Penerjemah : Chu


“Xie Qingcheng .. pada waktu itu, apa kamu benar-benar tidak merasakan sedikitpun belas kasihan padaku?”

“….”

Xie Qingcheng berdiri dengan punggungnya menghadap cahaya. Dalam kegelapan malam, He Yu tidak tahu ekspresi macam apa yang dia gunakan; dia hanya merasakan tangan yang menyokongnya sedikit gemetar.

“Xie Qingcheng, kenapa kamu harus pergi?”

He Yu menanyakan pertanyaan lain — bahkan pada tahap ini, dia bisa masih tetap tenang. Seolah – olah semakin menakutkan dan kritis situasinya, semakin tidak peduli dia.

“….”

“… Kamu berbohong padaku, kan? Dulu, itu bukan hanya karena kontrakmu sudah habis, kan?”

Tatapan dari mata anak itu.

Tatapan dari pemuda ini.

Keduanya terlihat tenang, kekanak-kanakan, keras kepala, namun juga terlihat … acuh tak acuh. Saat mereka menatapnya tanpa berkedip seperti ini.

Bahkan setelah menggali lebih dalam dan lebih dalam lagi ke tanah, tidak bisa menemukan jawaban yang mereka cari.

Tiba-tiba merasa dia tidak dapat menghadapi tatapan itu, Xie Qingcheng menutup matanya. “… Biarkan aku membawamu pergi dari sini dulu.”

Tidak banyak waktu tersisa, jadi dia menggandakan upayanya dan lanjut berlari menuju jalan keluar gedung arsip dengan menyeret He Yu. Pada waktu mereka keluar dari gedung gelap nan hening menuju keributan di luar, bersama lampu sirene polisi yang berputar dan meratap, untuk sekejap terasa seperti mereka terlempar kedalam tong kaleidoskop.

Zheng Zhingfeng juga telah menemukan arti sebenarnya dibalik huruf L sekarang. Setelah menentukan lokasi, lampu berwarna merah dan biru membutakan mata seakan mereka adalah ombak yang datang dari banyak arah.

Ketika Xie Qingcheng membawa He Yu menuruni tangga, setengah menyokong dan setengah menggendong pemuda yang masih berdarah, Zheng Zhingfeng membuka pintu mobil dengan keras dan segera keluar dari kendaraannya.

Kali ini, wajah dari Kapten Unit Investigasi Kriminal tertutupi dengan lapisan es yang dingin. Kekhawatiran dan kemarahan terpancar dari matanya yang seperti macan-kumbang, dua emosi yang saling bertentangan melintas di wajahnya seolah permainan bayangan (wayang), setajam bilah bercahaya dengan terang ketika mereka saling berbentur pandang dengan satu sama lain.

“Xie Qingcheng ….”

“Gedung arsip akan segera meledak. Jangan biarkan siapapun masuk.”

Ini adalah hal yang pertama kali Xie Qingcheng katakan ketika dia mendekati Zheng Jingfeng.

Zheng Jingfeng terlihat seperti dia sangat ingin menarik leher keduanya dan memasangkan borgol pada mereka, tetapi dia bertemu mata Xie Qingcheng … Mata itu sangat menyerupai mata milik Zhou Muying, hingga akhirnya dia menemukan dirinya tidak sanggup mempertahankan kontak mata terlalu lama.

Ada darah di pipi Xie Qingcheng. Zhang Jingfeng tidak tahu itu milik siapa, namun noda darah itu membuatnya merasa sangat bersalah.

Benar, dia tidak bisa membiarkan Xie Qingcheng terlalu dekat — Xie Qingcheng bukanlah petugas polisi, dan dia tidak memiliki kualifikasi untuk bisa terlibat terlalu dalam.

Bahkan jika apapun yang berada di depan mereka memang berhubungan dengan kasus tak terpecahkan tentang kematian orang tuanya dari sembilan belas tahun yang lalu, dia hanya mampu berkata kepada Xie Qingcheng, ini adalah rahasia, kamu harus menyerahkan ini kepada kami.

Namun bagaimanapun organisasi juga pasti lebih tidak fleksibel daripada perorangan; semakin organisasi teregulasi dengan baik, akan membuatnya semakin tidak fleksibel dalam kasus ini karena semakin banyak kasus yang perlu ditangani. Belum lagi dengan keberadaan polisi yang ‘kotor’ diantara mereka, atau bagaimana para penjahat ini terlihat seperti bagian dari sindikat kriminal internasional dengan pemahaman yang sangat baik akan teknologi canggih. Jadi meskipun Xie Qingcheng sudah mempercayakan permasalahan ini selama sembilan belas tahun, mereka masih belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan ketika itu berurusan dengan memecahkan teka-teki yang melibatkan gedung arsip, karena semua jenis hambatan, mereka tetap selangkah dibelakang Xie Qingcheng untuk datang kesini.

“Mundur segera.” Zheng Jingfeng tidak punya waktu untuk menyatakan keterkejutannya atau pun menanyakan apapun ketika dia segera mengalihkan perhatiannya kepada radio dua arahnya.

“Gedung arsip akan segera meledak, semuanya mundur!”

Berkata demikian, dia membawa Xie Qingcheng dan He Yu menuju mobil polisi. Setelah masuk paling terakhir dia menutup pintunya dengan bunyi gedebuk.

Setelah berada dalam mobil, semua mata tertuju kepada Xie Qingcheng dengan ekspresi sangat aneh.

Saat Xie Qingcheng melirik menara penyiaran yang tidak terlalu jauh, itu terlihat sudah kembali seperti penampilan terang benderangnya yang biasa. Warna merah padam dari “permainan kematian, jatuhkan sapu tangan” telah menghilang, gambar siluet seseorang berkedip-kedip dari menara di tempatnya. Mungkin saja itu iklan, tetapi dia tidak mendapatkan kesempatan melihat lebih dekat saat mesin kendaraan bergemuruh.

Pada saat ini, jalanan utama kampus nyaris sepi. Mobil polisi melaju dengan kecepatan kilat, lampu terus berkedip merah dan biru. Meluncur ratusan meter menuju kejauhan, dan kemudian–

BANG!!

Suara getaran seperti guntur yang teredam muncul dibelakang mereka, diikuti cepat dengan suara keras yang bisa menghancurkan bumi ditemani oleh jeritan orang yang menyaksikan pemandangan ini.

KABOOM!!

Benar saja, gedung arsip meledak ….

Menyerupai tanah longsor, potongan bata dan keramik lantai mengubur masa lalu dengan cepat.

Bersandar pada mobil, Xie Qingcheng hanya perlu melihat melewati pintu samping untuk melihat gemuruh api meninggi yang melalap dari gedung arsip, seperti badai menggelora menyapu kejahatan beserta hukuman di belakangnya, menggiling segalanya jadi debu, dan terkoyak-koyak menjadi potongan rusak yang mustahil disatukan kembali.

Xie Qingcheng menutup matanya. Dari awal hingga akhir, dia tidak menatap ke belakang.

Petunjuk-pentunjuknya telah seluruhnya melebur, dan dia … dia tidak bisa melihat kebelakang.

……

Ledakan yang menulikan telinga itu tidak reda hingga beberapa waktu berlalu.

Dengan perhatian semuanya berfokus dengan adegan kejahatan, mobil itu menjadi sangat sunyi. Setelah kendaraan itu berhenti, para petugas polisi keluar satu-persatu. Ada suara gemerisik dari angin yang bertiup, juga retih suara api dari kejauhan, dan ….

Tiba-tiba-

“Apa kamu tidak puas akan sesuatu?”

Itu adalah suara seorang pria.

Itu terdengar cukup keras karena datang secara bersamaan dari beberapa ponsel di dalam mobil.

“Jika kamu tidak puas atas apapun, kamu harus membicarakannya dengan pihak rumah sakit.”

Xie Qingcheng mematung, dan membuka matanya — apakah dia begitu terguncang hingga dia mendengar sesuatu? Mengapa dia mendengar suaranya sendiri?

“Jangan berdebat denganku disini.”

Tidak, dia tidak hanya mendengar sesuatu.

Tiba-tiba menyadari sesuatu, matanya segera terbuka lebar–

Video itu!!

Video yang tersebar ke seluruh ponsel di area Universitas Huzhou belum berhenti diputar!!

Ditambah lagi, sebuah gambar menyesuaikan konten yang disebarkan pada ponsel-ponsel itu telah diproyeksikan pada menara penyiaran.

Disaat dia menyadari video pada menara penyiaran, dia lekas sadar mengapa para petugas polisi barusan memandangnya dengan tatapan aneh dimatanya yang seharusnya tidak pernah ada disana.

Videonya sudah diputar untuk sementara waktu — beberapa saat sebelum He Yu dan Xie Qingcheng berhasil keluar dari gedung, menara penyiaran sudah terambil alih oleh adegan ini.

Xie Qingcheng menyalakan ponselnya, yang mana sebelumnya telah dimatikan. Segera saat ponselnya dibajak oleh sinyal peretas, dia menerima video yang disinkronkan dengan adegan yang juga tengah diputar di menara penyiaran.

Dalam video itu adalah dia, dari beberapa tahun yang lalu.

Dia mengenakan seragam dari Rumah Sakit Pertama Huzhou, mantel warna putih bersih yang dijahit dengan lambang biru rumah sakit, tanda nama yang terlaminasi dan dua pena terjepit pada bagian depan dadanya. Daerah sekitarnya amat kacau — dia dikerumuni oleh lingkaran pasien rumah sakit yang melihat selagi dirinya berdiri di depan pintu unitnya, menghadap seorang wanita yang acak-acakan dan tidak terawat.

Xie Qingcheng segera tahu apa ini dan kapan ini terjadi. Namun bagaimanapun juga–

Ekspresinya berubah pelan, dia memandang ke arah He Yu.

He Yu sedang mengerutkan kening, masih belum sadar atas apa yang terjadi. Namun, dia sudah menyadari bahwa video ini adalah video yang sama, yang peretas itu ingin dia buka sebelumnya — video yang seharusnya dia tonton untuk mengerti dan melihat “apakah itu sepadan.”

Bahunya masih berdarah. Dokter dari unit kepolisian yang membawakan pertolongan pertama berkata padanya, “Aku akan menolongmu membersihkan dan menghentikan pendarahan, akan sedikit sakit — cobalah menahannya.”

He Yu berkata acuh tak acuh, “Terima Kasih.”

Rasa sakit, darah, bahkan kematian — untuknya itu tidak berarti banyak.

Dia memfokuskan semua perhatiannya menyaksikan menara dibawah cahaya yang selalu berubah.

Adegannya masih berlanjut.

Wanita yang acak-acakan di video meraung, “Kenapa kamu membutuhkanku untuk menunjukan kartu identitas? Kenapa aku harus ditanyai petugas keamanan? Kamu pikir mudah bagiku untuk datang menemui dokter? Untuk mendaftar spesialis rumah sakitmu sudah sangat susah, para calo sudah mengambil semua tempat1! Aku harus membayar lima ratus yuan hanya untuk menadapatkan janji temu! Kenapa harus seperti ini?”

“Ternyata, bukan hanya orang miskin pantas mati, kami juga pantas dipojokkan dan terdiskriminasi oleh kalian para dokter, betul kan? Pikirmu aku ingin menjadi kotor dan bau seperti ini? Segera setelah aku memutuskan menutup stand pada pukul empat pagi hari, aku datang mengantri diluar rumah sakit untuk menunggu dibuka oleh kalian. Kalian pikir aku punya waktu untuk menjadi bersih dan rapi seperti kalian? Aku benar-benar bukan orang jahat!”

Namun Xie Qingcheng yang muda itu menatap dingin pada wanita yang meratap sembari memeluk lututnya didepannya dengan tangan didalam saku mantel putihnya, dan berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, “Setelah apa yang terjadi dengan Yi Beihai, kamu datang dan duduk di depan ruang konsultasiku meskipun kamu bukanlah pasienku — bagaimana aku bisa tahu apa yang kamu rencanakan?”

Wanita itu menjawab, “Aku hanya ingin bertemu dokter.”

Wajah tanpa ekspresi Xie Qingcheng berkata, “Kamu ingin ditangani, tapi aku juga ingin merasa aman. Aku akan menyusahkanmu untuk tidak duduk di depan ruang konsultasiku. Pergi kemanapun seharusnya kamu berada, entah itu bagian penyakit dalam atau bedah syaraf. Unitku tidak ada hubungannya dengan nomer registrasi ditanganmu.”

“Tapi ruang tunggu lainnya sudah penuh, dan aku tidak diperbolehkan untuk duduk di lantai. Aku sudah bersusah payah mencari tempat, aku hanya ingin beristirahat, aku sudah berdiri sepanjang hari ….”

“Simpan kalimatmu untuk petugas keamanan, aku hanya menemui pasien jika mereka membayarku. Aku tidak ingin menghadapi risiko meninggal saat sedang bertugas.”

Pasien yang mengerubungi sebenarnya tidak mempunyai keinginan untuk terlibat perselisihan dengan dokter itu dan sebisa mungkin menahan amarah mereka, namun melihat wanita itu menangis tersedu-sedu akibat kekejaman Xie Qingcheng, dan bagaimana gaya bicaranya yang terlalu agresif dan sombong, mereka tidak sanggup menahan ledakan amarah dalam hati. Seseorang meledak dihadapan Xie Qingcheng, “Apa yang kamu lakukan! Apa kamu tidak punya ibu? Yi Beihai adalah satu hal, harusnya kamu tidak mengutuk setiap pasien hanya untuk satu apel busuk? Seseorang yang egois seperti kamu tidak bisa dibandingkan dengan Tuan Qin Ciyan sama sekali!! Apa kamu pikir kamu layak menjadi seorang dokter?”

Xie Qingcheng mendongak, mempelihatkan sepasang mata bunga persik yang begitu tajam, mata itu mengungkapkan kekerasan. “Terlepas dari apakah aku layak atau tidak. Aku masih seorang dokter.”

“Menurutku mati demi seorang pasien tidak layak dilakukan, dan dibunuh oleh orang gila adalah hal sia-sia dan menggelikan. Kedokteran hanyalah profesi — kalian tidak seharusnya meromantisasinya dengan pengorbanan tanpa pamrih dan membuat seseorang menjadi sasaran pemerasan moral.”

Bibirnya terbuka dan tertutup.

Kehidupan seorang dokter akan selalu lebih berharga daripada kehidupan orang gila yang bahkan tidak mampu mengontrol dirinya sendiri. Kalian mengerti?”

“….”

Rekaman video menjadi sedikit kacau setelah itu. Di tengah kemarahan massa, seseorang mendorong orang yang merekam, menjadikan adegan itu berkedip hingga menjadi tidak jelas. Hanya kutukan marah dari para pasien yang mampu terdengar.

Ponsel yang tak terhitung jumlahnya menayangkan video yang sama, setiap layar berkelip dengan cahaya, dengan cepat menyebarkan isinya ke setiap sudut internet.

Semua ponsel di dalam mobil, entah itu milik Xie Qingcheng atau yang merupakan milik anggota lain dari unit petugas polisi, selama ponselnya tidak diatur pada mode hening, mulai berdengung tanpa henti. Itu adalah nontifikasi dari berbagai grup chat dan pesan individu.

He Yu duduk dikursi mobil polisi, membiarkan petugas medis merawat luka tembakan di bahunya. Selagi menyaksikan video, dahinya menempel di kaca jendela sepanjang waktu, diam-diam melihat menara penyiaran.

Menyaksikan video yang peretas itu telah coba kirimkan padanya, video yang dia pilih untuk tidak memutarnya.

Xie Qingcheng bisa merasakan hatinya tenggelam.

Jadi itu masalah ini.

Untuk mengacaukan He Yu, lawannya memilih mengekspos masalah ini.

Mendadak, dia ingin mengatakan sesuatu kepada He Yu, tetapi dia tidak tahu apa yang harus dia katakan, juga sepertinya tidak ada yang dapat dia jelaskan. Dia berhenti menyaksikan video itu; dia tahu dengan sangat baik apa yang sudah dia katakan dan lakukan saat itu.

Dosa yang dia tidak dapat jelaskan dan rahasia yang harus dia simpan yang tersembunyi dalam video itu — saat ini, semuanya telah dibocorkan ke tempat terbuka untuk dilihat orang banyak.

Dia tidak peduli. Pada saat dia melakukan hal-hal itu dan mengucapkan kata-kata itu, dia tahu bahwa dia akan terhukumkan oleh itu nantinya, dia akan menerima kritisisme selama hidupnya, dan dia sangat sadar masa depan macam apa yang menantinya.

Tetapi pada saat ini, ketika pandangannya mencapai pemuda yang kukuh dan diam disampingnya.

Bahu He Yu masih berdarah tanpa tanda akan segera berhenti; dokter telah merawatnya dengan turniket2, tetapi aroma darah yang manis masih menyelimuti bagian dalam mobil komandan polisi yang setengah tertutup.

Tanpa diduga, pemikiran Xie Qingcheng kembali ke beberapa jam yang lalu, tepatnya pada waktu pertama kalinya dia melihat pemuda ini secara langsung.

He Yu telah mengulurkan tangan untuknya. Waktu itu tidak ada yang bersedia menolongnya; bahkan Chen Man telah memilih untuk mengikuti peraturan.

Tetapi He Yu berkata, “Aku bisa membantumu.”

Tangan yang dia ulurkan padanya terlihat ramping, lebar, bersih dan indah; bahkan kukunya telah terpotong dengan sangat rapi. Jelas menandakan pemilik tangan adalah seorang tuan muda yang dimanjakan, yang merawat dirinya dengan baik.

Bebas dari darah, bebas dari luka.

Hanya ada bekas luka samar di pergelangan tangannya, tetapi itu sudah sembuh.

….

“Kenapa kamu….”

“Karena dulu, kamu melakukan hal yang sama untukku.”

“….”

“Aku tidak melupakannya.”

Warna merah yang mencolok menyengat mata Xie Qingcheng.

Sama seperti gambar dari video yang tidak bisa dihentikan, itu juga memotong jalannya ke bidang penglihatan He Yu.

Adegan berubah lagi.

Itu adalah ruang konferensi di rumah sakit.

Sepertinya Xie Qingcheng baru saja memberikan ceramah akademis yang sangat luar biasa, dan pihak administrasi rumah sakit sedang mengakui pencapaian profesionalnya.

Tapi rekan-rekannya yang bertepuk tangan di antara hadirin tidak antusias sama sekali; waktu dari konferensi ini seharusnya segera setelah pertemuannya yang kontroversial dengan pasien itu.

Direktur mengucapkan beberapa kata terima kasih kepadanya. Xie Qingcheng berdiri, tatapannya menyapu dengan tenang setiap orang di bawahnya.

Dia tidak mengucapkan kata-kata terima kasih. Apa yang dia katakan adalah, “Ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku memberikan ceramah di rumah sakit ini. Aku sudah memutuskan untuk mengundurkan diri.”

“….”

Beberapa pekerja magang medis yang tidak berotak masih bertepuk tangan secara robotik.

Tetapi sebelum mereka bisa melakukan lebih dari beberapa tepukan, para pekerja magang kembali ke akal sehat mereka, mereka melebarkan mata karena terkejut saat mereka menatap kosong ke arah Xie Qingcheng dengan mulut terbuka seperti semua orang di bawah panggung.

Xie Qingcheng adalah dokter termuda dan paling menjanjikan di rumah sakit, sangat hebat sehingga dia hampir tampak tidak manusiawi. Sebelum masa jabatannya, Rumah Sakit Pertama Huzhou tidak pernah memiliki asisten direktur seusianya. Bahkan jika dia baru-baru ini membuat beberapa komentar yang tidak pantas, itu bukanlah sesuatu yang pada akhirnya tidak akan dilupakan orang. Lagi pula, dokter mana yang tidak mengalami beberapa konflik dengan pasien selama hidup mereka?

Tetapi pada akhirnya Xie Qingcheng mengatakan dia akan mengundurkan diri.

Ekspresi direktur langsung menegang. Dengan tawa hampa, dia berkata, “… Dokter Xie, kenapa kamu tidak duduk sekarang. Kita bisa mendiskusikan masalah pekerjaan setelah konferensi selesai.”

Kepala urusan medis juga memaksakan senyum dan mengambil mikrofon, “Dokter Xie, kamu mungkin merasa kesal akhir-akhir ini. Tak satu pun dari kita dapat menerima apa yang terjadi pada Profesor Qin, dan juga unit Dokter Xie dekat dengan Profesor Qin, jadi kalian pasti rekan dekat. Saat itu, kamu bahkan melihat pengorbanan Profesor Qin secara langsung, jadi kami bisa mengerti jika kamu merasa sedikit kesal.”

“Aku tidak terlalu mengenal Qin Ciyan.” Xie Qingcheng memotongnya, “Aku juga tidak merasa kesal karena Profesor Qin.”

“Aku hanya tidak ingin menjadi Qin Ciyan berikutnya.”

Beberapa murid Qin Ciyan di antara penonton tidak tahan lagi. “Xie Qingcheng, jaga mulutmu! Apa maksudmu kamu tidak ingin menjadi Qin Ciyan berikutnya! Guruku mengabdikan seluruh hidupnya untuk kedokteran, beraninya kamu—”

“Tapi aku tidak.”

“….”

“Kedokteran hanyalah karier bagiku. Aku akan menyelesaikan semua tanggung jawabku dengan hati-hati, tetapi aku tidak berpikir itu normal untuk memberikan kehidupan seseorang dalam pekerjaan ini.”

“Aku juga tidak mengerti kenapa banyak dari kalian di sini hari ini merasa begitu setuju tentang hal itu, bahkan sampai menganggap itu mulia, di mana kalian akan mengabaikan keselamatan sendiri untuk merawat pasien tanpa mengikuti prosedur yang benar. Profesor Qin layak dihormati, tetapi apa yang terjadi padanya pada akhirnya adalah kesalahannya sendiri. Kenapa dia memilih untuk melakukan operasi pada ibu orang gila ketika dokumennya tidak diajukan dengan benar?”

Murid-murid Qin Ciyan berdiri. “Xie Qingcheng, kamu—!!”

“Maafkan aku. Karena aku tidak mengerti.”

Konferensi telah menjadi adegan kekacauan; kesedihan dan kemarahan yang dirasakan oleh para dokter muda tidak dapat ditekan lagi dan melonjak keluar. “Beraninya kamu mencibir seperti itu!”

“Apa maksudmu itu adalah kesalahannya sendiri? Kamu pikir Profesor Qin yang harus disalahkan atas kematiannya sendiri?”

“Xie Qingcheng, apa kamu lupa bagaimana kamu berbicara tentang pasien sakit jiwa di masa lalu? Kamu adalah orang yang dengan sepenuh hati mendukung untuk membiarkan mereka hidup di masyarakat, mengatakan bahwa kita harus menerima mereka dan merawat mereka seolah-olah mereka adalah orang biasa! Kenapa itu berubah? Kamu menjadi takut saat sebuah insiden terjadi, bukan? Kamu melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Profesor Qin kehilangan nyawanya dalam menjalankan tugas hari itu, dan kamu menjadi takut!”

“Kamu menyaksikan dia dilempar dan tenggelam ke dalam genangan darah, kamu melihat warna merah berceceran di seluruh kantornya dan menjadi ketakutan, kan? Kamu takut suatu hari, ini akan terjadi padamu! Semua pasienmu termasuk golongan orang yang sakit jiwa, posisimu jauh lebih berbahaya daripada dia! Jika kamu takut, katakan saja! Tidak ada yang akan mengolok-olokmu! Tapi berhentilah merendahkan pengorbanan Profesor Qin!”

Xie Qingcheng menjawab dengan dingin. “Ya, aku takut.”

Dokter muda itu menggertakkan giginya, “Namun kamu punya nyali untuk berbicara tentang tidak membeda-bedakan orang sakit jiwa—”

“Bagaimana kamu akan berbicara dengan pasien penderita kanker? Apa kamu akan mengatakan pada mereka — ‘Oh, maaf, tapi kamu akan segera mati’?”

Tidak ada sedikit pun ekspresi di wajah Xie Qingcheng, wajahnya lebih dingin daripada embun beku.

“Aku yakin kamu tidak akan melakukannya….”

“Kebenaran adalah satu hal, dan kata-kata yang kita ucapkan adalah hal lain. Sebagai seorang dokter penyakit mental, aku perlu memberikan harapan dan dorongan pada pasienku. Aku perlu membiarkan mereka merasa diperlakukan seperti orang normal.”

“Tapi tanyakan pada dirimu sendiri, semuanya — apakah kalian benar-benar tidak merasa khawatir sama sekali terhadap pasien sakit jiwa yang diidentifikasi berbahaya? Siapa di antara kalian yang mau berinteraksi dengan mereka sendirian, dan pergi sampai tahap di mana untuk menyerahkan hidup kalian pada pasien seperti itu tanpa keberatan sedikit pun?”

“….”

“Bisakah salah satu dari kalian melakukannya?”

“Jadi… semua yang kamu katakan tidak lebih dari basa-basi yang dangkal. Kamu hanya… kamu hanya penipu tercela yang menunjukkan sikap munafik!!”

Xie Qingcheng tidak ingin berdebat dengan orang-orang yang kehilangan kendali; dia sangat tenang, seperti biasa, begitu tenang hingga nyaris tak berperasaan, begitu tak berperasaan hingga nyaris berdarah dingin. Dia berkata, “Qin Ciyan mungkin orang suci. Tapi aku tidak lebih dari orang biasa. Ketika aku datang untuk bekerja dan mengenakan pakaian ini, aku seorang dokter yang memeriksa pasien. Ketika aku meninggalkan pekerjaan dan melepas pakaian ini, aku punya keluarga — aku punya istri dan adik perempuan yang harus aku urus. Aku belum mencapai tingkat pencerahannya (Qin Ciyan).”

“….”

“Jika kalian ingin menjadi Qin Ciyan, silakan saja.”

Saat Xie Qingcheng berbicara, dia melepaskan lencana yang baru saja dia terima dan memasukkannya kembali ke dalam kotak brokat berlapis beludru. Tatapannya sangat jernih dan tenang–

“Aku hanya ingin menjadi orang biasa.”

Pada titik ini, video tiba-tiba muncul.

Dan tiba-tiba berkedip.

Sekarang hitungan mundur pada game kematian WZL telah berakhir, polisi tidak bisa membiarkan lawan mereka melanjutkan perilaku keterlaluan mereka. Mereka (polisi) telah lama mampu merebut kembali kendali atas saluran transmisi informasi — tetapi mereka (polisi) tidak berani bertindak gegabah pada kesempatan yang akan memicu serangan teror terhadap warga Huzhou yang tidak bersalah, jadi mereka hanya bisa membiarkan lawan mereka melakukan apa yang mereka inginkan.

Pada titik ini, tidak mungkin mereka membiarkan video terus diputar. Dengan perintah yang datang dari atas, menara penyiaran “pedang berdarah” yang telah disibukkan dengan aktivitas sepanjang malam tampaknya terbangun dari kerasukan iblisnya saat catu daya3 pusatnya terputus.

Bunyi dari pemadaman listrik besar-besaran terdengar.

Seperti tirai yang diturunkan di atas panggung, seluruh menara penyiaran menjadi gelap, semua cahayanya menghilang dalam sekejap. Setelah “mengamuk” malam ini, itu kembali sepenuhnya ke keheningan yang mematikan, seperti binatang buas raksasa yang telah ditenangkan di tengah-tengah kampus, itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Di belakang menara penyiaran, api masih menyala, nyala apinya yang membumbung mewarnai langit malam di antara kumpulan arsip yang berwarna merah. Petugas polisi mengepung area di sekitar bangunan berusia berabad-abad yang terbakar habis; seseorang telah menghubungi 1194 saluran pengiriman darurat.

Setiap sudut kampus gempar; tidak ada yang tidur malam ini.

Tapi di dalam mobil, itu sunyi senyap.

Video itu hilang.

Adegan itu berakhir.

Tetapi mata He Yu telah tertuju pada menara penyiaran sepanjang waktu — dia sangat tenang, sampai sedikit menakutkan, saat dia menatap menara yang benar-benar gelap itu, begitu saja, tanpa menggerakkan otot.

___

Sebagian besar penyakit mental adalah respons orang normal terhadap keadaan abnormal….”

“Ketidaksetaraan sosial, lingkungan abnormal, penyebab utama yang menyebabkan kerusakan terbesar pada jiwa ‘mereka’, sangat ironis, hampir semua berasal dari keluarga mereka, dari tempat kerja mereka, dari masyarakat — pada akhirnya mereka juga berasal dari ‘kita’.”

“He Yu, cepat atau lambat, kamu harus bergantung pada dirimu sendiri untuk keluar dari bayang-bayang di hatimu.”

“Kamu perlu membangun kembali jembatan yang menghubungkanmu dengan orang lain dan masyarakat.”

Aku berharap kamu segera sembuh.”

“Hei, iblis kecil.”

“Apakah tidak sakit….”

“….”

Pada saat ini, kata-kata yang dikatakan Xie Qingcheng saat itu — kata-kata yang telah membuka belenggu di hati He Yu, dorongan yang telah membuatnya sedikit banyak mau untuk memandang Xie Qingcheng sebagai orang yang berbeda dari yang lain, kenyamanan yang pernah dia berikan kepada He Yu ketika dia melalui masa-masa tersulitnya — semuanya tampak melayang seperti awan debu, sekarang itu tampak sangat konyol dan dingin.

He Yu melihat ke menara.

Menara menjadi gelap; matanya juga sangat gelap.

Jika menghitung hari, dari waktu ketika video ini direkam, sebulan kemudian Xie Qingcheng mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dokter pribadinya, dan kemudian menghilang tanpa jejak, seolah-olah melarikan diri dari sarang binatang buas, atau mungkin melarikan diri dari seseorang yang mengidap penyakit menular.

Saat petugas medis membersihkan lukanya, lubang peluru di lengannya sepertinya tiba-tiba berdenyut dengan rasa sakit yang menyiksa.

Kalau tidak, mengapa dia merasa kedinginan?

Dan mengapa dia menjadi begitu pucat?

“… He Yu.”

“….”

“Tentang ini, aku….”

He Yu mendengar suara Xie Qingcheng dari sampingnya.

Dengan sabar, dia menunggu Xie Qingcheng selesai berbicara.

Satu detik berlalu, dan kemudian satu detik lagi.

Tapi Xie Qingcheng tidak melanjutkan.

Dia benar-benar telah mengatakan semua hal itu, terlepas dari apa alasannya, terlepas dari tujuannya atau rahasia yang tersembunyi di dalam kata-katanya, semuanya keluar dari mulutnya sendiri. Dan setelah kasus Qin Ciyan, memang benar bahwa He Yu-lah yang dia korbankan.

Dalam hal itu, juga benar bahwa dia tidak memiliki alasan yang bisa dia gunakan untuk menjelaskan dirinya kepada pemuda ini.

Pada saat ini, He Yu tiba-tiba merasa sangat konyol — dia tidak menyukai dokter sejak awal, dan dia tidak menyukai Xie Qingcheng sejak awal. Lalu bagaimana Xie Qingcheng mendapatkan kepercayaannya dan membuat He Yu membuka gerbang hatinya?

Bukankah itu karena apa yang disebut “perlakuan yang sama”, karena dia memandangnya sebagai seseorang yang merupakan bagian dari masyarakat biasa, mendukungnya saat dia berjalan keluar dari sarang naga jahatnya yang gelap dan berkelana ke sinar matahari yang tak terbatas di luar?

Tetapi apa yang dikatakan Xie Qingcheng di tempat-tempat yang tidak bisa dilihat He Yu, di tempat-tempat yang bahkan tidak dia ketahui, setelah kecelakaan Qin Ciyan dan sebelum meninggalkan jabatannya?

He Yu perlahan menutup matanya. Dia merasa bahwa seseorang telah memukulnya dengan kejam di pipi.

Tamparan itu telah melewati bertahun-tahun yang panjang dan berat untuk mendarat di wajahnya, jadi itu tidak lagi begitu kuat; He Yu berpikir bahwa dia tidak mungkin merasakan gangguan emosional dari tamparan ini.

Tapi di dalam dagingnya, samar-samar, masih ada sedikit rasa sakit yang menyengat.

“Baiklah. Aku sudah membalut lukamu untuk saat ini, aku akan meminta seseorang untuk membawamu ke rumah sakit.” Petugas medis polisi yang merawatnya memberi tahu He Yu, “Kamu masih perlu diperiksa sesegera mungkin. Ikutlah denganku ke mobil lain.”

“….”

He Yu membuka matanya.

Dia terlalu tenang, begitu tenang sehingga dia tampak agak menakutkan.

Panggilan masuk satu demi satu datang di ponsel Xie Qingcheng, entah karena peduli, khawatir, atau mencoba mendapatkan konfirmasi… segala macam panggilan dengan berbagai motif yang berbeda datang dengan deras.

Xie Qingcheng tidak mengangkatnya.

Dia melihat profil He Yu.

Tetapi He Yu hanya berkata kepada petugas medis polisi itu dengan nada yang sangat lembut dan halus, “Terima kasih. Aku benar-benar sudah merepotkan Anda5.”

Dengan satu langkah kaki panjang, dia dengan mudah keluar dari mobil.

Dia maju beberapa langkah. Baru pada saat ini, ketika dia hendak pergi, dia akhirnya bersedia untuk berhenti dan menoleh sedikit ke samping, suar polisi merah dan biru menerangi wajahnya yang tidak bercacat dengan batas cahaya yang terus berkedip.

Dia tersenyum lembut, cahaya api menyala melalui matanya yang gelap. “Dokter Xie. Tanpa diduga kebenarannya ternyata seperti ini.”

“….”

“Kamu telah berkorban banyak untuk berpura-pura selama bertahun-tahun, kamu telah benar-benar bekerja keras.”

“….”

Saat dia mengucapkan kata-kata ini, He Yu merasa bahwa ini benar-benar terlalu ironis.

Selama bertahun-tahun, satu hal yang paling dia takuti adalah diperlakukan seperti dia berbeda.

Xie Qingcheng-lah yang telah masuk ke sarangnya yang sepi dan memberinya keyakinan yang indah, memberikan hidupnya lapisan pelindung baju besi untuk pertama kalinya dan membuatnya percaya bahwa akan datang suatu hari di mana dia akan menemukan jembatan menuju masyarakat.

Dia sangat percaya pada Xie Qingcheng. Tidak peduli seberapa besar dia tidak menyukainya, tidak peduli seberapa jelas Xie Qingcheng menarik garis di antara mereka, tidak peduli seberapa kejam Xie Qingcheng telah pergi saat itu — dia masih memahaminya, dan dia masih berpegang teguh pada kata-kata penyemangat itu seperti orang bodoh. Mengenakan baju besi yang dia berikan padanya, dia melanjutkan dengan keterikatan yang keras kepala ini begitu lama.

Tapi ternyata, bagian dalam armor itu dipenuhi duri.

Dia mengira itu bisa menangkis ejekan yang dilontarkan padanya dari dunia luar, tetapi pada saat yang paling tidak dia duga, itu menembakkan ratusan duri dan ribuan bilah dari dalam, melukainya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Pasal-pasal kepercayaan yang diberikan Xie Qingcheng kepadanya adalah palsu.

Bahkan dia telah berbohong padanya.

“Xie Qingcheng, jika kamu benar-benar takut padaku, kamu bisa memberitahuku secara langsung sejak awal.”

“Kamu tidak perlu bertindak, dan terutama kamu tidak perlu memberitahuku terkait prinsip-prinsip hebat yang bertentangan dengan keyakinanmu sendiri. Setidaknya itu tidak akan….”

He Yu berhenti berbicara, meninggalkan kalimatnya yang belum selesai.

Siluetnya terlihat sangat kesepian, tetapi suaranya masih sangat tenang — seperti yang pernah Xie Qingcheng harapkan untuknya, seperti yang pernah diajarkan Xie Qingcheng padanya. Lambang ketenangan.

Pada akhirnya, He Yu hanya tertawa kecil. Darah yang hilang darinya masih ada di tangan Xie Qingcheng, tetapi tawa mengejeknya sudah melayang terbawa angin.

Kemudian, dia berbalik sepenuhnya dan mengikuti petugas polisi menuju mobil lain, tanpa menoleh ke belakang.


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

[Meatbun berterima kasih kepada pembaca sebelum jam 5 sore-]

Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu

Footnotes

  1. Pasien diberi nomor saat pendaftaran yang menentukan urutan kunjungan dokter; calo kadang-kadang akan membeli angka-angka ini dan menjualnya kepada orang-orang.
  2. Turniket, adalah alat untuk menghentikan peredaran darah melalui vena atau arteri, biasanya dilakukan dengan menahan organ tubuh dengan tali atau perban.
  3. Catu daya atau dalam Bahasa Inggris disebut power supply, adalah sebuah elemen penting dalam sebuah rangkaian elektronika.
  4. Nomor darurat standar untuk petugas pemadam kebakaran.
  5. Kamu Formal.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments