Penerjemah: Chu


Seolah-olah pemuda tiga belas tahun itu sekali lagi muncul di depan matanya, menatapnya dengan keras kepala dan tak berdaya saat dia diam-diam menahan perasaannya dengan sekuat tenaga.

Pada hari dia meninggalkan Keluarga He, sepertinya dia telah melihat sesuatu yang berharga di mata pemuda itu, sesuatu yang bukan hanya milik seorang pasien.

Tapi hatinya terlalu keras, dan tidak terlalu sensitif terhadap emosi tertentu, belum lagi dia (xqc) telah terjebak dalam begitu banyak hal lain pada saat itu dan tidak cenderung untuk mempertimbangkan perasaan seorang anak dengan sangat hati-hati. Karena itu, dia secara naluriah meragukan bahwa mata itu mengandung emosi yang melampaui hubungan dokter-pasien.

Dia harus pergi.

He Yu benar-benar seseorang yang telah dia korbankan — seseorang yang telah dia tinggalkan.

Di tengah arus kacau dari kasus pembunuhan Qin Ciyan, dia adalah anak yang telah dia kuatkan hatinya untuk ditinggalkan….

Suatu kali, ketika anak itu diseret ke dalam pusaran air oleh arus penyakitnya, dia menatapnya dengan tatapan yang sama, tatapan tak tergoyahkan. Sorot matanya seperti naga muda yang telah mengulurkan cakar kecilnya kepada manusia, yang telah mempercayai manusia, hanya untuk akhirnya ditipu oleh manusia, sayapnya patah, tulang belakangnya robek, dan cakarnya patah. Terluka, ia tergeletak di batu dalam keadaan linglung, sayap kecil dan cakar berlumuran darah, tapi tetap saja, agar tidak kehilangan muka sebagai naga, ia tidak berani meratap terlalu keras.

He Yu adalah orang yang sombong, jadi dia berkata dengan pengendalian diri sebanyak yang dia bisa—

“Xie Qingcheng, dalam beberapa tahun terakhir ini, aku telah melalui banyak dokter. Mereka menyuruhku untuk minum obat, memberiku suntikan, dan menatapku dengan ekspresi yang mengatakan bahwa aku adalah pasien yang langka dan unik. Kamu satu-satunya yang berbeda.”

“Karena kamu adalah satu-satunya yang memperlakukanku seperti seseorang yang harus berintegrasi ke dalam masyarakat. Kamu mengatakan padaku bahwa minum obat dan mendapatkan suntikan bukanlah hal yang paling penting, melainkan yang paling penting adalah menjalin hubungan dengan orang lain dan membangun rasa percaya diri yang kuat — itulah satu-satunya cara agar aku bisa terus bertahan.”

“Xie Qingcheng, kita tidak terlalu dekat, tapi aku masih….”

“….”

“Aku….”

“Aku pikir kamu melihatku sebagai orang normal dengan perasaan, bukan hanya sebagai pasien.”

Bahkan dengan begitu banyak kebanggaan di hatinya, dia masih dipaksa untuk mengatakan sesuatu yang kekanak-kanakan pada akhirnya–

“Aku punya banyak uang saku, aku bisa–”

Aku bisa mempekerjakanmu.

Aku bisa menjagamu di sini.

Bisakah kamu tidak pergi?

Bisakah kamu tetap tinggal.

Pada saat itu, Xie Qingcheng berpikir bahwa keengganan He Yu untuk melepaskannya mungkin sepenuhnya karena Xie Xue; bahkan mungkin He Yu sendiri juga berpikiran sama.

Tapi kenyataannya tidak.

Ketika dia memejamkan mata dan mengingat kembali periode waktu itu, dia ingat bagaimana dia akan menggendong He Yu yang jauh lebih muda di atas bahunya ketika dia menolak untuk menerima suntikan atau minum obatnya, bagaimana tangannya yang memberontak akan dengan patuh rileks, bagaimana dia hampir bisa merasakan beban anak laki-laki itu dengan tenang menjadi lemas di bahunya.

“Dokter Xie.”

“Xie Qingcheng.”

Suara itu berubah dari lembut dan tidak dewasa menjadi serak saat ia memasuki masa remaja.

Bahkan kemudian, itu menyimpan kesedihan yang secara paksa ditutupi dengan keras kepala dan ketidakpedulian–

“–Xie Qingcheng, meskipun kamu tidak memiliki penyakit, kamu bahkan lebih tidak berperasaan dariku.”

Kamu tidak berperasaan….

Penyakitku belum sembuh, masih sangat parah, kenapa kamu meninggalkanku.

Bang! Tembakan yang memekakkan telinga itu, darah yang terciprat keluar dan tumpah di telapak tangannya, mata almond pemuda itu dengan dingin menembus dalam kegelapan.

Dia berkata, Dokter Xie, tanpa diduga kebenarannya ternyata seperti ini … berpura-pura selama bertahun-tahun, kamu benar-benar telah bekerja keras.

Akankah seekor naga muda yang ditinggalkan dan terluka menatap manusia yang telah menginjak-injak kepolosan dan antusiasmenya dengan tatapan seperti ini di matanya?

Beban hangat di pundaknya sepertinya telah memudar.

Xie Qingcheng menutup matanya.

Satu-satunya panas yang tampaknya tersisa sekarang adalah di tempat di mana darah He Yu memercik ke telapak tangannya.

“Kamu pasti sangat lelah.”

Tiba-tiba, seseorang berbicara dari belakangnya; beban di pundaknya kembali saat sebuah tangan menekan tempat yang sama persis.

Dia membuka matanya — dia berada di kantor polisi.

Orang yang menekan tangan ke bahunya adalah Zheng Jingfeng.

Baru saja, dia tenggelam dalam pikirannya; di tengah kekacauan dan hiruk pikuk, dia telah memikirkan masalah masa lalunya dengan He Yu.

Sekarang sudah larut malam. Xie Qingcheng sedang duduk di ruang interogasi di seberang Detektif muda yang telah menghabiskan lebih dari satu jam untuk merekam kesaksiannya. Setelah menyapa Zheng Jingfeng, dia merapikan arsipnya, dan pergi.

Meskipun Xie Qingcheng bukan kerabat Zheng Jingfeng, bagaimanapun Zheng Jingfeng sangat dekat dengan orang tuanya. Dengan demikian, dia telah mengundurkan diri dari penyelidikan dan baru memasuki ruang interogasi sekarang.

“Rokok?” Zheng Jingfeng dengan ragu memulai percakapan dengan Xie Qingcheng.

“Ya.” jawab Xie Qingcheng dengan lelah.

Zheng Jingfeng memberinya sebatang rokok dan duduk menghadapnya. Menyalakannya, Xie Qingcheng menggigit filter rokok saat dia mendorong korek api ke seberang meja.

Saat dia menarik rokok, dia perlahan mengangkat matanya yang lelah.

Zheng Jingfeng bertemu dengan tatapan matanya. Meskipun dia cukup akrab dengan kepribadian pria di hadapannya, pada saat itu, Zheng Jingfeng masih mendapati dirinya sedikit gelisah oleh tatapan Xie Qingcheng.

Itu terlalu keras, terlalu tajam.

Seperti belati atau batu besar; seperti mata ibu dan ayahnya yang sudah meninggal.

Atau mungkin itu bahkan lebih mengerikan. Karena ketika dia menatapnya sekarang setelah begitu banyak hal terjadi, selain kelelahan fisik, mata itu sama sekali tidak memiliki kerentanan.

Tangan yang digunakan Zheng Jingfeng untuk menyalakan rokoknya bergetar tanpa sadar.

“Kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa?”

Suara Xie Qingcheng sedikit serak — setidaknya ini membuatnya tampak sedikit lebih seperti orang normal.

“Kamu tidak datang hanya untuk duduk di sana kan?”

“…Karena aku merasa tidak ingin mengatakan apa yang harus kukatakan. Kamu tahu risikonya, namun kamu masih bersikeras untuk melakukan apa yang kamu lakukan.” Zheng Jingfeng menghela nafas, “Ditambah lagi, apakah kamu percaya padaku atau tidak, sebelum aku ke sini, sebelumnya aku berpikir tentang bagaimana menghiburmu.”

“….”

“Tapi setelah itu, aku menyadari bahwa itu tidak benar-benar diperlukan.” Lao Zheng menatap wajah Xie Qingcheng yang praktis tanpa ekspresi.

Menggigit rokoknya, Xie Qingcheng menyeret asbak ke arah dirinya sendiri. Kemudian, dia mencabut rokok dari bibirnya yang pecah-pecah dan membuang abunya.

“Memang, itu tidak perlu.”

“Tapi tahukah kamu? Melihatmu sekarang, aku teringat beberapa hal.”

“Seperti apa.”

Zheng Jingfeng menghela nafas dalam-dalam. “Aku teringat saat kamu masih kecil….”

“….”

“Pertama kali aku bertemu denganmu, saat kamu masih di sekolah dasar. Ibumu masuk angin hari itu, jadi kamu berinisiatif untuk membawakan makanan untuknya dari kafetaria.” Mata baja Zheng Jingfeng berkabut dengan kelembutan pada ingatannya. “Ibumu suka sup telur dengan tomat. Kamu tidak terlalu tinggi saat itu, jadi kamu tidak bisa mencapai sendok sup ketika kamu berdiri di sebelah panci besar sup. Ketika aku melihatmu, aku pergi untuk membantu… Ketika kamu melihat ke atas untuk berterima kasih padaku, saat aku melihat matamu, tidak perlu untuk pengenalan — aku langsung tahu bahwa kamu adalah anak Zhou Muying dan Xie Ping.”

“….”

“Setelah itu, kamu sering datang ke biro untuk mengerjakan pekerjaan rumahmu. Ketika kamu lelah, kamu akan menggantungkan jaket ibu atau ayahmu di bahumu dan tidur siang di meja, menunggu mereka untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Aku telah bertemu banyak anak-anak dari unit kami, tetapi kamu adalah yang paling pendiam dan paling dewasa dari mereka semua.”

Zheng Jingfeng menghembuskan lingkaran asap dan memiringkan kepalanya ke belakang, mengikuti lingkaran asap melalui matanya.

“Kemudian, aku tidak bisa menahan rasa ingin tahu — aku bertanya pada ayahmu, bagaimana dia mengajari anaknya untuk berperilaku baik? Dia tertawa dan berkata padaku bahwa tidak ada yang memberi tahumu apa yang harus dilakukan — itu memang kepribadianmu. Aku pikir Lao Xie hanya pamer dan tidak percaya padanya, jadi aku berlari untuk bertanya padamu — aku tidak yakin apa kamu masih ingat atau tidak — tetapi saat itu, aku bertanya padamu bagaimana bisa kamu begitu mengesankan… hari itu kamu baru saja menerima hadiah dari kompetensi bela diri.” Kapten tua itu berkata, “Dan kemudian kamu memberitahuku….”

Zheng Jingfeng berkata, “Kamu ingin menjadi seorang polisi.”

Xie Qingcheng berkata, “Aku ingin menjadi seorang polisi.”

“….”

Keduanya mengucapkan kalimat ini pada saat yang sama, sebelum terdiam.

Setelah beberapa saat, Zheng Jingfeng berkata, “Pada usia itu, kebanyakan seorang anak hanya memiliki gagasan yang kabur ketika seseorang bertanya pada mereka tentang impian mereka di masa depan. Tapi tidak denganmu — begitu aku melihat cahaya di matamu, aku tahu bahwa kamu serius. Kamu mungkin memiliki rencana yang jelas sejak kamu masih kecil, jadi kamu selalu hidup lebih khusyuk daripada anak-anak lain seusiamu karena tujuan konkret itu.”

Xie Qingcheng menghabiskan rokoknya dan menyalakan yang lain.

Zheng Jingfeng berkata, “Kamu seharusnya tidak merokok begitu banyak.”

“Tidak apa-apa.” Xie Qingcheng berkata, “Kamu bisa melanjutkan.”

Zheng Jingfeng menghela nafas, “…Tapi tidak peduli seberapa tenang dan berkepala dingin kamu saat itu, kamu masih tampak seperti orang normal. Ketika aku melihatmu sekarang, sungguh — aku mengkhawatirkanmu. Orang biasa tidak akan bisa menahan emosi mereka sampai tingkat ini, memendamnya akan membuat mereka gila. Xiao-Xie, tidak perlu bagimu untuk menjadi begitu kaku.”

“Aku tidak merasa terlalu kaku, aku juga tidak merasa lelah.” Xie Qingcheng berkata, “Kamu tidak harus menemukan kelemahan untukku, aku sudah sangat terbiasa dengan keadaanku saat ini. Kelemahan adalah untuk wanita, itu tidak ada hubungannya denganku.”

Setelah mendengarnya mengucapkan kata-kata ini, Zheng Jingfeng sangat kesal hingga kepalanya mulai sakit. Dia mengangkat tangan dan menunjuk ke arahnya, “Gagasan patriark-mu ini benar-benar bermasalah. Kamu harus memperbaikinya. Untung rekan-rekan wanita di unit kami tidak ada di sini — jika mereka mendengar, tidak peduli seberapa tampan kamu, mereka akan memutar mata ke arahmu, dan aku berani mengatakan kamu pantas mendapatkannya. Omong kosong macam apa yang kamu semburkan!”

Xie Qingcheng tidak peduli dengan hal-hal semacam ini.

Dia mengutak-atik kertas saring rokok, “Cukup basa-basi. Kapten Zheng, mari kita ke masalah yang lebih penting.”

“Manakah dari hal-hal ini yang tidak penting?” Zheng Jingfeng memelototinya, “Biarkan aku bertanya padamu: apa hidupmu tidak penting? Apa video keterlaluan yang diproyeksikan ke menara penyiaran itu tidak penting? Kamu belum memeriksa ponselmu — para netizen sedang bersenang-senang. Kamu benar-benar luar biasa, Xie Qingcheng, kamu telah membuat marah organisasi kriminal itu sampai-sampai mereka keluar dari jalan mereka untuk menayangkan videomu secara gratis — kamu beri tahu aku, apa itu tidak penting? Juga, kamu dan teman kecilmu berada di dalam ketika gedung arsip akan meledak — ya, aku percaya bahwa hal-hal terjadi seperti yang kalian berdua jelaskan, tetapi apa kamu benar-benar mengira orang-orang selanjutnya dan rantai komando akan berpikiran sama? Apa kamu benar-benar berpikir hal-hal bekerja seperti itu? Kamu harus ditanyai, begitu juga teman kecilmu. Apa ini tidak penting? Dan satu hal lagi, kamu—”

“Bagaimana luka-lukanya.” Xie Qingcheng menyela omelan Kapten Zheng yang deras.

Lao Zheng mulai terkejut.

Sejak memasuki ruangan, ini adalah pertanyaan pertama yang Xie Qingcheng tanyakan yang terdengar sedikit manusiawi.

Xie Qingcheng merasa bersalah terhadap He Yu.

Dia sangat jarang merasa bersalah terhadap siapa pun, apalagi seseorang yang jauh lebih muda darinya.

Singkatnya, ada saat-saat ketika Xie Qingcheng memandang anak-anak kecil ini di mana dia merasa seolah-olah mereka tidak terlalu mirip dengan makhluk hidup yang bernafas.

Itu tidak berarti bahwa dia tidak memperlakukan mereka seperti manusia; sebaliknya, dia tidak terlalu mementingkan bagaimana perasaan mereka tentang dirinya.

He Yu tidak terkecuali.

Meskipun Xie Qingcheng telah berinteraksi dengannya selama bertahun-tahun — dari ketika He Yu berusia tujuh tahun hingga dia berusia empat belas tahun, dia selalu menjadi dokter pribadi Keluarga He — Xie Qingcheng tidak pernah menempatkan He Yu pada level yang sama dengan dirinya sendiri, juga tidak pernah menganggapnya sebagai seseorang yang dapat berbicara dengannya secara normal.

Dia selalu memberi tahu He Yu apa yang harus dilakukan, dan kecuali secara sepihak memberikan instruksi, dia tidak pernah berusaha mendapatkan apa pun dari orang-orang He Yu.

Lebih penting lagi, dia tidak pernah berpikir bahwa ada sesuatu yang bisa dia dapatkan dari pemuda seperti itu.

Ini adalah pertama kalinya Xie Qingcheng memperhatikan bahwa He Yu sudah dewasa; bahwa dia memiliki emosi dan keinginan pribadi yang tidak bisa dia abaikan.

Xie Qingcheng memikirkan kembali ekspresi dingin yang memenuhi mata He Yu sebelum dia pergi dan melihat darah kering di tubuhnya sekali lagi. Untuk pertama kalinya, dia dengan jelas merasakan gejolak emosi yang melebihi batas dari apa yang biasanya dia rasakan untuk seorang pasien seperti He Yu.

Dia bertanya lagi, “Kapten Zheng, bagaimana keadaannya.”

“Teman kecilmu pasti salah minum obat hari ini.” Zheng Jingfeng menggelengkan kepalanya, “Mengikutimu ke dalam arsip meskipun sama sekali tidak memiliki ikatan kerabat denganmu.”

“Dan kamu, bagaimana kamu bisa membiarkan dia bergabung karena omong kosongmu dan melakukan sesuatu yang sangat berbahaya.”

“….” Xie Qingcheng menurunkan matanya.

Pada saat itu, pikirannya benar-benar kacau, dengan seluruh tubuhnya tercabik-cabik oleh penderitaan sembilan belas tahun dan kesadarannya hancur berkeping-keping. Ketika dia dan He Yu pergi ke gedung arsip, satu-satunya pemikirannya adalah mungkin dia akhirnya bisa mendapatkan jawaban tentang organisasi yang telah membunuh orang tuanya. Dia bahkan tidak menyadari bahwa pada kenyataannya, tindakannya sudah terlalu berisiko.

Hanya ketika Lu Yuzhu mengeluarkan pistol, dia tiba-tiba sadar.

Sayangnya, saat itu sudah terlambat.

“Kamu seharusnya senang bahwa Lu Yuzhu tidak tahu cara menggunakan pistol; jika tidak, kalian berdua akan mati di sana di dalam gedung itu. Dan bahkan jika kamu tidak mati, jika dia mati, bagaimana mungkin kamu bisa menghadapi orang tuanya?”

Pada titik ini, Zheng Jingfeng membawa tangannya ke rambutnya, sangat kesal, “Omong-omong, dia juga putra He Jiwei. Kamu punya keberanian, bahkan menggunakan putra He Jiwei untuk tujuanmu sendiri. Orang tuanya menelepon atasan kami, menanyakan apa yang sedang terjadi. Untungnya, dia hanya tertembak di lengan dan tidak berhasil mematahkan apa pun. Kalau tidak, aku ingin—aku ingin–”

Dia mengatai Xie Qingcheng dengan tajam.

“Aku ingin melihat bagaimana kamu akan menghadapi konsekuensinya!”

“….” Xie Qingcheng menutup matanya.

He Jiwei sebenarnya telah menghubunginya beberapa kali, tetapi dia tidak tahu apa yang bisa dia katakan, jadi dia tidak menjawab.

Kemudian, He Jiwei mengiriminya pesan, menanyakan, “Kenapa He Yu mengikutimu dan melakukan hal seperti itu?”

Xie Qingcheng juga tidak tahu.

Mungkin karena di masa lalu, He Yu memang sangat menghargai filosofinya. Mungkin tujuh tahun persahabatan telah membuat He Yu berpikir bahwa hubungan mereka lebih dari sekadar hubungan tipis antara dokter dan pasiennya.

Tapi sekarang–

Setelah video-video itu diputar–

Jawaban aslinya tidak lagi penting.

Sebelum pergi, tatapan He Yu dingin, sedingin pertama kali mereka bertemu, atau bahkan lebih dingin, seolah-olah dia sedang melihat pembohong.

Memikirkannya dengan hati-hati, tidak peduli seberapa banyak He Yu mengatakan dia tidak menyukainya, dia belum pernah menunjukkan ekspresi seperti itu sebelumnya.

Dia belum pernah menunjukkan ekspresi seperti itu kepada siapa pun sebelumnya.

Bahkan selama penyakitnya kambuh, ketika dia marah dan haus darah, ganas dan tanpa ampun, dia telah melampiaskan semua itu ke dirinya sendiri, semua kerusakan yang dia lakukan untuk dirinya sendiri.

Xie Qingcheng adalah orang pertama yang dia tatap dengan tatapan menakutkan itu.

“Ah, baiklah baiklah, teman kecilmu tidak dalam bahaya serius sekarang, jangan terlalu memikirkannya.” Zheng Jingfeng salah memahami keheningan Xie Qingcheng. Melipat tangannya di atas meja, dia sedikit melembutkan suaranya. “Sama sepertimu, dia harus menjalani semua prosedur dan penyelidikan yang diperlukan. Kami akan menjelaskan semuanya pada orang tuanya, tapi terkait kamu mau menindaklanjuti dengan memberi mereka permintaan maaf sendiri, itu terserah kamu.”

“…Mm.” Xie Qingcheng merasa gelisah; dia juga sudah menghabiskan rokok keduanya.

Dia meraih yang ketiga.

Tapi Zheng Jingfeng menarik kotak rokok.

“Apa kamu mencoba menghancurkan paru-parumu atau apa? Kamu merokok, merokok dan merokok — siapa yang merokok seperti itu, ha? Bukannya kamu tidak tahan melihat orang lain merokok ketika kamu masih muda, apa yang terjadi padamu.”

Xie Qingcheng: “Aku kesal.”

“Bahkan jika kamu kesal, kamu tidak bisa merokok seperti ini.”

“….”

“Aku tahu bahwa kamu sangat kesal hari ini, kepalaku juga sakit sekali. Cucuku sedang di rumah sakit dengan demam 39 derajat dan aku bahkan belum punya waktu untuk meneleponnya kembali.” Zheng Jingfeng mengetukkan kuku-kuku jarinya ke meja, “Jadi, bertahanlah! Tunggu sampai aku selesai bicara!”

Xie Qingcheng menghela nafas. “Baik, bicaralah.”

“Aku baru saja mendengarkan kesaksianmu di ruang intergoasi, dan aku percaya semua yang kamu katakan. Tapi aku akan memberitahumu….” Pada titik ini, tatapan Zheng Jingfeng menjadi sedikit mengelak, dan untuk beberapa alasan, suaranya yang kuat mulai melunak. “Jangan terlalu berharap.”

“Dugaanku adalah bahwa kematian Lu Yuzhu sudah direncanakan sejak lama, dan bahwa dia adalah orang yang ditinggalkan organisasi untuk ‘mengambil kesalahan’. Mereka bahkan meninggalkan bukti dan jejak petunjuk yang secara langsung melibatkan dia sebagai pelaku di balik pembunuhan malam ini. Selanjutnya, semua dokumentasi yang diperlukan akan berbaris sesuai, memenuhi persyaratan untuk menutup kasus ini.”

“Insiden ini menjadi terlalu besar, dan kamu tahu bahwa semakin besar insiden itu, semakin menuntut penjelasan cepat. Sepatu bot di tanah1 bukanlah orang bodoh — mereka tahu ada celah besar dalam banyak detail, tetapi beberapa petinggi tidak dapat menangani terlalu banyak tekanan, dan mereka mungkin tidak melihat terlalu dalam apakah semuanya berdiri di bawah pengawasan ketat. Mereka bahkan mungkin ingin segera menyelesaikannya.”

Xie Qingcheng tidak bisa merokok, jadi dia malah mengotak-atik korek api, menjentikkan tombolnya lagi dan lagi.

“Dan mereka memiliki perlindungan di antara para petinggi, bukan?”

Dia mengangkat pandangannya, seperti bilah pisau.

“Kami tidak tahu siapa itu atau seberapa luas jangkauan mereka, tetapi karena mereka berani melakukan hal seperti ini, maka tidak diragukan lagi bahwa mereka memiliki seseorang yang mendukung mereka….”

Zheng Jingfeng: “…Jangan tanya aku, Persetan jika aku tahu.”

“Benar, seharusnya aku tidak bertanya padamu.” Xie Qingcheng bersandar ke kursinya.

Ini adalah departemen kepolisian — apa yang bisa dikatakan Zheng Jingfeng? Dan, jika dia tahu siapa “pelindung” itu, apakah dia benar-benar akan duduk di sini seperti ini?

“Sebenarnya, tujuan operasi mereka malam ini juga sangat jelas,” kata Zheng Jingfeng. “Pertama, untuk membersihkan jejak di dalam arsip.”

“Kedua, mereka membuat kekacauan seperti itu karena mereka menemukan keberadaan orang-orang seperti Zhang Yong — orang-orang dengan kepribadian lemah dan ikatan yang goyah dengan organisasi yang mungkin bisa beralih ke pihak berwenang. Permainan kematian menara penyiaran malam ini adalah peringatan untuk semua yang seperti “Zhang Yong”. Untuk memberi tahu mereka bahwa bahkan jika mereka dibuntuti dan dilindungi oleh polisi, organisasi itu masih bisa membunuh mereka tepat di depan hidung petugas polisi. Mereka menempatkan semua kolaborator dan bawahannya di tempatnya.”

“Ketiga, mereka ingin menyelesaikan insiden Cheng Kang. Mereka mengirim Lu Yuzhu untuk misi bunuh diri, dan mereka mungkin akan mengirim kambing hitam lain di masa depan. Mereka mengambil keuntungan dari fakta bahwa ada di antara kita yang ingin meminimalkan dampak kasus dan bergegas untuk menutupnya secepat mungkin. Bahkan jika ada petugas polisi yang ingin menyelidiki ini lebih lanjut di masa depan, mereka akan bertindak sendiri, dengan kemampuan mereka yang kecil… Juga, aku tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ada mata-mata di dalam.”

Pada titik ini, mata Zheng Jingfeng tertuju pada Xie Qingcheng. “Tapi yang tidak aku mengerti adalah insiden terakhir itu.”

Sebenarnya, Xie Qingcheng sudah tahu apa yang dia bicarakan, tapi dia masih bertanya, “Apa.”

“Kenapa mereka memutar videomu di akhir?”

“….”

Mereka mungkin memutar video itu karena entah bagaimana, mereka telah menemukan bahwa orang-orang yang berusaha menghentikan Lu Yuzhu adalah dia dan He Yu. Yang harus mereka lakukan hanyalah mencuri sebagian dari rekaman keamanan kampus dan mereka akan bisa sampai pada kesimpulan ini.

Fakta bahwa mereka telah menggunakan metode ini untuk menghentikan He Yu membantu Xie Qingcheng berarti satu hal —

Organisasi ini sudah tahu bahwa He Yu sakit jiwa.

Dan mereka sadar bahwa Xie Qingcheng pernah menjadi dokter pribadinya.

Fakta ini tidak banyak diketahui — Zheng Jingfeng tidak tahu; bahkan Xie Xue tidak tahu. Selama bertahun-tahun Xie Qingcheng dipekerjakan oleh Keluarga He, dia selalu memberi tahu orang lain bahwa pekerjaan yang dia lakukan terkait dengan proyek untuk perusahaan farmasi He Jiwei.

Xie Qingcheng telah memikirkan hal ini, dan bahkan mencurigai He Jiwei selama sepersekian detik, tetapi ide ini benar-benar agak tidak masuk akal. He Jiwei adalah ayah He Yu, dan dia pernah banyak membantu Xie Qingcheng — dia tidak akan melakukan hal seperti itu.

Mengikuti pemikiran ini, Xie Qingcheng juga menyadari bahwa rahasia penyakit mental He Yu bukanlah rahasia. Keluarga He memiliki begitu banyak pelayan yang semuanya tahu satu atau dua hal, dan dengan begitu banyak orang, pasti ada sesuatu yang tergelincir. Jadi pada kenyataannya, sangat sulit untuk menggunakan fakta ini untuk mempersempit tersangka ke sekelompok orang tertentu. Itu belum lagi tentang bagaimana pihak lain memiliki seorang peretas yang memiliki kemampuan untuk menelusuri berbagai basis data online seolah-olah mereka tidak dijaga dan terbuka untuk diambil.

“Aku bertanya padamu, Xiao-Xie.” Melihatnya dalam keadaan linglung, Zheng Jingfeng menggaruk kepalanya karena kesal.

“Aku tidak yakin.” Bahkan sekarang, Xie Qingcheng masih tidak memberi tahu Zheng Jingfeng tentang kondisi He Yu. “Mereka mungkin menyadari bahwa aku mencoba menghentikan Lu Yuzhu, dan ingin memberiku pelajaran.”

Zheng Jingfeng menatapnya dengan sedikit tidak percaya.

Demikian juga, Xie Qingcheng balas menatap Lao Zheng tanpa berkedip.

Pada akhirnya, Zheng Jingfeng menghela nafas. “Itu bagus. Dalam hal ini, mereka telah mencapai tujuan mereka.”

Dia mendorong ponselnya sendiri ke arah Xie Qingcheng. “Coba lihat sendiri.”

Internet sudah meledak dengan diskusi. Pertama, karena kata-kata Xie Qingcheng benar-benar agak tidak berperasaan dan tidak pantas, menusuk-nusuk titik sakit banyak orang, belum lagi, itu bahkan melibatkan Profesor Qin Ciyan.

Kedua, karena organisasi kriminal semacam itu benar-benar bersusah payah menyiarkan video lama Xie Qingcheng setelah menyelesaikan permainan kematian ‘jatuhkan saputangan’ mereka. Walaupun video ini sudah lama beredar di internet, tidak banyak orang yang menontonnya — setelah bertahun-tahun, bahkan belum mencapai beberapa ratus penayangan. Sangat tidak mungkin organisasi memainkannya hanya karena mereka pikir Xie Qingcheng tampan. Juga tidak ada yang mungkin tahu bahwa video ini telah diputar untuk membuat perpecahan antara Xie Qingcheng dan He Yu, seorang peretas yang bersamanya (Xqc) saat itu, jadi semua orang mulai menebak apakah Xie Qingcheng entah bagaimana terhubung dengan dalang teroris ini menyerang.

Segala macam pendapat muncul dengan sangat cepat. Sebagai mantan dokter dan profesor Sekolah Kedokteran Huzhou yang polos dan biasa-biasa saja, Xie Qingcheng benar-benar menjadi topik hangat.

“Seperti yang kamu lihat?” Zheng Jingfeng merasa tidak berdaya dan sedih karena Xie Qingcheng tidak mau mendengarkan nasihatnya. Dengan segala macam emosi yang bercampur, kata-kata yang keluar sebenarnya membawa sedikit omelan seorang ayah.

Pada saat ini, salah satu mentee memanggilnya dari luar, jadi Zheng Jingfeng bangkit, menepuk bahu Xie Qingcheng, dan menghela nafas, “Betapa mengesankan, bahkan para selebritas tidak setampan kamu. Tapi sayangnya, kamu memiliki mulut yang tidak menyenangkan. Apa kamu minum obat yang salah hari itu? Aku tidak percaya kamu akan mengatakan hal seperti itu. Ada apa denganmu?”

“…Tidak ada.”

“Apa maksudmu ‘tidak ada’? Bagaimana mungkin aku tidak mengenalmu? Jika kamu tidak menjelaskan semuanya sesegera mungkin, tunggu saja dan lihat apa yang akan terjadi, opini publik sudah—”

“Apa kamu pikir kamu sangat mengenalku dengan baik, Petugas Zheng?” Xie Qingcheng menatapnya, “Itu semua perasaanku yang sebenarnya.”

“Perasaan yang sebenarnya apanya! Aku sudah mengenalmu dan orang tuamu selama empat puluh tahun bagaimana mungkin aku tidak mengenalmu….”

Tetapi pada akhirnya, setelah bertemu mata Xie Qingcheng, nada suara Zheng Jingfeng melunak sekali lagi. “..Lupakan saja. Jika kamu tidak ingin membicarakannya maka lupakan saja! Aku tidak akan memaksamu, dan bagaimanapun juga, tidak ada yang bisa menghentikanmu melakukan apapun yang ingin kamu lakukan, bahkan jika kamu akhirnya dipukuli sampai berdarah. Aku menyerah, oke?”

“….”

“Berhati-hatilah dan istirahatlah. Setelah kamu pulih, pergilah menemui teman kecilmu itu.”

Sangat jelas bahwa ini adalah sesuatu yang hanya dipilih Zheng Jingfeng untuk memberitahunya pada menit terakhir. “Untuk beberapa alasan yang tidak pasti, dia mengalami demam tinggi, meskipun lukanya telah dirawat tepat waktu, sehingga tidak terinfeksi.”

Xie Qingcheng mendongak, jari-jarinya mengepal tanpa terasa.

–Demam tinggi yang tidak dapat dijelaskan adalah salah satu gejala He Yu ketika Ebola Psikologisnya berkobar. Jadi dia….

“Tapi aku tidak tahu apakah dia ingin bertemu denganmu atau tidak. Dia sepertinya sedang dalam suasana hati yang buruk dan tidak banyak bicara selain menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diperlukan.” Zheng Jingfeng menghela nafas, “…Dia sudah pergi ke rumah sakit, kamu bisa menghubunginya sendiri nanti.”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu

Footnotes

  1. Secara harfiah adalah orang yang bekerja di bawah.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments