PenerjemahOnnaKaneshiro
Editor : Chu


Foto kematian Zhang Yong sudah menghilang. Satu-satunya yang tersisa sekarang adalah huruf merah darah terakhir–

L

Putaran terakhir dari permainan kematian “jatuhkan saputangan” telah resmi dimulai.

“Beri tahu aku daftar tersangka yang telah kamu kumpulkan untuk L.”

Di dalam kamar tidur, Xie Qingcheng dengan tajam menghirup asap rokoknya, dengan satu tangan menempel ke dinding dan ujung jari yang lain menempel di pelipisnya. Mata bunga persiknya menatap tanpa berkedip pada noda cahaya berdarah di menara penyiaran di kejauhan.

Kapten Zheng mengatakan beberapa kata serius dan terdengar tulus kepadanya melalui telepon.

Xie Qingcheng menahan emosinya. “Aku tidak akan berbicara omong kosong denganmu. Beri aku daftar nama.”

“….”

“Belum lama ini, aku menyerahkan buku tamu yang aku temukan di Universitas Huzhou ke kantor polisi. Di dalamnya, seseorang menulis bahwa WZL akan segera dibunuh, ditandatangani oleh Jiang Lanpei. Aku pikir itu mungkin berguna untuk polisi, jadi aku membawanya. Kamu tidak perlu menyembunyikannya dariku — buku semacam itu tidak akan muncul di sana tanpa alasan sama sekali, terutama ketika berisi pesan yang cocok dengan video pembunuhan hari ini.”

”Xiao-Xie ….”

“Itu adalah pesan yang ditinggalkan oleh informanmu, bukan?”

Xie Qingcheng langsung ke intinya, orang lain tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun penolakan.

Xie Qingcheng berkata dengan gigi terkatup, “Jadi kalian semua sangat menyadari sejak awal bahwa WZL berada dalam bahaya dibunuh, tapi mungkin kecerdasan informan juga jauh dari sempurna. Dia hanya bisa menuliskan apa yang dia tahu di buku sebagai peringatan untuk kamu pecahkan kodenya — tentang WZL, jika kita menghitung hari, kamu semua pasti sudah merenungkan pesan ini untuk waktu yang sangat lama, cukup lama untuk mempersempit daftar target. Zheng Jingfeng, jangan berani-beraninya kamu memberitahuku bahwa kamu tidak memilikinya.”

Kapten Zheng menghela nafas panjang. “…Aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu, Xiao-Xie. Dengar — aku mengerti bagaimana perasaanmu. Jika ada orang lain di posisimu, mereka juga tidak akan tahan. Namun….”

Saat Zheng Jingfeng mengubah topik pembicaraan, ujung rokok Xie Qingcheng yang menyala menghanguskan sisi jarinya, luka bakar itu membuatnya sedikit bergidik.

“Namun, kita harus menjaga kerahasiaaan….”

Xie Qingcheng tiba-tiba membentak, mengungkapkan tingkat kegelisahan yang jarang terlihat, “Kerahasiaan? Kerahasiaan apa? Kamu tidak dapat menemukan apa pun ketika ibu dan ayahku meninggal dan pada akhirnya, kalian akhirnya menyimpulkan bahwa itu hanya kecelakaan mobil! Berapa lama aku berbicara dengan kalian semua saat itu? Berapa banyak yang telah aku berikan untuk mencari jawaban?! Kalian semua tahu segalanya tetapi tidak dapat menemukan sedikit pun bukti! Setelah bertahun-tahun… Aku masih punya adik perempuan, jadi pada akhirnya aku menyerah, aku hanya bisa mengatur begitu banyak…. Tapi sekarang orang-orang ini menimbulkan masalah tepat di depan mataku, dan kamu masih ingin bicara padaku tentang kerahasiaan?”

“Xie Qingcheng, kamu bukan polisi, kamu harus tenang ….”

“Aku anak korban sialan!”

“….”

“Aku mungkin dapat menemukan seseorang yang dapat memberi tahuku identitas orang-orang yang membunuh orang tua-ku hari ini” Mata Xie Qingcheng merah saat dia menempelkan dahinya ke bingkai jendela yang sedingin es. “Jadi, katakan padaku. Bagaimana aku bisa tenang.”

“….”

“Bagaimana aku bisa mempercayai kalian, Zheng Jingfeng. Sudah sembilan belas tahun, namun kamu masih belum memberiku jawaban. Saat ini, kamu bahkan tidak dapat menghentikan peretas di balik hitungan mundur video pembunuhan ini agar tidak masuk ke sistemmu…kamu tidak perlu memberi tahuku, aku sudah tahu bahwa kebencian orang-orang itu akan bangkit untuk memenuhi tantangan. Apa mereka sekali lagi lolos kali ini?”

“Zheng Jingfeng, Petugas Zheng, apa kamu tahu bagaimana rasanya hidup di dalam kegelapan selama sembilan belas tahun, tidak pernah menerima kebenaran sekali pun?! Aku telah bertahan dan menunggu, selama ini.”

“… Aku tahu tetapi….”

“Aku mengerti seperti apa sembilan belas tahun terakhir ini bagi kalian, tetapi bisakah kalian mengerti seperti apa hari ini bagiku?”

“… Aku mengerti, Aku mengerti ….” Pria lain bergumam, seolah-olah dia juga tidak tahu apa yang harus dia katakan.

Xie Qingcheng berhenti, darah merembes dari setiap kata yang dia ucapkan.

“Kapten Zheng. Jika Kamu benar-benar mengerti, maka beri aku daftar nama untuk L.”

“….”

“Kalau tidak, aku akan memikirkan cara untuk menemukannya sendiri.”

“….”

Beberapa saat hening.

Zheng Jingfeng akhirnya berkata, “Ah, Xiao-Xie terima kasih kamu mau mendengarkan nasihat dari Paman Zheng-mu ….”

Dia melanjutkan dengan kata-kata perdamaian yang serius dan sungguh-sungguh, tetapi ini adalah kesabaran terakhir bagi Xie Qingcheng.

Dia tiba-tiba menyerang dengan sangat marah, menendang kursi di sampingnya. “Persetan dengan ibumu! Apa gunanya itu? Berhentilah membohongiku seperti ini!!”

Xie Qingcheng melemparkan ponselnya ke atas meja dan menempelkan dahinya ke dinding. Karena dia sangat marah, dia mengetukkan dahinya dengan keras hingga memar ungu kemerahan mulai terbentuk.

Tidak seorang pun di dunia ini, bahkan Xie Xue, tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Dadanya naik-turun dengan cepat, matanya berubah menjadi benar-benar merah.

Dia terdiam sejenak, lalu melihat ke menara penyiaran sekali lagi.

Menara penyiaran disinkronkan ke streaming langsung yang diputar di beberapa ribu ponsel ini. Di belakang L, permainan ‘jatuhkan saputangan’ perlahan berlangsung.

Xie Qingcheng memaksa dirinya untuk tenang dan menggunakan tangan gemetar untuk mengangkat ponselnya sekali lagi. Setelah mengatur pernapasannya, dia memutar nomor Chen Man.

Bip…bip…

“Hei, Xie-ge”

“Chen Man.” Dengan suara serak, Xie Qingcheng berkata kepada pria di ujung telepon, ” … Aku butuh bantuan, bisakah kamu membantuku?”

Chen Man berhenti. “Ge, aku akan melakukan apa pun yang kamu minta dariku. Tapi….”

“….”

Suara Chen Man menjadi sangat sedih. “Tapi aku tahu apa yang kamu coba lakukan sekarang.”

Xie Qingcheng benar-benar tidak tahan lagi. Mengambil rokoknya lagi, dia berhasil mencabut satu dan mengambilnya di antara giginya, tetapi dia tidak bisa menyalakannya.

Karena kesal, dia membuang pemantik itu dan menggigit rokok di antara giginya. “Kamu tahu?”

“Aku tahu. Hampir setiap petugas keamanan publik di seluruh Huzhou memantau insiden ini. Setiap port sinyal seluler di Universitas Huzhou diretas dan dipaksa memutar video. Meskipun kami telah mencegat peretas, kami menerima ancaman anonim bahwa jika kami menghentikan video, beberapa lokasi di seluruh Huzhou akan dibom. Kami tidak bisa memverifikasi validitas ancaman saat ini, dan kami tidak bisa bertaruh.” Suara Chen Man terdengar lelah. “Xie-ge, aku tahu apa yang ingin kamu lakukan.”

“….”

“Semua yang kamu lihat, aku juga pernah melihatnya. Aku tahu kamu ingin menemukan L, mencegahnya terbunuh, dan bertanya kepadanya tentang identitas pembunuh yang membunuh orang tuamu dan organisasi tempat mereka berada.”

Pada titik ini, suara Chen Man terdengar seperti isak tangis. “Aku juga tahu… Aku juga tahu itu karena dia (Kakak Chen Man) mencoba mengungkapkan kebenaran untuk ayahmu, untuk shifu1-nya, bahwa da-geku… bahwa dia….”

Suara terisak Chen Man terdengar dari ujung telepon yang lain.

Tenggorokan Xie Qingcheng terangkat, rasa pahit membanjiri mulutnya.

Chen Man tidak menangis di hadapannya, tetapi selama proses telepon ini, masih terasa seolah-olah air mata Chen Man jatuh tepat di hatinya.

“Kamu tidak bisa membantuku, kan?” Xie Qingcheng bertanya dengan tenang.

“Aku tidak bisa… Itu aturannya… Aku, aku hanya di peringkat terendah, aku tidak bisa mengakses izin setinggi itu … dan aku … aku seorang polisi… aku….”

“….” Xie Qingcheng tidak berbicara lebih jauh.

Dia bisa mengutuk Zheng Jingfeng, meskipun Zheng Jingfeng lebih tua. Tetapi pada kasus ini, dia tidak akan pernah bisa mengutuk Chen Man.

Dia hanya berkata dengan sangat lelah, “Kalau begitu, lupakan saja.”

“Xie-ge, aku—”

Xie Qingcheng sudah menutup telepon.

Dia berbaring di tempat tidur saat waktu terus berjalan menit demi menit di sekelilingnya. Seluruh tubuhnya sedingin es, dari ujung jari, hingga ke jantungnya ….

“Ayah!! Ibu!!!”

”Jangan pergi ke sana! Xie Qingcheng! Jangan!!!”

Malam badai sembilan belas tahun yang lalu, ketika dia akhirnya menyadari siapa dua tubuh sedingin es yang ambruk di genangan darah, dia tidak terkendali dan bergegas menuju orang tuanya.

Rekan-rekan ayahnya menahannya, beberapa dari mereka bergegas sekaligus untuk menghentikannya.

“Siapa pembunuhnya? Siapa pembunuhnya? SIAPA PENGEMUDINYA!!”

“….”

“Lepaskan aku…biarkan aku melihat, mungkin ada kesalahan, mungkin kalian salah orang…?!”

Semua polisi menangis, tapi tangan yang memegangnya menolak untuk melepaskannya.

“Xiao-Xie, jangan seperti ini.”

“Pengemudinya melarikan diri, kami akan menyelidikinya … kami pasti akan menyelediki kasus ini dan memberimu penjelasan ….”

Tapi penjelasan apa yang mereka berikan padanya?

Baru kemudian dia mengetahui bahwa tidak ada yang melarikan diri. Dalam rekaman keamanan yang diambil, truk itu tidak berawak; sepertinya telah dikendalikan oleh perangkat jarak jauh untuk menabrak langsung orang tuanya, kemudian memulai prosedur penghancuran diri (ledakan). Dengan cepat diselimuti api, dengan bersih menghapus semua bukti yang mungkin ada di dalam kabin pengemudi.

Bersih tanpa noda.

Begitu bersih sehingga bahkan setelah sembilan belas tahun, kasus itu tetap tidak terpecahkan.

Xie Qingcheng berbaring di tempat tidur, merasa semakin dingin. Tidak bisa menyalakan rokoknya dengan tangannya yang gemetar, dia membuka kunci ponselnya dengan susah payah dan memilih file tertentu, menatap gambar di dalamnya berulang-ulang.

Terdengar klik.

Pintu kamar tidur terbuka.

Pada saat itu, Xie Qingcheng menutup matanya dan mematikan layar ponselnya. Ponselnya mulai berdering dengan panggilan, satu demi satu–

Rekan kerja lama orang tuanya, Xie Xue, dan juga Chen Man.

Tapi dia tidak mengangkat panggilan satu pun, membiarkan nada dering berbunyi berulang kali, menusuk gendang telinganya.

Brrr…

Tiba-tiba, nada dering berhenti.

Kemudian, terdengar suara ponsel dimatikan.

Xie Qingcheng menutupi mata dan dahinya dengan lengannya. Baru sekarang dia membuka matanya sedikit dan menatap mati rasa pada pemuda yang telah mematikan ponselnya dari bawah lengannya yang tertekuk.

“Aku mendengar semuanya,” kata He Yu.

“….”

“Kamu tidak pernah memberitahuku bahwa orang tuamu meninggal seperti itu.”

Xie Qingcheng memiringkan kepalanya. Pada akhirnya, dia tidak menangis; matanya hanya sangat merah dan merah. Dia ingin bangun dan pergi — karena tidak mungkin He Yu bisa memahami hal-hal ini.

Xie Qingcheng tentu saja tidak ingin berbicara terlalu banyak dengannya tentang hal itu.

Sambil duduk, dia mengambil rokoknya dengan tangan yang masih gemetar. Dia mencoba beberapa kali untuk menyalakannya, tetapi tidak ada kekuatan di tangannya dan itu tidak akan berhasil.

Pemantiknya diambil darinya, dan dengan bunyi klik yang tajam, He Yu menyalakan pemantik dan mengarahkan api ke bibir Xie Qingcheng.

“….” Xie Qingcheng menerimanya dan menariknya (rokok), gemetar di seluruh tubuhnya perlahan-lahan mereda.

He Yu duduk di sebelahnya, diam-diam memperhatikan saat dia menghabiskan rokoknya.

Dia merasa bahwa Xie Qingcheng sebenarnya adalah orang yang cukup mengesankan. Bahkan ketika menghadapi sesuatu seperti ini, dia hanya kehilangan sebagian dari ketenangannya, tidak pernah kehilangan kendali atas dirinya sendiri atau menderita gangguan mental.

Tapi sisi tak berdaya dari Xie Qingcheng ini masih merupakan sisi yang jarang dia lihat.

Dia terlihat sangat lemah, sementara He Yu sudah terbiasa dengan kekuatannya. Xie Qingcheng yang begitu lemah seperti ini, yang telah mencari melalui semua orang yang dia kenal tetapi gagal menemukan siapa pun yang dapat membantunya, memberi He Yu dorongan yang belum pernah dia miliki sebelumnya — dorongan untuk menawarkan tangannya.

Melihat Xie Qingcheng dalam keadaan putus asa namun tetap diam, dia tiba-tiba merasa sedikit familiar.

Dia menatapnya untuk waktu yang lama….

Kemudian, akhirnya dia ingat.

Itu seperti ketika penyakitnya bergejolak, ketika dia berusia delapan, sembilan, atau sepuluh tahun … Setiap kali rasa sakitnya paling parah, dia akan sama tak berdaya dan diam seperti ini, tidak mau mengatakan apa pun kepada siapa pun.

Dan bagaimana Xie Qingcheng memperlakukannya saat itu?

… Itu sudah terlalu lama.

He Yu terkejut — bagaimana dia masih bisa mengingat ini?

Mungkin setelah Xie Qingcheng menjadi dokter pribadinya… pertama kali penyakitnya bergejolak.

Pada hari itu, vila itu begitu sunyi sehingga orang bisa mendengar jarum jatuh, sunyi seperti kuburan yang sepi.

Duduk sendirian di tangga batu tempat hydrangea bermekaran, dia tidak meneteskan air mata atau membuat keributan ketika dia mengeluarkan pisau perak tajam dan dengan perlahan memotong dagingnya sendiri, seolah-olah dia sedang memegang tas kulit yang tidak ada hubungan dengan dirinya sendiri.

Ketika penyakit He Yu bergejolak, dia menyukai bau darah dan menjadi haus darah. Meskipun dia tidak memiliki hak untuk menyakiti orang lain, tidak ada yang terlarang untuk dirinya sendiri.

Saat dia dengan acuh tak acuh menyaksikan darah menetes di tangannya, dia merasa seperti lumut melilit di hatinya, perasaan kekejaman menyebar dari inti hatinya ke anggota tubuhnya….

Tiba-tiba, di kedalaman kemegahan musim panas yang tak berujung ini, sebuah suara tenang terdengar–

“Hei, iblis kecil.”

Terkejut, He Yu segera menyimpan pisau itu tanpa mengedipkan mata. Menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya, dia mengatur wajahnya yang masih kekanak-kanakan menjadi ekspresi kepolosan murni, menumpuk pada kenaifan tanpa keahlian yang seharusnya dimiliki seorang anak. Dia mendongak untuk menemukan bahwa orang yang berjalan keluar dari antara bunga-bunga itu adalah Xie Qingcheng yang masih sangat muda dengan jas putih panjang.

Xie Qingcheng mengangkat alisnya saat dia menatapnya dari atas. “Apa yang kamu sembunyikan.”

“…Tidak ada.”

He Yu tidak pernah menunjukkan hatinya kepada siapa pun, jadi tentu saja, dia berharap dia akan pergi.

Dengan bilah tajam yang menekan kulitnya di dalam lengan bajunya, butuh upaya besar baginya untuk menahan dorongan untuk menggunakannya terhadap orang lain.

Tapi Xie Qingcheng dengan kuat meraih pergelangan tangannya, memaksanya untuk mengulurkan tangannya. Pisau berlumuran darah itu berdenting ke tanah, saat Xie Qingcheng melihat luka di pergelangan tangannya yang masih meneteskan darah.

Seluruh tubuh He Yu menegang, menunggu dia untuk memarahinya.

Tapi setelah menunggu lama, dia hanya menerima satu pertanyaan dari dokter itu. “…Apakah tidak sakit?”

Dia tertegun.

Orang tuanya tahu bahwa dia sakit, tetapi mereka memperlakukan penyakitnya sebagai sumber rasa malu, terutama ibunya–

“Kamu tidak boleh menyakiti orang lain, jadi kamu perlu belajar mengatur diri sendiri. Aku dapat memahami ketidaknyamanan fisikmu, tetapi bagaimana mungkin seorang anak kecil mengalami begitu banyak penderitaan psikologis? Sepertinya kamu tidak cukup kuat.”

Dia dengan tenang mendengarkan ibunya menegurnya seperti ini, sama seperti setiap kali dia menerima perintah dan instruksi. Menjalani hidup sesuai dengan tuntutan mereka, dia sendiri tumbuh menjadi hadiah, piala, dan pujian yang tak ada habisnya.

Dia telah hancur berkeping-keping, dengan setiap potongan dagingnya yang patah ditempatkan di bawah mikroskop untuk diperiksa seseorang.

Dia tidak bisa membuat kesalahan.

Oleh karena itu, setiap kali penyakitnya bergejolak, dia akan dengan hati-hati menutupi rasa sakitnya, menyembunyikannya di dalam hatinya yang tebal seolah telah tertutupi kapalan.

Dia harus luar biasa; dia bahkan tidak diizinkan untuk berteriak bahwa itu menyakitkan. Namun bahkan jika dia berteriak, itu akan sia-sia; tidak ada yang akan benar-benar memperhatikannya.

Perlahan-lahan, ia kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan rasa sakitnya. Dan sejak saat itu, semuanya tidak penting lagi.

Sama seperti naga jahat yang menakutkan dalam dongeng, dengan kulit berduri dan cakar tajam, yang tidak pernah terbang keluar dari sarangnya yang tersembunyi. Itu menyiksa hatinya sendiri dan menggerogoti anggota tubuhnya sendiri, mengubah penyakit menyimpang menjadi bekas luka yang tidak mudah ditunjukkan kepada siapa pun.

Selama dia tidak menyakiti orang lain, maka dia tidak melakukan kesalahan apa pun, kan?

Noda darah yang sangat manis adalah bekas yang dia tinggalkan di tubuhnya sendiri. Hanya atas nama mencoba menjadi orang normal, dia memilih untuk mengurung dirinya dalam belenggu yang dibuatnya sendiri.

Satu-satunya persembahan yang pernah dia buat untuk penyakit jahat ini adalah darahnya sendiri.

Dia sudah lama terbiasa dengan ini.

Namun, dokter pribadi itu ingin membebaskannya dari belenggu logam yang dikenakannya sendiri; dia ingin masuk ke sarang naga jahatnya yang dingin dan tanpa cahaya; dia ingin menyentuh bekas luka dari semua ukuran dan bentuk di tubuhnya, dan kemudian bertanya padanya — hei, iblis kecil, apa tidak sakit?

Raungan rendah seekor naga yang masih muda bergemuruh di hatinya, lemah namun marah, tetapi saat pria itu mengulurkan tangan untuk mencoba dan menyentuh lukanya, ia (naga) menyeret tubuhnya yang terluka berdarah dengan panik, ekor naganya yang berduri memukul-mukul dengan cemas ke tanah.

Dia tidak terbiasa ditanyai.

Dan bahkan tidak terbiasa dirawat.

Dia berkata, Tidak sakit.

Tidak sakit, berhenti menatapku seperti itu! Aku tidak akan menyakiti orang lain, jadi jangan ganggu aku, jangan tanya aku, jangan dekati aku, tinggalkan aku sendiri….

Tapi tangannya telah diambil, dokter muda itu menarik lengan bajunya untuk memperlihatkan pergelangan tangan bawah yang selama ini dia sembunyikan.

Bilah sedingin es jatuh ke tanah.

Apa yang terlihat dari tatapannya adalah, untuk menahan keinginan untuk menyakiti orang lain selama penyakitnya kambuh, anak laki-laki muda dan kekanak-kanakan ini telah memotong luka demi luka pada dirinya sendiri, membentuk garis-garis yang saling bersilangan yang masih meneteskan darah hangat.

Sepertinya naga yang masih muda itu ketakutan, sampai-sampai ia menjatuhkan topeng manusia yang lembut dan pintar yang dikenakannya dan memperlihatkan moncong naga kecil yang menyedihkan, tertutup bekas luka, dan jelek di bawahnya.

Dia memukulkan ekor naga berdurinya, memamerkan taringnya yang tajam saat dia melolong, menerapkan semua pertahanannya untuk mengusir penyusup ini agar keluar dari sarangnya–

“Bukan urusan Anda2, jangan sentuh aku.”

Dokter muda itu mengabaikan keberatannya, mengangkatnya dari bawah lengannya, dan membawa anak kecil itu di bahunya.

“Jangan bergerak.”

He Yu mulai berjuang. Dia membenci bau disinfektan dari tubuhnya, dan membenci bau obat samar di dalam lengan bajunya.

Dia juga kehilangan semua kemampuan untuk menyembunyikan kecenderungan brutalnya sendiri, desisan lembut yang keluar dari balik gigi terkatup, ancaman tetapi juga peringatan.

“Lepaskan aku, atau aku akan menyakitimu….”

“….”

Dokter berkata dengan acuh tak acuh, “Bagaimana kamu akan menyakitiku? Apa kamu memiliki rencana khusus?”

Ketika dia sampai di kamar sakit yang disiapkan khusus di vila, dokter muda itu melemparkannya ke sofa anak-anak yang empuk dan membanting pintu hingga tertutup sebelum mengambil masker sekali pakai dari laci dan memakainya. Ketika dia berbalik, He Yu hanya bisa melihat mata Xie Qingcheng yang dalam dan dingin.

Itu adalah pertama kalinya dia tidak ditatap dan dilihat sebagai anak “panutan”.

Setelah ditatap seperti ini, seolah-olah dia tiba-tiba menjadi anak yang kikuk dan sangat masuk akal baginya untuk melakukan kesalahan dan membodohi dirinya sendiri; seolah-olah dia bahkan bisa mengulurkan tangan dan meminta permen kepada orang lain, dan itu tidak salah.

Jadi, dia membeku, dan bahkan lupa untuk lari.

Xie Qingcheng mencuci dan mendisinfeksi tangannya di dekat wastafel, lalu berkata, “Ulurkan tanganmu, aku akan membalutnya untukmu.”

“Tidak apa-apa. Aku tidak peduli.” He Yu menoleh dan memegangi lukanya yang berdarah, menolak untuk mempercayai orang di hadapannya.

Xie Qingcheng mengangkat alisnya sedikit. “Kamu sudah terbiasa dengan aroma darah, terbiasa dengan kekerasan, dan karena ini, kamu bahkan tidak ragu untuk menyakiti dirimu sendiri, kan?”

He Yu berkata dengan tenang:

“Ya. Ini tidak bisa diubah, jadi aku tidak ingin membuang waktu Anda3 untuk mengobatinya.”

Xie Qingcheng berkata dengan acuh tak acuh, “Aku dibayar.”

“….”

“Iblis kecil, apa menurutmu menyakiti diri sendiri itu benar? Menjadi haus darah dan gila, mental yang menyimpang, adalah sesuatu yang harus diabaikan?”

“Kamu bahkan ingin menyakiti dirimu sendiri, kamu bahkan tidak menghargai dirimu sendiri. Jika kamu terlalu terbiasa dengan bau darah, kamu akan kehilangan semua emosi manusia, dan sedikit demi sedikit, kamu hanya akan menjadi lebih gila dan tidak peka, menjalani seluruh hidupmu seperti batang rumput atau lempengan batu. Tidakkah kamu akan menyesalinya? Apakah tidak sakit?”

………..

Percakapan ini seolah baru terjadi kemarin.

Meskipun Xie Qingcheng pada akhirnya pergi, dan hubungan mereka memudar, dia akan selalu mengingat hari itu. Ini adalah pertama kalinya seseorang menawarkan bantuan padanya, dan kemudian bertanya padanya–

Apakah tidak sakit?

Kenapa kamu tidak menghargai diri sendiri …

He Yu menyaksikan pria ini menundukkan kepalanya dan menghabiskan rokoknya yang terakhir.

Dia tiba-tiba bertanya, “Xie Qingcheng, kamu ingin tahu siapa yang diyakini polisi sebagai L, kan?”

“….”

“Jangan sedih. Mungkin aku bisa membantumu.”

Kepala Xie Qingcheng tersentak, menatapnya dengan mata bunga persik terbuka lebar.

“Jangan lupa,” kata He Yu, “Aku juga seorang peretas.”

“….”

“Mereka menggunakan peralatan paling mutakhir. Karena kebiasaan, aku benar-benar melihat peralatan semacam ini segera setelah memasuki pasar. Selain itu, aku baru saja dapat mencegat serangan mereka di ponselku, jadi aku memiliki gambaran umum tentang program yang mereka gunakan. Teknisi yang disewa orang-orang ini, aku mungkin bisa mengalahkan mereka.”

He Yu tidak bercanda dengannya.

Ekspresinya sangat serius.

Seolah-olah dia mengatakan kepada puncak gunung yang selalu menjulang di hadapannya pada ketinggian yang bisa dijangkau, aku sudah dewasa, aku bukan lagi bocah tak berdaya dari musim panas tanpa akhir itu.

Xie Qingcheng tertegun sejenak, otaknya kosong, dan pikirannya kacau.

Lama kemudian, dia mendengar dirinya bertanya, “…Kenapa… Kenapa kamu membantuku?”

He Yu terdiam beberapa saat. Lalu tiba-tiba, dia mengulurkan tangannya.

Sama seperti bertahun-tahun yang lalu, saat Xie Qingcheng memiliki keberanian untuk mengulurkan tangannya kepada anak yang menderita saat penyakitnya bergejolak, tenggelam dalam depresi, dan melukai dirinya sendiri untuk menghilangkan kebutuhannya yang haus darah.

“Karena dulu, kamu melakukan hal yang sama untukku.”

“….”

“Xie Qingcheng, aku tidak pernah menyukaimu.”

“Tetapi….”

Seolah-olah aroma ladang hydrangea musim panas yang tak berujung telah berkembang lagi, ketika orang yang berdiri mengulurkan tangannya kepada orang yang duduk.

“Dokter Xie, aku juga tidak pernah… melupakanmu.”


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Ck, di saat kritis, masih Tuan Muda He yang paling bisa diandalkan….

[Chen] Man tidak akan melakukannya….

Man, ibu memberitahumu, kamu pria yang hanya bisa menyampaikan belasungkawa hangat tidak berguna…

(PERINGATAN : berisi spoiler untuk bab selanjutnya.)

Aku membolak-balik komentar cuties sendiri kemarin, mungkin aku telah memperpanjang timeline terlalu lama, dan beberapa cuties telah melupakan percakapan Jiang Liping dan Laoban4… Ini keburukanku, sial, hahahahaha! Aku akan mengingatkan semua orang tentang semua penjahat yang telah muncul sejauh ini, ini adalah bagaimana mereka terkait:

Tingkat tertinggi: Duan-laoban.

Tertinggi berikutnya: Orang misterius yang dipijat.

Berikutnya – tertinggi berikutnya: Jiang Liping.

Kolaborator (hamster): Wang Jiankang, Zhang Yong, Liang Jicheng (pekerjaan paling kotor langsung dilakukan oleh mereka).

Kasus pembunuhan video adalah operasi pembersihan internal; ketika Duan-laoban menyuruh Jiang Liping untuk membersihkan “kandang hamster”, dia menyuruhnya untuk membunuh bawahan yang tidak taat ini, yang juga tidak memiliki banyak nilai berguna. Pertama, untuk mengirim peringatan kepada kolaborator gelisah lainnya di balik kasus Cheng Kang (ini juga disebutkan sebelumnya), dan kedua, untuk membuat alibi untuk operasi pembersihan internal ini sebagai insiden pembalasan setelah insiden Cheng Kang dan memutuskan hubungan antara kasus Cheng Kang dan petinggi. (ini akan dijelaskan kemudian).

Aku khawatir itu terlalu lama dan orang-orang akan mengingat plot yang salah jadi aku akan mengulanginya lagi — Beberapa tempat belum dijelaskan secara detail, jadi kalian mungkin masih memiliki beberapa pertanyaan, semuanya akan dijelaskan di masa depan, muah muah!

[Meatbun berterima kasih kepada pembaca sebelum jam 5 sore]

Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu

Footnotes

  1. Shifu di sini maksudnya kakak Chen Man menganggap ayah Xqc sebagai Shifu.
  2. Kamu Formal.
  3. Kamu Formal.
  4. Merujuk obrolannya dengan Duan-laoban di Bab 29 .
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments