Penerjemah: -nanchailly
Editor: Chu


Enam tahun yang lalu.

Kediaman He yang dingin dan tenang.

Tidak ada tawa, tidak ada teman.

Meskipun pengurus rumah tangga telah menyiapkan kue untuk He Yu atas perintah He Jiwei dan Lu Zhishu, He Yu tidak memakannya. Itu adalah hari ulang tahunnya namun orang tuanya tidak hadir dan malah berada di Yanzhou bersama adik laki-lakinya. Mereka berkata bahwa mereka harus bertemu dengan klien penting hari itu, dan harus menunggu dan melihat setelah diskusi berakhir apakah mereka dapat terbang kembali tepat waktu.

Dia juga tidak punya banyak teman, karena dia sopan dan menjaga jarak dengan teman-teman sekelasnya. Terlalu canggung untuk mengundang mereka ke pesta ulang tahunnya.

Hari itu, Xie Qingcheng juga tidak berada di Huzhou; dia sedang menghadiri konferensi, dan memang sedang dalam perjalanan kerja seperti yang ditanya pada pesan teks oleh Xie Xue.

Bahkan langit tidak bekerja sama hari itu, hujan turun saat angin bertiup kencang. He Yu berdiri di ruang tamu ketika jendela bergaya Eropa dari lantai ke langit-langit menjadi lukisan cuci tinta yang berfluktuasi menakutkan, membingkai hujan deras di luar.

Lonceng berdentang satu kali — dua kali — tiga kali–

Jam besar di kediaman berbunyi setiap jam, secara akurat mengumumkan waktu pada tampilan jamnya.

Dari siang, sore, hingga malam.

“Tuan Muda … jangan menunggu lagi, Eksekutif He dan Eksekutif Lu mengatakan mereka tidak akan bisa kembali hari ini …” Tidak tahan lagi, pengurus rumah tangga dengan hati-hati melangkah maju dan menyampirkan jaket pada bahu He Yu. “Kamu harus pergi tidur.”

“Tidak apa-apa. Ini tidak seperti hari penting atau apa.” Ketika He Yu menoleh, dia tidak terduga masih tersenyum. “Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Aku akan segera beristirahat setelah melihat hujan lebih lama.”

Penjaga rumah menghela nafas pelan dan pergi.

Apakah itu benar-benar baik-baik saja? Apakah itu benar-benar tidak masalah?

Tentu saja tidak. Dia hanya menunggu —

Dia berpikir bahwa di dunia ini, setidaknya harus ada satu orang yang akan mengingatnya, yang akan merindukannya, yang akan berani menghadapi angin dan hujan untuk menemaninya dalam kegelapan.

Dia bukan orang jahat sehingga dia pantas dihukum dengan kesepian seperti ini, kan?

Dia menunggu.

Dan menunggu…

“He Yu! He Yu!!”

Entah sudah berapa lama — sepertinya tepat sebelum bel jam berdentang tengah malam — dia mendengar seseorang mengetuk pintu dari luar dan suara samar seorang gadis terdengar begitu jelas di antara angin dan hujan sehingga terdengar seperti ilusi.

Dengan mata sedikit melebar, dia buru-buru bergegas membuka pintu.

Berdiri di luar, sedikit terengah-engah adalah Xie Xue — satu-satunya gadis yang dekat dengannya. Satu-satunya teman bermain yang telah tinggal bersamanya selama bertahun-tahun.

Xie Xue mengenakan jas hujan, wajahnya yang basah oleh hujan tampak sedingin es, tetapi ketika dia menatapnya, tatapannya hangat.

Mengendus sedikit, dia melepas jas hujannya sambil tersenyum, memperlihatkan kue ulang tahun yang dia sembunyikan dengan hati-hati di bawahnya.

“Aku berhasil tepat waktu, kan?”

“… Mengapa kamu datang…”

“Aku tidak ingin kamu menghabiskan hari ulang tahunmu sendirian. Betapa menyedihkannya itu?” Xie Xue menyeka air yang menetes dari rambutnya dan berkata, “Aku membuat kue coklat favoritmu untukmu. Astaga, aku hampir tenggelam di sana, badai yang sangat besar, apa-apaan ini …”

Pada saat itu, kebencian He Yu tampaknya menghilang karena hatinya yang kosong terisi.

Dia meraih tangan Xie Xue yang membeku dan menariknya ke dalam. Dia merasa suaranya sedikit serak ketika dia berkata, “Aku pikir aku juga tidak boleh sendirian …”

“Bagaimana mungkin? Bagaimana kamu bisa sendirian? Kamu masih memilikiku. Aku akan selalu bersamamu.”

“….”

“Selamat ulang tahun ketiga belas, He Yu.” Gadis itu tersenyum cerah, menjadi sinar matahari yang paling cemerlang di kediaman yang teduh.

He Yu tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi setelah itu karena sudah lama sekali.

Dia hanya ingat bahwa ketika dia pergi ke lemari es, mencari sepotong kue coklat yang belum dimakan, itu sudah hilang.

Tentu saja, makanan penutup yang belum tersentuh yang dibuat oleh pengasuh untuknya telah menghilang bersama dengan sepotong kue itu.

Melihat wajahnya yang sedih, pengasuh itu dengan cepat menjelaskan sebelum dia menjadi marah, “Benda-benda itu sudah tidak segar lagi, tidak baik bagi Anda1Kamu Formal. untuk memakannya, jadi mereka dibuang … Jika Anda mau, kami bisa membuatnya lagi malam ini.”

Tetapi bahkan jika mereka membuatnya lagi, itu tidak akan menjadi kue yang dibawa Xie Xue untuknya pada malam hujan itu.

He Yu berkata, “Tidak apa-apa, lupakan saja.”

….

He Yu melihat proyeksi di depannya, semangatnya jatuh ke genangan es. Dia jelas ingat Xie Xue datang hari itu.

Hari itu dia… dia… memiliki seseorang bersamanya; jadi seseorang telah mengingatnya…

Tapi–

He Yu telah mengumpulkan informasi dalam gambar yang diproyeksikan sendiri, dan cadangan di penyimpanan cloud ini tidak mungkin palsu.

“Gege, Bibi Li sakit, aku pergi bersamanya untuk mendapatkan infus. Kapan kamu akan kembali dari perjalanan kerjamu? Prosedur rumah sakit ini sangat membingungkan, kepalaku sakit, aku berharap kamu ada di sini …”

Bagaimana ini bisa terjadi?

Bagaimana ini bisa terjadi!!

Dia mengeluarkan komputernya, jari-jarinya meluncur di atas keyboard, ekspresinya praktis berubah dan matanya hampir gila, seolah-olah dia akan menggali kuburan informasi, membongkar peti mati dan menggali mayat, mencari kebenaran yang telah terkubur selama berabad-abad.

Xie Xue, Xie Qingcheng, He Jiwei, Lu Zhishu.

Kebenaran itu seperti mayat yang tidak dapat rusak, dan dari dalam database cloud, itu memberinya seringai dingin yang menakutkan.

Kebohongan…

Bohong…

Bohong!!

Karena terlalu banyak waktu telah berlalu, sebagian besar catatan log obrolan tidak dapat diambil lagi, tetapi pesan yang berhasil dia pulihkan sudah cukup untuk membuktikan bahwa, pada malam itu, pada malam ketika dia sangat membutuhkannya, dia–

Tidak datang sama sekali.

He Yu bahkan melihat pesan yang dia (Xie Xue) kirim ke Xie Qingcheng keesokan harinya yang mengatakan, “Ge, He Yu bertanya padaku apakah aku bisa pergi ke rumahnya untuk bermain dan menghabiskan hari ulang tahunnya bersamanya, tetapi Bibi Li sangat sakit kemarin dan aku sangat sibuk sampai aku lupa untuk menanggapinya. Aku merasa sangat malu, bisakah kamu meminta maaf padanya untukku… aku tidak punya nyali untuk menjelaskan padanya…”

Xie Qingcheng: “Kamu tidak perlu terlalu dekat dengannya.”

….

Dia terus mencari.

Garis waktu beringsut ke depan …

Dan menjadi lebih mengejutkan.

Dia menemukan catatan obrolan tertentu.

Itu adalah percakapan antara Xie Qingcheng dan He Jiwei.

“He Yu tampaknya menciptakan semacam delusi ketika dia dalam keadaan paling tidak berdaya, dan objek ilusinya adalah adik perempuanmu,” kata He Jiwei. ”Aku baru-baru ini menemukan secara tidak sengaja bahwa beberapa hal yang dia katakan padaku tidak terjadi sama sekali. Dokter Xie, situasi seperti ini….”

“Sangat normal baginya,” jawab Xie Qingcheng. ”Aku sudah tahu tentang perilaku ini sejak awal.”

“Bagaimana ini bisa…”

“He Yu membutuhkan teman yang seumuran dengannya, tapi dia tidak mau membuka hatinya untuk anak seusianya. Cara berpikirnya unik dan dewasa sebelum waktunya, sehingga kebanyakan orang seusianya tidak begitu memahaminya. Karena keterasingan jangka panjangnya, dia membutuhkan pelampiasan untuk melampiaskan emosinya, dan pada saat seperti itu, rekan terdekatnya dapat dengan mudah menjadi cerminannya sendiri.”

“Cerminannya sendiri?”

“Ya. Beberapa anak autis atau kondisi psikologis lainnya akan membayangkan seorang teman ketika mereka tumbuh dewasa, dan di hadapan teman itu, mereka dapat menyerahkan hati mereka tanpa syarat. Teman itu mungkin tidak ada sama sekali, atau mereka (teman) mungkin hanya ada sebagian. Alasan mengapa pasien membuat mereka (teman) adalah agar mereka (teman) dapat memenuhi kerinduan yang kuat di dalam hati mereka (pasien) sendiri.”

Xie Qingcheng mengirim penjelasan lain ke He Jiwei. “Sebenarnya tidak hanya anak-anak dengan gangguan jiwa, tetapi anak-anak normal juga akan mengembangkan beberapa delusi ketika mereka kesepian. Misalnya jika mereka terbuang di kelas dan tidak punya teman, mereka akan membuat teman untuk diri mereka sendiri dan percaya bahwa merekalah satu-satunya yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan teman itu. Ini adalah mekanisme pertahanan psikologis naluriah anak.”

“Tetapi orang yang tidak sakit jiwa dapat membedakan imajinasi dan kenyataan, serta menyadari bahwa ini adalah ilusi. Mereka tahu bahwa mereka lahir dari kenyamanan yang mereka inginkan. Tetapi untuk anak seperti He Yu, sulit baginya untuk mengenali ini — terutama karena khayalannya hanya sebagian yang dibayangkan.”

He Jiwei bertanya, “Dengan hanya sebagian yang dibayangkan maksudmu…?”

“Xie Xue memang ada — dia adalah adik perempuanku, dan dia adalah teman terdekatnya yang memang sangat baik padanya.” Xie Qingcheng berkata, “Tapi aku sangat mengenal saudara perempuanku. Dia selalu sangat antusias dengan orang-orang, dan meskipun He Yu adalah teman baiknya, mereka belum terlalu dekat. Ada hal-hal tertentu yang tidak akan dia lakukan untuknya.”

“Namun, sehubungan dengan He Yu, pikirannya perlu didukung. Hal-hal yang tidak dilakukan Xie Xue yang dia (He Yu) harapkan akan dia (Xie Xue) lakukan, dengan demikian akan diisi oleh imajinasinya. Dia hanya memiliki satu teman ini, dan dia tidak ingin dikecewakan oleh teman ini. Maka, pikiran bawah sadarnya kemudian akan mencoba meyakinkannya berulang kali bahwa hal-hal seperti itu benar-benar terjadi di masa lalu, bahwa Xie Xue benar-benar melakukan semua itu….”

“Tapi ini sangat membingungkan sehingga sulit bagiku untuk percaya—“

“Ini sama sekali tidak membingungkan. Otak manusia adalah instrumen yang sangat kompleks dan presisi; fenomena seperti itu dapat terjadi jika ada kesalahan dalam ingatan seseorang dan kesalahan itu terus berulang.”

“Ini seperti bagaimana beberapa orang mengacaukan mimpi dengan kenyataan, atau yang disebut efek Mandela2 Salah satu contoh memori palsu..”

“Efek Mandela?”

“Ini bukan konsep akademis yang tepat, tetapi berguna sebagai penjelasan. Eksekutif He, kamu dapat memahaminya seperti ketika seluruh komunitas orang berbagi perbedaan dalam ingatan mereka. Jika kamu mencari di Internet, kamu dapat menemukan banyak contoh. Misalnya, … apakah Mickey Mouse memakai terusan?”

Kali ini, He Jiwei membutuhkan waktu lama untuk merespon, seolah-olah dia dikejutkan oleh Xie Qingcheng yang mengajukan pertanyaan menggemaskan selama percakapan yang begitu serius.

“Aku pikir begitu.”

“Dia tidak memakainya. Tapi banyak orang percaya bahwa dia selalu memakai terusan — ini adalah efek Mandela. Ini adalah ingatan keliru yang telah berulang kali ditegaskan oleh otak manusia, menghasilkan kesan seperti ini.”

“Eksekutif He, kamu bisa menganggap Mickey Mouse setara dengan saudara perempuanku — dia ada, tapi dia sebenarnya tidak pernah memakai terusan. Namun, He Yu menggunakan imajinasinya sendiri untuk mengisi dua tali keseluruhan yang tidak ada, dengan tegas mempercayai ini untuk menjadi kenyataan sebenarnya dari hal ini.”

He Jiwei bertanya, “… Lalu, apakah ini gangguan delusi?”

“Tidak bisa disebut begitu. Bagi He Yu, ini adalah cara baginya untuk melindungi, menghibur, dan menyelamatkan dirinya sendiri.” Waktu yang lama berlalu antara pesan ini dan pesan berikutnya.

“Eksekutif He, dengan segala hormat, Anda3Kamu Formal. dan Eksekutif Lu tidak menghabiskan cukup waktu bersamanya. Bahkan anak dengan pola pikir yang sehat tidak dapat menanggung pengabaian seperti itu, apalagi fakta bahwa dia memiliki gangguan jiwa.”

“Dia tidak bisa mendapatkan perhatian dan cinta, tetapi dia sangat ingin membuktikan dirinya. Mungkin bersemangat bukanlah kata yang tepat, tetapi dia tahu bahwa menangis atau memohon tidak ada gunanya, karena tidak ada yang akan memberinya reaksi yang dia inginkan, jadi dia sudah terbiasa menginternalisasi (menyimpan) segalanya dan membela diri. Xie Xue yang dia bayangkan sebenarnya adalah bayangannya sendiri sepanjang waktu; hatinya sendiri yang menghiburnya, meminjam mulut Xie Xue untuk memberitahunya apa yang ingin dia dengar.”

“….”

Membaca pesan-pesan yang sarat debu ini, He Yu memikirkan tentang keinginan yang terkubur jauh di dalam hatinya…

Misalnya, aku akan selalu bersamamu.

Misalnya, kata-kata yang tidak pernah dia dengar secara langsung, “Selamat Ulang Tahun.”

Bukankah dia merindukan seseorang untuk memberikan kata-kata ini kepadanya?

Tapi dia tidak pernah mendengar itu …

Pesan Xie Qingcheng: “Karena tidak ada yang mengatakannya, dan karena dia adalah seseorang dengan rasa harga diri yang kuat, dia tidak akan pernah mengatakan hal seperti itu pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, otaknya sebagian mengandalkan imajinasinya untuk memenuhi keinginannya sambil mempertahankan martabatnya pada saat yang sama. Ini adalah semacam mekanisme pertahanan diri psikologis yang dimiliki orang, jadi kamu tidak perlu terlalu khawatir.”

Pesan He Jiwei: “Kamu sudah tahu tentang ini selama ini?”

“Aku sudah mengamatinya untuk sementara waktu. Aku tidak bisa memberitahunya tentang ini, karena keterkejutannya akan terlalu banyak.”

Xie Qingcheng berkata, “Tapi aku selalu menyuruh Xie Xue untuk sedikit menjauh darinya. Xie Xue seharusnya tidak menjadi objek ketergantungannya secara emosional. Tak satupun dari kita seharusnya, Eksekutif He. Cepat atau lambat, kita harus pergi.”

”Aku seorang dokter, bukan kerabat He Yu. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan seluruh hidupku untuk satu kasus medis, terlebih lagi Xie Xue. Aku hanya bisa memberinya bimbingan, bukan jenis cinta yang dia tidak punya dan ingin miliki. Adikku juga sama.”

“….”

He Yu tidak melanjutkan membaca pesan-pesan selanjutnya, karena pesan-pesan itu tidak lagi penting.

Mengetahui ini sudah cukup.

Lebih dari cukup.

Xie Qingcheng telah menipunya selama ini, dan Xie Xue juga palsu. Dari mereka berdua, satu adalah orang yang pernah memberinya dorongan terkuat dengan pasal-pasal kepercayaannya, yang membuatnya percaya bahwa akan datang hari di mana dia bisa kembali ke masyarakat biasa, sementara yang lain adalah orang yang telah memberinya persahabatan paling hangat, yang selalu bergegas ke sisinya di saat yang paling tepat ketika dia putus asa.

Sama seperti bagaimana pada malam hujan deras itu, dia mengetuk pintunya sambil meneriakkan namanya di angin dan hujan, melepas jas hujannya, dan memberinya kue cokelat yang dia inginkan.

Dia tidak pernah bisa membayangkan bahwa mungkin kue itu, dan bahwa Xie Xue… tidak pernah ada sama sekali.

Sementara itu, Xie Qingcheng telah menyaksikan rasa nyaman dirinya yang menyedihkan dan rendah ini; bahwa pria itu telah melihat semuanya, dan mengetahuinya dengan sangat baik.

Tidak ada yang pernah mencintainya.

Itu kebodohannya sendiri! Dia terlalu bodoh, terlalu bodoh, terlalu putus asa dalam kerinduannya untuk berjalan di antara kehangatan kerumunan. Untuk menjadi orang normal, untuk menghilangkan wajahnya yang mengerikan, dia telah menempa cahaya samar-samar dari dalam tengkoraknya sendiri yang berdarah.

Xie Qingcheng telah melihatnya, tetapi dia mengatakan–

“Aku tidak mungkin menyia-nyiakan seumur hidup untuk satu kasus medis, dan terlebih lagi Xie Xue. Aku hanya bisa memberinya bimbingan, dan bukan jenis cinta yang dia tidak punya dan ingin miliki. Adikku juga sama.”

Tetapi jika seseorang memiliki cinta sejak awal, mengapa mereka berbohong bahkan pada diri mereka sendiri?

Pembohong macam apa yang akan menipu seluruh dunia, namun akhirnya menipu diri mereka sendiri paling banyak?

Hanya pembohong termiskin, paling miskin.

Hal-hal yang dia miliki terlalu sedikit, dan air mata yang dia keluarkan terlalu banyak. Bahkan “Selamat Ulang Tahun” adalah sesuatu yang hanya bisa dia dapatkan melalui imajinasinya sendiri. Jika dia tidak membohongi dirinya sendiri, apa yang bisa dia andalkan untuk terus hidup dengan senyuman?

Jadi, bahkan di depan dirinya sendiri, dia akan mengenakan topeng tersenyum yang diikat erat ke wajahnya, yang tidak ingin dia lepas. Dia akan berbohong bahkan pada dirinya sendiri.

Xie Qingcheng benar, dia memang memiliki harga diri tinggi.

Dia tidak ingin dilihat sebagai pasien, tidak ingin dilihat sebagai orang gila. Dia tahu bahwa, mengingat status Keluarga He, begitu banyak orang yang menunggu untuk melihatnya runtuh, untuk melihatnya membodohi dirinya sendiri, untuk melihat mayatnya dan bersukacita dalam darahnya. Dengan demikian, dia berusaha membuktikan dirinya lebih jauh lagi; dia tidak ingin menerima belas kasihan siapa pun dengan menunjukkan kepada mereka bekas lukanya.

He Yu berdiri di ruang tamu yang kosong untuk waktu yang sangat lama.

Begitu lama waktu berlalu hingga tampak sedikit kabur. Tatapannya ringan namun tajam, berulang kali menyapu gelombang pesan yang sedingin es di depannya. Pada akhirnya tatapan tajam itu seolah terkikis oleh ombak, menjadi berserakan dan tidak fokus.

Dia perlahan menutup matanya.

Topengnya telah tumbuh menjadi dagingnya, tetapi Xie Qingcheng dengan kejam merobohkannya. Dia mengulurkan tangan, menyentuh wajahnya sendiri dalam diam.

Sakit.

Itu sangat menyakitkan…

Sakitnya begitu parah hingga membuat jantung dan seluruh tubuh bergidik.

Rasanya seolah-olah dia telah kehilangan segalanya dalam semalam.

Pasal-pasal kepercayaan Xie Qingcheng palsu, kedekatan Xie Xue palsu; penghiburan yang dia berikan pada dirinya sendiri adalah palsu, dan pada akhirnya, bahkan harga dirinya, bahkan cangkang keras yang dia digunakan untuk melindungi dirinya sendiri dan topeng itu telah hancur berkeping-keping. Baru sekarang dia tiba-tiba menyadari — ternyata, wajahnya yang menggelikan dan seperti badut itu telah terpapar pada Xie Qingcheng selama bertahun-tahun.

Jadi untuk apa sebenarnya dia bertahan?

Dan kenapa dia harus sebodoh itu! Mempertaruhkan nyawanya untuk menemani orang itu, mungkin hanya untuk sebuah kata pengakuan, atau untuk membalas secercah harapan yang pernah diberikan Xie Qingcheng kepadanya….

Dia telah mengabaikan bahkan hidupnya, dan itu sebenarnya hanya untuk bantuan pada seorang pembohong, mendapatkan bantuannya dengan kebohongan yang menyeluruh!!

He Yu mulai tertawa pelan. Membungkuk dan bersandar ke dinding, tawa itu semakin keras, semakin gila, dan semakin marah, seperti hantu pendendam yang mengaduk-aduk kuburnya.

Hantu-hantu penyakit di dalam hatinya meluncur keluar dalam jubah mereka yang berkerudung; dia meletakkan tangannya di dahinya, suara tawanya berubah menjadi gila — itu tampak marah dan penuh kebencian, sedih namun gila, saat air mata jatuh tanpa henti di pipinya ….

Itu benar-benar terlalu menyakitkan.

Dia melihat Xie Qingcheng menjangkaunya dengan tangan terbuka, tetapi apa yang ada di telapak tangannya adalah pisau bedah sedingin es.

Ini adalah kebenaran yang sebenarnya.

Dia melihat Xie Xue memberinya cokelat sambil tersenyum, tetapi dalam kedipan berikutnya, dia hanya menatapnya dari jauh.

Ini adalah kebenaran yang sebenarnya…

Dan kemudian dia melihat…

Dia melihat dirinya berdiri di depan jendela dari lantai ke langit-langit, badai mengamuk di luar. Jam antik di kediaman lama berdentang dua belas kali — saat itu tengah malam, dan dia dikelilingi oleh kegelapan tak berujung.

Tapi tidak ada yang mengetuk pintu.

Tidak ada yang pernah mengetuk pintu.

Dia menunggu, begitu saja, dari kegelapan sampai fajar. Badai telah berhenti dan malam yang panjang telah cerah, tetapi dia tidak pernah berhasil mendapatkan satu pun ucapan “Selamat Ulang Tahun” yang tulus .

Ini adalah kebenaran yang sebenarnya.

Kemudian, dia melihat dirinya diikat ke tempat tidur, mulut dan hidungnya tertutup saat jarum menusuk kulitnya. Dia berjuang dan meraung seperti binatang buas yang sekarat, tetapi dia tidak bisa memanggil nama satu orang pun.

Dia adalah pulau terpencil. Tidak ada jembatan…

Ini adalah kebenaran sialan yang sebenarnya!

Kebenaran!!

Seorang anak yang ditolak cintanya — untuk melawan iblis di lubuk hatinya yang terdalam, untuk terus berjuang untuk hidup, dia berbohong kepada siapa pun dan semua orang; dia bahkan membohongi dirinya sendiri selama bertahun-tahun…

Pada saat ini.

He Yu bersandar di dinding. Dia sudah dengan dendam merobek perban dari bahunya, membiarkan lukanya sendiri robek dan mengeluarkan darah di mana-mana. Hanya aroma darah yang bisa menyenangkannya dan membuatnya merasa bahwa dia benar-benar hidup! Dia memiliki tubuh, darah yang dia tumpahkan hangat, dia adalah orang yang hidup, bernafas, dia hidup … dia hidup …

Dia membenamkan tangannya di rambutnya, buku-buku jarinya memutih, pembuluh darahnya menonjol. Dia seperti naga jahat yang buta dengan cakarnya yang patah. Setelah kehilangan harta karun yang dia hargai dan sarang yang dia andalkan untuk berlindung, dia dipaksa keluar ke bawah sinar matahari, di bawah langit yang cerah, dengan masing-masing keropeng jeleknya dipajang untuk dilihat dan diejek semua orang sesuka hati.

Dia akhirnya terbangun dari mimpinya.

Dia telah berjuang selama hampir dua puluh tahun, tetapi dia masih gila.

Tidak ada yang pernah mencintainya, tidak ada yang pernah peduli padanya.

Selain kebohongan yang gagal, dia tidak punya apa-apa lagi.

Dia tidak pernah benar-benar mendapatkan apa-apa.


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Aku tidak tahu apakah ada di antara kalian atau teman di sekitar kalian yang pernah mengalami memberi diri sendiri seorang teman dari imajinasi, terutama di masa kanak-kanak.

Juga, seperti yang Xie-ge katatakan, efek Mandela bukanlah konsep akademis tepat, tetapi itu cukup menarik. Misalnya, apakah ada warna hitam di ekor Pikachu? Apakah Mickey Mouse memakai terusan? Semuanya, jika tertarik, kalian dapat mencarinya dan melihatnya….


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments