. “Terlepas dari apakah kamu percaya atau tidak, hal-hal yang aku katakan saat itu … itu bukan tentangmu. Aku tidak sedang membicarakanmu.”

“Tentang apa?” Memiringkan kepalanya, He Yu pura-pura bingung. Kemudian, dia menyeringai. “Oh — yang ‘Menurutku mati demi seorang pasien tidak layak dilakukan dan dibunuh oleh orang gila adalah hal yang sia-sia dan menggelikan’ — Baiklah, ada benarnya; dan mengapa Anda perlu menjelaskan lebih lanjut?”

Dia melihat sekeliling dan berkata dengan lembut. “Jangan bilang ada orang gila di antara kita? Bukankah seharusnya orang-orang seperti itu dikurung, dikurung di dalam kurungan dan dikekang, dirawat dengan terapi kejut listrik, dan dicekoki obat-obatan? Dan jika perlu, belah tengkorak mereka secara langsung dan potong saraf mereka. Bagaimana mungkin kita bisa membiarkan mereka bebas menghirup udara segar sesuka mereka? Apakah Anda tidak setuju?”

Xie Qingcheng tidak menjawab. Ruangan pribadi itu dipenuhi terlalu banyak orang; sebagai pasien sakit jiwa, status He Yu adalah rahasia yang hanya diketahui oleh sedikit orang. Dia benar-benar tidak bisa berkata banyak di bawah pengawasan begitu banyak pasang mata.

Dia terdiam sebentar. Kemudian, dia mengangkat mata bunga persiknya dan bertanya. “Bisakah kamu mengirim orang-orang ini keluar dulu?”

“Kenapa?”

“Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu berdua.”

He Yu tersenyum. “Ku rasa itu tidak perlu.”

“….”

“Dokter Xie, kupikir kita bisa melewatkan ceramah. Anda memiliki begitu banyak siswa yang menunggu Anda untuk menjelaskan kebenaran universal, tidak perlu menghabiskan energi Anda untukku. Ini tidak seperti aku sesesorang yang istimewa bagi Anda, dan hal yang sama dapat dikatakan tentang siapa Anda bagiku. Ini bagus, aku lebih suka tidak memperumit hubungan kita lebih jauh.”

“….”

“Jika tidak ada lagi, maka Anda bisa pergi.”

Mengingat temperamen Xie Qingcheng, di masa lalu, dia pasti akan mengkritik keras dan kemudian memerintahkan untuk mematuhinya.

Tetapi berdiri di depan He Yu sekarang, Xie Qingcheng mendapati rasa bersalah di dalam dirinya.

Pada akhirnya, Xie Qingcheng hanya berkata.”…. Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu kembali. Orang tuamu tidak akan mau melihatmu seperti ini.”

Akan lebih baik jika dia tidak menyebut He Jiwei dan Lu Zhishu, saat dia membicarakan mereka, suasana hati He Yu segera menjadi gelap.

Dia menatap wajah Xie Qingcheng.

Setelah berkata begitu banyak, dia akhirnya masih melihat kembali ke orang tuanya.

He Yu memikirkan kembali pesan-pesan yang dikirim Xie Qingcheng kepada He Jiwei; jauh lebih jujur daripada yang dia katakan pada He Yu. Mungkin di benaknya, hanya He Jiwei yang bisa berdiri sejajar dengannya.

Dan pada hari dia berhenti dari pekerjaannya. Ketika He Yu meninggalkan harga dirinya dan dengan menyedihkan mencoba menggunakan uang sakunya untuk mencegah pria ini pergi.

Karena dia percaya bahwa jika Xie Qingcheng pergi, Xie Xue juga akan hilang, dan dengan demikian dia akan sekali lagi jatuh ke dalam kesepian yang menakutkan yang tak terhindarkan.

Saat itu, dia memberitahu Xie Qingcheng, aku memiliki banyak uang saku, aku bisa…

Tapi Xie Qingcheng menyelanya.

Dan kemudian, dia menikamnya dengan sebuah retorika yang terdengar sok, mengatakan kepadanya bahwa pertama dan terpenting, majikannya adalah He Jiwei, bahwa He Yu tidak akan mampu mempekerjakannya, bahwa dia lebih baik menyimpan uang sakunya yang tidak seberapa dan pergi membeli kue untuk membuat dirinya bahagia.

Faktanya, He Yu seharusnya tahu saat itu juga bahwa bagi Xie Qingcheng dia hanya putra He Jiwei, dan jika bukan karena ayahnya, kemungkinan Xie Qingcheng bahkan tidak akan memberikan perhatian padanya.

Pada pemikiran ini, suasana hati He Yu yang sudah muram semakin mendekati kegilaan.

Namun, ekspresinya tetap apatis.

Dengan hati-hati dia mengamati Xie Qingcheng untuk waktu yang lama, memikirkan He Jiwei, memikirkan menara penyiaran, memikirkan Xie Xue, memikirkan ketulusan yang belum pernah sekalipun dia dapatkan… dia sangat membenci Xie Qingcheng.

Dia ingin mencabik-cabiknya sampai hancur.

Memikirkan ini, He Yu mengukurnya sambil perlahan menghabiskan anggur di gelasnya. Kemudian, dia mengangkat satu tangan dan menuang lagi untuk dirinya sendiri.

Tiba-tiba, dia menyadari bahwa gelas di depan Xie Qingcheng masih penuh.

Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menjadi semakin marah ketika dia mencibir. “Dokter Xie benar-benar tidak memiliki rasa kesopanan. Orang macam apa yang datang untuk meminta maaf dengan menggunakan orang tua seseorang untuk menundukkan mereka, dan bahkan tidak berkenan berbagi minuman dengan mereka? Anggur di gelas Anda, apakah Anda berencana memelihara ikan di dalamnya?”

Saat dia berbicara, dia mengambil gelas kosong lagi, mengambil botol yang terbuka secara acak, dan mengisi gelas itu sampai penuh.

“Duduklah. Karena Anda sudah disini, sebaiknya Anda duduk dan minum denganku sebentar. Kita bisa bicara sesudah ini.”

“….”

“Dokter Xie, Anda tidak merokok, mungkinkah Anda juga tidak minum?”

Xie Qingcheng tahu bahwa hari ini, tidak ada cara baginya untuk menempati posisi dominan lagi dalam hubungan mereka.

Karena He Yu telah berkata begitu, dia tidak bicara omong kosong lagi, dan duduk di sofa di seberangnya.

“Jika aku minum, maukah kamu pergi?”

“Apakah Dokter Xie bersedia mempertaruhkan hidupnya untuk menemani orang merosot sepertiku?”

Ruangan pribadi itu sangat sunyi, seolah-olah setiap orang telah terpengaruh oleh suasana di sekitar mereka; tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.

Di tengah keheningan yang menegangkan ini, tangan Xie Qingcheng menjangkau dan masuk ke pusaran darah yang tak terlihat itu. Dia mengambil gelas anggur dari meja marmer dan meletakkannya di depan dirinya sendiri.

Melalui cairan yang berputar-putar, di bawah cahaya redup, fitur Xie Qingcheng tampak sedingin dan sekeras bebatuan sedimen di bawah kolam es.

Xie Qingcheng mengangkat segelas anggur merah dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Kemudian, dia mengambil segelas anggur lain yang dituangkan He Yu untuknya, dan meminumnya tanpa berkedip.

Minuman keras yang kuat mengalir ke tenggorokannya.

He Yu akhirnya tersenyum. “Luar biasa. Xie-ge benar-benar peminum yang baik.”

Dia memiringkan kepalanya, matanya masih tertuju pada Xie Qingcheng, dan berkata pada wanita muda di sebelahnya. “Tuangkan dia segelas lagi.”

“….” Tetapi ekspresi pemimpin pelayan wanita itu berubah.

Mengumpulkan keberaniannya, dia membungkuk dan membisikkan beberapa patah kata ke telinga He Yu.

He Yu mulai terkejut, tatapannya mengamati botol anggur yang baru saja dia tuangkan untuk Xie Qingcheng minum.

Aroma Plum 59…?

Dia, dia tidak sengaja menuangkan segelas anggur afrodisiak untuk Xie Qingcheng…!

He Yu berencana menggunakan anggur ini untuk membantunya melepaskan diri karena suasana hatinya yang sedang buruk hari ini… tetapi dia secara tidak sengaja membuat Xie Qingcheng meminum sebagai gantinya.

Anggur ini—

He Yu mengangkat matanya untuk menatap Xie Qingcheng, hanya untuk bertemu dengan tatapan dingin dan tegas yang lain.

Obat itu belum berpengaruh; dia masih belum tahu.

Tapi He Yu tahu bahwa Xie Qingcheng tidak bisa mempertahankan kesadarannya untuk waktu lama.

“Saat kamu mencium aromanya, atau mencicipinya pertama kali, rasanya sangat mewah, tapi juga sangat dangkal dan murah….”

Kata-kata yang dikatakan teman setengah mabuk ke telinganya melayang sekali lagi di benaknya.

Bagaimana dia bisa membuat kesalahan bodoh seperti ini.

Ketika dia menuangkan anggur, kenapa dia tidak memperhatikannya dengan baik?!

Jantungnya mulai berdebar.

Keringat dingin bercucuran.

Tapi kemudian, dalam selusin detik keheningan. Suasana hati He Yu berubah dari terkejut menjadi tenang, dan dari tenang menjadi gila–

Dia segera menyadari bahwa kesalahan telah dibuat — jadi, apakah itu berarti dia harus membawa Xie Qingcheng ke rumah sakit?”

Dia tidak pernah bisa melakukannya.

Apalagi, tidak ada gunanya membawanya ke rumah sakit. Afrodisiak hanya membangkitkan keinginan, tidak beracun.

Tanpa suara, dia menatap lekat-lekat ke arah Xie Qingcheng.

Dia menatap sosoknya, berpakaian tanpa cela dalam pakaiannya yang rapi; menatap penampilannya yang tegas dan serius, wajahnya yang sangat bermartabat.

Dan kemudian — tiba-tiba, karena kebetulan yang tidak disengaja ini, sebuah ide tiba-tiba muncul di benak gila He Yu dan kemudian segera terbakar …

Mungkin… ini adalah kehendak takdir?

Ini adalah pembalasan–

Ini adalah pembalasan Xie Qingcheng…! Dia menuai apa yang dia tabur; bahkan takdir tidak tahan dengan kemunafikannya, jadi kebetulan seperti ini terjadi.

Xie Qingcheng hanyalah manusia, dan semua manusia memiliki keinginan. Ketika mereka dikuasai oleh keinginan yang tidak bisa mereka penuhi, mereka akan jatuh ke dalam keadaan yang menyedihkan, berlutut sambil memohon kepuasan.

He Yu menatapnya dalam diam. Tiba-tiba He Yu bertanya-tanya, apakah Xie Qingcheng akan terbakar dalam api anggur ini dan berlutut di depannya, bahkan tidak dapat berbicara langsung saat dia tenggelam dalam keinginan dan benar-benar kehilangan kendali — betapa indahnya pemandangan itu?

Xie Qingcheng sudah menghabiskan minumannya dan meletakkan gelasnya. “Apa ini cukup?”

“….” He Yu tidak menjawab. Ide itu masih berputar-putar di kepalanya, menggodanya, tapi karena gelas pertama tidak disengaja dan sama sekali tidak sengaja, dia masih agak ragu.

Xie Qingcheng berkata. “Jika ini tidak cukup, aku akan terus minum bersamamu.”

“Aku bisa minum sampai kamu puas dan mau pergi. Selama kamu tidak kehilangan diri sendiri malam ini, selama kamu tidak membuat kekacauan di sini.”

“….” Terkejut, He Yu mendongak. “Kenapa.”

Xie Qingcheng memberitahunya dengan penekanan yang disengaja, “Karena ini adalah kesalahanku. Dan karena itu kesalahanku, kamu seharusnya tidak menjadi orang yang membayar harganya.”

Dalam keadaannya yang kacau, hati He Yu tiba-tiba tersentuh. Sama seperti saat itu, ketika Xie Qingcheng mengatakan kepadanya untuk pertama kalinya bahwa orang yang sakit jiwa harus diperlakukan sama, hatinya tersentuh.

Tapi kemudian, perasaan itu berkembang menjadi kemarahan.

Dia marah pada dirinya sendiri. Kenapa, ketika semuanya sudah sampai pada titik ini, apakah dia masih akan tersentuh oleh beberapa patah kata dari mulut orang ini?

Kemarahan ekstrim ini hanya menimbulkan kekejamannya.

Meskipun dia baru saja merasakan sedikit keraguan, pada saat ini, He Yu akhirnya memutuskan untuk melakukan plot jahat yang berkembang jauh di dalam dirinya.

He Yu perlahan bersandar, merentangkan tubuh sepenuhnya ke sofa. Dia mendesah pelan,
“Xie-ge … lihat, Anda mencoba menenangkanku lagi.”

“….”

Perubahan nada bicara yang tiba-tiba ini seolah-olah memberikan Xie Qingcheng beberapa harapan.

Xie Qingcheng menatapnya.

He Yu menopangkan tangannya di pipinya, masih mendesah. “… Tapi kenapa aku masih ingin ditenangkan oleh Anda?”

“He Yu…”

“… Xie-ge, katakan padaku, semua yang Anda katakan padaku saat ini apakah kebenaran yang jujur?”

Xie Qingcheng menatap matanya. Untuk beberapa alasan, dia merasakan rasa sakit yang samar di hatinya. Dia berkata. “Itu benar.”

He Yu memperhatikannya dengan tenang untuk waktu yang lama, wajahnya secara tak terduga mengungkapkan ekspresi seperti naga muda yang dulu dia miliki. “Anda tidak berbohong padaku?”

“Aku tidak berbohong padamu.”

“Kalau begitu mari kita buat janji kelingking.”

He Yu perlahan mencondongkan tubuh ke depan. Kata-katanya sangat kekanak-kanakan, seolah-olah dia sudah terlalu banyak minum.

Tapi saat Xie Qingcheng mengulurkan jari kelingkingnya. He Yu tiba-tiba beralih dari menawarkan jari kelingkingnya menjadi membuka tangannya dan meraihnya–

Dan dengan dingin–

Menyentuh wajah tampan Xie Qingcheng.

Dia memandangnya dengan geli karena, tepat di depan mata Xie Qingcheng, kepolosan anak yang masih muda itu berangsur-angsur berubah menjadi kegelapan menyeramkan dari seekor naga jahat.

“Sungguh naif, Xie Qingcheng. Apa Anda benar-benar akan membuat janji kelingking denganku?”

“Sayang sekali, kali ini akulah yang membohongi Anda.”

“Bagaimana aku bisa mempercayai Anda lagi dengan begitu mudah?”

“….”

“Anda menyakitiku begitu dalam.”

Ada sedikit cahaya di mata Xie Qingcheng, tetapi pada saat ini, itu redup sekali lagi.

Beberapa lusin detik keheningan yang berkepanjangan.

Pemuda itu menatap api yang memudar dari mata pria itu.

“Bagaimana dengan ini.” He Yu berkata setelah beberapa pemikiran.

Dia duduk kembali, dengan tenang mengambil botol Plum 59 dan memberi isyarat agar seorang wanita cantik dan pintar membawakan gelas kosong. Dia secara pribadi mengisinya lebih dari setengah, dan meletakkannya di sisi meja Xie Qingcheng

Wajah pemimpin pelayan wanita itu memucat ketakutan–

Dia berpikir bahwa sejak He Yu tahu, dia tidak akan memberi pria ini minuman keras lagi. Jumlah sebelumnya sudah sulit untuk ditangani, siapa yang mengira bahwa kali ini, He Yu menuangkannya lagi ke gelas yang hampir penuh?

“Melihat Anda seperti ini, aku sedikit tersentuh.” Heyu berkata dengan lembut, “aku bisa memberi Anda kesempatan lagi tapi aku ingin melihat ketulusan Anda.”

Gelas pertama adalah kesalahan.

Tetapi dia ingin membujuk Xie Qingcheng agar menenggak gelas kedua ini atas kemauannya sendiri.

“Aku tidak punya banyak permintaan, hanya minum beberapa putaran lagi denganku dan ketika aku puas, aku akan pergi bersama Anda …. Aku tidak akan memaksa, tetapi jika Anda mulai benar-benar peduli padaku, Anda setidaknya akan bersedia.” He Yu mendongak, “Bagaimana?”

Xie Qingcheng memandangnya dalam diam.

Beberapa saat kemudian, dia mengangkat gelas anggur yang diberikan He Yu.

“Selama kamu mau pergi. Aku akan minum.”

He Yu memperhatikan saat dia menengadahkan kepalanya ke belakang, tenggorokannya naik turun saat dia menelan. Di tengah mabuknya, membakar awan kebencian yang bergolak.

… Minumlah. Minum semuanya.

Setelah kamu cukup minum anggur ini, pembalasanmu akan datang.

Retribusi.

He Yu berpikir sekali lagi.

Dia akan melihat semua keinginan buruknya, melihatnya kehilangan kendali di depan para wanita ini, terjerat secara menyakitkan, namun tidak mampu memenuhi kebutuhannya.

Itulah yang mereka sebut karma sejati.

Kehilangan muka sepenuhnya.

Semua pelayan wanita di ruangan ini bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.

Mereka dapat melihat bahwa Tuan Muda He sengaja mempermainkan pria ini. Dia dengan murah hati menuangkan Plum 59 ke dalam gelas anggur besar dan, mengingat bagaimana keadaannya, tampaknya berencana menyuruh orang ini menghabiskan seluruh botolnya.

Dua wanita yang berdiri di dekat bagian belakang gemetar ketakutan, menarik ujung rok mini satu sama lain. Salah satunya berkata pelan. “Apa yang harus kita lakukan?”

“Mau bagaimana lagi? Berdirilah di sini dan temani mereka.”

“Aku sangat khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi — terakhir kali seorang bos yang minum terlalu banyak, menyiksa pelayan wanita yang dia bawa sampai mati. Bagaimana jika Tuan Muda He membuat kita membantunya nanti….”

“Jangan khawatir, jangan khawatir, kita bisa menolak. Kita di sini hanya untuk menyajikan minuman, yang lainnya adalah urusan pribadi di mana hal itu harus atas kemauan sendiri… Bahkan Tuan Muda He tidak bisa memaksa kita…”

“Tapi….”

Suara mereka agak keras. Setelah mendengar mereka, pemimpin pelayan wanita yang berdiri di depan melihat ke belakang dan memberi mereka tatapan peringatan, dan kedua gadis itu segera takut untuk berbicara lagi. Mereka melihat ke bawah, jantung mereka berdebar kencang.

Gelas ketiga sudah habis.

Sebuah rona tipis muncul di wajah Xie Qingcheng, matanya sedikit tidak fokus. Tapi dia belum menyadari ada yang salah dengan anggurnya, hanya memandang pemuda di depannya.

Dia mengulurkan tangan dan menekan tangan ke dahinya, suaranya membawa nada mabuk dan sedikit sengau.”… He Yu, cukup. Hentikan ini dan pulanglah denganku.”

Suara He Yu menjadi sangat lembut, tidak lagi sedingin es seperti saat pertama kali melihat Xie Qingcheng.

Dia menuangkan segelas penuh lagi untuk Xie Qingcheng, mendorongnya dan membujuknya, “Baiklah, tentu saja aku akan kembali bersama Anda, Anda memiliki reputasi yang kuat, aku akan mendengarkan semua yang Anda katakan… Ayo, Xie-ge, segelas lagi. Setelah gelas ini, seluruh botolnya akan habis, jangan disia-siakan.”

Xie Qingcheng bersandar ke sofa. Matanya sudah merah, mata bunga persiknya sedikit berkabut di bawah pengaruh alkohol, dan wajahnya juga agak memerah. Tetapi dia masih berpakaian rapi, kemejanya terkancing dengan aman ke atas, sedikitpun tidak menunjukkan kecenderungan melanggar kesopanan.

Dia menenggak gelas anggur keempat.

Anggurnya hampir habis, namun Xie Qingcheng masih memegang kendali penuh atas kemampuannya dan tidak melirik sedikit pun pada wanita cantik itu.

Jika seseorang berpura-pura cukup lama, bagian dari tindakan mereka pasti akan menyatu dengan diri mereka yang sebenarnya, bukan?

“….” He Yu terdiam.

Dia merasa sedikit tidak senang, sedikit kesal.

Dia berpikir, mungkin karena Xie Qingcheng sudah terlalu lama melajang. Dia perlu sedikit memberikan Xie Qingcheng katalis lagi.

Jadi dia mendongak, melirik dua wanita yang berdiri di sebelah Xie Qingcheng.

Pintar dan cepat, kedua jiejie itu segera menyadari apa yang harus mereka lakukan. Salah satu dari mereka mengambil gelas anggur sementara yang lain berjalan di belakang sofa, duduk malu-malu dan bersandar ke Xie Qingcheng.

“Hai tampan…”

“Aku mendengar Tuan Muda He memanggilmu Xie-ge, jadi aku akan memanggilmu seperti itu juga, tidak apa-apa kan?” Tubuh gadis itu sangat lentur saat dia mendongak dengan genit dan menghembuskan napas seperti anggrek ke telinga Xie Qingcheng.Tangannya yang terawat semakin dekat ke dada lebar Xie Qingcheng, ujung jarinya meluncur di atas kerah kemejanya yang dikancing dengan ketat.

Kancing kerah kemeja pria dirancang sedemikian rupa untuk mudah dilepas oleh orang lain.

Melihat bahwa Xie Qingcheng tampan dan penuh dengan kejantanan, sedikit ketertarikan yang tulus mengalir di dalam godaan provokatif gadis itu. “Xie-ge, kenapa aku tidak minum segelas lagi bersamamu….”

Pop.

Wanita itu tersentak.

Xie Qingcheng meraih pergelangan tangannya yang ramping dengan cengkeraman.

Xie Qingcheng memejamkan matanya sejenak, kejernihan kembali ke tatapannya. Dia menepisnya. “Menyingkir dariku.”

Wanita itu: “….”

“Minggir. Berhentilah bertingkah tanpa malu.”

Wanita itu memucat sebelum memerah. Akhirnya, dia melihat ke arah He Yu dengan canggung, ragu dengan reaksi Tuan Muda He.

Kemudian, dia melihat ekspresi He Yu yang benar-benar menakutkan.

He Yu bersandar ke sofa, dengan satu siku terentang di belakang dan tangan lainnya memegang gelas anggur. Kaki ramping pemuda itu disilangkan, menatap lekat-lekat kearah pria di seberangnya.

Tatapan matanya sangat dingin. Karena rencananya gagal, akhirnya He Yu berhenti berpura-pura.

Matanya memadat menjadi es, dan ada embun beku yang mengalir di dalamnya.

“Kamu…” Kepala Xie Qingcheng berdenyut-denyut menyakitkan saat panas yang sangat panas merasukinya lagi dan lagi. “Apakah kamu akan pergi atau tidak….”

He Yu menghela nafas pelan. “Anda bahkan tidak bisa mengucapkan dua kata manis tanpa kembali memerintah orang. Xie-ge, Anda benar-benar bajingan yang tidak berperasaan.”

Dia berhenti, senyum gelap dan berbahaya muncul di sudut mulutnya—

“Mm. Aku bersedia pergi dengan Anda sekarang, tapi pada saat ini, bisakah Anda pergi?”

“….”

Xie Qingcheng mengangkat matanya perlahan. Bahkan tepi matanya tampak terbakar.

Pada saat ini, dia akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang salah; efek dari anggur Plum 59 sudah mulai mengalir deras ke seluruh tubuhnya. Xie Qingcheng terengah-engah saat reaksi tubuhnya yang terlihat merugikan terhadap alkohol terwujud tepat di depan mata He Yu. Kulit Xie Qingcheng yang awalnya pucat memerah dengan warna merah muda yang tidak wajar, seperti titik pemerah pipi yang membeku di dalam bongkahan es. Seolah-olah anggur meresap ke dalam tulangnya.

“Anggur ini…”

“Agak mahal.” He Yu bersenandung dengan lembut, “tapi ini anggur yang enak.”

“Kamu…!”

“Dokter Xie memperlakukanku dengan baik, tentu saja aku harus membalas budi. Bukan begitu?”

Xie Qingcheng tiba-tiba tersentak berdiri, dia tidak pernah bisa membayangkan bahwa He Yu benar-benar melangkah sejauh ini. Api amarah langsung membakar ke dalam hatinya yang tertekan, dia menyapu semuanya dari meja teh, gelas anggur dan botol minuman keras berhamburan di lantai.

Melangkahi meja teh, dia meraih kerah He Yu. “Apakah kamu gila?! Kamu… He Yu… kamu benar-benar….”

“Aku benar-benar?”

Suara Xie Qingcheng bergetar karena marah; tidak peduli seberapa bersalah dia merasa, matanya masih memerah karena marah atas apa yang telah dilakukan orang gila ini, “Kamu berani memberiku obat–!”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments